Parenting

Tips Mengajari Anak Puasa di Bulan Ramadan

mengajari-anak-puasa

Bulan Ramadan di depan mata, saatnya umat Muslim menjalankan ibadah puasa sebulan penuh. Bagaimana dengan si kecil, apakah akan turut berpuasa juga, Bunda? Jika iya, yuk simak beberapa tips mengajari anak puasa.

Mengajari anak puasa bisa dilakukan saat anak berusia tiga tahun ke atas. Di usia itu, anak sudah lebih paham perintah dan aturan. Namun, jangan berharap terlalu tinggi pada anak-anak yang belum baligh ini ya, Bunda. Mereka belum wajib berpuasa. Di masa ini, kita hanya mengenalkan dan melatih anak berpuasa sesuai kemampuannya.

1. Cerita tentang Puasa

Cara menyenangkan ajari anak puasa/ Foto: Canva

Bagi anak-anak, khususnya yang masih usia muda 5 tahun ke bawah, puasa bisa jadi bukan kegiatan menyenangkan. Mereka tidak leluasa makan dan minum, serta harus bangun sahur. Nah, tugas kita, Bunda, untuk memberikan informasi bahwa puasa adalah kegiatan menyenangkan yang penuh berkah.

Psikolog Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si., menyarankan untuk membangun komunikasi yang baik, sehingga anak mendapatkan informasi yang memadai tentang puasa. Bunda bisa mengajak si kecil mengobrol dan memperlihatkan cara berpuasa.

Cerita puasa dapat dimulai dengan sering-sering menyebut kata “puasa” sebelum bulan Ramadan tiba. Selanjutnya, berlanjut dengan menjelaskan apa saja yang dilakukan dan berbagai aturan saat puasa.

“Bunda bisa menjelaskan saat makan, misalnya dengan menyebutkan, ‘Bulan puasa nanti, siang-siang bunda nggak makan dan minum karena puasa.”. Ceritakan juga kegiatan selama berpuasa yang bisa menyenangkan si kecil, seperti berbuka puasa bersama dengan sajian khas yang menarik dan menggugah selera,” saran perempuan yang akrab disapa Nina ini.

Hal itu disampaikan Nina dalam kuliah What’s App bertajuk “Sudahkah si Kecil Siap Belajar Puasa?” yang digelar oleh SGM, Jumat (9/4/2021).

Si Kecil juga bisa diajak menghitung mundur tanggal di kalender sampai ke bulan Ramadan. Kita bisa menunjukkan hari pertama puasa, hari-hari yang akan dijalani untuk berpuasa, hingga tiba saat Idul Fitri.

2. Santai, Tanpa Paksaan

Cara menyenangkan mengajari anak puasa/ Foto: Canva

Saat melihat anak lain seusia si kecil sudah bisa puasa penuh sampai maghrib, jangan terintimidasi ya, Bunda. Tetap santai saja. Kita harus selalu ingat bahwa anak yang belum baligh belum memiliki kewajiban berpuasa.

Tujuan anak usia dini diajari berpuasa adalah sebagai ajang latihan. Kita bisa saja memotivasi anak untuk semangat berpuasa, tetapi jangan sampai memaksakan dirinya untuk berpuasa penuh.

“Saat mencoba membuat si kecil berpuasa, perlu diingat bahwa si kecil perlu tetap sehat baik secara fisik maupun secara psikis. Sehat secara fisik artinya si kecil tidak sampai mengalami dehidrasi bahkan pingsan saat berpuasa. Sehat secara psikis artinya si kecil bertambah pengetahuan dan keterampilannya berpuasa serta tetap senang menjalani puasa,” papar Nina.

Jadi nggak masalah ya, Bunda, saat di awal-awal puasa anak mengeluh lapar dan haus di pagi hari. Jangan tergoda untuk mengatakan, “Kan tadi sudah sahur, jam segini kok sudah lapar dan haus. Bunda saja masih kuat nih puasanya.” Hal pertama yang perlu dilakukan adalah memvalidasi emosi dan perasaan anak. Ini penting agar anak merasa dipahami oleh orang tuanya.

Santai saja ya, Bunda, si kecil boleh dipersilakan berbuka. Setelah itu, Bunda bisa mengingatkannya untuk mencoba kembali berpuasa esok harinya. Boleh juga menambah durasi puasanya. Jika hari pertama puasa, si kecil makan dan minum di pukul 8 pagi, maka esok harinya “berbuka” di jam 9 pagi, begitu seterusnya.

3. Bikin Kegiatan Menyenangkan

Kegiatan menyenangkan saat puasa bisa bikin anak makin semangat/ Foto: Canva

Saat puasa, anak bisa saja mengeluh lemas sehingga enggan beraktivitas. Wajar sekali. Hal yang sama sering pula kita rasakan, padahal kita adalah orang dewasa. Saat anak menyampaikan apa yang dirasakan, yuk divalidasi emosinya. Ini penting agar anak merasa dipahami.

Nah, agar anak lebih bersemangat menjalani puasa, Bunda bisa merancang kegiatan menyenangkan yang jarang dilakukan di bulan lainnya. Nina memberikan sejumlah ide kegiatan menyenangkan untuk anak saat Ramadan seperti membuat kue kering untuk Lebaran.

Bisa juga membuat bunting flag bertuliskan ucapan selamat Ramadan, lalu digunakan untuk menghias ruang tamu. Bunda juga bisa menyiapkan hiasan atau ornamen khas Ramadan seperti ketupat dan kubah masjid, lalu biarkan si kecil menempel di tempat yang ia sukai.

Kegiatan menyenangkan lainnya adalah membuat amplop angpao dari kertas origami. Si kecil bisa diajak menghias amplop tersebut menggunakan stiker, dan biarkan dia berimajinasi.

4. Makanan Favorit di Waktu Buka dan Sahur

Makanan favorit saat buka dan sahur bisa bikin anak semangat puasa/ Foto: Canva

Salah satu penyemangat anak untuk berpuasa adalah dengan menyajikan makanan atau minuman favoritnya untuk sajian buka dan sahur. Misalnya saja es buah segar yang berisi aneka buah kesukaan si kecil.

Bunda bisa bertanya kepada si kecil makanan atau minuman apa yang diinginkan untuk berbuka puasa dan sahur. Selanjutnya, mereka bisa diajak untuk membuatnya bersama.

5. Memberi Hadiah Sederhana

Cara menyenangkan mengajari anak puasa/ Foto: Canva

Saat si kecil berhasil berpuasa, meskipun tidak sampai maghrib, perlu mendaoat apresiasi nih. Kita bisa memberikan kalimat pujian dan kebanggaan padanya karena si kecil sudah berusaha belajar puasa.

Memberi hadiah sederhana untuk menyemangati si kecil juga boleh-boleh saja, Bunda. Hadiah sederhana bisa berupa makanan atau minuman kesukaan, waktu membaca buku cerita lebih lama, atau hal-hal lain yang si kecil sukai.

Nina menambahkan cara lain untuk memberi hadiah adalah dengan membuat ‘token system’. Ini merupakan sistem pengumpulan stiker yang nantinya bisa ‘ditukarkan dengan hadiah lebih besar’. Wah terdengar seru ya!

“Bunda bisa menyiapkan stiker-stiker kecil dengan gambar yang si kecil sukai, dan menyiapkan buku catatan kecil atau kalender. Setiap kali si kecil berhasil berpuasa, Bunda bisa mengajak si Kecil untuk memilih stiker dan menempelkan di buku catatan kecil atau kalender itu,” jelas Nina.

Di awal kegiatan, dipastikan dulu nih kapan kumpulan stiker bisa ditukar. Misalnya saat stiker sudah mencapai 10 atau 20, bisa ditukar hadiah menarik. Semakin seru hadiahnya, maka butuh stiker yang lebih banyak.

Bagaimana jika hadiahnya berupa screen time atau menonton film lebih banyak? Kata Nina, perlu dicermati batas waktu screen time untuk anak berdasarkan usia. Bila anak berumur lima tahun, maka dalam satu hari, waktu menontonnya maksimal satu jam.

“Waktu satu jam ini pun tidak langsung dihabiskan selama satu jam, namun dipecah menjadi 4×15 menit atau 3×20 menit atau 2×30 menit.” sambung Nina.

Dengan begitu, hadiah screen time untuk anak harus tetap disesuaikan dengan batasan tersebut. Contohnya bila selama ini si anak 5 tahun hanya punya waktu 30 menit untuk screen time, bisa mendapat hadiah tambahan waktu sampai maksimal satu jam.

“Tapi kalau selama ini sudah satu jam, bahkan sudah lebih, maka seharusnya dikurangi dan bukan ditambahkan,” saran Nina.

Nah, itu dia beberapa tips mengajarkan puasa pada si kecil dengan cara menyenangkan. Semoga bisa memotivasi Bunda untuk terus mendampingi si kecil secara maksimal.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Jangan Bandingkan Anak, 10 Akibat Buruk Ini Bisa Terjadi

membandingkan-anak

Pernahkah membandingkan anak dengan orang yang lain? Terkadang hal ini dilakukan agar anak lebih kompetitif, sehingga termotivasi untuk menjadi lebih baik. Nyatanya membandingkan anak justru berdampak buruk.

Yuk, Bunda, disimak bersama berbagai macam akibat bagi tumbuh kembang anak jika kita sering membanding-bandingkannya,

  1. Anak Stres

Terlalu sering dibandingkan dengan orang lain akan membuat anak menjadi stres. Anak terbebani tanggung jawab untuk menjadi yang terbaik sehingga orang tua senang dan bangga padanya.

Kenali tanda anak yang merasa terlalu terteka ya, Bun. Tandanya antara lain anak menjadi selalu gelisah. Si kecil bahkan tidak dapat tidur nyenyak .

2. Anak Menjadi Pemalu

Ketika kita terus membandingkan anak dengan orang lain, secara tidak langsung kita menyebut mereka tidak hebat. Hal ini akan membuat anak merasa dirinya tidak kompeten. Anak pun akan menarik diri dan menghindari keramaian atau interaksi sosial.

3. Anak Dapat Kehilangan Bakatnya

Seringkali kita tidak menyadari bakat yang dimiliki anak. Hal itu menyebabkan kita memaksa anak melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan bakat dan kegemarannya.

Misalnya anak suka melukis, namun kita lebih berfokus mendorong anak menjadi seorang atlet agar seperti anak orang lain. Lama-lama bakat alami anak bisa hilang.

4. Anak Menjadi Pemberontak

Terus-terusan dibandingkan dengan orang lain akan membuat anak marah dan memberontak kepada orang tuanya. Anak merasa tidak dihargai dan dipercaya, sehingga bersikap tidak peduli dan enggan mendengarkan orang tuanya.

5. Anak Rendah Diri dan Merasa Tidak Berharga

Selalu dibandingkan dengan anak lain membuat anak merasa dirinya direndahkan dan selalu kalah dari anak lain. Akibatnya anak akan merasa dirinya tidak bisa melakukan apa-apa atau tidak berguna.

Si kecil pun jadi rendah diri. Dia bahkan merasa tidak berharga, serta tidak memiliki harapan dan semangat untuk menjadi orang yang hebat di masa depan.

6. Anak Tidak Mau Kalah

Jika kita selalu membandingkan anak dengan anak orang lain itu akan membuat mereka menjadi orang yang lebih egois. Anak jadi tidak mau dikalahkan orang lain, sehingga mengandalkan segala cara agar tidak kalah dalam persaingan.

Akibatnya anak cenderung pilih-pilih teman. Bisa jadi juga ia suka memanfaatkan temannya, atau bahkan tidak mau membantu orang lain.

7. Anak Merasa Tidak Disayang Orang Tuanya

Saat terus-menerus dibandingkan dengan anak lain oleh orang tuanya, anak merasa dirinya negatif dan payah. Karena orang tua terlihat mengagumi dan membanggakan anak lain, mereka jadi beranggapan tidak disayangi orang tuanya. Ia akan merasa perasaannya diabaikan.

8. Anak Tidak Menjadi Dirinya Sendiri

Akibat lain jika sering dibanding-bandingkan, anak akan sulit menjadi dirinya sendiri. Hal ini dikarenakan segala hal yang dilakukannya selalu menurut kehendak orang tua. Ia takut membuat orang tuanya kecewa dan marah.

Yuk, Bun, kita pahami lagi bahwa setiap anak memiliki kelebihan yang berbeda-beda. Setiap anak adalah spesial. Oleh sebab itu kita perlu memperlakukannya dengan spesial juga, agar dia bisa menjadi semakin baik tanpa perlu membandingkannya dengan orang lain.

9. Menjadi Anak yang Tidak Peduli

Pencapaian anak yang selalu diabaikan dan dianggap tidak lebih baik dari anak lain akan melahirkan sikap tidak peduli. Anak jadi malas meraih prestasi apa pun. Ketika orang tua terus-terusan memuji anak lain, anak akan berpikir bahwa apa yang dilakukannya sia-sia. Akibatnya dia berpikir tidak perlu repot berusaha untuk memuaskan orang tuanya lagi.

10. Persaingan Tidak Sehat Antara Adik dan Kakak

Kadang kala orang tua membandingkan adik dengan kakaknya. Dampak negatifnya, bisa memunculkan persaingan tak sehat di antara adik dan kakak. Ini karena anak yang satu dipuja-puja, sementara yang satunya dipandang lebih rendah.

Apabila kakak dan adik terus-menerus dibandingkan, salah satu dari mereka bisa mencari berbagai cara untuk menyingkirkan atau menyakiti saudaranya. Duh, tentu hal ini bisa merusak hubungan dalam keluarga.

Nah, itu dia 10 dampak buruk yang mungkin terjadi apabila kita sering membanding-bandingkan anak. Ketimbang fokus pada kelemahannya, yuk kita lebih merayakan kekuatan yang dimiliki anak, Bun.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Positive Parenting, Mendidik Anak Tanpa Bentakan dan Pukulan

positive parenting

Teriakan, bentakan, dan pukulan sering menjadi cara untuk mendisiplinkan anak. Apakah berhasil? Seringkali malah tidak berhasil. Sebagai gantinya, yuk belajar menerapkan positive parenting.

Positive parenting mendorong perilaku anak yang lebih baik. Teknik ini juga membantu orang tua memahami cara yang berhasil baginya dalam mendisiplinkan anak.

Nah, berikut ini 9 langkah efektif untuk menerapkan positive parenting.

1. Melihat dari Sudut Pandang Anak

Bunda pasti pernah merasa kesal saat anak mengulangi kesalahan yang sama. Perasaan kemarin sudah dinasihati panjang lebar, kenapa hari ini diulangi lagi. Lalu terlintas keinginan untuk membentak atau memukul agar anak jera.

Stop, Bun! Di saat seperti ini tetaplah tenang, meski mungkin terasa sulit. Oke, kita perlu diam sejenak, ambil napas dalam, lalu perlahan hitung 1-10.

Selanjutnya, yuk kita coba melihat permasalahan dari sudut pandang anak. Kira-kira apa penyebab anak mengulangi perilaku yang tidak bisa diterima itu.

Perspektif anak-anak biasanya sangat berbeda dengan perspektif orang dewasa. Kita pun perlu banyak memaklumi tingkah lakunya karena mereka memang masih kecil. Anak masih belajar banyak hal, sehingga kita tidak bisa berekspektasi tinggi.

2. Fokus pada Kekuatan Anak, Bukan Kelemahannya

Terlalu sering melihat kelemahan anak, akan membuat kita fokus pada hal negatif. Padahal setiap anak unik. Mereka tumbuh dan belajar dengan kecepatan masing-masing. Dengan fokus pada kekuatan anak, kita akan semakin memahaminya. Anak pun merasa lebih dicintai orang tuanya.

3. Nikmati Momen Bersama Anak

Mungkin hari-hari kita penuh dengan kesibukan. Terkadang kita tak peduli atau justru kesal saat si kecil berkali-kali menginterupsi kegiatan kita. Padahal mungkin dia ingin menceritakan hal-hal yang baru saja ditemui atau dipelajari.

Yuk kita ingat Bunda bahwa waktu berjalan sangat cepat. Anak-anak pun rasanya tumbuh begitu cepat. Sepertinya baru kemarin dilahirkan, sekarang anak-anak sudah bisa melakukan berbagai hal.

Untuk itu, mari kita nikmati momen bersama anak, Bun, untuk menumbuhkan perasaan yang lebih positif saat membersamainya. Kita bisa menunjukkan senyum tulus saat anak menunjukkan hasil karyanya.

Bisa pula dengan pelukan hangat saat usai membacakan buku cerita. Umpan balik atas hal-hal positif yang dilakukan anak akan membuatnya semakin disayang dan dicintai.

4. Menerapkan Aturan yang Konsisten

Konsistensi dalam menjalankan aturan sesuai usia anak sangat membantu menerapkan positive parenting. Alasannya adalah karena anak membutuhkan bimbinagn dalam berperilaku.

Bagi anak, rutinitas yang ajeg dan batasan tegas sangat membantu dirinya belajar. Jika aturan tidak dilaksanakan secara konsisten, maka anak akan bingung dan sulit bekerja sama.

5. Berusaha Tenang dalam Menanggapi Perilaku Anak

Anak-anak secara alami berperilaku dengan dorongan emosi yang kuat. Sedangkan kita, orang dewasa, bisa lebih baik dalam mengenali emosi dan mengendalikan diri.

Saat anak berkata atau berperilaku kurang baik, jangan tergoda untuk membentak atau memukulnya. Alih-alih langsung bereaksi, sebaiknya kita menarik napas dalam-dalam dan menenangkan diri terlebih dahulu.

6. Minta Maaf Saat Kehilangan Kesabaran

Mengasuh anak bisa memicu stres di satu titik. Ketika banyak hal yang harus dipikirkan dan dilakukan, kita bisa jadi kehilangan kesabaran. Jika ini terjadi, yuk minta maaf pada anak dan memperbaiki keadaan.

Ya, orang tua memang tikak selalu benar, melainkan bisa saja berbuat salah. Namun, kita perlu memberi contoh bahwa orang tua pun harus minta maaf saat melakukan kesalahan.

7. Memperhatikan Diri Sendiri

Saat menjadi ibu, fokus kita adalah pada anak-anak. Terkadang hal ini membuat diri sendiri kurang diperhatikan. Kita tak peduli istirahat dan asupan nutrisi yang kurang. Padahal memberi perhatian pada diri sendiri merupakan salah satu amunisi dalam menerapkan positive parenting.

Bunda bisa berbicara dengan pasangan untuk membantu mendapatkan me time dan berbagi peran. Me time pun tak perlu lama hingga berjam-jam. Bisa dengan 10 menit olahraga, 15 menit membaca buku, atau 5 menit jalan ke luar rumah sebentar sendirian.

Kita perlu memahami bahwa diri ini perlu waktu untuk diri sendiri, waktu bersama orang dewasa, atau waktu untuk melakukan yang kita sukai. Dengan begitu, saat mengasuh anak-anak, kita kembali dalam keadaan segar dan tenang.

8. Hindari Mengkritik Setiap Tindakan Anak

Saat si kecil melakukan sesuatu yang tak sesuai harapan kita, yuk tahan diri untuk tidak serta-merta mengkritiknya. Sebaiknya kita sampaikan saran yang lebih membangun ketimbang kritik yang menjatuhkan semangat. Terlalu sering dikritik, bahkan saat tidak melakukan kesalahan, bisa membuat anak kehilangan harga diri dan percaya dirinya.

Jangan pula terjebak dengan adu argumen ya, Bun. Berdiskusi sah-sah saja, namun jangan biasakan si kecil untuk selalu adu argumen dengan suara keras. Hal ini akan membuat kita dan anak-anak berada dalam situasi negatif.

9. Minta Bantuan Saat Kewalahan Secara Emosional

Saat Bunda merasa kewalahan secara emosional, tidak ada salahnya minta bantuan kepada orang terdekat. Bisa minta bantuan ke suami, teman, saudara, atau ke komunitas tertentu. Bahkan jika diperlukan, Bunda bisa minta bantuan ke tenaga profesional seperti psikolog.

Mengasuh anak ibarat sedang berlari maraton, bukan lari cepat. Perjalanan yang ditempuh panjang dan penuh tantangan. Kadang kita merasa salah langkah. Namun, itu tidak apa-apa karena kita punya kesempatan untuk memperbaikinya. Merespons anak dengan cinta dan memperbaiki hubungan dengan mereka adalah langkah nyata kita tengah menerapkan positive parenting.

Referensi:

Pregnancy Birth Baby. Positive Parenting. https://www.pregnancybirthbaby.org.au/positive-parenting diakses pada 29 April 2021.

Zero to Three. Nine Elements That Power Positive Parenting. https://www.zerotothree.org/resources/2198-nine-elements-that-power-positive-parenting diakses pada 29 April 2021.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Dear Para Suami, Yuk Jadi Ayah ASI dengan Lakukan 10 Hal Ini

ayah ASI

Setiap orang tua pasti ingin memberikan yang terbaik bagi anaknya, termasuk dalam memberikan ASI eksklusif. Namun, menyusui bukanlah hal mudah.

Saat ini, masih banyak orang yang beranggapan bahwa menyusui adalah tanggung jawab penuh sang ibu. Padahal, peran suami sangat dibutuhkan demi menyukseskan ASI eksklusif.

Dokter anak sekaligus Ketua Sentra Laktasi Indonesia, dr. Utami Roesli mengatakan menurut penelitian, dari sekitar 115 ribu orang suami yang tidak memberikan dukungan pemberian ASI tingkat keberhasilan istrinya menyusui hanya sebesar 26,9 persen. 

Sedangka suami yang mendukung pemberian ASI, tingkat keberhasilannya bisa mencapai 98,1 persen. Bahkan sebuah riset yang dipublikasikan UNICEF menyebutkan ketika dukungan selama masa menyusui diberikan, durasi dan kualitas ibu memberikan ASI eksklusif pada bayi akan terus meningkat.

Wahai para Suami, dukungan yang dimaksud bukan sekadar kata semangat semata, ya. Harus ada keterlibatan nyata. Lalu, bagaimana caranya agar bisa sukses menjadi ayah ASI? Simak tips berikut yuk.

Ayah ASI bisa mendukung kesuksesan pemberian ASI eksklusif/ Foto: Canva

  1. Selalu menyemangati istri dan membuat hatinya bahagia 

Sebagai ayah ASI, para suami jangan pernah bosan menyemangati istri untuk menyusui. Buatlah hati istri bahagia dengan melakukan hal-hal sederhana tapi berkesan.

Misalnya, membelikan istri makanan kesukaan. Ketika istri merasa senang, maka hormon prolaktin dan oksitosin dalam tubuhnya bisa melancarkan produksi ASI. 

  2. Perbayak ilmu mengenai ASI dan menyusui 

Ayah ASI yang handal juga perlu membekali diri dengan ilmu mengenai ASI dan menyusui. Sering-seringlah browsing di internet, namun pastikan sumbernya tepercaya ya.

Selain itu, jangan malu untuk bertanya ke orang-orang yang memahami soal menyusui. Bergabung dengan komunitas atau kelompok yang mendukung ASI bisa dilakukan juga.

Apabila istri bekerja, suami bisa berbicara dengan atasannya untuk meminta waktu agar istrinya bisa memompa ASI ketika berada di kantor. 

  3. Mengatur stok asip untuk bayi dan temani istri ketika sedang memompa ASI

Bantulah istri dalam mengatur stok ASI perahan (ASIP) untuk bayi. Labeli setiap botol atau kantong ASIP dengan tanggal, hasil, dan jam perahan ASI.

Jangan lupa untuk selalu mengingatkan istri untuk memompas ASI. Temani istri selama memompa ASI. Bantu istri ketika butuh kompres air hangat untuk payudaranya. 

Ayah ASI yang selalu siaga/ Foto: Canva

  4. Melakukan tugas domestik dan mengurus kebutuhan rumah tangga 

Ayah ASI juga tidak malu dan tidak segan melakukan tugas domestik. Menyapu dan mencuci pakaian bukan perkara besar baginya.

Suami juga harus bisa mengurus keperluan sehari-hari. Selain itu, suami terampil membantu istri untuk memandikan, mengganti popok, dan megajak bayi berjemur. 

  5. Menyediakan sarana hiburan agar istri tidak bosan ketika sedang menyusui 

Suami menyediakan sarana hiburan untuk menemani istri ketika sedang menyusui bayi. Misalnya, membelikan CD film atau musik kesukaan istri. Suami juga menemani dan mengajak ngobrol istri ketika sedang menyusui di malam hari agar tidak merasa kesepian. 

  6. Menjaga anak dan hewan peliharaan agar tidak menganggu proses menyusui 

Ayah ASI akan menjaga si sulung ketika istri sedang menyusui si bayi. Jangan sampai bayi terbangun dan menangis karena mendengar suara kakaknya.

Selain itu, suami juga bisa menenangkan hewan peliharaan agar tidak mengganggu istri ketika sedang menyusui. Dengan begitu, istri akan merasa tenang menyusui tanpa adanya gangguan. 

Menyusui bukan hanya tanggung jawab istri semata, tapi juga sang suami/ Foto: Canva

  7. Sering-seringlah memuji istri agar ia bisa lebih semangat menyusui 

Ayah ASI juga tidak gengsi memuji istri. Ucapkan pujian yang sederhana tapi tetap berkesan, seperti “Istriku setelah melahirkan makin cantik. Semangat ya sayang menyusuinya”.

Mendengar pujian dari suami, maka istri pun akan senang dan lebih bersemangat untuk menyusui. 

  8. Selalu penuhi semua kebutuhan istri 

Suami harus sering bertanya pada istri, apa saja yang dibutuhkannya. Namun, jangan sekadar tanya saja, melainka segera penuhi kebutuhan istri.

Terkadang, yang dibutuhkan istri bukan barang lho. Sering kali dia hanya perlu perhatian suami. Maka, luangkan waktu untuk mengobrol sebentar dengan istri. 

Ayah ASI yang siaga jadi harapan para istri/ Foto: Canva

  9. Memijat tubuh istri yang pegal dan kaku karena menyusui 

Tubuh istri pasti pegal dan kaku karena harus menyusui bayi hingga berjam-jam. Paras uami bisa memijat tubuh istrinya agar relaks. Pijatan lembut juga bisa memacu hormon yang melancarkan ASI. 

  10. Jangan merasa terbebani karena memberikan dukungan pada istri adalah kewajiban dan tanggung jawab suami 

Memberikan dukungan sepenuhnya agar istri bisa memberikan ASI eksklusif untuk anak adalah salah satu bentuk tanggung jawab dan kewajiban seorang suami. Jadi, janganlah merasa terbebani dengan tugas itu.

Sebagai seorang suami, maka harus selalu bisa mendampingi istri dalam situasi terburuk sekalipun. Semangat ya wahai para suami untuk menjadi ayah ASI yang selalu siaga.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Share

To Top