Parenting

Tips Mengajarkan Anak Agar Mau Berbagi

anak berbagi

Anak-anak memiliki kesulitan untuk berbagi, terutama balita?. Ini merupakan hal normal dan bagian dari proses pembangunan karakter. Memahami dan menerima kewajiban berbagi adalah langkah pertama yang akan membantu anak tumbuh menjadi seorang yang mau berbagi.

anak berbagi

Sumber: http://www.balitasehat.net

Bagaimana perang orang tua mengajarkan anak berbagi beriktu tipsnya:

Jangan memaksa anak

Dorong sikap dan lingkungan agar anak mau berbagi. Ada kekuatan dalam kepemilikan. Bagi orang dewasa, mainan sekedar mainan. Untuk seorang anak, mainan adalah barang berharga. Hormati sisi posesif anak, sementara Anda juga perlu menjadi teladan (role model ) yang mendorong mendorong anak berbagi. Bila perlu, ajak anak bermain dalam keompok bermain, Anda juga dapat belajar sisi yang butuh dibimbing dari anak.

Contoh kedermawanan

Ibaratnya, siapa melihat, dia akan melakukan. Ketika seseorang meminta untuk meminjam “barang” (yang dapat diasosiasikan anak sebagai mainan) Anda, jadikan ini seagai momen mendidik anak. Misal, katakan “Mommy berbagi buku resep dengan teman mommy “. Biarkan momen berbagi Anda bersinar. Begitupula, berikan pengalaman berbagi pada anak, misalnya dengan menawari “Apa kamu mau kue punya mommy ?” “Ayo duduk bersama mommy dan ayah, kita sisihkan tempat duduk buatmu”. Jika Anda memiliki beberapa anak, terutama yang usianya berdekatan, akan ada saat-saat orangtuanya tak cukup bagi mereka. Dua anak tidak dapat memiliki seratus persen ayah atau ibunya. Dan, yang terbaik yang Anda bisa dilakukan adalah membagi cukup waktu. “Tidak adil” mungkin keluhan ini akan diulang oleh anak-anak. Cobalah memberi kesempatan yang sama sebanyak mungkin, sementara mengajarkan anak-anak Anda faktor lain yang ikut bermain dalam kehidupan sehari-hari.

Waktu Anak Belajar berbagi

Berbagi dengan tulus menyiratkan empati, kemampuan memahami pikiran orang lain dan melihat hal-hal dari sudut pandang mereka. Anak-anak jarang mampu berempati sejati di bawah usia enam tahun. Sebelum menginjak usia 6, mereka berbagi hanya karena Anda mengondisikan mereka untuk melakukannya. Jangan berharap anak kurang berusia kurang dari 2 atau 2 ½ tahun mudah diajak berbagi. Anak dibawah dua tahun sedang dalam fase bermain paralel (bersama anak-anak lain) namun tidak benar-benar bersama mereka. Mereka peduli tentang benda-benda miliknya dan dirinya namun belum berpikir soal apa yang anak lain inginkan atau rasakan.

Mainan bergilir

Konsep bermain dengan suatu benda secara bergiliran lebih mudah dipahami anak balita daripada konsep berbagi mainan. Gunakan timer dan pasang dalam waktu singkat, misalnya 1-2 menit. Biarkan balita bermain suatu benda secara giliran dengan temannya. Dia akan membiarkan temannya bermain dengan benda tersebut karena dia tahu bahwa benda itu akan kembali padanya setelah waktu bermain temannya itu habis. Jangan lupa  memuji anak, misalnya dengan mengatakan, “Wah, baik sekali kamu meminjamkan Nia bonekamu.” Jika tidak ada orang lain, jadikan diri Anda sebagai teman berbagi untuknya.

Bermain peran

Tunjukkan pada anak bahwa dengan mau berbagi dia mendapatkan jalinan pertemanan yang erat dan menyenangkan.

Dokter-dokteran. Ajak salah satu teman anak untuk bermain bersamanya. Jadikan boneka sebagai pasien yang harus dibawa ke rumah sakit. Minta si kecil berperan sebagai ibu si pasien untuk memberikan bonekanya  pada temannya yang berperan sebagai dokter untuk diperiksa. Setelah selesai, minta temannya memberikan kembali boneka pada anak.

Bengkel mobil. Bila mainannya berupa mobil-mobilan, katakan pada anak jika mainannya ada kerusakan dan harus dibawa ke bengkel; minta dia memberikan mobilnya pada temannya yang berperan sebagai mekanik untuk dibetulkan. Setelah selesai, minta temannya untuk memberikan kembali mobil-mobilan itu pada si kecil.

Play date

Anak sering berkesempatan bermain bersama teman sebayanya akan banyak belajar tentang manfaat berbagi. Rancanglah play date, yakni kegiatan bermain bersama di suatu tempat yang sudah ditentukan. Waktunya jangan terlalu lama. Biarkan anak asyik bermain bersama teman-temannya. Awasi mereka dalam jarak tertentu.

Bermain di playground

Jadwalkan kunjungan rutin ke sebuah taman atau playground. Mainan-mainan di sana merupakan milik bersama sehingga situasinya mendukung anak untuk belajar berbagi. Namun jikakondisinya berubah, misalnya anak berebut mainan dengan anak lain, alihkan perhatiannya pada hal lain atau mengajaknya pulang. –bisa didrop

Menginap di tempat saudara

Sesekali, ajak anak menginap di rumah salah satu sepupunya yang sebaya. Balita berkesempatan belajar berbagi, misalnya berbagi makanan, mainan atau buku yang dia bawa dengan benda serupa milik sepupunya. Jika mungkin, biarkan mereka tidur satu tempat tidur.

Pinjam mainan atau buku

Setiap anak memiliki mainan yang sangat spesial  dan ia tak ingin meminjamkannya pada orang lain. Jika Anda ingin mengajari anak berbagi dengan cara pinjam meminjam mainan atau buku dengan anak tetangga, pisahkan dahulu mainan spesial balita dalam sebuah kotak atau lemari tertutup sebelum temannya datang. Katakan pada anak  bahwa mainan dalam kotak adalah mainan yang tidak ingin dia pinjamkan pada temannya. Sebaliknya, mainan di luar kotak adalah mainan yang anak tak keberatan  meminjamkannya pada teman.

Peduli Musibah

Anak bisa belajar memberi perhatian dan berbagi pada orang lain ketika Anda mengajaknya berpartisipasi membantu masyarakat yang tertimpa musibah dengan, misalnya:   Menyumbangkan sebagian uang jajan atau uang pemberian orang (angpao), baju, baju seragam atau buku bekas layak pakai, alat tulis, serta mainan yang bersifat mendidik pada beberapa badan atau yayasan amal.

Beri kesempatan anak berbagi

Dorong anak berbagi dengan beberapa kesempatan mengulurkan makanan kesukaan untuk teman yang lain. Sesekali mintalah, “Tolong bagi beberapa kukis untuk Robin ya sayang.” Atau mintalah anak, memotong kuenya dan memberikannya kepada teman. Ini praktik yang baik untuk anak soal berbagi. Atau Anda dapat mengajarkan nilai-nilai kepada anak yang lebih muda, dengan meminta anak yang lebih tua memberi contoh yang baik. Anak yang lebih muda akan terkesan ketika kakaknya mau membagi kue nya pada mereka. Kelak mereka juga akan melakukannya pada orang lain.

Jangan Menghukum Anak Karena Dia Pelit

Hukuman malah akan memicu rasa benci anak dari pada menjadikan anak bermurah hati. Disarankan untuk memberi dorongan positif daripada hanya sekedar teguran atau hukuman. Terus beri dorongan positif agar anak mau berbagi, dan ketika dia berbagi, jangan lupa beri dia pujian.

Hargai “Barang-Barang berharga” miliknya

Jika anak anda merasa bahwa baju, buku atau mainannya adalah “barang berharga” miliknya, cobalah untuk menghargai akan hal itu. Cobalah untuk meminta izin terlebih dulu ketika anda akan meminjam bukunya atau mainnannya, dan berilah dia pilihan tidak jika memang dia tidak mau mengizinkannya. Beri tahu hal ini juga kepada saudara, pembantu, teman atau guru-gurunya agar melakukan hal yang sama terhadap “barang-barang berharga” miliknya dan jika perlu katakan pula bahwa kita yang meminjam “barang berharganya” tersebut akan menjaganya dengan baik. Ini merupakan stimulus yang baik agar anak lebih percaya untuk berbagi dengan yang lain.

Ajari Juga Mana Yang Tidak Boleh Untuk Berbagi

Setelah anak anda mulai memberikan kemajuan mengenai berbagi, jangan lupa pula untuk mengajari hal-hal apa saja yang tidak boleh berbagi dengan temannya, ini juga penting untuk memberikan pelajaran mana yang boleh dan mana yang tidak. Berikan alasan kenapa sikat gigi tidak boleh berbagi penggunaannya, dll.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Beberapa Tips untuk Meningkatkan Kecintaan Anak Usia 5 Tahun Membaca Buku

Karena perkembangan teknologi yang semakin canggih, saat ini anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu dengan penggunaan smartphone. Belum lagi situasi yang memang membuat mereka kerap lebih banyak menikmati kegiatan yang berbentuk visual. Sehingga, ketika kita mulai mengarahkan anak untuk membaca buku, mereka tentu tidak akan langsung menyukainya.

Untuk itulah, sebagai orangtua kita perlu memberitahu anak, jika aktivitas membaca juga adalah kegiatan yang menyenangkan. Karena selain membantunya mengurangi kegiatan dengan gadget, ada banyak sekali manfaat pentingnya bukiu bagi anak usia 5 tahun. Dan berikut adalah beberapa manfaatnya:

1. Membantu Anak Meningkatkan Kreativitas dalam Dirinya

Pentingnya buku bagi anak usia 5 tahun yaitu dapat meningkatkan kreativitasnya. Dan perlu diketahui jika kreativitas ini mempunyai peranan yang sangat penting agar anak dapat mengembangkan ide atau minatnya. Selain itu buku juga sangat bermanfaat untuk meningkatkan imajinasi anak. Tentunya jika anak mempunyai kemampuan tersebut kedepannya bisa lebih mudah dalam mengelola emosi. Terutama nantinya Saat berinteraksi dengan orang lain. 

2. Mampu Meningkatkan Fungsi Otaknya dalam Berpikir

Manfaat lain buku bagi anak usia 5 tahun yaitu dapat meningkatkan fungsi otaknya. Dengan kata lain, fungsi otak anak akan semakin aktif jika sering membaca buku. Bahkan, sudah dibuktikan oleh sebuah penelitian di mana anak yang sering membaca buku dapat meningkatkan pemahaman dan kemampuan berbahasa. Apalagi jika sejak kecil sudah di bacakan buku oleh orang tuanya, kemungkinan terbesarnya saat sudah berusia 5 tahun atau lebih akan lebih mudah untuk belajar membaca. Inilah kenapa penting untuk membiasakan membaca buku. 

3. Dengan Membaca Kemampuan Kognitif Anak Juga Ikut Meningkat

Kemampuan kognitif yang meningkat juga menjadi salah satu dampak dari terbiasanya anak membaca buku. Kemampuan kognitif yang dimaksudkan bisa berupa ingatan, pemecahan masalah, perhatian dan penggunaan kata-kata. Tentu jika kemampuan kognitif tersebut semakin meningkat, maka kedepannya anak akan lebih mudah untuk berinteraksi dan bersosialisasi dengan orang lain. Selain itu, hal tersebut juga sangat bermanfaat agar anak mudah beradaptasi.

Lalu Bagaimana Tips untuk Meningkatkan Kecintaan Anak Terhadap Buku? Ini Jawabannya

Dari penjelasan sebelumnya bisa diambil kesimpulan jika buku mempunyai peranan yang sangat penting pada anak usia 5 tahun. Lalu, bagaimana tips meningkatkan kecintaan anak usia 5 tahun terhadap buku? Berikut ini penjelasannya. 

1. Sebagai Orangtua Kita Harus Bisa Menciptakan Lingkungan yang Kaya Aksara

Tips pertama yang bisa diterapkan dalam meningkatkan kecintaan anak terhadap buku yaitu menciptakan lingkungan kaya akan aksara. Dengan kata lain, sediakan tempat bermain dengan berbagai media seperti gambar dan teks. Tentu dengan media-media tersebut, anak akan lebih mudah untuk memahami dan memperkaya pengetahuannya. Contoh sederhananya permainan yang berhubungan dengan menyusun huruf, suara hewan, tebak gambar dan permainan lainnya.

2. Jadilah Sosok yang Bisa Dicontoh Anak dalam Hal Membaca

Orang tua memang menjadi role model atau contoh bagi anak. Jadi, apapun yang dilakukan oleh orang tuanya akan mudah ditiru oleh anak-anaknya. Tentunya untuk meningkatkan kecintaan anak terhadap buku, pastikan jika orang tuanya juga gemar membaca buku. Melihat orang tuanya yang sering membaca buku, anak juga akan tertarik untuk melakukan hal sama. Bahkan, Jika memungkinkan mengajak anak untuk membaca buku bersama-sama atau sekedar menemaninya membaca. 

3. Ajak Anak Membaca Buku dengan Ekspresi

Tips selanjutnya yang bisa diterapkan untuk meningkatkan kecintaan anak usia 5 tahun terhadap buku yaitu membacakan buku cerita dengan intonasi dan ekspresi yang tepat. Membaca buku dengan cara yang seperti ini bisa menarik minat anak untuk mengetahui isi buku tersebut. Selain itu, tips ini juga sangat berguna agar anak bisa mempersepsi jika pada buku tersebut banyak hal yang menarik dan selalu ingin untuk menggalinya. Berawal dari tips sederhana ini diharapkan anak bisa tertarik untuk membaca buku. 

4. Beli dan Sediakan Buku Menarik dan Sesuai dengan Minat Anak

Menyediakan buku yang menarik juga menjadi salah satu cara agar kecintaan anak terhadap pukul bisa meningkat. Sebagai langkah awal, pastikan jika orang tua menyediakan buku yang penuh dengan gambar dan warna. Hal ini penting dilakukan dengan tujuan agar anak tidak merasa bosan saat melihat buku tersebut. Buku yang seperti ini juga akan mengenalkan warna dan bentuk gambar pada buku tersebut, sehingga kemampuan anak akan mengalami peningkatan.

5. Sering-seringlah Ajak Anak Ke Toko Buku dan Perpustakaan

Tips selanjutnya bisa mengajak anak ke perpustakaan. Cara ini bisa meningkatkan minat anak dalam membaca buku dan pengalaman baru. Hal ini disebabkan karena di tempat tersebut akan menjumpai banyak orang yang membaca buku, sehingga bisa meningkatkan minat anak. Selain itu, dengan mengajak anak ke perpustakaan atau toko buku juga bisa meningkatkan kemampuannya dalam berinteraksi dengan orang lain yang ada disekitarnya. Tentu tips ini bisa memberikan dua manfaat sekaligus. 

6. Dan Berikan Kesempatan Anak Memilih Buku yang Disukainya

Selanjutnya tips meningkatkan kecintaan anak usia 5 tahun terhadap buku bisa dilakukan dengan cara memberikan kesempatan dalam memilih buku. Dengan kata lain, kesempatan tersebut dapat meningkatkan minat anak untuk membaca buku sesuai dengan keinginannya.

Begitu juga sebaliknya, jika anak dipaksa membaca buku yang diberikan oleh orang tua, justru akan merasa tertekan. Bahkan, parahnya lagi tidak berminat untuk membaca buku. Tentunya setiap orang tua pasti tidak menginginkan hal tersebut.

Demikian penjelasan mengenai beberapa tips yang bisa diterapkan dalam meningkatkan kecintaan anak terhadap buku. Dengan tersedianya berbagai tips tersebut, bisa diterapkan secara bergantian agar anak tidak bosan dan justru tertarik untuk membaca buku terus menerus.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Jangan Jadi Orangtua yang Sekedar Status Saja, Inilah Peran Kita Bagi Pertumbuhan Anak

Setiap anak pasti mempunyai tahapan pertumbuhan yang tentunya harus dipantau oleh orangtuanya. Dengan kata lain, peran orang tua bagi pertumbuhan anak sangatlah penting untuk mendeteksi gangguan sejak dini. Begitu juga penting untuk melakukan penanganan dengan cepat. Karena kelalaian kita dalam menyikapi tumbuh kembang anak, bisa jadi berakibat fatal bagi mereka. Nah, sebelum membahas lebih lanjut, yuk pahami dulu apa itu perkembangan anak.

Sekilas Pemahaman Tentang Apa yang Dimaksud dengan Pertumbuhan Anak

Orangtua perlu mengetahu terlebih dahulu, apa itu pertumbuhan anak. Secara singkatnya pertumbuhan merupakan proses perubahan yang terjadi pada anak dan ditandai dengan bentuk tubuh dan ukuran Fisik yang bertambah.

Selain itu, pertumbuhan juga bisa diartikan sebagai perubahan yang terjadi pada anak dalam aspek fisik maupun jasmaniah dan bersifat terbatas serta kuantitatif. Proses pertumbuhan ini merupakan proses pematangan setiap individu. 

Dengan kata lain, untuk mengetahui pertumbuhan anak bisa dilakukan dengan boleh bang berat badan maupun mengukur tinggi badan. Sedangkan untuk mengetahui pengukuran bisa dikatakan Normal atau tidak dapat disesuaikan dengan standar yang tersedia.

Orangtua Berperan Memastikan Kebutuhan Nutrisi yang Dibutuhkan Oleh Anak

Orangtua mempunyai peranan yang cukup penting terhadap pertumbuhan anak, Salah satunya yaitu menjamin kebutuhan nutrisi tercukupi. Dengan kata lain, nutrisi yang tercukupi pada tubuh anak sangat berperan penting pada pertumbuhannya. Lebih jelasnya berikut ini beberapa asupan nutrisi yang harus didapatkan anak dalam memastikan pertumbuhannya lebih optimal, seperti:

  • Menyediakan makanan yang kaya akan nutrisi seperti vitamin, karbohidrat, mineral, protein dan lemak baik. Beberapa nutrisi tersebut berperan penting agar proses pertumbuhan anak bisa lebih optimal.
  • Beberapa nutrisi tersebut, anak juga membutuhkan kandungan omega 3 dan omega 6. Nutrisi tersebut bisa didapatkan pada produk susu atau makanan tertentu. Mengingat kandungan tersebut merupakan lemak baik yang berperan penting untuk pertumbuhan anak. 
  • Orang tua juga harus memastikan kebutuhan nutrisi penting lain seperti DHA, EPA dan ALA. Kandungan tersebut bisa didapatkan pada beberapa jenis makanan seperti ikan salmon maupun sarden.

Orangtua Berperan Memastikan Kebiasaan Makan yang Baik

Peran penting orang tua bagi pertumbuhan anak tidak hanya terfokus pada kebutuhan nutrisi. Namun, coba berperan penting untuk memastikan agar anak mempunyai kebiasaan makan yang baik. Selengkapnya berikut adalah beberapa kebiasaan makan yang baik dan harus diterapkan pada tumbuh kembang anak.

1. Tidak Melewatkan Sarapan Bersama

Cara pertama agar menciptakan kebiasaan makan yang baik yaitu dengan tidak melewatkan sarapan bersama. Setidaknya pada saat sarapan akan terjadi obrolan yang bisa memacu semangat untuk melakukan aktivitas. 

Selain itu, sarapan juga menjadi waktu yang paling tepat untuk menyetok sumber tenaga tubuh dan terutama otak dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Bahkan, dasarkan penelitian yang telah dilakukan jika sarapan dapat meminimalisir terjadinya resiko obesitas. 

2. Menyediakan Cemilan Berupa Buah-buahan

Selain membiasakan sarapan bersama, kebiasaan baik yang yang selanjutnya yaitu menyediakan buah-buahan sebagai camilan. Seperti yang diketahui jika buah-buahan mempunyai peranan yang sangat penting untuk kesehatan dan pertumbuhan anak.

Salah satu cara untuk meningkatkan minat anak mengkonsumsi buah-buahan yaitu menyediakannya sebagai camilan dan setiap harinya berbeda jenis. Tentu camilan buah-buahan ini lebih sehat dibandingkan dengan camilan kemasan yang kaya akan MSG. 

3. Membiasakan Makan Bersama Anak

Salah satu cara untuk memastikan kebiasaan makan yang baik agar pertumbuhan lebih maksimal yaitu membiasakan makan bersama. Terutama saat di malam hari, pastikan meluangkan waktu untuk makan bersama bersama anak dan anggota keluarga lainnya.

Selain membiasakan makan yang lebih sehat, makan bersama juga bisa meningkatkan hubungan yang baik antara anggota keluarga yang satu dengan yang lainnya. Bahkan, bisa menciptakan keluarga yang lebih hangat. 

Untuk Itu, Ada Beberapa Cara Mengoptimalkan Tahapan Pertumbuhan Anak yang Juga Perlu Diketahui Orangtua

Mengetahui peran penting orang tua bagi pertumbuhan anak rasanya kurang lengkap jika tidak mengetahui cara mengoptimalkannya. Dengan kata lain cara pengoptimalan ini diperlukan agar pertumbuhan anak bisa lebih optimal yang bisa berpengaruh terhadap perkembangannya.

1. Membiasakan Anak Makan Makanan Sehat

Cara pertama yang bisa dilakukan untuk mengoptimalkan tahapan pertumbuhan anak yaitu membiasakannya mengkonsumsi makanan sehat. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya ada banyak makanan sehat yang dapat dipilih dan dikonsumsi anak. 

Beberapa makanan sehat yang dimaksudkan seperti sayuran, buah-buahan, daging, kacang-kacangan dan lainnya. Intinya pastikan makanan tersebut kaya lemak baik, protein dan nutrisi lainnya. 

2. Terapkan Pola Hidup Sehat

Selain memastikan anak biasa mengkonsumsi makanan sehat, cara selanjutnya yang bisa dilakukan untuk mengoptimalkan pertumbuhan yaitu Menerapkan pola hidup yang sehat, seperti halnya menjaga kebersihan. Upaya ini dilakukan dengan tujuan agar anak terbebas dari penyakit infeksi atau bakteri lain yang dapat membahayakan kesehatannya. Tentunya jika kesehatan terjaga akan berpengaruh terhadap pertumbuhan anak dan begitu juga dengan perkembangannya.

3. Membiasakan Tidur Cukup

Cara selanjutnya yang bisa diterapkan untuk mengoptimalkan tahapan pertumbuhan anak yaitu membiasakan tidur cukup. Pada umumnya waktu tidur yang ideal bagi balita, setiap harinya sekitar 11 sampai 14 jam.

Sedangkan untuk anak yang berusia antara 3 sampai 5 tahun, waktu ideal tidur setiap harinya sekitar 10 sampai 13 jam. Baik itu waktu tidur di siang hari maupun malam hari, pastikan dilakukan secara rutin setiap harinya. Anak yang mendapatkan Tidur yang cukup, pertumbuhannya bisa lebih optimal.

Demikian penjelasan mengenai peran penting orang tua bagi pertumbuhan anak. Tentu dengan mengetahui peran ini, diharapkan pertumbuhan anak bisa lebih optimal. Mengingat pertumbuhan anak juga sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak hingga dewasa. 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Ada 9 Peran Orang Tua dalam Memotivasi Anak yang Wajib Kita Penuhi

Rumah adalah tempat belajar pertama bagi anak-anak kita. Dan orangtua, adalah pendidik pertama yang seharusnya jadi guru untuk mereka. Untuk itu, selain mengarahkan, mengajari dan mendidik anak-anak, orang tua juga memiliki kewajiban untuk memotivasi anak. Tujuannya agar anak bisa lebih bersemangat dalam belajar. Hal ini diperlukan, karena masih dalam masa pertumbuhan, anak belum bisa mengelola pikiran dan emosinya secara penuh. Sehingga ia butuh dorongan dan motivasi dari luar dirinya, dan orang yang berkewajiban untuk memenuhi motivas tersebut adalah orang tuanya.

Karena menjadi orang tua adalah sebuah peren yang bisa dikatakan gampang-gampang susah, karena tanggung jawabnya terhadap anak cukup besar. Seperti halnya perannya dalam memotivasi anak yang sangat berpengaruh terhadap karakter anak. Lalu, apa saja peran orang tua dalam hal ini? Berikut adalah 9 Peran Orang Tua dalan memotivasi anak-anak mereka.

1. Menjadi Role Model yang Baik Agar Bisa Dijadikan Panutan Oleh Anak

Salah satu cara yang bisa dilakukan oleh orang tua dalam memotivasi anak yaitu memberikan role model atau contoh yang baik. Mengingat kebanyakan anak akan mengikuti atau mencontoh apa yang dilakukan oleh orang tuanya. Jadi, harus lebih hati-hati dalam berucap dan berperilaku.

Misalnya saja jika ingin memotivasi anak untuk semangat belajar, sebagai orang tua bisa memberikan contoh seperti mematikan membaca buku saat malam hari dan mematikan televisi. Selain itu, bisa juga dengan menemani anak belajar. [

2. Menjadi Pendorong Semangat Bagi Anak di Segala Situasi yang Dihadapinya

Peran orang tua yang dibutuhkan dalam memotivasi anak selanjutnya yaitu menjadi pendorong semangat. Maksudnya, Jangan hanya menyerahkan semua masalah pendidikan ke sekolah. Namun, sebagai orang tua juga harus berperan aktif dalam hal tersebut.

Misalnya saja mendukung berbagai aktivitas anak selama di sekolah, memberikan sarana dan prasarana Selama belajar di rumah dan lain sebagainya. Selain itu, sebagai orangtua juga penting untuk mengetahui kurikulum yang diterapkan dalam sekolah.

3. Beri Anak Waktu untuk Melakukan Hobi dan Hal-hal Lain yang Anak Sukai

Memberikan waktu kepada anak agar bisa melakukan hobinya juga menjadi salah satu cara untuk memotivasi anak. Mungkin sebagian orang akan menganggap Apa hubungan dari keduanya? Intinya belajar memang diperlukan, tapi anak juga membutuhkan waktu untuk melampiaskan hobinya.

Hal ini juga dilakukan dengan tujuan agar anak tidak merasa tertekan saat belajar. Begitu juga sebaliknya orang tua juga harus memberikan aturan tersendiri di mana anak waktunya belajar dan melakukan hobinya. Intinya keseimbangan tersebut akan membuat anak tidak tertekan.

4. Mendampingi dan Menemani Anak Belajar Sembari Memberinya Motivasi

Peran orang tua dalam memotivasi anak yaitu mendampinginya belajar. Kalau bukan orang tua siapa lagi? Tentunya, orang tua mempunyai peranan agar proses belajar tetap berjalan lancar sekalipun di rumah.

Inilah Kenapa sebagai orang tua penting untuk memahami apa yang sedang dipelajari anak. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar bisa mendapatkan solusi atau pemahaman dari pelajaran yang tidak dipahami. Selain itu, jangan lupa juga untuk memberikan dukungan agar anak tetap semangat belajar.

5 Sesekali Berilah Anak Hadiah, Atas Prestasi dan Pencapaian yang Sudah Diraihnya

Tidak ada salahnya untuk memberikan hadiah atau apresiasi kepada anak jika mencapai sesuatu atau prestasi. Cara ini sangat ampuh untuk memotivasi anak agar bisa lebih semangat dalam belajar. Sedangkan untuk hadiah yang diberikan juga tidak perlu mewah, cukup sesuatu yang bermanfaat.

Selain itu, beri juga pujian terhadap apa yang sudah dicapai anak. Dengan begitu, anak akan lebih merasa dihargai atas apapun yang sudah diperjuangkannya. Bahkan, tidak ada salahnya juga menawarkan apa yang diinginkan anak. 

6. Menjalin Komunikasi yang Baik dengan Anak, Sehingga Ia Bisa Lebih Terbuka Tentang Perasaannya Kepada Kita Orang tuanya

Menjalin komunikasi dengan anak juga menjadi salah satu peran orang tua dalam memotivasi anak. Dengan kata lain komunikasi yang terjalin antara orang tua dan anak menjadi salah satu bentuk perhatian. Tentunya jika anda merasa diperhatikan, akan lebih semangat belajar.

Jadi, setiap harinya Tidak ada salahnya untuk menanyakan bagaimana aktivitas anak selama di sekolah. Tentu Jika setiap harinya urutan menanyakan hal tersebut, maka akan lebih termotivasi untuk melakukan hal-hal yang baik tanpa adanya paksaan.

7. Jangan Terlalu Memaksa Anak dengan Memberinya Target di Luar Kemampuannya

Meskipun setiap orang tua pasti menginginkan anaknya selalu mendapatkan nilai yang bagus atau berperilaku yang baik, tapi jangan pernah menargetkan. Justru jika anak ditarget untuk mendapatkan nilai yang bagus, maka anak akan merasa tertekan.

Hal tersebut jika dilakukan tidak akan memberikan motivasi kepada anak, justru bisa menyebabkan anak semakin memberontak. Bahkan, sekalipun anak mendapatkan nilai yang jelek, tetap berikan apresiasi. Jangan lupa juga memberikan semangat untuk belajar lebih giat.

8. Pahami Motivasi Seperti Apa yang Anak Butuhkan, Bukan Sekedar Memaksanya Menjadi yang Terdepan

Memberikan motivasi kepada Anda juga bisa diterapkan dengan cara membangkitkan semangatnya. Tujuannya agar anak semakin bersemangat dalam melakukan apapun yang baik, tak terkecuali dalam belajar. Namun, berikan juga peluang anak untuk melakukan hobi atau kesukaannya. 

Intinya dalam menekankan motivasi belajar jangan hanya mengukur kecerdasan anak berasal dari rangking atau peringkatnya. Namun, Anda juga penting untuk memberikan motivasi mengenai pentingnya berbuat baik, mengembangkan kreativitas dan lain sebagainya. 

9. Dan Berilah Ia Dukungan dengan Hati yang Tulus

Memberikan dukungan sepenuhnya merupakan salah satu peran orang tua dalam memotivasi anak. Terutama jika anak mempunyai keahlian dalam bidang tertentu, sebagai orang tua penting untuk berikan dukungan sepenuhnya agar kemampuan tersebut bisa berkembang dengan baik. 

Dukungan yang diberikan ini bisa berupa fasilitas sesuai kebutuhan dan motivasi. Tentunya jika anak mendapatkan dukungan yang penuh terhadap apa yang disukainya, akan lebih termotivasi untuk mengembangkannya. Selain itu, berita juga pemahaman mengenai apapun yang diinginkan membutuhkan proses.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Share

To Top