Kesehatan

Yuk Ajari Mindful Eating pada Anak dengan Cara Ini

mindful-eating

Mindful eating alias makan berkesadaran adalah kebiasaan baik berdampak besar bagi kesehatan. Itu makanya, sejak dini si kecil perlu dibiasakan menerapkannya. Penasaran bagaimana caranya?

Mengajarkan dan membiasakan mindful eating bisa dilakukan sejak anak mulai belajar makan lho, Bunda. Ketika anak mulai makan makanan padat di usia enam bulan, sejumlah kebiasaan mulai diterapkan. Nah, di saat itulah mindful eating bisa diajarkan.

Demikian disampaikan nutrisionis, Seala Septiani, S.Gz, M.Gizi, dalam webinar “Konsumsi Berkesadaran untuk Pilihan Asupan yang Lebih Sehat dan Lebih Baik, Investasi Kesehatan untuk Masa Depan” yang digelar Frisian Flag Indonesia, pada Selasa (6/4/2021).

Saat anak makan, sebaiknya tidak asal makan. Jika makanan asal masuk ke mulut, anak tidak akan belajar mengenal sinyal tubuhnya. Dia tidak sepenuhnya sadar apakah sudah kenyang atau masih lapar.

Biasanya yang membuat kesadaran saat makan ini berkurang adalah distraksi. Saat anak makan sambil nonton televisi, dia tidak fokus pada makannya, melainkan pada tontonannya. Hal-hal itulah yang mengakibatkan dirinya kurang memahami respons tubuh sendiri.

Manfaat Mengenalkan Mindful Eating pada Anak

Mengajarkan mindful eating pada anak/ Foto: Canva

Apa sih manfaat mengenalkan konsep mindful eating pada anak? Seperti pada orang dewasa, anak akan terbiasa memperhatikan makanan yang diasupnya. Kelak, mereka akan memperhatikan dengan baik makanan yang dibeli, disiapkan, disajikan, dan dikonsumsinya.

Secara garis besar, berikut ini manfaat mindful eating:

1. Mengenal Sinyal Lapar Tubuh

Makhluk hidup makan untuk bertahan hidup. Nah, mindful eating membuat kita lebih peka pada sinyal yang dikirimkan tubuh. Alih-alih untuk mengatasi stres, sedih, frustrasi, kesepian atau kebosanan, anak akan makan ketika perut keroncongan dan energinya melemah.

2. Tertib Saat Makan

“Mulai dari waktu makan tepat, tertib saat makan, makan bersama keluarga, itu semua sudah mengarah ke mindful eating,” jelas Seala.

Nutrisionis Seala Septiani, S.Gz, M.Gizi menjelaskan tentang mindful eating.

Dengan berfokus pada makanan yang dihadapi, anak sadar sepenuhnya asupan apa saja yang dikonsumsinya. Misalnya, di piring ada tomat yang berwarna merah, lalu ada segelas susu berwarna putih.

Tertib dan fokus saat makan membiasakan anak tidak melakukan kegiatan lain sambil makan. Artinya, anak hanya menghadapi makanannya. Tidak ada aktivitas menonton televisi, membaca buku, atau bermain saat sesi makan berlangsung.

3. Lebih Menghargai Makanan

Saat anak makan, kita bisa memberikan informasi kepada mereka dari mana makanan di piringnya berasal. Misalnya, nasi yang berasal dari tanaman padi di sawah, lalu dipanen dan diproses menjadi beras, kemudian dimasak menjadi nasi.

Contoh lainnya adalah informasi tentang dari mana datangnya susu di gelas, bahwa itu bermula dari peternakan sapi. Informasi semacam ini akan membuat anak semakin menyadari makanan yang diasup.

Mereka akan memperhatikan tekstur, bentuk, warna, dan aroma makanan. Anak-anak juga akan mengeksplorasi reaksi apa dimiliki terhadap makanan tersebut, dan bagaimana bau makanan mempengaruhi perasaannya. Hal-hal itu membuat mereka semakin mengenal dan menghargai makanan. Demikian dikutip dari Help Guide.

4. Lebih Menikmati Makanan

Mindful eating membuat siapa saja, termasuk anak-anak, lebih menikmati makanannya. Karena itulah, mereka tidak akan makan terburu-buru atau terlalu cepat.

Dengan makan tidak terburu-buru, pikiran dan tubuh berkesempatan mengkomunikasikan nutrisi apa saja yang dibutuhkan. Dikutip dari mindful.org otak lebih lambat merespons rasa kenyang hingga 20 menit setelah perut terasa kenyang. Hal inilah yang mengakibatkan kita makan berlebihan tanpa sadar.

Nah, jika kita membiasakan anak makan dengan tidak terburu-buru maka ia memberi kesempatan tubuhnya untuk mengikuti respons otak. Dengan begitu, tubuh anak pun bisa menangkap sinyal untuk makan dalam jumlah tepat.

Saat makan tanpa terburu-buru, anak akan menyuap makanan tidak terlalu banyak. Lebih mudah baginya untuk menikmati rasa dan tekstur makananan ketika mulutnya tidak terlalu penuh. Sesi makan akan terasa lebih menyenangkan.

Cara Mengajari Mindful Eating pada Anak

Mengajarkan mindful eating pada anak/ Foto: Canva

Berikut ini beberapa cara yang bisa diterapkan untuk mengajari dan membiasakan mindful eating pada anak, seperti dikutip dari laman Harvard Health Publishing.

1. Ajak Anak Perhatikan Label Kemasan

Saat mengajak anak berbelanja, Bunda bisa mengajak anak untuk memperhatikan label kemasan makanan yang akan dibeli. Pastikan kemasan, label, izin edar, dan kedaluwarsa produk aman.

2. Makan Saat Lapar, Bukan Saat Kelaparan

Mindful eating membiasakan kita peka pada sinyal tubuh saat lapar. Untuk itu, hendaknya anak diajak makan saat lapar mulai terasa, tetapi jangan menunggu sampai lapar sekali. Saat kelaparan, tubuh cenderung memprioritaskan mengisi perut ketimbang menikmati makanan.

3. Makan Porsi Sedikit Lebih Baik

Rasanya senang ya, Bunda, saat melihat anak menghadapi piring penuh makanan. Namun, sebaiknya menyajikan makanan dengan porsi tidak terlalu banyak pada anak, sehingga mereka lebih bisa menikmati makanannya.

4. Libatkan Panca Indra Saat Makan

Saat makan, bukan hanya lidah sebagai indra pengecap saja yang bekerja. Sebaiknya indra lain juga turut difungsikan.

Anak bisa diajak memperhatikan warna, tekstur, aroma, dan bahkan bunyi makanan. Saat mengunyah makanan, ajak anak juga untuk mencoba identifikasi semua bahannya, terutama bumbunya.

5. Menceritakan Asal Makanan

Nasi beserta lauk dan sayur di piring tidak hadir begitu saja. Ada proses panjang sejak ditanam, dipanen, hingga dimasak dan dihidangkan.

Kisah asal muasal makanan bisa jadi perenungan yang baik bagi anak lho, Bunda. Anak jadi tahu tumbuhan atau hewan yang terlibat, serta siapa saja yang diperlukan untuk membawa bahan-bahan makanan itu sampai di meja makan.

Dengan begitu, anak lebih sadar tentang asal makanannya, apa nutrisi yang terkandung, serta dampak bagi diri dan lingkungannya. Anak juga akan lebih bersyukur dan menghargai makanannya.

Mindful Eating Saat Minum Susu

Mengajarkan mindful eating pada anak/ Foto: Canva

Susu merupakan asupan yang bersumber dari alam dan masuk ke dalam kelompok protein bersama lauk pauk. Saat minum susu pun, pesan Seala, perlu tetap mengedepankan minduful eating.

Anak perlu tahu juga lho Bunda dari mana berasal serta kandungan apa yang ada di dalamnya. Kita bisa memberi tahu anak bahwa susu adalah sumber makanan yang kaya akan protein, kalsium, dan fosfor.

Seala menjelaskan beberapa manfaat susu yang bisa dinformasikan kepada anak. Berikut ini sederet manfaatnya.

  1. Sumber kalsium dan protein.
  2. Sumber nutrisi.
  3. Memberikan energi pada tubuh.
  4. Melancarkan pencernaan.
  5. Membuat tubuh tetap terhidrasi.
  6. Menguatkan tulang dan gigi.
  7. Mengurangi stres dan depresi.
  8. Membantu perbaikan jaringan sel yang rusak.
  9. Mentralisir racun.
  10. Meningkatkan daya tahan tubuh.

Saat ini di pasaran ada banyak sekali produk susu yang bisa menjadi pilihan. Seala mengingatkan para Bunda untuk tidak lupa mengecek kemasan susu sebagai langkah penting mindful eating.

Di kemasan produk pangan seperti susu, ada yang sudah mendapat logo centang hijau yang berarti “Pilihan Lebih Sehat”. Hal ini semakin memudahkan kita saat berbelanja.

“Sebenarnya makan sehat itu mudah. Saat waktu belanja sempit, langsung saja pilih yang diberi label pangan pilihan lebih sehat. Selain itu ingat juga, jangan berlebihan makannya,” pesan Seala.

Selain diminum langsung oleh keluarga, adakah Bunda yang menggunakan susu cair untuk memasak? Misalnya susu digunakan sebagai pengganti santan. Apa yang harus diperhatikan ya saat memasak menggunakan susu?

“Kalau memanaskan susu, jangan panaskan lebih dari dua menit atau sampai mendidih,” ujar Corporate Affairs Director Frisian Flag Indonesia, Andrew F. Saputro.

Corporate Affairs Director Frisian Flag Indonesia, Andrew F. Saputro.

Mindful eating yang ditanamkan pada anak sejak dini akan memberikan banyak manfaat. Kebiasaan sehat memang tidak bisa ditumbuhkan dalam semalam, melainkan perlu dilakukan secara konsisten. Untuk itu, sabar selalu dalam mendampingi si kecil melakukan kebiasaan-kebiasaan baik ya, Bunda.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Kesehatan

Tips Agar Masakan Selalu Ludes Tak Bersisa Ala Asri Welas

sampah-makanan

Tahukah Bunda, sampah makanan di Indonesia mencapai 1,3 juta ton per tahun. Agar sampah makanan tidak semakin banyak, yuk biasakan tidak membuang makanan. Nah, agar masakan di rumah selalu ludes tanpa sisa, aktris Asri Welas punya cara nih.

“Kenapa suka ada sampah makanan? Menurutku ini karena ibu sering kali egois asal masak aja, nggak mau komunikasi maunya pada suami dan anak-anak pada mau makan apa,” tutur Asri dalam peluncuran Electrolux ULTIMATETASTE, Selasa (20/4/2021).

Asri Welas
Asri Welas membeberkan cara agar tidak menimbulkan sampah makanan.

Berikut ini beberapa hal yang dilakukan Asri Welas sehingga keluarganya tidak menyumbang sampah makanan:

1. Masak Secukupnya

Kesegaran dan rasa enak masakan, menurut Asri Welas penting banget sebagai upaya tidak buang-buang makanan. Untuk itu, dia masak secukupnya.

“Aku nggak ada makanan sisa. Jadi yang dimasak ya yang dimakan di hari itu saja,” terang Asri.

2. Tanya Makanan yang Diinginkan Keluarga

Selanjutnya perlu selalu tanya suami dan anak ingin menu apa. Hal ini dilakukan Asri sebelum memasak. Dengan begitu dia memastikan semua anggota keluarga pasti akan makan makanan yang disajikan.

“Komunikasi itu penting banget,” tegas perempuan yang juga desainer pakaian ini.

Tips Asri Welas menghindari sampah makanan/ Foto: Canva

3. Bikin Daftar Menu

Asri Welas juga biasa membuat daftar menu selama seminggu. Dia melakukannya untuk memastikan tidak asal belanja dan tidak asal makan. Daftar menu ini membantu dirinya hendak belaja bahan makanan apa saja, sekaligus memastikan masakan yang disajikan beragam setiap harinya.

Kata Asri, jangan sampai dirinya sebagai perempuan yang bisa mencari uang sendiri lantas bersikap boros. Di masa pandemi seperti sekarang ini, banyak hal jadi tidak pasti. Dengan tidak boros soal makanan, maka ada uang yang dihemat untuk keperluan lainnya.

4. Menyimpan Bahan Makanan dengan Baik

Ibu dengan tiga anak ini memang cukup ketat dalam urusan makan. Dia berkomitmen menyajikan makanan dari bahan makanan yang segar sehingga nutrisinya tetap terjaga.

Hal itu bukan tanpa alasan. Anak keduanya mengalami masalah dengan matanya saat lahir. Sedangkan anak ketiganya lahir prematur dengan berat badan rendah, hanya sekitar 1,7 kg.

“Makanya aku pilih bahan makanan yang segar, disimpan dengan benar, dimasak dengan benar juga agar nutrisinya sampai ke anak dan aman,” tutur Asri Welas.

Bagi perempuan bekerja seperti dirinya, memasak dengan bahan makanan yang selalu segar adalah tantangan. Maksud hati ingin selalu belanja buah dan sayur segar setiap hari, apa daya waktu terbatas. Keterbatasan waktu ini pula yang membuat Asri Welas belanja bahan makanan sekali sepekan, bahkan dua pekan sekali.

sampah makanan
Sampah makanan/ Foto: Canva

Agar bahan makanan awet kesegarannya, Asri Welas memilih kulkas yang bisa memberikan kesegaran setidaknya dalam tujuh hari. Dia memastikan kulkas pilihannya memiliki teknologi tastelock yang bisa menjaga kesegaran buah dan sayur.

Selain itu kulkas yang dia pilih memiliki teknologi tasteseal, di mana bisa mempertahankan suhu -2 derajat Celsius. Kondisi ini menjaga bahan makanan seperti daging dan ikan tidak beku, namun teksturnya tetap terjaga. Dengan disimpan di kulkas ber-tasteseal, Asri tidak perlu men-defrost daging atau ikan beku.

“Pokoknya dipikirkan banget hal-hal yang bisa jadi irit, nggak bikin jajan di luar karena lagi pandemi. Juga yang mendukung untuk nggak buang sayur dan daging, karena sering banget daging sudah dikeluarkan dari freezer malah nggak sempat dimasak,” papar Asri Welas.

Itu dia beberapa cara dari Asri Welas untuk meminimalkan sampah makanan. Bagaimana dengan Bunda, apakah punya tips lain agar kita tidak menyumbang sampah makanan?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Dear Para Suami, Yuk Jadi Ayah ASI dengan Lakukan 10 Hal Ini

ayah ASI

Setiap orang tua pasti ingin memberikan yang terbaik bagi anaknya, termasuk dalam memberikan ASI eksklusif. Namun, menyusui bukanlah hal mudah.

Saat ini, masih banyak orang yang beranggapan bahwa menyusui adalah tanggung jawab penuh sang ibu. Padahal, peran suami sangat dibutuhkan demi menyukseskan ASI eksklusif.

Dokter anak sekaligus Ketua Sentra Laktasi Indonesia, dr. Utami Roesli mengatakan menurut penelitian, dari sekitar 115 ribu orang suami yang tidak memberikan dukungan pemberian ASI tingkat keberhasilan istrinya menyusui hanya sebesar 26,9 persen. 

Sedangka suami yang mendukung pemberian ASI, tingkat keberhasilannya bisa mencapai 98,1 persen. Bahkan sebuah riset yang dipublikasikan UNICEF menyebutkan ketika dukungan selama masa menyusui diberikan, durasi dan kualitas ibu memberikan ASI eksklusif pada bayi akan terus meningkat.

Wahai para Suami, dukungan yang dimaksud bukan sekadar kata semangat semata, ya. Harus ada keterlibatan nyata. Lalu, bagaimana caranya agar bisa sukses menjadi ayah ASI? Simak tips berikut yuk.

Ayah ASI bisa mendukung kesuksesan pemberian ASI eksklusif/ Foto: Canva

  1. Selalu menyemangati istri dan membuat hatinya bahagia 

Sebagai ayah ASI, para suami jangan pernah bosan menyemangati istri untuk menyusui. Buatlah hati istri bahagia dengan melakukan hal-hal sederhana tapi berkesan.

Misalnya, membelikan istri makanan kesukaan. Ketika istri merasa senang, maka hormon prolaktin dan oksitosin dalam tubuhnya bisa melancarkan produksi ASI. 

  2. Perbayak ilmu mengenai ASI dan menyusui 

Ayah ASI yang handal juga perlu membekali diri dengan ilmu mengenai ASI dan menyusui. Sering-seringlah browsing di internet, namun pastikan sumbernya tepercaya ya.

Selain itu, jangan malu untuk bertanya ke orang-orang yang memahami soal menyusui. Bergabung dengan komunitas atau kelompok yang mendukung ASI bisa dilakukan juga.

Apabila istri bekerja, suami bisa berbicara dengan atasannya untuk meminta waktu agar istrinya bisa memompa ASI ketika berada di kantor. 

  3. Mengatur stok asip untuk bayi dan temani istri ketika sedang memompa ASI

Bantulah istri dalam mengatur stok ASI perahan (ASIP) untuk bayi. Labeli setiap botol atau kantong ASIP dengan tanggal, hasil, dan jam perahan ASI.

Jangan lupa untuk selalu mengingatkan istri untuk memompas ASI. Temani istri selama memompa ASI. Bantu istri ketika butuh kompres air hangat untuk payudaranya. 

Ayah ASI yang selalu siaga/ Foto: Canva

  4. Melakukan tugas domestik dan mengurus kebutuhan rumah tangga 

Ayah ASI juga tidak malu dan tidak segan melakukan tugas domestik. Menyapu dan mencuci pakaian bukan perkara besar baginya.

Suami juga harus bisa mengurus keperluan sehari-hari. Selain itu, suami terampil membantu istri untuk memandikan, mengganti popok, dan megajak bayi berjemur. 

  5. Menyediakan sarana hiburan agar istri tidak bosan ketika sedang menyusui 

Suami menyediakan sarana hiburan untuk menemani istri ketika sedang menyusui bayi. Misalnya, membelikan CD film atau musik kesukaan istri. Suami juga menemani dan mengajak ngobrol istri ketika sedang menyusui di malam hari agar tidak merasa kesepian. 

  6. Menjaga anak dan hewan peliharaan agar tidak menganggu proses menyusui 

Ayah ASI akan menjaga si sulung ketika istri sedang menyusui si bayi. Jangan sampai bayi terbangun dan menangis karena mendengar suara kakaknya.

Selain itu, suami juga bisa menenangkan hewan peliharaan agar tidak mengganggu istri ketika sedang menyusui. Dengan begitu, istri akan merasa tenang menyusui tanpa adanya gangguan. 

Menyusui bukan hanya tanggung jawab istri semata, tapi juga sang suami/ Foto: Canva

  7. Sering-seringlah memuji istri agar ia bisa lebih semangat menyusui 

Ayah ASI juga tidak gengsi memuji istri. Ucapkan pujian yang sederhana tapi tetap berkesan, seperti “Istriku setelah melahirkan makin cantik. Semangat ya sayang menyusuinya”.

Mendengar pujian dari suami, maka istri pun akan senang dan lebih bersemangat untuk menyusui. 

  8. Selalu penuhi semua kebutuhan istri 

Suami harus sering bertanya pada istri, apa saja yang dibutuhkannya. Namun, jangan sekadar tanya saja, melainka segera penuhi kebutuhan istri.

Terkadang, yang dibutuhkan istri bukan barang lho. Sering kali dia hanya perlu perhatian suami. Maka, luangkan waktu untuk mengobrol sebentar dengan istri. 

Ayah ASI yang siaga jadi harapan para istri/ Foto: Canva

  9. Memijat tubuh istri yang pegal dan kaku karena menyusui 

Tubuh istri pasti pegal dan kaku karena harus menyusui bayi hingga berjam-jam. Paras uami bisa memijat tubuh istrinya agar relaks. Pijatan lembut juga bisa memacu hormon yang melancarkan ASI. 

  10. Jangan merasa terbebani karena memberikan dukungan pada istri adalah kewajiban dan tanggung jawab suami 

Memberikan dukungan sepenuhnya agar istri bisa memberikan ASI eksklusif untuk anak adalah salah satu bentuk tanggung jawab dan kewajiban seorang suami. Jadi, janganlah merasa terbebani dengan tugas itu.

Sebagai seorang suami, maka harus selalu bisa mendampingi istri dalam situasi terburuk sekalipun. Semangat ya wahai para suami untuk menjadi ayah ASI yang selalu siaga.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Mengatasi Anak yang Tidak Mau Makan Sayur

anak-tidak-suka-sayur

Si kecil tidak mau makan sayur? Duh, padahal sayur mengandung banyak nutrisi yang baik untuk kesehatan. Apalagi saat puasa seperti ini. Tenang, Bunda, selalu ada cara kok untuk mengatasi anak yang tidak mau makan sayur.

Bicara anak yang tidak mau makan sayur, sebenarnya hal ini dikeluhkan banyak orang tua. Jadi ini hal yang wajar. Meski demikian, anak-anak perlu tetap dibiasakan makan sayur-sayuran.

Simak yuk, beberapa cara yang bisa dicoba untuk mengatasi anak yang picky eater sehingga menghindari sayuran.

Tips untuk Bunda yang Anaknya Tidak Mau Makan Sayur

Umumnya anak tidak suka makan sayur karena rasanya dianggap tidak enak. Yuk langsung saja disimak aneka tips yang bisa dicoba untuk mengatasi anak yang tidak mau makan sayur.

1. Libatkan Anak dalam Memilih Sayuran

Ajak anak memilih sayuran agar mau makan sayur/ Foto: Canva

Anak suka lho, Bunda, jika dilibatkan dalam pekerjaan yang biasa dilakukan orang dewasa. Hal ini membuat mereka merasa sudah besar dan dipercaya. Untuk mendorong anak mau makan sayur, sebaiknya mereka dilibatkan dalam memilih sayuran.

Bunda bisa mulai dengan menanam benih sayuran bersama anak. Jadi anak diminta untuk menentukan benih sayuran apa yang akan ditanam. Selanjutnya anak diajak memelihara tanaman sayur hingga waktu panen tiba.

Jika tidak sempat memanam sayur, bisa juga dengan mengajak anak ke pasar atau supermarket. Kita bisa mengenalkan aneka bentuk sayur pada anak dan meminta mereka untuk memilih sayur untuk dimasak bersama. Kegiatan memasak bersama menimbulkan “rasa memiliki” sehingga anak lebih antusias dan sukarela makan sayuran.

2. Masak Sayur Harus Enak

Rasa yang enak akan membuat anak suka makan sayur/ Foto: Canva

‘Beberapa sayuran memang memiliki rasa sedikit pahit. Apalagi jika tidak dimasak dengan tepat, bisa-bisa rasa pahit atau aroma yang kurang mengundang selera semakin membuat anak tidak mau makan sayur.

Sayuran yang dikukus atau direbus mungkin lebih sehat. Namun, perlu diingat bahwa metode memasak sayuran seperti ini kurang bersahabat bagi anak yang tidak mau makan sayur.

Kesan pertama haruslah menggoda. Bunda bisa menumis sayuran menggunakan mentega dan bawang putih. Tidak apa-apa pula menambahkan sedikit gula, garam, kecap, ataupun saus tomat. Tambahan bumbu itu akan membuat rasa sayuran lebih bisa diterima oleh lidah anak.

Kelak, jika anak sudah terbiasa makan sayur, tambahan gula, garam, dan lemak perlahan bisa dikurangi.

Nutrisionis Mochammad Rizal, S.Gz menegaskan ada banyak cara enak menyantap sayuran. Misalnya dengan menumis, cah, ataupun dibuat menjadi sup bening dan kuah asem.

“Tetap perhatikan untuk tidak memasak sayur terlalu lama atau over cooked, ya. Terkecuali untuk tomat, bisa dimasak hingga matang untuk mengeluarkan kandungan likopennya,” pesan Rizal dalam keterangan tertulis Lazada tentang Memilih Makanan Sehat ala Lazada yang diterima pada Jumat (16/4/2021).

3. Sayur-sayur Lucu

Bentuk yang lucu bisa memotivasi anak makan sayur/ Foto: Canva

Anak-anak suka dengan tampilan visual yang menarik. Untuk itu, yuk sajikan sayuran dalam bentuk yang menarik, Bunda. Misalnya nih, kita bisa membuat tema kebun bunga di piring anak. Wortel, brokoli, maupun asparagus bisa dipotong dan ditata sedemikian rupa dengan makanan lain, sehingga menyerupai kebun bunga.

Bunda juga bisa menggunakan cookie cutters untuk membentuk aneka sayuran agar bentuknya lucu. Kemudian ajak anak untuk memakan isi piringnya dengan cara yang seru. Misalnya dengan mengatakan, “Sekarang raksasa akan makan dinosaurus timun. Nyam!”

4. Cerdik Mencampur Sayur

Mencampur sayur di makanan lain agar anak bersemangat makan sayur/ Foto: Canva

Untuk anak yang tidak suka makan sayur, kita sebagai orang tua harus terus mencari cara yang kreatif dan cerdik. Misalnya dengan mencampurkan sayur di makanan favorit anak.

Ketika masak pasta atau salad kentang, Bunda bisa menambahkan beberapa kuntum kecil brokoli. Saat memasak spageti, Bunda dapat mencampurkan bayam cincang di sausnya.

5. Aktivitas Bertema Sayur untuk Anak

Aktivitas menyenangkan bertema sayur/ Foto: Canva

Agar anak semakin mengenal sayur dan mau mencoba memakannya, Bunda bisa mengajaknya melakukan aktivitas bertema sayur. Aktivitas seru ini cocok sekali dilakukan sambil menunggu waktu berbuka puasa tiba.

1. Dongeng Sayur

Bunda bisa mendongeng dengan tokoh sayuran. Untuk alat peraga, bisa dibuat boneka kertas yang ditempelkan di stik es krim. Ajak anak untuk menggunting dan mewarnai boneka kertas tersebut sebelum mendengarkan dongeng.

Dalam dongeng, Bunda dapat menceritakan tokoh wortel yang memiliki warna oranye. Rupanya warna oranye itu merupakan tanda bahwa wortel mengandung antioksidan beta karoten yang baik untuk kesehatan mata.

Beralih ke tokoh si tomat merah. Berikan informasi pada si kecil tentang arti warna merah pada tomat.

“Warna merah pada tomat mengandung likopen dan memberikan manfaat yang berbeda lagi, yaitu mencegah kanker prostat dan kanker payudara. Jadi semakin bervariasi warna sayuran di piring, akan semakin beragam juga vitamin dan manfaat yang bisa didapatkan,” tutur Rizal.

2. Wawancara Sayur

Bermain pura-pura atau pretend play adalah kegiatan super seru untuk anak. Bunda bisa mengajak anak pura-pura menjadi wartawan. Nah, narasumber yang didatangkan adalah para sayuran, seperti brokoli, kangkung, dan buncis.

Selanjutnya Bunda bisa menjadi pengisi suara tokoh sayuran untuk menjawab pertanyaan anak. Di akhir sesi wawancara, ajak anak untuk memasak sayur-sayur tersebut dan pura-pura sedang syuting acara memasak. Setelah masakan matang, ajak anak mencicipi dan memberikan review seperti food vlogger. Gimana, seru, bukan?

Nah, itu dia aneka ide yang bisa Bunda coba untuk mengatasi anak yang tidak suka makan sayur. Setelah terbiasa makan sayur, anak bisa mengkonsumsi 2-3 varian jenis sayur dalam satu kali makan dengan warna yang berbeda-beda. Semoga sukses menanamkan kebiasaan sehat ini ya, Bunda.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Share

To Top