Kesehatan

Mengetahui Tahapan Tumbuh Kembang Anak Membantu Orangtua Mengoptimalkan Tumbuh Kembang Anak, Ini Tahap Tumbuh Kembang Anak

mengoptimalkan perkembangan anak

Menyimak tahap tumbuh kembang anak si buah hati secara seksama tentunya akan menjadi suatu hal yang berkesan untuk  orang tua, karena di setiap tahap  usianya orang tua akan melihat proses perkembangan yang berbeda-beda dan sangat menakjubkan.

mengoptimalkan perkembangan anak Mengetahui tahapan tumbuh kembang anak dapat membantu  orang tua mengoptimalkan tumbuh kembang anak. Simak 2 hal yang  harus dipahami orang tua untuk mengoptimallkan tumbuh kembang anak.  Setelah mengetahui hal tersebut, berikut Tahap  Tumbuh Kembang Anak pada setiap usianya :

Tahap Tumbuh Kembang Anak Usia 1 bulan

  • Di hari-hari pertama setelah kelahiran, bayi belum bisa membuka matanya. Namun setelah berjalan beberapa hari kemudian, ia akan bisa melihat pada jarak 20 cm.
  • Bulan pertama ini bayi akan memulai adaptasinya dengan lingkungan baru
  • Memiliki gerakan refleks alami.
  • Memiliki kepekaan terhadap sentuhan.
  • Secara refleks kepalanya akan bergerak ke bagian tubuh yang disentuh.
  • Sedikit demi sedikit sudah bisa tersenyum.
  • Komunikasi yang digunakan adalah menangis. Arti dari tangisan itu sendiri akan Anda ketahui setelah mengenal tangisannya, apakah ia lapar, haus, gerah, atau hal lainnya.
  • Peka terhadap sentuhan jari yang disentuh ke tangannya hingga ia memegang jari tersebut.
  • Tiada hari tanpa menghabiskan waktunya dengan tidur.

Tahap Tumbuh Kembang Anak Usia 2 bulan

  • Sudah bisa melihat dengan jelas dan bisa membedakan muka dengan suara.
  • Bisa menggerakkan kepala ke kiri atau ke kanan, dan ke tengah.
  • Bereaksi kaget atau terkejut saat mendengar suara keras.

Tahap Tumbuh Kembang Anak Usia 3 bulan

  • Sudah mulai bisa mengangkat kepala setinggi 45 derajat.
  • Memberikan reaksi ocehan ataupun menyahut dengan ocehan.
  • Tertawanya sudah mulai keras.
  • Bisa membalas senyum di saat Anda mengajaknya bicara atau tersenyum.
  • Mulai mengenal ibu dengan penglihatannya, penciuman, pendengaran, serta kontak.

Tahap Tumbuh Kembang Anak Usia 4 bulan

  • Bisa berbalik dari mulai telungkup ke terlentang.
  • Sudah bisa mengangkat kepala setinggi 90 derajat.
  • Sudah bisa menggenggam benda yang ada di jari jemarinya.
  • Mulai memperluas jarak pandangannya.

Tahap Tumbuh Kembang Anak Usia 5 bulan

  • Dapat mempertahankan posisi kepala tetap tegak dan stabil.
  • Mulai memainkan dan memegang tangannya sendiri.
  • Matanya sudah bisa tertuju pada benda-benda kecil.

Tahap Tumbuh Kembang Anak Usia 6 bulan

  • Bisa meraih benda yang terdapat dalam jangkauannya.
  • Saat tertawa terkadang memperlihatkan kegembiraan dengan suara tawa yang ceria.
  • Sudah bisa bermain sendiri.
  • Akan tersenyum saat melihat gambar atau saat sedang bermain.

Tahap tumbuh Kembang Anak Usia 7 bulan

  • Sudah bisa duduk sendiri dengan sikap bersila.
  • Mulai belajar merangkak.
  • Bisa bermain tepuk tangan dan cilukba.

Tahap Tumbuh Kembang Anak Usia 8 bulan

  • Merangkak untuk mendekati seseorang atau mengambil mainannya.
  • Bisa memindahkan benda dari tangan satu ke tangan lainnya.
  • Sudah bisa mengeluarkan suara-suara seperti, mamama, bababa, dadada, tatata.
  • Bisa memegang dan makan kue sendiri.
  • Dapat mengambil benda-benda yang tidak terlalu besar.

Tahap Tumbuh Kembang Anak Usia 9 bulan

  • Sudah mulai belajar berdiri dengan kedua kaki yang juga ikut menyangga berat badannya.
  • Mengambil benda-benda yang dipegang di kedua tangannya.
  • Mulai bisa mencari mainan atau benda yang jatuh di sekitarnya.
  • Senang melempar-lemparkan benda atau mainan.

Tahap Tumbuh Kembang Anak Usia 10 bulan

  • Mulai belajar mengangkat badannya pada posisi berdiri.
  • Bisa menggenggam benda yang dipegang dengan erat.
  • Dapat mengulurkan badan atau lengannya untuk meraih mainan.

Tahap Tumbuh Kembang Anak Usia 11 bulan

  • Setelah bisa mengangkat badannya, mulai belajar berdiri dan berpegangan dengan kursi atau meja selama 30 detik.
  • Mulai senang memasukkan sesuatu ke dalam mulut.
  • Bisa mengulang untuk menirukan bunyi yang didengar.
  • Senang diajak bermain cilukba.

Tahap Tumbuh Kembang Anak Usia 12 bulan

  • Mulai berjalan dengan dituntun.
  • Bisa menyebutkan 2-3 suku kata yang sama.
  • Mengembangkan rasa ingin tahu, suka memegang apa saja.
  • Mulai mengenal dan berkembang dengan lingkungan sekitarnya.
  • Reaksi cepat terhadap suara berbisik.
  • Sudah bisa mengenal anggota keluarga.
  • Tidak cepat mengenal orang baru serta takut dengan orang yang tidak dikenal/asing.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

10 Cara Orang Tua untuk Menanamkan Karakter Anak yang Rajin pada Si Kecil Sedari Dini

Orangtua tentu sangat bahagia jika memiliki anak yang rajin dalam belajar, beribadah serta menyelesaikan tugas rumah. Kenyataannya tidak semua si kecil senang belajar bahkan beribadah. Maka, di sinilah peran Ayah dan Bunda sebagai orangtua dibutuhkan. Kita memiliki tanggung jawab untuk mengarahkan dan membimbing mereka ke sikap yang baik. Mengajari mereka sebagaimana yang kita inginkan. Agar punya acuan tentang bagaimana cara menanamkan karakter anak yang rajin pada si kecil, inilah yang perlu kita lakukan. 

Cara Orangtua Menumbuhkan Pribadi Anak yang Rajin Belajar dan Beribadah 

Rajin belajar tidak hanya bermanfaat di waktu kecil namun juga saat anak dewasa. Rajin beribadah selain mendapat pahala, Allah SWT akan memberikan kebaikan di dunia dan akhirat. Karena hal ini, si kecil yang rajin adalah anugerah terindah untuk orang tua. 

Meskipun begitu, jika sekarang si kecil masih sering malas, sebaiknya orang tua menerapkan langkah berikut:

1. Berikan Waktu Anak Melakukan Hobi untuk Menyalurkan Minat yang Dimilikinya

Semua anak memiliki minat masing-masing. Orang tua tidak boleh menghalangi dan memaksakan keinginan pada anak, apalagi yang berbanding terbalik dengan hobi si kecil. Belajar memang kegiatan yang penting sekali. 

Namun, selama melakukan hobi anak juga dapat mempelajari hal baru. Jadi, tidak hanya belajar di sekolah atau les yang memberikan tekanan pada anak. Memforsir anak belajar terus menerus meningkatkan stress, berikutnya anak akan malas belajar. 

2. Mulailah Mengajarkan si Kecil untuk Membuat Jadwal Kegiatan dan Rutinitasnya

Membuat jadwal rutinitas juga cara yang bagus untuk meningkatkan sifat rajin anak. Sebab, dengan adanya daftar kegiatan si kecil lebih mudah fokus pada satu per satu jadwal. Tidak terburu-buru, lebih tenang selama menyelesaikannya.

Selesai satu kegiatan, anak bisa lanjut ke aktivitas berikutnya. Tidak perlu ada paksaan dari orang tua, tetapi harus menanamkan pemahaman agar si kecil dapat mengikuti jadwal tersebut. Sebaiknya libatkan anak dalam mengatur jadwal harian. 

3. Latih Kedisiplinan Anak dengan Memberinya Beberapa Aturan yang Perlu Dilakukan dan Tak Boleh Dilanggar

Anak yang disiplin biasanya rajin karena berusaha mengisi waktu dengan baik. Rajin beribadah biasanya dimulai dari pemahaman kedisiplinan. Apalagi shalat memiliki waktu khusus, didik anak mengerjakannya tepat waktu. 

Orang tua juga harus disiplin, bukan hanya si kecil saja. Sebab, anak akan meniru perilaku orang tuanya. Ingatkan anak untuk mengerjakan tugas sekolah dan beribadah tepat waktu. Boleh juga memberikan pilihan bermain dulu atau menyelesaikan tugas lebih dulu.

4. Berikan Anak Apresiasi untuk Membuatnya Merasa Dihargai Atas Upaya yang Sudah Dilakukan

Saat anak berhasil melakukan yang terbaik, beri dia pujian. Sampaikan bahwa orang tua senang anak rajin dan itu perilaku yang luar biasa. Si kecil merasa dihargai bahwa kegiatan dilakukan selama ini tidak sia-sia. 

Sesekali beri anak hadiah berupa makanan atau barang sesuai keinginan. Ajak si kecil ke toko buku jika orang tua ingin menghadiahkan buku cerita tentang rajin. Hadiah lain seperti menambah sekitar 30 menit jadwal bermain anak dibandingkan biasanya. 

5. Jangan Terlalu Memaksa Anak, Cobalah Ikuti Perubahan Sikap dan Keinginannya Sembari Tetap Diarahkan 

Menumbuhkan sifat rajin tidak dapat dilakukan sekejap mata. Semua butuh proses apalagi si kecil yang belum sepenuhnya paham pentingnya perilaku rajin dalam hidup. Tidak perlu memaksa anak untuk langsung mematuhi perkataan orang tua.

Si kecil butuh adaptasi perlahan-lahan sampai dia senang menerapkannya dalam hidup. Orang tua perlu terus mendorong anak rajin belajar dan beribadah. Misalnya, bertanya tentang sekolahnya atau hal yang baru ditemuinya di lingkungan.

6. Jangan Jadi Orangtua yang Hanya Fokus Pada Nilai Saja 

Semua orang berhak memiliki nilai jelek dalam mata pelajaran. Bukan hanya anak kecil  bahkan remaja pun pernah mengalaminya. Tidak perlu marah karena nilai si kecil turun agar dia tidak putus asa. Seharusnya orang tua bicarakan dengan baik sampai anak paham kesalahannya. 

Orang tua juga penting memperhatikan kemampuan anak, mungkin dia memang kesulitan di mata pelajaran itu. Bantu anak saat kesulitan tetapi bukan langsung mengerjakan tugasnya. Ajarkan langkah sampai si kecil bisa mandiri. 

7. Berilah Si Kecil Dukungan untuk Tumbuh Jadi Anak yang Rajin Seperti yang Orangtua Inginkan

Dukungan sangat dibutuhkan anak yang rajin untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Meskipun saat ini ia malas, tidak boleh membentak agar ia rajin. Mungkin saja si kecil sedang ada masalah sendiri yang sulit diutarakan. Orang tua harus mendekati anak untuk mengetahui penyebabnya.

Dukungan penting sekali bagi pola pikir anak. Sebab tanpa dukungan, si kecil merasa tidak termotivasi untuk belajar dan beribadah. Juga mampu meningkatkan rasa tanggung jawab pada diri anak untuk melakukan sebelum disuruh orang tua.

8. Tak Hanya Jadi Orangtua yang Memberi Perintah, Ayah dan Bunda Juga Harus Jadi Pendengar yang Baik Untuknya 

Meskipun masih kecil, terkadang anak juga memiliki masalah dengan temannya, perlakuan orang lain yang tidak menyenangkan dan hal lainnya. Mungkin juga anak membutuhkan sesuatu agar memudahkan proses belajarnya. 

Ajari anak untuk berani mengungkapkan segala hal pada orang tua. Tidak perlu takut menjelaskan apa yang dirasakan atau kebutuhannya. Orang tua juga harus menjadi pendengar yang baik, jangan langsung menghakimi sebelum si kecil selesai bercerita.

9. Jadi Sosok Teladan yang Bisa Dicontoh Oleh Si Kecil di Rumah

Jika orangtua ingin anaknya rajin tentu harus memperlihatkan perilaku rajin juga. Jika melakukan tindakan bertentangan dengan didikan, anak akan berpikir bahwa pengajaran orang tua tidak terlalu penting. Selanjutnya dia akan malas mengikuti. 

Ayah dan ibu harus kompak dalam mendidik. Si kecil lebih mudah menurutinya dibandingkan orang tua plin plan. Tanpa memberikan contoh teladan, sangat sulit mendapatkan anak melakukan semua hal baik yang sudah diajarkan.

10. Berikan Anak Penjelasan Tentang Keuntungan, Jika Ia Jadi Anak yang Rajin Belajar dan Beribadah 

Sampaikan keuntungan belajar dan beribadah agar dia termotivasi untuk lebih rajin. Gunakan kata yang mudah dimengerti, lembut dan tidak memaksa. Hindari bentakan saat anak mungkin sibuk pada kegiatannya selama orang tua menjelaskan. Itulah 10 hal yang harus dilakukan orang tua untuk menumbuhkan perilaku anak yang rajin. Tanggung jawab orang tua sangat penting dalam menumbuhkan karakter rajin dalam segala kegiatan bermanfaat. Ajarkan dari kecil agar saat dewasa tetap mempraktikkan tanpa suruhan orangtua.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Inilah yang Wajib Bunda Lakukan Agar Si Kecil Jadi Anak Kuat Mental Sejak Kecil

Amy Morin, seorang psikoterapi dan pengajar di Massachusetts, AS dan telah mempublikasikan buku-buku terkait kekuatan mental. Mengatakan bahwa kekuatan mental bukanlah mengenai berpura-pura kuat atau menekan emosi yang dirasakan. Bukan juga terlihat tak punya belas kasih atau bersikap menantang. Alih-alih, anak-anak yang secara mental kuat adalah anak-anak yang tabah, memiliki keberanian dan percaya diri dalam mencapai potensi terbaik mereka.

Untuk itu, sayangianak.com sudah merangkum beberapa cara agar anak kuat mental yang bisa kita lakukan di rumah untuk mendukung proses tumbuh kembang si kecil agar memiliki mental yang kuat. 

Dukungan dan Dorongan dalam Cara Agar Anak Kuat Mental yang Orangtua Bisa Lakukan

Kekuatan mental masing-masing anak tentunya berbeda-beda. Walaupun terlihat baik-baik saja bisa saja saat ini anak sedang mengalami penurunan rasa percaya diri, sebagai orangtua tentu harus peka terhadap hal tersebut. Jangan sampai membuat anak memiliki lemah mental. 

1. Mulai Mengajarkan si Kecil Beberapa Keterampilan yang Spesifik 

Biasanya ketika anak-anak memiliki keterampilan lebih spesifik maka ia akan memiliki kekuatan mental yang lebih bagus.Mulanya cobalah untuk meminta si kecil menyelesaikan masalahnya sendiri misalnya saja mengontrol keinginan sesaatnya. Dengan cara itu ia akan lebih bisa jadi pribadi disiplin. 

Selain itu keterampilan spesifik biasanya dapat membuat si kecil jadi lebih produktif. Setiap hari ada saja pengembangan yang dapat dilakukannya. Sebagai orangtua tentu sangat penting memantau si kecil agar dapat mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Situasi sulit bisa dihadapi bersama-sama.

2. Anak-anak Masih dalam Proses Belajar, Tidak Apa-apa Jika Anak Berbuat Kesalahan 

Ketika si kecil membuat kesalahan jangan langsung dibentak atau dimarahi. Membuat kesalahan adalah hal wajar bisa terjadi pada siapa saja dan kapan saja, jadi bukan hal yang harus dibesar-besarkan. Buatlah anak paham bahwa kesalahan adalah hal yang biasa terjadi dalam sebuah kehidupan. 

Ketika anak mendapatkan perlakuan tetap hangat seperti itu maka anak tidak akan merasa malu saat melakukan kesalahan. Namun perlu disadari jika si kecil juga harus memberikan solusi misalnya memberi tahu jika sebenarnya lebih baik mengerjakannya dengan cara lain. 

3. Ajak Anak untuk Memahami, Ajarkan si Kecil agar Bisa Berdiskusi dengan Dirinya Sendiri

Tidak banyak orangtua yang mengajarkan hal ini kepada anaknya. Membuat mereka bisa mendiskusikannya dengan diri sendiri, membayangkan rencana apa harus dijalani juga resiko atau kegagalan yang akan dihadapi sebelum atau saat akan melakukannya. Bunda perlu mengajarinya. 

Bunda bisa mengajarkan si kecil bagaimana cara melakukan pertimbangan yang harus dilakukan. Misalnya saja saat akan membeli peralatan sekolah yang sedang dia butuhkan. Si kecil dapat mempertimbangkan aspek fungsional di jangka waktu panjangnya tidak hanya estetikanya saja.

4. Mengajarkannya untuk Berani Melawan dan Menghadapi Ketakutan yang Ia Rasakan

Tidak semua anak bisa atau mampu menghadapi ketakutannya. Merasa tidak terlalu pandai menyelesaikan suatu masalah yang dihadapkan kepadanya. Hal ini karena memang tidak ada pelatihan atau edukasi dari orangtuanya. Jadi bukan sepenuhnya salah dari anaknya. 

Oleh karenanya jika ingin anak mampu menghadapi ketakutannya cobalah memberikan ruang untuknya. Misalnya membiarkannya mengambil keputusan atas sesuatu yang terjadi di kehidupannya. Namun tetap dengan pengawasan dari Ayah atau Bundanya. Walau sulit namun harus dilakukan. 

5. Melatih Mentalnya dengan Membiarkan Anak Berada dalam Suasana Tidak Nyaman 

Untuk membentuk mental si kecil Bunda harus menghadapkannya pada situasi yang tidak menyenangkan. Usahakan jangan bantu si kecil ketika ia sedang menghadapi kesulitan. Jika terus dibantu yang ada mentalnya tidak akan berkembang, justru membuatnya mudah putus asa. 

Biarkan saja si kecil mengalami kesulitan, perasaan tidak nyaman atau kekalahan. Perasaan gagal inilah yang akan membentuk anak agar mentalnya semakin terasah, juga membuat pola pikirnya semakin maju. Sebab ia akan memikirkan bagaimana agar bisa keluar dari zona tidak nyaman ini. 

6. Lakukan Semua Hal Baik yang Mendukung Pembentukan Karakternya 

Salah satu faktor dari keberhasilan membuat anak memiliki mental yang kuat adalah dengan membantunya bekerja keras menanamkan nilai-nilai moral kepada si kecil. Bangun karakternya dari kecil agar membentuk sebuah kebiasaan baru yang bagus. Tekankan juga rasa kemanusiaan ke sesama. 

Jika si kecil hanya dilatih mentalnya saja tanpa ada rasa kemanusiaan di dalamnya maka hanya akan membuatnya jadi pribadi yang keras hati. Semuanya harus seimbang agar besar nanti si kecil tetap bisa beradaptasi dengan lingkungan secara baik. Tanpa mengabaikan sisi kemanusiaan.

7. Menjadi Role Model bagi Anak-anak 

Agar si kecil bisa tumbuh jadi orang yang kuat mentalnya, percaya diri dengan apa yang ia miliki tentu ia harus punya contoh. Disinilah peran orangtua sangat penting. Ayah dan Bunda harus mampu menjadi role model bagi si kecil, bagaimana cara menghadapi kesulitan dan melewatinya. 

Lingkungan terdekat si kecil itulah yang akan menjadi panutannya. Istilah ‘buah jatuh tidak jauh dari pohonnya’ memang benar adanya. Jadi jika ingin si kecil punya mental baja, orangtuanya juga harus memiliki sikap demikian. Bukan justru sebaliknya, misalnya lari dari ketakutannya sendiri. 

8. Berserah Diri Akan Hasil Akhir Bagaimana Karakter Anak Kepada Tuhan 

Terakhir, setelah semua upaya dan usaha dilakukan tinggal berserah diri pada Tuhan. Karena yang namanya manusia pasti tidak punya daya upaya hanya bisa berencana saja, hasil akhir serahkan semua nya kepada Tuhan. Sambil terus berusaha dan berdoa semoga si kecil tumbuh dengan mental yang kuat

Anak dalam masa perkembangannya tentu mengalami beragam emosi saat menghadapi aktivitas sehari-harinya. Peran orangtua disini sangat besar dalam memberikan pengarahan bagi si kecil, menghiburnya dan menenangkannya agar tidak terlalu ambil hati terhadap kejadian tersebut. 

Melatih mental anak bukanlah pekerjaan mudah. Harus ada proses panjang agar si kecil bisa membangun karakter juga mentalnya dengan sempurna. Mental yang sehat tentu aset berharga bagi si kecil untuk dapat hidup dengan bahagia.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Kesehatan

Cara Memahami Gangguan Perkembangan Balita pada Usia 5 Tahun yang Biasanya Dialami si Kecil

Karena kita adalah orangtua, maka sudah selayaknya tahu dan mampu memantau perkembangan dan tumbuh kembang anak kita. Dengan begitu, ketika ada kemampuan yang umumnya sudah dilakukan anak seusianya, namun ia belum bisa, kita tahu mungkin ada sesuatu yang salah. Perkembangan anak usia 5 tahun tentu sudah lebih baik dibandingkan usia sebelumnya, karena fase ini adalah masa terakhir menjadi balita. Namun, beberapa anak ada juga yang mengalami gangguan perkembangan balita pada usia 5 tahun karena beberapa faktor. Penting untuk mengetahui fase dan tahapannya.

Berikut Ini adalah Tahapan Perkembangan Anak di Usia 5 Tahun yang Bisa Jadi Acuan

Pada umumnya, anak usia 5 tahun biasanya sudah memasuki sekolah TK. Mereka sudah mampu melakukan banyak aktivitas baik dari segi kemampuan motorik, berbicara, berinteraksi sosial, dan lainnya. Berikut ini tahap perkembangan anak di usia 5 tahun yang perlu Bunda ketahui, di antaranya:

  1. Kemampuan Motorik Halus, Ia Sudah Bisa Menyalurkan Imajinasinya 

Kemampuan motorik halus anak bisa dilihat dari bentuk gambar anak yang sudah lebih terlihat bentuknya dan tidak lagi berupa coretan biasa. Pakan anak di usia ini juga sudah bisa meniru gambar orang lain dengan bentuk yang beragam seperti kotak, lingkaran, segitiga, dan lainnya.

Kreativitas anak baik dalam gambar maupun mewarnai sudah terlihat lebih bagus dan rapi. Mereka sudah memiliki kemampuan untuk menyalurkan imajinasinya ke dalam bentuk gambar. Kreativitasnya juga mulai terasa dan sudah bisa menyusun balok, Lego, istana pasir, dan permainan lainnya.

  1. Kemampuan Motorik Kasar, Fase Dimana si Kecil Sudah Mampu Melakukan Aktivitas Fisik yang Cukup Berat

Kemampuan motorik kasar di usia ini biasanya dilihat dari aktivitas fisik di mana anak semakin aktif bergerak. Mereka akan lebih banyak berlari, meloncat, memanjat, dan kegiatan lainnya yang mengBundalkan pergerakan tangan dan kaki. Anak sedang di fase ingin mengeksplor banyak hal dan kritis. 

Di usia ini, anak juga sudah bisa menyeimbangkan tubuhnya hingga 6 detik dengan mengangkat satu kaki saja. Mereka terkadang juga bisa melakukan pergerakan seperti jungkir balik, loncat-loncat, dan bahkan terkesan pecicilan. Biarkan anak tetap bergerak aktif sesukanya asal masih dalam pengawasan.

  1. Kemampuan Bahasa dan Komunikasi, Jangan Heran Jika si Kecil Mulai Banyak Tanya

Bunda jangan kaget ketika anak mulai bertanya banyak hal di usia 5 tahun karena rasa penasaran yang sangat tinggi. Bahkan hal sepele pun mereka tanyakan. Meskipun terkadang harus menguji kesabaran ketika menjawab pertanyaannya, namun ini merupakan pertanda kemampuan bahasanya semakin baik. 

Anak banyak bertanya karena ingin mendapat jawaban dari rasa ingin tahunya yang semakin tinggi. Kosakata dan pelafalan yang dikuasai oleh anak juga semakin mudah dimengerti. Makan anak-anak di usia ini pada umumnya sudah bisa menceritakan kembali kisah yang pernah didengarnya.

  1. Kemampuan Sosial dan Emosional, Ia Sudah Bisa Memahami Aturan 

Anak di usia 5 tahun biasanya sudah semakin mandiri dan mahir melakukan kegiatan sendiri. Contohnya seperti bermain papan interaktif, mengambil pensil dan buku, memakai dan melepas baju, memahami aturan permainan, membaca, menulis, dan lain sebagainya.

Bahkan bakat anak seperti menyanyi, berakting, dan menarik juga sudah mulai terlihat di usia ini. Saat diajak bermain pun anaknya juga sudah bisa kooperatif dengan temannya. Mereka juga mampu berinteraksi sosial dengan baik dan paham bagaimana cara mengendalikan emosi.

Beberapa Gangguan Perkembangan Balita pada Usia 5 Tahun

Tidak semua anak mengalami fase perkembangan yang sama seperti anak pada umumnya. Ada beberapa anak yang mengalami keterlambatan baik dari segi komunikasi maupun fisik dan mental. Berikut ini beberapa gangguan perkembangan yang bisa dialami oleh anak usia 5 tahun, di antaranya:

  1. Anak Belum Bisa Berbicara dan Belum Bisa Menyampaikan Isi Pikirannya dengan Baik

Dalam beberapa kasus ada anak yang sudah berusia 5 tahun namun masih belum mampu berbicara dengan kosakata yang jelas dan mudah dipahami oleh orang dewasa. Jika melihat perkembangan anak yang seharusnya di usia 5 tahun, maka ini bisa disebut sebagai salah satu gangguan perkembangan.

Bahkan untuk mengucapkan kata-kata sederhana saja mereka masih kesulitan. Apalagi jika harus menyusun struktur kalimat dengan baik dan benar atau mendeskripsikan sesuatu. Itulah mengapa penting sekali untuk menstimulasi kemampuan berbicara anak bahkan sejak mereka lahir.

  1. Sulit Konsentrasi dan Selalu Melakukan Hal-hal yang Berbeda dari Kegiatan yang Seharusnya

Saat memasuki usia 5 tahun, orang tua biasanya sudah mulai menyekolahkan anak mereka. Namun, ada beberapa anak yang masih sulit untuk konsentrasi bahkan ketika mereka belajar. Anak yang mengalami gangguan seperti ini biasanya akan sibuk dan asyik dengan dunianya sendiri.

Mereka cenderung tidak peduli dengan apa yang terjadi di sekitarnya, sulit diajak berkomunikasi karena tidak melakukan kontak mata. Anak-anak dengan gangguan ini juga biasanya mudah tantrum dan agresif ketika apa yang diinginkan tidak dipenuhi oleh orang-orang di sekitarnya.

  1. Kemampuan Motorik Kurang, Seperti Belum Bisa Memakai Sepatu Sendiri

Anak-anak di usia 5 tahun cenderung sangat aktif dan senang mengekspor banyak hal karena rasa ingin tahunya sangat tinggi. Namun, dalam beberapa kasus ada anak yang tidak memiliki ketertarikan untuk melakukan aktivitas yang melatih motorik halus maupun kasar.

Contohnya seperti menggambar atau menulis, belajar memakai pakaian sendiri, menalikan sepatu, dan lain sebagainya. Anak cenderung lebih banyak diam dan pasif dalam banyak hal. Bunda bisa mengatasinya dengan cara menstimulasi dengan permainan-permainan yang melatih kreativitas. 

  1. Tidak Bisa Berinteraksi Dengan Orang Lain Termaksud pada Ayah dan Bundanya

Saat mendapatkan teman baru, anak-anak biasanya akan merasa senang dan antusias. Apalagi saat mereka sudah memasuki usia sekolah. Si kecil biasanya lebih senang bermain dengan temannya dan mulai bisa melakukan berbagai aktivitas mandiri. Ketika sekolah mereka pun sudah bisa ditinggal. 

Namun, ada beberapa anak yang mengalami kesulitan berinteraksi sosial dengan teman-temannya. Mereka cenderung pendiam, penakut, dan bahkan agresif ketika ditinggal oleh orang tuanya. Dalam hal ini, Bunda harus sering melatih anak untuk berinteraksi dengan banyak orang.Gangguan perkembangan balita pada usia 5 tahun seperti disebutkan di atas memang bisa dialami oleh siapa saja. Sebagai orang tua tentu penting sekali untuk memahami bagaimana tumbuh kembang anak yang seharusnya agar bisa mengetahui apakah ada indikasi gangguan pada si kecil atau tidak.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Share

To Top