Mom Life

Saat Sang Istri Memberi Didikan Keras pada Anak-anaknya, Indra Bekti Bagian Memotivasi

Indra Bekti dan sang istri, Aldilla Jelita sedang sibuk-sibuknya mendidik buah hati mereka yakni Dafania Sahira Indrabekti dan Amabell Eleanor Indrabekti. Indra mengaku, dirinya punya tugas yakni memotivasi anak-anaknya. Hal itu berbeda dengan istrinya yang terus mendidik anaknya-anaknya dengan keras.

“Anak-anak semakin besar susah gampanglah ya, yang intens ibunya. Cuma aku mantau gitu ya kadang lagi diajarin sama ibunya ada yang cepat belajar, cepat ngapal, belum apa-apa udah nangis. Bundanya cukup keras, ya karena dia yang di rumah dia yang ajarin anak-anak,” kata Indra Bekti seperti dikutip dari Detik.com, Kamis (11/7).

“Aku tipe lebih motivasi (anak-anak) ayo jangan nangis, aku terima jadi ‘eh udah pinter’,” tambahnya.

Memang Dilla, menurut Indra, mampu mendidik anak-anaknya. Bahkan ada metode khusus dari Dilla yang diterapkan saat mendidik anak di rumah.

“Dilla punya metode di rumah dia bikin kayak table gitu, tanggalan kalau hari pertama ada yang nangis kelihatan lagi ‘oh ini bagus nggak’,” katanya.

Selain itu, kata Indra Bekti, kunci anak-anaknya berhasil dalam belajar yakni diberikan semangat. Di lain sisi, Indra dan Aldilla termasuk pasangan yang jauh dari berita miring. Pernikahan mereka telah berlangsung sejak 10 Oktober 2010.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

9 Cara Orang Tua Membentuk Pribadi Anak yang Kuat Agar Tak Jadi Sasaran Bully Bagi Anak yang Nakal

Semua orangtua pasti ingin anak yang kuat dan tegar dalam menghadapi kehidupannya. Hal ini bisa dilatih sejak kecil sebab karakter ini tidak bisa melekat pada diri anak secara instan. Semuanya butuh proses dan pelan-pelan, tidak berhasil jika dilakukan terburu-buru. 

Hal yang Harus Dilakukan Orang Tua Membentuk Pribadi Anak yang Kuat, Berani dan Tegar

Kuat dan tegar sangat dibutuhkan terutama saat anak beranjak dewasa. Pasalnya, semakin meningkat umur anak, masalah yang dihadapi juga bertambah banyak. Tanpa mental yang kuat dan tegar, mudah terpuruk, stress, frustasi bahkan paling fatal bunuh diri. Anda tentu tidak ingin hal ini terjadi, karena itu harus mendidik si kecil dengan langkah berikut. 

1. Biarkan Anak Membuat Kesalahan, Maka Ia Akan Belajar

Berikan pemahaman kepada anak bahwa kesalahan yang dilakukan merupakan bagian dari proses. Jangan hakimi anak karena satu tindakan salah, supaya ke depannya lebih berani lagi menghadapi berbagai masalah. Orangtua tidak selamanya bisa hadir saat anak membutuhkan. 

Ajarkan anak bahwa kesalahan adalah hal biasa dalam hidup. Tanpa berbuat salah, sulit sekali mendapat pengetahuan dan pelajaran. Didik si kecil agar tidak malu berbuat salah, asalkan dapat belajar setelahnya. Komunikasikan juga apa yang harus dilakukan anak agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. 

2. Sering-seringlah Bertanya Pendapat Anak Tentang Apa Saja yang Ia Lakukan dan Miliki

Semua manusia memiliki otak untuk berpikir tak terkecuali anak. Karena itu, orangtua harus paham si kecil juga memiliki pendapat pada segala hal dalam hidupnya. Misalnya, saat akan berbelanja tas terdapat banyak pilihan warna dan model. Tanyakan pendapatnya mana tas yang bagus. 

Orangtua dapat menggunakan kalimat, “Menurut pendapatmu gimana, nak?” Cara ini memberi ruang kepada si kecil untuk mengutarakan isi hatinya. Tidak ada paksaan untuk sepaham dengan orangtua. Anak bisa lebih percaya kepada orangtua sebab mau mendengar pendapatnya.

3. Latih Anak Mencari Jalan Keluar dengan Berikan Kesempatan Memilih Solusi 

Saat anak memiliki masalah, tentu dia berpikir bagaimana cara mengatasinya. Mungkin terasa agak berat, tetapi pertanyaan ini lebih baik dibandingkan mendikte si kecil langkah yang harus dilakukan. Sebab, tidak selamanya anak mudah melakukan perkataan orang tua. 

Anak mungkin saja marah dan memberontak jika Bunda selalu mendikte. Sebagai manusia, si kecil juga harus diberi kesempatan untuk memikirkan solusi sendiri. Setelah itu, biarkan anak berdiskusi dengan tentang solusi tersebut. 

4. Jangan Dibatasi, Berikan Anak Ruang dan Biarkan Anak Eksplor 

Orangtua dapat bertanya atas pilihan anak dengan kalimat, “Kamu sudah mempertimbangkan pilihanmu?” Hal ini untuk meyakinkan anak dan memikirkan kembali pilihannya. Orangtua dapat menyodorkan beberapa pilihan lain jika melihat anak masih ragu. 

Selain itu, Bunda sebaiknya membiarkan si kecil menikmati dan melihat sendiri hasil atas pilihannya. Jika yang dipilih itu tepat, tentu bagus sekali dan berikan apresiasi. Namun, jika akhirnya pilihan anak keliru atau memberi hasil tidak sesuai harapan, itu memberikan pelajaran baginya.  

5. Jangan Paksa Anak untuk Terbuka, Biarkan dan Tunggu Sampai Ia Ingin Bercerita

Ada saatnya anak ingin menceritakan apa yang dialaminya pada orangtua. Namun, di lain waktu si kecil juga belum nyaman terbuka. Mungkin anak sedang memilih waktu yang tepat agar bisa terbuka dengan perasaan tenang. 

Orangtua harus memberikan ruang pada anak untuk terbuka atau tidak. Hindari memaksa anak membicarakan semua hal, padahal si kecil belum ingin terbuka. Hal ini membuat si kecil merasa dihargai oleh orangtuanya. 

6. Apresiasi Anak untuk Membuatnya Merasa DIhargai

Orangtua penting sekali memberikan apresiasi kepada si kecil atas usahanya mengerjakan sesuatu. Tidak harus pujian luar biasa, sebab ucapan sederhana juga mampu membentuk pribadi anak yang kuat dan bahagia. Si kecil merasa apa yang dilakukannya tidak sia-sia. 

Setiap anak ingin tahu bahwa orang tua bangga padanya. Hal ini digunakan untuk meningkatkan kepercayaan diri dan memperkuat keterampilan baru dalam mengerjakan sesuatu untuk dirinya. Secara tidak langsung juga mengajarkan anak untuk membuat keputusan bijaksana.

7. Tanyakan Bagaimana Perasaan Anak Atas Semua Hal yang Dialaminya 

Saat orangtua memperhatikan perasaannya, anak tentu bahagia. Setelah menceritakan semua hal, pendapat, masalah dan solusinya tunjukkan bahwa Anda tertarik dengan cerita anak. Menanyakan perasaan anak menunjukkan rasa empati dan keterlibatan orangtua.

Si kecil merasa aman, mandiri dan tidak sendiri. Perlahan, hal ini membentuk pribadi anak lebih kuat dan tegar dalam menghadapi berbagai tantangan hidup. Tunjukkan bahwa Bunda benar-benar hadir dan terhubung dengan si kecil. Mudah bagi anak berbagi jika orang tua memberikan respon yang tepat. 

8. Dan Sampaikan Bahwa Orangtuanya Selalu Ada untuk Si Kecil

Orangtua perlu mengingatkan anak bahwa orangtua selalu ada untuknya. Si kecil akhirnya tahu bahwa selalu ada tempat bertanya, bertukar pendapat, berdiskusi dan berkeluh kesah. Hubungan yang mendukung dan memberi ruang kepada anak membuatnya tumbuh menjadi pribadi yang kuat. 

Berhenti melontarkan perintah saklek kepada si kecil. Sebaiknya orang lebih banyak memberikan pertanyaan untuk merangsang daya pikir si kecil. Cara ini mampu mengeluarkan kekuatan dari diri anak yang tidak pernah diduga sebelumnya. 

  1. Ajarkan Anak Cara Menghadapi Ketakutan 

Wajar saja si kecil menghindari semua hal menakutkan. Tetapi, jika dibiarkan tidak bagus untuk perkembangannya. Ketakutan hanya menghambat si kecil mengeksplor rasa ingin tahunya. Akibatnya tidak percaya diri menghadapi  berbagai tantangan hidup. 

Saat si kecil takut gelap, takut mandi, takut berinteraksi dengan orang baru, ajarkan anak agar dapat menghadapi rasa takut tersebut. Perlahan-lahan, bukan memaksa menerobos ketakutan. Tetapi, orang tua dapat menyemangatinya, mendukung dan memberi pujian saat berhasil meningkatkan keberanian.Itulah 9 cara yang harus dilakukan orang tua untuk membentuk pribadi anak yang kuat dan tegar. Hal ini penting sekali sebab semakin banyak tantangan dihadapi saat umur anak bertambah. Didik sejak kecil  untuk mendapatkan hasil optimal.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

9 Hal Harus Dilakukan Orangtua untuk Memiliki Anak yang Jago Bahasa Sedari Dini

Banyak orang tua mengharapkan anak yang jago bahasa sejak kecil. Sebab, pandai bahasa itu penting sekali. Baik itu bahasa Indonesia, maupun bahasa asing. Apalagi sekarang ini bahasa Inggris paling banyak digunakan saat ada keperluan di negara lain. Namun, kemampuan berbahasa tidak lantas datang begitu saja. Ada beberapa hal yang perlu dilakukan orangtua, untuk membantu anak cakap dalam berbahasa. Kira-kira apa saja ya?

Hal yang Harus Dilakukan Orangtua untuk Memiliki Anak yang Jago Bahasa Sedari Dini

Cara mengajarkan bahasa pada anak kecil sedikit berbeda dengan orang dewasa. Orangtua harus menimpali kata anak dengan yang sebenarnya, meskipun balita masih belum paham arti kata tersebut. Agar lebih mudah, orangtua dapat menerapkan langkah berikut untuk mendidik bahasa pada anak. 

1. Untuk Membantunya Terbiasa, Kenalkan Dua Bahasa Sedini Mungkin

Ketika anak mulai belajar bicara, ia akan paham bahwa terdapat perbedaan bahasa yang orangtua gunakan. Si kecil yang sudah sering mendengar bahasa asing sejak lahir lebih untuk menguasainya. Sangat bagus memperkenalkan dua bahasa di usia balita. 

Seiring pertumbuhan, adaptasi si kecil terhadap suara dan bahasa akan menurun. Karena itu, anak lebih sulit menguasai bahasa. Mengajarkan bahasa lain pada anak di usia sekolah dasar juga tidak semudah pada anak usia preschool. 

2. Bunda Juga Bisa Mengenalkan Bahasa dengan Bermain, Membaca atau Sambil Bernyanyi 

Lakukan aktivitas menyenangkan dengan menyelipkan penggunaan dua bahasa agar si kecil tidak bosan. Penuhi rumah dengan buku dua bahasa, begitu juga musik, alat mainan, film favorit anak dan yang lainnya. Silakan berbicara apa saja dengan anak sambil memperkenalkan kosakata dan ekspresi bahasa. 

Ketika si kecil bertambah umurnya, perluas kegiatan seperti melukis, membuat kaligrafi dan aktivitas menghasil karya yang lain. Sesuaikan juga dengan minat dan hobi anak. Orang tua perlu mendorong si kecil agar terus menggunakan bahasa Indonesia maupun bahasa asing dalam setiap kegiatannya. 

2. Jadilah Role Model, dengan Memberikan Contoh Berbicara Dua Bahasa di Rumah 

Cara sangat efektif dalam membesarkan si kecil dua bahasa adalah memberikan contoh. Misalnya, orangtua rajin mengobrol menggunakan bahasa Inggris. Saat menyebut makanan atau buah pakai bahasa Inggris. Sebisa mungkin ajarkan anak bahasa asing melalui hal-hal yang ditemukan setiap hari. 

Akan lebih bagus lagi jika orangtua memasukkan si kecil ikut kursus bahasa. Anak dapat langsung berinteraksi dengan teman-teman dengan satu visi. Mempraktikkan kosakata yang dipelajarinya juga lebih mudah sebab ada lawan bicara. 

4. Ayah dan Ibu Menggunakan Bahasa yang Berbeda

Permasalahan yang sering terjadi pada anak bilingual adalah kesulitan melakukan identifikasi bahasa. Solusinya, orangtua gunakan bahasa berbeda. Misalnya Ayah sering berbicara dalam bahasa Inggris sedangkan Ibu menggunakan bahasa Indonesia.

Hal ini memudahkan anak membedakan yang mana bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Sangat bagus lagi jika orang tua sering menghabiskan waktu dengan si kecil. Mempelajari dua bahasa lebih mudah karena orang tua sekaligus guru bagi anak. 

5. Latih Anak dengan Banyak-banyak Berbicara dengan Dua Bahasa Sesering Mungkin 

Gunakan dua bahasa sesering mungkin untuk membiasakan anak yang jago bahasa. Perlu menerapkan kosakata yang sudah dipelajari dalam kehidupan sehari-hari agar semakin mahir. Apalagi si kecil mudah beradaptasi dengan bahasa baru dan secara kognitifnya lebih fleksibel. 

Maka jangan heran si kecil cepat menangkap arti bahasa baru dan nyaman dengan bahasa tersebut daripada orang dewasa. Orang tua bantu si kecil mempraktikkan kedua bahasa dalam kesehariannya. Karena supaya jago bahasa peran Ayah dan Ibu sangat penting.

6. Lakukan dengan Santai, Jangan Sampai Memaksa Anak untuk Melakukannya 

Mungkin ada satu hari si kecil sedang mengalami emosi naik turun. Misalnya saat dia sedang kurang sehat, semangatnya pun hilang untuk belajar bahasa. Orangtua tidak boleh memaksakan keinginannya pada anak. Tidak masalah tidak belajar hari itu, asalkan semangat belajar untuk hari berikutnya masih ada.

Mengajari anak secara konsisten dan libatkan pada apa saja yang disukai anak. Misalnya saat si kecil tertarik mempelajari hewan, ajarkan bahasa Inggris tentang nama –nama hewan. Begitu juga ketika anak tertarik pada hal baru lainnya, iringi dengan bahasa Inggris.

7. Tidak Perlu Terpaku pada Grammar, Lakukan Pelan-pelan Asal si Kecil Paham

Komponen yang penting sekali diajarkan pada anak kecil adalah kosakata. Tidak perlu langsung mengajarkan tenses atau grammar. Sebab, materi ini agak sulit dipahami dan tidak terlalu penting dalam kesehariannya. 

Selain itu, mengenai tenses si kecil hanya akan mengikuti kalimat-kalimat yang sering diucapkan. Penting sekali untuk fokus pada kemampuan otak. Bukan langsung memaksa harus menguasai tenses. Tetapi, ajarkan sesuatu yang mudah dulu sampai bertambah usianya, baru masuk ke materi lebih sulit. 

8. Bantu Anak Lebih Mudah Memahami Penggunaan Bahasa dengan Memberikan Visualisasi 

Si kecil lebih mudah mengingat dalam bentuk gambar, video atau lainnya yang dapat dilihat. Oleh karena itu, pentingnya memperkenalkan sesuatu padanya dalam bahasa asing diikuti bentuk visualnya. Misalnya, belajar tentang burung merak. Orangtua dapat menunjukkan gambarnya tanpa perlu ke kebun binatang. 

Tunjukkan objek visual supaya lebih mudah diingat anak. Orangtua dapat membelikan si kecil buku bergambar yang berisi kosakata bahasa Inggris tentunya lengkap dengan gambar. Bisa juga menggunakan gambar di internet kemudian mencetaknya. 

9. Manfaatkan Teknologi untuk Mendukung Proses Belajarnya Lebih Menyenangkan dan Mudah

Kecanggihan teknologi memudahkan anak belajar bahasa. Sekarang ini banyak sekali aplikasi untuk memudahkan belajar bahasa asing. Tinggal mengunduhnya di smartphone dan mengaktifkannya. Hebatnya, tampilan aplikasi cukup menarik bagi anak dan langsung tersedia audionya. 

Media sosial seperti Instagram juga tersedia akun untuk belajar bahasa asing. Youtube for Kids tentunya menyediakan ragam video pembelajaran bervariasi. Lebih menyenangkan dan anak tidak bosan dengan aktivitas belajar yang itu-itu saja.Itulah cara yang bisa orang tua terapkan untuk mengembangkan keterampilan anak yang jago bahasa. Sebaiknya, mengajarkan anak harus kompak antara Ayah dengan Ibu. Harus konsisten juga supaya anak lebih cepat mahir.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Kesehatan

Panduan untuk Memahami Rangkaian Gangguan Terlambat Bicara dan Cara Mengatasinya

Setiap anak memiliki tahapan perkembangan masing-masing termasuk dalam berbicara. Gangguan terlambat bicara bisa dialami oleh si kecil karena beberapa faktor. Problem ini pun termasuk keterlambatan perkembangan yang sebenarnya paling umum terjadi. 

Kondisi ini kerap membuat para orang tua khawatir dan membandingkan anak mereka dengan anak lain seusianya. Padahal, perkembangan berbicara tiap anak bisa berbeda-beda. Simak penjelasannya berikut. 

Tahapan Perkembangan Bicara Pada Anak yang Harus Bunda Pahami

Anak yang terlambat bicara bisa jadi sifatnya hanya sementara dan memang karena belum saja. Namun, dalam beberapa kasus gangguan tersebut juga bisa menjadi suatu tanda bahwa ada gangguan pendengaran dalam perkembangan si kecil. Bagaimana tahapan perkembangan bicara anak?

  1. Usia 3 Bulan

Saat usia 3 bulan, kemampuan anak berbicara memang masih sebatas mengeluarkan suara dalam bahasa bayi yang tidak bisa diartikan. Saat usia ini anak-anak juga lebih banyak berkomunikasi dengan menggunakan ekspresi seperti tersenyum atau tertawa saat melihat orang yang mengajaknya berbicara. 

  1. Usia 6 Bulan

Bayi biasanya sudah mulai mengeluarkan kata-kata yang suku katanya lebih jelas terdengar saat memasuki usia 6 bulan. Mereka sudah bisa mengucapkan kata-kata seperti ba-ba, pa-pa, ma-ma, da-da, dan lain sebagainya. Saat akhir usia 6 bulan mereka juga sudah bisa mengekspresikan emosi dengan suara. 

  1. Usia 12 Bulan

Perkembanan bicara pada anak usia 12 bulan biasanya sudah bisa mengucapkan kata seperti “ayah”, “ibu”, atau kata-kata lainnya yang sering si kecil dengar. Anak juga sudah bisa memahami kalimat dan instruksi perintah seperti, “kemari”, “ayo”, “ambil”, “lempar”, dan lainnya. 

  1. Usia 18 Bulan

Anak pada usia 18 bulan pada umumnya sudah bisa mengucapkan 10 – 20 kata dasar mesipun beberapa kata masih belum jelas pengucapannya. Si kecil juga sudah mampu mengenali bena, danam orang, dan beberapa bagian tubuh. Mereka juga sudah mampu mengikuti petunjuk dan gerakan orang. 

  1. Usia 24 Bulan

Saat memasuki usia 24 bulan, si kecil biasanya sudah mampu mengucapkan paling tidak sebanyak 50 kata. Mereka juga sudah mampu mengucapkan dua suku kata secara runut seperti “mau makan”, “buku baru”, dan lain sebagainya. Beberapa pertanyaan sederhana juga sudah bisa dipahami dengan baik. 

  1. Usia 3 – 5 Tahun

Kosakata yang bisa diucapkan si kecil sudah semakin banyak saat berusia 3 – 5 tahun dan bisa dibilang perkembangannya cukup pesat. Mereka bahkan sudah mampu menangkap sekitar 300 perbendaharaan kata baru. Kata-kata yang diucapkan sudah sangat mudah dipahami oleh orang dewasa. 

Tips Mengatasi Gangguan Terlambat Bicara dan Cara Mengatasinya

Sebagian orang mungkin masih ada yang beranggapan bahwa anak nantinya akan bisa berbicara sendiri tanpa distimulasi. Namun, peran aktif orang tua dalam memberi dorongan anak agar berbicara dan berkomunikasi dengan baik sangatlah penting. Berikut ini tips mengatasinya:

  1. Cobalah untuk Berbicara Sambil Bergerak Suatu Objek

Saat masih bayi, anak biasanya akan lebih senang dengan suara dan gerakan yang ekspresif dari orang yang mengajaknya berbicara. Bunda bisa melakukan hal-hal seperti menggoyang-goyangkan botol susu saat mengajak si kecil minum atau mengelus boneka untuk mengajarkan menyayangi benda.

Bunda juga bisa mulai mengenalkan anggota tubuh pada si kecil sambil menunjuk dan membuat gerakan ekspresif. Dengan cara seperti ini anak akan terdorong untuk berbicara dan berkomunikasi meskipun kata-katanya masih belum bisa dipahami oleh orang dewasa karena menggunakan bahasa bayi. 

  1. Ulang Semua yang Ia Katakan dengan Mengikuti Semua Ucapan Anak

Ketika si kecil sudah bisa mengucapkan suara-suara tertentu meskipun kosakatanya belum jelas, ikuti saja suara yang ditangkap dengan kata yang lebih jelas. Meskipun Bunda tidak memahami maksud dari suara-suara yang mereka ucapkan, tetap ikuti saja dan ajak si kecil berbicara. 

Anak akan merasa seperti mereka sedang berbicara dengan orang lain dan lambat laun akan membiasakan untuk meniru kata-kata yang Bunda ucapkan. Ajak anak mengobrol sebanyak mungkin dan tetap bersabar dalam mendampingi perkembangan si kecil. 

  1. Perbanyak Waktu Bermain Bersama untuk Melatihnya

Saat mengajak anak bermain bersama, orang tua terkadang perlu berakting layaknya seperti anak kecil. Ajak mereka untuk bermain permainan yang dapat meningkatkan kemampuan verbalnya. Contohnya seperti bermain peran atau berimajinasi pura-pura menelepon. 

Anak akan belajar banyak kosakata baru dan merasa senang karena diajari dengan cara yang menyenangkan. Mereka akan lebih banyak mengeksplor perbendaharaan kata dan jika saat memainkan peran tersebut tidak tahu kata yang harus diucapkan, anak akan belajar inisiatif bertanya. 

  1. Biasakan untuk Melatih Si Kecil Untuk Membuat Narasi

Anak memang belum bisa berbicara layaknya orang dewasa dengan struktur kalimat yang runut, namun Bunda masih bisa mengajarinya dengan membuat percakapan sehari-hari lebih deskriptif. Ajarkan anak untuk membuat kalimat yang urut dan detail. 

Contohnya seperti, “Besok kita pergi ke taman di dekat rumah yang ada pohon mangganya, pakai baju motif bunga-bunga yang ini ya!” Ucapkan kalimat tersebut sambil memperlihatkan baju. Anak juga akan belajar memahami benda atau objek tertentu dengan kata-kata yang Bunda ucapkan. 

  1. Berikan Kaimat Pujian untuk Perkembangan Si Kecil

Anak yang mendapat pujian dan apresiasi biasanya akan lebih semangat lagi, termasuk dalam belajar berbicara. Berikan senyuman, pujian, dan pelukan setiap si kecil berhasil mengeluarkan suara dan kosakata yang baru dengan lancar dan benar. Anak adalah peniru yang ulung dan akan belajar dari reaksi. 

Rangsang perkembangan dengan terus mengajak si kecil untuk berkomunikasi dua arah. Pastikan untuk memberikan respon positif dan jangan mudah memarahi ketika Anda tidak bisa memahami kata-kata-kata yang diucapkan oleh mereka. 

Gangguan terlambat bicara memang menimbulkan kekhawatiran tersendiri apalagi jika teman sebayanya sudah melewati fase itu. Jangan menyerah dan terus berusaha untuk menstimulasi si kecil dengan tips dan cara-cara di atas. 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Share

To Top