Parenting

Tips Mencegah Kejahatan Seksual pada Anak

Beberapa waktu lalu banyak terjadi kasus pelecehan seksual pada anak. Aksi pelecehan seksual yang terjadi tersebut mungkin menyebabkan banyak orangtua jadi paranoid.

Menurut data dari Komnas PA, dari 10 laporan kekerasan pada anak, 8 di antaranya adalah kasus kejahatan seksual dan 80% korban adalah anak perempuan.

Orangtua yang baik sudah semestinya harus waspada terhadap keselamatan anak. Selain penddikan, kesejahteraan, dan kasih sayang, orangtua harus bisa menjadi tempat berlindung anak-anak.

Berikut ini tips dari Seto Mulyadi  atau yang lebih akrab disapa kak Seto seperti dikutif dari female.kompas.com

1. Edukasi seksual sejak dini
Selama ini, obrolan seputar seksual dianggap tabu untuk anak-anak. Namun, Seto mengatakan, edukasi seksual seharusnya dilakukan sejak dini.”Edukasi seksual sebaiknya diberikan untuk anak di atas lima tahun,” sarannya.

Namun, aturlah penggunaaan kata-kata dan cara menyampaikannya dengan cara yang bisa diterima dan diingat oleh anak.

2. Komunikasi
Komunikasi adalah salah satu kunci utama untuk meningkatkan keharmonisan keluarga, dengan membangun suasana yang hangat dan nyaman, supaya anak-anak akan merasa aman dan bebas bicara.

3. Jadilah sahabat anak
Orangtua harus bisa menjadi sahabat anak. Dengan demikian, anak merasa bebas bercerita apa saja dan kapan saja pada Anda. Memiliki orangtua yang akrab dan terbuka, anak akan merasa memiliki teman terbaik yang bisa membuat mereka tidak merasa sendiri.

 

Selain itu, infografis singkat yang Jawa post ini bisa menjadi tips sedehana buat para orang tua.

anakhidari
untuk mengantisipasi dan melindungi anak, inilah saran dan petunjuk dari ayahbunda.co.id yang penting untuk orang ketahui yaitu:

Gunakan istilah sebenarnya
Ketika Anda mengajari anak, “Ini namanya hidung, yang ini kaki”, perkenalkan juga alat kelamin dengan istilah asli. Biasakan menyebut ‘penis’ untuk anak laki-laki dan ‘vagina’ untuk anak perempuan –tidak ada bedanya dengan menyebut organ tubuh lain. Pembiasaan menggunakan istilah asli adalah langkah pertama pendidikan seks anak. Ketika jika suatu waktu anak mengalami kejahatan seksual, ia bisa mengomunikasikannya dengan bahasa yang dipahami orang lain.

Ajarkan konsep privasi
Beritahu anak bahwa tidak semua orang boleh melihat, apalagi menyentuh alat kelaminnya. Ajarkan padanya siapa saja yang boleh, dan dalam situasi apa. Misalnya, boleh oleh dokter saat memeriksa, atau pengasuh saat memandikan. Anda pun harus mendukung anak dalam menjaga privasinya, misalnya dengan tidak menelanjangkan anak di tempat umum ketika berganti baju di pinggir kolam renang atau pantai, misalnya. Biasakan mengajak anak mengganti bajunya di ruang tertutup, meski untuk itu Anda mungkin akan lebih repot. Hindari pula mengunggah foto anak tanpa busana di situs jejaring sosial. Anda tidak pernah tahu akan adanya ancaman predator yang bergerilya di dunia maya.

Bedakan jenis sentuhan
Ajarkan pada anak mengenai sentuhan di tubuhnya. Ada tiga jenis sentuhan yang perlu anak ketahui: 1. Sentuhan baik dan boleh, yaitu sentuhan dari orang lain menggunakan tangan yang dilakukan di bagian tubuh di atas bahu dan di bawah lutut, yang merupakan sentuhan karena kasih sayang, seperti membelai kepala dan mencubit pipi. 2. Sentuhan harus waspada, karena membingungkan untuk menilainya sebagai bermaksud sayang atau napsu, yang merupakan sentuhan di bawah bahu hingga atas lutut tubuh anak. 3. Sentuhan jelek dan terlarang, yaitu orang lain menyentuh bagian tubuh yang tertutup pakaian renang. Bila ada yang melakukan sentuhan di area ini, anak harus berani menolak dan berkata tegas, misalnya dengan bilang, “Jangan begitu!”

Hargai pendapat anak
Saat anak tidak mau bersalaman dengan teman Anda yang baru dikenalnya, biarkan saja. Tidak perlu dibujuk terus-terusan, apalagi langsung dimarahi, agar ia berubah pikiran. Hargai kemampuan anak untuk bilang tidak. Kemampuan ini merupakan latihan, akan ada momen-momen di kemudian hari saat mereka harus berani berkata “Tidak!” –termasuk saat merasa terganggu jika ada yang menyentuhnya.

Percaya naluri Anda
Jika seseorang membuat Anda tidak nyaman, itu adalah alasan yang cukup untuk menjaga anak menjauhinya. Saat Anda merasa ragu saat akan menitipkan anak pada seseorang, bahkan pada teman Anda, jangan lakukan. Tak jarang naluri ibu memang bisa ‘mengendus’ sesuatu yang tidak benar, bukan?

Pisahkah tidur
Pisahkah tidur kakak dan adik terutama jika berbeda jenis kelamin. Semakin dini dilakukan, semakin baik. Saat tidur, tersingkapnya pakaian sangat mungkin terjadi, dan hal tersebut bisa menimbulkan hasrat seksual, sekalipun dengan saudara kandung.

Wajib waspada
Wajib waspada terhadap orang dewasa yang mencoba menghabiskan waktu hanya berdua dengan anak, bahkan jika orang tersebut Anda kenal. Menurut riset di Assosiasi Psikolog Amerika Serikat, 90% dari kasus pelecehan seksual yang terungkap, ternyata pelakunya merupakan orang yang dikenal korban. Bahkan, 30% di antaranya masih memiliki hubungan keluarga! Hanya 10% pelaku yang betul-betul orang asing bagi korban.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Mengenalkan Pendidikan Seks Sejak Dini

pendidikan seks

Di era digital saat ini, degradasi moral menjadi ancaman. Bagaimana tidak, kini kerap dikabarkan remaja atau anak di bawah umur yang melakukan seks bebas sebelum menikah.

Salah satu penyebab maraknya free seks di Indonesia adalah pengaruh globalisasi dan kecanggihan teknologi yang tidak terfilter dengan baik. Akibatnya banyak video asusila yang bebas berkeliaran di internet. Ditambah lagi lengahnya pengawasan orang tua menyebabkan anak-anak ataupun remaja bebas mengakses tontonan yang tidak layak tersebut.

Akibat tontonan dan pengaruh lingkungan yang kurang baik, rasa penasaran anak semakin tinggi. Hal itu membuat mereka berani melakukan hubungan seks sebelum menikah.

Penyebab lain maraknya free seks adalah kurangnya pendidikan seks. Anak pun jadi tidak tahu apa akibat dan bahaya free seks.

Oleh karena itu, kita sebagai orang tua perlu memberikan pendidikan seks kepada anak sejak dini. Pendidikan seks bukanlah hal tabu ya, Bunda. Jadi, kita tidak perlu sungkan melakukannya.

Lalu bagaimanakah memberikan pendidikan seks kepada anak? Berikut diuraikan penjelasannya:

Pendidikan Seks untuk Anak 2-3 Tahun

Pada usia 2-3 tahun, Bunda bisa mulai memberikan pendidikan seks dengan memberi tahu alat reproduksi kepada anak. Ingat ya, Bunda, sebut nama alat reproduksi sesuai aslinya, jangan disamarkan.

Tetaplah menyebut penis untuk alat kelamin laki-laki. Jangan diganti dengan burung. Tetaplah pula menyebut vagina untuk alat kelamin perempuan. Jangan diganti dengan apem atau dompet, misalnya. Ini penting agar anak tidak bingung dengan nama organ tubuhnya.

Pendidikan Seks untuk Anak 3-4 Tahun

Pada usia 3-4 tahun mungkin si kecil sudah semakin banyak bertanya. Bisa saja ia menanyakan dari manakah bayi berasal, mengapa bayi bisa berada di dalam perut ibu.

Untuk pertanyaan tersebut, Bunda harus menjawabnya dengan kalimat yang sederhana. Sesuaikan penjelasan dengan usia anak, sehingga lebih dimengerti oleh anak.

Misalnya, Bunda bisa menjawab bahwa di dalam perut seorang ibu ada tempat yang bernama rahim. Nah, di dalam rahim bayi akan tinggal selama 9 bulan. Setelah itu, bayi akan dilahirkan ke dunia.

Pendidikan Seks untuk Anak 5-6 Tahun

Pada usia 5-6 tahun biasanya anak mulai mempertanyakan bagaimana ia beserta adik dan kakaknya ada di dunia ini sebelum ada di rahim seorang ibu. Bunda bisa menjelaskannya bahwa mereka ada karena ayah dan ibu yang “membuatnya” dengan cara yang spesial.

Jika anak masih terus bertanya, maka hendaknya beri penjelasan yang lebih detail tetapi tetap harus dimengerti oleh anak.

Itulah contoh pendidikan seks yang bisa diberikan kepada anak usia dini. Namun, pendidikan seks hendaknya tidak diberikan hanya pada saat usia dini saja. Pendidikan seks tetap perlu diberikan seiring perkembangan anak.

Seiring berkembanganya usia, misalnya pada saat masuk Sekolah Dasar di rentang usia 6-12 tahun, anak mungkin saja bertanya mengenai hal-hal yang lebih kompleks. Contohnya bertanya tentang hubungan badan, ereksi, mimpi basah, menstruasi, sperma, ovum, dll. Jadi, jangan kaget ya, Bunda.

Untuk anak kelas tinggi, Bunda bisa menjelaskan bahwa hubungan badan adalah hubungan yang dilakukan oleh suami istri dengan mempertemukan alat kelamin mereka yaitu venis dan vagina. Nah, penis akan menghasilkan sperma. Jika sperma bertemu dengan sel telur (ovum) yang cocok maka akan menghasilkan bayi.

Menjelaskan hubungan badan bukan berarti menyuruh atau menginspirasi anak melakukann ya, tapi agar mereka mengerti dan rasa ingin tahunya terjawab.

Setelah menjelaskan hal tersebut, Bunda bisa memberi penguatan bahwa mereka harus menjaga alat kelaminnya. Artinya, tidak boleh ada yang menyentuh selain dirinya sendiri ataupun orang tua (ibu dan ayah) di saat tertentu.

Bunda juga bisa menambahkan bahwa hubungan badan hanya boleh dilakukan oleh suami istri yang sah. Selain suami istri, tidak boleh ada yang melakukannya karena itu bisa berdosa. Selain itu bisa mengakibatkan tertular penyakit.

Jangan lupa ya, Bunda, untuk selalu bersikap  terbuka ketika anak bercerita tentang alat kelamin atau bagian tubuhnya yang seiring waktu mengalami perubahan. Jangan mengolok-olok atau menabukan ceritanya. Ini penting agar anak merasa bebas berbicara dengan orang tuanya.

Dari cerita anak, kita pun bisa memantau pertumbuhan dan perkembangan tubuhnya. Sekaligus juga menghindarkan anak dari free seks maupun kejahatan seksual yang rentan terjadi.

Narasumber: Rumba123

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Kesehatan

6 Asupan untuk Buka Puasa Ini Bisa Kembalikan Tenaga si Kecil

asupan-buka-puasa

Saat puasa, badan tentu lemas ya, Bunda. Itu pula yang dirasakan oleh si kecil. Nah, untuk mengembalikan tenaganya, kita bisa menyajikan aneka makanan tepat saat buka puasa.

Penasaran makanan seperti apa yang bisa mengembalikan tenaga si kecil? Simak yuk penjelasan dr. Diana Suganda, M. Kes, Sp.GK dalam Kulwap Milkuat bertajuk “Mengajarkan Si Kecil Kuat Puasa Seharian”.

1. Kurma

Kurma untuk buka puasa/ Foto: Canva

Anjuran agar berbuka dengan yang manis memang baik karena makanan manis bisa mengembalikan tenaga. Namun, perlu diingat jangan sampai memberi asupan yang terlalu manis saat buka puasa.

Bunda bisa menyajikan kurma sebagai makanan buka puasa untuk anak. Kurma merupakan makanan yang memiliki indeks glikemik tinggi. Ketika dikonsumsi saat buka puasa, bisa segera meningkatkan kadar gula darah yang turun saat berpuasa.

“Kandungan karbohidrat sederhana pada kurma cukup untuk menggantikan kebutuhan gula selama berpuasa. Selain itu, kurma juga kaya serat, sehingga dapat melancarkan sistem pencernaan,” terang dr. Diana.

2. Potongan Buah Segar

Buah potong untuk mengembalikan tenaga si kecil seusai puasa/ Foto: Canva

Setelah seharian menahan lapar dan dahaga, makan buah potong saat buka puasa tentu menyegarkan sekali. Tak hanya menyegarkan, buah potong juga bisa memenuhi kebutuhan vitamin dan mineral.

Lalu buah seperti apa yang cocok disajikan sebagai buah potong untuk sajian buka puasa? Kata dr. Diana, sebaiknya memilih buah dengan tekstur lembut dan tidak asam.

“Seperti pepaya, pisang, dan melon, agar mudah dicerna oleh usus. Bunda bisa juga memberikan buah yang tinggi kadar airnya seperti semangka, pepaya, dan buah naga,” sarannya.

3. Yoghurt

Yoghurt, sajian sehat untuk buka puasa/ Foto: Canva

Asupan lain yang bisa segera mengembalikan tenaga si kecil yang berpuasa adalah yoghurt. Di dalam produk olahan susu ini terkandung energi, protein, mineral, dan vitamin.

Tak hanya itu, yoghurt juga mengandung probiotik. Nah, probiotik ini bisa turut menjaga kesehatan sistem pencernaan anak.

Agar lebih seru, yoghurt bisa disajikan bersama buah potong. Dengan begitu akan lebih mengenyangkan dan menambah nutrisi di menu berbuka anak.

4. Puding

Puding dengan tekstur lembut, bersahabat untuk pencernaan/ Foto: Canva

Makanan yang ramah bagi usus sekaligus bisa mengembalikan tenaga si kecil di waktu berbuka puasa adalah puding. Teksturnya yang lembut dan rasanya yang enak tentu disukai si kecil.

Bunda bisa mencetak puding dalam berbagai bentuk lucu. Bisa pula menambahkan buah-buahan dalam puding untuk menambah nutrisinya.

5. Air Kelapa Murni

Air kelapa murni mengembalikan elektrolit setelah seharian berpuasa/ Foto: Canva

dr. Diana menjelaskan air kelapa kaya akan mineral yang diperlukan untuk mengganti cairan elektrolit yang hilang selama berpuasa. Dengan begitu, air kelapa bagus sekali untuk mengatasi badan anak yang lemas setelah seharian berpuasa.

Namun ingat ya, Bunda, berikan air kelapa murni yang belum dicampur dengan bahan apa pun. Ini penting agar manfaat sehatnya dapat segera dirasakan tubuh.

6. Salad Sayur

Salad sayur untuk berbuka puasa/ Foto: Canva

“Untuk mengganti kebutuhan nutrisi selama berpuasa, berikan si kecil sayur-mayur agar tubuhnya tetap sehat dan bugar meski telah berpuasa seharian,” ucap dr. Diana.

Salad sayur ini juga dapat dilengkapi potongan daging tanpa kulit dan keju. Hm tentu akan menjadi asupan nikmat nan bergizi di waktu berbuka puasa.

Sayur juga bisa dikombinasikan dengan buah, lantas dibuat smoothies. Caranya campur buah, sayur, susu atau yoghurt, lalu diblender. Agar lebih asyik menikmatinya, smoothies dapat disajikan di gelas dengan sedotan warna-warni.

Oh ya, saat buka puasa mungkin si kecil ingin minum minuman yang dingin. Lalu bagaimana, apakah boleh buka puasa dengan minum es? Saran dr. Diana, sebaiknya berbuka dengan minum air yang sesuai suhu tubuh atau suhu ruangan. Setelah itu, boleh-boleh saja jika ingin minum minuman dingin.

Itu dia daftar asupan untuk buka puasa yang bisa mengembalikan tenaga si kecil yang berpuasa. Semoga bermanfaat.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Yuk Siapkan Makanan Ini untuk Sahur Agar si Kecil Kuat Puasa

Mengajari anak puasa

Di bulan Ramadan ini, apakah si kecil latihan puasa? Untuk mendukungnya, kita perlu menyiapkan makanan untuk sahur yang bisa bikin anak kuat puasa.

Jika anak belum baligh, maka belum ada kewajiban baginya untuk berpuasa sehari penuh. Namun, sejak dini anak bisa dikenalkan puasa dan bisa berlatih melaksanakan puasa. Tujuannya agar kelak anak-anak terbiasa menjalankan ibadah ini.

Nah, sebagai ikhtiar agar anak kuat puasa, kita bisa menyediakan makanan sebagai berikut.

1. Makanan dengan Karbohidrat Kompleks

Nasi, salah satu karbohidrat kompleks/ Foto: Canva

Saat makan sahur, anak tetap perlu makan karbohidrat. Sebab karbohidrat merupakan sumber energi utama bagi si kecil. Namun, ingat ya, Bunda, karbohidrat yang diberikan adalah karbohidrat kompleks.

Di dalam karbohidrat kompleks, terkandung indeks glikemik lebih rendah. Hal ini akan membuat si kecil kenyang lebih lama. Demikian disampaikan dr. Diana Suganda, M. Kes, Sp.GK dalam Kulwap Milkuat bertajuk “Mengajarkan Si Kecil Kuat Puasa Seharian”.

Lantas, apa saja yang termasuk makanan dengan karbohidrat kompleks? Bisa menyajikan nasi, roti gandum, oat, umbi-umbian seperti kentang, ubi, dan singkong.

Apakah harus memberikan karbohidrat dalam jumlah banyak agar anak nggak mudah lapar saat puasa? Jawabannya adalah tidak. Kata dr. Diana, 5-6 sendok nasi cukup, tetapi harus dilengkapi dengan lauk dan sayur yang memadai.

2. Makanan Tinggi Protein

Protein penting diasup si kecil saat sahur/ Foto: Canva

Untuk mendukung tumbuh kembang anak, jangan abaikan pemberian protein ya, Bunda. Saat sahur, pastikan si kecil mendapat asupan protein.

Sumber protein sangat bermacam-macam. Untuk protein hewani, bisa didapat dari telur, ikan, daging, dan ayam. Sedangkan protein nabati bisa didapatkan dari tahu, tempe dan kacang-kacangan.

“Dua jenis makanan tersebut sangat penting untuk dikonsumsi saat sahur, karena mengandung kalori yang tinggi dan dapat menahan rasa lapar yang cukup lama,” terang dr. Diana.

3. Sayuran dan Buah-buahan

Sayur dan buah-buahan yang kaya vitamin serta mineral/ Foto: Canva

Di dalam sayuran dan buah-buahan, terkandung vitamin dan mineral yang dapat meningkatkan daya tahan tubuh. Dengan begitu, si kecil tidak mudah sakit saat berpuasa.

Sayuran dan buah-buahan juga mengandung serat yang bermanfaat bagi kesehatan pencernaan si kecil. Karena itu, serat agus banget diberikan pada saat makan sahur. Apalagi serat memberikan rasa kenyang setelah makan.

Buah-buahan bisa diberikan setelah makan makanan utama ya, Bunda. “Saat sahur, prioritaskan asupan karbohidrat, protein dan lemaknya dulu ya. Jadi paling tidak si kecil sudah mengonsumsi misal nasi, ayam tumis kecap, dan sayur. Jika setelahnya dia masih bisa makan buah, silakan diberikan ya. Jangan sampai si kecil keburu kenyang dengan buah, namun asupan yang lain tidak masuk,” jelas dr. Diana.

4. Susu

Susu merupakan salah satu asupan penting bagi anak saat puasa/ Foto: Canva

Agar si kecil semakin kuat berpuasa, Bunda bisa memberikannya susu saat makan sahur. Selain memenuhi kebutuhan kalsium, susu yang mengandung kalsium dan malt bisa membantu meningkatkan daya tahan tubuh si kecil. Dampaknya si kecil tidak mudah lemas ataupun sakit saat puasa.

5. Makanan Rendah Lemak

Anak perlu mengasup makanan rendah lemak agar tak gampang lapar/ Foto: Canva

Makanan rendah lemak merupakan hidangan yang ramah bagi pencernaan. Sebaliknya asupan tinggi lemak seperti makanan yang digoreng dan bersantan kurang ramah bagi perut. Makanan seperti ini membuat anak cepat kenyang, tetapi juga lebih cepat laparnya.

Ingat ya, Bunda, makanan yang kurang tepat mungkin membuat anak mudah lapar. Hal itulah yang menjadikannya sering mengeluh lapar di siang hari saat puasa.

“Perut perlu mendapat sapaan dari hidangan yang ramah dan ringan seperti sup daging bening, kuah-kuah bening dan tumisan masih bisa diberikan untuk si kecil,” saran dr. Diana.

6. Suplemen Tambahan

Suplemen untuk anak/ Foto: Canva

Untuk melengkapi kebutuhan nutrisi anak, Bunda bisa memberikan suplemen tambahan. Namun, jangan jadikan suplemen sebagai cara utama menjaga kebutuhan nutrisi si kecil ya, Bun.

Kita harus pastikan anak mendapat gizi seimbang. Ini penting agar anak tidak kekurangan makronutrien dan mikronutrien. Jangan diremehkan ya, Bunda, karena dampak jangka panjangnya bisa sangat serius.

“Berat badan kurang, rambut rontok, konsentrasi berkurang, gangguan tumbuh kembang dan lain sebagainya,” imbuh dr. Diana.

7. Air

Jangan lupakan asupan air saat sahur/ Foto: Canva

Satu lagi asupan yang tidak boleh dilewatkan saat sahur adalah air putih dalam jumlah cukup. Jangan karena keasyikan makan anak jadi lupa minum air putih.

Untuk anak usia 6 tahun, misalnya, kebutuhan cairannya adalah 1,5 -2 liter/hari atau setara dengan 8 gelas air per hari. Kebutuhan ini tidak sekaligus dipenuhi saat sahur, melainkan dibagi-bagi waktunya.

“Minumlah dengan rumus 2-4-2 yaitu 2 gelas saat berbuka, 4 gelas saat malam, dan 2 gelas saat sahur,” ucap dr. Diana.

Itulah Bunda berbagai macam asupan yang perlu disiapkan agar si kecil semangat dan kuat berpuasa. Meski sudah makan berbagai asupan ini saat sahur, kita jangan memaksakan si kecil harus kuat puasa sampai maghrib ya, Bunda. Jika ada tanda dehidrasi serta keluhan berkunang-kunang, si kecil diperbolehkan buka puasa lebih cepat. Semangat mendampingi anak belajar puasa ya, Bun.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Share

To Top