Parenting

Sumber Gizi yang Praktis dan Higienis untuk Nutrisi Keluarga Saat New Normal

Sebuah informasi penting untuk ayah dan bunda, Crystal of the Sea baru-baru inin mengumumkan komitmennya untuk memenuhi permintaan produk ikan teri yang terus meningkat di market Indonesia, khususnya di masa new normal. Bubuk ikan teri Crystal of the Sea mengandung berbagai gizi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan anak, menambah selera makan anak, dan memenuhi kebutuhan gizi seluruh anggota keluarga agar tubuh senantiasa sehat. Dengan shelf-life (masa simpan) yang panjang sampai 2 tahun, bubuk teri ini adalah salah satu sumber gizi yang ideal, praktis, dan aman bagi seluruh anggota keluarga bun.

Bahan utama bubuk ikan teri Crystal of the Sea adalah murni 100 persen ikan teri yang sudah menjadi makanan pokok masyarakat Indonesia dan populasinya melimpah di perairan Indonesia. Kekayaan gizi ikan teri sudah tak terbantahkan lagi. Meski bentuknya mungil-mungil, manfaat ikan teri bagi kesehatan tak sekecil ukurannya. Ikan teri mengandung Omega-3, Protein dan Kalsium, yang baik untuk pertumbuhan otak dan tulang. Di setiap satu sendok teh (4 gram) bubuk teri Crystal of the Sea terkandung 202mg Omega-3, 3g Protein dan 74mg Kalsium yang dapat membantu memenuhi kebutuhan gizi harian yang dibutuhkan tubuh kita.

Bunda juga tentu sudah tahu kan, kalau Omega-3 bagus untuk perkembangan otak bagi anak-anak dan kesehatan jantung bagi orang dewasa. Asam lemak ini tidak bisa diproduksi oleh tubuh secara alami, melainkan dari makanan dan ikan adalah sumber Omega-3 yang terbesar. Adapun Kalsium yang tinggi akan membantu pembentukan dan mempertahankan kepadatan tulang dan gigi. 

“Pada masa new normal ini, kualitas dan keamanan makanan sangatlah penting untuk menjaga dan bahkan meningkatkan kesehatan seluruh anggota keluarga. Crystal of the Sea diciptakan untuk keluarga yang membutuhkan produk makanan yang praktis, sehat, dan berkualitas tinggi, serta dipastikan bebas bahan pengawet dan impurities,” tutur Kenji Kusuma, General Manager Crystal of the Sea. “Demand terhadap ikan teri di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun, di sinilah Crystal of the Sea hadir untuk membangun kepercayaan konsumen dengan selalu memperhatikan aspek kesehatan dan keamanan pangan. Kami ingin memberikan yang terbaik untuk seluruh keluarga di Indonesia, sebab ini adalah produk yang memakai bahan baku dari perairan Indonesia, diproduksi oleh orang Indonesia untuk masyarakat Indonesia.”

Sebagai informasi untuk bunda, Crystal of the Sea yang diproduksi oleh PT. Urchindize Indonesia adalah bubuk ikan pertama yang mendapat sertifikasi Badan POM. Produk ini dilahirkan dari proses produksi berstandar internasional untuk menjamin produk yang bersih dan aman untuk dikonsumsi. Crystal of the Sea juga dijamin bebas bahan pengawet, seperti formalin, maupun pemutih, sehingga mengeliminasi kekhawatiran dan keraguan konsumen akan keamanan produk ikan teri.

Dengan quality control yang sangat ketat, produk Crystal of the Sea sangat aman dan sehat untuk dikonsumsi oleh seluruh anggota keluarga, terutama anak-anak. Penyajiannya sangat mudah, bubuk teri ini bisa langsung ditambahkan ke dalam masakan sebagai perasa alami, atau ditaburkan di makanan yang siap disantap, untuk mendapatkan manfaatnya.

Crystal of the Sea adalah pilihan yang tepat bagi yang membutuhkan nutrisi yang lengkap untuk menjaga maupun meningkatkan kesehatan anak dan seluruh anggota keluarga di masa new normal ini.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Kesehatan

Waspadai Beberapa Gangguan Perkembangan Balita Pada Usia 3 – 4 Tahun yang Sering Terjadi

Tumbuh kembang si kecil, jadi sesuatu yang wajib diperhatikan dengan sungguh-sungguh. Karena jika telat mendapat perhatian, bisa jadi fatal karena tak segera ditangani. Meski gangguan perkembangan balita pada usia 3 – 4 tahun kadang sulit didetiksi. Sebagai orangtua, kita wajib untuk mengetahui tahap perkembangan anak mulai dari lahir hingga dewasa. Tujuannya tidak lain untuk mengetahui apakah si kecil mengalami tanda-tanda gangguan atau tidak.

Tahap Perkembangan Anak Usia 3 – 4 Tahun yang Patut Dijadikan Ajuan oleh Orangtua

Usia 3 – 4 tahun termasuk dalam kategori masa golden age bagi si kecil. Pertumbuhan di masa ini sangat penting untuk membangun karakternya nanti ketika mereka dewasa kelak. Oleh karena itu, penting sekali untuk terus mendampingi mereka saat masih di masa keemasan. Apa saja tahap perkembangannya?

  1. Kemampuan Gerak Tubuh untuk Melakukan Sesuatu yang Ia Inginkan

Dari segi fisik, anak yang sudah memasuki usia 3 sampai 4 tahun biasanya sedang sangat aktif bergerak. Mereka sedang menikmati masa-masa mengeksplor banyak hal dan mulai muncul banyak pertanyaan kritis. Anak-anak sudah bisa melakukan gerak tubuh seperti berjalan dan berlari.

Di usia ini mereka juga sudah bisa naik turun tangga dengan kaki secara bergantian. Menendang bola, melempar, dan menangkapnya juga menjadi keahlian lain yang sudah harus dimiliki si kecil pada usia 3 sampai 4 tahun. Mereka juga sudah bisa memanjat, melompat, hingga menggunakan / melepas pakaian.

  1. Kemampuan Berbahasa Sebagai Caranya Berkomunikasi dengan Orangtua dan Orang lain di Sekitar

Kosakata yang dikuasai anak usia 3-4 tahun sudah semakin banyak sehingga biasanya mereka akan banyak berbicara. Banyak hal yang berhubungan dengan bahasa dan komunikasi yang seharusnya sudah bisa dilakukan oleh anak dalam usia tersebut. Contohnya seperti menyebutkan nama dan usia.

Biasanya mereka sudah mampu mengucapkan hingga ratusan kosakata dengan lebih jelas. Anak-anak juga sudah mampu menjawab pertanyaan sederhana yang diajukan kepada mereka. Si kecil juga sudah bisa menyusun kalimat dengan runtut dan bicaranya sudah bisa dipahami dengan sangat jelas.

  1. Kemampuan Tangan dan Jari untuk Melakukan Sesuatu dan Beraktivitas

Kemampuan tangan dan jari sekecil di usia 3 sampai 4 tahun juga sudah semakin membaik. Mereka sudah bisa melakukan banyak hal seperti memegang benda kecil, membuka halaman buku, menggunting menggunakan gunting mainan, menggambar kotak dan lingkaran, hingga mewarnai.

Kemampuan memegang alat tulis bisa dikuasai dengan baik oleh anak usia 3-4 tahun. Mereka bahkan mampu menulis beberapa huruf kapital dan menggambar beberapa bentuk gambar yang ada di lingkungan sekitarnya. Hal sederhana seperti memutar gagang pintu, membuka toples juga sudah bisa dilakukan. 

Dan Ada Pula Gangguan Perkembangan Balita Pada Usia 3 – 4 Tahun yang Wajib Bunda Waspadai

Anak usia 3 – 4 tahun juga bisa mengalami gangguan perkembangan tertentu. Anda harus waspada dan terus mengawasi bagaimana tumbuh kembang si kecil setiap harinya. Berikut ini beberapa jenis gangguan perkembangan yang mungkin bisa dialami dan patut diwaspadai, di antaranya:

  1. Kesulitan Berbicara untuk Mengutarakan Isi Hati dan Perasaanya

Jika anak usia 3 – 4 tahun belum bisa diajak berkomunikasi karena kosakata yang diucapkan belum jelas, maka Anda patut waspada. Bisa jadi mereka mengalami keterlambatan bicara atau gangguan pendengaran sehingga sulit untuk mengucapkan kata yang mudah dipahami oleh orang dewasa.

Dalam berkomunikasi, anak-anak juga tidak tertarik untuk mengekspresikan perasaannya. Mereka cenderung diam dan enggan untuk berbicara. Oleh karena itu, penting untuk menstimulasi kemampuan anak berbicara sejak mereka lahir untuk mengantisipasi terjadinya keterlambatan seperti ini.

  1. Sering Berhenti Sejenak Saat Berbicara, Karena Kesulitan Menemukan Kosakata yang Ingin Disampaikan

Anak usia 3 – 4 tahun yang tiba-tiba berhenti sejenak saat berbicara, mungkin bisa menjadi pertanda bahwa ia mengalami kesulitan untuk mengucapkan kata-kata dari mulutnya. Jika mereka malas untuk belajar, maka hal tersebut akan terbawa terus-menerus hingga mereka dewasa. Tentu Anda tidak ingin itu terjadi. 

Ketika anak mengalami kesulitan saat berbicara dan mengeluarkan kosakata tertentu dari mulutnya, biasanya mereka akan mudah menyerah dan mengatakan “tidak jadi”. Jika mereka sering mengucapkan kata tersebut maka patut waspada dan coba uji beberapa kata pada anak untuk diucapkan.

  1. Tidak Bisa Memahami Instruksi atau Kalimat Perintah yang Diterimanya

Saat memasuki usia 3 – 4 tahun, seharusnya anak-anak sudah bisa memahami kalimat perintah dengan baik. Sehingga mereka bisa dimintai tolong untuk melakukan atau mengambil sesuatu. Namun, ada anak yang mungkin mengalami gangguan sehingga mereka tidak bisa memahami instruksi sederhana. 

Saat diminta untuk melakukan sesuatu, mereka cenderung memilih diam dan tidak melakukannya karena tidak paham apa yang diinginkan oleh orang yang memberikan instruksi tersebut. Bicaranya juga masih tidak jelas dan sulit untuk dipahami oleh orang dewasa.

  1. Kesulitan Menggunakan Struktur Kalimat yang Tepat Ketika Sedang Berbicara atau Mengutarakan Maksudnya

Anak usia 3 – 4 tahun bisa dianggap mengalami keterlambatan perkembangan ketika mereka masih belum bisa menggunakan kata aku dan kamu dengan cara yang tepat. Mereka juga masih kesulitan untuk menceritakan kembali cerita atau kisah favorit yang pernah diperdengarkan untuk si kecil.

Bicaranya masih cenderung belum jelas dan belum bisa menggunakan struktur kalimat dengan tepat. Mereka juga kesulitan untuk mendeskripsikan sesuatu secara rinci dan detail.

  1. Ketidaktertarikan Pada Aktivitas Fisik Tertentu yang Lazim Dilakukan Anak Seusianya

Anak usia 3 – 4 tahun harusnya sudah bisa belajar dengan mandiri dan melakukan beberapa hal sendiri. Namun, anak yang mengalami gangguan biasanya tidak mau mencoba untuk belajar hal-hal seperti memakai dan melepas baju, atau belajar menggunakan sendok dan garpu.

Mereka juga enggan belajar untuk menggosok gigi, membantu orang tua di rumah, menggunakan toilet, makan sendiri, atau menyiapkan makanan dan minumannya sendiri. Beberapa gangguan perkembangan balita pada usia 3 – 4 tahun tersebut memang bisa dialami oleh siapa saja. Oleh karena itu, sebagai orang tua jangan sampai lengah untuk mengawasi tumbuh kembang si kecil agar bisa mendidik dan mengajari dengan cara yang tepat.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Kesehatan

Tahapan Tumbuh Kembang dan Cara Mengatasi Jenis-jenis Gangguan Perkembangan Balita Pada Usia 25 – 36 Bulan

Keterlambatan perkembangan pada anak dapat mencakup berbagai area keterampilan termasuk bahasa, motorik, sosial atau kemampuan berpikir. Namun, sebagai orangtua, kita juga harus mengerti jika tahapan perkembangan antara anak yang satu dengan yang lainnya tidak bisa disamaratakan. Ada anak yang cepat pada beberapa aspek, namun ada juga yang lambat. Itulah sebabnya, penting sekali untuk mengenali gangguan perkembangan balita pada usia 25 – 36 bulan. 

Tahapan Perkembangan yang Akan Anak Usia 25 – 36 Bulan Alami

Nah, untuk mengetahui apakah anak, mengalami tanda-tanda gangguan perkembangan pada usia 25 – 36 bulan, Bunda perlu memahami terlebih dahulu tahapan yang pada umumnya dilalui di usia tersebut. Sehingga, jadi informasi ini kita bisa memiliki tolok ukur untuk memeriksa tumbuh kembang si kecil. Berikut ini beberapa acuan tahapan perkembangan si kecil yang perlu diketahui, di antaranya:

1. Perkembangan Sosial dan Emosional

Saat anak memasuki usia 25 – 36 bulan mereka mulai mengenal teman-temannya dan senang jika bermain bersama. Bagi anak yang aktif interaksi saat bertemu dengan teman menjadi hal yang menyenangkan untuk mereka. Namun, tetap saja sebagai orang tua harus terus mengawasinya. 

Meskipun kemampuan berkomunikasi dengan temannya sudah baik, namun di fase ini mereka masih belum stabil emosinya. Terkadang masih harus ada penengah untuk melerai pertengkaran. Maka inilah saat yang tepat untuk mengajarkan kepada mereka tentang empati, negosiasi, kompromi, tahu batasan, dan lainnya. 

2. Perkembangan Motorik

Fisik dan keterampilan si kecil saat memasuki usia 25 – 36 bulan sudah semakin sempurna dan ahli. Mereka juga senang dan mulai mahir mengayuh sepeda, bermain dengan berbagai jenis permainan di taman, dan lainnya. Buatlah jadwal yang rutin setiap minggunya agar si kecil senang dengan aktivitasnya. 

Saat usia ini mereka sedang senang-senangnya bermain bersama teman-teman. Fisiknya juga sudah terlatih dengan sangat baik dan kemampuan berjalan atau berlari sudah begitu lancar. Dari segi fisik harusnya anak di usia tersebut sudah bisa menggerakan tangan dan kaki dengan sempurna. 

3. Perkembangan Bicara dan Bahasa

Pada umumnya, anak-anak yang berusia 25 – 36 bulan sudah memiliki kemampuan bahasa yang meningkat pesat. Mereka juga sudah bisa memahami instruksi atau kalimat perintah yang kompleks. Bahkan anak-anak juga sudah bisa menggambarkan aktivitas dan apapun yang dilihatnya dengan baik. 

Contohnya seperti menggambarkan kegiatan selama di sekolah, mendeskripsikan apa yang dilihat dengan runut dan jelas baik kata kerja maupun kata sifatnya. Kosakata yang dikuasai juga semakin banyak bahkan hingga 900 kata atau lebih tergantung bagaimana orang tua mengajarinya.. 

Dan Berikut Adalah Jenis Gangguan Perkembangan Balita Pada Usia 25 – 36 Bulan yang Harus Dihindari

Gangguan perkembangan anak bisa dialami oleh siapa saja, sehingga kita sebagai orangtua patut mengantisipasi dan mengatasinya dengan baik. Namun, bukan berarti setiap gangguan yang menyebabkan keterlambatan tersebut bisa dianggap cacat. Bisa jadi masih berada di batas normal, yang perlu kita lakukan adalah mengidentifikasi apa yang ia alami dan tahu bagaimana cara mengatasinya.

1. Gangguan Attention-Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)

ADHD merupakan salah satu jenis gangguan yang sifatnya kronis dan biasanya dalam jangka panjang. Penyebabnya adalah karena ada masalah yang terjadi di sel saraf otak sehingga tidak bisa bekerja sebagaimana mestinya. Gejalanya muncul saat kanak-kanak namun bisa bertahan hingga mereka dewasa. 

Saat usia tiga tahun, gejala ini sudah bisa mulai muncul baik yang kondisinya ringan maupun berat. Tanda-tanda anak yang mengalami ADHD seperti terlalu banyak bicara, sulit fokus, sulit mengatur aktivitas, sering melamun, suka lupa melakukan sesuatu, tidak sabar, lebih suka menyendiri, dan lainnya. 

2. Gangguan Kecemasan

Gangguan kecemasan atau yang biasa dikenal dengan istilah anxiety disorder ternyata tidak hanya dialami oleh orang dewasa. Anak pun bisa mengalami gangguan kecemasan dengan rasa takut yang berlebihan. Ketika mengalami gangguan ini, mereka cenderung selalu merasa tertekan dan cemas. 

Bahkan mereka bisa mengalami gangguan kecemasan yang begitu dahsyat dan bisa muncul kapan saja tanpa peringatan. Contoh gangguan jenis ini yang terjadi pada anak adalah obsesif-kompulsif saat si kecil terus mengalami perilaku dan pemikiran yang seolah terobsesi sehingga mereka tidak dapat berhenti. 

3. Bipolar

Bipolar dikenal juga dengan istilah mania-depresi atau kelainan otak yang menyebabkan mood berubah dengan sangat tidak wajar pada tingkat energi dan aktivitas tertentu. Anak-anak yang mengalami penyakit ini bisa tiba-tiba memiliki banyak energi dan menjadi lebih aktif dari biasanya. 

Namun, di satu sisi saat mereka mengalami episode depresi, maka anak akan merasa sangat terpuruk dan bahkan tidak bisa aktif sama sekali. Resiko gangguan bipolar bisa semakin meningkat jika ada faktor yang mempengaruhinya yakni kelainan genetik, struktur otak, hingga riwayat kesehatan keluarga. 

4. Cerebral Palsy

Anak yang memasuki usia 25 – 36 bulan harusnya sudah bisa berjalan dan berbicara dengan normal. Gangguan cerebral palsy menyebabkan anak mengalami keterlambatan dalam perkembangan motoriknya untuk bergerak maupun mempertahankan keseimbangan tubuh. 

Anak-anak yang mengalami cerebral palsy biasanya memiliki kekakuan pada otot, kekurangan koordinasi otot, gerakan yang lambat, sulit berjalan, sulit makan, kejang, hingga sulit berbicara. 

5. Gangguan Spektrum Autisme

Gangguan ini berdampak pada kemampuan interaksi dan komunikasi pada anak. Biasanya muncul di awal masa tumbuh kembang mereka di mana penderita seolah punya dunia sendiri. Bahkan mereka tidak memiliki kemampuan untuk mengembangkan hubungan sosial-emosional dengan orang sekitarnya. 

Gangguan spektrum autisme pun ada beberapa jenis mulai dari aspek komunikasi dan bahasa, interaksi sosial, perilaku, hingga panca indra. Penderita autisme biasanya memiliki panca indra yang tergolong sensitif sehingga sering tidak kuat mendengar kebisingan atau melihat yang terlalu silau. Gangguan perkembangan balita pada usia 25 – 36 bulan di atas perlu Bunda ketahui tanda-tandanya agar bisa mengetahui apa si kecil ada indikasi ke arah gangguan tersebut atau tidak.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Kesehatan

Apa yang Harus Dilakukan Jika Terdapat Gangguan Perkembangan Balita Pada Usia 13 – 24 Bulan

Setiap bulan bayi mengalami perkembangan dalam berbagai aspek terutama saat si kecil mulai memasuki tahun kedua. Saat memasuki usia ini, anak biasanya sedang aktif-aktifnya mengeksplor banyak hal. Namun, ada juga yang mengalami gangguan perkembangan balita pada usia 13 – 24 bulan.

Meski tahap perkembangan tiap anak berbeda-beda, ada patokan dasar yang umum digunakan untuk mengukur perkembangan tumbuh kembang anak. Ini juga bisa menjadi patokan apakah anak membutuhkan bantuan atau tidak.  

Tahapan Perkembangan Anak Usia 13 – 24 Bulan

Tahapan perkembangan anak yang umum dilalui saat berusia 13 – 24 bulan bisa menjadi acuan untuk melihat apakah si kecil ada indikasi mengalami keterlambatan atau tidak. Saat usia ini keinginan untuk mengetahui banyak hal sangatlah tinggi. Berikut ini tahapan yang perlu diketahui, di antaranya:

  1. Motorik Kasar

Saat berusia 13 – 24 bulan, anak seharusnya sudah bisa berjalan sendiri, menarik, berjalan mundur, mendorong alat permainan, naik turun tangga, duduk sendiri, hingga melakukan pergerakan lain. Kemampuan motorik kasar yang bagus tentu harus didukung dengan stimulasi yang tepat sejak bayi. 

  1. Motorik Halus

Anak seharusnya sudah bisa melakukan beberapa gerakan seperti memutar, mencoret-coret, membuka lembaran buku, menggambar, mengambil benda, dan lainnya. Motorik halus ini juga perlu distimulasi dengan baik agar perkembangannya sesuai usia anak pada umumnya. 

  1. Mulai Mengucap Kata

Anak berusia 13 – 24 bulan pada umumnya sudah mampu mengucapkan kosakata tertentu dengan jelas. Contohnya seperti “papa”, “mama”, “susu”, “sasa”, dan lainnya. Jangan lupa untuk memberi pujian atau apresiasi ketika si kecil sudah mampu melakukan hal tersebut. 

  1. Mulai Berjalan

Saat usia ini, anak-anak seharusnya sudah bisa berjalan meskipun terkadang masih tertatih. Awal usia 13 bulan mungkin masih akan sering terjatuh dan jalannya pun masih perlahan. Namun, ketika sudah berusia 2 tahun seharusnya anak sudah bisa berjalan cepat dan berlari. 

Beberapa Gangguan Perkembangan Balita Pada Usia 13 – 24 Bulan yang Perlu Diperhatikan

Tidak semua anak memiliki perkembangan yang sesuai seperti tahapan di atas. Ada sebagian anak yang mengalami keterlambatan dalam beberapa aspek. Sebagai orang tua tentu, Bunda harus aware jika ada masalah yang dialami anak sehingga bisa mencari solusi terbaik demi tumbuh kembangnya. 

  1. Gangguan Perkembangan Kognitif

Anak yang mengalami gangguan seperti di bawah ini bisa termasuk dalam kategori keterlambatan perkembangan kognitif. Apa saja itu?

  • Kurang menunjukkan ketertarikan akan suatu barang atau orang saat menginjak usia 2 bulan
  • Belum bisa mengikuti gerak benda dengan baik saat usia 4 bulan
  • Belum bisa merespons sumber suara yang dikeluarkan oleh orang sekelilingnya di usia 6 bulan
  • Belum mampu mengucap kata atau babbling dengan kosakata dasar seperti “mama”, “papa” di usia 9 bulan
  • Belum bisa mengucapkan kata yang bisa dipahami oleh orang dewasa saat usia 24 bulan
  • Belum mampu merangkai tiga kata dengan benar saat usia 36 bulan

Jika ada tanda-tanda di atas yang dialami oleh si kecil, maka Bunda harus segera mencari tahu cara terbaik untuk mengatasinya. Konsultasikan dengan dokter ahli dan beri stimulasi yang tepat sesuai kebutuhan perkembangan di usianya. Dampingi dengan sabar sampai anak bisa mengatasi keterlambatan tersebut. 

  1. Gangguan Perkembangan Motorik Halus dan Kasar

Motorik merupakan istilah yang biasa digunakan untuk menggambarkan gerakan yang dilakukan oleh manusia melalui anggota tubuhnya. Sel saraf motorik ini terletak di atas (otak) dan di bawah (sumsum tulang belakang) dan berfungsi untuk mengirim sinyal yang mendorong tubuh melakukan gerakan. 

Motorik sendiri dibagi ke dalam dua kategori yakni motorik halus dan motorik kasar. Berikut ini penjelasannya:

  • Motorik Kasar 

Motorik kasar merupakan gerakan yang dilakukan oleh tubuh manusia dengan menggunakan otot besar. Perkembangan motorik jenis ini biasanya dipengaruhi oleh usia, perkembangan secara fisik, dan berat badan.

Jika si kecil mengalami gangguan motorik kasar, maka mereka akan mengalami masalah pada keseimbangan dan ketidakmampuan untuk mengontrol gerakan tubuh. Contohnya seperti gangguan refleks tubuh, gerakan yang tidak seimbang antara bagian kanan dan kiri, dan gangguan tonus otot. 

  • Motorik Halus

Berkebalikan dari motorik kasar, motorik halus merupakan kemampuan fisik yang melibatkan otot kecil dan koordinasi antara mata dengan tangan. Anak yang mengalami gangguan pada motorik halus biasanya akan terlihat saat mereka masih sering menggenggam padahal usianya sudah lebih dari 4 bulan. 

Gejala gangguan motorik halus juga terlihat dari anak yang lebih cenderung dan dominan handedness (menggunakan satu tangan) hingga si kecil berusia 1 tahun. Bahkan setelah lewat usia 14 bulan pun mereka masih sering memasukkan mainan ke dalam mulut untuk eksplorasi oral. 

  1. Gangguan Perkembangan Bahasa dan Bicara

Gangguan perkembangan dalam tahap ini jelas ditandai dengan kemampuan berbicara yang masih sangat minim. Bahkan mereka masih tidak menunjukkan ketertarikannya pada seseorang atau sesuatu benda hingga usia 20 bulan. 

Saat si kecil berusia 30 bulan pun orangtua masih kesulitan untuk memahami maksud dari perkataan anak. Hal ini dikarenakan si kecil masih tidak konsisten untuk merespons setiap bunyi atau suar di sekitarnya seperti tidak menjawab ketika dipanggil. 

  1. Gangguan Perkembangan Sosial-Emosional

Jika anak Bunda mengalami beberapa tanda gangguan seperti ini, bisa jadi perkembangan sosial-emosionalnya mengalami masalah.

  • Jarang berekspresi atau menunjukkan kesenangan baik dengan senyum maupun tertawa di usia 6 bulan
  • Kurang bersuara di usia 9 bulan
  • Tidak menjawab meskipun dipanggil namanya di usia 12 bulan
  • Belum bisa mengeluarkan kata di usia 15 bulan
  • Belum bisa mengeluarkan gabungan dua kata yang berarti di usia 24 bulan
  • Tidak memiliki kemampuan berinteraksi dan bersosialisasi di segala usia

Gangguan perkembangan balita pada usia 13 – 24 bulan di atas memang harus diwaspadai. Jika Bunda mulai menemukan tanda-tanda keterlambatan tumbuh kembang si kecil, segera konsultasikan kepada ahli atau orang yang berpengalaman.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Share

To Top