Kesehatan

Walaupun Sedang Ngidam, Hindari Terlalu Sering Makan Es Krim Saat Hamil ya Bun

Bun, saat sedang hamil, tentu Bunda merasakan momen-momen ngidam saat usia kandungan masih tergolong muda. Normalnya, ibu hamil sering mengalami mengidam makanan manis, seperti permen, cokelat, dan es krim. Khususnya es krim, makanan beku yang satu ini memang tergolong produk olahan susu yang kemudian dibuat dengan beragam varian rasa. Namun sekalipun terbuat dari bahan dasar susu, sejatinya bolehkah ibu hamil mengonsumsi es krim?

Tenang, ibu hamil tetap dibolehkan mengonsumsi makanan yang satu ini asal Bunda memperhatikan kondisi badan serta mempertimbangkan faktor-faktor kebersihan, riwayat alergi, dan masalah medis seperti batuk, pilek, diabetes serta obesitas saat mengonsumsi makanan tersebut.

Es Krim Tergolong Makanan yang Menyehatkan Nih Bun

Pada es krim terdapat beberapa nutrisi esensial yang halus seperti kalsium, vitamin dan mineral. Bunda perlu tahu, setiap 100 gram es krim vanilla mengandung 47% lemak, 70% di antaranya adalah lemak jenuh, hampir 42% karbohidrat dan sekitar 6-7% protein serta membawa 207 kalori. Selain itu, es krim juga menyediakan vitamin seperti Vitamin A dan Vitamin B12 dalam jumlah sedang.

Dengan mengonsumsi es krim, tubuh mendapatkan 20 persen RDA fosfor dan 17 persen kalsium esensial. Nah, asupan ini cukup penting untuk kesehatan tulang, persendian, jaringan muskuloskeletal lainnya, dan berfungsinya jantung dengan baik.

Lantas Berapa Porsi Es Krim yang Dianjurkan untuk Ibu Hamil dalam Sehari?

Ibu hamil tak dianjurkan mengonsumsi terlalu banyak es krim. Sebaiknya kurang dari 50 gram sehari. Ini karena es krim tinggi lemak dan menurunkan suhu tubuh. Mengonsumsi es krim terlalu banyak dapat menghambat metabolisme tubuh dan mengganggu sistem pencernaan. Bahkan beberapa es krim dengan rasa populer seperti kopi atau teh hijau mengandung kafein lho Bun. Untuk itu Bunda harus menahan diri untuk tidak mengonsumsi terlalu banyak saat hamil.

Tapi Ada Pula Risiko Makan Es Krim saat Hamil

Jika terlalu banyak mengonsumsi es krim, ibu hamil dapat mengalami beberapa permasalahan, seperti innfeksi. Tahukah Bunda, bakteri ini dapat hidup pada suhu yang sangat rendah. Sementara infeksi bisa ditimbulkan dari bakteri pada mesin pembuat es krim dan susu juga dapat menimbulkan risiko.

Selain itu Bunda juga berisiko mengalami penambahan berat badan. Tingginya kandungan kalori dapat menyebabkan berat badan bertambah, Bun. Tak hanya itu, risiko diabetes pun juga mengancam kesehatan Bunda.

Bahkan di lain sisi, sistem kekebalan tubuh Bunda akan mudah terpengaruh selama hamil. Dengan mengonsumsi terlalu banyak es krim, hal tersebut akan meningkatkan risiko masalah sinus dan pernapasan.

Ibu Hamil Tetap Dapat Menikmati Es Krim Asal…

Es krim yang terbuat dari susu pasteurisasi benar-benar aman dan dapat dinikmati ibu hamil. Nah, Bunda disarankan membeli es krim tersebut dari merek-merek terkenal dan dari toko-toko terkenal yang memastikan kebersihan dan mengikuti tanggal kadaluwarsa. Di lain sisi, hindari mengonsumsi es krim yang dibeli di warung atau pameran karena faktor kebersihannya diragukan. Serta pilihlah produk es krim ‘rendah lemak’ atau ‘ringan’ yang tersedia saat ini, misalnya, yogurt beku.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Extra

Tahap Perkembangan Janin Trimester Kedua yang Wajib Diketahui

Ketika hamil, perkembangan janin tentu menjadi hal yang bikin Bunda penasaran. Sudah sebesar apa si kecil dalam kandungan? Kemampuan apa yang sudah dimilikinya? Melihatnya melalui layar saat pemeriksaan USG pun selalu ditunggu-tunggu.

Memasuki trimester kedua, biasanya tubuh sudah beradaptasi lebih baik dengan hadirnya janin. Ketidaknyamanan yang kerap dikeluhkan di trimester pertama semakin jauh berkurang. Mual dan muntah yang umum dirasakan di awal kehamilan pun mulai jarang muncul.

Bisa dibilang trimester kedua adalah saat hamil yang paling nyaman. Tak heran banyak ibu hamil yang melakukan babymoon di masa ini.

 

Artikel ini merupakan bagian Sayangi Anak Extra

Dengan Sayangi Anak EXTRA, orang tua dapat mengakses semua artikel premium, kelas & event eksklusif dan video – video seputar parenting, kesehatan dan ibu & anak baik dari para ahli Sayangi Anak maupun dari Team Sayangi Anak..

Detail Langganan

Already a subscriber?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Kesehatan

MPASI Pertama: Lebih Baik Buah atau Bubur?

Saat anak menginjak usia enam bulan, waktunya Bunda menyiapkan MPASI untuk buah hati. Mengingat anak baru belajar mengunyah, makanan pendamping pertamanya harus lembut agar anak tidak kesulitan menelan.

Pada dasarnya, tidak ada aturan mengenai jenis makanan pertama yang harus diberi pada si kecil. Dalam buku Anak Sehat: 100 Solusi dr. Tiwi, I Gusti Ayu Nyoman Pratiwi, dokter spesialis anak yang bekerja di RS Bunda Jakarta menganjurkan memberi buah untuk anak dengan berat badan normal. Sementara itu, untuk anak yang memiliki berat badan di bawah rata-rata disarankan mengonsumsi serealia.

Anjuran pemberian buah harus sesuai aturan, yakni dihaluskan dan hindari buah yang terlalu manis karena kandungan fruktosanya dapat memengaruhi kecenderungan anak terhadap rasa manis. Jika MPASI didominasi makanan berkadar gula tinggi, anak cenderung menolak makanan yang berkadar gula rendah.

Sementara anak yang cenderung kurus dianjurkan untuk bisa mengonsumsi bubur. Pastikan bubur memiliki kekentalan yang baik. Bubur yang encer karena terlalu banyak air tidak memiliki banyak nutrisi. Di masa ini, pemberian daging atau hati sebagai protein juga dapat mempercepat proses kenaikkan berat badan.

Lantaran anak berisiko terpapar arsenik, serealia beras bayi tidak dianjurkan diberikan pada anak secara terus-menerus. Food and Drug Administration menganjurkan untuk melakukan variasi dengan memberi anak sereal bayi yang difortifikasi, seperti oat, multigrain, dan barley.

World Health Organization (WHO) juga menganjurkan menu MPASI bayi 6 bulan terdiri dari beragam sumber makanan. Pasalnya, satu jenis makanan tidak mampu mencukupi kebutuhan gizi harian si kecil. Menu makanan pendamping tunggal tidak hanya membatasi pilihan makanan, melainkan juga zat gizinya.

Panduan Memperkenalkan MPASI Bayi 6 Bulan

Anak memerlukan vitamin dan mineral agar tumbuh kembangnya sempurna. Oleh karena itu, sangat penting untuk memilih MPASI yang mengandung seluruh vitamin dan mineral yang dibutuhkan si kecil.

Untuk memperkenalkan makanan pendamping, biarkan anak mencoba makanan satu per satu. Selain untuk mengetahui makanan apa yang anak sukai, cara ini membantu Bunda melihat apakah si kecil memiliki alergi terhadap makanan tertentu atau tidak. Beri jeda selama tiga hingga lima hari untuk setiap makanan baru.

Umumnya, makanan yang sering memicu alergi pada anak antara lain telur, susu, kerang, ikan, kacang tanah, gandum, buah geluk (kacang pohon), dan kedelai. Jika anak menunjukkan tanda alergi terhadap makanan tersebut, segera hubungi dokter spesialis anak.

Tekstur MPASI Bayi 6 Bulan

Pada awal pemberian MPASI, sebagian besar anak mungkin akan mengalami batuk atau muntah. Tenang, Bunda, risiko ini bisa dicegah.

Untuk permulaan, sebaiknya beri anak MPASI yang dihaluskan lantas disaring. Hasilnya, Bunda akan mendapatkan tekstur yang sangat halus. Bubur saring adalah makanan yang lembut tetapi tidak encer, serta mudah larut oleh air liur. Bubur saring semacam ini dapat membantu anak menyesuaikan diri dengan tekstur makanan baru dan mencegahnya tersedak.

Makanan pendamping bayi haruslah dibuat dari bahan aman yang tidak memicu alergi. Untuk rasa, sebaiknya cenderung hambar. Apabila diperlukan, terutama untuk merangsang nafsu makan anak, pemberian garam maupun gula diperbolehkan dalam jumlah kecil.

Seiring meningkatnya usia dan keterampilan mulut anak, Bunda bisa memberinya makanan dengan tekstur lebih kental. Peningkatan tekstur bisa dilakukan dengan menyajikan MPASI melalui cara ditumbuk atau dicincang dalam beragam jenis rasa. Variasi tekstur dan rasa makanan dapat membantu anak mengembangkan keterampilan motorik halus. Keterampilan mengunyah anak juga meningkat. Selain itu, anak bisa belajar untuk menerima serta menyukai berbagai jenis makanan.

Cara Menyiapkan MPASI

Hal yang wajar apabila Bunda merasa kesulitan menyiapkan MPASI pertama untuk si kecil. Banyak orang tua yang juga mengalami hal serupa. Untuk memudahkan Bunda, berikut sejumlah tips dari American Academy of Pediatrics yang dapat dicoba untuk menyiapkan MPASI anak.

  1. Campur sereal atau biji-bijian yang sudah dihaluskan dengan ASI, susu formula, atau sedikit air supaya teksturnya lembut dan mudah ditelan.
  2. Hancurkan buah, sayur, atau makanan lainnya hingga halus.
  3. Sayuran yang bertekstur keras, seperti wortel perlu direbus agar lebih mudah dihaluskan.
  4. Sebelum memasak ikan atau daging, pastikan untuk menyingkirkan semua lemak, duri atau tulang, dan kulit.
  5. Saat hendak memberikan buah pada si kecil, buang bijinya dan potong sekecil mungkin.
  6. Potong makanan lunak berbentuk bulat maupun silinder menjadi potongan atau irisan tipis.
  7. Sebelum dimasak, biji-bijian, seperti gandum, barley, dan lainnya harus ditumbuk lebih dulu.

Panduan Pemberian MPASI Pertama

World Health Organization (WHO) menganjurkan MPASI haruslah cukup, baik dalam jumlah, frekuensi pemberian, konsistensi makanan, dan variasi jenisnya. Seluruh komponen ini sangat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan gizi anak sembari tetap mempertahankan pemberian ASI.

Untuk memastikan terpenuhinya kebutuhan gizi anak, makanan pendamping harus memenuhi kriteria yang dicantumkan WHO dalam websitenya berikut.

  1. Tepat waktu – makanan pendamping diperkenalkan saat kebutuhan energi dan nutrisi anak sudah melebihi apa yang bisa diberikan ASI eksklusif.
  2. Memadai – makanan pendamping tidak hanya menyediakan energi, tetapi juga mengandung protein dan mikronutrien yang cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi dan mengoptimalkan tumbuh kembang anak.
  3. Aman – makan pendamping harus disimpan dan disiapkan secara higienis. Tangan dan peralatan harus terjaga kebersihannya.
  4. Sesuai kebutuhan – makanan pendamping diberikan sesuai usia, sinyal nafsu makan dan rasa kenyang, serta frekuensi makan anak.

Saat memulai MPASI, mungkin sulit bagi Bunda menentukan jumlah dan frekuensi makanan yang harus diberikan. Bunda bisa mengikuti saran dari American Academy of Pediatrics berikut:

  1. Mulailah secara bertahap. Beri 1 atau 2 sendok makan sembari memperhatikan tanda si kecil masih lapar atau kenyang.
  2. Atur jadwal makan dan kudapan. Pemberian dilakukan secara selang-seling.
  3. Hindari membiarkan anak makan dan minum sepanjang hari. Maksimal pemberian makan adalah enam kali setiap 2 hingga 3 jam.

Kapan Anak Harus Diberi Makan?

Bunda boleh memberikan makanan saat anak memberi tanda bahwa ia lapar, seperti meletakkan tangan ke mulut. Bersihkan tangannya lebih dulu dan mulailah dengan menyuapinya makanan sebanyak dua sampai tiga sendok.

Umumnya, rasa makanan baru kerap mengejutkan si kecil. Beri ia waktu untuk beradaptasi. Jangan memaksanya apabila si kecil tampak tak menyukai makanan pendamping yang Bunda berikan.

Kendati tidak ada jadwal baku untuk pemberian MPASI, Bunda bisa membuat jadwal makan si kecil sendiri yang dimulai dari pagi hingga malam. Berikut contoh jadwal makan anak usia enam hingga delapan bulan.

  1. Pukul 06.00: ASI
  2. Pukul 08.00: Bubur susu
  3. Pukul 10.00: Buah yang dihaluskan
  4. Pukul 12.00: ASI
  5. Pukul 14.00: ASI
  6. Pukul 16.00: Buah yang dihaluskan
  7. Pukul 18.00: Nasi tim saring
  8. Pukul 20.00: ASI

Untuk meminimalkan rasa jenuh, variasi MPASI sebaiknya dilakukan secara bertahap dalam jangka waktu tiga atau lima hari. Misalnya, hari pertama sampai ketiga menu si kecil adalah buah, kemudian tiga hari selanjutnya serealia.

Jika pada minggu kedua Bunda ingin mengenalkan jenis buah, sayuran, atau umbi-umbian, pilih salah satu jenis, lalu beri dalam jumlah kecil secara bertahap selama tiga hari baru kemudian beralih ke menu lain.

Ide MPASI Bayi 6 Bulan

Membuat makanan pendamping anak tidak sesulit yang dibayangkan. Cara memasaknya tidak jauh berbeda dari makanan orang dewasa, hanya berbeda pada pilihan makanan dan teksturnya. Untuk memudahkan Bunda, berikut ini sejumlah variasi menu MPASI bayi 6 bulan yang dapat dijadikan sebagai inspirasi.

Nasi Tim Sawi Ayam

Buat bubur beras putih dengan tekstur semi encer. Tambahkan sawi yang telah direbus dan suwiran ayam yang sudah dihaluskan. Beri sedikit garam. Masak hingga matang.

Puree Bayam dan Jagung Manis

Siapkan bayam segar dan satu buah jagung manis. Rebus keduanya di tempat terpisah hingga matang, lalu haluskan menggunakan blender atau food processor. Pastikan tidak ada serat kasar yang tersisa.

Sup Wortel Kentang Daging

Anak usia enam bulan boleh mengonsumsi daging-dagingan. Untuk memasaknya, rebus daging hingga matang lalu masukan kentang dan wortel. Tambahkan sedikit garam atau gula. Aduk hingga tercampur rata dan diamkan sampai matang, lalu tiriskan. Haluskan menggunakan food processor hingga teksturnya halus.

Puree Alpukat Pisang

Siapkan setengah buah alpukat dan satu buah pisang. Tambahkan ASI atau susu formula secukupnya. Haluskan menggunakan blender.

Nasi Tim Tofu Sawi Putih

Siapkan nasi, kemudian rebus tofu dan sawi putih hingga matang. Tambahkan sedikit garam untuk menggugah selera makan. Campur seluruh bahan ke dalam food processor, kemudian haluskan.

Demikianlah penjelasan mengenai MPASI bayi 6 bulan lengkap dengan panduan dan ide menu makanan pendamping. Semoga bermanfaat.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Extra

Serba Serbi Pemberian MPASI Saat Bayi 6 Bulan

Makanan pendamping ASI atau MPASI bayi 6 bulan harus diberikan secara bertahap selepas program ASI eksklusif. Sebagaimana diketahui, idealnya bayi baru lahir harus mendapat ASI hingga usianya enam bulan. Bahkan, World Health Organization (WHO) menyarankan pemberian ASI dilakukan hingga anak berusia dua puluh empat bulan.

Pemberian ASI eksklusif sangat direkomendasikan. Setiap tetes ASI mengandung enzim dan nutrisi lengkap yang berperan penting dalam membangun antibodi. Selain mencegah anak tak mudah tertular atau terserang penyakit, antibodi juga dapat menurunkan risiko infeksi dan kematian bayi.

Bahaya MPASI Dini

Kendati ASI eksklusif dianjurkan, tingkat pemenuhannya masih jauh dari target nasional yang berada di angka 80 persen. Rendahnya pencapaian ini tidak hanya disebabkan faktor usia ibu, melainkan juga sulitnya ASI keluar, kualitas ASI yang kurang baik, kelahiran prematur, dan ibu bekerja. Alhasil, tak sedikit orang tua yang memberikan makanan pada anak sebelum waktunya.

 

Artikel ini merupakan bagian Sayangi Anak Extra

Dengan Sayangi Anak EXTRA, orang tua dapat mengakses semua artikel premium, kelas & event eksklusif dan video – video seputar parenting, kesehatan dan ibu & anak baik dari para ahli Sayangi Anak maupun dari Team Sayangi Anak..

Detail Langganan

Already a subscriber?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Share

To Top