Kesehatan

Yuk Ajari Mindful Eating pada Anak dengan Cara Ini

mindful-eating

Mindful eating alias makan berkesadaran adalah kebiasaan baik berdampak besar bagi kesehatan. Itu makanya, sejak dini si kecil perlu dibiasakan menerapkannya. Penasaran bagaimana caranya?

Mengajarkan dan membiasakan mindful eating bisa dilakukan sejak anak mulai belajar makan lho, Bunda. Ketika anak mulai makan makanan padat di usia enam bulan, sejumlah kebiasaan mulai diterapkan. Nah, di saat itulah mindful eating bisa diajarkan.

Demikian disampaikan nutrisionis, Seala Septiani, S.Gz, M.Gizi, dalam webinar “Konsumsi Berkesadaran untuk Pilihan Asupan yang Lebih Sehat dan Lebih Baik, Investasi Kesehatan untuk Masa Depan” yang digelar Frisian Flag Indonesia, pada Selasa (6/4/2021).

Saat anak makan, sebaiknya tidak asal makan. Jika makanan asal masuk ke mulut, anak tidak akan belajar mengenal sinyal tubuhnya. Dia tidak sepenuhnya sadar apakah sudah kenyang atau masih lapar.

Biasanya yang membuat kesadaran saat makan ini berkurang adalah distraksi. Saat anak makan sambil nonton televisi, dia tidak fokus pada makannya, melainkan pada tontonannya. Hal-hal itulah yang mengakibatkan dirinya kurang memahami respons tubuh sendiri.

Manfaat Mengenalkan Mindful Eating pada Anak

Mengajarkan mindful eating pada anak/ Foto: Canva

Apa sih manfaat mengenalkan konsep mindful eating pada anak? Seperti pada orang dewasa, anak akan terbiasa memperhatikan makanan yang diasupnya. Kelak, mereka akan memperhatikan dengan baik makanan yang dibeli, disiapkan, disajikan, dan dikonsumsinya.

Secara garis besar, berikut ini manfaat mindful eating:

1. Mengenal Sinyal Lapar Tubuh

Makhluk hidup makan untuk bertahan hidup. Nah, mindful eating membuat kita lebih peka pada sinyal yang dikirimkan tubuh. Alih-alih untuk mengatasi stres, sedih, frustrasi, kesepian atau kebosanan, anak akan makan ketika perut keroncongan dan energinya melemah.

2. Tertib Saat Makan

“Mulai dari waktu makan tepat, tertib saat makan, makan bersama keluarga, itu semua sudah mengarah ke mindful eating,” jelas Seala.

Nutrisionis Seala Septiani, S.Gz, M.Gizi menjelaskan tentang mindful eating.

Dengan berfokus pada makanan yang dihadapi, anak sadar sepenuhnya asupan apa saja yang dikonsumsinya. Misalnya, di piring ada tomat yang berwarna merah, lalu ada segelas susu berwarna putih.

Tertib dan fokus saat makan membiasakan anak tidak melakukan kegiatan lain sambil makan. Artinya, anak hanya menghadapi makanannya. Tidak ada aktivitas menonton televisi, membaca buku, atau bermain saat sesi makan berlangsung.

3. Lebih Menghargai Makanan

Saat anak makan, kita bisa memberikan informasi kepada mereka dari mana makanan di piringnya berasal. Misalnya, nasi yang berasal dari tanaman padi di sawah, lalu dipanen dan diproses menjadi beras, kemudian dimasak menjadi nasi.

Contoh lainnya adalah informasi tentang dari mana datangnya susu di gelas, bahwa itu bermula dari peternakan sapi. Informasi semacam ini akan membuat anak semakin menyadari makanan yang diasup.

Mereka akan memperhatikan tekstur, bentuk, warna, dan aroma makanan. Anak-anak juga akan mengeksplorasi reaksi apa dimiliki terhadap makanan tersebut, dan bagaimana bau makanan mempengaruhi perasaannya. Hal-hal itu membuat mereka semakin mengenal dan menghargai makanan. Demikian dikutip dari Help Guide.

4. Lebih Menikmati Makanan

Mindful eating membuat siapa saja, termasuk anak-anak, lebih menikmati makanannya. Karena itulah, mereka tidak akan makan terburu-buru atau terlalu cepat.

Dengan makan tidak terburu-buru, pikiran dan tubuh berkesempatan mengkomunikasikan nutrisi apa saja yang dibutuhkan. Dikutip dari mindful.org otak lebih lambat merespons rasa kenyang hingga 20 menit setelah perut terasa kenyang. Hal inilah yang mengakibatkan kita makan berlebihan tanpa sadar.

Nah, jika kita membiasakan anak makan dengan tidak terburu-buru maka ia memberi kesempatan tubuhnya untuk mengikuti respons otak. Dengan begitu, tubuh anak pun bisa menangkap sinyal untuk makan dalam jumlah tepat.

Saat makan tanpa terburu-buru, anak akan menyuap makanan tidak terlalu banyak. Lebih mudah baginya untuk menikmati rasa dan tekstur makananan ketika mulutnya tidak terlalu penuh. Sesi makan akan terasa lebih menyenangkan.

Cara Mengajari Mindful Eating pada Anak

Mengajarkan mindful eating pada anak/ Foto: Canva

Berikut ini beberapa cara yang bisa diterapkan untuk mengajari dan membiasakan mindful eating pada anak, seperti dikutip dari laman Harvard Health Publishing.

1. Ajak Anak Perhatikan Label Kemasan

Saat mengajak anak berbelanja, Bunda bisa mengajak anak untuk memperhatikan label kemasan makanan yang akan dibeli. Pastikan kemasan, label, izin edar, dan kedaluwarsa produk aman.

2. Makan Saat Lapar, Bukan Saat Kelaparan

Mindful eating membiasakan kita peka pada sinyal tubuh saat lapar. Untuk itu, hendaknya anak diajak makan saat lapar mulai terasa, tetapi jangan menunggu sampai lapar sekali. Saat kelaparan, tubuh cenderung memprioritaskan mengisi perut ketimbang menikmati makanan.

3. Makan Porsi Sedikit Lebih Baik

Rasanya senang ya, Bunda, saat melihat anak menghadapi piring penuh makanan. Namun, sebaiknya menyajikan makanan dengan porsi tidak terlalu banyak pada anak, sehingga mereka lebih bisa menikmati makanannya.

4. Libatkan Panca Indra Saat Makan

Saat makan, bukan hanya lidah sebagai indra pengecap saja yang bekerja. Sebaiknya indra lain juga turut difungsikan.

Anak bisa diajak memperhatikan warna, tekstur, aroma, dan bahkan bunyi makanan. Saat mengunyah makanan, ajak anak juga untuk mencoba identifikasi semua bahannya, terutama bumbunya.

5. Menceritakan Asal Makanan

Nasi beserta lauk dan sayur di piring tidak hadir begitu saja. Ada proses panjang sejak ditanam, dipanen, hingga dimasak dan dihidangkan.

Kisah asal muasal makanan bisa jadi perenungan yang baik bagi anak lho, Bunda. Anak jadi tahu tumbuhan atau hewan yang terlibat, serta siapa saja yang diperlukan untuk membawa bahan-bahan makanan itu sampai di meja makan.

Dengan begitu, anak lebih sadar tentang asal makanannya, apa nutrisi yang terkandung, serta dampak bagi diri dan lingkungannya. Anak juga akan lebih bersyukur dan menghargai makanannya.

Mindful Eating Saat Minum Susu

Mengajarkan mindful eating pada anak/ Foto: Canva

Susu merupakan asupan yang bersumber dari alam dan masuk ke dalam kelompok protein bersama lauk pauk. Saat minum susu pun, pesan Seala, perlu tetap mengedepankan minduful eating.

Anak perlu tahu juga lho Bunda dari mana berasal serta kandungan apa yang ada di dalamnya. Kita bisa memberi tahu anak bahwa susu adalah sumber makanan yang kaya akan protein, kalsium, dan fosfor.

Seala menjelaskan beberapa manfaat susu yang bisa dinformasikan kepada anak. Berikut ini sederet manfaatnya.

  1. Sumber kalsium dan protein.
  2. Sumber nutrisi.
  3. Memberikan energi pada tubuh.
  4. Melancarkan pencernaan.
  5. Membuat tubuh tetap terhidrasi.
  6. Menguatkan tulang dan gigi.
  7. Mengurangi stres dan depresi.
  8. Membantu perbaikan jaringan sel yang rusak.
  9. Mentralisir racun.
  10. Meningkatkan daya tahan tubuh.

Saat ini di pasaran ada banyak sekali produk susu yang bisa menjadi pilihan. Seala mengingatkan para Bunda untuk tidak lupa mengecek kemasan susu sebagai langkah penting mindful eating.

Di kemasan produk pangan seperti susu, ada yang sudah mendapat logo centang hijau yang berarti “Pilihan Lebih Sehat”. Hal ini semakin memudahkan kita saat berbelanja.

“Sebenarnya makan sehat itu mudah. Saat waktu belanja sempit, langsung saja pilih yang diberi label pangan pilihan lebih sehat. Selain itu ingat juga, jangan berlebihan makannya,” pesan Seala.

Selain diminum langsung oleh keluarga, adakah Bunda yang menggunakan susu cair untuk memasak? Misalnya susu digunakan sebagai pengganti santan. Apa yang harus diperhatikan ya saat memasak menggunakan susu?

“Kalau memanaskan susu, jangan panaskan lebih dari dua menit atau sampai mendidih,” ujar Corporate Affairs Director Frisian Flag Indonesia, Andrew F. Saputro.

Corporate Affairs Director Frisian Flag Indonesia, Andrew F. Saputro.

Mindful eating yang ditanamkan pada anak sejak dini akan memberikan banyak manfaat. Kebiasaan sehat memang tidak bisa ditumbuhkan dalam semalam, melainkan perlu dilakukan secara konsisten. Untuk itu, sabar selalu dalam mendampingi si kecil melakukan kebiasaan-kebiasaan baik ya, Bunda.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

8 Peran Orang Tua Dalam Kehidupan Anak

Setiap orang pasti memahami jika peran orang tua dalam kehidupan anak sangatlah penting. Bahkan, peran orang tua diperlukan sejak anak emas dalam kandungan hingga dewasa. Entah itu berperan untuk mengajari anak hingga memenuhi kebutuhannya. 

Pentingnya Peran Orang Tua

Orang tua menduduki peran yang sangat penting, karena menjadi sekolah pertama bagi anak-anak. Sekalipun anak sudah sekolah, peran orangtua masih diperlukan. Mengingat aktivitas anak akan paling banyak dilakukan di rumah.

Tentu jika orang tua tidak melakukan peranannya dengan baik, pasti akan berpengaruh terhadap pertumbuhan anak. Contoh sederhananya jika orang tua tidak menanamkan hal-hal positif dan memberikan contoh tidak baik, tentu anak akan menirunya.

Begitu juga sebaliknya, orang tua yang melakukan perannya dengan baik, maka akan berdampak pada karakternya. Intinya, orang tua mempunyai peranan penting dalam pembentukan karakter anak yang akan berguna untuk masa depan. 

Inilah 8 Peran Orang Tua Di Kehidupan Anak

Meskipun setiap orang memahami jika peran orang tua dalam kehidupan anak sangat penting, tapi tidak semua orang yang benar-benar memahami dan menerapkannya. Apalagi bagi Anda yang baru pertama kali mempunyai anak, penting mengetahui beberapa peranannya berikut ini. 

  1. Menjamin Kebutuhan Anak Tercukupi

Bukan menjadi hal yang asing lagi jika orang tua mempunyai peranan yang cukup penting terutama dalam memenuhi kebutuhan anak. Beberapa hal yang termasuk dalam kebutuhan Anda seperti pakaian yang layak, makanan bergizi, tempat tinggal dan lainnya.

Terutama dalam hal ini penting untuk memastikan kebutuhan anak dalam asupan bergizi sangat diperlukan. Hal ini disebabkan karena asupan yang bergizi sangat berperan penting dalam menunjang pertumbuhan dan perkembangan anak. 

  1. Memastikan Anak Berada Di Lingkungan yang Baik

Peran orang tua terhadap kehidupan anak selanjutnya yaitu memastikan berada di lingkungan yang baik. Tentunya jika anak berada di lingkungan yang tepat, maka akan berpengaruh juga terhadap tumbuh dan kembangnya.

Begitu juga sebaliknya, jika anak berada di lingkungan yang tidak baik maka akan mudah terpengaruh melakukan hal-hal yang negatif. Kenapa menjadi orangtua penting untuk melakukan pengawasan terhadap anak. 

  1. Menciptakan Keamanan dan Kenyamanan

Menciptakan keamanan atau rasa aman terhadap anak merupakan salah satu peran orang tua. Mengingat orang tua adalah tempat pulang, sehingga jika tidak terdapat rasa aman maka anda akan merasa tertekan.

Menciptakan keamanan dan rasa nyaman bisa dilakukan dengan berbagai hal Salah satunya memberikan kasih sayang. Selain itu, penting juga untuk memberi arahan mengenai apa yang seharusnya dilakukan dan tidak seharusnya.

  1. Menanamkan Nilai yang Baik

Peran lain yang harus dilakukan oleh orang tua terhadap anaknya yaitu menanamkan nilai-nilai baik. Mengingat orang tua menjadi guru pertama dalam pendidik anak, sehingga karakter anak dimulai dari orang tuanya. Ada beberapa hal yang harus ditanamkan sejak dini dan setiap orang tua wajib mengetahuinya.

Adapun beberapa hal yang dimaksudkan seperti bersikap jujur, tidak mengambil barang orang lain, saling tolong-menolong, tidak merendahkan orang lain dan lain sebagainya. Selain itu, penting juga untuk memberi pengertian kepada anak jika melakukan sesuatu yang buruk tidak diperbolehkan. 

  1. Mengajari Anak dalam Hal Baik

Mengajari dan mendidik anak juga menjadi salah satu peran orang tua yang wajib untuk dilakukan. Tentunya dalam hal ini harus mengajari anak dalam hal yang baik. Didikan yang diberikan oleh orang tua sejak dini bisa berpengaruh terhadap karakternya di masa depan. 

Semakin baik didikan dari orang tua sejak dini, maka anak akan lebih mudah untuk berbaur dengan masyarakat dengan cara yang baik. Misalnya saja mempunyai sopan santun, saling tolong-menolong, saling memaafkan dan lain sebagainya. 

  1. Memberikan Arahan

Peran orang tua selanjutnya yang yaitu memberikan arahan kepada anak dan juga bimbingan. Arahkan anak untuk selalu melakukan hal yang baik. Selain itu, jelaskan juga alasan kenapa tidak boleh melakukan hal yang buruk dan apa dampaknya kepada diri sendiri dan orang lain.

Sekalipun anak melakukan sebuah kesalahan, jangan langsung memarahinya. Langkah yang paling tepat untuk menanganinya yaitu menasehati dan memberi hukuman yang sekiranya bisa memberikan kesadaran kepada anak. Selain itu, penting juga untuk memberikan motivasi kepada anak. 

  1. Identitas Keagamaan

Identitas agama seorang anak berasal dari keluarganya, terutama orang tua. Tentunya peran orang tua dalam hal ini harus mengenalkan nilai-nilai agama dan keberadaan Sang Pencipta. Terutama untuk anak-anak, penyampaian tersebut harus dalam bahasa yang mudah dipahami. 

Tentunya untuk menyampaikan nilai-nilai tersebut akan lebih mudah jika dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, orang tua juga harus memberikan contoh yang baik agar anak lebih mudah untuk menirunya. 

  1. Mendisiplinkan Anak

Meskipun kasih sayang dari orang tua sangat diperlukan oleh anak, tapi tetap saja harus menerapkan disiplin. Justru dengan membiarkan anak melakukan apapun yang disukainya dapat berdampak menjadi manja dan tidak bisa bertanggung jawab atas setiap perbuatannya.

Semakin dini mengajarkan untuk disiplin, anak akan tumbuh menjadi orang yang bertanggungjawab. Contoh sederhananya mengajarkan anak untuk makan dan tidur tepat waktu. Bahkan, tidak ada salahnya juga untuk membuat jadwal harian anak. Demikian penjelasan mengenai peran orang tua yang dibutuhkan untuk kehidupan anak. Dari penjelasan ini bisa diambil kesimpulan jika karakter anak dibentuk dari didikan dan peran orang tua. Begitu juga sebaliknya, jika orang tua tidak melakukan perannya dengan baik, karakter yang terbentuk juga tidak baik.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Extra

Memahami Gigi Bayi dan Seluk Beluk Pertumbuhannya

Gigi merupakan bagian tubuh yang sangat penting. Selain berfungsi untuk mengunyah, keberadaan gigi juga bisa menambah estetika wajah. Karena itu, setiap fase perkembangannya—mulai dari gigi bayi sampai dewasa—harus diperhatikan dengan baik, terutama oleh para ibu.

Gigi bayi atau gigi susu bia

 

Artikel ini merupakan bagian Sayangi Anak Extra

Sayangi Anak Extra adalah mendalam dan premium dari Sayangianak.com yang membantu Bunda dalam mendidik dan membesarkan Anak. Yuk Bantu Sayangi Anak membuat konten – konten berkualitas..

Lebih Detail

Already a subscriber? Log in here.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Extra

Mengenal Bagaimana Perkembangan Mental Anak Usia 4 – 5 Tahun

Usia bawah lima tahun merupakan masa golden age di mana sebagai orang tua sangat penting untuk memperhatikan perkembangan anak di usia ini. Terlebih lagi terkait perkembangan mental anak usia 4 – 5 tahun yang biasanya mulai muncul pada fase ini terkadang membuat bingung banyak orang tua.

Fase Per

 

Artikel ini merupakan bagian Sayangi Anak Extra

Sayangi Anak Extra adalah mendalam dan premium dari Sayangianak.com yang membantu Bunda dalam mendidik dan membesarkan Anak. Yuk Bantu Sayangi Anak membuat konten – konten berkualitas..

Lebih Detail

Already a subscriber? Log in here.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Share

To Top