Parenting

Si Kecil Mulai Bertanya Banyak Hal? Siasati Dengan Cara Ini Jika Bunda Mulai Kesulitan Menjawabnya

Semakin bertambahnya usia anak, semakin besar juga rasa ingin tahunya terhadap hal yang menurutnya baru. Mungkin bunda merasakan, ada saja hal yang ingin ditanyakan. Mulai dari, “Mengapa ayam bertelur?”, “Mengapa Bunda melahirkan tapi Ayah tidak?”, hingga bertanya siapa itu pencipta manusia.

Berbagai pertanyaan spontan dari si kecil sejatinya tak boleh diabaikan. Jangan memberikan jawaban manipulatif atau bahkan berbohong padanya. Bagaimanapun, Bunda harus tetap bijak memberikan jawaban positif atas pertanyaannya. Meski memang kenyataannya, orangtua pun sering kewalahan menanggapi pertanyaan si kecil. Karenanya, Bunda perlu memahami tips-tips ini agar tak salah kaprah ketika si kecil mulai aktif bertanya.

 

Berikan Jawaban yang Bunda Pahami, Dengan Demikian Si Anak Akan Ikut Berpikir Sesuai Arahan Anda

Bila anak mulai bertanya hal-hal yang menurut bunda terlalu rumit, hindari memberi jawaban semisal “Nanti kamu akan mengerti kalau sudah dewasa” atau “Jangan terlalu dipikirin, kamu masih kecil”. Dua tipe jawaban itu justru membuat si anak semakin penasaran dan akan kembali bertanya dengan pertanyaan yang sama di kemudian hari.

Lebih baik Bunda menjelaskan dengan respon yang memang bunda pahami. Anak yang memiliki rasa ingin tahu yang besar tak akan pernah puas dan pasti terus bertanya tentang berbagai hal. Tinggal sebagai orangtua, Bunda jangan lelah untuk membimbing dan arahkan mereka dengan pengetahuan-pengetahuan yang sudah bunda ketahui.

pexels-photo-326539

Libatkan Si Kecil Untuk Bersama-sama Mencari Jawaban. Anak Seusianya Akan Senang Mengeksplorasi Hal Baru

Kadang memang ada kalanya orangtua bingung memberikan jawaban lantaran tak tahu sama sekali dengan topik yang ditanyakan sang anak. Jika situasinya demikian, tak perlu gengsi untuk mengakui jika anda memang belum tahu jawabannya. Selanjutnya, tinggal ajak buah hati untuk mencari jawabannya bersama-sama. Bereksplorasi bersama-sama akan menjadi kegiatan yang menyenangkan.

Alternatifnya bisa Bunda lakukan dengan mencari buku yang sekiranya memuat jawaban atas pertanyaan sang anak atau jika memang terlalu sulit, browsing bersama-sama si kecil pun tak masalah. Disamping itu, jika pertanyaan si kecil berbau pengetahuan, anda bisa mengajaknya ke museum.

Bunda perlu tahu, berdasarkan paparan dari Carol Davenport, peneliti dari Northumbria University, dengan mengakui kalau orangtua tak tahu jawabannya lalu mencari jawabannya, orangtua telah memberikan contoh yang baik pada anak-anaknya.

pexels-photo-139106

Jika Bunda Tak Bisa Menjawab Saat Itu Juga, Sebaiknya Mintalah Waktu pada Anak Untuk Mencari Jawabannya

Saat anak bertanya, ada baiknya memang langsung merespon dan menjawab saat itu juga. Namun kadang situasinya berbeda. Terutama jika si kecil tergolong kritis dan mengajukan pertanyaan yang sukar sehingga anda pun perlu waktu untuk menjawabnya.

Bunda tak perlu ragu, kalau memang anda bingung atau blank tak ada jawaban di dalam benak, mintalah waktu pada si kecil. Hal ini tak akan membuat orangtua terkesan bodoh di depan anak, justru saat itulah kita menunjukkan sikap bahwa kita menghargai tindakan si kecil yang memliki rasa ingin tahu begitu besar.

 


Kesehatan

Manfaat Ikan Bandeng untuk Bayi yang Bisa Jadi Menu MPASI

Untuk urusan menu MPASI, bunda mungkin sering mendengar olahan ikan salmon dan dori baik dijadikan pilihan. Tapi, apakah bunda tahu jika ikan Bandeng juga memiliki kandungan yang baik untuk dijadikan salah satu menu MPASI?  

Bisa ditemukan dengan mudah, Ikan bandeng juga memiliki kandungan nutrisi yang tak kalah baik dari jenis ikan lainnya. Mulai dari zat besi, lemak sehat, fosfor, kalium, kalsium, vitamin A, vitamin B1, dan vitamin B12. Dimana, semua nutrisi tersebut dibutuhkan bayi untuk tumbuh kembangnya. Berikut adalah manfaat lain dari ikan Bandeng yang bisa membantu proses pertumbuhan si kecil. 

1. Perkembangan Otak Hingga Jantung Bayi

Ikan bandeng mengandung omega 3 yang bermanfaat untuk tumbuh kembang otak dan kecerdasan bayi. Pasalnya, tubuh manusia tidak dapat memproduksi omega 3, sehingga membutuhkan asupan nutrisi dari olahan makanan. Tak hanya itu, kandungan omega 3 juga bermanfaat untuk meningkatkan daya ingat anak, mencegah penyakit jantung, dan mengontrol kadar kolesterol dalam darah. Oleh karena itu, ikan bandeng cocok dijadikan MPASI bayi sejak dini bun. 

2. Menjaga Kesehatan Tulang dan Gigi

Selanjutnya, Ikan Bandeng juga memiliki kandungan kalium, magnesium, dan fosfor yang dapat memenuhi kebutuhan mineral bayi. Kandungan mineral dibutuhkan untuk menjaga kesehatan tulang dan gigi si Kecil sehingga menurunkan risiko bayi mengalami kerusakan tulang saat beranjak dewasa. 

Dan info menarik lain yang perlu Bunda tahu adalah, saat si Kecil mengonsumsi 100 gram daging ikan bandeng, itu berarti ia telah mendapat asupan nutrisi 20 mg kalsium dan 150 mg fosfor. Oleh karena itu, semakin banyak olahan ikan bandeng yang diberikan kepada bayi, maka semakin kuat pula tulang dan gigi si Kecil. 

3. Meningkatkan Sistem Imunitas Bayi

Dan yang terakhir, Ikan Bandeng juga memiliki kandungan vitamin A, zat besi, dan protein yang mampu menguatkan daya tahan tubuh si Kecil sehingga tidak mudah terserang penyakit atau virus. Kandungan protein juga dibutuhkan untuk memperbaiki jaringan tubuh yang rusak akibat virus dan bakteri. 

Setelah tahu jika Ikan Bandeng memiliki kandungan nutrisi yang cukup baik pada pertumbuhan si kecil. Bunda bisa mulai mengolah ikan bandeng segar sebagai menu MPASI si kecil di rumah. Dengan catatan, perhatikan duri dan tulangnya sebelum diberikan kepada bayi, karena Ikan Bandeng adalah salah satu jenis ikan yang memilki cukup banyak duri halus sehingga berisiko tertelan atau tercampur pada daging ikan yang dikonsumsi si kecil. 

Untuk meminimalkan risiko alergi yang dialami si Kecil, Bunda bisa memberikan ikan bandeng secara bertahap sejak berusia enam bulan. Apabila bayi tidak mengalami alergi, maka bisa terus memberikan olahan ikan bandeng sebagai MPASI. Akan tetapi, jika bayi menunjukkan tanda-tanda alergi, segera hentikan pemberian ikan bandeng dan konsultasikan ke dokter untuk menu MPASI berikutnya.


Mom Life

Ketika Anak Membuat Ayah dan Bunda Marah

Sedari bangun tidur, sudah berapa kali Ayah dan Bunda marah atau ngomel sama si kecil?

Dalam bukunya yang berjudul The Gentle Discipline Book, Sarah Ockwell-Smith bercerita, jika orangtua yang berada di titik kehilangan kesabaran hingga akhirnya marah ke anak adalah sesuatu yang lumrah. Tapi, bukan berarti Ayah dan Bunda dibenarkan untuk marah-marah. Karena hal tersebut ya, karena sikap ini akan berdampak buruk pada tumbuh kembanng si kecil.

Ayah dan Bunda harus paham, jika setiap anak pasti pernah melakukan seuatu yang membuat orang tua kesal atau marah. Lalu apa yang harus kita lakukan sebagai orangtua? Apakah memarahi anak, membentak, atau mencoba menahan amarah?

Namun perlu Bunda ketahui, membentak dan berteriak kepada anak ketika anak berbuat salah tidak akan efektif untuk mengubah perilakunya. Hal ini justru menimbulkan banyak efek negatif jika anak sering dimarahi. Mulai dari gangguan psikologis, penurunan rasa percaya diri, hingga perubahan perilaku bisa terjadi pada anak yang sering dibentak. Jadi jika anak membuat ayah dan bunda marah cobalah untuk melakukan beberapa cara berikut:

1. Tenangkan diri lebih dulu, dan beri tahu anak perasaan ayah dan bunda.
2. Ambil jeda beberapa saat dengan menyendiri hingga emosi mereda.
3. Setelah amarah berkurang dan emosi lebih stabil, ajak anak bicara. Jelaskan perbuatan anak yang salah dan jangan menyerang kepribadian dan karakter anak misal dengnan memberi label “anak nakal”
4. Fokus pada solusi, cari solusi untuk memperbaiki kesalahannya dan agar anak tidak mengulanginya lagi.

Jadi setiap kali si kecil membuat Ayah dan Bunda  marah, cobalah untuk menarik nafas terlebih dahulu dan melakukan beberapa trik diatas. Yuk, belajar mengelola emosi ya bun.  


Parenting

Daripada Memaksa Anak Makan, Lebih Baik Memahami Penyebab Mengapa Ia Susah Makan

Perkara anak susah makan, barangkali jadi salah satu hal yang kerap membuat Bunda bingung. Sebab biar bagaimana pun, di usia kanak-kanak ia butuh nutrisi dan asupan gizi yang cukup dari makanan yang harus ia konsumsi. Di tengah-tengah kondisi yang membingungkan seperti ini, bunda mungkin akan berpikir lebih baik untuk memaksanya saja.

Tapi bun, jika anaknya tidak mau makan, jangan dipaksakan. Nanti kalau anak merasa lapar, kemungkinan besar ia akan mau makan. Daripada memaksakan anak makan, sebagai orangtua sebaiknya Bunda memahami penyebab, mengapa anak sulit makan.

1.Barangkali Ia Tak Pernah Benar-benar Merasa Lapaar

Tak heran jika makanan yang terdiri atas tiga kali makanan utama dan dua kali makanan selingan membuatnya kenyang. Jadi ketika waktu makan yang berikutnya tiba, ia belum benar-benar lapar. Ditambah lagi rutinitas makan dan minum susu yang bisa membuat anak bosan.

Hal seperti ini akan terbawa terus hingga masa batita awal. Namun orang tua sering lupa dan menganggap perilaku menolak atau melepehkan makanan sebagai masalah besar.

2. Si Kecil Mulai Punya Selera Terhadap Rasa

Yang juga kerap terlupakan, di usia batita ini rasa ingin tahu anak sudah semakin besar. Ia sudah punya selera tersendiri terhadap makanan. Itulah kenapa makanan anak usia ini tidak boleh disamakan dengan makanan bayi yang tawar.

Tidak ada salahnya memberikan rasa-rasa tertentu yang dia sukai ke dalam makanannya, seperti garam dan gula. Apa citarasa yang disukai anak, tugas orang tualah untuk menemukannya.

3. Bosan dengan Tesktur Makanan yang Halur dan Campur Aduk 

Rasa bosan bisa juga muncul dari tekstur. Maka, bukan mustahil anak bosan atau sudah merasa mual dengan makanan lunak dan campur aduk seperti makanannya semasa bayi. Dengan demikian orang tua mesti cerdik dalam menyiasati olahan dan penyajian makanan.

Untuk mengatasinya, cobalah bunda variasikan makanan yang sedemikian rupa agar anak tetap suka makan, misalnya dengan memisah-misahkan lauknya dan memblender berasnya saja lebih dulu sebelum diolah.

Most Share

To Top