Parenting

Tak Bisa Mengungkapkan Perasaannya Bisa Jadi Alasan Anak yang Suka Memukul, Lantas Orangtua Harus Apa?

Anak yang suka memukul memang meresahkan orangtua. Meskipun begitu, harus diketahui bahwa perilaku anak seperti ini ada alasannya. Tindakan agresif si kecil sebenarnya adalah bagian dari aspek perkembangan umum dialami balita. Maka, daripada buru-buru untuk marah dan semakin memperburuk situasi, cobalah untuk mencari tahu. Apa yang sebenarnya membuat anak jadi sosok yang suka memukul dan tak bisa mengendalikan emosinya. 

Dari Banyak Faktor, Ini Adalah 5 Alasan Anak yang Suka Memukul yang Sering Dialami Anak

Anak atau balita yang belum lancar bicara menjadikan organ fisik sebagai alat komunikasi. Contohnya tangan untuk memukul orang lain saat mengambil barang miliknya. Dan beberapa hal berikut ini, bisa jadi salah satu faktor penyebabnya juga. 

1. Mempertahankan Area dan Barang yang Ia Rasa Menjadi Hak Miliknya 

Anak yang posesif terhadap mainannya langsung memukul saat orang lain menyentuh. Hal ini bisa terjadi di rumah antara saudara kandung ataupun antar teman di lingkungan pertemanan. Jika kejadiannya masih di rumah tentu bisa diawasi oleh orangtua. 

Saat anak lain tidak mau bergantian menggunakan mainan, hingga membuat si kecil marah dan jengkel. Kondisi ini juga dapat menimbulkan pertikaian diawali dengan pemukulan. Tujuannya untuk mencari perhatian agar kata-kata dia dipahami oleh teman lain. 

2. Merasa Tak Mampu dan Sulit Mengungkapkan Perasaan yang Dialaminya

Anak kecil masih belum bisa mengungkapkan apa yang dirasakan sepenuhnya. Saat sedih, marah, lelah ataupun hal lain yang tidak sesuai dihatinya, diekspresikan dengan memukul. Ada juga anak yang menangis sambil memukul. 

orangtua sebaiknya mendekatkan diri pada anak. Tujuannya supaya apa yang dirasakan anak bisa dipahami tanpa anak memberitahu semuanya. Cara ini juga bagus untuk mengurangi perilaku anak suka memukul. 

3. Ia Merasa Jika Ada Perubahan dalam Keluarga yang Membuatnya Seperti Terabaikan

Anak kecil bisa tiba-tiba memukul atau menggigit saat ada hal besar yang terjadi di rumah. Misalnya bertambahnya anggota baru, karena takut kasih sayang orangtua teralihkan ke adiknya, anak menjadi marah dan memukul barang yang ada. 

Hal lain seperti pindah rumah yang mungkin saja anak tidak suka rumah baru, sehingga butuh waktu adaptasi. Kekesalan pasti ada dalam pikirannya sehingga diungkapkan dengan memukul. Kekerasan dalam rumah tangga diakibatkan Ayah suka memukul, juga diikuti oleh anak. 

4. Adanya Ketidaknyamanan yang Membuatnya Seperti Dilupakan

Ketika anak tidak nyaman dengan suatu kondisi juga bisa memukul orang lain atau benda di dekatnya. Saat bosan, haus dan lapar tetapi tidak ada makanan yang diinginkan, anak memperlihatkan kemarahannya dengan memukul. 

Jika terjadi satu atau dua kali, wajar saja. Namun, jika anak memukul sudah dalam tahap berlebihan, harus diwaspadai. orangtua harus memperhatikan kondisi anak, menyediakan kebutuhannya agar si kecil merasa nyaman dan terpenuhi. 

5. Aktivitas yang Ia Lakukan Terasa Kurang Menyenangkan

Anak-anak memang masanya untuk bermain dari pagi hingga sore bahkan malam hari. Jika di rumah tidak ada kawan bermain, anak merasa bosan karena sulit menyalurkan energi. Oleh karena itu, penting sekali bagi orangtua menjadi teman bermain anak. 

Anak suka menjelajahi banyak hal di lingkungan sekitarnya. Jika tidak mendapat ruang, anak akan menyalurkan melalui pukulan. Ketika anak dilarang melakukan sesuatu yang diinginkan, juga disampaikan dengan memukul sebagai bentuk rasa kesalnya. 

Maka Jika Tanda-tanda Tersebut Terlihat, Inilah Hal yang Harus Dilakukan orangtua Menghadapi Anak Suka Memukul 

Anak yang suka memukul karena tidak sadar konsekuensi dari perbuatannya. Selain itu, anak juga belum tahu cara mengekspresikan emosi yang dimilikinya. Supaya kebiasaan ini tidak terbawa hingga dewasa, orangtua perlu menerapkan beberapa langkah berikut. 

1. Mencari Tahu Faktor Penyebab yang Memicu Anak Jadi Sosok yang Suka Memukul

orangtua perlu mencari tahu penyebab anak marah dan memukul orang lain. Mungkin saja ada sesuatu yang salah di rumah seperti perubahan dinamika keluarga. Bisa juga karena sebab lain misalnya teman barunya memiliki karakter suka memukul. 

Umumnya anak memukul memiliki alasan yang hampir sama. Setelah mengetahui penyebabnya, orangtua dapat membantu si kecil menyalurkan perasaannya dengan lebih positif. Sebisa mungkin latih si kecil menghindari perilaku agresif. 

2. Latih Anak untuk Berkomunikasi dengan Baik Demi Mengungkapkan Perasaannya

Anak memukul karena marah atau frustasi namun tidak tahu cara mendapatkan perhatian. Oleh karena itu, orangtua perlu mengajarkan anak agar bisa berkomunikasi dengan baik. Boleh mengekspresikan menggunakan perasaan tetapi dengan lembut. 

Ketika anak ingin memukul, segera alihkan kepada aktivitas yang lebih menyenangkan. Sesuaikan dengan hobi anak atau ajari cara menepuk pundak dengan lembut saat sedang butuh perhatian. Jadi, latih anak agar mudah memberitahukan perasaannya. 

3. Bantu Ia Memahami dan Menuumbuhkan Rasa Empati dalam Dirinya

Sadarkan anak bahwa perilaku memukul akan menyakiti orang lain. Biasanya anak usia 2 tahun sudah paham hal ini. Teman sebaya merasa sedih dan sakit ketika terkena pukulan, sehingga anak harus mengurangi perilaku ini. 

Jika memukul karena masalah mainan, ajarkan anak untuk menunggu giliran masing-masing. Saat kakak atau adik sudah selesai bermain, baru bisa diambil mainan tersebut. Selain itu, perlu juga melatih si kecil meminta maaf saat melakukan kesalahan. 

4. Ajarkan dan Berikan Contoh yang Baik Sebagai Orangtua

Anak biasanya mengikuti tindakan orangtuanya. Jika Ayah atau Ibu suka memukul anak tentu mengikutinya. orangtua harus menampakkan perilaku yang baik di depan anak sehingga anak juga menerapkan hal yang baik dalam hidupnya. 

orangtua membantu anak mempelajari cara positif dalam mengelola emosi mereka. Menghukum anak karena memukul bisa memperburuk perasaan anak. Bahkan mengakibatkan anak lebih agresif sehingga jangan sembarangan dalam mendidik anak.

5. Berikan Konsekuensi dengan Batas yang Normal untuk Melatihnya Jika Melanggar Aturan yang Sudah Disepakati Agar Tak Memukul Orang Lain

Memberikan hukuman tidak harus melalui kekerasan. Banyak cara memberikan konsekuensi atas perbuatan anak seperti mengurangi waktu bermainnya. Tetapi, jika anak baru sekali melakukan kesalahan, jangan langsung dihukum. Itulah 5 hal yang dapat dilakukan orangtua menghadapi anak yang suka memukul. Jangan langsung dihukum atau dimarahi, tetapi beri nasihat dan pemahaman terlebih dulu bahwa memukul itu menyakiti orang lain.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Bagaimana Cara Orangtua untuk Bisa Menghasilkan Anak yang Membanggakan?

Semua orang tua ingin memiliki anak yang membanggakan dan sukses dalam hidupnya. Namun sampai saat ini masih banyak melakukan kesalahan dalam mendidik si kecil. Karena itu, orangtua membutuhkan ilmu yang tepat bagaimana mendidik anak. Jangan sampai, orangtua hanya memiliki keinginan saja. Namun salah dalam mendidik anak dan tak memberi contoh yang baik, agar ia tumbuh jadi anak yang membanggakan. 

Beberapa Kesalahan yang Dilakukan Orangtua dalam Mendidik Anak, Hingga Ia Tumbuh Jadi Sosok yang Berbeda

Mendidik dan melatih si kecil menjadi anak unggul dan membanggakan memang tidak mudah. Tetapi jika memiliki niat dan konsisten, pasti berhasil. Orangtua bertanggung jawab dalam membentuk kepribadian si kecil dengan menghindari kesalahan berikut ini. 

1. Hanya Memberi Perintah dan Kata-kata Namun Tidak Menjadi Contoh dan Teladan 

Orangtua merupakan role model bagi seorang anak. Karena itu semua yang dilakukan Ayah dan Ibu akan ditiru oleh si kecil. Mulai dari tindakan baik hingga buruk dengan mudahnya diterapkan dalam kehidupan anak karena belum paham mana sebaiknya diikuti. 

Karena itu, perlihatkan semua perbuatan baik pada anak. Mulai dari berbicara lemah lembut, jangan marah-marah. Buang sampah pada tempatnya, rajin merapikan rumah dan perabotan. Hindari perilaku suka memukul apalagi membanting sesuatu saat sedang marah. 

2. Mengkritik dan Menjadikannya Bahan Perbandingan dengan Anak Lain  

Anak tidak suka dibandingkan dengan orang lain dan dikritik tanpa diminta. Apalagi jika setiap hari selalu saja ada yang salah dan mendapat kritikan dari orang tua. Hidup anak menjadi kurang nyaman dan tidak menyenangkan. 

Mengkritik secara berlebihan merupakan kesalahan dalam mendidik. Akibatnya anak semakin susah diatur dan bertingkah. Sementara itu, membandingkan anak meskipun tujuan untuk memberikan motivasi, kenyataannya cara ini membuat anak tidak percaya diri. 

3. Jadi Orangtua yang Terlalu Banyak Menuntut, Sampai Membuat Anak Merasa Terbebani 

Karena ingin memiliki anak membanggakan, orangtua menuntut banyak hal pada si kecil. Akibatnya anak menjadi stress bahkan frustasi disebabkan semua harapan orang tua diletakkan pada dirinya. Saat yang terjadi tidak sesuai ekspektasi, orangtua kurang puas bahkan bisa memarahi anak. 

Padahal sebagai orangtua harus tahu bahwa anak memiliki kemampuannya sendiri. Tidak perlu menuntut ini itu apalagi yang tidak sesuai dengan umurnya. Boleh melatih anak untuk menjadi juara satu di kelasnya, tetapi disesuaikan juga dengan batas kemampuan si kecil agar tidak tertekan. 

4. Tidak Konsisten dalam Perkataan dan Sikap Sebagai Orangtua 

Kesalahan yang juga sering dilakukan orangtua yaitu tidak konsisten. Kadang hari ini anak harus ikut peraturan yang dibuat, tetapi besok orang tua bersikap tidak peduli sama sekali. Hal ini membuat anak bingung. 

Peraturan dibuat di rumah sebelumnya harus didiskusikan bersama. Jika menemukan tanda setuju, baru diterapkan. Setelah itu, konsistenlah untuk peduli pada semua aturan tersebut. Jika anak melakukan bertentangan silahkan tegur dan beri hukuman saat diulangi lagi. 

5. Sering Adu Mulut dengan Anak Tanpa Memberinya Solusi dari Kesalahan yang Mungkin Ia Lakukan

Anak mungkin membalas ucapan orangtua saat mengomelinya. Kemudian Bunda semakin marah hingga suasana bertambah keruh. Oleh karena itu, jika ingin menjelaskan kesalahan anak jangan langsung marah. Ajak anak komunikasi dan sampaikan yang sebaiknya dilakukan si kecil. 

Hal yang Harus Dilakukan Orangtua untuk Memiliki Anak yang Membanggakan 

Orang tua perlu mengusahakan agar si kecil tumbuh menjadi pribadi membanggakan. Karena hal ini tidak bisa langsung diperoleh dalam satu hari. Perlu proses sehingga banyak hal yang harus diajarkan sejak dini. 

1. Ajari Anak Memiliki Sifat Terbuka untuk Leluasa Mendiskusikan Apa Saja dengan Orangtuanya

Terbuka artinya anak dapat menyampaikan apa ingin dan tidak diinginkan dengan jelas. Anak usia 2 tahun mungkin belum lancar berbicara, tetapi orang tua tetap dapat mengajaknya berkomunikasi. Hal ini memudahkan mengetahui keinginan dan kebutuhan si kecil. 

Misalnya saat ingin pergi liburan, tanyakan ke lokasi mana anak ingin pergi. Saat pergi ke restoran, tanyakan ingin minum dan makan apa. Ajak anak menceritakan harinya di sekolah, tentang pelajaran dan temannya.

2. Ajarkan Anak Tentang Kebersihan, Bagaimana Melakukan dan Apa Saja Manfaatnya dalam Kehidupannya

Mengajarkan tentang kebersihan tidak mudah tetapi harus diberi pengertian sejak dini. Kebersihan berhubungan erat dengan kesehatan. Selain itu, anak yang bersih cenderung aktif, pintar dan berprestasi. 

Memang benar anak kecil belum bisa membersihkan pakaiannya sendiri. Tetapi hal ringan lainnya ada yang mampu dilakukan seperti selalu gosok gigi saat bangun pagi. Mandi di pagi hari sebelum melakukan aktivitas lain.

3. Latihlah Si Kecil Agar Lebih Percaya Diri dalam Melakukan Segala Sesuatu yang Ia Inginkan

Percaya diri sangat dibutuhkan untuk menjadi pribadi sukses dan membanggakan. Tanpa percaya diri, anak sulit bergaul dan partisipasi dalam banyak hal. Banyak hal yang tidak bisa didapatkan hanya karena malu bergabung bersama teman-teman lain.

Orangtua berperan penting menjadikan anak percaya diri. Si kecil membutuhkan dorongan untuk menonjolkan diri di antara teman-temannya. Karena itu, jangan batasi eksplorasi anak sejak bayi. Puaskan keingintahuannya untuk menunjang perkembangan menjadi anak pintar dan kreatif.

4. Beri Ia Pemahaman Tentang Arti Tanggung Jawab dan Bagaimana Ia Harus Melakukannya

Tanggung jawab dapat diajarkan sedini mungkin pada anak. Sampaikan apa itu tanggung jawab agar si kecil memahaminya. Kemudian berikan contoh dari hal-hal kecil supaya dapat langsung dipraktekkan dalam kesehariannya. 

Tanggung jawab merawat dan menjaga mainan agar bisa digunakan dalam jangka waktu lama. Mengembalikan barang pada tempat semula setelah digunakan. Piring dan gelas kotor langsung diletakkan di tempat khusus. 

5. Ajarkan Ia untuk Tidak Menjadi Orang yang Kasar atau Bersikap Arogan Pada Orang-orang di Sekitarnya

Anak berperilaku kasar dapat merugikan orang lain. Misalnya memukul dan menendang anak lain hingga menangis. Tetapi, dalam menanggapi hal ini sebagai orang tua tidak boleh memarahi anak begitu saja. Ajarkan minta maaf pada temannya yang disakiti. 

Sampaikan bahwa kasar bukan sesuatu yang baik. Latih anak mengontrol emosi dan mengekspresikan pada hal positif. Jika ada hal tidak disukai bisa langsung dibicarakan, jangan selalu gunakan fisik untuk menyampaikan perasaannya. Itulah hal yang harus dan tidak harus dilakukan oleh orang tua untuk membentuk pribadi anak yang membanggakan. Tanggung jawab sangat diperlukan agar terpenuhi keinginan dan kebutuhan anak. Hidupnya lebih ceria dan bersedia melakukan berbagai hal untuk meningkatkan prestasinya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Jangan Langsung Memarahinya Bun, Begini Cara Menangani Perilaku Agresif Pada Anak

Seringkali para orangtua dibingungkan dengan perilaku agresif anak. Rasanya hampir semua cara yang dilakukannya selalu salah, atau tidak juga bisa menghentikan perilaku agresif anak. Jika sudah begini, maka memarahi anak adalah solusi yang seringkali diambil oleh para orangtua.

Padahal cara tersebut kuranglah tepat untuk menangani perilaku agresif anak. Memang sekilas anak akan menurut dan diam, namun bukan tidak mungkin dalam hatinya masih ada ganjalan-ganjalan yang dia sendiri tidak berani untuk mengungkapkannya. Dan jika ini terus dibiarkan, bisa saja akan menyebabkan hal-hal yang kurang baik. Nah, bagi Bunda yang sedang bingung menghadapi perilaku agresif si kecil, di bawah ini ada beberapa tips yang bisa Bunda lakukan untuk menanganinya.

Mulai Dengan Mencari Tahu Penyebab Perilaku Agresif Anak Bun

Langkah pertama yang harus Bunda lakukan saat melihat anak berperilaku agresif adalah mencari tahu apa yang membuatnya bersikap seperti itu. Tahapan ini sangat penting dilakukan, agar Bunda tidak salah mengambil keputusan. Bunda tidak boleh terburu-buru memarahi anak karena itu bisa membuatnya ketakutan. Bunda harus mendekati anak, kemudian dengarkan keluhan dan ceritanya. Ingat, disini Bunda tidak boleh menghakiminya lebih dulu. Biarkan dia menceritakan isi hatinya, dan tanggapi sesuai dengan porsi usianya.

Bunda Juga Harus Bersikap Sabar, Agar Bisa Menjad Contoh Bagi Buah Hati

Perlu Bunda ketahui bahwa anak memiliki kecenderungan untuk meniru apa yang dilihat dan didengarnya. Jika orang-orang di sekitarnya memiliki tingkat emosi yang tinggi, maka sangat mungkin anak pun akan cenderung berprilaku agresif. Hal itu karena dia akan meniru apa yang dilihat dan didengarnya. Untuk itu, Bunda perlu menampilkan perilaku-perilaku positif. Selain hal itu baik untuk diri Bunda sendiri, memberikan contoh perilaku positif juga akan sangat baik untuk perkembangan buah hati.

Yakinkan Anak Bahwa Bunda Begitu Menyayanginya

Langkah selanjutnya yang harus Bunda lakukan saat anak berperilaku agresif adalah yakinkan dirinya bahwa Bunda merupakan orangtua yang baik dan selalu menyayanginya. Ini sangatlah penting untuk Bunda lakukan karena bukan tidak mungkin perilaku agresif yang ditunjukannya adalah karena kurangnya perhatian yang Bunda berikan.

Bagaimana Pun Bunda Tetap Harus Bersikap Tenang

Memang Bun, bersikap tenang merupakan hal yang cukup sulit karena biasanya emosi orangtua sudah ikut terpancing saat anak bersikap agresif. Namun cara ini tidak menyelesaikan masalah, justru biasanya akan semakin menambah keruh masalah yang ada. Perilaku agresif anak belum tentu mereda tapi Bunda sendiri sudah hilang kesabaran.

Untuk itu, usahakan bersikap tenang saat menghadapi anak yang berperilaku agresif. Mungkin Bunda marah dan jengkel, bahkan kalau perilaku agresif itu dilakukan di depan banyak orang, bisa membuat Bunda merasa tak enak. Namun, demi kebaikan Bunda dan juga si kecil, maka bersikaplah tenang saat menghadapinya.

Jika Anak Bertingkah Agresif Saat Di Sekolah, Ada Baiknya Orangtua Dan Guru Sepakat Untuk Memberi Hukuman Yang Mendidik

Jika perilaku agresif anak terjadi di sekolah, guru dapat memberikan hukuman yang sesuai dengan kesalahan yang telah diperbuat anak. Hal penting yang harus diperhatikan dalam hal ini adalah antara orangtua dan guru sudah sama-sama memahami bahwa hukuman tersebut bukan untuk menakut-nakuti anak, tapi mendidik anak dan kebaikannya. Hal ini sangat penting agar tidak ada salah paham antara orangtua dengan guru.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Jangan Langsung Memberinya Cap Nakal Saat Anak Berperilaku Agresif, Ketahui Dulu Penyebabnya Bun

Anak-anak biasanya memiliki emosi yang belum stabil. Saat dia sedang senang, marah, ataupun segala kondisi hatinya, maka saat itu juga dia langsung mengekspresikannya. Bahkan terkadang perilaku agresifnya itu, ditunjukan anak di depan orang banyak. Dia akan berteriak-teriak atau melempar benda apa saja yang ada di sekitarnya. Ini merupakan salah satu tanda-tanda perilaku agresif pada anak. Tapi sebenarnya apa penyebab anak bertingkah agresif?

Anak Bersikap Agresif Untuk Menarik Perhatiannya Orangtuanya

Jika Bunda menemukan anak berperilaku agresif, maka coba menilai diri sendiri. apakah selama ini Bunda sudah memberikan perhatian yang cukup untuknya? Jika belum, maka bisa jadi penyebab perilaku agresifnya adalah karena kurangnya perhatian dari Bunda. Perilaku agresif tersebut dilakukan oleh anak untuk menarik perhatian Bunda sebagai orangtuanya. Sebagai contoh jika seharian Bunda tidak peduli terhadap kondisi anak Bunda, maka jangan heran jika suatu waktu dia akan merusak peralatan yang ada di rumah. ini sebagai cara anak agar Bunda memperhatikannya. Selain itu, perilaku agresif juga bisa menjadi sarana untuk menguji ketulusan Bunda terhadap si kecil.

Karena Kecewa Pada Orangtuanya

Faktor lain yang juga menjadi penyebab perilaku agresif pada anak adalah karena rasa kecewa. Ada banyak hal yang bisa memunculkan rasa kecewa pada anak. Misalnya Bunda tidak memenuhi keinginannya, kehadiran adiknya yang baru, berpisah dari anggota keluarga, perceraian orangtua, hadirnya orangtua tiri, dan lain sebagainya. Kondisi-kondisi tersebut termasuk sesuatu yang tidak mengenakan bagi si kecil. Untuk itu, dia akan mengekspresikan rasa kecewanya tersebut melalui perilaku agresifnya.

Dapat Juga Terjadi Karena Buah Hati Tidak Berani Mengungkapkan Isi Hatinya

Entah karena sering mendapatkan marah dari orangtua atau karena sebab lain, beberapa anak tidak memiliki keberanian yang cukup untuk menyampaikan isi hatinya. Akibatnya dia melampiaskannya lewat perilaku agresif. Tentu bila si kecil bersikap agresif karena alasan ini, maka Bunda harus mengajaknya berbicara dari hati ke hati. Dengan demikian, dia akan merasa lega dan tak akan bertingkah agresif lagi.

Atau Karena Anak Merasa Orangtuanya Tidak Bersikap Adil Padanya

Faktor yang lainnya yang juga bisa membuat anak berperilaku agresif adalah karena merasa diperlakukan tidak adil. Mungkin dia tidak melakukan sebuah kesalahan karena kesalahan itu sebenarnya dilakukan oleh orang lain, tapi kenyataannya dialah yang disalahkan oleh orangtuanya. Hal ini pun bisa memunculkan perilaku agresif pada anak. Lantaran anak merasa bahwa dirinya tidak bersalah, namun dia sendiri tidak berani untuk mengungkapkannya. Sehingga sebagai pelampiasannya, dia akan berperilaku agresif. Cara ini dianggap tepat untuk melampiaskan rasa kecewa atau kemarahannya.

Bisa Jadi Karena Keinginannya Tidak Dipenuhi Orangtuanya

Dan penyebab yang berikutnya anak yang berperilaku agresif adalah karena orangtua tidak memenuhi keinginannya. Anak-anak seringkali memiliki keinginan yang banyak sekali, dan ternyata tidak semua keinginan tersebut bisa dipenuhi oleh orang tuanya. Hal ini tentunya bisa memunculkan rasa kecewa dan marah dalam diri anak. Dan sebagai pelampiasannya, maka anak pun akan berperilaku agresif.

Di atas adalah beberapa faktor yang menyebabkan perilaku agresif pada anak. Faktor-faktor di atas dapat menjadi panduan bagi Bunda saat menghadapi anak yang berperilaku agresif, baik di rumah maupun di tempat-tempat umum. Dan jika anda saat ini sedang Bunda untuk mengatasi perilaku anak yang agresif, maka kunci awal yang harus dilakukan adalah bersikap tenang. Berusaha untuk tenang saat menghadapi perilaku agresif anak adalah cara yang sangat tepat. Dengan begitu Bunda bisa menentukan langkah selanjutnya untuk mengatasi perilaku agresif tersebut.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Share

To Top