Parenting

Walau Jarang Bertemu Ayah, Biasakan Si Kecil Punya Banyak Waktu Bermain dengan Ayahnya ya, Bun!

Father and son (3-4) playing catch in park, side view

Tak seperti Bunda, waktu antara si kecil dan ayahnya cenderung lebih sebentar. Ayah harus pergi bekerja berangkat pagi pulang malam sehingga quality time akan terasa kurang. Sementara si kecil terus bertumbuh dan tak terasa ia pun sudah mengerti kalau ia butuh sosok ayah yang bisa menemaninya saat bermain.

Sebab saat si kecil dewasa, pasti akan ada waktu ia mengenang masa kecilnya. Kalau si kecil tak memiliki banyak memori dengan ayahnya, lantas apa yang bisa dikenang, Bun? Karena itu, yuk Bun ajak si ayah untuk mau berinisiatif menyiapkan waktu dan aktivitas yang menimbulkan banyak keseruan bersama ayahnya. Mengutip ayahbunda.com, ini dia keseruan yang bisa dilakukan bersama ayah.

Belajar Naik Sepeda 

Salah satu kebanggaan seorang ayah adalah saat mengajari anaknya mengendarai sepeda roda dua. Bunda mungkin tidak akan tega melihat si kecil terjatuh atau terluka saat belajar naik sepeda. Namun, bersama ayah, ia akan selalu melindungi dan menyemangati anak kala ia jatuh dari sepeda. Hingga pada waktunya si kecil mahir bersepeda nanti, ia akan selalu ingat saat pertama ayahlah yang mengajarinya naik sepeda.

Menari Bersama 

Saat ada waktu senggang di rumah, putarlah musik riang. Lalu, taruh kaki anak di atas kaki Anda. Pegang tangannya dan bergeraklah. Bunda bisa merekam dengan video semua kegembiraan ini. Saat besar nanti, ia akan bisa pamer jika ayahnyalah yang pertama kali mengajarinya menari.

Membeli Es Krim

Kalau Bunda sering berpendapat agar si kecil belum boleh terlalu sering makan es krim, menurut ayah tidak begitu. Sesekali makan es krim berdua anak tidak apa-apa. Jadi, ajak balita ke toko es krim dan pilih rasa es krim yang berbeda.

Beri anak kesempatan mencicipi es krim milik ayahnya sebaliknya. Sederhana, namun saat besar nanti, ia akan ingat ayahnya setiap kali lewat toko es krim. Ia juga tidak akan pernah lupa rasa es krim favorit Anda.

Membuat Mainan dari Kardus 

Saat sedang bersih-bersih rumah, Bunda ingin membuang kardus yang tak terpakai. Tahan dulu Bun, siapa tahu ayah bisa mengubah kardus tersebut menjadi mainan buat anak, seperti pesawat terbang atau mobil balap. Ajak si kecil membantu si ayah dan biarkan ia berkreasi dalam membuatnya, misalnya saat mewarnai dan menghiasnya. Setelah jadi, potretlah mainan tersebut bersama anak.  Saat besar nanti, ia akan tersenyum melihat foto berharga tersebut.

Mengemudikan Mobil 

Pangku dan berikan balita kesempatan memegang kemudi mobil yang sedang berhenti. Ayah dan si kecil bisa berimajinasi sedang berjalan-jalan melewati pegunungan, hutan, atau pantai. Jangan lupa menyebutkan segala yang bisa ditemui dalam ‘perjalanan’. Anak akan berterima kasih sudah dipercaya untuk ‘mengemudi’ dalam perjalanan tersebut. Kelak ia akan ingat momen ini sebagai saat pertama Anda mengajarkannya mengemudi.

Menonton Tim Bola Favorit 

Bunda mungkin mulai jarang lagi menemani ayah menonton bola sehingga ayah selalu sendirian menonton tim sepakbola kegemaran di rumah. Sesekali, ajak si kecil menonton tim sepakbola favorit ayahnya saat berlaga. Anak memang belum paham, tapi melihat antusiasme sang ayah, bisa jadi ia semangat dan bahkan ikut berteriak girang saat tim ayahnya mencetak gol. Bukan tidak mungkin, saat besar nanti, ia jadi penggemar tim sepakbola yang sama dengan ayah. Keren, kan?

Memanjat Pohon 

Buat sebagian Bunda, memanjat pohon adalah aktivitas berbahaya untuk balita. Tapi tidak demikian dengan ayahnya. Ayah pasti ingin anak belajar memanjat pohon, seperti yang dulu sering ayah lakukan ketika kecil. Jika kebetulan ada melihat sebuah pohon rindang, mintalah ayah untuk angkat anak dan naikkan di dahan yang kuat.

Bayangkan, betapa senangnya anak melihat sekelilingnya dari ketinggian pohon. Dan ia tidak akan pernah lupa pengalaman mengesankan tersebut. Lebih seru kalau Bunda dan ayah mengajaknya ke rumah pohon.

Bermain di Garasi 

Siapa bilang hanya orang dewasa yang boleh ada di garasi? Anak anak juga bisa. Sertakan si kecil untuk membantu ayahnya saat sedang memperbaiki mobil atau motor. Biarkan juga ia ikut asyik mencuci sepedanya sendiri saat Anda mencuci kendaraan di garasi. Selain belajar bertanggung jawab terhadap barang miliknya, siapa tahu saat besar nanti ia akan jadi insinyur yang merancang mesin-mesin hebat. Dan semuanya berawal dari garasi!

Mendongeng 

Sepulang bekerja, tidak ada salahnya Bunda meminta ayah menyempatkan diri temani anak tidur. Isi kegiatan menjelang tidurnya dengan membacakannya cerita. Pastikan dongeng yang disampaikan menarik dan bacalah dengan beragam ekspresi wajah dan intonasi suara sesuai karakter dalam cerita.
Lewat dongeng, ayah bisa menyisipkan pesan-pesan moral yang bisa ia contoh. Rutinitas ini akan mengingatkannya selalu bahwa ayahnya adalah seorang pendongeng hebat.

Berkemah dan Memanci

Ajak balita menginap di dalam tenda. Dengarkan suara burung, gemerisik dedaunan tersapu angin, menikmati langit penuh bintang pada malam hari. Ajak juga ia memancing di sungai dekat area berkemah. Anak mungkin jijik melihat cacing untuk umpan atau justru berani memegangnya. Lihat ekspresi mukanya saat kail berhasil menangkap ikan. Petualangan itu akan menjadi pengalaman tak terlupakan olehnya, Bun!

adorable-book-boy-1250722 adorable-book-boy-1250722
1 Comment

1 Comment

  1. Ezy Edu

    April 12, 2019 at 10:52 am

    Wah bagus banget infonya bun, salam kenal dan jangan lupa untuk daftarin juga dan lihat info terbaru tentang sekolah di website kami ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Tumbuh Kembang Setiap Anak Berbeda, Stop Membandingkan Dengan Anak Lain

membandingkananak

Sebagai orangtua tentunya kita menginginkan tumbuh kembang yang optimal untuk anak. Namun, terkadang orangtua mengukur tumbuh kembang anak dengan membandingkan dengan anak lain. Hal itu justru akan membuat orangtua khawatir dan merasa insecure jika tumbuh kembang anaknya tidak sama dengan anak lain.

Hal yang sering dibandingkan orangtua misalnya berat badan anak, kapan anak bisa merangkak, berjalan, dan berbicara. Momen saat berkumpul bersama sesama ibu biasanya menjadi waktu di mana bunda sering membandingkan anak dengan anak lain, atau justru ada orang lain yang membandingkan anaknya dengan anak bunda.

Diawali dari obrolan ringan seputar anak berujung dengan membandingkan, misalnya saat ada yang bertanya, “Anakmu sudah bisa apa?” lalu berlanjut dengan membandingkan, “Wah, anakku umur segitu sudah bisa jalan.”

Obrolan-obrolan kecil seperti itu bisa membuat bunda merasa tertekan karena merasa gagal mengasuh anak, lho. Padahal, kecepatan tumbuh kembang setiap anak pasti berbeda-beda. Bunda tidak perlu membandingkan anak bunda dengan anak lainnya, cukup membandingkan dengan kurva pertumbuhan dan perkembangan dari dokter.

Efek Buruk Membandingkan Anak Bagi Ibu

Sering membandingkan anak sendiri dengan anak orang lain mempunyai efek buruk untuk bunda, lho. Hal itu bisa menjadi penyakit yang tidak terlihat. Bunda bisa merasa iri, malu, tidak percaya diri, hingga merasa tertekan dan gagal dalam mengasuh anak. Jika rasa tertekan tersebut terjadi berlarut-larut bunda bisa stres dan depresi.
Oleh karena itu, saat bunda melihat anak lain lebih montok, lebih cepat merangkak, jalan, berbicara, dan lainnya, bunda jangan langsung mengambil kesimpulan bahwa anak bunda kalah atau pertumbuhannya terlambat.

Yang harus bunda lakukan adalah mengukur setiap pertumbuhan dan perkembangannya lalu sesuaikan dengan milestone dan kurva pertumbuhan. Jika bunda merasa ada aspek tumbuh kembang yang terlambat, sebaiknya bunda berkonsultasi langsung kepada dokter agar mendapatkan penjelasan dari ahlinya.

Efek Psikologis Anak yang Sering Dibandingkan

Selain mempunyai efek buruk bagi ibu, sering membandingkan anak juga mempunyai efek negatif bagi anak. Terkadang orangtua berniat memotivasi anak dengan membandingkannya dengan teman sebayanya.

Namun, hal itu bukanlah cara yang tepat untuk memotivasi lho. Setiap anak mempunyai karakter dan talenta yang berbeda-beda, sehingga tidak seharusnya dibanding-bandingkan.

Membadingkan anak membuatnya mengalami stres, rendah diri, kurang percaya diri, dan menarik diri dari lingkungan sosial

Dilansir dari laman beingtheparent.com, sering membandingkan anak mempunyai efek psikologis untuk anak. Anak bisa mengalami stres, rendah diri, kurang percaya diri, dan menarik diri dari lingkungan sosial.

Anak juga akan menjauh dari orangtua jika orangtua terus-terusan membandingkannya dengan orang lain sehingga merasa dirinya tidak berharga di mata orangtuanya.

Oleh karena itu, yuk bunda, kita stop membandingkan anak kita dengan anak lain. Daripada membandingkan, lebih baik bunda fokus untuk menstimulasi setiap aspek tumbuh kembang si kecil, memberikan nutrisi yang terbaik, dan mendukung setiap aktivitas anak.

1 Comment

1 Comment

  1. Ezy Edu

    April 12, 2019 at 10:52 am

    Wah bagus banget infonya bun, salam kenal dan jangan lupa untuk daftarin juga dan lihat info terbaru tentang sekolah di website kami ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

adorable-book-boy-1250722 adorable-book-boy-1250722

Parenting

Jika Anak Suka Membantah, Orangtua Harus Menyikapinya dengan Benar, Ini Tips untuk Menghadapi Anak yang Suka Membantah

Kidsargue

Semua orangtua pasti menantikan setiap pertumbuhan dan perkembangan sang anak, termasuk saat anak mulai bisa berbicara. Pertama kali mendengar si kecil bisa memanggil “ayah”, dan “bunda” pasti rasanya menyenangkan.

Harapan agar anak segera bisa diajak ngobrol pun tumbuh. Namun, seiring dengan bertambahnya kemampuan berbahasa, maka anak juga mulai bisa membantah lho, Bun.

Anak yang suka membantah merupakan hal yang normal dalam perkembangannya.

Sebagai orangtua pasti ingin anaknya menjadi seorang anak yang penurut dan mematuhi nasihat orangtua. Tapi kenyataannya tidak selalu begitu, ada kalanya anak akan membantah dan terus berargumen untuk mendapatkan keinginannya.

Sejatinya, seorang anak yang suka membantah merupakan hal yang normal dalam perkembangannya. Hal itu bisa menjadi salah satu cara anak untuk menyampaikan keinginannya, dan ingin mengetahui alasan kenapa mereka harus melakukan suatu hal. Misalnya, seorang anak yang berusia 4-5 tahun akan sering bertanya kenapa mereka harus tidur siang, kenapa harus makan sayur, dan lainnya.

Oleh karena itu, tak jarang orangtua dan anak berdebat hanya karena hal kecil. Nah, jika anak mulai suka membantah maka orangtua harus menyikapinya dengan benar. Berikut beberapa tips untuk menghadapi anak yang suka membantah:

1. Dengarkan baik-baik perkataan anak dan hargai perasaannya

Saat anak mulai membantah perkataan orangtua, jangan langsung balik membantahnya. Hal itu justru akan membuat perdebatan tidak kunjung selesai dan emosi meningkat.

Sebaiknya bunda dengarkan dulu setiap argumen dari anak dengan sabar dan penuh perhatian. Tunjukkan sikap bahwa bunda menghargai perasaan anak. Jika bunda menunjukkan sikap yang baik maka anak juga akan menjaga sikapnya. Berbeda jika bunda menunjukkan eskpresi marah dan tidak suka, maka akan juga akan semakin melawan.

2. Jelaskan alasan setiap perintah orangtua

Saat meminta atau menyuruh suatu hal kepada anak, sebaiknya jelaskan alasannya dengan Bahasa yang mudah dipahami oleh anak. Misalnya saat menyuruh anak untuk mandi, bunda bisa mengatakan, “Yuk mandi, biar badannya bersih dan wangi.”

Dengan begitu anak akan paham alasan orangtua menyuruhnya mandi. Terkadang orangtua hanya menyuruh anak melakukan sesuatu tanpa penjelasan karena menganggap orangtua pasti tahu yang terbaik untuk anak. Hal itu akan membuat anak tidak mengerti apa pentingnya menuruti perintah orangtua.

3. Berikan beberapa pilihan kepada anak

Tak jarang seorang anak tidak langsung menuruti perintah orangtua. Misalnya saat diminta berhenti bermain dan tidur siang, ada saja alasan anak agar bisa lanjut bermain.

Jika begitu, bunda bisa memberikan beberapa pilihan, misalnya berikan pilihan untuk tambahan waktu beberapa menit atau satu kali permainan lagi lalu berhenti, daripada memaksanya untuk berhenti saat itu juga. Dengan memberikan beberapa pilihan kepada anak, maka anak akan merasa dilibatkan dalam mengambil keputusan dan dihargai.

4. Buat aturan yang jelas

Langkah terakhir adalah memberikan peraturan yang jelas tentang apa yang boleh dan tidak boleh serta konsekuensinya jika dilanggar. Saat membuat aturan, libatkan anak untuk mendiskusikan poin-poinnya. Sesuaikan aturan yang dibuat dengan usia anak agar anak memahaminya.

Misalnya peraturan tentang berapa lama boleh bermain, kapan harus pulang untuk makan dan mandi, dan lainnya. Tawarkan juga tentang konsekuensi jika melanggar aturan, misalnya dengan mengurangi jam bermain.

Jangan memberikan hukuman fisik jika anak melanggar peraturan. Selain hukuman, berikan juga hadiah jika anak mematuhi peraturannya. Bunda bisa memberikan hadiahnya sebagai kejutan agar anak tidak hanya termotivasi karena hadiah untuk mematuhi aturan.

Itulah beberapa cara menghadapi anak yang suka membantah. Semoga bermanfaat ya, Bun.

1 Comment

1 Comment

  1. Ezy Edu

    April 12, 2019 at 10:52 am

    Wah bagus banget infonya bun, salam kenal dan jangan lupa untuk daftarin juga dan lihat info terbaru tentang sekolah di website kami ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

adorable-book-boy-1250722 adorable-book-boy-1250722

Parenting

Hati – hati Sering Puji Anak Cantik, Itu Tak Selalu Bawa Dampak yang Baik Loh

bracelets-candy-child-2781197

Sebagai orangtua, tentu kita ingin memberikan apapun yang terbaik untuk si kecil serta tak ingin menyakiti hatinya. Berbagai perlakuan manis rela ditunjukkan orangtua termasuk dengan senantiasa memuji anak kita terutama si anak perempuan dengan mengatakan ia cantik.

Si Kecil Menganggap Wajah cantik adalah segalanya dan aset paling berharga

Sejatinya tak ada salahnya memuji anak sendiri, bukan? Namun bila terlalu sering, ternyata efeknya tak baik lho Bun. Mengutip laman Practical Parenting, memberi pujian cantik pada anak akan membuat si kecil mengganggap bahwa wajah cantik adalah segalanya dan aset paling berharga, Bun. Karenanya, secara tak langsung, hal ini akan membuat Bunda mengajarkan si kecil untuk menaruh fokus pada apa yang terlihat, bukan yang ada di dalam.

Bahkan menurut laporan Forbes, terdapat penelitian yang menunjukkan bahwa pujian cantik dapat berdampak buruk lho Bun. Ini karena ketika anak diberitahu bila dirinya cantik, maka si kecil akan mempertahankan identitas tersebut. Efeknya, ia akan menghindari permainan atau aktivitas yang menurutnya bisa menghapus identitasnya sebagai anak yang cantik.

Bagaimanapun, pujian ini membawa pengaruh untuk psikologis mereka. Apalagi ditambah dengan survei BBC pada 2011, menemukan 6 dari 8 anak berusia 8 hingga 12 tahun, merasa lebih baik jika memiliki tubuh yang kurus. Penelitian yang dilakukan oleh Girl Guiding UK ini juga menemukan bahwa para anak perempuan sering menghubungkan kebahagiaan dengan bentuk tubuh.

Jadi Bun, memuji cantik itu tak masalah, karena pujian pun sebagai bentuk apresiasi, namun sebaiknya dilakukan dengan cara yang wajar dan tidak berlebihan ya Bun.

“Yang jauh lebih penting adalah apa yang ada di dalam anak saya yakni pikirannya, hatinya, dan jiwanya,” tulis Kerri Sackville, penulis Out There – A Survival Guide for Dating in Midlife, seperti dikutip dari Practical Parenting. Dibanding memperbanyak intensitas pujian secara fisik, justru Bunda disarankan untuk memuji si kecil yang mau melakukan ketrampilan atau pekerjaan rumah sehingga membuat kemampuan atau pengetahuannya bertambah.

“Penelitian menunjukan saat anak-anak tidak memiliki masalah kepercayaan diri pada tubuhnya ketika berada di sekolah, mereka cenderung sering mengajukan pertanyaan. Sementara dalam kasus-kasus ekstrem, ada anak yang menderita dysmorphia atau gangguan kejiwaan yang mungkin tidak merasa senang pergi ke sekolah,” tambah Swinson.

Sementara itu, Dr Sandra Wheatley, psikolog dan penulis Helping New Mothers To Help Yourself memberi saran dalam hal memuji anak, yaitu dengan menambahkan aspek karakternya. Sehingga kecantikan bukanlah yang utama dan si kecil tidak akan berpaku pada penampilan saja.

“Wajar untuk mendandani anak perempuan dengan cara yang feminin dan tidak ada yang salah dengan itu, selama kecantikan (dari luar) bukan yang difokuskan,” tutup Wheatley.

1 Comment

1 Comment

  1. Ezy Edu

    April 12, 2019 at 10:52 am

    Wah bagus banget infonya bun, salam kenal dan jangan lupa untuk daftarin juga dan lihat info terbaru tentang sekolah di website kami ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

adorable-book-boy-1250722 adorable-book-boy-1250722

Most Share

To Top