Parenting

Tanda Anak Mengalami Bullying, Orang Tua Harus Tahu

Bullying atau perundungan bisa terjadi kepada siapapun dan di manapun. Anak-anak juga bisa melakukan bully kepada temannya. Tindakan bullying akan menimbulkan banyak dampak buruk kepada korbannya, yaitu menyebabkan korban kehilangan percaya diri, merasakan sakit fisik, mengalami stress, depresi dan mempengaruhi kondisi psikologis korban.

Bentuk tindakan bullying bisa berupa tindakan fisik misalnya memukul, menampar, atau menjegal. Bisa juga berupa verbal atau dengan kata-kata seperti mengejek, mencemooh, dan mempermalukan. Jika anak sudah mempunyai media sosial, bullying juga bisa terjadi di dunia maya atau cyber bullying.

Tanda Anak Mengalami Bullying

Ayah dan bunda perlu mengetahui tanda-tanda anak menjadi korban bullying. Berikut beberapa tanda anak mengalami bullying oleh temannya:

  1. Anak Menjadi Tidak Mau Berinteraksi dengan Temannya

Jika teman-temannya suka membully, maka anak akan berusaha untuk menjauhi teman-temannya. Dengan begitu anak menjadi tidak mau berinteraksi dengan temannya. Jika bullying terjadi di  sekolah, anak menjadi malas pergi ke  sekolah. Jadi jika tiba-tiba anak menarik diri dari lingkungannya, ayah dan bunda perlu mendekati anak untuk mencari tahu penyebabnya.

  1. Anak Mengalami Sakit Fisik atau Ada Tanda Luka di Badan

Jika anak mengalami bullying berupa kekerasan fisik, maka anak akan merasakan sakit pada bagian tubuhnya. Orang tua perlu memeriksa apakah ada memar atua bekas luka di badan anak dan cari tahu penyebab sakitnya

  1. Anak Menjadi Murung, Mengurung Diri, dan Suka Menyendiri

Menjadi korban bully akan membuat anak sedih, kehilangan rasa percaya diri, dan stres. Oleh karena itu, anak menjadi murung, suka menyendiri, dan sering gelisah.

  1. Anak Merasa Cemas Ketika Melihat Gadget

Dengan lebih berkembangnya internet, interaksi di dunia maya juga lebih mudah. Namun, sayangnya media sosial juga bisa menjadi sarana bullying. Jika anak mengalami cyber bullying, anak akan menjauhi gadgetnya serta merasa cemas dan gelisah ketika melihat gadget. Oleh karena itu, sebaiknya orang tua  mengawasi penggunaan gadget anak.

Efek negatif mengalami bullying tidak bisa hilang dalam sekejap. Oleh karena itu, ayah dan bunda harus dekat dan mengerti kondisi anak agar bisa segera tahu jika anak mengalami perubahan dan menjadi korban bullying.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Tanpa Sadar, Kita Sering Mengajarkan Anak Jika Ia Tak Pernah Salah

Saya Reva, punya anak usia sekitar 5 tahun. Sewaktu belajar jalan tidak jarang tanpa sengaja dia menabrak kursi atau meja. Lalu ia menangis. Kemudian, yang saya lakukan supaya tangisan anak berhenti adalah dengan memukul kursi atau meja yang tanpa sengaja mereka tabrak.

Sambil mengatakan, “Siapa yang nakal ya? Ini sudah Mama pukul kursi/mejanya…sudah cup….cup…diem ya. Akhirnya si anak pun terdiam. Belakangan Saya mulai menyadari, Ketika proses pemukulan terhadap benda benda yang mereka tabrak terjadi, sebenarnya saya telah mengajarkan kepada anak kita bahwa ia tidak pernah bersalah. Saya baru menyadari hal ini ketika anak Saya sudah mulai melawan. Perilaku melawan ini terbangun sejak kecil karena tanpa sadar saya telah mengajarkan untuk tidak pernah merasa bersalah loh.

Curahan hati dari salah seorang Bunda diatas, mungkin adalah satu dari sekian banyak penyesalan kita dalam mendidik anak. Secara tak sadar kita sedang menanamkan kepercayaan bahwa anak kita bukanlah pihak yang bersalah. Padahal, daripada menyalahkan benda lain yang ada di sekitarnya. Kita bisa memilih untuk memberinya pemahaman. Tentang resiko dan konsekuensi dari sebuah perbuatan. “Nggak apa-apa kak, tapi lain kali hati-hati ya bisa nggak jatuh lagi”, misalnya. Selain menyalahkan benda mati lain, berikut adalah kesalahan lain yang juga perlu kita hindari dalam mendidik anak. 

Sering Berbohong dengan Hal-hal Kecil 

Anak-anak akan selalu mendengarkan kata-kata dari orangtuanya karena mereka percaaya. Sayangnya, sebagai orangtua kita justru sering menyalah gunakan kepercayaan mereka dengan berbagai macam alasan tertentu. Entah untuk menghindari keinginan anak atau untuk membuat mereka menuruti perintah orangtua. Misalnya, ketika Ayah dan Bunda ingin pergi dan terpaksa meninggalkan anak di rumah neneknya. Lantas berkata pada si kecil hanya pergi sebentar, tapi ternyata pergi hingga larut malam atau berhari-hari. 

Atau pada kasus lain, Bunda mungkin berbohong dengan membuat ancaman kecil. Jika anak tak mau makan, maka ia tak akan ikut serta jalan-jalan. Padahal, dua hal ini adalah sesuatu yang tidak memiliki keterkaitan sama sekali. Apalagi jika ternyata orangtua tak menyanggupi ucapan untuk tidak mengajanya jalan-jalan nanti. Sehingga anak jadi berpikir bahwa itu adalah sebuah gertakan belaka. 

Sebaliknya, cobalah untuk berkata jujur saja bun. Sampaikan padanya, jika ayah dan bunda memang harus meninggalkannya di rumah neneknya dulu, karena ada keperluan. Berikan pengertian pada anak yang sekiranya bisa membuatnya paham. Misalnya, jika ia tak makan dengan benar, bisa jadi ia lapar dan membuatnya sakit. 

Menuruti Keinginan Anak Agar Ia Tak Lagi Merengek

Pada satu kesempatan, entah saat berbelanja atau di tempat umum lainnya. Si kecil tiba-tiba marah dan meminta bunda untuk membelikan sesuatu padanya. Hanya karena tak enak hati karena menjadi pusat perhatian orang-orang, maka akhirnya bunda pun luluh lalu memenuhi permintaannya. 

Dari sikap kita yang seperti ini, anak kemudian belajar bahwa permintaannya akan dikabulkan ketika ia meminta dengan perlawanan yang gigih di muka umum. Bukan tak mungkin, jika ia akan kembali melakukan hal yang sama untuk permihtaan yang berbeda. 

Untuk itu, meski menjadi pusaat perhatian orang karena si kecil tiba-tiba mengamuk atau menangis di tempat umum. Sebaiknya orangtua perlu untuk tetap tegas dan bersikap konsisten. Sembari memberi mereka penjelasan, jika anak menginginkan sesuatu ia tak seharusnya meminta dengan cara yang seperti itu. Walau mungkin tidak tega, tapi sikap seperti ini jauh lebih baik untuk tumbuh kembangnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Untuk Orangtua yang Sering Mengancam atau Menakut-nakuti Anaknya

“Adik, jangan naik ke atas meja! nanti jatuh, nggak akan mama tolong ya!” 

“Jangan ganggu adik, nanti Ayah/Bunda marah!” 

Bunda merassa cukup familiar dengan beberapa kalimat diatas? Sering Bunda dengar atau bisa jadi bunda yang mengatakannya pada si kecil di rumah? Iya, kami paham. Jika pada beberapa kesempatan si kecil mungkin bersikap menyebalkan atau membuat kita marah. Tapi meresponnya dengan kalimat diatas tentu bukanlah sesuatu yang benar. 

Dari sisi anak pernyataan yang sifatnya melarang atau perintah dan dilakukan dengan cara berteriak tanpa kita beranjak dari tempat duduk atau tanpa kita menghentikan suatu aktivitas, pernyataan itu sudah termasuk ancaman. Terlebih ada kalimat tambahan “….nanti Bunda/Ayah marah!”. 

Biar bagaimanapun, seorang anak adalah makhluk yang sangat pandai dalam mempelajari pola orang tuanya; mereka tidak hanya bisa mengetahui pola orang tuanya mendidik, tapi dapat membelokkan pola atau malah mengendalikan pola orang tuanya. Hal ini terjadi bila kita sering menggunakan ancaman dengan kata-kata, namun setelah itu tidak ada tindak lanjut atau mungkin kita sudah lupa dengan ancaman-ancaman yang pernah kita ucapkan

Lantas, Apa yang Sebaiknya Ayah dan Bunda Lakukan?

Kita tidak perlu berteriak-teriak seperti itu. Dekati si anak, hadapkan seluruh tubuh dan perhatian kita padanya. tatap matanya dengan lembut, namum perlihatkan ekspresi kita tidak senang dengan tindakan yang mereka lakukan.

Sikap itu juga dipertegas dengan kata-kata, “Sayang, Bunda/Ayah mohon supaya kamu boleh meminjamkan mainan ini pada adikmu. Bunda/Ayah akan makin sayang sama kamu.” Tidak perlu dengan ancaman atau menggunakan teriakan-teriakan.

Atau Bunda juga bisa menyatakan suatu pernyataan yang menjelaskan suatu konsekuensi, misal “Sayang, bila kamu tidak meminjamkan mainan in ke adikmu, Bunda/Ayah akan menyimpan mainan ini dan kalian berdua tidak bisa bermain”. Atau “Bunda/Ayah akan keluarkan, bila kamu mau pinjamkan mainan itu ke adikmu. Selanjutnya, tepati pernyataan kita dengan tindakan. Selamat mencoba bun. 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Tips Melatih Anak Toilet Training Tanpa Drama

Mengajarkan anak untuk buang air kecil dan buang air besar di toilet adalah sebuah proses yang tidak instan. Toilet training adalah salah satu aspek kemandirian yang harus diajarkan kepada anak. Selama prosesnya, orang tua perlu lebih bersabar dan meluangkan waktu lebih banyak.

Anak tidak langsung berhasil dalam sekali coba dan mungkin akan mengompol atau “kebocoran” sehingga harus lebih sering mengepel lantai atau membersihkan akibat “kebocoran” tersebut. Sebaiknya toilet training dilakukan ketika anak sudah menunjukkan tanda-tanda fisik dan emosional, serta ketika anak mau melakukannya.

Hindari memaksakan anak karena akan membuat anak tertekan. Orang tua bisa mengajarkannya secara bertahap, misal mulai dengan memperkenalkan fungsi toilet kepada anak dan membuat anak merasa nyaman untuk buang air di toilet.

Tips Melatih Anak Toilet Training

Ketika anak sudah mau dan menunjukkan kesiapan untuk toilet training, maka orang tua bisa mulai toilet training. Berikut beberapa tips yang bisa ayah dan bunda coba ketika mengajarkan anak buang air di toilet:

  1. Siapkan Perlengkapan yang Dibutuhkan, Pilih yang mMenarik untuk Anak

Siapkan dulu perlengkapan toilet training untuk anak, misalnya adapter seat atau dudukan kursi pada toilet dengan ukuran yang sesuai dengan si kecil. Pilih yang warnanya menarik bagi anak. Selain itu, bisa juga dengan menghias kamar mandi misal dengan menempel stiker karakter atau tokoh favorit anak.

  1. Ganti Popok dengan Trining Pants

Sebagai permulaan, bunda bisa mengganti popok dengan training pants agar jika anak mengalami “kebocoran” tidak langsung ke lantai karena lapisannya lebih tebal sehingga bisa menampung air kencing. Namun, training pants tidak seperti popok sekali pakai yang bisa tetap kering walaupun si kecil sudah pipis. Jika anak pipis di training pants maka akan terasa basah sehingga anak risih. Pilih training pants dengan gambar yang disukai oleh anak.

  1. Ajarka Cara Menggunakan Toilet Kepada Anak

Ajarkan anak cara menggunakan toilet. Untuk anak perempuan, bunda bisa mengajarkannya, sedangkan untuk anak laki-laki bisa diajarkan oleh ayah.

  1. Buat Jadwal Anak Buang Air

Salah satu tanda kesiapan toilet training pada anak adalah waktu buang airnya hampir sama setiap harinya atau bisa diprediksi. Dengan begitu bunda bisa membuat jadwal BAB dan BAK pada anak. Bunda bisa mengajak anak ke toilet sebelum tidur, bangun tidur, setelah makan, atau setiap 2-3 jam sekali.

Melatih kemandirian anak harus dilakukan secara konsisten, termasuk toilet training. Ayah dan bunda harus lebih bersabar dalam prosesnya ya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Share

To Top