Kesehatan

Waspada! Ini Daftar Penyebab Anak Stunting Alias Gagal Tumbuh

penyebab anak stunting

Stunting alias gagal tumbuh menyebabkan anak-anak memiliki postur tubuh pendek. Selain itu juga diikuti kondisi kesehatan yang tidak baik, serta tumbuh kembangnya terhambat. Yuk, kenali penyebab anak stunting.

Bicara stunting, masalah ini masih jadi perhatian besar di Indonesia lho, Bunda. Jumlah kasus stunting di Indonesia pada tahun 2019 mencapai 27,67 persen. Sebenarnya angka ini lebih baik dari enam tahun sebelumnya, lantaran berhasil ditekan hingga 37,8 persen.

Kendati begitu, angka stunting di Indonesia masih lebih tinggi dibandingkan toleransi maksimal yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO). Toleransi maksimal angka stunting yang ditetapkan WHO yaitu kurang dari 20 persen.

“Bahkan hingga akhir tahun lalu, status Indonesia masih berada di urutan 4 dunia dan urutan ke-2 di Asia Tenggara terkait kasus balita stunting,” terang Direktur Bina Akses Pelayanan Keluarga Berencana BKKBN dr. Zamhir Setiawan, M.Epid.

Hal itu disampaikan dr. Zamhir dalam peluncuran “Smart Sharing: Program Kerja Sama Penurunan Angka Stunting di Indonesia” yang dihelat pada Rabu (4/5/2021).

Penyebab Anak Stunting

Penyebab anak stunting/ Foto: Canva

Stunting tidak bisa dibiarkan begitu saja. Jika berlarut-larut, stunting bisa menimbulkan persoalan serius dalam pembangunan sumber daya manusia di masa depan.

Nah, berikut ini beberapa penyebab anak stunting yang perlu Bunda ketahui.

1. Bayi Lahir dalam Keadaan Kurang Nutrisi

1.000 hari pertama atau sekitar tiga tahun kehidupan sejak dalam
kandungan adalah masa penting pembangunan ketahanan gizi. Jika hal ini diabaikan, risiko ibu melahirkan bayi stunting cukup besar.

Bayi yang lahir dalam keadaan kurang nutrisi biasanya dipicu ibunya yang juga kurang nutrisi pada saat hamil. Karena itu, sejak sebeluam hamil, nutrisi seorang ibu harus benar-benar optimal.

“Nutrisi memang mengambil peran penting yang perlu menjadi perhatian lebih bagi calon orang tua baik sejak masa perencanaan, kehamilan, hingga menyusui,” ujar Sinteisa Sunarjo, Group Business Unit Head Woman Nutrition KALBE Nutritionals di acara yang sama.

Perlu kita ingat ya, Bunda, kekurangan gizi kronis bisa menyebabkan abortus dan anemia pada bayi baru lahir. Selain itu, bisa mengakibatkan bayi lahir dengan berat badan rendah, cacat bawaan, bahkan bisa mengakibatkan kematian.

2. Anak Dibesarkan dalam Kondisi Kurang Gizi

Seorang anak bisa saja lahir dengan nutrisi cukup. Namun, apabila anak tersebut dibesarkan dengan nutrisi yang tidak memadai, bisa mengakibatkan kurang gizi.

Jadi, nutrisi optimal di 1.000 hari pertama memang tidak bisa diabaikan. Apabila kondisi kurang gizi terlewat hingga lebih dari 1.000 hari pertama, maka dampak buruknya akan sulit diobati.

Untuk itu, nutrisi yang diasup ibu harus terus diperhatikan. Bahkan, nutrisi yang dibutuhkan ibu menyusui jauh lebih besar ketimbang ibu hamil lho.

3. Masalah Kebersihan

Kebersihan lingkungan juga berpengaruh pada kasus stunting. Apabila seorang anak lahir dan tumbuh di lingkungan dengan fasilitas sanitasi buruk, minimnya akses air bersih, serta kurangnya kebersihan lingkungan, bisa meningkatkan risiko stunting.

Mengatasi Anak Stunting

Mengatasi anak stunting/ Foto: Canva

Di tahun 2024, Indonesia menargetkan kasus stunting bisa ditekan hingga di angka 14 persen. Di samping itu, angka kematian ibu juga diharapkan bisa ditekan hingga di bawah 183 kasus per 100.000 ibu melahirkan.

Untuk menyukseskan langkah ini, program “Smart Sharing” yang dimulai pada April 2021 diluncurkan. Smart Sharing meliputi edukasi secara online, edukasi secara offline, dan program intervensi gizi. Ini merupakan kolaborasi BKKBN, PRENAGEN, dan Klikdokter.

Aplikasi KlikKB turut digunakan untuk meminimalkan risiko stunting. Dengan aplikasi ini, para ibu bisa mengakses informasi terkait perencanaan kehamilan, hamil, tumbuh kembang anak, dan penggunaan kontrasepsi. Bahkan para ibu bisa konsultasi gratis dengan bidan-bidan secara online.

Dr. (HC), dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K), Kepala BKKBN di acara ini menegaskan stunting harus ditekan dari hulu ke hilir. Edukasi hingga intervensi gizi, menurutnya, memegang peranan penting.

“Program edukasi penting agar anak tidak salah gizi dan yang juga harus diperhatikan adalah pengamatan terhadap kondisi gizi anak,” kata dr. Hasto.

Peluncuran Smart Sharing sebagai alternatif mengatasi Stunting.

Untuk mengawal gizi anak, sebenarnya ada Posyandu yang memegang peran vital di masyarakat. Sayangnya, pandemi Covid-19 mengakibatkan kegiatan posyandu di banyak daerah terhenti. Karena itulah, Smart Sharing diharapkan bisa menjadi cara alternatif agar gizi dan kesehatan anak terpantau.

“Smart Sharing” juga merencanakan studi observasional dan program intervensi gizi terhadap ibu hamil, ibu menyusui, dan bayi. Penelitian mendalam bakal dilakukan terhadap tiga kelompok pengujian yaitu ibu hamil dengan usia kandungan 4-6 bulan, ibu menyusui bayi usia 0-3 bulan, dan bayi usia 6-9 bulan.

Studi observasional dan program intervensi gizi ini berlangsung sejak April 2021 hingga Januari 2022. Kabupaten Sleman dan Kota Madiun dipilih sebagai pilot projectnya.

“Studi observasional dan program intervensi gizi ini bertujuan membantu memberikan asupan bernutrisi kepada ibu yang sedang hamil, ibu menyusui, dan bayi usia 6-9 bulan dan mengukur seberapa efektif pengaruhnya terhadap kesehatan ibu dan perkembangan janinnya, serta tumbuh kembang bayi,” papar Sinteisa.

Semoga informasi ini semakin menambah wawasan Bunda tentang bahaya dan penyebab anak stunting. Tentunya kita tidak ingin generasi mendatang tumbuh dewasa dengan kemampuan kognitif yang lambat, mudah sakit, dan kurang produktif. Yuk, cegah stunting!

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Tak Ada Orang Tua yang Ingin Anak Pendek, Berikut Adalah Tips yang Bisa Bunda Lakukan untuk Mencegah Anak Pendek

Anak pendek daripada teman-teman seusianya,  terkadang membuatnya sering dikucilkan. Jika pertumbuhan tinggi badan si kecil, tampak lebih lambat. Orangtua perlu sigap, untuk mencari tahu penyebabnya. Karena, mungkin saja anak ada masalah kekurangan gizi atau stunting. Sehingga tinggi badannya tidak bertambah sebagaimana mestinya. 

Pastikan Bunda Memahami, Apa Saja Penyebab Tubuh Anak Pendek Dibandingkan Teman Seusianya

Banyak faktor yang mempengaruhi tinggi badan si kecil. Memang setiap orang memiliki ukuran tinggi sendiri. Asalkan masih dalam angka normal tidak masalah. Namun, jika ukuran tinggi tubuh tidak sesuai angka normal mungkin saja disebabkan oleh hal berikut ini. 

1. Anak Tidak Mendapatkan Nutrisi Tidak Cukup Sesuai dengan Kebutuhan Tumbuh Kembangnya 

Hal pertama yang mempengaruhi tinggi badan si kecil adalah nutrisi yang masuk ke tubuhnya. Jika zat gizi sangat sedikit tentu tidak mendukung pertumbuhan. Akibatnya lebih pendek dibandingkan anak seusianya yang tumbuh lebih tinggi. 

Karbohidrat, protein, vitamin dan mineral penting sekali menunjang proses pertumbuhan. Karena itu, usia anak-anak harus diberikan makanan bergizi. Tidak boleh jajan sembarangan apalagi sering mengkonsumsi junk food. 

2. Dikarenakan Si Kecil Lahir dengan Berat Badan Rendah

Penyebab anak tumbuh pendek berikutnya adalah berat badan saat lahir rendah yaitu sekitar 2500 gram. Hal ini diakibatkan oleh kurangnya asupan gizi sejak bayi masih dalam kandungan. Tentu saja dipengaruhi dari kondisi finansial orang tuanya. 

Kekurangan gizi saat lahir mempengaruhi pertumbuhan. Selain karena finansial, gizi buruk juga disebabkan oleh gaya hidup dan pola makan Bunda saat mengandung si kecil. Makanya, selama hamil harus memperhatikan dengan baik makanan dan minuman yang dikonsumsi.

3. Bisa Juga Disebabkan Karena Anak Tidak Mendapat ASI Ekslusif

Anak tidak mendapat ASI ekslusif menghambat pertumbuhan tinggi badan. Fungsi ASI bukan saja pada sistem kekebalan tubuh tetapi juga perkembangan. Sebelum bayi dibolehkan mengkonsumsi makanan seperti orang dewasa, ASI adalah sumber nutrisinya.

Orang tua yang sakit dan lemas kondisi tubuhnya sulit memberikan ASI untuk si kecil. Sehingga banyak yang memilih susu formula. Memang keduanya bagus untuk pertumbuhan dan perkemangan. Tetapi, ASI lebih baik lagi untuk pemberian nutrisi si kecil. 

4. Pada Masa Tumbuh Kembangnya, Anak Sering Mengalami Infeksi 

Anak kecil sering main di luar rumah dan bisa saja jatuh sampai terluka. Jika tak segera dibersihkan menimbulkan infeksi. Selain itu, sistem imun tubuh rendah mengakibatkan bayi mudah terserang penyakit. Penyerapan gizi menjadi terganggu akhirnya mempengaruhi proses pertumbuhan si kecil. 

Batuk, pilek, diare dan penyakit lainnya yang terjadi secara terus menerus membuat anak tumbuh lebih pendek dibandingkan teman-temannya. Oleh karena itu, penting sekali menjaga dan melindungi anak. Tetapi, tidak boleh bersikap over protektif. 

5. Si Kecil Tidak Mendapatkan Imunisasi Dasar Lengkap

Penyebab si kecil bertubuh pendek karena imunisasi dasar yang diberikan tidak lengkap. Beberapa jenis imunisasi diantaranya campak, polio, hepatitis dan penyakit lainnya. Cara efektif melindungi tubuh dari infeksi penyakit adalah dengan imunisasi. 

Jika imunisasi yang diperoleh si kecil tidak lengkap, akibatnya tubuh lebih mudah terserang penyakit. Gizi tidak bisa diserap sepenuhnya oleh tubuh. Akhirnya tubuh lebih pendek dibandingkan anak lain seusianya.

Hal yang Harus Dilakukan Agar Anaknya Cepat Tinggi 

Orang tua tentu ingin tinggi badan anak dalam angka normal atau sesuai teman-temannya. Namun, banyak yang terjadi adalah anak pendek dengan ukuran tinggi tidak sesuai standar tinggi normal. Hal yang harus dilakukan orang tua mengatasi dan menghindari kondisi ini sebagai berikut. 

1. Pastikan untuk Memberi Anak Pola Makan Seimbang 

Cara terbaik meningkatkan pertumbuhan si kecil dengan memastikan pola makan seimbang. Anak mendapatkan asupan gizi yang cukup melalui makanan termasuk buah dan sayur. Karena umurnya masih kecil, anak belum terlalu paham pentingnya pola makan seimbang. 

Orang tua perlu mengajarkan dan memastikan makanan yang dikonsumsi si kecil memiliki protein, lemak, vitamin, karbohidrat dan mineral. Jangan biasakan anak menikmati makanan cepat saji, minuman berpengawet dan mengandung pemanis buatan. 

2. Latih si Kecil untuk Melakukan Peregangan 

Peregangan juga bermanfaat dalam menambah tinggi badan si kecil. Sejak dini kenalkan anak beberapa gerakan peregangan. Setelah dipraktekkan secara rutin, tulang belakang anak akan bertambah panjang dan postur tubuhnya semakin bagus. 

Jenis gerakan sederhana seperti berdiri dengan punggung membelakangi dinding. Minta anak agar menguatkan otot kakinya sambil meraih dinding di belakang. Gerakan lain dengan meminta si kecil duduk di lantai. Kakinya dibuat terentang ke dua sisi. Biarkan si kecil meraih ujung jempol kaki menggunakan jari-jari tangan. 

3. Cobalah untuk Melatih si Kecil Olahraga Skipping

Lompat tali merupakan salah satu olahraga terbaik untuk meningkatkan pertumbuhan. Olahraga skipping menggerakkan seluruh tubuh si kecil termasuk organ dalamnya. Gerakan ini dapat membantu meninggikan badan si kecil.

Anak menjadi lebih aktif yang tidak hanya bagus untuk pertumbuhan, tetapi juga perkembangan. Lebih ceria dan baik untuk kesehatan. Seluruh tubuh akan meregang selama melompat mampu meningkatkan pertumbuhan secara vertikal. 

4. Bunda Juga Bisa Menambahkan Opsi Berenang, Sebagai Kegiatan yang Akan Membantunya Tumbuh Lebih Tinggi

Berenang juga salah satu aktivitas bagus untuk menambah tinggi badan. Selama melakukan olahraga renang, seluruh anggota tubuh terjadi peregangan. Tulang punggung menjadi lebih kuat dan tinggi badan bertambah. 

Sangat bagus berenang dilakukan di pagi hari jika ingin meningkatkan pertumbuhan. Tidak harus lama berendam dalam air tetapi sebaiknya dilakukan secara rutin. Karena tanpa konsisten sulit mendapatkan tubuh tinggi dengan gerakan renang. 

5. Buatlah Aturan untuk Jam Tidur Anak yang Memberinya Tidur dan Istirahat yang Cukup

Tidur yang cukup di malam hari bagus untuk kesehatan fisik dan mental. Tentunya berpengaruh penting dalam pertumbuhan tubuh si kecil. Sebab, hormon pertumbuhan HGH dilepaskan selama tidur karenanya tumbuh dapat bertambah tinggi. Jangan biarkan anak main game sampai mengurangi waktu tidurnya. Itulah hal atau trik yang penting sekali diterapkan orang tua untuk mengatasi tubuh anak pendek. Orang tua memiliki peran dalam pertumbuhan dan perkembangan si kecil. Jadi, meskipun sibuk tetap usahakan memperhatikan kebutuhan anak.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Kesehatan

Perbedaan Gejala Flu dan Gejala Batuk Pilek Yang Harus Bunda Pahami dan Penanganan yang Perlu Dilakukan

Pilek dan flu bisa dialami oleh semua orang di dunia mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Gejala flu dan gejala batuk pilek tidak sama sehingga penting sekali dipahami agar tidak terjadi kesalahpahaman dan kesalahan penanganan. Oleh karena itu, orangtua juga harus mengetahui beberapa info penting lainnya.

Pengertian dan Gejala Flu 

Flu adalah masalah kesehatan organ pernapasan yang disebabkan oleh virus. Meskipun begitu, masih banyak orang menganggap flu sebagai pilek, padahal keduanya memiliki gejala yang berbeda. Akibat dari flu pada tubuh seperti demam, sakit tenggorokan, batuk hingga sakit kepala.

Terdapat sejumlah virus yang menyerang sistem pernapasan seperti hidung, tenggorokan bahkan paru-paru. Menimbulkan gejala gejala diantaranya batuk kering, sakit tenggorokan, sakit kepala, sakit badan, kelelahan hingga demam tinggi. Kondisi ini jika tak segera diobati bisa memberikan masalah serius. 

Gejala flu pada anak berlangsung lebih lama yang melibatkan demam, nyeri otot serta menggigil. Flu bisa diatasi dengan sering mencuci tangan dan hindari kontak langsung dengan orang sakit. Bahkan dalam kasus tertentu, kondisi flu akan pulih dalam lima sampai 6 hari.

Pengertian dan Gejala Batuk Pilek 

Batuk pilek adalah infeksi virus ruangan yang menyerang saluran pernapasan bagian atas yaitu tenggorokan dan hidung. Kondisi ini dapat menyebar secara tidak langsung melalui kontak tangan serta secara langsung lewat percikan lendir dari mulut atau hidung penderita. 

Gejala yang muncul akibat batuk pilek pada anak biasanya bersin-bersin, hidung tersumbat, demam, mata berair, nyeri telinga, hilang nafsu makan serta gatal dan nyeri tenggorokan. Sebagian orang juga merasa tidak enak badan atau pegal-pegal, sakit kepala, menurunnya daya pengecapan dan penciuman. 

Batuk pilek umumnya jarang menimbulkan demam tetapi rasa pegal-pegal yang ringan saja. Batuk pilek tidak sampai mengakibatkan nyeri dada dan sakit kepala. Gejala yang lebih sering dialami adalah bersin, hidung tersumbat dan sakit kepala. 

Perbedaan Gejala Flu dan Gejala Batuk Pilek dari Segi Risiko Komplikasi 

Flu dan batuk pilek juga memiliki perbedaan jika dilihat dari segi risiko komplikasi. Biasanya batuk pilek tidak memberikan komplikasi pada organ tubuh yang lain. Sehingga, batuk pilek bisa disebut sebagai masalah kesehatan ringan. 

Berbeda dengan flu berlarut-larut tanpa pengobatan yang tepat mengakibatkan munculnya penyakit lain. Seperti pneumonia (radang paru-paru), gangguan sistem saraf pusat, myositis (radang otot). Selain itu juga bisa menyebabkan masalah jantung diantaranya perikarditis, miokarditis dan serangan jantung. 

Jika memiliki riwayat penyakit asma kemudian sedang dalam kondisi flu dan belum membaik, segera konsultasi dengan dokter. Sampaikan semua gejala dengan jelas agar dokter mudah memberikan resep obat. Jangan malas untuk periksa ke dokter atas masalah kesehatan yang dialami. 

5 Hal yang Harus Dilakukan Orangtua Saat Anak Mengalami Flu dan Batuk Pilek 

Orangtua tentu tidak akan membiarkan anaknya terkena flu dan batuk pilek berlarut-larut. Masalah kesehatan ini jika tak segera diatasi bisa mengakibatkan penyakit lainnya. Karena itu orangtua dapat menerapkan langkah berikut untuk mengurangi flu dan batuk pilek pada anak. 

1. Pastikan Kebutuhan Air Anak Tercukupi

Flu membuat anak mengalami dehidrasi apalagi jika sampai muntah dan diare. Jika air dalam tubuh terus berkurang, kondisi tubuh menjadi tidak bertenaga. Orang tua perlu memastikan si kecil minum air putih yang cukup. 

Jus buah juga sangat disarankan untuk dikonsumsi. Sedangkan minuman berkafein seperti kopi dan sejenisnya sebaiknya dihindari sebab bersifat diuretik. Jika merasa mual, maka minumlah air putih sedikit demi sedikit, jangan sampai tidak ada air sama sekali masuk ke tubuh. 

2. Sajikan Sup Ayam untuk Dimakan oleh Anak

Menyediakan sup ayam untuk si kecil yang sedang flu atau batuk pilek juga pilihan yang bagus. Hangatnya sup mampu mengatasi gejala infeksi saluran pernapasan bagian atas. Juga memiliki efek antiinflamasi bagus untuk mengurangi risiko peradangan.

Uap dari sup ayam berkhasiat dalam membersihkan sinus dan meredakan gejala infeksi pada anak. Juga kaya nutrisi yang bagus untuk kesehatan tubuh. Tambahkan juga sayuran seperti brokoli, tomat, wortel agar supnya berwarna guna menarik perhatian si kecil. 

3. Pastikan Anak Mendapatkan Istirahat yang Cukup

Kondisi tubuh saat terkena flu dan batuk pilek biasanya tidak bergairah dan lemas. Karena itu, ajarkan anak agar beristirahat yang cukup jangan keluyuran di luar rumah. Hindari aktivitas fisik bahkan tidak masalah menghabiskan sepanjang hari di tempat tidur. 

Anak-anak belum ada tanggung jawab bekerja, sehingga mudah sekali memiliki waktu istirahat yang cukup. Tujuannya untuk mengembalikan sistem imun tubuh agar flu dan batuk pilek bisa cepat hilang. Larang anak bermain game sampai larut malam ketika kesehatannya tidak mendukung. 

4. Mandikan Anak dengan Air Hangat

Mandi air hangat juga solusi yang tepat mengatasi flu dan batuk pilek pada anak. Suhu hangat dan udara lembab membantu meredakan sakit tenggorokan dan hidung tersumbat. Tinggal nyalakan shower dan anak bisa menikmati air hangat hingga beberapa menit. 

Tetapi, perhatikan juga agar jangan sampai berjam-jam berada di kamar mandi. Bisa juga menggunakan alat bantu vaporizer dan pelembab udara (humidifier). Bersihkan alat yang digunakan secara rutin untuk menghindari tumbuh jamur. 

5. Tempatkan Anak dalam Posisi Tidur dengan Sandaran yang Lebih Tinggi 

Cara terakhir yang bisa diterapkan adalah menidurkan anak pada sandaran atau bantal lebih tinggi. Terutama penderita flu akan lebih nyaman sistem pernapasan saat tidur dengan posisi sandaran lebih tinggi. Bisa menggunakan bantal double jika perlu. Itulah perbedaan gejala flu dan gejala batuk pilek yang penting sekali diketahui agar ke depannya tidak salah lagi. Jangan lupa terapkan tips di atas untuk mengurangi flu dan batuk pilek pada anak.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Kesehatan

Perubahan Cuaca Sering Bawa Gangguan Kesehatan, Inilah 5 Ciri-ciri Anak Masuk Angin yang Perlu Penanganan Cepat

Saat cuaca sedang sering hujan, gangguan kesehatan seperti masuk angin bisa dialami oleh siapa saja. Bahkan bukan hanya orang dewasa, anak-anak kecil juga bisa saja mengalaminya. Biasanya banyak hal yang dilakukan jika kondisi anak sudah rewel, namun jangan salah diagnosis. Nah, agar tak salah dalam menanganinya, beginilah ciri anak masuk angin yang harus Bunda ketahui agar mudah mengatasinya. 

Ketahui Terlebih Dahulu, Beberapa Ciri Anak Masuk Angin yang Harus Segera Ditangani 

Sebenarnya banyak hal yang menyebabkan anak bisa masuk angin yang mengakibatkan ketidaknyamanan beraktivitas. Saat mendapati anak dalam keadaan masuk angin, Bunda jangan langsung panik ya. Jika anak menunjukkan ciri-ciri berikut, artinya dibutuhkan penanganan cepat dan tepat untuk mengurangi parahnya kondisi ini.

1. Kembung 

Kondisi masuk angin pertama adalah perut kembung. Sering terjadi pada anak usia 1 sampai 3 tahun dengan ciri perut membuncit. Saat ditepuk menimbulkan bunyi “bung bung bung”, tandanya anak sedang kembung. 

Selain itu, kadang perut anak juga terasa dingin saat diusap, untuk memastikannya orang tua harus mengusap langsung. Bagian tubuh lainnya tidak sedingin perut. Jika ditekan, terasa perut agak keras. Kondisi ini sangat tidak menyenangkan sebab anak merasa begah sehingga mengurangi keceriaan.

2. Mual dan Muntah 

Kondisi kedua yang menandakan anak masuk angin adalah mengalami mual dan muntah. Mual ditandai dengan rasa bergejolak dan tidak nyaman di perut bagian atas. Jika ditekan kondisi mual akan semakin meningkat hingga bisa berakhir dengan muntah. 

Saat anak merasa mual, sulit sekali diajak makan. Mungkin anak tidak tahu yang dirasakannya disebut mual. Sehingga tidak bisa dijelaskan pada orangtua, yang bisa dilakukan adalah mengolah makan agar anak tetap mau makan. Hal ini harus diperhatikan dengan baik agar tidak memperburuk kondisi kesehatan.

3. Pilek dan Batuk 

Anak yang sedang masuk angin juga bisa ditandai dengan gejala batuk dan pilek. Seperti batuk berdahak, hidung tersumbat, meler hingga demam. Bahkan ada juga kondisi batuk disertai muntah sampai keluar air mata menandakan sakitnya yang dirasakan anak. 

Mungkin sebagian orang tua menganggap ini flu biasa. Tetapi, tidak salah melakukan pengecekan ke dokter dan melihat sejumlah gejala lain yang mungkin terjadi pada anak. Hal ini memudahkan mengetahui penyebab dan dokter bisa memberikan penanganan yang sesuai. 

4. Demam dan Diare 

Demam merupakan kondisi saat suhu tubuh anak meningkat. Meskipun begitu, tidak semua demam tandanya masuk angin. Jika suhu tubuhnya melebihi 38 derajat celcius kemungkinan si kecil sedang masuk angin. 

Semangat bermain dan melakukan kegiatan lainnya menjadi berkurang. Tubuh lemas, panas dan tidak tertarik saat diajak bermain. Selain itu, anak buang air dalam sehari bisa sampai 3 kali dan yang keluarnya cairan, bukan kotoran. Lebih parah lagi jika diare disertai busa dan perut melilit.

5. Anak Rewel 

Rewel juga salah satu ciri anak masuk angin karena rasa tidak nyaman pada tubuhnya. Jika orang bertanya bagian yang sakit, pasti langsung ditunjukkan. Karena itu, jangan langsung marah bila anak tidak berperilaku seperti biasanya tetapi bicarakan dan tanyakan dengan baik untuk mengetahui penyebabnya. 

Anak rewel juga tidak ceria seperti biasanya dan sulit diajak istirahat. Nafsu makan menurun bahkan menolak apapun yang ditawarkan untuk dikonsumsi. Padahal jika sedang masuk angin, asupan makanan dan minuman harus tetap dijaga. 

Dan Beginilah Hal yang Harus Dilakukan Orangtua saat Anak Masuk Angin 

Melihat anak tidak ceria seperti hari-hari biasa, orang tua juga tidak enak hati melihatnya. Karena itu, daripada panik sendiri lebih baik mengatasi kondisi anak masuk angin dengan beberapa poin berikut. Berbagai perawatan di rumah dapat diterapkan untuk memulihkan kondisi si kecil.

1.Pastikan Anak Istirahat yang Cukup 

Hal pertama yang bisa dilakukan orangtua adalah memastikan anak beristirahat dengan cukup. Hal ini bisa mengurangi gejala dan meningkatkan kembali sistem imun. Sehingga setelah bangun, anak akan kembali sehat. 

Tetapi, jangan hanya istirahat begitu saja. Penting diselingi makanan atau obat alami yang mampu meredakan rasa tidak nyaman di perutnya. Orangtua dapat memberikan sup hangat dan pastikan anak minum air putih cukup. 

2. Berikan Sup Hangat 

Sup hangat mampu menghangatkan tubuh yang dingin dan perlahan mengurangi kondisi masuk angin. Sup yang bagusnya diberi adalah sup ayam dibuat menggunakan bahan berkualitas. Tambahkan juga sayur seperti wortel, tomat, kentang dan daun seledri. 

Setelah minum sup, anak akan merasa lebih baik. Tubuhnya sudah sanggup beraktivitas dan nafsu makan kembali meningkat. Jika memberikan makan di ruang tidur, pastikan AC dimatikan agar tidak bertambah dingin suhu tubuh si kecil. 

3. Pastikan Asupan Air Cukup 

Air putih yang cukup selalu dianjurkan dokter dalam kondisi apapun. Apalagi saat anak masuk angin, penting sekali memastikannya mau minum air putih. Karena sebagian anak saat sedang sakit tidak suka air putih, maunya air yang ada rasanya. 

Saat masuk angin mual dan muntah, anak rentang mengalami dehidrasi. Hal ini mengakibatkan kandungan air dalam tubuhnya semakin menurun. Cara untuk mengisi kembali adalah dengan menasehatinya minum air putih yang cukup dan hindari minuman berkafein. 

4. Siapkan Air Hangat untuk Mandi 

Penggunaan air hangat membantu mengurangi nyeri dan pegal pada tubuh anak ketika masuk angin. Otot perut yang awalnya tegang perlahan mengendur saat terkena hangatnya air. Tidur si kecil pun lebih nyenyak dibandingkan sebelumnya. 

Pastikan air yang digunakan tidak terlalu hangat atau terlalu dingin. Setelah mandi oleskan minyak hangat untuk mengembalikan rasa nyaman di tubuhnya. Lebih bagus lagi disertai pijatan di area punggung dan perut. Itulah 5 ciri anak masuk angin yang harus segera ditangani. Jika tidak bisa memperparah kondisinya. Makanya orang tua penting sekali menerapkan beberapa poin di atas untuk mengatasi masuk angin pada si kecil.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Share

To Top