Parenting

Selalu Ada Alasan Kenapa Anak Jadi Pembangkang, Pahami Cara agar Anak Jadi Penurut Ketika Dinasehati

Menjadi orangtua adalah proses belajar yang tak ada habisnya. Begitu pula dengan cara mendidik anak supaya pintar dan penurut. Ada tantangan untuk membuatnya jadi penurut sesuai yang orangtua harapkan. Prosesnya pun juga tidak mudah, agar cepat melekat dan terserap ke daya ingat usia pertumbuhan adalah saat paling tepat.

Ada banyak cara agar anak nurut, salah satunya dengan menanamkan moral dan nilainya sejak dini. Kita dapat melakukannya dengan menjadi pendengar yang baik bagi anak hingga membiarkan anak memilih. Selain itu, agar tak jadi orangtua otoriter yang memaksa anaknya menurut. Kita juga perlu melakukan perhitungkan bagaimana karakter anak, agar yang kita ajarkan bisa masuk dan diterima oleh mereka. 

Beberapa Cara agar Anak Nurut Saat Dinasehati yang Bisa Kita Lakukan Sebagai Orangtua

Usia anak-anak adalah saat paling tepat untuk mulai menerapkan edukasi tentang segala macam hal.  Mulai dari sikap baik, pengenalan warna, hitungan, abjad, dan masih banyak lagi. Jika ingin si kecil nurut Ayah dan Bunda bisa gunakan berbagai macam tips bagaimana membuat anak jadi pribadi penurut.

Jangan Kasar! Pakailah Bahasa dan Sentuhan yang Halus yang Mudah Dimengerti Anak

Biasanya ketika sedang rewel dan tantrum anak akan susah diberhentikannya. Tidak ada jalan lain selain membiarkan masa tantrum terlewat dulu, karena jika Bunda mencoba menghentikannya hasilnya akan sia-sia saja, bukan selesai justru semakin menjadi-jadi, akhirnya orang tua malah kehabisan tenaga.

Agar anak mau nurut ketika dinasehati lebih baik diamkan dulu sampai ia tenang. Kemudian pakai bahasa juga sentuhan halus, lebih baik bicara baik-baik dengan menggunakan nada tenang. Dengan begitu si kecil juga bisa mendengarkan lebih jelas apa yang dikatakan oleh ayah ibunya.

Agar Perintah dari Orangtua Tidak Diabaikan, Memanggil Nama Anak Juga Bisa Jadi Pilihan

Selain berusaha menggunakan gerakan juga perkataan, dengan memanggil namanya juga bisa memecah konsentrasinya ketika sedang marah-marah. Namun usahakan si kecil sudah tenang dulu jadi panggilan nama ayah atau bunda tidak diabaikan begitu saja. Usahakan agar intonasi suara juga jelas.

Setelah anak mendengarkan dengan jelas biasanya ia akan diam sejenak, mulailah ayah bunda berbicara tentang nasehat yang diberikan kepada si kecil. Karena kalimat per kalimat dikatakan dengan jelas maka si kecil jadi lebih nurut. Tidak perlu sampai marah-marah atau ikut terbakar emosi juga.

Akan Tetapi Hindari untuk Memberi Perintah Ketika Anak Sedang Tantrum

Ketika si kecil sedang tantrum jangan mengajaknya bicara dulu. Berikan ruang untuk mengekspresikan emosinya dulu sampai akhirnya bisa tenang dan mau diajak diskusi. Jika masih teriak-teriak dipaksa untuk berdiskusi yang ada anak tambah histeris, ayah bunda juga akan kehilangan kesabaran.

Saat si kecil sudah tenang, maka ayah budan bisa langsung mulai memberikan perintah. Misalnya saja “adek udah selesai ya marah-marahnya, udah lega sekarang bisa pakai sepatu dan pulang bareng bunda ya” ketika sudah tenang otomatis si kecil akan menuruti perkataan tersebut tanpa ada adu argumen lagi.

Sebagai Orangtua, Pastikan Kita Mampu Menciptakan Lingkungan yang Menyenangkan Untuknya

Lingkungan adalah salah satu faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang anak. Ciptakan lingkungan yang menyenangkan agar si kecil merasa terbantu juga termotivasi. Misalnya memperlihatkan bagaimana cara menasehati si kakak, perlihatkan komunikasi bagus juga jelas.

Lingkungan yang aman dan nyaman bisa membuat tumbuh kembang si kecil menjadi pribadi lebih baik. Oleh karenanya jika ingin anak nurut suasana sekitar juga harus kondusif, jangan sering melontarkan kata-kata kasar atau bahkan sampai kekerasan fisik yang bisa membuat anak trauma.

Satukan Suara, Ayah dan Bunda Harus Kompak Selalu sebagai Orangtuanya

Tips lain yang bisa dilakukan adalah harus selalu kompak dengan pasangan. Satukan suara Ayah dan Bunda untuk mendidik si kecil, memberikan peraturan kepada mereka agar berperilaku baik juga sopan tanpa harus ada bentakan atau luapan emosi negatif di dalamnya.

Dengan adanya kekompakan bersama pasangan merawat si kecil bisa dijalankan dengan maksimal. Jangan sampai ayah atau bunda berbeda pandangan, jika sampai seperti ini bisa-bisa si kecil malah merasa bingung karena orang tuanya tidak sepaham.

Memberikan Apresiasi Pada Si Kecil Atas Usaha yang Sudah Dilakukannya

Apresiasi adalah bentuk penghargaan bagi anak karena sudah berhasil melakukan sebuah pencapaian.  Sebenarnya tidak perlu menggunakan barang-barang mewah atau mahal. Cukup dengan barang-barang sederhana saja asalkan sesuai dan itu adalah keinginan si anak tersebut.

Apresiasi juga hanya bisa sekedar kata-kata atau tindakan simple saja. Misalnya dengan mengatakan “makasih ya kak sudah nurut ke mama” kemudian peluk anak dengan hangat. Secara tidak langsung si kecil juga akan merasa senang dan akan melakukan hal sama lagi di keesokan harinya.

Tanamkan Pada Diri Bunda, Agar Konsisten Melakukannya

Membentuk kepribadian anak sejak dini memang bukan pekerjaan mudah. Orangtua harus selalu bersabar dan melakukannya secara konsisten. Ketika si kecil sedang berontak dan tantrum sebaiknya orang tua harus pandai mengelola emosinya, jangan sampai ikut marah-marah.

Hal tersebut tentu juga harus dilakukan secara konsisten. Setiap kali anak marah atau teriak-teriak di tempat umum berikan ia waktu sampai tenang. Ketika sudah rileks maka bisa langsung instruksikan untuk melakukan berbagai macam perintah atau berkomunikasi seperti biasa.

Jika Orangtua Ingin Anak Mendengar Perkataan Kita, Maka Orangtua Pun Harus Mendengarkan Perkataan dari Anak

Usia tumbuh kembang anak adalah saat paling tepat untuk merekam dan mengingat semua yang ia lihat dan dengar. Seperti apa sikapnya kelak adalah bentuk dari cerminan perilaku lingkungan sekitarnya, terutama Ayah, ibu, juga saudara kandung yang berada di satu atap bersama setiap harinya.

Jika ingin perkataan didengar oleh si kecil maka ayah dan ibu juga harus melakukan hal serupa pula. Dengarkan ketika anak sedang mengutarakan maksud hatinya, jangan di sela atau diputus ketika anak belum selesai mengutarakan maksud hatinya. Nantinya si kecil juga akan melakukan hal serupa.

Sekarang ini edukasi parenting yang baik menjadi salah satu hal penting yang harus dimiliki para orang tua. Sudah bukan saatnya lagi marah-marah atau bentak-bentak ke anak, karena itu justru bisa jadi boomerang di kemudian hari. 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Kesehatan

Waspadai Beberapa Gangguan Perkembangan Balita Pada Usia 3 – 4 Tahun yang Sering Terjadi

Tumbuh kembang si kecil, jadi sesuatu yang wajib diperhatikan dengan sungguh-sungguh. Karena jika telat mendapat perhatian, bisa jadi fatal karena tak segera ditangani. Meski gangguan perkembangan balita pada usia 3 – 4 tahun kadang sulit didetiksi. Sebagai orangtua, kita wajib untuk mengetahui tahap perkembangan anak mulai dari lahir hingga dewasa. Tujuannya tidak lain untuk mengetahui apakah si kecil mengalami tanda-tanda gangguan atau tidak.

Tahap Perkembangan Anak Usia 3 – 4 Tahun yang Patut Dijadikan Ajuan oleh Orangtua

Usia 3 – 4 tahun termasuk dalam kategori masa golden age bagi si kecil. Pertumbuhan di masa ini sangat penting untuk membangun karakternya nanti ketika mereka dewasa kelak. Oleh karena itu, penting sekali untuk terus mendampingi mereka saat masih di masa keemasan. Apa saja tahap perkembangannya?

  1. Kemampuan Gerak Tubuh untuk Melakukan Sesuatu yang Ia Inginkan

Dari segi fisik, anak yang sudah memasuki usia 3 sampai 4 tahun biasanya sedang sangat aktif bergerak. Mereka sedang menikmati masa-masa mengeksplor banyak hal dan mulai muncul banyak pertanyaan kritis. Anak-anak sudah bisa melakukan gerak tubuh seperti berjalan dan berlari.

Di usia ini mereka juga sudah bisa naik turun tangga dengan kaki secara bergantian. Menendang bola, melempar, dan menangkapnya juga menjadi keahlian lain yang sudah harus dimiliki si kecil pada usia 3 sampai 4 tahun. Mereka juga sudah bisa memanjat, melompat, hingga menggunakan / melepas pakaian.

  1. Kemampuan Berbahasa Sebagai Caranya Berkomunikasi dengan Orangtua dan Orang lain di Sekitar

Kosakata yang dikuasai anak usia 3-4 tahun sudah semakin banyak sehingga biasanya mereka akan banyak berbicara. Banyak hal yang berhubungan dengan bahasa dan komunikasi yang seharusnya sudah bisa dilakukan oleh anak dalam usia tersebut. Contohnya seperti menyebutkan nama dan usia.

Biasanya mereka sudah mampu mengucapkan hingga ratusan kosakata dengan lebih jelas. Anak-anak juga sudah mampu menjawab pertanyaan sederhana yang diajukan kepada mereka. Si kecil juga sudah bisa menyusun kalimat dengan runtut dan bicaranya sudah bisa dipahami dengan sangat jelas.

  1. Kemampuan Tangan dan Jari untuk Melakukan Sesuatu dan Beraktivitas

Kemampuan tangan dan jari sekecil di usia 3 sampai 4 tahun juga sudah semakin membaik. Mereka sudah bisa melakukan banyak hal seperti memegang benda kecil, membuka halaman buku, menggunting menggunakan gunting mainan, menggambar kotak dan lingkaran, hingga mewarnai.

Kemampuan memegang alat tulis bisa dikuasai dengan baik oleh anak usia 3-4 tahun. Mereka bahkan mampu menulis beberapa huruf kapital dan menggambar beberapa bentuk gambar yang ada di lingkungan sekitarnya. Hal sederhana seperti memutar gagang pintu, membuka toples juga sudah bisa dilakukan. 

Dan Ada Pula Gangguan Perkembangan Balita Pada Usia 3 – 4 Tahun yang Wajib Bunda Waspadai

Anak usia 3 – 4 tahun juga bisa mengalami gangguan perkembangan tertentu. Anda harus waspada dan terus mengawasi bagaimana tumbuh kembang si kecil setiap harinya. Berikut ini beberapa jenis gangguan perkembangan yang mungkin bisa dialami dan patut diwaspadai, di antaranya:

  1. Kesulitan Berbicara untuk Mengutarakan Isi Hati dan Perasaanya

Jika anak usia 3 – 4 tahun belum bisa diajak berkomunikasi karena kosakata yang diucapkan belum jelas, maka Anda patut waspada. Bisa jadi mereka mengalami keterlambatan bicara atau gangguan pendengaran sehingga sulit untuk mengucapkan kata yang mudah dipahami oleh orang dewasa.

Dalam berkomunikasi, anak-anak juga tidak tertarik untuk mengekspresikan perasaannya. Mereka cenderung diam dan enggan untuk berbicara. Oleh karena itu, penting untuk menstimulasi kemampuan anak berbicara sejak mereka lahir untuk mengantisipasi terjadinya keterlambatan seperti ini.

  1. Sering Berhenti Sejenak Saat Berbicara, Karena Kesulitan Menemukan Kosakata yang Ingin Disampaikan

Anak usia 3 – 4 tahun yang tiba-tiba berhenti sejenak saat berbicara, mungkin bisa menjadi pertanda bahwa ia mengalami kesulitan untuk mengucapkan kata-kata dari mulutnya. Jika mereka malas untuk belajar, maka hal tersebut akan terbawa terus-menerus hingga mereka dewasa. Tentu Anda tidak ingin itu terjadi. 

Ketika anak mengalami kesulitan saat berbicara dan mengeluarkan kosakata tertentu dari mulutnya, biasanya mereka akan mudah menyerah dan mengatakan “tidak jadi”. Jika mereka sering mengucapkan kata tersebut maka patut waspada dan coba uji beberapa kata pada anak untuk diucapkan.

  1. Tidak Bisa Memahami Instruksi atau Kalimat Perintah yang Diterimanya

Saat memasuki usia 3 – 4 tahun, seharusnya anak-anak sudah bisa memahami kalimat perintah dengan baik. Sehingga mereka bisa dimintai tolong untuk melakukan atau mengambil sesuatu. Namun, ada anak yang mungkin mengalami gangguan sehingga mereka tidak bisa memahami instruksi sederhana. 

Saat diminta untuk melakukan sesuatu, mereka cenderung memilih diam dan tidak melakukannya karena tidak paham apa yang diinginkan oleh orang yang memberikan instruksi tersebut. Bicaranya juga masih tidak jelas dan sulit untuk dipahami oleh orang dewasa.

  1. Kesulitan Menggunakan Struktur Kalimat yang Tepat Ketika Sedang Berbicara atau Mengutarakan Maksudnya

Anak usia 3 – 4 tahun bisa dianggap mengalami keterlambatan perkembangan ketika mereka masih belum bisa menggunakan kata aku dan kamu dengan cara yang tepat. Mereka juga masih kesulitan untuk menceritakan kembali cerita atau kisah favorit yang pernah diperdengarkan untuk si kecil.

Bicaranya masih cenderung belum jelas dan belum bisa menggunakan struktur kalimat dengan tepat. Mereka juga kesulitan untuk mendeskripsikan sesuatu secara rinci dan detail.

  1. Ketidaktertarikan Pada Aktivitas Fisik Tertentu yang Lazim Dilakukan Anak Seusianya

Anak usia 3 – 4 tahun harusnya sudah bisa belajar dengan mandiri dan melakukan beberapa hal sendiri. Namun, anak yang mengalami gangguan biasanya tidak mau mencoba untuk belajar hal-hal seperti memakai dan melepas baju, atau belajar menggunakan sendok dan garpu.

Mereka juga enggan belajar untuk menggosok gigi, membantu orang tua di rumah, menggunakan toilet, makan sendiri, atau menyiapkan makanan dan minumannya sendiri. Beberapa gangguan perkembangan balita pada usia 3 – 4 tahun tersebut memang bisa dialami oleh siapa saja. Oleh karena itu, sebagai orang tua jangan sampai lengah untuk mengawasi tumbuh kembang si kecil agar bisa mendidik dan mengajari dengan cara yang tepat.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Biarkan Anak Memilih Buku yang Ia Suka, Maka Begini Cara Agar Anak Mau Membaca dan Berlatih Setiap Hari

Memiliki kebiasaan rajin membaca nyatanya dapat menambah ilmu dan juga wawasan seseorang. Tidak hanya bermanfaat untuk orang dewasa,  sebagai orangtua, Kita juga perlu menumbuhkan kebiasaan rajin membaca sejak dini pada anak-anak. 

Adapun membaca bagian anak adalah menjadikannya sosok yang kreatif, serta dapat meningkatkan hubungan emosional antara ibu dan anak. Untuk itu, bagaimana cara agar anak mau membaca adalah sesuatu yang harus dipikirkan baik-baik oleh Ayah dan Bunda. 

Lantas, Bagaimana Tips Edukasi Cara Agar Anak Mau Membaca yang Tepat?

Anak adalah cerminan orangtua, istilah tersebut tentu saja benar adanya. Mereka akan tumbuh jadi pribadi yang sesuai dengan metode pengajaran dari orangtuanya. Jadi jika ingin anak mau belajar membaca dari kecil, beberapa tips dibawah ini bisa membantu Bunda dalam mewujudkannya.

1. Mulailah dengan Menjadi Panutan untuk ANak dengan Memberikan Contoh Baik Pada Anak

Jika ingin punya anak yang gemar membaca, tentu saja Ayah dan Bunda juga harus memberikan contoh serupa. Misalnya sering-sering baca buku saat sedang menjaga anak, atau bisa juga dengan membacakannya cerita dongeng ketika hendak tidur. Hal itu bisa merangsang rasa penasaran anak.

Secara tidak langsung Ayah dan Bunda juga sudah mengenalkan buku kepada anak. Dari rasa penasaran tersebut nantinya anak akan tertarik untuk bergabung bersama Bunda atau Ayahnya untuk membaca buku. Lalu tinggal perlahan mengenalkan berbagai macam huruf-huruf saja kepada si kecil.

2. Berikan Anak Kebebasan dengan Membiarkan Ia Membaca Buku Kesukaannya

Agar anak punya kemauan sendiri untuk melatih bacaannya, tidak ada salahnya untuk membiarkannya membaca buku pilihannya sendiri. Jika mereka senang dengan buku penuh gambar maka berikan saja kepadanya. Hal tersebut menjadi tanda jika si kecil merupakan pribadi pandai berimajinasi dan kreatif.

Namun jika si kecil lebih nyaman membaca buku yang hanya ada tulisan saja juga tidak masalah. Intinya biarkan mereka memperbanyak kosa kata melalui buku-buku favoritnya dulu. Jangan minta anak untuk selalu membaca buku-buku pelajaran yang tebal dan justru membuat mereka bosan.

3. Identifikasi Karakter Anak dan Berikan Buku yang Sesuai dengan Mereka

Biasanya anak akan suka dengan buku-buku seusia mereka. Misalnya saja dibawah 3 tahun akan lebih tertarik dengan buku banyak gambar dibandingkan hanya berisi tulisan saja. Untuk tahap pengenalan tentu saja hal tersebut tidak masalah. Justru bisa melatih daya imajinatif mereka.

Belikan beberapa buku bergambar untuk anak, bacakan setiap hari. Bisa sambil bermain atau menjelang tidur. Sambil perlahan-lahan ayah atau bunda juga memperkenalkan jenis buku lainnya yang bisa menjadi kesukaan berikutnya. Namun tidak perlu buru-buru, lakukan dengan perlahan saja.

4. Dukung Aktivitas Membacanya dengan Menciptakan Suasana Nyaman Ketika Anak Membaca

Selanjutnya adalah membuat anak betah atau gemar membaca dengan menciptakan suasana juga ruangan bersih, harum yang nyaman. Suasana seperti ini bisa membuatnya fokus pada buku tersebut, tidak terbagi ke mainan, suara bising motor atau lantai yang kotor karena sisa makanannya.

Suasana yang nyaman juga bisa meningkatkan fokus si kecil untuk membaca buku tersebut, meningkatkan ketertarikannya untuk lebih lagi dalam intensitas membaca. Kebiasaan seperti ini tentu saja sangat bagus untuk masa tumbuh kembang anak yang usianya dibawah lima tahun.

5. Ajak Anak Memilih dengan Pergi ke Toko Buku Bersama

Tips selanjutnya untuk membuat anak jadi semakin cinta membaca adalah dengan mengajaknya pergi ke toko buku bersama. Selain mengenalkan anak pada dunia luar yang asyik dan menyenangkan, kegiatan ini tentu bisa juga mempererat hubungan antara ibu dan anak agar bisa semakin akrab dan intim.

Ajak si kecil untuk berkeliling ke berbagai genre buku khusus anak-anak. Perkenalkan kepada mereka tentang macam-macam genre seperti komik, novel, cerita dongeng, buku bergambar, dan lainnya. Bangun intensitas si kecil sejak dini melalui langkah seperti ini memang dinilai sangat tepat.

6. Buat dan Ciptakanlah Waktu Khusus untuk Anak Membaca

Dalam satu hari usahakan ada waktu khusus bagi si kecil hanya untuk belajar membaca. Usahakan pilih waktu dimana ia berada dalam keadaan happy, mood baik dan daya fokusnya juga baik. Misalnya saja pagi hari setelah sarapan. Tidak perlu terlalu lama, cukup 30 menit saja waktu terlamanya.

Waktu terbaik lainnya adalah ketika menjelang waktu tidur. Disini bunda bisa membacakan cerita ke anak sebelum tidur. Quality time seperti ini bisa sangat berkualitas jika bunda dan si kecil bisa sama-sama aktif di dalamnya. Tidak perlu biaya mahal atau syarat khusus untuk bisa mendapatkannya.

7. Agar Jadi Sebuah Kebiasaan Cobalah Lakukan Secara Konsisten Setiap Hari

Hasil dari metode pembelajaran ini tentu tidak akan nampak dalam waktu cepat. Butuh konsistensi tinggi dari semua pihak, baik orang tua maupun pihak anak. Semua usaha tersebut juga harus dilakukan setiap hari. Semakin anak terbiasa maka Bunda juga bisa meningkatkan intensitasnya.

Dengan konsistensi tinggi dari semua pihak tentu saja hasil akhirnya juga akan memuaskan. Jadi bagi Bunda yang sekarang sedang berusaha memperkenalkan si kecil dengan huruf ataupun angka pantang untuk menyerah. Memang perlu proses panjang dan disiplin tinggi dari Ayah dan Bunda.

8. Dan Jangan Lupa untuk Memberi Apresiasi Setiap Kali Ia Menyelesaikan Satu Buku Bacaannya

Terakhir jangan lupa juga untuk memberikan apresiasi kepada si kecil. Setiap pencapaiannya tentu kemajuan yang sangat berharga. Misalnya saja hari ini anak sudah bisa menghafal dari A sampai G. Walaupun belum sempurna tetap harus diapresiasi.

Bentuk apresiasi yang diberikan juga tidak perlu mahal-mahal. Bisa saja hanya dengan hal-hal kecil seperti membuatkan makanan kesukaan, membelikan makanan pesan antar, atau hanya melalui ucapan saja seperti “kakak hebat sekali hari “

Pujian seperti itu ada kalanya memang sangat berpengaruh ke mental dan psikis anak. Intinya saat ini adalah jangan hanya mengekang anak untuk melakukan hal yang diinginkan orang tua tanpa tahu apa anak tersebut nyaman atau tidak. 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Kesehatan

Tahapan Tumbuh Kembang dan Cara Mengatasi Jenis-jenis Gangguan Perkembangan Balita Pada Usia 25 – 36 Bulan

Keterlambatan perkembangan pada anak dapat mencakup berbagai area keterampilan termasuk bahasa, motorik, sosial atau kemampuan berpikir. Namun, sebagai orangtua, kita juga harus mengerti jika tahapan perkembangan antara anak yang satu dengan yang lainnya tidak bisa disamaratakan. Ada anak yang cepat pada beberapa aspek, namun ada juga yang lambat. Itulah sebabnya, penting sekali untuk mengenali gangguan perkembangan balita pada usia 25 – 36 bulan. 

Tahapan Perkembangan yang Akan Anak Usia 25 – 36 Bulan Alami

Nah, untuk mengetahui apakah anak, mengalami tanda-tanda gangguan perkembangan pada usia 25 – 36 bulan, Bunda perlu memahami terlebih dahulu tahapan yang pada umumnya dilalui di usia tersebut. Sehingga, jadi informasi ini kita bisa memiliki tolok ukur untuk memeriksa tumbuh kembang si kecil. Berikut ini beberapa acuan tahapan perkembangan si kecil yang perlu diketahui, di antaranya:

1. Perkembangan Sosial dan Emosional

Saat anak memasuki usia 25 – 36 bulan mereka mulai mengenal teman-temannya dan senang jika bermain bersama. Bagi anak yang aktif interaksi saat bertemu dengan teman menjadi hal yang menyenangkan untuk mereka. Namun, tetap saja sebagai orang tua harus terus mengawasinya. 

Meskipun kemampuan berkomunikasi dengan temannya sudah baik, namun di fase ini mereka masih belum stabil emosinya. Terkadang masih harus ada penengah untuk melerai pertengkaran. Maka inilah saat yang tepat untuk mengajarkan kepada mereka tentang empati, negosiasi, kompromi, tahu batasan, dan lainnya. 

2. Perkembangan Motorik

Fisik dan keterampilan si kecil saat memasuki usia 25 – 36 bulan sudah semakin sempurna dan ahli. Mereka juga senang dan mulai mahir mengayuh sepeda, bermain dengan berbagai jenis permainan di taman, dan lainnya. Buatlah jadwal yang rutin setiap minggunya agar si kecil senang dengan aktivitasnya. 

Saat usia ini mereka sedang senang-senangnya bermain bersama teman-teman. Fisiknya juga sudah terlatih dengan sangat baik dan kemampuan berjalan atau berlari sudah begitu lancar. Dari segi fisik harusnya anak di usia tersebut sudah bisa menggerakan tangan dan kaki dengan sempurna. 

3. Perkembangan Bicara dan Bahasa

Pada umumnya, anak-anak yang berusia 25 – 36 bulan sudah memiliki kemampuan bahasa yang meningkat pesat. Mereka juga sudah bisa memahami instruksi atau kalimat perintah yang kompleks. Bahkan anak-anak juga sudah bisa menggambarkan aktivitas dan apapun yang dilihatnya dengan baik. 

Contohnya seperti menggambarkan kegiatan selama di sekolah, mendeskripsikan apa yang dilihat dengan runut dan jelas baik kata kerja maupun kata sifatnya. Kosakata yang dikuasai juga semakin banyak bahkan hingga 900 kata atau lebih tergantung bagaimana orang tua mengajarinya.. 

Dan Berikut Adalah Jenis Gangguan Perkembangan Balita Pada Usia 25 – 36 Bulan yang Harus Dihindari

Gangguan perkembangan anak bisa dialami oleh siapa saja, sehingga kita sebagai orangtua patut mengantisipasi dan mengatasinya dengan baik. Namun, bukan berarti setiap gangguan yang menyebabkan keterlambatan tersebut bisa dianggap cacat. Bisa jadi masih berada di batas normal, yang perlu kita lakukan adalah mengidentifikasi apa yang ia alami dan tahu bagaimana cara mengatasinya.

1. Gangguan Attention-Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)

ADHD merupakan salah satu jenis gangguan yang sifatnya kronis dan biasanya dalam jangka panjang. Penyebabnya adalah karena ada masalah yang terjadi di sel saraf otak sehingga tidak bisa bekerja sebagaimana mestinya. Gejalanya muncul saat kanak-kanak namun bisa bertahan hingga mereka dewasa. 

Saat usia tiga tahun, gejala ini sudah bisa mulai muncul baik yang kondisinya ringan maupun berat. Tanda-tanda anak yang mengalami ADHD seperti terlalu banyak bicara, sulit fokus, sulit mengatur aktivitas, sering melamun, suka lupa melakukan sesuatu, tidak sabar, lebih suka menyendiri, dan lainnya. 

2. Gangguan Kecemasan

Gangguan kecemasan atau yang biasa dikenal dengan istilah anxiety disorder ternyata tidak hanya dialami oleh orang dewasa. Anak pun bisa mengalami gangguan kecemasan dengan rasa takut yang berlebihan. Ketika mengalami gangguan ini, mereka cenderung selalu merasa tertekan dan cemas. 

Bahkan mereka bisa mengalami gangguan kecemasan yang begitu dahsyat dan bisa muncul kapan saja tanpa peringatan. Contoh gangguan jenis ini yang terjadi pada anak adalah obsesif-kompulsif saat si kecil terus mengalami perilaku dan pemikiran yang seolah terobsesi sehingga mereka tidak dapat berhenti. 

3. Bipolar

Bipolar dikenal juga dengan istilah mania-depresi atau kelainan otak yang menyebabkan mood berubah dengan sangat tidak wajar pada tingkat energi dan aktivitas tertentu. Anak-anak yang mengalami penyakit ini bisa tiba-tiba memiliki banyak energi dan menjadi lebih aktif dari biasanya. 

Namun, di satu sisi saat mereka mengalami episode depresi, maka anak akan merasa sangat terpuruk dan bahkan tidak bisa aktif sama sekali. Resiko gangguan bipolar bisa semakin meningkat jika ada faktor yang mempengaruhinya yakni kelainan genetik, struktur otak, hingga riwayat kesehatan keluarga. 

4. Cerebral Palsy

Anak yang memasuki usia 25 – 36 bulan harusnya sudah bisa berjalan dan berbicara dengan normal. Gangguan cerebral palsy menyebabkan anak mengalami keterlambatan dalam perkembangan motoriknya untuk bergerak maupun mempertahankan keseimbangan tubuh. 

Anak-anak yang mengalami cerebral palsy biasanya memiliki kekakuan pada otot, kekurangan koordinasi otot, gerakan yang lambat, sulit berjalan, sulit makan, kejang, hingga sulit berbicara. 

5. Gangguan Spektrum Autisme

Gangguan ini berdampak pada kemampuan interaksi dan komunikasi pada anak. Biasanya muncul di awal masa tumbuh kembang mereka di mana penderita seolah punya dunia sendiri. Bahkan mereka tidak memiliki kemampuan untuk mengembangkan hubungan sosial-emosional dengan orang sekitarnya. 

Gangguan spektrum autisme pun ada beberapa jenis mulai dari aspek komunikasi dan bahasa, interaksi sosial, perilaku, hingga panca indra. Penderita autisme biasanya memiliki panca indra yang tergolong sensitif sehingga sering tidak kuat mendengar kebisingan atau melihat yang terlalu silau. Gangguan perkembangan balita pada usia 25 – 36 bulan di atas perlu Bunda ketahui tanda-tandanya agar bisa mengetahui apa si kecil ada indikasi ke arah gangguan tersebut atau tidak.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Share

To Top