Kesehatan

Waspada! Ini Daftar Penyebab Anak Stunting Alias Gagal Tumbuh

penyebab anak stunting

Stunting alias gagal tumbuh menyebabkan anak-anak memiliki postur tubuh pendek. Selain itu juga diikuti kondisi kesehatan yang tidak baik, serta tumbuh kembangnya terhambat. Yuk, kenali penyebab anak stunting.

Bicara stunting, masalah ini masih jadi perhatian besar di Indonesia lho, Bunda. Jumlah kasus stunting di Indonesia pada tahun 2019 mencapai 27,67 persen. Sebenarnya angka ini lebih baik dari enam tahun sebelumnya, lantaran berhasil ditekan hingga 37,8 persen.

Kendati begitu, angka stunting di Indonesia masih lebih tinggi dibandingkan toleransi maksimal yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO). Toleransi maksimal angka stunting yang ditetapkan WHO yaitu kurang dari 20 persen.

“Bahkan hingga akhir tahun lalu, status Indonesia masih berada di urutan 4 dunia dan urutan ke-2 di Asia Tenggara terkait kasus balita stunting,” terang Direktur Bina Akses Pelayanan Keluarga Berencana BKKBN dr. Zamhir Setiawan, M.Epid.

Hal itu disampaikan dr. Zamhir dalam peluncuran “Smart Sharing: Program Kerja Sama Penurunan Angka Stunting di Indonesia” yang dihelat pada Rabu (4/5/2021).

Penyebab Anak Stunting

Penyebab anak stunting/ Foto: Canva

Stunting tidak bisa dibiarkan begitu saja. Jika berlarut-larut, stunting bisa menimbulkan persoalan serius dalam pembangunan sumber daya manusia di masa depan.

Nah, berikut ini beberapa penyebab anak stunting yang perlu Bunda ketahui.

1. Bayi Lahir dalam Keadaan Kurang Nutrisi

1.000 hari pertama atau sekitar tiga tahun kehidupan sejak dalam
kandungan adalah masa penting pembangunan ketahanan gizi. Jika hal ini diabaikan, risiko ibu melahirkan bayi stunting cukup besar.

Bayi yang lahir dalam keadaan kurang nutrisi biasanya dipicu ibunya yang juga kurang nutrisi pada saat hamil. Karena itu, sejak sebeluam hamil, nutrisi seorang ibu harus benar-benar optimal.

“Nutrisi memang mengambil peran penting yang perlu menjadi perhatian lebih bagi calon orang tua baik sejak masa perencanaan, kehamilan, hingga menyusui,” ujar Sinteisa Sunarjo, Group Business Unit Head Woman Nutrition KALBE Nutritionals di acara yang sama.

Perlu kita ingat ya, Bunda, kekurangan gizi kronis bisa menyebabkan abortus dan anemia pada bayi baru lahir. Selain itu, bisa mengakibatkan bayi lahir dengan berat badan rendah, cacat bawaan, bahkan bisa mengakibatkan kematian.

2. Anak Dibesarkan dalam Kondisi Kurang Gizi

Seorang anak bisa saja lahir dengan nutrisi cukup. Namun, apabila anak tersebut dibesarkan dengan nutrisi yang tidak memadai, bisa mengakibatkan kurang gizi.

Jadi, nutrisi optimal di 1.000 hari pertama memang tidak bisa diabaikan. Apabila kondisi kurang gizi terlewat hingga lebih dari 1.000 hari pertama, maka dampak buruknya akan sulit diobati.

Untuk itu, nutrisi yang diasup ibu harus terus diperhatikan. Bahkan, nutrisi yang dibutuhkan ibu menyusui jauh lebih besar ketimbang ibu hamil lho.

3. Masalah Kebersihan

Kebersihan lingkungan juga berpengaruh pada kasus stunting. Apabila seorang anak lahir dan tumbuh di lingkungan dengan fasilitas sanitasi buruk, minimnya akses air bersih, serta kurangnya kebersihan lingkungan, bisa meningkatkan risiko stunting.

Mengatasi Anak Stunting

Mengatasi anak stunting/ Foto: Canva

Di tahun 2024, Indonesia menargetkan kasus stunting bisa ditekan hingga di angka 14 persen. Di samping itu, angka kematian ibu juga diharapkan bisa ditekan hingga di bawah 183 kasus per 100.000 ibu melahirkan.

Untuk menyukseskan langkah ini, program “Smart Sharing” yang dimulai pada April 2021 diluncurkan. Smart Sharing meliputi edukasi secara online, edukasi secara offline, dan program intervensi gizi. Ini merupakan kolaborasi BKKBN, PRENAGEN, dan Klikdokter.

Aplikasi KlikKB turut digunakan untuk meminimalkan risiko stunting. Dengan aplikasi ini, para ibu bisa mengakses informasi terkait perencanaan kehamilan, hamil, tumbuh kembang anak, dan penggunaan kontrasepsi. Bahkan para ibu bisa konsultasi gratis dengan bidan-bidan secara online.

Dr. (HC), dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K), Kepala BKKBN di acara ini menegaskan stunting harus ditekan dari hulu ke hilir. Edukasi hingga intervensi gizi, menurutnya, memegang peranan penting.

“Program edukasi penting agar anak tidak salah gizi dan yang juga harus diperhatikan adalah pengamatan terhadap kondisi gizi anak,” kata dr. Hasto.

Peluncuran Smart Sharing sebagai alternatif mengatasi Stunting.

Untuk mengawal gizi anak, sebenarnya ada Posyandu yang memegang peran vital di masyarakat. Sayangnya, pandemi Covid-19 mengakibatkan kegiatan posyandu di banyak daerah terhenti. Karena itulah, Smart Sharing diharapkan bisa menjadi cara alternatif agar gizi dan kesehatan anak terpantau.

“Smart Sharing” juga merencanakan studi observasional dan program intervensi gizi terhadap ibu hamil, ibu menyusui, dan bayi. Penelitian mendalam bakal dilakukan terhadap tiga kelompok pengujian yaitu ibu hamil dengan usia kandungan 4-6 bulan, ibu menyusui bayi usia 0-3 bulan, dan bayi usia 6-9 bulan.

Studi observasional dan program intervensi gizi ini berlangsung sejak April 2021 hingga Januari 2022. Kabupaten Sleman dan Kota Madiun dipilih sebagai pilot projectnya.

“Studi observasional dan program intervensi gizi ini bertujuan membantu memberikan asupan bernutrisi kepada ibu yang sedang hamil, ibu menyusui, dan bayi usia 6-9 bulan dan mengukur seberapa efektif pengaruhnya terhadap kesehatan ibu dan perkembangan janinnya, serta tumbuh kembang bayi,” papar Sinteisa.

Semoga informasi ini semakin menambah wawasan Bunda tentang bahaya dan penyebab anak stunting. Tentunya kita tidak ingin generasi mendatang tumbuh dewasa dengan kemampuan kognitif yang lambat, mudah sakit, dan kurang produktif. Yuk, cegah stunting!

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Kesehatan

Usia Berapa Anak Boleh Makan Junk Food?

Diolah dengan bahan-bahan cepat saji, Bunda pasti sering cemas jika anak mulai makan junk food. Kondisi ini, kerap jadi sesuatu yang membuat Bunda resah. Pasalnya, terlalu sering makan junk food dalam jangka panjang, bisa menyebabkan berbagai masalah kesehatan hingga gangguan perkembangan otak pada anak.

Tapi yang namanya anak kecil, semakin kita melarangnya, kemungkinan ia malah akan mencari-cari kesempatan untuk makan junk food tanpa sepengetahuan kita. Nah, ada baiknya keinginan si kecil untuk makan junk food diawasi dan dibatasi saja, Bun. 

Lalu, apa yang seharusnya kita lakukan supaya anak tidak terlalu ketagihan makan junk food? Berikut adalah beberapa hal yang sebaiknya kita lakukan dan pahami.

Akan Lebih Baik Jika Anak Terbiasa dengan Makanan Rumahan

Salah satu upaya yang penting, membuat anak terbiasa dengan makanan rumahan yang Bunda siapkan. Karena jika sudah terbiasa dengan makanan rumahan, anak akan sulit mengonsumsi junk food yang cita rasanya jelas berbeda. 

Jika makanan rumahan yang Bunda buat diolah dari bahan-bahan segar yang yang sehat, secara otomatis anak akan bisa membedakan makanan junk food  yang rasanya berbeda karena diolah dengan jenis bahan yang berbeda pula. Dari kebiasaan ini, anak akan bisa membedakan mana makanan sehat yang dibuat oleh Bunda dan mana makanan yang mengandung bahan pengawet, perasa, dan zat adiktif lainnya. 

Jadi, walau si kecil nanti akan makan junk food, Bunda tak perlu terlalu khawatir, karena ia tak akan kecanduan. Selanjutnya, kita hanya perlu membuat makanan yang lebih bervariasi agar si kecil tidak bosan dan tetap menginginkan makanan rumahan yang Bunda berikan. 

Penuhi Kebutuhannya Gizinya dengan Makanan Sehat Sesuai Perkembangan Usia

Untuk mendukung tumbuh kembang si kecil, Bunda memang perlu memberikan makanan sehat yang juga mengandung gizi. Sedangkan, junk food terdiri dari kandungan lemak yang tinggi, gula, garam, dan nutrisinya sangat tidak sesuai bagi kebutuhan tubuh si Kecil. Karenanya, junk food tidak baik untuk kesehatan.

Untuk menyiasatinya, sebelum memberikan si Kecil junk food, Bunda harus memastikan terlebih dahulu bahwa si kecil telah mendapat makan makanan sehat dan bergizi setiap hari. Jadi, kalau pun sesekali ia akan makan makanan junk food, hal tersebut tidak mengganggu kebutuhan gizi yang ia butuhkan dalam masa pertumbuhan. 

Ajarkan Anak untuk Terbiasa dengan Pola Hidup yang Sehat

Hidup sehat jadi kebiasaan penting lain yang perlu ditanamkan pada anak sedari diri. Sebab jika anak sudah terbiasa hidup sehat karena memahaminya, tanpa perlu dilarang atau diawasi secara ketat. Ia akan tahu, jika junk food bukanlah jenis makanan yang berdampak baik untuk kesehatan dan tumbuh kembangnya.

Untuk bisa sampai di kondisi ini, Bunda jadi pihak yang berperan banyak. Menjelaskan apa yang dibutuhkan oleh tubuhnya kepada si kecil. Mulai dari jenis makanan yang harus ia makan, buah-buahan yang baik untuk tumbuh kembangnya, dan kegiatan lain yang akan membuatnya tumbuh jadi anak yang sehat. Mengetahui ini, anak akan jadi sosok yang lebih selektif untuk perihal makanan, termasuk untuk mengonsumsi junk food. 

Awasi Makanan yang Ia Konsumsi

Berada dalam masa pertumbuhan, si kecil memiliki rasa penasaran yang cukup tinggi. Itulah sebabnya, ketika Bunda malarangnya untuk mengonsumsi junk food, kemungkinan ia justru akan semakin ingin memakannya. Solusinya, Bunda bisa membatasi si Kecil untuk konsumsi junk food, misalnya hanya boleh dua kali dalam sebulan saja dengan menentukan harinya.

Selain membatasi hari, Bunda juga perlu membuat aturan tentang jumlah makanan junk food  yang akan dikonsumsi si kecil. Karena terlalu banyak makan junk food, jelas tak baik untuk kesehatannya. Setidaknya, dari 100% kebutuhan gizi yang diperoleh anak dari makanan, Bunda hanya bisa memberinya makanan junk food sebanyak 20%, sementara 80%-nya si Kecil diharuskan makan makanan yang sehat dan bergizi.

Lalu, Kapan Anak Bisa Mulai Makan Junk Food?

Yap, ini jadi bagian paling penting. Jika memang Bunda berniat untuk memberikan si kecil makan junk food, sebaiknya tunggu si kecil berusia di atas 2 tahun ya Bun. Setidaknya, pada usia ini metabolisme pada tubuh si kecil sudah cukup mempuni untuk mengonsumsi makanan junk food yang mengandung beberapa zat dan kandungan adaktif lainnya.  

Perlu diketahui, pilihan untuk mengonsumsi junk food sebelum berusia 2 tahun akan berpengaruh pada selera makan yang dimiliki si kecil. Secara tidak langsung, kandungan dan rasa dari junk food akan melekat di lidah anak dan membuatnya merasa ketagihan dan lebih parahnya lagi tak mau makan makanan lain. 

Selain itu, melansir dari beberapa penelitian, asupan junk food yang dikonsumsi teratur menyebabkan masalah kesehatan jangka panjang seperti obesitas, masalah emosional dan harga diri yang menyertainya, dan penyakit kronis di kemudian hari. Satu makanan cepat saji dapat menambah 160 dan 310 kilokalori ekstra untuk asupan kalori harian untuk remaja dan anak-anak. Dapat pula menyebabkan kekurangan vitamin seperti A dan C, dan mineral seperti magnesium dan kalsium, mendorong perkembangan penyakit defisiensi dan osteoporosis, serta karies gigi karena asupan gula yang lebih tinggi.

Dengan demikian, jika konsumsi junk food malah jadi salah satu pola hidup anak, maka lambat laun anak bisa jadi terbiasa dengan menu tersebut. Bahayanya, ada risiko sindrom metabolik jika sudah sampai junk food jadi menu sehari-hari dan dimakan secara rutin.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Kesehatan

Mengenal Kolik pada Bayi, Kondisi yang Bikin si Kecil Rewel

Kolik pada bayi sering kali membuat orang tua panik dan kewalahan. Pada kondisi ini, bayi biasanya akan lebih sering menangis, rewel, dan sulit tidur nyenyak. Kolik akan mencapai puncaknya pada 6 minggu pertama kehidupan bayi dan menurun secara signifikan saat usianya menginjak 3 sampai 4 bulan.

Dilansir situs resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), kolik paling sering ditemukan pada bayi berumur 2 minggu hingga 4 bulan. Oleh karenanya, istilah medis lain untuk kondisi ini adalah sindrom 4 bulan atau kolik infantil. Selain itu, penelitian juga menunjukkan bahwa 1 dari 4 bayi yang baru lahir berisiko mengidap kolik.

Dalam praktiknya, terdapat tiga aturan dasar yang dipakai untuk mendefinisikan kolik pada bayi, yaitu:

1. Tangisan bayi yang berlangsung selama lebih dari 3 jam dalam sehari

2. Tangisan bayi yang terjadi selama lebih dari 3 hari dalam seminggu

3. Tangisan bayi yang terjadi selama lebih dari 3 seminggu.

Pada kebanyakan kasus, kolik akan hilang sendiri dan tidak memiliki dampak negatif terhadap kesehatan bayi. Selengkapnya baca di sini.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Kesehatan

Serupa, Tapi Tak Sama,Waspada Campak, Rubella serta Pencegahannya

Campak dan Rubella adalah penyakit yang menjadi salah satu perhatian utama pemerintah Indonesia. Yap, karena kedua penyakit ini dikenal ganas karena cukup mematikan bahkan bisa menyebabkan cacat.

Ha lain yang mungkin perlu Bunda tahu, penyebaran virus Campak dan Rubella tak hanya terjadi di Indonesia. Karena negara-negara lain juga tak sedikit yang terjangkit kedua virus tersebut.

Dikutip dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, penyakit Campak dan Rubella tidak bisa diobati seperti penyakit pada umumnya. Pengobatan yang diberikan kepada penderita hanya bersifat pendukung.

Namun tak perlu khawatir, karena kedua penyakit ini bisa dicegah dengan imunisasi. Oleh sebab itu, Indonesia memberikan imunisasi Campak sebagai salah satu program imunisasi nasional.

Sayangnya masih banyak orang yang salah mengartikan antara penyakit Campak dan Rubella. Mereka menilai dua penyakit ini sama, tetapi sebenarnya berbeda. Nah, untuk memahami lebih lanjut tentang Campak dan Rubella yang memiliki gejala serupa, namun sebenarnya tak sama. Bunda bisa klik di sini untuk mendengarkan penjelasan dari ahli secara mendalam dan lengkap di https://extra.sayangianak.com/.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Share

To Top