Parenting

Untuk Orang Tua Bekerja, Pola Asuh Ini Sebaiknya Diterapkan Pada Anak

Setiap orang tua memang memiliki pola asuh tersendiri yang diterapkan pada sang anak. Pola Pengasuhan ikut mempengaruhi tumbuh kembang anak. Untuk orang tua bekerja, pola asuh seperti apakah yang tepat diterapkan?

Menurut psikolog klinis sekaligus pengajar di Universitas Tarumanagara, Agustina: Pola asuh demokratis merupakan pola asuh yang paling ideal untuk diterapkan.

polaasuhdemokratis

Pola Asuh Demokratis

Baumrind mengemukakan empat tipe pola asuh dimana salah satunya adalah Pola Asuh Demokratis. Pola asuh demokratis, yang mampu menciptakan keseimbangan antara hak dan kewajiban orang tua dan anak, sehingga anak dapat bertanggung jawab atas tindakan yang dilakukan.

pada Pola Asuh Demokratis ini anak diberi conyoh, dihargai, didorong, dibantu, penuh kasih sayang. Kemudian diberikan koreksi (bukan hukuman) agar anak menjadi mandiri. Dengan harapan anak lebih percaya diri, mandiri, kreatif

Pola Asuh Demokratis pada Orang Tua Bekerja

Bagi orang tua yang keduanya bekerja, pola asuh demokratis merupakan pola asuh yang paling ideal untuk diterapkan. Alasannya karena pola asuh ini menerapkan aturan-aturan yang harus dipatuhi oleh anak. Namun, anak diberikan kesempatan untuk mengutarakan keinginannya jika aturan yang ada tidak sesuai atau dirasa sulit.

Sebagai orang tua, memanjakan anak memang lumrah dilakukan. Apalagi bagi ayah dan ibu yang keduanya bekerja, pastinya mereka ingin mencurahkan kasih sayang dan membuat si kecil bahagia.

Akan tetapi memanjakan anak dapat dilakukan dengan memberi kelonggaran terhadap aturan yang diberikan asalkan orang tua merasa bahwa aturan ini memang masih bisa ditawar. Atau, bisa juga dengan menghabiskan waktu bersama dengan anak.

Orang Tua juga harus konsisten menerapkan aturan. Jika orang tua konsisten dan jelas dalam menerapkan aturan kepada anak. Memanjakan anak bukan berarti harus membuat orang tua menuruti semua kehendak anak,

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Anak Susah Makan Sering Buat Orangtua Bingung, Apa Solusi yang Harus Dilakukan?

Anak susah makan merupakan tantangan yang harus dihadapi orangtua. Selama masa pertumbuhan dan perkembangan, makanan bergizi harus dipenuhi dengan baik. Karena itu, orangtua harus tahu cara meyakinkan anak agar mau makan. Hal lain yang kemudian jadi persoalan, meski sudah diberi makan, makanan yang menurut kita baik bagi si kecil. Anak kerap menolak dan susah sekali untuk membuka mulutnya. Kalau sudah begini, apa yang harus orangtua lakukan?

Mencari Tahu, Beberapa Penyebab Anak Susah Makan

Menolak makan sesekali adalah fase normal yang dialami masing-masing anak. Namun, jika setiap hari tidak mau makan, ini cukup memprihatinkan. Anak sudah diajak makan memiliki alasan sendiri dan mungkin beberapa poin berikut menjadi penyebabnya. 

1. Si Kecil dengan Mengalami Sembelit, Namun Belum Bisa Menjelaskannya 

Konstipasi atau lebih dikenal dengan sembelit yaitu kondisi buang air besar tidak lancar. Frekuensi buang air besar sangat jarang bahkan dalam seminggu kadang hanya 3 kali. Tekstur feses keras dan sulit keluar membuat anak tidak nyaman. Anak memiliki rasa was-was untuk makan karena kesakitan saat buang air besar. Anak enggan mencoba jenis makanan baru. Sehingga setiap disodorkan makanan, anak sebisa mungkin menolaknya. 

2. Alergi pada Beberapa Jenis Makanan yang Membuatnya Jadi Tak Suka

Anak bisa saja memiliki alergi pada makanan tertentu yang tidak disadari oleh orangtua. Karena itu, saat melihat makanan anak secara spontan menghindarinya. Alergi biasanya menimbulkan ruam atau gatal-gatal di kulit membuat kurang nyaman. 

Sesak napas juga bisa terjadi pada alergi tingkat parah. orangtua jangan hanya memberi makan saja, tetapi juga perhatikan reaksi tubuh anak setelah menyantap makanan. Hal ini memudahkan untuk mengetahui ada yang salah atau tidak pada makanan tersebut. 

3. Pemilih Makanan, Anak Hanya Mau Makan Jika Bunda Memberinya Makanan yang Ia Suka

Anak sering kali suka pilih-pilih makanan. Memang normal saja terutama pada balita, tetapi jika dibiarkan begitu saja nutrisi yang masuk ke tubuh si kecil tidak beragam. Tetap coba sajikan makanan yang beragam dan si kecil dapat memilih sendiri sesuai kesukaannya. 

Bunda juga dapat memodifikasi makanan yang tidak disukai anak. Mengkombinasikan dengan bahan lain sehingga si kecil tidak tahu bahwa itu makanan yang dihindarinya. Bentuk dan tampilan baru biasanya menarik perhatian si kecil untuk mencicipinya. 

4. Si Kecil Sedang Mengalami Radang Tenggorokan, Sehingga Susah untuk Makan

Penyebab berikutnya anak tidak mau makan adalah karena memiliki radang tenggorokan. Saat ada makanan dan air masuk, terasa nyeri membuat si kecil merasa kurang nyaman. Wajar saja jika berikutnya tidak mau lagi menikmati makanan. 

Kondisi ini memang sulit sekali diketahui orangtua. Bicarakan dengan baik, ajak anak komunikasi alasan dia tidak mau makan. Tanyakan apa yang salah atau bagian tubuh tidak nyaman. Anak bisa menunjukkannya jika belum tahu cara menjelaskannya.

4. Tidak Suka Tekstur dari Makanan yang Bunda Sajikan

Makanan ada bertekstur padat dan lunak seperti nasi. Bubur memiliki tekstur lebih lembut dan kental. Si kecil tidak suka makan bubur karena teksturnya kental, jangan dipaksakan. Sajikan makanan lain seperti sup, makanan berkuah atau lauk pauk bersambal.

Sebagian anak sangat menyukai sup karena rasa, tekstur daging yang lembut dan berkuah. Hormatilah pilihan anak dengan memintanya memilih makanan kesukaan. orangtua sebaiknya tidak memaksakan keinginannya pada anak. 

Dan Inilah Hal yang Harus Dilakukan orangtua Menghadapi Anak Susah Makan

Anak sulit diajak makan kadang-kadang membuat orangtua kesal bahkan sampai memarahi anak. Padahal cara ini tidak menjadikan anak mau makan, malah sebaliknya si kecil memberontak. Untuk menghindari hal ini, sebaiknya orang tua menerapkan beberapa langkah berikut. 

1. Berikan Ia Makanan dengan Porsi yang Lebih Sedikit 

Anak sulit menghabiskan makanan dalam porsi banyak. Maka orangtua dapat menyajikan porsi sedikit tetapi sering. Tujuannya agar asupan karbohidrat, vitamin dan mineral tercukupi. Makan dalam jumlah sedikit tetapi sering lebih baik untuk dilakukan. 

Menyantap porsi besar dalam sekali duduk tidak bagus untuk keseimbangan gula darah. Sistem pencernaan juga tidak berjalan dengan baik. Meskipun begitu, anak yang suka makan biasanya tidak mau porsi sedikit, orangtua perlu mengatur ulang jadwal makannya. 

2. Jangan Beri si Kecil Makan Jajanan Sebelum Makan

Jajan banyak sampai kenyang mengakibatkan anak melewati waktu makan siang atau makan malam. Jajan dengan makan nasi tentu berbeda kandungan energi serta nutrisi yang masuk ke tubuh si kecil. Makanya, hindari memberi jajan sebelum selesai makan. 

Jadi, pilih waktu yang tepat untuk menyediakan jajan anak. Jangan sajikan makanan ringan sembarangan. Latih anak agar dapat menikmati makanan sehat. Sebab sekarang ini banyak sekali makanan kurang sehat bertebaran di kedai.

3. Cobalah untuk Memvariasikan Menu Makanan yang Harus Ia Makan

Terkadang anak tidak mau makan karena orangtua selalu menyajikan menu yang sama setiap harinya. Anak bosan dengan tampilan, bentuk dan rasa makanan. Karena itu, variasikan menu guna menggugah selera si kecil. 

Tidak sulit mengkreasikan makanan karena sekarang ini tersedia banyak sekali resep. Terutama di internet dan media sosial, tinggal mencari menu yang diinginkan langsung muncul resepnya. Kemudian beli bahan, masak dan siap disajikan. 

4. Hindari untuk Memberikan Makanan Cepat Saji 

Makanan cepat saji memiliki rasa gurih, manis dan asin menghasilkan perpaduan khas. Inilah daya tariknya sehingga tidak pernah bosan dikonsumsi. Tetapi, makanan ini tinggi kandungan gula, lemak dan kalori tidak bagus untuk kesehatan. 

Selalu menikmati junk food meningkatkan risiko obesitas. Efek negatif juga bisa terjadi pada sistem pencernaan si kecil. Menumpuknya zat tidak bernutrisi di lambung dalam waktu yang lama memicu masalah kesehatan. 

5. Atur Dan Buatlah Jadwal Makan

Anak diajarkan disiplin pada jadwal makannya. orangtua perlu mengatur jadwal makan dengan baik agar makanan yang masuk ke tubuh lebih teratur. Selain sarapan, makan siang dan malam, silakan berikan snack atau camilan sekitar 2 kali sehari.Camilan disediakan jangan berlebihan agar tidak mengganggu jam makan. Boleh saja biarkan anak makan sendiri, namun lebih baik bersama keluarga. Jangan lupa pilih camilan sehat dan bernutrisi. Terapkan cara di atas agar lebih mudah mengatasi anak yang susah makan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Kesehatan

Manfaat Ikan Bandeng untuk Bayi yang Bisa Jadi Menu MPASI

Untuk urusan menu MPASI, bunda mungkin sering mendengar olahan ikan salmon dan dori baik dijadikan pilihan. Tapi, apakah bunda tahu jika ikan Bandeng juga memiliki kandungan yang baik untuk dijadikan salah satu menu MPASI?  

Bisa ditemukan dengan mudah, Ikan bandeng juga memiliki kandungan nutrisi yang tak kalah baik dari jenis ikan lainnya. Mulai dari zat besi, lemak sehat, fosfor, kalium, kalsium, vitamin A, vitamin B1, dan vitamin B12. Dimana, semua nutrisi tersebut dibutuhkan bayi untuk tumbuh kembangnya. Berikut adalah manfaat lain dari ikan Bandeng yang bisa membantu proses pertumbuhan si kecil. 

1. Perkembangan Otak Hingga Jantung Bayi

Ikan bandeng mengandung omega 3 yang bermanfaat untuk tumbuh kembang otak dan kecerdasan bayi. Pasalnya, tubuh manusia tidak dapat memproduksi omega 3, sehingga membutuhkan asupan nutrisi dari olahan makanan. Tak hanya itu, kandungan omega 3 juga bermanfaat untuk meningkatkan daya ingat anak, mencegah penyakit jantung, dan mengontrol kadar kolesterol dalam darah. Oleh karena itu, ikan bandeng cocok dijadikan MPASI bayi sejak dini bun. 

2. Menjaga Kesehatan Tulang dan Gigi

Selanjutnya, Ikan Bandeng juga memiliki kandungan kalium, magnesium, dan fosfor yang dapat memenuhi kebutuhan mineral bayi. Kandungan mineral dibutuhkan untuk menjaga kesehatan tulang dan gigi si Kecil sehingga menurunkan risiko bayi mengalami kerusakan tulang saat beranjak dewasa. 

Dan info menarik lain yang perlu Bunda tahu adalah, saat si Kecil mengonsumsi 100 gram daging ikan bandeng, itu berarti ia telah mendapat asupan nutrisi 20 mg kalsium dan 150 mg fosfor. Oleh karena itu, semakin banyak olahan ikan bandeng yang diberikan kepada bayi, maka semakin kuat pula tulang dan gigi si Kecil. 

3. Meningkatkan Sistem Imunitas Bayi

Dan yang terakhir, Ikan Bandeng juga memiliki kandungan vitamin A, zat besi, dan protein yang mampu menguatkan daya tahan tubuh si Kecil sehingga tidak mudah terserang penyakit atau virus. Kandungan protein juga dibutuhkan untuk memperbaiki jaringan tubuh yang rusak akibat virus dan bakteri. 

Setelah tahu jika Ikan Bandeng memiliki kandungan nutrisi yang cukup baik pada pertumbuhan si kecil. Bunda bisa mulai mengolah ikan bandeng segar sebagai menu MPASI si kecil di rumah. Dengan catatan, perhatikan duri dan tulangnya sebelum diberikan kepada bayi, karena Ikan Bandeng adalah salah satu jenis ikan yang memilki cukup banyak duri halus sehingga berisiko tertelan atau tercampur pada daging ikan yang dikonsumsi si kecil. 

Untuk meminimalkan risiko alergi yang dialami si Kecil, Bunda bisa memberikan ikan bandeng secara bertahap sejak berusia enam bulan. Apabila bayi tidak mengalami alergi, maka bisa terus memberikan olahan ikan bandeng sebagai MPASI. Akan tetapi, jika bayi menunjukkan tanda-tanda alergi, segera hentikan pemberian ikan bandeng dan konsultasikan ke dokter untuk menu MPASI berikutnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Daripada Memaksa Anak Makan, Lebih Baik Memahami Penyebab Mengapa Ia Susah Makan

Perkara anak susah makan, barangkali jadi salah satu hal yang kerap membuat Bunda bingung. Sebab biar bagaimana pun, di usia kanak-kanak ia butuh nutrisi dan asupan gizi yang cukup dari makanan yang harus ia konsumsi. Di tengah-tengah kondisi yang membingungkan seperti ini, bunda mungkin akan berpikir lebih baik untuk memaksanya saja.

Tapi bun, jika anaknya tidak mau makan, jangan dipaksakan. Nanti kalau anak merasa lapar, kemungkinan besar ia akan mau makan. Daripada memaksakan anak makan, sebagai orangtua sebaiknya Bunda memahami penyebab, mengapa anak sulit makan.

1.Barangkali Ia Tak Pernah Benar-benar Merasa Lapaar

Tak heran jika makanan yang terdiri atas tiga kali makanan utama dan dua kali makanan selingan membuatnya kenyang. Jadi ketika waktu makan yang berikutnya tiba, ia belum benar-benar lapar. Ditambah lagi rutinitas makan dan minum susu yang bisa membuat anak bosan.

Hal seperti ini akan terbawa terus hingga masa batita awal. Namun orang tua sering lupa dan menganggap perilaku menolak atau melepehkan makanan sebagai masalah besar.

2. Si Kecil Mulai Punya Selera Terhadap Rasa

Yang juga kerap terlupakan, di usia batita ini rasa ingin tahu anak sudah semakin besar. Ia sudah punya selera tersendiri terhadap makanan. Itulah kenapa makanan anak usia ini tidak boleh disamakan dengan makanan bayi yang tawar.

Tidak ada salahnya memberikan rasa-rasa tertentu yang dia sukai ke dalam makanannya, seperti garam dan gula. Apa citarasa yang disukai anak, tugas orang tualah untuk menemukannya.

3. Bosan dengan Tesktur Makanan yang Halur dan Campur Aduk 

Rasa bosan bisa juga muncul dari tekstur. Maka, bukan mustahil anak bosan atau sudah merasa mual dengan makanan lunak dan campur aduk seperti makanannya semasa bayi. Dengan demikian orang tua mesti cerdik dalam menyiasati olahan dan penyajian makanan.

Untuk mengatasinya, cobalah bunda variasikan makanan yang sedemikian rupa agar anak tetap suka makan, misalnya dengan memisah-misahkan lauknya dan memblender berasnya saja lebih dulu sebelum diolah.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Share

To Top