Parenting

Sering Membuatnya Jadi Teladan, Beginilah Cara agar Anak Baik Hati yang Penting untuk Diajarkan

Dijadikan role model untuk anak-anak seusianya, memiliki anak yang baik hati jadi kesenangan tersendiri bagi orangtua. Selain karena ini adalah sesuatu yang positif, melihat si kecil tumbuh jadi sosok yang baik hati, tentu membuat Bunda bahagia sekali. 

Akan tetapi, anak yang baik hati tidak tercipta dengan sendirinya. Ia terbentuk karena kesadaran orangtua untuk mengajarkannya berbuat baik. Untuk itu, sangat penting mendidik Si Kecil mengenai kebaikan sejak usia dini agar saat besar nanti ia dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Namun bagaimana cara agar anak baik hati merupakan tantangan tersendiri yang harus ditaklukan. Butuh proses panjang dimana kesabaran dan emosional orang tua juga harus mampu dikendalikan.

Inilah Beberapa Cara Agar Anak Baik Hati yang Bisa Kita Lakukan Sebagai Orangtua

Orang tua adalah teladan utama yang bisa dilihat dan ditiru langsung oleh para anak. Jika ingin mereka tumbuh menjadi pribadi baik hati maka harus dimulai pula dengan lingkungan yang mendukungnya untuk tumbuh seperti itu. Sembari melakukan beberapa cara di bawah ini:

1. Menunjukkan Bahwa Menjadi Anak yang Ramah Itu adalah Sesuatu yang Baik

Walaupun masih kecil, tidak ada salahnya untuk memberikan contoh yang baik, misalnya saja dengan bersikap ramah. Setiap pagi saat jalan-jalan bersama dengan anak, cobalah untuk menyapa tetangga dengan suara lembut. Perlihatkan wajah hangat dan tetap tersenyum agar orang yang disapa juga merasa senang.

Secara tidak langsung Bunda sudah memberikan contoh kepada anak untuk berbagi kehangatan lewat sikap ramah. Lakukan sesering mungkin dan kepada siapa saja yang ditemui, si kecil akan tumbuh dengan sikap dan hati sama baiknya. Sikap ramah juga baik dan bisa membuat orang senang.

2. Siap Menjadi Teladan yang Baik untuk Ditiru Oleh Anak-anak Kita

Semenjak masih kecil sampai dengan dewasa anak akan memerlukan teladan atau role model yang bisa dilihat dan tiru sikap juga perkataannya. Tentu saja yang banyak berperan disini adalah orang tua, ketika Ayah atau Bunda berteriak pakai kata kasar anak juga bisa menirunya saat sudah tumbuh besar nanti.

Begitu juga sebaliknya, ketika orang tua bersikap baik juga selalu memakai kata-kata lembut pastinya akan berimbas baik pula pada anak. Oleh karena itu sebaiknya mulai biasakan untuk menggunakan kata-kata baik di depan anak, bersikap ramah agar nantinya bisa jadi contoh baik bagi mereka.

3. Berikan Ia Motivasi Menjadi Anak yang Baik Hati dengan Cerita Tentang Hal-Hal Positif

Selain menunjukkan dari sikap, sebaiknya ayah atau bunda juga menceritakan hal-hal positif setiap kali sedang tertimpa masalah. Cara ini sangat efektif untuk mendidik anak agar tumbuh menjadi pribadi yang tulus dan selalu memandang segala sesuatunya dari sisi berbeda-beda.

Bunda juga bisa berbagai kisah yang mengandung nilai positif agar bisa dijadikan teladan bagi anak. Misalnya saja bagaimana indahnya berbagi, kemudian saling tolong menolong dan semacamnya. Terus asah kemampuan si kecil agar dalam kepekaan emosional hatinya.

4. Hargai Usahanya, Berikan Pujian Saat Anak Berhasil Melakukannya

Jangan hanya paksa anak untuk terus melakukannya tanpa tau bagaimana kerasnya ia mencoba. Jika si kecil sudah mencoba usahakan untuk memberinya reward semacam pujian kata-kata sederhana saja. Dengan begitu mereka merasa termotivasi untuk selalu melakukannya karena merasa diapresiasi.

Butuh dukungan besar dari peran orang-orang sekitar saat mereka mencoba untuk melakukan apa yang sudah diajarkan oleh orang tuanya. Tidak perlu pakai barang-barang mewah, cukup dengan kata-kata pujian seperti “kakak hebat sudah bisa berbagi makanan sama kakek tadi, terimakasih ya kak “

5. Buat Anak Mengerti dengan Menunjukan Alasan Berbuat Baik

Biasanya anak akan suka bertanya alasan orang tuanya mengajarkan pendidikan atau sikap tertentu kepada mereka. Orangtua juga harus sadar dan mau menjelaskan kepada si kecil mengapa berbuat baik ke orang lain itu perlu. Pakai alasan yang jelas dan lebih kompleks agar ia mau memahami.

Misalnya dengan mengatakan bahwa berbuat baik itu imbas atau efeknya juga akan ke diri sendiri. Jadi jika menolong orang lain maka suatu saat Tuhan juga akan menolongnya saat sedang kesulitan. Anak akan mudah mengerti jika kata-katanya dirangkai dengan sederhana.

6. Berikan Ia Pemahaman Tentang Berbuat Sesuatu Secara Sukarela Berarti Ikhlas

Ajarkan pula kepada anak jika berbuat baik adalah pekerjaan mulia. Saat besar nanti boleh arahkan anak untuk mencoba jadi relawan yang berarti melakukan sesuatu dengan ikhlas. Tidak perlu sampai ke skala besar, karena peran sekecil apapun nantinya juga sangat berguna bagi mereka. Misalnya saja dengan membantu korban banjir di daerah sekitar.

Ajak anak untuk mempelopori gerakan anak-anak seusianya. Mengunjungi rumah para orang tua yang kesusahan dan tidak ada sumber makanan bertahan hidup. Dengan terlibat langsung dengan aksi sosial semacam ini si kecil jadi lebih aktif dan tertarik untuk melakukannya lagi.

7. Berusahalah untuk Selalu Konsisten dan Disiplin Menjalankannya Setiap Hari

Menanamkan kebiasaan baik tentu bukan hal instan yang hasilnya bisa nampak dalam waktu satu dua hari saja. Ada proses panjang yang dapat mendukung si kecil tumbuh seperti itu, agar si kecil tumbuh menjadi pribadi yang baik hati tentu nilai-nilai mulia tersebut harus ditanamkan dari awal.

Kedisiplinan dan selalu menjaga konsistensi adalah hal yang tidak boleh dilewatkan. Setiap hari orang tua ayah dan ibu tidak boleh absen untuk mengajarkan nilai-nilai mulia tersebut. Misalnya menceritakan kisah-kisah orang yang baik hatinya.

8. Jalankan Semua Ajaran Tersebut dengan Tetap Memberinya Kasih Sayang yang Tulus 

Terakhir setiap kali memberikan pelajaran tersebut ke anak jangan paksakan jika memang si kecil sedang bosan. Harus ada taburan cinta juga kasih sayang di setiap kata-katanya, jadi jangan hanya memaksa saja tanpa tahu kondisi sebenarnya.

Ketika pelajaran diberikan dengan cinta dan kasih sayang tentu saja akan membuat si kecil merasa nyaman. Tidak akan ada luapan emosi negatif jika ternyata si kecil tidak bisa menerimanya dengan baik. Semua hal yang diawali dengan ketulusan akan berbuah manis

Menjadi pribadi yang baik tidak hanya soal tolong menolong saja, masih banyak definisi baik lainnya. Misalkan saja bisa menempatkan diri dalam lingkungan tertentu, bisa menerima pemikiran dari orang lain, dan semacamnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Kesehatan

Waspadai Beberapa Gangguan Perkembangan Balita Pada Usia 3 – 4 Tahun yang Sering Terjadi

Tumbuh kembang si kecil, jadi sesuatu yang wajib diperhatikan dengan sungguh-sungguh. Karena jika telat mendapat perhatian, bisa jadi fatal karena tak segera ditangani. Meski gangguan perkembangan balita pada usia 3 – 4 tahun kadang sulit didetiksi. Sebagai orangtua, kita wajib untuk mengetahui tahap perkembangan anak mulai dari lahir hingga dewasa. Tujuannya tidak lain untuk mengetahui apakah si kecil mengalami tanda-tanda gangguan atau tidak.

Tahap Perkembangan Anak Usia 3 – 4 Tahun yang Patut Dijadikan Ajuan oleh Orangtua

Usia 3 – 4 tahun termasuk dalam kategori masa golden age bagi si kecil. Pertumbuhan di masa ini sangat penting untuk membangun karakternya nanti ketika mereka dewasa kelak. Oleh karena itu, penting sekali untuk terus mendampingi mereka saat masih di masa keemasan. Apa saja tahap perkembangannya?

  1. Kemampuan Gerak Tubuh untuk Melakukan Sesuatu yang Ia Inginkan

Dari segi fisik, anak yang sudah memasuki usia 3 sampai 4 tahun biasanya sedang sangat aktif bergerak. Mereka sedang menikmati masa-masa mengeksplor banyak hal dan mulai muncul banyak pertanyaan kritis. Anak-anak sudah bisa melakukan gerak tubuh seperti berjalan dan berlari.

Di usia ini mereka juga sudah bisa naik turun tangga dengan kaki secara bergantian. Menendang bola, melempar, dan menangkapnya juga menjadi keahlian lain yang sudah harus dimiliki si kecil pada usia 3 sampai 4 tahun. Mereka juga sudah bisa memanjat, melompat, hingga menggunakan / melepas pakaian.

  1. Kemampuan Berbahasa Sebagai Caranya Berkomunikasi dengan Orangtua dan Orang lain di Sekitar

Kosakata yang dikuasai anak usia 3-4 tahun sudah semakin banyak sehingga biasanya mereka akan banyak berbicara. Banyak hal yang berhubungan dengan bahasa dan komunikasi yang seharusnya sudah bisa dilakukan oleh anak dalam usia tersebut. Contohnya seperti menyebutkan nama dan usia.

Biasanya mereka sudah mampu mengucapkan hingga ratusan kosakata dengan lebih jelas. Anak-anak juga sudah mampu menjawab pertanyaan sederhana yang diajukan kepada mereka. Si kecil juga sudah bisa menyusun kalimat dengan runtut dan bicaranya sudah bisa dipahami dengan sangat jelas.

  1. Kemampuan Tangan dan Jari untuk Melakukan Sesuatu dan Beraktivitas

Kemampuan tangan dan jari sekecil di usia 3 sampai 4 tahun juga sudah semakin membaik. Mereka sudah bisa melakukan banyak hal seperti memegang benda kecil, membuka halaman buku, menggunting menggunakan gunting mainan, menggambar kotak dan lingkaran, hingga mewarnai.

Kemampuan memegang alat tulis bisa dikuasai dengan baik oleh anak usia 3-4 tahun. Mereka bahkan mampu menulis beberapa huruf kapital dan menggambar beberapa bentuk gambar yang ada di lingkungan sekitarnya. Hal sederhana seperti memutar gagang pintu, membuka toples juga sudah bisa dilakukan. 

Dan Ada Pula Gangguan Perkembangan Balita Pada Usia 3 – 4 Tahun yang Wajib Bunda Waspadai

Anak usia 3 – 4 tahun juga bisa mengalami gangguan perkembangan tertentu. Anda harus waspada dan terus mengawasi bagaimana tumbuh kembang si kecil setiap harinya. Berikut ini beberapa jenis gangguan perkembangan yang mungkin bisa dialami dan patut diwaspadai, di antaranya:

  1. Kesulitan Berbicara untuk Mengutarakan Isi Hati dan Perasaanya

Jika anak usia 3 – 4 tahun belum bisa diajak berkomunikasi karena kosakata yang diucapkan belum jelas, maka Anda patut waspada. Bisa jadi mereka mengalami keterlambatan bicara atau gangguan pendengaran sehingga sulit untuk mengucapkan kata yang mudah dipahami oleh orang dewasa.

Dalam berkomunikasi, anak-anak juga tidak tertarik untuk mengekspresikan perasaannya. Mereka cenderung diam dan enggan untuk berbicara. Oleh karena itu, penting untuk menstimulasi kemampuan anak berbicara sejak mereka lahir untuk mengantisipasi terjadinya keterlambatan seperti ini.

  1. Sering Berhenti Sejenak Saat Berbicara, Karena Kesulitan Menemukan Kosakata yang Ingin Disampaikan

Anak usia 3 – 4 tahun yang tiba-tiba berhenti sejenak saat berbicara, mungkin bisa menjadi pertanda bahwa ia mengalami kesulitan untuk mengucapkan kata-kata dari mulutnya. Jika mereka malas untuk belajar, maka hal tersebut akan terbawa terus-menerus hingga mereka dewasa. Tentu Anda tidak ingin itu terjadi. 

Ketika anak mengalami kesulitan saat berbicara dan mengeluarkan kosakata tertentu dari mulutnya, biasanya mereka akan mudah menyerah dan mengatakan “tidak jadi”. Jika mereka sering mengucapkan kata tersebut maka patut waspada dan coba uji beberapa kata pada anak untuk diucapkan.

  1. Tidak Bisa Memahami Instruksi atau Kalimat Perintah yang Diterimanya

Saat memasuki usia 3 – 4 tahun, seharusnya anak-anak sudah bisa memahami kalimat perintah dengan baik. Sehingga mereka bisa dimintai tolong untuk melakukan atau mengambil sesuatu. Namun, ada anak yang mungkin mengalami gangguan sehingga mereka tidak bisa memahami instruksi sederhana. 

Saat diminta untuk melakukan sesuatu, mereka cenderung memilih diam dan tidak melakukannya karena tidak paham apa yang diinginkan oleh orang yang memberikan instruksi tersebut. Bicaranya juga masih tidak jelas dan sulit untuk dipahami oleh orang dewasa.

  1. Kesulitan Menggunakan Struktur Kalimat yang Tepat Ketika Sedang Berbicara atau Mengutarakan Maksudnya

Anak usia 3 – 4 tahun bisa dianggap mengalami keterlambatan perkembangan ketika mereka masih belum bisa menggunakan kata aku dan kamu dengan cara yang tepat. Mereka juga masih kesulitan untuk menceritakan kembali cerita atau kisah favorit yang pernah diperdengarkan untuk si kecil.

Bicaranya masih cenderung belum jelas dan belum bisa menggunakan struktur kalimat dengan tepat. Mereka juga kesulitan untuk mendeskripsikan sesuatu secara rinci dan detail.

  1. Ketidaktertarikan Pada Aktivitas Fisik Tertentu yang Lazim Dilakukan Anak Seusianya

Anak usia 3 – 4 tahun harusnya sudah bisa belajar dengan mandiri dan melakukan beberapa hal sendiri. Namun, anak yang mengalami gangguan biasanya tidak mau mencoba untuk belajar hal-hal seperti memakai dan melepas baju, atau belajar menggunakan sendok dan garpu.

Mereka juga enggan belajar untuk menggosok gigi, membantu orang tua di rumah, menggunakan toilet, makan sendiri, atau menyiapkan makanan dan minumannya sendiri. Beberapa gangguan perkembangan balita pada usia 3 – 4 tahun tersebut memang bisa dialami oleh siapa saja. Oleh karena itu, sebagai orang tua jangan sampai lengah untuk mengawasi tumbuh kembang si kecil agar bisa mendidik dan mengajari dengan cara yang tepat.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Biarkan Anak Memilih Buku yang Ia Suka, Maka Begini Cara Agar Anak Mau Membaca dan Berlatih Setiap Hari

Memiliki kebiasaan rajin membaca nyatanya dapat menambah ilmu dan juga wawasan seseorang. Tidak hanya bermanfaat untuk orang dewasa,  sebagai orangtua, Kita juga perlu menumbuhkan kebiasaan rajin membaca sejak dini pada anak-anak. 

Adapun membaca bagian anak adalah menjadikannya sosok yang kreatif, serta dapat meningkatkan hubungan emosional antara ibu dan anak. Untuk itu, bagaimana cara agar anak mau membaca adalah sesuatu yang harus dipikirkan baik-baik oleh Ayah dan Bunda. 

Lantas, Bagaimana Tips Edukasi Cara Agar Anak Mau Membaca yang Tepat?

Anak adalah cerminan orangtua, istilah tersebut tentu saja benar adanya. Mereka akan tumbuh jadi pribadi yang sesuai dengan metode pengajaran dari orangtuanya. Jadi jika ingin anak mau belajar membaca dari kecil, beberapa tips dibawah ini bisa membantu Bunda dalam mewujudkannya.

1. Mulailah dengan Menjadi Panutan untuk ANak dengan Memberikan Contoh Baik Pada Anak

Jika ingin punya anak yang gemar membaca, tentu saja Ayah dan Bunda juga harus memberikan contoh serupa. Misalnya sering-sering baca buku saat sedang menjaga anak, atau bisa juga dengan membacakannya cerita dongeng ketika hendak tidur. Hal itu bisa merangsang rasa penasaran anak.

Secara tidak langsung Ayah dan Bunda juga sudah mengenalkan buku kepada anak. Dari rasa penasaran tersebut nantinya anak akan tertarik untuk bergabung bersama Bunda atau Ayahnya untuk membaca buku. Lalu tinggal perlahan mengenalkan berbagai macam huruf-huruf saja kepada si kecil.

2. Berikan Anak Kebebasan dengan Membiarkan Ia Membaca Buku Kesukaannya

Agar anak punya kemauan sendiri untuk melatih bacaannya, tidak ada salahnya untuk membiarkannya membaca buku pilihannya sendiri. Jika mereka senang dengan buku penuh gambar maka berikan saja kepadanya. Hal tersebut menjadi tanda jika si kecil merupakan pribadi pandai berimajinasi dan kreatif.

Namun jika si kecil lebih nyaman membaca buku yang hanya ada tulisan saja juga tidak masalah. Intinya biarkan mereka memperbanyak kosa kata melalui buku-buku favoritnya dulu. Jangan minta anak untuk selalu membaca buku-buku pelajaran yang tebal dan justru membuat mereka bosan.

3. Identifikasi Karakter Anak dan Berikan Buku yang Sesuai dengan Mereka

Biasanya anak akan suka dengan buku-buku seusia mereka. Misalnya saja dibawah 3 tahun akan lebih tertarik dengan buku banyak gambar dibandingkan hanya berisi tulisan saja. Untuk tahap pengenalan tentu saja hal tersebut tidak masalah. Justru bisa melatih daya imajinatif mereka.

Belikan beberapa buku bergambar untuk anak, bacakan setiap hari. Bisa sambil bermain atau menjelang tidur. Sambil perlahan-lahan ayah atau bunda juga memperkenalkan jenis buku lainnya yang bisa menjadi kesukaan berikutnya. Namun tidak perlu buru-buru, lakukan dengan perlahan saja.

4. Dukung Aktivitas Membacanya dengan Menciptakan Suasana Nyaman Ketika Anak Membaca

Selanjutnya adalah membuat anak betah atau gemar membaca dengan menciptakan suasana juga ruangan bersih, harum yang nyaman. Suasana seperti ini bisa membuatnya fokus pada buku tersebut, tidak terbagi ke mainan, suara bising motor atau lantai yang kotor karena sisa makanannya.

Suasana yang nyaman juga bisa meningkatkan fokus si kecil untuk membaca buku tersebut, meningkatkan ketertarikannya untuk lebih lagi dalam intensitas membaca. Kebiasaan seperti ini tentu saja sangat bagus untuk masa tumbuh kembang anak yang usianya dibawah lima tahun.

5. Ajak Anak Memilih dengan Pergi ke Toko Buku Bersama

Tips selanjutnya untuk membuat anak jadi semakin cinta membaca adalah dengan mengajaknya pergi ke toko buku bersama. Selain mengenalkan anak pada dunia luar yang asyik dan menyenangkan, kegiatan ini tentu bisa juga mempererat hubungan antara ibu dan anak agar bisa semakin akrab dan intim.

Ajak si kecil untuk berkeliling ke berbagai genre buku khusus anak-anak. Perkenalkan kepada mereka tentang macam-macam genre seperti komik, novel, cerita dongeng, buku bergambar, dan lainnya. Bangun intensitas si kecil sejak dini melalui langkah seperti ini memang dinilai sangat tepat.

6. Buat dan Ciptakanlah Waktu Khusus untuk Anak Membaca

Dalam satu hari usahakan ada waktu khusus bagi si kecil hanya untuk belajar membaca. Usahakan pilih waktu dimana ia berada dalam keadaan happy, mood baik dan daya fokusnya juga baik. Misalnya saja pagi hari setelah sarapan. Tidak perlu terlalu lama, cukup 30 menit saja waktu terlamanya.

Waktu terbaik lainnya adalah ketika menjelang waktu tidur. Disini bunda bisa membacakan cerita ke anak sebelum tidur. Quality time seperti ini bisa sangat berkualitas jika bunda dan si kecil bisa sama-sama aktif di dalamnya. Tidak perlu biaya mahal atau syarat khusus untuk bisa mendapatkannya.

7. Agar Jadi Sebuah Kebiasaan Cobalah Lakukan Secara Konsisten Setiap Hari

Hasil dari metode pembelajaran ini tentu tidak akan nampak dalam waktu cepat. Butuh konsistensi tinggi dari semua pihak, baik orang tua maupun pihak anak. Semua usaha tersebut juga harus dilakukan setiap hari. Semakin anak terbiasa maka Bunda juga bisa meningkatkan intensitasnya.

Dengan konsistensi tinggi dari semua pihak tentu saja hasil akhirnya juga akan memuaskan. Jadi bagi Bunda yang sekarang sedang berusaha memperkenalkan si kecil dengan huruf ataupun angka pantang untuk menyerah. Memang perlu proses panjang dan disiplin tinggi dari Ayah dan Bunda.

8. Dan Jangan Lupa untuk Memberi Apresiasi Setiap Kali Ia Menyelesaikan Satu Buku Bacaannya

Terakhir jangan lupa juga untuk memberikan apresiasi kepada si kecil. Setiap pencapaiannya tentu kemajuan yang sangat berharga. Misalnya saja hari ini anak sudah bisa menghafal dari A sampai G. Walaupun belum sempurna tetap harus diapresiasi.

Bentuk apresiasi yang diberikan juga tidak perlu mahal-mahal. Bisa saja hanya dengan hal-hal kecil seperti membuatkan makanan kesukaan, membelikan makanan pesan antar, atau hanya melalui ucapan saja seperti “kakak hebat sekali hari “

Pujian seperti itu ada kalanya memang sangat berpengaruh ke mental dan psikis anak. Intinya saat ini adalah jangan hanya mengekang anak untuk melakukan hal yang diinginkan orang tua tanpa tahu apa anak tersebut nyaman atau tidak. 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Kesehatan

Tahapan Tumbuh Kembang dan Cara Mengatasi Jenis-jenis Gangguan Perkembangan Balita Pada Usia 25 – 36 Bulan

Keterlambatan perkembangan pada anak dapat mencakup berbagai area keterampilan termasuk bahasa, motorik, sosial atau kemampuan berpikir. Namun, sebagai orangtua, kita juga harus mengerti jika tahapan perkembangan antara anak yang satu dengan yang lainnya tidak bisa disamaratakan. Ada anak yang cepat pada beberapa aspek, namun ada juga yang lambat. Itulah sebabnya, penting sekali untuk mengenali gangguan perkembangan balita pada usia 25 – 36 bulan. 

Tahapan Perkembangan yang Akan Anak Usia 25 – 36 Bulan Alami

Nah, untuk mengetahui apakah anak, mengalami tanda-tanda gangguan perkembangan pada usia 25 – 36 bulan, Bunda perlu memahami terlebih dahulu tahapan yang pada umumnya dilalui di usia tersebut. Sehingga, jadi informasi ini kita bisa memiliki tolok ukur untuk memeriksa tumbuh kembang si kecil. Berikut ini beberapa acuan tahapan perkembangan si kecil yang perlu diketahui, di antaranya:

1. Perkembangan Sosial dan Emosional

Saat anak memasuki usia 25 – 36 bulan mereka mulai mengenal teman-temannya dan senang jika bermain bersama. Bagi anak yang aktif interaksi saat bertemu dengan teman menjadi hal yang menyenangkan untuk mereka. Namun, tetap saja sebagai orang tua harus terus mengawasinya. 

Meskipun kemampuan berkomunikasi dengan temannya sudah baik, namun di fase ini mereka masih belum stabil emosinya. Terkadang masih harus ada penengah untuk melerai pertengkaran. Maka inilah saat yang tepat untuk mengajarkan kepada mereka tentang empati, negosiasi, kompromi, tahu batasan, dan lainnya. 

2. Perkembangan Motorik

Fisik dan keterampilan si kecil saat memasuki usia 25 – 36 bulan sudah semakin sempurna dan ahli. Mereka juga senang dan mulai mahir mengayuh sepeda, bermain dengan berbagai jenis permainan di taman, dan lainnya. Buatlah jadwal yang rutin setiap minggunya agar si kecil senang dengan aktivitasnya. 

Saat usia ini mereka sedang senang-senangnya bermain bersama teman-teman. Fisiknya juga sudah terlatih dengan sangat baik dan kemampuan berjalan atau berlari sudah begitu lancar. Dari segi fisik harusnya anak di usia tersebut sudah bisa menggerakan tangan dan kaki dengan sempurna. 

3. Perkembangan Bicara dan Bahasa

Pada umumnya, anak-anak yang berusia 25 – 36 bulan sudah memiliki kemampuan bahasa yang meningkat pesat. Mereka juga sudah bisa memahami instruksi atau kalimat perintah yang kompleks. Bahkan anak-anak juga sudah bisa menggambarkan aktivitas dan apapun yang dilihatnya dengan baik. 

Contohnya seperti menggambarkan kegiatan selama di sekolah, mendeskripsikan apa yang dilihat dengan runut dan jelas baik kata kerja maupun kata sifatnya. Kosakata yang dikuasai juga semakin banyak bahkan hingga 900 kata atau lebih tergantung bagaimana orang tua mengajarinya.. 

Dan Berikut Adalah Jenis Gangguan Perkembangan Balita Pada Usia 25 – 36 Bulan yang Harus Dihindari

Gangguan perkembangan anak bisa dialami oleh siapa saja, sehingga kita sebagai orangtua patut mengantisipasi dan mengatasinya dengan baik. Namun, bukan berarti setiap gangguan yang menyebabkan keterlambatan tersebut bisa dianggap cacat. Bisa jadi masih berada di batas normal, yang perlu kita lakukan adalah mengidentifikasi apa yang ia alami dan tahu bagaimana cara mengatasinya.

1. Gangguan Attention-Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)

ADHD merupakan salah satu jenis gangguan yang sifatnya kronis dan biasanya dalam jangka panjang. Penyebabnya adalah karena ada masalah yang terjadi di sel saraf otak sehingga tidak bisa bekerja sebagaimana mestinya. Gejalanya muncul saat kanak-kanak namun bisa bertahan hingga mereka dewasa. 

Saat usia tiga tahun, gejala ini sudah bisa mulai muncul baik yang kondisinya ringan maupun berat. Tanda-tanda anak yang mengalami ADHD seperti terlalu banyak bicara, sulit fokus, sulit mengatur aktivitas, sering melamun, suka lupa melakukan sesuatu, tidak sabar, lebih suka menyendiri, dan lainnya. 

2. Gangguan Kecemasan

Gangguan kecemasan atau yang biasa dikenal dengan istilah anxiety disorder ternyata tidak hanya dialami oleh orang dewasa. Anak pun bisa mengalami gangguan kecemasan dengan rasa takut yang berlebihan. Ketika mengalami gangguan ini, mereka cenderung selalu merasa tertekan dan cemas. 

Bahkan mereka bisa mengalami gangguan kecemasan yang begitu dahsyat dan bisa muncul kapan saja tanpa peringatan. Contoh gangguan jenis ini yang terjadi pada anak adalah obsesif-kompulsif saat si kecil terus mengalami perilaku dan pemikiran yang seolah terobsesi sehingga mereka tidak dapat berhenti. 

3. Bipolar

Bipolar dikenal juga dengan istilah mania-depresi atau kelainan otak yang menyebabkan mood berubah dengan sangat tidak wajar pada tingkat energi dan aktivitas tertentu. Anak-anak yang mengalami penyakit ini bisa tiba-tiba memiliki banyak energi dan menjadi lebih aktif dari biasanya. 

Namun, di satu sisi saat mereka mengalami episode depresi, maka anak akan merasa sangat terpuruk dan bahkan tidak bisa aktif sama sekali. Resiko gangguan bipolar bisa semakin meningkat jika ada faktor yang mempengaruhinya yakni kelainan genetik, struktur otak, hingga riwayat kesehatan keluarga. 

4. Cerebral Palsy

Anak yang memasuki usia 25 – 36 bulan harusnya sudah bisa berjalan dan berbicara dengan normal. Gangguan cerebral palsy menyebabkan anak mengalami keterlambatan dalam perkembangan motoriknya untuk bergerak maupun mempertahankan keseimbangan tubuh. 

Anak-anak yang mengalami cerebral palsy biasanya memiliki kekakuan pada otot, kekurangan koordinasi otot, gerakan yang lambat, sulit berjalan, sulit makan, kejang, hingga sulit berbicara. 

5. Gangguan Spektrum Autisme

Gangguan ini berdampak pada kemampuan interaksi dan komunikasi pada anak. Biasanya muncul di awal masa tumbuh kembang mereka di mana penderita seolah punya dunia sendiri. Bahkan mereka tidak memiliki kemampuan untuk mengembangkan hubungan sosial-emosional dengan orang sekitarnya. 

Gangguan spektrum autisme pun ada beberapa jenis mulai dari aspek komunikasi dan bahasa, interaksi sosial, perilaku, hingga panca indra. Penderita autisme biasanya memiliki panca indra yang tergolong sensitif sehingga sering tidak kuat mendengar kebisingan atau melihat yang terlalu silau. Gangguan perkembangan balita pada usia 25 – 36 bulan di atas perlu Bunda ketahui tanda-tandanya agar bisa mengetahui apa si kecil ada indikasi ke arah gangguan tersebut atau tidak.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Share

To Top