Parenting

Tips Mengajarkan Anak Agar Mau Berbagi

anak berbagi

Anak-anak memiliki kesulitan untuk berbagi, terutama balita?. Ini merupakan hal normal dan bagian dari proses pembangunan karakter. Memahami dan menerima kewajiban berbagi adalah langkah pertama yang akan membantu anak tumbuh menjadi seorang yang mau berbagi.

anak berbagi

Sumber: http://www.balitasehat.net

Bagaimana perang orang tua mengajarkan anak berbagi beriktu tipsnya:

Jangan memaksa anak

Dorong sikap dan lingkungan agar anak mau berbagi. Ada kekuatan dalam kepemilikan. Bagi orang dewasa, mainan sekedar mainan. Untuk seorang anak, mainan adalah barang berharga. Hormati sisi posesif anak, sementara Anda juga perlu menjadi teladan (role model ) yang mendorong mendorong anak berbagi. Bila perlu, ajak anak bermain dalam keompok bermain, Anda juga dapat belajar sisi yang butuh dibimbing dari anak.

Contoh kedermawanan

Ibaratnya, siapa melihat, dia akan melakukan. Ketika seseorang meminta untuk meminjam “barang” (yang dapat diasosiasikan anak sebagai mainan) Anda, jadikan ini seagai momen mendidik anak. Misal, katakan “Mommy berbagi buku resep dengan teman mommy “. Biarkan momen berbagi Anda bersinar. Begitupula, berikan pengalaman berbagi pada anak, misalnya dengan menawari “Apa kamu mau kue punya mommy ?” “Ayo duduk bersama mommy dan ayah, kita sisihkan tempat duduk buatmu”. Jika Anda memiliki beberapa anak, terutama yang usianya berdekatan, akan ada saat-saat orangtuanya tak cukup bagi mereka. Dua anak tidak dapat memiliki seratus persen ayah atau ibunya. Dan, yang terbaik yang Anda bisa dilakukan adalah membagi cukup waktu. “Tidak adil” mungkin keluhan ini akan diulang oleh anak-anak. Cobalah memberi kesempatan yang sama sebanyak mungkin, sementara mengajarkan anak-anak Anda faktor lain yang ikut bermain dalam kehidupan sehari-hari.

Waktu Anak Belajar berbagi

Berbagi dengan tulus menyiratkan empati, kemampuan memahami pikiran orang lain dan melihat hal-hal dari sudut pandang mereka. Anak-anak jarang mampu berempati sejati di bawah usia enam tahun. Sebelum menginjak usia 6, mereka berbagi hanya karena Anda mengondisikan mereka untuk melakukannya. Jangan berharap anak kurang berusia kurang dari 2 atau 2 ½ tahun mudah diajak berbagi. Anak dibawah dua tahun sedang dalam fase bermain paralel (bersama anak-anak lain) namun tidak benar-benar bersama mereka. Mereka peduli tentang benda-benda miliknya dan dirinya namun belum berpikir soal apa yang anak lain inginkan atau rasakan.

Mainan bergilir

Konsep bermain dengan suatu benda secara bergiliran lebih mudah dipahami anak balita daripada konsep berbagi mainan. Gunakan timer dan pasang dalam waktu singkat, misalnya 1-2 menit. Biarkan balita bermain suatu benda secara giliran dengan temannya. Dia akan membiarkan temannya bermain dengan benda tersebut karena dia tahu bahwa benda itu akan kembali padanya setelah waktu bermain temannya itu habis. Jangan lupa  memuji anak, misalnya dengan mengatakan, “Wah, baik sekali kamu meminjamkan Nia bonekamu.” Jika tidak ada orang lain, jadikan diri Anda sebagai teman berbagi untuknya.

Bermain peran

Tunjukkan pada anak bahwa dengan mau berbagi dia mendapatkan jalinan pertemanan yang erat dan menyenangkan.

Dokter-dokteran. Ajak salah satu teman anak untuk bermain bersamanya. Jadikan boneka sebagai pasien yang harus dibawa ke rumah sakit. Minta si kecil berperan sebagai ibu si pasien untuk memberikan bonekanya  pada temannya yang berperan sebagai dokter untuk diperiksa. Setelah selesai, minta temannya memberikan kembali boneka pada anak.

Bengkel mobil. Bila mainannya berupa mobil-mobilan, katakan pada anak jika mainannya ada kerusakan dan harus dibawa ke bengkel; minta dia memberikan mobilnya pada temannya yang berperan sebagai mekanik untuk dibetulkan. Setelah selesai, minta temannya untuk memberikan kembali mobil-mobilan itu pada si kecil.

Play date

Anak sering berkesempatan bermain bersama teman sebayanya akan banyak belajar tentang manfaat berbagi. Rancanglah play date, yakni kegiatan bermain bersama di suatu tempat yang sudah ditentukan. Waktunya jangan terlalu lama. Biarkan anak asyik bermain bersama teman-temannya. Awasi mereka dalam jarak tertentu.

Bermain di playground

Jadwalkan kunjungan rutin ke sebuah taman atau playground. Mainan-mainan di sana merupakan milik bersama sehingga situasinya mendukung anak untuk belajar berbagi. Namun jikakondisinya berubah, misalnya anak berebut mainan dengan anak lain, alihkan perhatiannya pada hal lain atau mengajaknya pulang. –bisa didrop

Menginap di tempat saudara

Sesekali, ajak anak menginap di rumah salah satu sepupunya yang sebaya. Balita berkesempatan belajar berbagi, misalnya berbagi makanan, mainan atau buku yang dia bawa dengan benda serupa milik sepupunya. Jika mungkin, biarkan mereka tidur satu tempat tidur.

Pinjam mainan atau buku

Setiap anak memiliki mainan yang sangat spesial  dan ia tak ingin meminjamkannya pada orang lain. Jika Anda ingin mengajari anak berbagi dengan cara pinjam meminjam mainan atau buku dengan anak tetangga, pisahkan dahulu mainan spesial balita dalam sebuah kotak atau lemari tertutup sebelum temannya datang. Katakan pada anak  bahwa mainan dalam kotak adalah mainan yang tidak ingin dia pinjamkan pada temannya. Sebaliknya, mainan di luar kotak adalah mainan yang anak tak keberatan  meminjamkannya pada teman.

Peduli Musibah

Anak bisa belajar memberi perhatian dan berbagi pada orang lain ketika Anda mengajaknya berpartisipasi membantu masyarakat yang tertimpa musibah dengan, misalnya:   Menyumbangkan sebagian uang jajan atau uang pemberian orang (angpao), baju, baju seragam atau buku bekas layak pakai, alat tulis, serta mainan yang bersifat mendidik pada beberapa badan atau yayasan amal.

Beri kesempatan anak berbagi

Dorong anak berbagi dengan beberapa kesempatan mengulurkan makanan kesukaan untuk teman yang lain. Sesekali mintalah, “Tolong bagi beberapa kukis untuk Robin ya sayang.” Atau mintalah anak, memotong kuenya dan memberikannya kepada teman. Ini praktik yang baik untuk anak soal berbagi. Atau Anda dapat mengajarkan nilai-nilai kepada anak yang lebih muda, dengan meminta anak yang lebih tua memberi contoh yang baik. Anak yang lebih muda akan terkesan ketika kakaknya mau membagi kue nya pada mereka. Kelak mereka juga akan melakukannya pada orang lain.

Jangan Menghukum Anak Karena Dia Pelit

Hukuman malah akan memicu rasa benci anak dari pada menjadikan anak bermurah hati. Disarankan untuk memberi dorongan positif daripada hanya sekedar teguran atau hukuman. Terus beri dorongan positif agar anak mau berbagi, dan ketika dia berbagi, jangan lupa beri dia pujian.

Hargai “Barang-Barang berharga” miliknya

Jika anak anda merasa bahwa baju, buku atau mainannya adalah “barang berharga” miliknya, cobalah untuk menghargai akan hal itu. Cobalah untuk meminta izin terlebih dulu ketika anda akan meminjam bukunya atau mainnannya, dan berilah dia pilihan tidak jika memang dia tidak mau mengizinkannya. Beri tahu hal ini juga kepada saudara, pembantu, teman atau guru-gurunya agar melakukan hal yang sama terhadap “barang-barang berharga” miliknya dan jika perlu katakan pula bahwa kita yang meminjam “barang berharganya” tersebut akan menjaganya dengan baik. Ini merupakan stimulus yang baik agar anak lebih percaya untuk berbagi dengan yang lain.

Ajari Juga Mana Yang Tidak Boleh Untuk Berbagi

Setelah anak anda mulai memberikan kemajuan mengenai berbagi, jangan lupa pula untuk mengajari hal-hal apa saja yang tidak boleh berbagi dengan temannya, ini juga penting untuk memberikan pelajaran mana yang boleh dan mana yang tidak. Berikan alasan kenapa sikat gigi tidak boleh berbagi penggunaannya, dll.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

9 Hal Harus Dilakukan Orangtua untuk Memiliki Anak yang Jago Bahasa Sedari Dini

Banyak orang tua mengharapkan anak yang jago bahasa sejak kecil. Sebab, pandai bahasa itu penting sekali. Baik itu bahasa Indonesia, maupun bahasa asing. Apalagi sekarang ini bahasa Inggris paling banyak digunakan saat ada keperluan di negara lain. Namun, kemampuan berbahasa tidak lantas datang begitu saja. Ada beberapa hal yang perlu dilakukan orangtua, untuk membantu anak cakap dalam berbahasa. Kira-kira apa saja ya?

Hal yang Harus Dilakukan Orangtua untuk Memiliki Anak yang Jago Bahasa Sedari Dini

Cara mengajarkan bahasa pada anak kecil sedikit berbeda dengan orang dewasa. Orangtua harus menimpali kata anak dengan yang sebenarnya, meskipun balita masih belum paham arti kata tersebut. Agar lebih mudah, orangtua dapat menerapkan langkah berikut untuk mendidik bahasa pada anak. 

1. Untuk Membantunya Terbiasa, Kenalkan Dua Bahasa Sedini Mungkin

Ketika anak mulai belajar bicara, ia akan paham bahwa terdapat perbedaan bahasa yang orangtua gunakan. Si kecil yang sudah sering mendengar bahasa asing sejak lahir lebih untuk menguasainya. Sangat bagus memperkenalkan dua bahasa di usia balita. 

Seiring pertumbuhan, adaptasi si kecil terhadap suara dan bahasa akan menurun. Karena itu, anak lebih sulit menguasai bahasa. Mengajarkan bahasa lain pada anak di usia sekolah dasar juga tidak semudah pada anak usia preschool. 

2. Bunda Juga Bisa Mengenalkan Bahasa dengan Bermain, Membaca atau Sambil Bernyanyi 

Lakukan aktivitas menyenangkan dengan menyelipkan penggunaan dua bahasa agar si kecil tidak bosan. Penuhi rumah dengan buku dua bahasa, begitu juga musik, alat mainan, film favorit anak dan yang lainnya. Silakan berbicara apa saja dengan anak sambil memperkenalkan kosakata dan ekspresi bahasa. 

Ketika si kecil bertambah umurnya, perluas kegiatan seperti melukis, membuat kaligrafi dan aktivitas menghasil karya yang lain. Sesuaikan juga dengan minat dan hobi anak. Orang tua perlu mendorong si kecil agar terus menggunakan bahasa Indonesia maupun bahasa asing dalam setiap kegiatannya. 

2. Jadilah Role Model, dengan Memberikan Contoh Berbicara Dua Bahasa di Rumah 

Cara sangat efektif dalam membesarkan si kecil dua bahasa adalah memberikan contoh. Misalnya, orangtua rajin mengobrol menggunakan bahasa Inggris. Saat menyebut makanan atau buah pakai bahasa Inggris. Sebisa mungkin ajarkan anak bahasa asing melalui hal-hal yang ditemukan setiap hari. 

Akan lebih bagus lagi jika orangtua memasukkan si kecil ikut kursus bahasa. Anak dapat langsung berinteraksi dengan teman-teman dengan satu visi. Mempraktikkan kosakata yang dipelajarinya juga lebih mudah sebab ada lawan bicara. 

4. Ayah dan Ibu Menggunakan Bahasa yang Berbeda

Permasalahan yang sering terjadi pada anak bilingual adalah kesulitan melakukan identifikasi bahasa. Solusinya, orangtua gunakan bahasa berbeda. Misalnya Ayah sering berbicara dalam bahasa Inggris sedangkan Ibu menggunakan bahasa Indonesia.

Hal ini memudahkan anak membedakan yang mana bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Sangat bagus lagi jika orang tua sering menghabiskan waktu dengan si kecil. Mempelajari dua bahasa lebih mudah karena orang tua sekaligus guru bagi anak. 

5. Latih Anak dengan Banyak-banyak Berbicara dengan Dua Bahasa Sesering Mungkin 

Gunakan dua bahasa sesering mungkin untuk membiasakan anak yang jago bahasa. Perlu menerapkan kosakata yang sudah dipelajari dalam kehidupan sehari-hari agar semakin mahir. Apalagi si kecil mudah beradaptasi dengan bahasa baru dan secara kognitifnya lebih fleksibel. 

Maka jangan heran si kecil cepat menangkap arti bahasa baru dan nyaman dengan bahasa tersebut daripada orang dewasa. Orang tua bantu si kecil mempraktikkan kedua bahasa dalam kesehariannya. Karena supaya jago bahasa peran Ayah dan Ibu sangat penting.

6. Lakukan dengan Santai, Jangan Sampai Memaksa Anak untuk Melakukannya 

Mungkin ada satu hari si kecil sedang mengalami emosi naik turun. Misalnya saat dia sedang kurang sehat, semangatnya pun hilang untuk belajar bahasa. Orangtua tidak boleh memaksakan keinginannya pada anak. Tidak masalah tidak belajar hari itu, asalkan semangat belajar untuk hari berikutnya masih ada.

Mengajari anak secara konsisten dan libatkan pada apa saja yang disukai anak. Misalnya saat si kecil tertarik mempelajari hewan, ajarkan bahasa Inggris tentang nama –nama hewan. Begitu juga ketika anak tertarik pada hal baru lainnya, iringi dengan bahasa Inggris.

7. Tidak Perlu Terpaku pada Grammar, Lakukan Pelan-pelan Asal si Kecil Paham

Komponen yang penting sekali diajarkan pada anak kecil adalah kosakata. Tidak perlu langsung mengajarkan tenses atau grammar. Sebab, materi ini agak sulit dipahami dan tidak terlalu penting dalam kesehariannya. 

Selain itu, mengenai tenses si kecil hanya akan mengikuti kalimat-kalimat yang sering diucapkan. Penting sekali untuk fokus pada kemampuan otak. Bukan langsung memaksa harus menguasai tenses. Tetapi, ajarkan sesuatu yang mudah dulu sampai bertambah usianya, baru masuk ke materi lebih sulit. 

8. Bantu Anak Lebih Mudah Memahami Penggunaan Bahasa dengan Memberikan Visualisasi 

Si kecil lebih mudah mengingat dalam bentuk gambar, video atau lainnya yang dapat dilihat. Oleh karena itu, pentingnya memperkenalkan sesuatu padanya dalam bahasa asing diikuti bentuk visualnya. Misalnya, belajar tentang burung merak. Orangtua dapat menunjukkan gambarnya tanpa perlu ke kebun binatang. 

Tunjukkan objek visual supaya lebih mudah diingat anak. Orangtua dapat membelikan si kecil buku bergambar yang berisi kosakata bahasa Inggris tentunya lengkap dengan gambar. Bisa juga menggunakan gambar di internet kemudian mencetaknya. 

9. Manfaatkan Teknologi untuk Mendukung Proses Belajarnya Lebih Menyenangkan dan Mudah

Kecanggihan teknologi memudahkan anak belajar bahasa. Sekarang ini banyak sekali aplikasi untuk memudahkan belajar bahasa asing. Tinggal mengunduhnya di smartphone dan mengaktifkannya. Hebatnya, tampilan aplikasi cukup menarik bagi anak dan langsung tersedia audionya. 

Media sosial seperti Instagram juga tersedia akun untuk belajar bahasa asing. Youtube for Kids tentunya menyediakan ragam video pembelajaran bervariasi. Lebih menyenangkan dan anak tidak bosan dengan aktivitas belajar yang itu-itu saja.Itulah cara yang bisa orang tua terapkan untuk mengembangkan keterampilan anak yang jago bahasa. Sebaiknya, mengajarkan anak harus kompak antara Ayah dengan Ibu. Harus konsisten juga supaya anak lebih cepat mahir.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Anak yang Suka Merebut Mainan Bisa Jadi Karena Cemburu, Cobalah Lakukan Ini untuk Merubah Sikap Buruk Itu

orangtua ingin si kecil bermain dengan aman dan damai, tidak suka anak yang suka merebut mainan. Namun, hal ini sering kali dilakukan oleh anak-anak membuat Bunda geleng-geleng kepala. Tapi sebagai orangtua, sudah menjadi tugas dan tanggung jaab kita untuk mendidiknya ke perubahan yang lebih baik. Hindari untuk berteriak, apalagi sampai marah-marah pada anak karena tindakannya, sebaliknya ketahui apa  alasan yang menjadi penyebabnya ia bersikap demikian. 

Beberapa Alasan Anak yang Suka Merebut Mainan yang Juga Mungkin Terjadi pada Si Kecil di Rumah Bunda

Sikap anak marah, menangis bahkan merebut mainan memiliki alasan masing-masing. Karena itu jangan langsung menyalahkan atau menghukumnya. orangtua harus mencari tahu penyebab terlebih dulu kemudian ajarkan anak untuk berperilaku yang baik. 

1. Tidak Tahu atau Belum Mengerti Pentingnya Rasa Empati Terhadap Orang Lain

Alasan pertama anak suka merebut mainan sebab belum tahu bahwa dalam bergaul perlu memiliki rasa empati. Orangtua harus mengajarkan kepada anak tentang empati dan kasih sayang kepada teman. Sehingga anak tahu rasanya kehilangan mainan sendiri akibat paksaan orang lain. 

Salah satu cara mudah melatih rasa empati melalui cerita dongeng. Biasanya di akhir cerita orangtua dapat menjelaskan pelajaran yang bisa diambil. Dekati anak secara persuasif agar si kecil mudah menerima nasihat orang tua.

2. Pemikiran Anak Masih Egois dan Merasa Dialah Satu-satunya yang Berhak

Anak kecil hampir semuanya memiliki perilaku ego salah satunya pada mainan. Hanya ingin mainan tersebut menjadi miliknya sendiri. Semua barang yang ada di depan mata dapat digunakan sesuai keinginan tanpa memperdulikan orang lain.

Pemikiran seperti ini harus diluruskan untuk mengurangi risiko dijauhi teman-temannya. Selain itu, juga tidak baik untuk masa depannya jika sampai dewasa masih suka egois. Sebab, semakin bertambahnya umur anak bertemu banyak orang, mau tidak mau harus menghargai dan menghormati orang lain.

3. Ada Kecemburuan atau Iri yang Barangkali Anak Rasakan, Itulah Sebabnya Ia Tak Suka Berbagi dan Berebut Mainan

Penyebab anak suka merebut mainan juga karena iri ketika sang kakak atau adik memiliki barang baru. Cemburu saat teman-teman punya mainan yang diri sendiri tak memilikinya. Ajarkan anak untuk menghargai barang orang lain.

Tidak hanya itu, anak juga bisa cemburu dengan perhatian orangtuapada saudaranya. Anak ingin diperlakukan sama, tetapi tidak tahu cara mengatakannya. Anak belum paham cara mengekspresikan emosinya sehingga diluapkan dengan merebut mainan orang lain. 

4. Belum Memahami Konsep Kepemilikan atas Tiap-tiap Mainan atau Barang

Anak-anak biasanya belum paham tentang konsep kepemilikan. Sehingga semua barang orang lain yang menarik perhatiannya, dianggap adalah miliknya sendiri. Karena itu, orangtua perlu menjelaskan anak agar paham tidak semua barang di sekitarnya bisa dengan mudahnya diambil. 

Barang kakak dengan adik tidak sama, begitu juga antara Ibu dan Ayah. Pahamkan konsep ini pada si kecil untuk mengurangi perilaku merebut mainan. Boleh meminjam tetapi harus dikembalikan tepat waktu. 

5. Ingin Menikmati Mainan Sendirian dan Tak Suka Berbagi

Alasan lainnya anak ingin menikmati mainan sendirian tanpa ada campur tangan orang lain. Sehingga saat ada kakak atau teman datang, ia akan menghindarkan mainan dari sentuhan orang. Memang perilaku ini tidak sepenuhnya baik.

Ajarkan anak suka bermain dan berbagi mainan dengan orang lain. Jika tidak, si kecil ke depannya sulit mendapat teman dan merugikan diri sendiri. 

Lalu, Apa Hal yang Harus Dilakukan Supaya Anak Tidak Suka Merebut Mainan? 

Tanamkan sifat berbagi pada anak yang suka merebut mainan. Sampaikan bahwa bermain bersama lebih menyenangkan. orangtua juga bisa menerapkan beberapa langkah berikut agar lebih mudah mengatasi anak.

1. Jangan Diam, Lakukan Sesuatu untuk Menghentikannya Merebut Mainan

Ketika orangtua melihat anak merebut mainan, jangan diam saja. Segera turun tangan agar proses perebutan tidak terus memanjang hingga berkelahi. Karena biasanya hanya disebabkan mainan anak bisa bermusuhan dengan temannya. 

Bersikap sigap jangan tunggu anak menangis, baru turun tangan. Sampaikan kepada anak bahwa memaksa orang lain memberikan mainannya bukan hal yang bagus. Bahkan dapat menyakiti perasaan pemiliknya. 

2. Ajarkan Anak Minta Maaf, Atas Apa yang Sudah Dilakukannya

Anak saat melakukan kesalahan wajib meminta maaf. Bertujuan untuk menjaga hubungan pertemanan dan menghindari dendam. Setelah memaksa hak orang lain bahkan sampai temannya menangis, pastikan anak segera minta maaf. 

Jangan hanya menghentikan perebutan kemudian melupakan begitu saja. Latih anak memiliki sikap tanggung jawab atas keributan yang sudah diperbuat. Supaya anak dapat belajar dan tidak mengulangi hal yang sama ke depannya. 

3. Tanamkan Sifat Berbagi Sedari Dini, Agar Ia Tak Lagi Suka Merebut Mainan Orang Lain atau Tak Mau Berbagi

Anak yang memiliki prinsip berbagi dalam hidupnya tidak akan merebut mainan orang lain. Karena itu, di rumah penting sekali diajarkan apa itu berbagi dan keuntungannya untuk diri. orangtua juga perlu mempraktikkannya agar mudah diikuti oleh si kecil. 

Tidak sulit melatih sikap ini sebab bisa dimulai dari hal kecil. Misalnya saat anak punya biskuit, Bunda dapat meminta si kecil membagi sedikit. Mengajari berbagi penting sekali agar anak peka pada kondisi orang sekitarnya. 

4. Berikan Contoh Nyata Tentang Berbagi Maianan yang Bisa Ia Lihat dan Tiru

Anak merupakan peniru ulung sehingga semua yang dilakukan orang terdekat akan diikuti. Karena itu, wajib sekali memberikan contoh positif supaya anak mengikuti tindakan positif juga. Jika terkadang melakukan kesalahan, sampaikan pada anak alasannya. 

Tunjukkan bagaimana cara berbagi, mengakui kesalahan dan minta maaf. Tanpa diperintah, si kecil akan mempraktekkan sendiri dalam hidupnya. Hubungan pertemanan anak pun tidak rusak hanya karena mainannya berbeda dengan orang lain.

5. Tanamkan Sikap Berusaha 

Saat anak menginginkan sesuatu, harus berusaha terlebih dulu. Bukan bekerja mencari uang sebab tubuhnya yang kecil belum sanggup melakukannya. Usaha ringan yang dapat dilakukan adalah meminta izin pada orang tua. Jika ingin menggunakan mainan orang lain maka anak harus mendapat izin dari pemiliknya. Itulah 5 alasan dan hal yang harus dilakukan orangtua menghadapi anak suka merebut mainan. Ingat jangan berkata kasar pada anak, tetapi berikan contoh yang baik.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Cara Menanamkan Rasa Tanggung Jawab Pada Diri Anak

Apakah anak-anak suka melempar kesalahan kepada orang lain ketika berbuat salah? Jika iya, maka anak belum mengerti tentang tanggung jawab. Anak-anak berbuat kesalahan bisa jadi karena mereka tidak tahu konsekuensi dari perbuatannya dan karena belum bisa mengendalikan diri. Untuk menghindari hukuman atau disalahkan, maka anak akan menyalahkan orang lain atau hal lain. Oleh karena itu, orang tua perlu mengajarkan rasa tanggung jawab kepada anak. Jika anak sudah mengerti tentang tanggung jawab, maka anak bisa memilih mana perbuatan yang benar atau salah.

Beri Pemahaman Tentang Tanggung Jawab Kepada Anak

Sebelum melatih anak untuk bertanggung jawab, orang tua perlu menjelaskan kepada anak apa itu tanggung jawab. Misalnya, ketika anak berbuat salah, hindari untuk memarahi atau menyalahkan anak. Sebaiknya hadapi dengan tenang, cari penyebabnya, dan jelaskan kepada anak dimana letak kesalahannya. Setelah itu, jelaskan tentang konsekuensi logis yang harus dilakukan anak.

Konsekuensi logis merupakan bentuk tanggung jawab anak terhadap perbuatannya. Misalnya jika anak memberantakkan kamar maka harus membereskannya. Ingat bahwa konsekuensi berbeda dengan hukuman.

Tumbuhkan Rasa Tanggung Jawab Anak Sejak Dini

Untuk melatih dan menumbuhkan rasa tanggung jawab anak, ayah dan bunda bisa mengajarkannya sejak dini. Berikut beberapa cara dibawah ini :

  1. Mulai Beri Tanggung Jawab untuk Hal Kecil dan Mulai Dari Diri Sendiri

Mengajari tanggung jawab dimulai dari hal sederhana dulu. Misalnya membuang sampah di tempatnya, meletakkan sepatu di rak, merapikan mainan dan kamar sendiri. Biasakan hal-hal tersebut sejak dini, jika anak lupa maka ingatkan dengan kata-kata yang lembut, bukan dengan membentak.

  1. Buat Peraturan Rumah Atas Kesepakatan Bersama

Agar jelas tentang apa saja tanggung jawab anak, maka bisa dengan membuat peraturan rumah. Ketika membuat peraturan libatkan anak, jangan seenak orang tua saja. Tuliskan peraturan dan tanggung jawaba anak dengan jelas. Misalnya harus merapikan kamar sebelum sekolah, menyiapkan keperluan sekolah sendiri, dan lainnya.

  1. Dan Memberi Anak Contoh 

Anak adalah peniru ulung. Jangan hanya memberi nasihat dengan kata-kata, karena anak akan lebih meneladani perilaku orang tua. Jadi, ayah dan bunda juga perlu memberi contoh tentang tanggung jawab dan konsisten melakukannya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Share

To Top