Kesehatan

Tahap Perkembangan Anak 0 -5 tahun: Tahap Perkembangan 0 – 11 Bulan

mengoptimalkan perkembangan anak

Dengan melihat kondisi pertumbuhan bayi baru lihat hingga usia bayi tiga tahun, Anda tentu akan mengerti pertumbuhan apa saja yang terjadi pada si kecil.

Silakan cek kondisi pertumbuhan bayi Anda hingga usia tiga tahun agar Anda lebih siap dalam merawatnya.

Bulan Pertama Masa Pertumbuhan Batita

Usia 0 Bulan
Ketika bayi baru lahir, menangis merupakan respons alami bayi karena menyesuaikan terhadap lingkungannya yang baru.
tahap-perkembangan-anak-3

Pada wajah dan mata si kecil kemungkinan akan terlihat sedikit bengkak saat jam-jam pertama. Si kecil pun memiliki sejumlah refleks ‘primitif’, termasuk mengisap, menggenggam dan mencari puting.

Usia 1 Bulan
Saat berumur sebulan, si kecil akan sangat suka tidur. Namun, ia memerlukan beberapa waktu sebelum dapat membedakan pagi dan malam. Sebab, pigmen mata bayi belum berkembang sempurna dan warnanya akan berubah perlahan pada minggu dan bulan-bulan mendatang. Bayi juga menangis jika merasa lapar. Ia juga secara naluri menggenggam jemari Ibunya. Bayi akan kembali ke berat lahirnya saat berumur 10 hari. Berat badannya kemudian akan bertambah secara rutin, jadi ia akan berubah dengan cepat.

Bulan ke-2 Masa Pertumbuhan Batita

Si kecil sudah dapat melihat lebih jauh dan tidak lama lagi ia akan mulai mencoba meraih benda yang ada di dekatnya. Jika ia melihat ibunya pasti ia akan tidak bisa diam dan menggeliat kesenangan. Ketika ia mulai mengenal tangannya, maka ia akan memasukkan tangannya ke dalam mulut.

Bulan ke-3 Masa Pertumbuhan Batita

Bayi mulai memerhatikan dan mendengar suara Ibunya dengan girang melalui ikatan batin. Bayi juga sudah mampu menggenggam mainan walau sebentar. Dalam tahap ini, gerakan si kecil akan mulai lebih disengaja dan ia bahkan mungkin akan mulai berguling dari punggung ke sisinya dan mulai dapat mengendalikan kepalanya seiring menguatnya otot lehernya.

Bulan ke-4 Masa Pertumbuhan Batita

Pada usia ini si kecil mulai sering belajar bermainan dan ‘mengobrol’ dengan orangtuanya. Saat mengenal kedua kakinya, bayi akan memegang dan menghisap kedua kakinya sehingga membuatnya gembira bermain sendiri.

Selain itu si kecil sangat suka belajar soal tekstur dengan mengeksplorasi suatu barang menggunakan mulutnya, bukan tangannya. Setelah tiga bulan, si kecil akan tidur lebih lama pada malam hari dan berkurang pada siang hari.

Bulan ke-5 Masa Pertumbuhan Batita

Bulan kelima ini si kecil akan mulai menghabiskan botolnya dengan cepat sekali jika ia sedang lapar. Secara sosial si buah hati peduli dengan sekelilingnya dan mulai lebih berinteraksi dengan cara mengeluarkan suara dan tawanya.

Si kecil akan tertarik melihat benda kecil dan mencoba meraihnya. Ia juga merespons permainan seperti cilukba dengan kegirangan. Perkembangan fisik yang terjadi pada bulan kelima yaitu si kecil dapat mengangkat kepala sejajar badannya saat memegang tangannya dan menariknya ke posisi duduk.

Bulan ke-6 Masa Pertumbuhan Batita

Si kecil mulai menginisiasi interaksi sosial. Ia akan melambaikan tangannya untuk minta digendong dan tersenyum jika melihat Ibunya. Masa ini adalah masa serba pertama bagi buah hati. Ia sudah mampu duduk tanpa dibantu, merangkak, bahkan mungkin berdiri dengan berpegangan.

Saat si mungil dibaringkan telentang, ia akan mulai mengangkat kepala dan bahunya. Saat dibaringkan tengkurap, ia akan menarik lututnya ke atas, atau menggunakan tangannya untuk mengangkat badan atasnya.

Bulan ke-7 Masa Pertumbuhan Batita

Saat ini si mungil sudah mulai merasakan enaknya makanan padat karena sudah memperlihatkan gigi pertamanya. Ia juga sudah bisa memegang dua benda sekaligus. Emosi secara keseluruhan juga akan muncul, menjadi sangat lengket dengan sang ibu dan akan menangis jika ia tidak menemukan Ibunya di sampingnya.

Pada bulan ketujuh ini buah hati akan mengulang suku kata konsonan seperti ‘bababa’ dan meniup dengan mulut mencibir. Senang pada situasi sosial dengan ditandai melonjak-lonjak kegirangan bila tahu saatnya untuk bermain.

Bulan ke-8 Masa Pertumbuhan Batita

Pada umur delapan bulan, si kecil sudah pandai meniru suara sang ibu dan mulai mengerti nada bicara ibunya dan mungkin akan menangis jika sang ibu marah. Perkembangan motorik yang terjadi pada usia ini ditandai oleh si kecil yang dapat melepas sesuatu dengan sengaja dan dapat memungut benda yang lebih kecil.

Si kecil juga dapat mengingat kejadian yang baru terjadi. Dan secara emosional ia akan menangis karena tidak sabar.

Bulan ke-9 Masa Pertumbuhan Batita

Bayi seusia ini sangat senang mengacak-ngacak untuk mencari mainan dan mengeksplorasinya. Saat giginya mulai tumbuh ia sangat suka sekali menggigit mainan yang keras.

Si kecil juga sudah dapat menikmati segala jenis musik, mulai dari krecekan buatan sendiri hingga nyanyian sang ibu.

Bulan ke-10 Masa Pertumbuhan Batita

Dalam mengembangkan kemampuan menggenggam, mainan menjadi sangat penting untuk menstimulasi otak si kecil. Permainan fisik seperti mengelitik membuat si kecil ketagihan dan berteriak kegirangan.

Beberapa bayi mampu melangkah untuk pertama kalinya sebelum berusia satu tahun, tapi banyak juga yang baru mulai berjalan lama sesudahnya.

Bulan ke-11 Masa Pertumbuhan Batita

Pada masa ini si kecil mulai memperhalus gerakan tangannya. Ia akan mulai menunjuk dan tidak lagi meraup dengan seluruh tangannya, tetapi akan menggunakan jempol dan telunjuknya untuk menjepit.

Si kecil sangat suka mendorong mainannya begitu ia bisa merambat, ia juga akan mulai berputar dan menoleh saat ibunya memanggil namanya.

5 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Cara Menanamkan Rasa Tanggung Jawab Pada Diri Anak

Apakah anak-anak suka melempar kesalahan kepada orang lain ketika berbuat salah? Jika iya, maka anak belum mengerti tentang tanggung jawab. Anak-anak berbuat kesalahan bisa jadi karena mereka tidak tahu konsekuensi dari perbuatannya dan karena belum bisa mengendalikan diri. Untuk menghindari hukuman atau disalahkan, maka anak akan menyalahkan orang lain atau hal lain. Oleh karena itu, orang tua perlu mengajarkan rasa tanggung jawab kepada anak. Jika anak sudah mengerti tentang tanggung jawab, maka anak bisa memilih mana perbuatan yang benar atau salah.

Beri Pemahaman Tentang Tanggung Jawab Kepada Anak

Sebelum melatih anak untuk bertanggung jawab, orang tua perlu menjelaskan kepada anak apa itu tanggung jawab. Misalnya, ketika anak berbuat salah, hindari untuk memarahi atau menyalahkan anak. Sebaiknya hadapi dengan tenang, cari penyebabnya, dan jelaskan kepada anak dimana letak kesalahannya. Setelah itu, jelaskan tentang konsekuensi logis yang harus dilakukan anak.

Konsekuensi logis merupakan bentuk tanggung jawab anak terhadap perbuatannya. Misalnya jika anak memberantakkan kamar maka harus membereskannya. Ingat bahwa konsekuensi berbeda dengan hukuman.

Tumbuhkan Rasa Tanggung Jawab Anak Sejak Dini

Untuk melatih dan menumbuhkan rasa tanggung jawab anak, ayah dan bunda bisa mengajarkannya sejak dini. Berikut beberapa cara dibawah ini :

  1. Mulai Beri Tanggung Jawab untuk Hal Kecil dan Mulai Dari Diri Sendiri

Mengajari tanggung jawab dimulai dari hal sederhana dulu. Misalnya membuang sampah di tempatnya, meletakkan sepatu di rak, merapikan mainan dan kamar sendiri. Biasakan hal-hal tersebut sejak dini, jika anak lupa maka ingatkan dengan kata-kata yang lembut, bukan dengan membentak.

  1. Buat Peraturan Rumah Atas Kesepakatan Bersama

Agar jelas tentang apa saja tanggung jawab anak, maka bisa dengan membuat peraturan rumah. Ketika membuat peraturan libatkan anak, jangan seenak orang tua saja. Tuliskan peraturan dan tanggung jawaba anak dengan jelas. Misalnya harus merapikan kamar sebelum sekolah, menyiapkan keperluan sekolah sendiri, dan lainnya.

  1. Dan Memberi Anak Contoh 

Anak adalah peniru ulung. Jangan hanya memberi nasihat dengan kata-kata, karena anak akan lebih meneladani perilaku orang tua. Jadi, ayah dan bunda juga perlu memberi contoh tentang tanggung jawab dan konsisten melakukannya.

5 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Tumbuh Kembang Setiap Anak Berbeda, Stop Membandingkan Dengan Anak Lain

Sebagai orangtua tentunya kita menginginkan tumbuh kembang yang optimal untuk anak. Namun, terkadang orangtua mengukur tumbuh kembang anak dengan membandingkan dengan anak lain. Hal itu justru akan membuat orangtua khawatir dan merasa insecure jika tumbuh kembang anaknya tidak sama dengan anak lain.

Hal yang sering dibandingkan orangtua misalnya berat badan anak, kapan anak bisa merangkak, berjalan, dan berbicara. Momen saat berkumpul bersama sesama ibu biasanya menjadi waktu di mana bunda sering membandingkan anak dengan anak lain, atau justru ada orang lain yang membandingkan anaknya dengan anak bunda.

Diawali dari obrolan ringan seputar anak berujung dengan membandingkan, misalnya saat ada yang bertanya, “Anakmu sudah bisa apa?” lalu berlanjut dengan membandingkan, “Wah, anakku umur segitu sudah bisa jalan.”

Obrolan-obrolan kecil seperti itu bisa membuat bunda merasa tertekan karena merasa gagal mengasuh anak, lho. Padahal, kecepatan tumbuh kembang setiap anak pasti berbeda-beda. Bunda tidak perlu membandingkan anak bunda dengan anak lainnya, cukup membandingkan dengan kurva pertumbuhan dan perkembangan dari dokter.

Efek Buruk Membandingkan Anak Bagi Ibu

Sering membandingkan anak sendiri dengan anak orang lain mempunyai efek buruk untuk bunda, lho. Hal itu bisa menjadi penyakit yang tidak terlihat. Bunda bisa merasa iri, malu, tidak percaya diri, hingga merasa tertekan dan gagal dalam mengasuh anak. Jika rasa tertekan tersebut terjadi berlarut-larut bunda bisa stres dan depresi.
Oleh karena itu, saat bunda melihat anak lain lebih montok, lebih cepat merangkak, jalan, berbicara, dan lainnya, bunda jangan langsung mengambil kesimpulan bahwa anak bunda kalah atau pertumbuhannya terlambat.

Yang harus bunda lakukan adalah mengukur setiap pertumbuhan dan perkembangannya lalu sesuaikan dengan milestone dan kurva pertumbuhan. Jika bunda merasa ada aspek tumbuh kembang yang terlambat, sebaiknya bunda berkonsultasi langsung kepada dokter agar mendapatkan penjelasan dari ahlinya.

Efek Psikologis Anak yang Sering Dibandingkan

Selain mempunyai efek buruk bagi ibu, sering membandingkan anak juga mempunyai efek negatif bagi anak. Terkadang orangtua berniat memotivasi anak dengan membandingkannya dengan teman sebayanya.

Namun, hal itu bukanlah cara yang tepat untuk memotivasi lho. Setiap anak mempunyai karakter dan talenta yang berbeda-beda, sehingga tidak seharusnya dibanding-bandingkan.

Membandingkan anak membuatnya mengalami stres, rendah diri, kurang percaya diri, dan menarik diri dari lingkungan sosial

Dilansir dari laman beingtheparent.com, sering membandingkan anak mempunyai efek psikologis untuk anak. Anak bisa mengalami stres, rendah diri, kurang percaya diri, dan menarik diri dari lingkungan sosial.

Anak juga akan menjauh dari orangtua jika orangtua terus-terusan membandingkannya dengan orang lain sehingga merasa dirinya tidak berharga di mata orangtuanya.

Oleh karena itu, yuk bunda, kita stop membandingkan anak kita dengan anak lain. Daripada membandingkan, lebih baik bunda fokus untuk menstimulasi setiap aspek tumbuh kembang si kecil, memberikan nutrisi yang terbaik, dan mendukung setiap aktivitas anak.

5 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Supaya Si Kecil Mau Mendengarkan Bunda tanpa Harus Diancam

Bun, saat si kecil tak mau menuruti nasihat orangtua, biasanya hal ini membuat para orangtua kehabisan akal untuk mengendalikan si kecil. Apalagi kalau kondisi orangtua sudah lelah, misalnya baru pulang kerja atau sedang sibuk mengurus adiknya. Akhirnya, alih-alih menasehati, tak sedikit orangtua yang akhirnya mengancam sang anak. Ini karena ancaman, dianggap salah satu cara paling mudah untuk mendapatkan hasil secepat mungkin.

Sebenarnya, kita para orang tua, perlu tahu: ancaman tidak efektif untuk membuat anak menurut. Ya Bun, pasalnya ancaman hanya ampuh sesaat saja tapi tidak untuk jangka panjang.

Lagipula anak yang sering diancam kelak menjadi anak yang terbiasa diancam dulu baru mau melakukan sesuatu. Tentu kebiasaan semacam ini jadi tak mendidik si kecil, kan? Tugas orangtua tak hanya mengasuh si kecil, tapi juga menumbuhkan sifat tanggung jawab dan rasa percaya diri padanya. Lantas bagaimana solusinya, Bun?

Adele Feber, seorang penulis buku berjudul How to Talk so Kids Will Listen and Listen so Kids Will Talk menyampaikan tiga tips ini, Bun.

Berikan Pilihan Padanya dan Jangan Mengekangnya

Berikan pilihan yang mudah dipahami oleh anak. Misalnya, “Rapikan mainanmu sekarang supaya kamu masih punya waktu nonton televisi sebelum tidur, atau rapikannya nanti saja tapi kamu enggak nonton televisi sama sekali.” Dengan memberikan pilihan, si kecil merasa mendapat kepercayaan sehingga ia akan percaya diri untuk melakukan hal tersebut. Selanjutnya, biarkan ia memilih dan Bunda tak perlu mengekangnya.

Beri Batasan

Bila Bunda memberikan perintah, maka berikan batasan yang jelas padanya. Batasan ini melatih kepekaan dan rasa tanggung jawabnya, Bun. Misalnya, “Ibu akan pergi ke rumah Nenek 30 menit lagi. Kamu bisa ikut kalau sekarang segera mandi dan berpakaian. Kalau kamu belum siap saat ibu akan berangkat, kamu bisa tidak bisa ikut dan main di rumah saja.”

Dan Tetapkan aturan

Buatlah aturan yang jelas dan sampaikan aturan ini di awal serta pastikan anak paham apa saja yang menjadi tugas atau kewajibannya berikut konsekuensi jika ia tidak memenuhinya. Entah mengenai jam main, atau hal-hal seputar aktivitasnya. Bila si kecil menunjukkan perilaku melanggar aturan, maka Bunda tak perlu kesal. Tetap ingatkan ia lagi dan lagi. Dengan begitu, Bunda tidak perlu lagi mengancam.

5 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Share

To Top