Parenting

Tanpa Sadar Mungkin Sudah Melakukan Penyiksaan pada Anak melalui kata-kata, apa saja bentuknya?

Kekerasan verbal adalah bentuk penyiksaan pada anak melalui kata-kata atau omongan. Kekerasan verbal merupakan suatu tindakan menyentuh atau menjatuhkan seseorang melalui perkataan, tanpa menyentuhnya secara fisik. Kekerasan verbal bisanya untuk merendahkan, menghina, menghujat atau mengintimasi seseorang.

Kekerasan verbal adalah salah satu bentuk kekerasan yang paling umum dan juga paling diabaikan pada anak-anak. Sering kali perilaku ini dianggap sebagai bentuk “pendisiplinan” atau “cinta yang kuat”.

Banyak orangtua yang merasa tidak pernah melakukan kekerasan verbal pada anak. Namun kenyataannya, banyak orangtua yang melakukan kekerasan verbal ini secara tidak sadar. Berikut beberapa yang kekerasan verbal pada anak

Tidak mau mendengarkan anak termasuk kekerasan verbal

Kepada anak yang lebih besar, terkadang orangtua sering menghakimi. Orangtua juga tidak bisa menghargai pilihan anak karena menganggap pilihan orang tua lebih benar.

Orang tua cendrung tidak mau mendengarkan apa maunya anak. Apa yang benar – benar anak inginkan.

Mendengarkan anak akan membuat kita menyadari bahwa anak memiliki pemahaman dan pengalaman yang berbeda dengan apa yang kita miliki. Mendengarkan mereka membuat kita belajar memahami kebutuhan, kepribadian dan keinginan mereka.

Kekerasan verbal yang tidak mau mendengarkan anak bisa dihindari dengan menjalin komunikasi yang baik dengan anak Anda. Orangtua perlu memahami dan menerima pilihan anak. Orang tua juga perlu belajar bahwa orangtua harus mendengarkan anak.

Ketahuilah alasan-alasan di balik pilihan anak dan jika ada yang bertentangan dengan nilai yang Anda pelajari, diskusikan dan beri masukan pada anak.

Membentak anak menjadi tindakan yang sering orangtua lakukan tanpa sadar

Membentak anak juga menjadi tindakan yang sering orangtua lakukan tanpa sadar. Dan tentu saja, membentak anak termasuk kekerasan verbal.

Tidak jarang orangtua membentak anak dengan keras karena kesalahan sederhana. Bahkan tidak jarang orangtua melakukan ini di depan umum. Tindakan ini akan membuat anak merasa malu dan menyakiti harga diri anak.

Membentak sekali memang belum dapat memberi efek yang signifikan pada anak, namun jika orang tua membentak anak setiap hari maka dapat meningkatkan risiko perkembangan otak yang terganggu

Menuduh anak melakukan sesuatu yang tidak ia lakukan

Karena tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, tidak jarang orangtua berprasangka buruk pada anak atau menuduh anak berbohong.

Sebaiknya jika belum menemukan bukti yang kuat, Orang tua tidak boleh menuduh anak terlebih dahulu. Anak yang sering dituduh cenderung akan sering menyalahkan orang lain atas kesalahan yang dilakukannya

Menyalahkan Anak terus menerus

Berbuat salah adalah hal yang manusiawi. Namun, orang tua yang melakukan kekerasan verbal akan menjadikan kesalahan sebagai pembenaran atas tindakan mereka, misalnya dengan berkata “saya harus memarahi kamu karena perilakumu sangat tidak bisa ditolerir.”

Sikap orangtau yang selalu menyalahkan anaknya juga bisa memberi dampak negati dalam proses pertumbuhan dan perkembangan anak, baik dari segi afektif, kognitif dan psikomotor. berikut beberapa efek negatif yang bisa ditimbulkan jika terlalu sering menyalahkan anak

Mengancam anak akan membuat anak merasa terintimidasi

Ada beberapa orangtua yang kerap memberikan ancaman pada anak agar anak- anak menuruti kemauan mereka. Tanpa sadar, orangtua telah melakukan tindak kekerasan secara verbal pada anak.

Mengancam memang seringkali menjadi cara paling mudah untuk mendapatkan hasil secepat mungkin ketika kita sebagai orangtua sudah kehabisan akal untuk mengendalikan tingkah laku anak. Kendati efektif, ancaman tidak mendidik anak untuk menjadi lebih bertanggung jawab.

Akan tetapi perilaku mengancam anak akan membuat anak merasa terintimidasi dan tidak punya pilihan lain. Hal ini bisa berdampak buruk untuk perkembangan anak, terutama secara mental.

Membandingkan Anak dengan Orang Lain

Perilaku membandingkan dan merendahkan anak juga termasuk ke dalam kekerasan verbal. Namun tidak sedikit orangtua yang sering membanding- bandingkan anaknya dengan orang lain.

Kenyataannya, situasi ini tidak pernah disukai anak. Tak seorang anak pun yang nyaman saat orangtua membandingkan dirinya dengan orang lain, baik itu saudara atau anak tetangga.

Meskipun niat orangtua mungkin baik dan ingin memotivasi anaknya, namun tindakan ini membuat anak merasa sedih dan merasa orang tuanya tidak menyayanginya. Saat anak belum maksimal dalam proses belajarnya, sebaiknya orangtua mendampinginya dengan sabar.

Selain itu, pada dasarnya setiap anak mempunyai keahlian dan kemampuan yang berbeda antara satu dan yang lain.

Menyematkan Label Negatif pada Anak

Penyematan label negatif ini juga termasuk tindakan kekerasan verbal pada anak. Tindakan ini bisa mempengaruhi tingkat percaya diri anak dan membuatnya merasa orangtuanya tidak peduli pada dirinya.

Semakin sering orangtua menyematkan label negatif, anak akan merasa dirinya semakin tertinggal. Ia akan menjadi semakin penakut dan tidak mau berusaha. Ia juga akan semakin jauh dari orangtuanya karena merasa orangtuanya tidak mau mencoba memahaminy

Melakukan Body Shaming

Perilaku body shaming juga kerap terjadi di lingkungan keluarga, termasuk orangtua. Orangtua tanpa sadar melakukan body shaming pada anak mereka dengan menyebut anak ‘pendek’, ‘jelek’, atau ‘gendut’.

Beberapa orangtua merasa bahwa ini hanya untuk panggilan lucu- lucuan. Tanpa sadar bahwa anak menjadi tidak percaya diri karena merasa seperti label yang orangtuanya sematkan padanya. Anak yang menjadi korban kekerasan verbal body shaming ini biasanya akan kesulitan untuk mencintai dirinya sendiri.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Banyak Orangtua Menganggap Kekerasan Hal Efektif dan Tepat untuk Mendidik Anak

Kasus kekerasan terhadap anak akhir-akhir ini sering kali terjadi. Kekerasan terhadap anak merupakan sebuah fenomena yang bisa disamakan dengan gunung es.

“Kekerasan anak banyak terjadi di Indonesia, tapi hanya sedikit yang dilaporkan, itulah saya katakan. Dia bagaikan fenomena gunung es,” kata Yohana Yambise, Menteri Pemberdayaan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia

Berdasarkan sebuah survei yang pernah dihimpun KPAI di sembilan provinsi seperti dikutif dari CNNindonesia.com (27/07/2016), memang ditemukan pelaku kekerasan terhadap anak yang paling tinggi dilakukan oleh orang tua.

Komisioner KPAI, Susanto menegaskan bahwa “Ternyata memang kekerasan terhadap anak pelaku tertinggi adalah orang tua, kedua teman, kemudian tenaga pendidik,”

Dari survei tersebut juga ditemukan ada beberapa pemicu mengapa kekerasan pada anak bisa terjadi. Setidaknya ada tiga pemicu utama.

Pertama perspektif pada anak. Banyak orang tua bahkan guru masyarakat memposisikan anak sebagai miniatur orang dewasa bukan full manusia secara utuh.  Maksudnya adalah, idealnya memposisikan anak sebagai manusia utuh yang sedang dalam proses tumbuh kembang.

Kedua, ditentukan oleh pola asuh. Masih banyak orang tua yang menggunakan cara berpikir lama dan tradisi warisan. Ini banyak terjadi. Kalau misalnya punisment dengan menggunakan kekerasan yang pernah dilakukan orang tuanya dulu itu sering dicopy-paste sama orang tua.

Ketiga adalah disfungsi keluarga. Kondisi broken home kondisi yang bermasalah relasinya itu berpotensi juga menimbulkan tindakan kekerasan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Share

To Top