Parenting

Setiap Orang tua Menantikan Kata Pertama yang Terucap dari Anak, Inilah Petunjuk untuk Mengetahui Kemampuan Berbicara Bayi

Sebagai orang tua, Anda pasti menantikan kata pertama yang terucap dari anak tercinta. Tapi bagaimana jika Anda tidak kunjung mendengar sepatah kata pun terlontar dari bibir mungil si Kecil?

Jangan terlalu khawatir. Mungkin saja anak Anda memang belum waktunya untuk mencapai tahapan tersebut. Lantas, bagaimana mengetahui ciri-ciri anak yang tergolong normal dan anak yang memiliki keterlambatan dalam berbicara?

anakbicara

Ada beberapa tahapan yang bisa dijadikan petunjuk dalam mengetahui kemampuan berbicara bayi.

1. Bayi usia 3 bulan ini mendengarkan kata-kata yang ucapkan orang lain dan memperhatikan mimik wajahnya

Saat usia ini bayi mendengarkan kata-kata yang ucapkan orang lain dan memperhatikan mimik wajahnya. Terkadang bayi lebih banyak menyukai suara perempuan dibandingkan laki-laki. Tidak ada salahnya untuk merangsang vokalisasi bayi dengan lebih sering mendengarkan suara musik.

2. Bayi usia 6 bulan itu mengoceh sendiri dan mengenali bahasa ibunya

Pada usia ini bayi mulai mengoceh dengan suara yang berbeda, seperti berkata ‘ba-ba’ atau ‘da-da’. Saat usia 6 bulan akhir, bayi bisa menanggapi namanya sendiri, mengenali bahasa ibunya dan menggunakan nada suara untuk memberitahu jika bayi sedang bahagia atau sedih. Ocehan yang terjadi saat usia ini masih terdiri dari suku kata yang acak tanpa ada makna.

3. Bayi usia 9 bulan  memahami beberapa kata dasar

Setelah berusia 9 bulan, bayi mulai dapat memahami beberapa kata dasar seperti ‘tidak’, ‘iya’ atau ‘bye-bye’. Selain itu, bayi juga mulai menggunakan huruf konsonan lebih banyak.

4. Bayi usia 12 bulan dapat mengucapkan beberapa kata sederhana

Rata-rata bayi bisa mengucapkan beberapa kata sederhana seperti ‘mama’ atau ‘dada’ pada akhir usia 12 bulan serta mengerti apa yang dikatakannya. Pada usia ini bayi mulai bisa menanggapi atau paling tidak mengerti apa yang dibicarakan orang lain.

5. Bayi usia 18 bulan  bisa mengatakan minimal 10 kata-kata sederhana

Bayi pada usia ini mulai bisa mengatakan minimal 10 kata-kata sederhana, menunjuk ke orang atau benda serta mulai mengenali nama dari bagian tubuhnya. Saat usia ini bayi sering mengulangi kata dengan hanya mengucapkan suku kata terakhir.

6. Bayi usia 2 tahun bisa mengucapkan dua sampai empat kata dalam pengucapannya

Pada usia ini bayi mulai bisa mengucapkan dua sampai empat kata dalam pengucapannya serta sudah lebih jelas maksud dari ucapannya.

7. Bayi usia 3 tahun memiliki kosa katanya semakin berkembang dengan cepat dan bisa mengucapkan kata

Bayi yang berusia 3 tahun kosa katanya semakin berkembang dengan cepat dan bisa mengucapkan beberapa kata, meskipun struktur kalimatnya belum terlalu benar.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Kesehatan

Panduan untuk Memahami Rangkaian Gangguan Terlambat Bicara dan Cara Mengatasinya

Setiap anak memiliki tahapan perkembangan masing-masing termasuk dalam berbicara. Gangguan terlambat bicara bisa dialami oleh si kecil karena beberapa faktor. Problem ini pun termasuk keterlambatan perkembangan yang sebenarnya paling umum terjadi. 

Kondisi ini kerap membuat para orang tua khawatir dan membandingkan anak mereka dengan anak lain seusianya. Padahal, perkembangan berbicara tiap anak bisa berbeda-beda. Simak penjelasannya berikut. 

Tahapan Perkembangan Bicara Pada Anak yang Harus Bunda Pahami

Anak yang terlambat bicara bisa jadi sifatnya hanya sementara dan memang karena belum saja. Namun, dalam beberapa kasus gangguan tersebut juga bisa menjadi suatu tanda bahwa ada gangguan pendengaran dalam perkembangan si kecil. Bagaimana tahapan perkembangan bicara anak?

  1. Usia 3 Bulan

Saat usia 3 bulan, kemampuan anak berbicara memang masih sebatas mengeluarkan suara dalam bahasa bayi yang tidak bisa diartikan. Saat usia ini anak-anak juga lebih banyak berkomunikasi dengan menggunakan ekspresi seperti tersenyum atau tertawa saat melihat orang yang mengajaknya berbicara. 

  1. Usia 6 Bulan

Bayi biasanya sudah mulai mengeluarkan kata-kata yang suku katanya lebih jelas terdengar saat memasuki usia 6 bulan. Mereka sudah bisa mengucapkan kata-kata seperti ba-ba, pa-pa, ma-ma, da-da, dan lain sebagainya. Saat akhir usia 6 bulan mereka juga sudah bisa mengekspresikan emosi dengan suara. 

  1. Usia 12 Bulan

Perkembanan bicara pada anak usia 12 bulan biasanya sudah bisa mengucapkan kata seperti “ayah”, “ibu”, atau kata-kata lainnya yang sering si kecil dengar. Anak juga sudah bisa memahami kalimat dan instruksi perintah seperti, “kemari”, “ayo”, “ambil”, “lempar”, dan lainnya. 

  1. Usia 18 Bulan

Anak pada usia 18 bulan pada umumnya sudah bisa mengucapkan 10 – 20 kata dasar mesipun beberapa kata masih belum jelas pengucapannya. Si kecil juga sudah mampu mengenali bena, danam orang, dan beberapa bagian tubuh. Mereka juga sudah mampu mengikuti petunjuk dan gerakan orang. 

  1. Usia 24 Bulan

Saat memasuki usia 24 bulan, si kecil biasanya sudah mampu mengucapkan paling tidak sebanyak 50 kata. Mereka juga sudah mampu mengucapkan dua suku kata secara runut seperti “mau makan”, “buku baru”, dan lain sebagainya. Beberapa pertanyaan sederhana juga sudah bisa dipahami dengan baik. 

  1. Usia 3 – 5 Tahun

Kosakata yang bisa diucapkan si kecil sudah semakin banyak saat berusia 3 – 5 tahun dan bisa dibilang perkembangannya cukup pesat. Mereka bahkan sudah mampu menangkap sekitar 300 perbendaharaan kata baru. Kata-kata yang diucapkan sudah sangat mudah dipahami oleh orang dewasa. 

Tips Mengatasi Gangguan Terlambat Bicara dan Cara Mengatasinya

Sebagian orang mungkin masih ada yang beranggapan bahwa anak nantinya akan bisa berbicara sendiri tanpa distimulasi. Namun, peran aktif orang tua dalam memberi dorongan anak agar berbicara dan berkomunikasi dengan baik sangatlah penting. Berikut ini tips mengatasinya:

  1. Cobalah untuk Berbicara Sambil Bergerak Suatu Objek

Saat masih bayi, anak biasanya akan lebih senang dengan suara dan gerakan yang ekspresif dari orang yang mengajaknya berbicara. Bunda bisa melakukan hal-hal seperti menggoyang-goyangkan botol susu saat mengajak si kecil minum atau mengelus boneka untuk mengajarkan menyayangi benda.

Bunda juga bisa mulai mengenalkan anggota tubuh pada si kecil sambil menunjuk dan membuat gerakan ekspresif. Dengan cara seperti ini anak akan terdorong untuk berbicara dan berkomunikasi meskipun kata-katanya masih belum bisa dipahami oleh orang dewasa karena menggunakan bahasa bayi. 

  1. Ulang Semua yang Ia Katakan dengan Mengikuti Semua Ucapan Anak

Ketika si kecil sudah bisa mengucapkan suara-suara tertentu meskipun kosakatanya belum jelas, ikuti saja suara yang ditangkap dengan kata yang lebih jelas. Meskipun Bunda tidak memahami maksud dari suara-suara yang mereka ucapkan, tetap ikuti saja dan ajak si kecil berbicara. 

Anak akan merasa seperti mereka sedang berbicara dengan orang lain dan lambat laun akan membiasakan untuk meniru kata-kata yang Bunda ucapkan. Ajak anak mengobrol sebanyak mungkin dan tetap bersabar dalam mendampingi perkembangan si kecil. 

  1. Perbanyak Waktu Bermain Bersama untuk Melatihnya

Saat mengajak anak bermain bersama, orang tua terkadang perlu berakting layaknya seperti anak kecil. Ajak mereka untuk bermain permainan yang dapat meningkatkan kemampuan verbalnya. Contohnya seperti bermain peran atau berimajinasi pura-pura menelepon. 

Anak akan belajar banyak kosakata baru dan merasa senang karena diajari dengan cara yang menyenangkan. Mereka akan lebih banyak mengeksplor perbendaharaan kata dan jika saat memainkan peran tersebut tidak tahu kata yang harus diucapkan, anak akan belajar inisiatif bertanya. 

  1. Biasakan untuk Melatih Si Kecil Untuk Membuat Narasi

Anak memang belum bisa berbicara layaknya orang dewasa dengan struktur kalimat yang runut, namun Bunda masih bisa mengajarinya dengan membuat percakapan sehari-hari lebih deskriptif. Ajarkan anak untuk membuat kalimat yang urut dan detail. 

Contohnya seperti, “Besok kita pergi ke taman di dekat rumah yang ada pohon mangganya, pakai baju motif bunga-bunga yang ini ya!” Ucapkan kalimat tersebut sambil memperlihatkan baju. Anak juga akan belajar memahami benda atau objek tertentu dengan kata-kata yang Bunda ucapkan. 

  1. Berikan Kaimat Pujian untuk Perkembangan Si Kecil

Anak yang mendapat pujian dan apresiasi biasanya akan lebih semangat lagi, termasuk dalam belajar berbicara. Berikan senyuman, pujian, dan pelukan setiap si kecil berhasil mengeluarkan suara dan kosakata yang baru dengan lancar dan benar. Anak adalah peniru yang ulung dan akan belajar dari reaksi. 

Rangsang perkembangan dengan terus mengajak si kecil untuk berkomunikasi dua arah. Pastikan untuk memberikan respon positif dan jangan mudah memarahi ketika Anda tidak bisa memahami kata-kata-kata yang diucapkan oleh mereka. 

Gangguan terlambat bicara memang menimbulkan kekhawatiran tersendiri apalagi jika teman sebayanya sudah melewati fase itu. Jangan menyerah dan terus berusaha untuk menstimulasi si kecil dengan tips dan cara-cara di atas. 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Tips Ajarkan Dua Bahasa pada Anak

Selain bahasa ibu alias bahasa Indonesia, kini banyak orangtua yang mengutamakan buah hatinya agar memiliki kemampuan berbahasa asing misalnya saja bahasa Inggris. Orangtua berpikir, dengan memiliki kemampuan tersebut, maka akan memudahkan buah hatinya meniti karier di masa depan. Namun kapan sebaiknya mengajari si kecil berbahasa asing? Sejatinya belajar bahasa asing pada anak-anak bisa dilakukan sedini mungkin. Hal ini supaya mereka lebih mudah menyerap kosa kata dan pola bahasa yang dipelajari.

Sebagai contoh, Bun, anak kecil saja bila menonton kartun berbahasa inggris lambat laun tak akan asing bahkan mulai berani berbicara dalam bahasa Inggris. Nah, mengutip Very Well Family, sekitar 12 persen anak di atas usai 5 tahun merupakan bilingual atau bisa berbicara dalam dua bahasa.

Sebuah penelitian menunjukkan, mengajarkan anak dalam dua bahasa jauh lebih mudah jika dilakukan sejak dini. American Speech-Language-Hearing Association menjelaskan ada beberapa keuntungan mengajarkan dua bahasa kepada anak. Mulai dari bisa belajar kata-kata baru dengan cepat, meningkatkan kemampuan mempelajari informasi baru, lebih mudah menyelesaikan masalah, serta punya keterampilan mendengarkan lebih baik.

Sebagai panduannya, berikut ini cara yang tepat yang dapat Bunda lakukan untuk mengajarkan dua bahasa pada anak.

Perdengarkan Suara-suara yang Unik ya Bun

Pada usia dua atau tiga tahun, anak biasanya sedang dalam proses mengenali pola bicara, Bun. Untuk itu cobalah untuk mengajarkan dua bahasa padanya dengan suara-suara yang unik. Di usia tersebut, mereka dengan mudah lebih mengenali suara. Selain itu, menurut Francois Thibaut, Director of the Language Workshop for Children, di New York City, Anda bisa mengajarkan mereka dengan cara memperdengarkan musik lho.

Usahakan Bunda Menciptakan Lingkungan Belajar yang Santai Untuknya

Thibaut mengatakan, cara terbaik untuk mengajarkan bahasa baru pada anak adalah dengan membiarkannya mendengarkan percakapan seseorang yang sudah lancar berbahasa tersebut. Kelak secara alami ia akan mencoba untuk bicara juga. Apalagi anak yang berusia 2 atau 3 tahun juga suka meniru apa yang mereka dengar.

Namun pastikan Bunda dan pasangan pun juga sudah fasih berbicara dengan bahasa yang ingin diajarkan pada anak ya Bun. Hal itu untuk memudahkan si kecil memahami arti dari kata-kata dan frasa yang pendek yang Bunda ucapkan.

Ajarkan Kata Demi Kata

Jika tidak ingin melakukan pelajaran formal kepada anak, Bunda bisa memperkenalkan dasar-dasar bahasa tersebut dengan menunjukkan suatu benda memiliki dua bahasa. Manfaatkan kartu-kartu permainan yang punya dua bahasa dilengkapi dengan gambar. Selain itu, Bunda juga bisa menggunakan video-video tutorial untuk mengajarkan dua bahasa pada anak di YouTube. Jangan lupa untuk terus mengulang pelajaran tersebut sesering mungkin, agar anak cepat memahami.

Meski begitu, ada beberapa hal yang perlu Anda pertimbangkan sebelum mengajarkan si kecil lebih dari satu bahasa. Kunci terpenting, Bunda dapat mengajarkan si kecil belajar bahasa asing sebagai bahasa kedua setelah ia menguasai banyak kosakata dari bahasa ibu, ya Bun. Dengan begitu anak tidak kesulitan membedakan kosakata dari bahasa ibu dengan kosakata dari bahasa asing.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Bila Anak Belum Dapat Bicara Padahal di Usianya Sudah Harus Bisa Bicara, Ini 8 penyebabnya

Sebagai orang tua, Anda pasti menantikan kata pertama yang terucap dari anak tercinta. Tapi bagaimana jika Anda tidak kunjung mendengar sepatah kata pun terlontar dari bibir mungil si Kecil?

Lantas anda  khawatir anak dengan usia yang seharusnya sudah bisa bicara tetapi belum bisa bicara, pahami penyebabnya:

Pertama, dan yang tersering adalah kurangnya komunikasi kepada anak. Anak jarang diajak bicara atau mengajarkan lebih dari satu bahasa sehari-hari yang membuat anak menjadi bingung.

Kedua, adalah keterlambatan bicara karena kelemahan saraf motorik bicara. Biasanya hal ini perlu pelatihan khusus dan diharapkan anak akan dapat bicara setelah dilakukan pelatihan khusus.

Ketiga, adalah anak terlambat bicara karena terdapat penyakit yang lain seperti retardasi mental atau autisme, pada kasus ini anak tidak hanya keterlambatan berbicara, tetapi juga terlambat dalam personal sosialnya dan anak tidak dapat berkomunikasi dengan lingkungannya.

Keempat. mengajarkan beberapa bahasa pada anak supaya anak mudah mengerti dan belajar berbicara. memang ada sebagian anak yang mudah mempelajari beberapa bahasa dalam waktu bersamaan. Namun sebagian besar bisa jadi malah bingung untuk memahami banyaknya bahasa tersebut. Akibatnya, anak malah jadi kebingungan dan malas belajar bicara.

Kelima. Anak tidak mendengar. Anak akan belajar bicara bila ia medapatkan input kata-kata dari apa yang ia dengar sehari-hari. Otak anak akan memproses, mengerti, menyimpan dan kemudian mengucapkan kata-kata yang sering ia dengar. Hal ini tidak terjadi ia kemampuan mendengar anak terganggu.

Keenam. Anak tidak bisa mengerti kata-kata yang diucapkan. Keterlambatan bicara juga bisa terjadi pada anak yang bisa mendengar namun tempat penyimpanannya (otak) kurang baik. Kondisi ini biasanya terjadi pada anak dengan mental retardasi (kelemahan mental).

Ketujuh. Lidah tidak berfungsi dengan baik. Anak bisa mendengar, bisa mengerti dan menyimpan kata-kata yang didengar dalam otak, tapi ketika akan diucapkan lidahnya tidak berfungsi dengan baik, sehingga menyebabkan kesulitan bicara.

Kedelapan. Anak yang dikenalkan gawai sejak dini menjadi lambat berbicara, meskipun pemahamannya cukup baik. Gawai untuk anak usia dua tahun tidak ada manfaatnya. Anak menjadi lambat dalam berbicara. Hal ini karena anak lebih asik dengan gadgetnya ketimbang berkomunikasi dengan lingkungan sekitarnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Share

To Top