Parenting

Tumbuh Kembang Setiap Anak Berbeda, Stop Membandingkan Dengan Anak Lain

Sebagai orangtua tentunya kita menginginkan tumbuh kembang yang optimal untuk anak. Namun, terkadang orangtua mengukur tumbuh kembang anak dengan membandingkan dengan anak lain. Hal itu justru akan membuat orangtua khawatir dan merasa insecure jika tumbuh kembang anaknya tidak sama dengan anak lain.

Hal yang sering dibandingkan orangtua misalnya berat badan anak, kapan anak bisa merangkak, berjalan, dan berbicara. Momen saat berkumpul bersama sesama ibu biasanya menjadi waktu di mana bunda sering membandingkan anak dengan anak lain, atau justru ada orang lain yang membandingkan anaknya dengan anak bunda.

Diawali dari obrolan ringan seputar anak berujung dengan membandingkan, misalnya saat ada yang bertanya, “Anakmu sudah bisa apa?” lalu berlanjut dengan membandingkan, “Wah, anakku umur segitu sudah bisa jalan.”

Obrolan-obrolan kecil seperti itu bisa membuat bunda merasa tertekan karena merasa gagal mengasuh anak, lho. Padahal, kecepatan tumbuh kembang setiap anak pasti berbeda-beda. Bunda tidak perlu membandingkan anak bunda dengan anak lainnya, cukup membandingkan dengan kurva pertumbuhan dan perkembangan dari dokter.

Efek Buruk Membandingkan Anak Bagi Ibu

Sering membandingkan anak sendiri dengan anak orang lain mempunyai efek buruk untuk bunda, lho. Hal itu bisa menjadi penyakit yang tidak terlihat. Bunda bisa merasa iri, malu, tidak percaya diri, hingga merasa tertekan dan gagal dalam mengasuh anak. Jika rasa tertekan tersebut terjadi berlarut-larut bunda bisa stres dan depresi.
Oleh karena itu, saat bunda melihat anak lain lebih montok, lebih cepat merangkak, jalan, berbicara, dan lainnya, bunda jangan langsung mengambil kesimpulan bahwa anak bunda kalah atau pertumbuhannya terlambat.

Yang harus bunda lakukan adalah mengukur setiap pertumbuhan dan perkembangannya lalu sesuaikan dengan milestone dan kurva pertumbuhan. Jika bunda merasa ada aspek tumbuh kembang yang terlambat, sebaiknya bunda berkonsultasi langsung kepada dokter agar mendapatkan penjelasan dari ahlinya.

Efek Psikologis Anak yang Sering Dibandingkan

Selain mempunyai efek buruk bagi ibu, sering membandingkan anak juga mempunyai efek negatif bagi anak. Terkadang orangtua berniat memotivasi anak dengan membandingkannya dengan teman sebayanya.

Namun, hal itu bukanlah cara yang tepat untuk memotivasi lho. Setiap anak mempunyai karakter dan talenta yang berbeda-beda, sehingga tidak seharusnya dibanding-bandingkan.

Membandingkan anak membuatnya mengalami stres, rendah diri, kurang percaya diri, dan menarik diri dari lingkungan sosial

Dilansir dari laman beingtheparent.com, sering membandingkan anak mempunyai efek psikologis untuk anak. Anak bisa mengalami stres, rendah diri, kurang percaya diri, dan menarik diri dari lingkungan sosial.

Anak juga akan menjauh dari orangtua jika orangtua terus-terusan membandingkannya dengan orang lain sehingga merasa dirinya tidak berharga di mata orangtuanya.

Oleh karena itu, yuk bunda, kita stop membandingkan anak kita dengan anak lain. Daripada membandingkan, lebih baik bunda fokus untuk menstimulasi setiap aspek tumbuh kembang si kecil, memberikan nutrisi yang terbaik, dan mendukung setiap aktivitas anak.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Cara Menanamkan Rasa Tanggung Jawab Pada Diri Anak

Apakah anak-anak suka melempar kesalahan kepada orang lain ketika berbuat salah? Jika iya, maka anak belum mengerti tentang tanggung jawab. Anak-anak berbuat kesalahan bisa jadi karena mereka tidak tahu konsekuensi dari perbuatannya dan karena belum bisa mengendalikan diri. Untuk menghindari hukuman atau disalahkan, maka anak akan menyalahkan orang lain atau hal lain. Oleh karena itu, orang tua perlu mengajarkan rasa tanggung jawab kepada anak. Jika anak sudah mengerti tentang tanggung jawab, maka anak bisa memilih mana perbuatan yang benar atau salah.

Beri Pemahaman Tentang Tanggung Jawab Kepada Anak

Sebelum melatih anak untuk bertanggung jawab, orang tua perlu menjelaskan kepada anak apa itu tanggung jawab. Misalnya, ketika anak berbuat salah, hindari untuk memarahi atau menyalahkan anak. Sebaiknya hadapi dengan tenang, cari penyebabnya, dan jelaskan kepada anak dimana letak kesalahannya. Setelah itu, jelaskan tentang konsekuensi logis yang harus dilakukan anak.

Konsekuensi logis merupakan bentuk tanggung jawab anak terhadap perbuatannya. Misalnya jika anak memberantakkan kamar maka harus membereskannya. Ingat bahwa konsekuensi berbeda dengan hukuman.

Tumbuhkan Rasa Tanggung Jawab Anak Sejak Dini

Untuk melatih dan menumbuhkan rasa tanggung jawab anak, ayah dan bunda bisa mengajarkannya sejak dini. Berikut beberapa cara dibawah ini :

  1. Mulai Beri Tanggung Jawab untuk Hal Kecil dan Mulai Dari Diri Sendiri

Mengajari tanggung jawab dimulai dari hal sederhana dulu. Misalnya membuang sampah di tempatnya, meletakkan sepatu di rak, merapikan mainan dan kamar sendiri. Biasakan hal-hal tersebut sejak dini, jika anak lupa maka ingatkan dengan kata-kata yang lembut, bukan dengan membentak.

  1. Buat Peraturan Rumah Atas Kesepakatan Bersama

Agar jelas tentang apa saja tanggung jawab anak, maka bisa dengan membuat peraturan rumah. Ketika membuat peraturan libatkan anak, jangan seenak orang tua saja. Tuliskan peraturan dan tanggung jawaba anak dengan jelas. Misalnya harus merapikan kamar sebelum sekolah, menyiapkan keperluan sekolah sendiri, dan lainnya.

  1. Dan Memberi Anak Contoh 

Anak adalah peniru ulung. Jangan hanya memberi nasihat dengan kata-kata, karena anak akan lebih meneladani perilaku orang tua. Jadi, ayah dan bunda juga perlu memberi contoh tentang tanggung jawab dan konsisten melakukannya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Langkah Mengenali Minat dan Bakat Anak Sejak Dini

Setiap anak dilahirkan dengan kemampuan di dalam diri yang disebut bakat. Bakat dapat berkembang jika distimulasi dengan baik. Jika anak berbakat terhadap sesuatu maka biasanya hanya dengan dekat sedikit stimulasi maka kemampuannyya lebih cepat berkembang daripada yang tidak berbakat. Namun, kemampuan ini bisa saja tidak terlihat karena kurang diasah.

Sementara, minat merupakan ketertarikan anak terhadap sesuatu. Mengenali bakat dan minat anak penting dilakukan untuk mengarahkan kagiatan anak dengan tepat. Jika aktivitas anak sudah sesuai minat dan bakatnya maka bisa menjadi keahlian dan bekal anak kelak.

Cara Mengenali Minat dan Bakat Anak

Minat dan bakat tidak muncul begitu saja. Jika tidak dieskplorasi, maka bakat anak akan menjadi bakat terpendam. Oleh karena itu, ayah dan bunda perlu mencoba beberapa cara untuk mengenali minat dan bakat anak sejak dini. Berikut beberapa tips yang bisa dicoba:

1. Menyediakan Berbagai Aktivitas

Untuk mengetahui minat dan bakat anak, ayah dan bunda perlu memberikan stimulus dengan menyediakan berbagai macam aktivitas untuk anak. Misalnya fasilitasi anak untuk menggambar, mewarnai, bermain bola, bercerita, dan berbagai aktivitas lainnya. Dengan mengeksplorasi berbagai macam aktivitas maka anak akan menemukan hal yang disukainya.

2. Mengamati Ekspresi Anak pada Setiap Kegiatan

Ketika anak mencoba berbagai kegiatan, amati tingkah laku dan ekspresi anak. Apakah anak terlihat semangat, menyukai kegiatan tersebut, atau justru tidak ingin berlama-lama melakukan kegiatan tersebut. Dengan mengamati ekspresi anak, orang tua bisa tahu mana yang merupakan minat dan bakat anak. Jika anak sudah bisa diajak berkomunikasi, ayah dan bunda bisa menanyakan langsung bagaimana perasaan anak terhadap kegiatannya dan mana yang disukai.

3. Biarkan Anak Memilih Sendiri Kegiatan Kesukaannya

Anak akan memilih kegiatan yang memang disukai dan membuatnya merasa bahagia. Oleh karena itu, biarkan anak memilih sendiri kegiatannya. Jangan memaksakan anak untuk melakukan sesuatu yang tidak disukainya karena anak tidak akan menikmatinya dan sulit untuk berkembang.

4. Mengikuti Talents Mapping

Sekarang sudah banyak talents mapping atau test minat bakat yang bisa diikuti. Ayah dan bunda bisa mencoba cara ini sambil tetap mengamati langsung. Mengetahui minat dan bakat anak tidak bisa dilakukan dengan instan. Ayah dan bunda perlu mengamatinya selama beberapa waktu untuk mengenali apa yang menjadi minat dan bakat anak.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Cara Menstimulasi Anak , Agar Memiliki Pola Pikir yang Kritis

Critical thinking atau berpikir kritis perlu diajarkan kepada anak. Zaman sekarang, banyak sekali informasi yang beredar dengan banyaknya sarana komunikasi. Namun, sayangnya tidak semua informasi  tersebut benar. Banyak hoax yang menyesatkan beredar dan dipercaya oleh masyarakat. Oleh karena itu, anak perlu diajarkan untuk berpikir kritis, salah satunya agar anak tidak mudah tertipu oleh berita hoax.

Berpikir kritis adalah kemampuan untuk melihat dan membaca suatu informasi dan situasi, lalu mengelola informasi tersebut agar menjadi sebuah solusi. Jika terdapat sebuah informasi dan situasi yang tidak dimengerti anak atau tidak sesuai dengan yang diketahui anak, maka anak akan mempertanyakannya. Oleh karena itu, anak yang kritis biasanya sering bertanya.

Menstimulasi Pola Pikir Kritis Anak

Pola pikir yang kritis perlu diajarkan kepada anak sejak dini. Dengan pola pikri yang kritis, anak tidak akan menelan sebuah informasi secara mentah-mentah. Sehingga anak bisa lebih tanggap, membedakan mana yang baik dan buruk, dan memecahkan suatu masalah. Berikut beberapa cara untuk menumbuhkan pola piker kritis pada anak.

1. Biarkan Anak Melakukan Berbagai Aktivitas

Melakukan berbagai macam kegiatan dan bermain akan membuat anak banyak belajar. Misalnya dengan bermain menyusun balok lalu roboh, anak akan mencari tahu kenapa kubusnya roboh dan bagaimana agar bisa disusun lebih tinggi lagi. Atau dengan mengajak anak memasak minta anak mencicipi rasanya, lalu berikan kesempatan untuk mengoreksi rasa. Anak akan berpikir seperti, “Ini kurang asin, jadi perlu ditambah apa ya? Oh, ditambah garam!” Jadi perbanyak aktivitas anak agar anak belajar berbagai macam hal.

2. Ketika Anak Mengalami Kesulitan, Jangan Langsung Dibantu

Ketika bermain atau melakukan sesuatu, mungkin anak akan mengalami beberapa kesulitan. Pasti orang tua ingin segera membantu. Namun, sebaiknya biarkan anak mencoba menyelesaikan kesulitannya tersebut. Dengan begitu, anak akan mencoba berbagai cara dan anak belajar menyelesaikan masalah.

3. Berikan Kesempatan Bertanya untuk Anak

Ketika ada hal yang tidak dimenegrti atau tidak sesuai dengan harapannya, anak akan bertanya. Biarkan anak bertanya dan jangan mengomel karena anak cerewet ya. Ketika anak bertanya jangan langsung memberikan jawaban, tapi berikan stimulasi agar anak menemukan jawabannya sendiri.

4. Stimulasi Cara Berpikir Anak dengan Memberi Pertanyaan

Selain membiarkan anak bertanya, orang tua juga perlu bertanya untuk melatih pola piker anak. Berikan pertanyaan terbuka, seperti pertanyaan dengan kalimat tanya kenapa. Dengan begitu anak akan belajar menganalisa sesuatu.

Mengajarkan pola piker kritis bisa dimulai ketika anak sudah bisa berbicara dan komunikasi dua arah. Yuk, mulai ajarkan anak berpikir kritis.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Share

To Top