Parenting

Tips Sukses Buat Menu Mpasi 6 Bulan untuk Si Kecil

Masa-masa mpasi bisa dikatakan sebagai saat paling dinantikan oleh orang tua. Pasalnya mereka akan mempersiapkan menu mpasi 6 bulan yang bervariasi. Hal ini tentunya membuat mereka semakin bersemangat demi mendukung perkembangan dari pertumbuhan buah hati tercintanya. 

Resep Menu Mpasi 6 Bulan Lezat bagi Balita 

Mempersiapkan menu makanan mpasi untuk balita bukanlah perkara mudah. Orang tua harus pandai-pandai menimbang takaran gizinya agar sesuai dengan kondisi badan si kecil. Perkenalan makanan padat ini juga harus sesuai dengan ASI, jangan sampai ada ketidakseimbangan antara keduanya. 

1. Resep Nasi Tim Ikan Tuna 

Menu pertama bisa dicoba oleh para bunda adalah nasi tim ikan tuna. Perpaduannya lezat dan punya kandungan gizi maksimal. Resep kali ini biasanya berhasil diterima oleh si kecil di awal perkenalannya dengan makanan padat. Jika ingin mencobanya siapkan bahan-bahan sebagai berikut.

  • 1 ruas jari ikan tuna 
  • 3 iris bawang bombay 
  • 1 genggam beras putih 
  • Seledri secukupnya saja 
  • Jahe sedikit saja 
  • Air secukupnya 

Cara untuk Membuatnya 

  • Rebus air, kemudian masak beras putih terlebih dulu 
  • Aduk sampai nasi terasa lembek, kemudian masukkan ikan tuna, cincangan bawang bombai, dan sejumput jahe untuk menghilangkan bau amis ikan tuna. 
  • Aduk sampai beras dan ikan tercampur sempurna, kemudian taburkan seledri agar aromanya semakin harum. Kembali aduk hingga teksturnya terasa pas. 
  • Jika sudah diamkan dulu sampai hangat, saring dan sajikan kepada si kecil.

2. Pure Nasi Kentang Wortel

Menu kedua bisa Anda coba untuk memberikan asupan kepada si kecil adalah pure nasi kentang wortel. Seperti yang diketahui sayuran merupakan hal penting harus di dapatkan oleh anak semasa pertumbuhannya. Resepnya juga simpel tidak perlu ketrampilan khusus untuk membuatnya. 

  • 5 sdm nasi putih 
  • 1 batang seledri atau setengahnya juga bisa 
  • 1 buah wortel porsi kecil 
  • I buah kentang porsi kecil 
  • ASI atau susu formula 

Cara Membuatnya 

  • Cuci bersih seledri, kentang, juga wortelnya 
  • Kemudian masak nasi putih sampai jadi bubur 
  • Ketika sudah masak tambahkan seledri 
  • Kukus wortel juga kentang sampai terasa empuk 
  • Ketika sudah matang saring bubur, wortel juga kentang 
  • Campur semua bahan dengan ASI atau susu formula tadi 
  • Aduk sampai rata kemudian sajikan 

3. Puree Jagung Manis, Telur, dan Tahu

Resep selanjutnya melibatkan  komponen makanan berbeda. Namun cara membuatnya tidak ribet sama sekali, cenderung mudah juga. Hanya saja catatan takaran dibawah ini bisa Anda sesuaikan dengan berat si kecil, tidak harus sama persis dengan penjelasan di bawah ini.

  • 15 gram tahu putih (sutra juga bisa)
  • 30 gr jagung manis pipil 
  • 1 siung bawang putih 
  • 25 gr telur bisa putihnya saja

Cara Membuatnya

  • Rebus telur sampai matang kemudian kupas dan diamkan 
  • Kukus jagung manus bersama tahu sampai matang 
  • Tumis bawang putih dan campurkan dengan jagung manis, tahu, serta telur 
  • Blender sampai tekstur yang diinginkan 
  • Kemudian sajikan ke si kecil

Tips Agar Resep Mpasi Berhasil 

Banyak para bunda mengeluhkan jika proses mpasi mereka sering tidak berhasil. Hal ini tentu saja membuat kekhawatiran bagi para ibu baru. Namun sebenarnya ada banyak cara agar proses mpasi dapat diterima oleh si kecil. Untuk lebih jelasnya simak penjelasan dibawah ini. 

1. Support Anak Untuk Jadi Petualang Rasa 

Pertama jadikan anak petualang rasa yang berani dan tidak manja. Kebiasaan anak biasanya menurun dari orang tuanya, meskipun bunda belum punya banyak referensi untuk membuat resep makanan tidak ada salanya mencoba semuanya dulu. Masalah anak suka atau tidak bisa belakangan. 

Ketika bunda merasakan masakan tersebut enak dan layak maka bisa coba hidangkan ke si kecil. Biasanya anak juga akan suka jika orang tuanya berlaku demikian. Jadi jangan gara-gara belum punya referensi atau tidak suka memasak membuat anak harus melewatkan masa  mpasi yang berharga. 

2. Selalu Perhatikan Konstipasi 

Pada usia 6 bulan organ dalam tubuh si kecil masih dalam tahap adaptasi dengan beragam tekstur makanan. Selain itu kemungkinan berhadapan dengan konstipasi atau sembelit masih sangat besar, tugas orang tua adalah memperhatikan dengan baik dampak dari setiap makanan yang diberikan. 

Bila setelah makan masakan tertentu dan mengalami sembelit kemungkinan si kecil mengalami alergi. Jika sudah begitu maka jangan berikan lagi, untuk menghentikan konstipasi tersebut bisa berikan anak buah-buahan yang punya banyak kandungan air misalnya apel, pir, manggis, jeruk, dan semacamnya.

3. Memperhatikan Tanda-Tanda Kenyang dari Anak 

Selain itu faktor dari kesuksesan mpasi adalah peka terhadap tanda atau kode yang dikirimkan oleh si kecil. Pengalaman mpasi  jadi hal yang menyenangkan, kebiasaan baru dan selalu ditunggu oleh anak. Agar mereka meras s demikian  hal penting harus diperhatikan adalah tahu kapan ia merasa kenyang. 

Sebaiknya bunda tahu tanda-tanda ketika anak sudah merasa kenyang. Misalkan mendorong sendok makan menjauh dari jangkauannya, menutup rapat mulutnya, bisa juga menahan tubuhnya agar bersandar ke kursi makan. Tanda yang muncul bisa saja berbeda tergantung kondisi anak.

4. Makan Makanan Tidak Terlalu Padat dengan Sendok 

Terakhir adalah mencoba untuk memberikan makanan tidak terlalu padat untuk anak melalui sendok. Cara ini juga cenderung berhasil, selain membuat komponen makanan cepat masuk juga mencegah kemungkinan tersedak pada si kecil. 

Ada beberapa makanan semipadat bentuknya bisa seperti minuman. Misalnya saja sereal atau havermouth. Jika diberikan dengan botol maka dapat mengakibatkan kelebihan gizi. Lebih baik gunakan mangkuk atau sendok saja.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Perkembangan Bayi Bicara dan 5 Tips Mengatasi Gangguan Speech delay?

Gangguan komunikasi dan bahasa pada anak yang biasa dikenal dengan istilah speech delay memang bisa dialami oleh sebagian anak. Dalam perkembangan bicara, anak mengalami tahapan pada fase usia tertentu. Sehingga orangtua bisa mengetahui apakah si kecil tergolong mengalami gangguan atau tidak. 

Tahapan Perkembangan Bicara dan Bahasa yang Normal

Melihat setiap perkembangan anak menjadi momen yang paling berharga, termasuk dalam hal berbicara. Hal ini sangat penting untuk mengetahui apakah anak Anda masih dalam tahap normal atau mengalami gangguan hingga membutuhkan bantuan ahli. Berikut ini tahapan yang perlu diketahui:

  1. Sebelum 12 Bulan

Saat si kecil usianya belum sampai 12 bulan, perkembangan yang akan dialaminya adalah mengoceh atau babbling sebagai tahap awal. Jika bayi sudah berusia sekitar 9 bulan, mereka biasanya sudah mulai menggunakan nada berbeda untuk berbicara seperti mengucapkan “mama” atau “dada”.

Meskipun belum paham sepenuhnya arti dari kata yang diucapkan, anak sudah mulai mengoceh dengan kombinasi vokal dan konsonan yang mudah diucapkan. Karena pada umumnya anak di usia sebelum 12 bulan sudah mulai tertarik pada suara. 

  1. Usia 12 – 15 Bulan

Saat memasuki usia 12 – 15 bulan, variasi babbling mereka setidaknya sudah semakin banyak dengan minimal 1 – 2 kata yang dimengerti. Anak di usia ini juga sudah bisa mengerti kata atau kalimat yang mengandung petunjuk seperti “Tolong berikan mainannya!” atau “Matanya mana?”

Mereka biasanya sudah bisa merespon kalimat instruksi tersebut meskipun belum mampu untuk mengucapkan dengan jelas dalam bentuk kata-kata. Ketika diminta untuk menunjukkan posisi mata, mereka pun bisa melakukannya dengan baik. 

  1. Usia 18 – 24 Bulan

Kosakata yang dikuasai anak pada saat memasuki usia 18 – 24 bulan semakin banyak sekitar 20 – 50 kata. Mereka pun harusnya sudah mulai belajar mengkombinasikan dua kata seperti “buku baru”. Di saat usia ini, Bunda juga sudah bisa memberikan kalimat perintah untuk meminta tolong sesuatu. 

  1. Usia 2 – 3 Tahun 

Seiring bertambahnya usia si kecil, koleksi kosakata yang dikuasai mereka pun semakin meningkat. Setidaknya anak sudah bisa mengkombinasikan tiga kata atau lebih menjadi sebuah kalimat, mampu mengidentifikasi warna, paham konsep deskriptif, dan mengerti berbagai kalimat perintah. 

Tips Mengatasi Gangguan Komunikasi dan Bahasa Pada Anak dan Solusinya

Jika saat memasuki usia tersebut di atas kemampuan bicara dan bahasa si kecil masih belum memenuhi tahapan perkembangan secara normal, bisa jadi anak tersebut mengalami gangguan. Cakupannya pun cukup luas baik dari segi bahasa, artikulasi, afasia, dan lain sebagainya. 

  1. Ajak Anak Komunikasi Dua Arah

Komunikasi dua arah dengan si kecil sangat diperlukan agar ada interaksi dan respon yang nantinya dilakukan oleh anak. Meskipun mereka belum bisa mengeluarkan kata-kata dan belum paham dengan apa yang dibicarakan, tetap ajak anak berbicara dan ngobrol. Biasanya akan merespon dengan tertawa.

Tetap gunakan bahasa yang baik dan santun saat mengajak anak berbicara karena bisa jadi kata-kata tersebut akan selalu direkam hingga mereka kelak bisa berbicara. Ucapkan bahasa yang jelas dan jangan dibuat-buat dengan bahasa bayi pelafalannya agar nanti anak bisa mengucapkan kata dengan baik.

  1. Mengulang-ulang Kata yang Anak Pelajari

Mengajarkan anak agar bisa berbicara dan mengucapkan kata memang butuh proses. Tidak apa-apa meskipun harus mengulang kata terus-menerus karena bisa jadi hal tersebut dapat mengatasi gangguan bahasa pada mereka. Cara ini juga dapat melatih anak mengucapkan kata dengan benar. 

Jika Bunda juga rajin mengulang kata yang telah anak pelajari, kosakata yang mereka kuasai pun akan semakin banyak. Anak juga akan merasa dihargai ketika orang tuanya mengatakan kembali bahasa yang baru saja mereka ucapkan dan akan terus termotivasi untuk belajar kosakata baru. 

  1. Menghafal Lirik Lagu dengan Bernyanyi

Menghafal kosa kata melalui lirik lagu saat bernyanyi biasanya lebih mudah dilakukan oleh si kecil. mereka juga cenderung lebih senang mendengarkan musik dan suara meskipun belum bisa berbicara. Bernyanyi juga menjadi cara yang menyenangkan saat mengajari anak bahasa dan kosakata baru. 

Mereka akan meresponnya dengan antusias dan tidak terpaksa saat melakukannya. Usahakan untuk mengajak anak menyanyikan lagu anak-anak. Bunda bisa mengajak anak bernyanyi di rumah dan menjadikan cara ini sebagai stimulan agar mereka terus semangat menghafal lirik/menambah kosakata. 

  1. Membacakan Dongeng atau Cerita

Biasakan untuk membacakan dongeng atau cerita sebelum mereka tidur. Bacakan buku yang memiliki gambar menarik dan kata-kata sederhana agar mereka lebih mudah memahaminya. Gambar yang lucu dan ilustrasi menarik cenderung lebih mereka sukai. 

Dengan semakin sering membacakan cerita untuk anak, mereka pun akan merekam kosakata baru yang didengar. Anak pun akan lebih mudah mengucapkan kata dengan jelas saat usianya sudah memasuki tahap perkembangan ini.  

  1. Terapi

Saat Bunda menyadari bahwa si kecil mengalami masalah atau gangguan dalam perkembangan bicara dan bahasanya, maka sudah saatnya untuk memberikan terapi yang tepat. Tidak perlu gengsi karena bisa jadi itu adalah cara yang memang dibutuhkan oleh anak. 

Semakin menunda terapi takutnya akan menimbulkan masalah yang semakin parah. Periksakan ke dokter dan jalani apa yang disarankan oleh ahli demi kebaikan si kecil. Gangguan komunikasi dan bahasa pada anak dan solusinya di atas bisa Bunda praktekkan untuk mengantisipasi dan mengatasi speech delay. Berikan yang terbaik untuk si kecil agar mereka bisa mengalami tumbuh kembang yang normal.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Anak Takut Pada Kerumunan? Jangan-jangan Kena Enochlophobia, Ini 7 Tips Mengatasinya!

Pernahkah Bunda melihat seorang anak mengalami ketakutan yang berlebihan atau tidak masuk akal ketika sedang berada di keramaian atau tempat umum? Jika iya, mungkin Si Kecil memiliki gejala enochlophobia. 

Kondisi seperti ini dikenal dengan istilah enochlophobia atau fobia keramaian. Bagi orangtua yang mengalami problem anak balita yang takut pada kerumunan, tentu membutuhkan solusi yang tepat untuk menanganinya. 

Memahami Apa Itu Enochlophobia

Kasus enochlophobia bisa terjadi pada sebagian balita yang merasa tidak nyaman berada di kerumunan dengan banyak orang. Tak heran jika anak-anak yang mengalami kondisi seperti ini akan lebih suka menyendiri di kamar dan hanya berhubungan dengan anggota keluarga yang sudah dipercaya. 

Anak mengalami kecemasan dan ketakutan yang berlebihan saat bertemu dengan orang banyak sehingga membuatnya tidak nyaman dan rewel. Penyebab pasti dari fobia ini memang belum benar-benar diketahui hingga saat ini. Beberapa ahli menduga ada keterkaitan dengan faktor psikologis. 

Faktor lain yang turut andil mempengaruhi perilaku anak hingga fobia pada keramaian seperti trauma masa lalu, gangguan kepribadian, atau faktor keturunan. Fobia seperti ini juga sering dialami oleh penderita yang mengalami serangan panik atau gangguan kecemasan seperti anxiety disorder. 

Problem Anak Balita yang Takut Pada Kerumunan dan Solusinya

Terkadang sebagian anak tiba-tiba merasa takut akan kerumunan tanpa alasan yang jelas. Namun, ada juga yang takut karena merasa panas, sumpek, dan tidak nyaman hingga akhirnya menimbulkan gangguan kecemasan. Setidaknya ada beberapa gejala dan tanda fobia kerumunan yang perlu orangtua ketahui :

  • Merasa cemas ketika berada di lingkungan yang menurut sang anak tidak aman
  • Enggan meninggalkan rumah atau mendatangi tempat yang asing
  • Percaya diri langsung hilang saat berada di kerumunan
  • Selalu menghindar ketika diajak pergi keluar rumah

Ketika anak berada di dalam situasi yang membuatnya stress, maka ia akan  menunjukkan gejala fisik seperti dada berdebar, jantung berdetak kencang, sesak nafas, hingga serasa ingin pingsan. Jika anak sudah menunjukkan gejala ini, sebaiknya segera diobati karena bisa mempengaruhi kualitas hidup mereka. 

Tips Mengatasi Anak Balita Takut Kerumunan

Orangtua tidak perlu terlalu cemas berlebihan karena jika dididik dan dibina dengan baik, fobia tersebut perlahan bisa hilang dan anak tumbuh dengan penuh percaya diri. Tinggal bagaimana orangtua membiasakan anak agar jangan sampai trauma dan takut lagi di kerumunan. 

  1. Mengajarkan Kepada Anak Untuk Mengenali Tanda-tanda Keramaian

Orangtua harus mulai mengajarkan kepada anak agar mereka mengenali tanda-tanda kerumunan yang stabil dan tidak stabil atau yang membahayakan dan tidak berbahaya. Kerumunan yang membahayakan pada umumnya jika berada di sekelompok orang yang rusuh hingga membuat kekacauan. 

Kita harus memberikan pemahaman secara perlahan bahwa tidak semua kerumunan berbahaya. Ajarkan kepada mereka untuk menghindari keramaian yang berbahaya saja dan beri tahu bahwa kebanyakan orang aman. Sehingga anak akan mulai mengurangi rasa takutnya ketika diajak bepergian. 

  1. Melatih Anak Agar Berpikir Positif Tentang Keramaian

Jika membicarakan tentang keramaian atau kerumunan orang, ceritakan tentang hal yang positif. Sehingga anak pun, akan mulai berkurang pikiran negatif terhadap ketakutan dan kecemasannya tersebut. Akhirnya lama-lama mereka sendiri yang akan memutuskan pemikiran negatifnya. 

Pelan-pelan orangtua bisa melatih agar anak terbiasa dengan keramaian melalui kegiatan yang bisa dilakukan di rumah. Seperti nonton film bareng, arisan, pengajian, atau kumpul bersama keluarga lainnya. setelah terbiasa dengan keluarga sendiri, nantinya anak tidak takut lagi jika diajak keluar.   

  1. Mengatur Waktu Pergi

Saat mengajak pergi anak, orangtua harus memahami kondisi dan mood-nya pada saat itu. Jangan terlalu memaksakan kehendak jika anak keberatan untuk diajak ke keramaian. Namun, sebagai orangtua bisa mengakalinya dengan memilih waktu yang tepat saat mengajak pergi sang anak. 

Pilih waktu di mana tidak banyak orang pada saat tersebut. Misalnya pergi ke supermarket pada saat malam hari atau menghindari hari saat ada diskon dan promo. Ingatkan selalu kepada anak untuk fokus jika merasa kewalahan dengan kecemasan yang dialaminya. Ajarkan mereka bagaimana menarik napas dalam-dalam. 

  1. Ajak Meditasi Pada Saat Senggang

Meditasi tidak hanya bermanfaat untuk orang dewasa saja, begitupun untuk anak kecil. Berlatih meditasi dapat mengajarkan anak untuk membangun toleransi agar tidak stress dan belajar bagaimana mengurangi pikiran yang penuh kecemasan atas prasangka negatif yang terlalu dipikirkannya. 

Lakukan meditasi di saat senggang bersama sang anak. Beritahu pelan-pelan apa saja manfaat meditasi dan bagaimana cara melakukannya. Dalam hal ini orangtua harus memberikan contoh terlebih dahulu sampai akhirnya si kecil merasa tenang dan bisa mengatasi kecemasannya. 

  1. Sibukkan Anak Dengan Kegiatan Bermanfaat

Memberi kesibukan kepada anak dengan kegiatan bermanfaat setidaknya akan membantu mereka untuk melupakan sejenak tentang kecemasan dan pikiran negatif yang dialaminya. Terlebih lagi jika terpaksa harus berada di tempat umum. orangtua bisa memberiny headphone atau ponsel. 

Biarkan anak sibuk mendengarkan lagu atau musik kesukaannya agar mereka tidak terlalu memikirkan hal-hal negatif saat berada di tempat ramai. Bisa juga dengan membawakan mereka mainan kesukaan agar si kecil merasa nyaman. 

  1. Tetap Tenang dan Jangan Ikut Panik

Ketika si kecil menghadapi situasi yang membuat mereka merasa cemas berlebihan, pastikan untuk membuat mereka tetap tenang menghadapinya. orangtua pun harus tenang dan jangan ikutan panik. Lakukan dengan perlahan-lahan dan coba kendalikan diri. 

Problem anak balita yang takut pada kerumunan dan solusinya di atas bisa orangtua coba untuk praktekkan terutama ketika membawa anak keluar rumah dan banyak kerumunan. Anak hanya merasa tidak nyaman dengan keramaian, namun lama-lama mereka akan terbiasa dengan sendirinya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Anak Suka Menggigit Karena Tidak Pecaya Diri, Pelajari Penyebab dan Cara Mengatasi Anak Suka Menggigit

Problem anak balita yang suka menggigit bisa menjadi bentuk ekspresi gemas atau karena ada faktor penyebab lain yang mendasarinya. Pada umumnya kebiasaan menggigit pada anak-anak masih dianggap wajar. Namun, terkadang menimbulkan kekhawatiran tersendiri jika terlalu sering dilakukan.  

Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh M.O.Marouane, menggigit kuku selain dapat menimbulkan infeksi dan perdarahan di kuku berbagai kemungkinan ini juga dapat terjadi:

  • Merusak gigi dan gusi anak, susunan gigi tidak rapi, atau gigi condong ke depan,
  • Infeksi bakteri yang melibatkan peradangan kulit di sekitar jari,
  • Kondisi di mana darah terkumpul di bawah kuku menyebabkan banyak rasa sakit (subungual infection),
  • Infeksi jamur pada kuku (onychomycosis),
  • Kerusakan pada bantalan kuku (onycholysis).

Problem Anak Balita yang Suka Menggigit dan Solusinya

Pada dasarnya, menggigit merupakan respon wajar yang dilakukan oleh anak balita dalam masa perkembangannya. Kebiasaan ini biasanya akan berlangsung saat anak berusia 12 – 36 bulan. 

Penyebab pasti menggigit kuku masih diperdebatkan.  Ada beberapa faktor penyebab mereka memiliki kebiasaan suka menggigit. Berikut ini beberapa di antaranya:

  1. Karena Tidak Percaya Diri 

Penyebab pasti menggigit kuku masih  memang masuk diperdebatkan. Salah satu faktor yang mempengaruhi meliputi faktor psikologis. Menggigit kuku karena tidak percaya diri bisa menjadi alasan anak menggigit kuku. Misalnya saat diminta guru untuk bernyanyi di depan kelas, untuk mengurangi stres maka anak Bunda mulai menggigit kukunya.

  1. Bisa Jadi Karena Sedang Tumbuh Gigi

Salah satu pertanda bahwa si kecil sedang tumbuh gigi adalah mereka suka memiliki kebiasaan baru suka menggigit. Hal ini dikarenakan saat gigi mulai tumbuh, akan timbul rasa sakit. Terlebih lagi anak di bawah usia tiga tahun merupakan fase oral dimana anak senang mengeksplorasi menggunakan mulut. 

Karena tidak bisa menahan rasa sakitnya saat gigi beranjak tumbuh, maka mereka bisa dengan mudah menggigit apa saja yang ada di sekitarnya. Terlebih lagi jika ada benda yang menarik perhatiannya. Tak jarang ada yang sampai menggigit anggota tubuh orang tuanya. 

  1. Rasa Penasaran dan Ingin Tahu yang Tinggi

Saat usia masih balita, anak-anak biasanya memiliki rasa ingin tahu yang begitu besar terhadap segala sesuatu. Salah satunya adalah rasa penasaran bagaimana reaksi yang akan muncul ketika si kecil menggigit seseorang baik teman maupun orang tuanya. 

  1. Menunjukkan Ekspresi Marah, Kesal, dan Gemas

Saat usia masih di bawah lima tahun, anak memiliki keterbatasan perbendaharaan kata sehingga kesulitan untuk mengungkapkan emosi atau perasaannya. Seringkali mereka menggigit hanya karena ingin meluapkan emosi kesal, marah, dan merasa diabaikan. Tak jarang mereka melakukannya karena gemas.  

  1. Mencari Perhatian

Anak-anak memang suka mencari perhatian orang-orang sekitarnya. Sehingga mereka akan mencari segala cara agar diperhatikan, salah satunya dengan menggigit orang lain. Dengan demikian orang yang ada di sekitarnya akan memberikan perhatian kembali kepada si kecil. 

Tips Mengatasi Anak Suka Menggigit

Sebenarnya, kebiasaan anak mulai menggigit adalah hal yang wajar dan tidak perlu terlalu dikhawatirkan. Namun, demi tumbuh kembang si kecil dan agar tidak menjadi kebiasaan maka penting sekali untuk mengatasinya dengan cara yang tepat. Berikut ini langkah-langkah yang bisa Orangtua lakukan:

  1. Tetap Sabar dan Jangan Langsung Memukul atau Memarahi Anak

Tindakan menggigit memang salah apalagi jika sampai menimbulkan luka pada anggota badan orang lain. Namun, jangan sampai Orangtua kehilangan kesabaran dan langsung memarahi anak begitu saja dengan berteriak apalagi memukul. Karena hal tersebut akan membuat anak semakin frustasi. 

Bukannya menyelesaikan  masalah, anak justru akan ketakutan dan menangis. Padahal mungkin dibalik perilakunya yang suka menggigit ada alasan yang mendasari mereka hingga melakukan hal tersebut. Dalam hal ini, sebagai orang tua Orang tua harus memahami kemauan si kecil. 

  1. Mengajak Berkomunikasi

Anak sebenarnya bisa diajak bicara dan  komunikasi dengan baik-baik tanpa harus dimarahi. Jelaskan kepada mereka bahwa menggigit itu adalah kebiasaan yang kurang baik. Ajarkan dengan kata-kata lembut dan menenangkan agar si kecil tidak ketakutan saat diinterogasi. 

Jika memang tujuan si kecil menggigit adalah untuk meluapkan emosinya, maka sampaikan bahwa mengutarakan perasaan itu lebih baik jika dibandingkan dengan gigitan. Ajar anak untuk meminta maaf kepada orang lain yang digigitnya karena tindakan tersebut merupakan suatu kesalahan. 

  1. Jaga Mood Agar Tetap Baik

Pada dasarnya, salah satu alasan utama anak menggigit adalah karena ingin mencari perhatian. Mereka melakukan hal ini biasanya karena mood sedang tidak baik atau ada sesuatu yang membuatnya merasa kesal. 

Oleh karena itu, penting untuk menjaga mood anak agar tetap baik dan pastikan semua kebutuhannya terpenuhi dengan baik. Mulai dari makan, minum, hingga cukup tidur. Jika kebutuhan sudah terpenuhi, maka mereka pun akan lebih terjaga mood-nya sehingga tidak serta merta menggigit orang lain. 

  1. Berikan Perhatian Kepada Anak

Sesibuk apapun pekerjaan Orang tua baik di rumah maupun di kantor, penting sekali untuk tetap memberikan perhatian kepada si kecil. Anak yang suka menggigit bisa jadi karena kurang perhatian dan ingin lebih diperhatikan oleh orang tua maupun lingkungan sekitarnya. 

Perhatian yang cukup dari orang tua untuk anak-anaknya sangat penting untuk tumbuh kembang si kecil. Apalagi saat mereka sedang di fase akan mendapat adi baru, masuk sekolah, dan lain sebagainya. Anak akan meninggalkan kebiasaan menggigit dengan sendirinya ketika diperhatikan lebih. 

  1. Bawakan Mainan atau Teether

Saat Anak sedang tumbuh gigi, berikan mainan yang bisa digigit. Saat ini sudah banyak mainan yang memang khusus untuk digigit seperti teether untuk mencegah si kecil menggigit orang lain. Fungsi dari mainan jenis ini juga untuk membantu meredakan rasa gatal dan tidak nyaman saat tumbuh gigi. 

Dengan cara ini, anak akan lebih fokus dengan mainnya dan lupa tentang kebiasaannya menggigit orang lain. Perlahan ketika mereka sudah bisa mengerti dan dinasehati, maka kebiasaan suka menggigit pun akan hilang dengan perlahan. Jadi, Orang tua tidak perlu terlalu khawatir lagi. 

Problem anak balita yang suka menggigit dan solusinya di atas bisa Orang tua praktekkan di rumah ketika si kecil memasuki fase ini. Bisa jadi mereka memang sedang membutuhkan perhatian lebih atau merasa tidak nyaman karena akan tumbuh gigi. Orang tua yang paling tahu tentang perkembangan mereka. 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Share

To Top