Parenting

Tips Melatih Si Kecil Tidur Sendiri di Kamarnya

Tidur sendiri di kamar merupakan salah satu bentuk kemandirian anak karena anak tidak mungkin terus sekamar dengan orang tua. Tidak ada acuan pasti umur berapa sebaiknya si kecil mulai tidur di kamarnya sendiri. Kebijakan dan pertimbangan antar keluarga tentang hal ini mungkin berbeda-beda. Ada yang sudah memisahkan kamar si kecil sejak bayi, balita, atau ketika si kecil mulai sekolah.

Jika anak sudah terbiasa tidur bersama orang tua sejak bayi, maka untuk melatihnya tidur di kamarnya sendiri butuh proses dan waktu yang panjang. Tentunya ayah dan bunda harus bersabar mendampingi si kecil berproses.

Tips Melatih Anak Tidur Sendiri

Jika ayah dan bunda sedang melatih si kecil untuk tidur sendiri di kamarnya, beberapa tips berikut bisa dicoba:

  1. Beri Penjelasan Dulu Kepada Anak

Sebelum mulai meminta anak pisah kamar dari orang tua, beri anak penjelasan kenapa anak harus tidur di kamarnya sendiri. Tiba-tiba menyuruh anak tidur di kamar sendiri tanpa penjelasan bisa membuat anak merasa terusir dan justru menolak untuk belajar tidur sendiri.

  1. Lakukan Secara Bertahap

Orang tua bisa melatih anak tidur sendiri dengan bertahap, misalnya  dimulai dari tidur siang dulu. Setelah anak mandiri tidur siang di kamarnya sendiri, lanjutkan dengan waktu tidur malam. Orang tua juga bisa menemani anak sampai terlelap dulu baru ditinggalkan. Lama-kelamaan anak akan belajar pergi tidur sendiri.

  1. Atur Kamar Sesuai Keinginan Anak Agar Merasa Nyaman

Ajak anak menata dan menghias kamarnya sendiri agar tertarik dengan kamarnya. Buatlah kamar si kecil terasa nyaman sehingga anak merasa betah di kamarnya sendiri.

  1. Atasi Ketakutan Anak

Beberapa anak tidak mau tidur sendiri karena merasa takut. Mungkin takut gelap, takut ada hantu, atau takut terhadap suara-suara hewan malam. Jadi, atasi dulu rasa takut anak agar bisa tidur dengan tenang.

Melatih anak agar mau tidur sendiri harus dilakukan dengan konsisten. Jika orang tua tidak konsisten dengan mengizinkan tidur bersama lagi ketika sedang belajar tidur sendiri, maka anak akan semakin sulit tidur terpisah dari orang tua.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Tanpa Sadar, Kita Sering Mengajarkan Anak Jika Ia Tak Pernah Salah

Saya Reva, punya anak usia sekitar 5 tahun. Sewaktu belajar jalan tidak jarang tanpa sengaja dia menabrak kursi atau meja. Lalu ia menangis. Kemudian, yang saya lakukan supaya tangisan anak berhenti adalah dengan memukul kursi atau meja yang tanpa sengaja mereka tabrak.

Sambil mengatakan, “Siapa yang nakal ya? Ini sudah Mama pukul kursi/mejanya…sudah cup….cup…diem ya. Akhirnya si anak pun terdiam. Belakangan Saya mulai menyadari, Ketika proses pemukulan terhadap benda benda yang mereka tabrak terjadi, sebenarnya saya telah mengajarkan kepada anak kita bahwa ia tidak pernah bersalah. Saya baru menyadari hal ini ketika anak Saya sudah mulai melawan. Perilaku melawan ini terbangun sejak kecil karena tanpa sadar saya telah mengajarkan untuk tidak pernah merasa bersalah loh.

Curahan hati dari salah seorang Bunda diatas, mungkin adalah satu dari sekian banyak penyesalan kita dalam mendidik anak. Secara tak sadar kita sedang menanamkan kepercayaan bahwa anak kita bukanlah pihak yang bersalah. Padahal, daripada menyalahkan benda lain yang ada di sekitarnya. Kita bisa memilih untuk memberinya pemahaman. Tentang resiko dan konsekuensi dari sebuah perbuatan. “Nggak apa-apa kak, tapi lain kali hati-hati ya bisa nggak jatuh lagi”, misalnya. Selain menyalahkan benda mati lain, berikut adalah kesalahan lain yang juga perlu kita hindari dalam mendidik anak. 

Sering Berbohong dengan Hal-hal Kecil 

Anak-anak akan selalu mendengarkan kata-kata dari orangtuanya karena mereka percaaya. Sayangnya, sebagai orangtua kita justru sering menyalah gunakan kepercayaan mereka dengan berbagai macam alasan tertentu. Entah untuk menghindari keinginan anak atau untuk membuat mereka menuruti perintah orangtua. Misalnya, ketika Ayah dan Bunda ingin pergi dan terpaksa meninggalkan anak di rumah neneknya. Lantas berkata pada si kecil hanya pergi sebentar, tapi ternyata pergi hingga larut malam atau berhari-hari. 

Atau pada kasus lain, Bunda mungkin berbohong dengan membuat ancaman kecil. Jika anak tak mau makan, maka ia tak akan ikut serta jalan-jalan. Padahal, dua hal ini adalah sesuatu yang tidak memiliki keterkaitan sama sekali. Apalagi jika ternyata orangtua tak menyanggupi ucapan untuk tidak mengajanya jalan-jalan nanti. Sehingga anak jadi berpikir bahwa itu adalah sebuah gertakan belaka. 

Sebaliknya, cobalah untuk berkata jujur saja bun. Sampaikan padanya, jika ayah dan bunda memang harus meninggalkannya di rumah neneknya dulu, karena ada keperluan. Berikan pengertian pada anak yang sekiranya bisa membuatnya paham. Misalnya, jika ia tak makan dengan benar, bisa jadi ia lapar dan membuatnya sakit. 

Menuruti Keinginan Anak Agar Ia Tak Lagi Merengek

Pada satu kesempatan, entah saat berbelanja atau di tempat umum lainnya. Si kecil tiba-tiba marah dan meminta bunda untuk membelikan sesuatu padanya. Hanya karena tak enak hati karena menjadi pusat perhatian orang-orang, maka akhirnya bunda pun luluh lalu memenuhi permintaannya. 

Dari sikap kita yang seperti ini, anak kemudian belajar bahwa permintaannya akan dikabulkan ketika ia meminta dengan perlawanan yang gigih di muka umum. Bukan tak mungkin, jika ia akan kembali melakukan hal yang sama untuk permihtaan yang berbeda. 

Untuk itu, meski menjadi pusaat perhatian orang karena si kecil tiba-tiba mengamuk atau menangis di tempat umum. Sebaiknya orangtua perlu untuk tetap tegas dan bersikap konsisten. Sembari memberi mereka penjelasan, jika anak menginginkan sesuatu ia tak seharusnya meminta dengan cara yang seperti itu. Walau mungkin tidak tega, tapi sikap seperti ini jauh lebih baik untuk tumbuh kembangnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Untuk Orangtua yang Sering Mengancam atau Menakut-nakuti Anaknya

“Adik, jangan naik ke atas meja! nanti jatuh, nggak akan mama tolong ya!” 

“Jangan ganggu adik, nanti Ayah/Bunda marah!” 

Bunda merassa cukup familiar dengan beberapa kalimat diatas? Sering Bunda dengar atau bisa jadi bunda yang mengatakannya pada si kecil di rumah? Iya, kami paham. Jika pada beberapa kesempatan si kecil mungkin bersikap menyebalkan atau membuat kita marah. Tapi meresponnya dengan kalimat diatas tentu bukanlah sesuatu yang benar. 

Dari sisi anak pernyataan yang sifatnya melarang atau perintah dan dilakukan dengan cara berteriak tanpa kita beranjak dari tempat duduk atau tanpa kita menghentikan suatu aktivitas, pernyataan itu sudah termasuk ancaman. Terlebih ada kalimat tambahan “….nanti Bunda/Ayah marah!”. 

Biar bagaimanapun, seorang anak adalah makhluk yang sangat pandai dalam mempelajari pola orang tuanya; mereka tidak hanya bisa mengetahui pola orang tuanya mendidik, tapi dapat membelokkan pola atau malah mengendalikan pola orang tuanya. Hal ini terjadi bila kita sering menggunakan ancaman dengan kata-kata, namun setelah itu tidak ada tindak lanjut atau mungkin kita sudah lupa dengan ancaman-ancaman yang pernah kita ucapkan

Lantas, Apa yang Sebaiknya Ayah dan Bunda Lakukan?

Kita tidak perlu berteriak-teriak seperti itu. Dekati si anak, hadapkan seluruh tubuh dan perhatian kita padanya. tatap matanya dengan lembut, namum perlihatkan ekspresi kita tidak senang dengan tindakan yang mereka lakukan.

Sikap itu juga dipertegas dengan kata-kata, “Sayang, Bunda/Ayah mohon supaya kamu boleh meminjamkan mainan ini pada adikmu. Bunda/Ayah akan makin sayang sama kamu.” Tidak perlu dengan ancaman atau menggunakan teriakan-teriakan.

Atau Bunda juga bisa menyatakan suatu pernyataan yang menjelaskan suatu konsekuensi, misal “Sayang, bila kamu tidak meminjamkan mainan in ke adikmu, Bunda/Ayah akan menyimpan mainan ini dan kalian berdua tidak bisa bermain”. Atau “Bunda/Ayah akan keluarkan, bila kamu mau pinjamkan mainan itu ke adikmu. Selanjutnya, tepati pernyataan kita dengan tindakan. Selamat mencoba bun. 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Sumber Gizi yang Praktis dan Higienis untuk Nutrisi Keluarga Saat New Normal

Sebuah informasi penting untuk ayah dan bunda, Crystal of the Sea baru-baru inin mengumumkan komitmennya untuk memenuhi permintaan produk ikan teri yang terus meningkat di market Indonesia, khususnya di masa new normal. Bubuk ikan teri Crystal of the Sea mengandung berbagai gizi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan anak, menambah selera makan anak, dan memenuhi kebutuhan gizi seluruh anggota keluarga agar tubuh senantiasa sehat. Dengan shelf-life (masa simpan) yang panjang sampai 2 tahun, bubuk teri ini adalah salah satu sumber gizi yang ideal, praktis, dan aman bagi seluruh anggota keluarga bun.

Bahan utama bubuk ikan teri Crystal of the Sea adalah murni 100 persen ikan teri yang sudah menjadi makanan pokok masyarakat Indonesia dan populasinya melimpah di perairan Indonesia. Kekayaan gizi ikan teri sudah tak terbantahkan lagi. Meski bentuknya mungil-mungil, manfaat ikan teri bagi kesehatan tak sekecil ukurannya. Ikan teri mengandung Omega-3, Protein dan Kalsium, yang baik untuk pertumbuhan otak dan tulang. Di setiap satu sendok teh (4 gram) bubuk teri Crystal of the Sea terkandung 202mg Omega-3, 3g Protein dan 74mg Kalsium yang dapat membantu memenuhi kebutuhan gizi harian yang dibutuhkan tubuh kita.

Bunda juga tentu sudah tahu kan, kalau Omega-3 bagus untuk perkembangan otak bagi anak-anak dan kesehatan jantung bagi orang dewasa. Asam lemak ini tidak bisa diproduksi oleh tubuh secara alami, melainkan dari makanan dan ikan adalah sumber Omega-3 yang terbesar. Adapun Kalsium yang tinggi akan membantu pembentukan dan mempertahankan kepadatan tulang dan gigi. 

“Pada masa new normal ini, kualitas dan keamanan makanan sangatlah penting untuk menjaga dan bahkan meningkatkan kesehatan seluruh anggota keluarga. Crystal of the Sea diciptakan untuk keluarga yang membutuhkan produk makanan yang praktis, sehat, dan berkualitas tinggi, serta dipastikan bebas bahan pengawet dan impurities,” tutur Kenji Kusuma, General Manager Crystal of the Sea. “Demand terhadap ikan teri di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun, di sinilah Crystal of the Sea hadir untuk membangun kepercayaan konsumen dengan selalu memperhatikan aspek kesehatan dan keamanan pangan. Kami ingin memberikan yang terbaik untuk seluruh keluarga di Indonesia, sebab ini adalah produk yang memakai bahan baku dari perairan Indonesia, diproduksi oleh orang Indonesia untuk masyarakat Indonesia.”

Sebagai informasi untuk bunda, Crystal of the Sea yang diproduksi oleh PT. Urchindize Indonesia adalah bubuk ikan pertama yang mendapat sertifikasi Badan POM. Produk ini dilahirkan dari proses produksi berstandar internasional untuk menjamin produk yang bersih dan aman untuk dikonsumsi. Crystal of the Sea juga dijamin bebas bahan pengawet, seperti formalin, maupun pemutih, sehingga mengeliminasi kekhawatiran dan keraguan konsumen akan keamanan produk ikan teri.

Dengan quality control yang sangat ketat, produk Crystal of the Sea sangat aman dan sehat untuk dikonsumsi oleh seluruh anggota keluarga, terutama anak-anak. Penyajiannya sangat mudah, bubuk teri ini bisa langsung ditambahkan ke dalam masakan sebagai perasa alami, atau ditaburkan di makanan yang siap disantap, untuk mendapatkan manfaatnya.

Crystal of the Sea adalah pilihan yang tepat bagi yang membutuhkan nutrisi yang lengkap untuk menjaga maupun meningkatkan kesehatan anak dan seluruh anggota keluarga di masa new normal ini.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Share

To Top