Kesehatan

Roseola Infantum, Penyakit yang Rentan Dialami Bayi di Bawah 2 Tahun

roseola infantum

Bunda, pernahkah mendapati si bayi demam lalu diikuti munculnya ruam merah di wajah dan tubuhnya? Mungkin si kecil terkena roseola infantum. Bagi Bunda yang belum familiar dengan penyakit ini, yuk simak pemaparannya hingga selesai.

Roseola infantum dikenal juga sebagai exanthem subitum dan sixth disease atau penyakit keenam. Penyakit ini ditularkan oleh virus, di mana dua virus yang umum terkait roseola adalah human herpesvirus (HHV) tipe 6 dan tipe 7.

Penyakit roseola infantum paling sering menyerang anak-anak berusia antara 6 bulan hingga 2 tahun. Namun, dalam kasus yang jarang, roseola juga bisa dialami orang dewasa.

Tanda dan Gejala Roseola Infantum

Tanda roseola infantum/ Foto: Canva

Untuk lebih memahami roseola infantum, berikut ini tanda dan gejala yang bisa dikenali. Yuk disimak bersama, Bun.

  1. Demam

Sebagaimana penyakit karena infeksi virus lainnya, roseola infantum juga ditandai dengan munculnya demam. Terkadang demamnya bisa sangat tinggi, sampai di atas 39 derajat Celcius. Dalam kondisi ini, kemunculan kejang demam perlu diwaspadai.

Dikutip dari situs milik Cleveland Clinic, demam bisa berlangsung selama tiga sampai tujuh hari.

  1. Ruam

Setelah demam reda, tanda lain dari roseola yang bisa dilihat yakni kemunculan ruam kemerahan di tubuh. Ruam ini biasanya muncul pertama kali di area perut, dada, dan punggung, lalu menjalar ke leher dan lengan.

Ruam ini berupa bintik atau bercak merah yang datar. Meski begitu, dalam beberapa kasus ada pula bintik yang sedikit mencuat, sehingga teraba di kulit. Ruam akan menghilang dalam waktu beberapa jam hingga beberapa hari. Demikian dikutip dari Mayo Clinic.

Namun sebenarnya roseola tidak selalu memunculkan ruam lho, Bun. Dua per tiga dari anak-anak yang terkena roseola tidak mengalami ruam. Itu makanya terkadang orang tua tidak tahu bahwa anaknya terkena roseola.

  1. Gejala seperti flu

Anak-anak dengan roseola juga dapat mengalami gejala seperti flu. Pilek, batuk ringan, sakit tenggorokan, dan pembengkakkan kelenjar getah bening sangat mungkin terjadi. Jika tidak diikuti kemunculan ruam, demam yang dialami anak sering kali hanya dikaitkan dengan penyakit flu.

  1. Rewel

Umumnya ruam pada roseola infantum tidak gatal dan tidak menimbulkan rasa tidak nyaman. Meski begitu, anak bisa jadi lebih rewel dari biasanya. Maklum ya, Bun, sakit apa pun tentu menimbulkan ketidaknyamanan, apalagi pada bayi.

  1. Hilang nafsu makan

Tanda atau gejala lain roseola infantum adalah sakit perut dan diare. Anak-anak juga kehilangan nafsu makan.

Penularan dan Pencegahan Roseola Infantum

Penularan roseola infantum/ Foto: Canva

Sebagaimana penyakit lain yang diakibatkan virus, roseola menular melalui kontak sekresi pernapasan atau air liur orang yang terinfeksi. Mayo Clinic mencontohkan anak-anak yang menggunakan cangkir anak dengan roseola bisa tertular.

Roseola dapat ditularkan meski anak yang terkena penyakit tersebut tidak memiliki ruam. Nah, ketika suhu tubuh anak kembali normal dalam kurun waktu 24 jam, sudah tidak lagi menularkan virus, meskipun ruam di tubuhnya masih ada.

Walaupun menular, tetapi daya tular roseola tidak secepat cacar air. Karena itu, jarang sekali roseola mengakibatkan wabah.

Untuk mencegah roseola infantum, perlu menghindari kontak dekat dengan seseorang yang terinfeksi. Selain itu, kita perlu membiasakan anak untuk mencuci tangan dengan sabun setelah beraktivitas.

Tidak seperti cacar air dan campak yang ada vaksinnya, roseola tidak memiliki vaksin untuk pencegahan. Untuk itu, menjaga kebersihan mainan dan lingkungan rumah juga perlu selalu dilakukan.

Penanganan Roseola Infantum

Penanganan roseola infantum/ Foto: Canva

Lalu bagaimana jika bayi mengalami roseola infantum? Umumnya pengobatan hanya difokuskan untuk menurunkan demam tinggi. Karena diakibatkan virus, ingat ya Bunda bahwa roseola tidak membutuhkan antibiotik.

Saat anak demam tinggi, obat penurun panas seperti ibuprofen dan parasetamol dapat diberikan. Agar anak merasa nyaman, bisa pula memandikan atau mengajaknya berendam di air hangat.

Untuk mencegah dehidrasi akibat demam, pastikan si kecil mendapat asupan cairan yang cukup. Jangan lupa pula untuk memberikan baju yang tipis pada anak, saat demam masih terjadi.

Roseola infantum adalah infeksi ringan. Biasanya anak tidak perlu mendapatkan penanganan medis khusus. Namun, jika demam anak meningkat terus dan mengakibatkan hilangnya kesadaran, jangan tunda untuk membawanya ke dokter.

Itulah roseola infantum yang rentan dialami para bayi hingga usia dua tahun. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Bunda.

Referensi:

Kids Health. Roseola. https://kidshealth.org/en/parents/roseola.html diakses pada 12 Juni 2021.

Cleveland Clinic. Roseola. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/15785-roseola-infantumsixth-disease diakses pada 12 Juni 2021.

Mayo Clinic. Roseola. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/roseola/symptoms-causes/syc-20377283 diakses pada 12 Juni 2021.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Kesehatan

Waspadai Beberapa Gangguan Perkembangan Balita Pada Usia 3 – 4 Tahun yang Sering Terjadi

Tumbuh kembang si kecil, jadi sesuatu yang wajib diperhatikan dengan sungguh-sungguh. Karena jika telat mendapat perhatian, bisa jadi fatal karena tak segera ditangani. Meski gangguan perkembangan balita pada usia 3 – 4 tahun kadang sulit didetiksi. Sebagai orangtua, kita wajib untuk mengetahui tahap perkembangan anak mulai dari lahir hingga dewasa. Tujuannya tidak lain untuk mengetahui apakah si kecil mengalami tanda-tanda gangguan atau tidak.

Tahap Perkembangan Anak Usia 3 – 4 Tahun yang Patut Dijadikan Ajuan oleh Orangtua

Usia 3 – 4 tahun termasuk dalam kategori masa golden age bagi si kecil. Pertumbuhan di masa ini sangat penting untuk membangun karakternya nanti ketika mereka dewasa kelak. Oleh karena itu, penting sekali untuk terus mendampingi mereka saat masih di masa keemasan. Apa saja tahap perkembangannya?

  1. Kemampuan Gerak Tubuh untuk Melakukan Sesuatu yang Ia Inginkan

Dari segi fisik, anak yang sudah memasuki usia 3 sampai 4 tahun biasanya sedang sangat aktif bergerak. Mereka sedang menikmati masa-masa mengeksplor banyak hal dan mulai muncul banyak pertanyaan kritis. Anak-anak sudah bisa melakukan gerak tubuh seperti berjalan dan berlari.

Di usia ini mereka juga sudah bisa naik turun tangga dengan kaki secara bergantian. Menendang bola, melempar, dan menangkapnya juga menjadi keahlian lain yang sudah harus dimiliki si kecil pada usia 3 sampai 4 tahun. Mereka juga sudah bisa memanjat, melompat, hingga menggunakan / melepas pakaian.

  1. Kemampuan Berbahasa Sebagai Caranya Berkomunikasi dengan Orangtua dan Orang lain di Sekitar

Kosakata yang dikuasai anak usia 3-4 tahun sudah semakin banyak sehingga biasanya mereka akan banyak berbicara. Banyak hal yang berhubungan dengan bahasa dan komunikasi yang seharusnya sudah bisa dilakukan oleh anak dalam usia tersebut. Contohnya seperti menyebutkan nama dan usia.

Biasanya mereka sudah mampu mengucapkan hingga ratusan kosakata dengan lebih jelas. Anak-anak juga sudah mampu menjawab pertanyaan sederhana yang diajukan kepada mereka. Si kecil juga sudah bisa menyusun kalimat dengan runtut dan bicaranya sudah bisa dipahami dengan sangat jelas.

  1. Kemampuan Tangan dan Jari untuk Melakukan Sesuatu dan Beraktivitas

Kemampuan tangan dan jari sekecil di usia 3 sampai 4 tahun juga sudah semakin membaik. Mereka sudah bisa melakukan banyak hal seperti memegang benda kecil, membuka halaman buku, menggunting menggunakan gunting mainan, menggambar kotak dan lingkaran, hingga mewarnai.

Kemampuan memegang alat tulis bisa dikuasai dengan baik oleh anak usia 3-4 tahun. Mereka bahkan mampu menulis beberapa huruf kapital dan menggambar beberapa bentuk gambar yang ada di lingkungan sekitarnya. Hal sederhana seperti memutar gagang pintu, membuka toples juga sudah bisa dilakukan. 

Dan Ada Pula Gangguan Perkembangan Balita Pada Usia 3 – 4 Tahun yang Wajib Bunda Waspadai

Anak usia 3 – 4 tahun juga bisa mengalami gangguan perkembangan tertentu. Anda harus waspada dan terus mengawasi bagaimana tumbuh kembang si kecil setiap harinya. Berikut ini beberapa jenis gangguan perkembangan yang mungkin bisa dialami dan patut diwaspadai, di antaranya:

  1. Kesulitan Berbicara untuk Mengutarakan Isi Hati dan Perasaanya

Jika anak usia 3 – 4 tahun belum bisa diajak berkomunikasi karena kosakata yang diucapkan belum jelas, maka Anda patut waspada. Bisa jadi mereka mengalami keterlambatan bicara atau gangguan pendengaran sehingga sulit untuk mengucapkan kata yang mudah dipahami oleh orang dewasa.

Dalam berkomunikasi, anak-anak juga tidak tertarik untuk mengekspresikan perasaannya. Mereka cenderung diam dan enggan untuk berbicara. Oleh karena itu, penting untuk menstimulasi kemampuan anak berbicara sejak mereka lahir untuk mengantisipasi terjadinya keterlambatan seperti ini.

  1. Sering Berhenti Sejenak Saat Berbicara, Karena Kesulitan Menemukan Kosakata yang Ingin Disampaikan

Anak usia 3 – 4 tahun yang tiba-tiba berhenti sejenak saat berbicara, mungkin bisa menjadi pertanda bahwa ia mengalami kesulitan untuk mengucapkan kata-kata dari mulutnya. Jika mereka malas untuk belajar, maka hal tersebut akan terbawa terus-menerus hingga mereka dewasa. Tentu Anda tidak ingin itu terjadi. 

Ketika anak mengalami kesulitan saat berbicara dan mengeluarkan kosakata tertentu dari mulutnya, biasanya mereka akan mudah menyerah dan mengatakan “tidak jadi”. Jika mereka sering mengucapkan kata tersebut maka patut waspada dan coba uji beberapa kata pada anak untuk diucapkan.

  1. Tidak Bisa Memahami Instruksi atau Kalimat Perintah yang Diterimanya

Saat memasuki usia 3 – 4 tahun, seharusnya anak-anak sudah bisa memahami kalimat perintah dengan baik. Sehingga mereka bisa dimintai tolong untuk melakukan atau mengambil sesuatu. Namun, ada anak yang mungkin mengalami gangguan sehingga mereka tidak bisa memahami instruksi sederhana. 

Saat diminta untuk melakukan sesuatu, mereka cenderung memilih diam dan tidak melakukannya karena tidak paham apa yang diinginkan oleh orang yang memberikan instruksi tersebut. Bicaranya juga masih tidak jelas dan sulit untuk dipahami oleh orang dewasa.

  1. Kesulitan Menggunakan Struktur Kalimat yang Tepat Ketika Sedang Berbicara atau Mengutarakan Maksudnya

Anak usia 3 – 4 tahun bisa dianggap mengalami keterlambatan perkembangan ketika mereka masih belum bisa menggunakan kata aku dan kamu dengan cara yang tepat. Mereka juga masih kesulitan untuk menceritakan kembali cerita atau kisah favorit yang pernah diperdengarkan untuk si kecil.

Bicaranya masih cenderung belum jelas dan belum bisa menggunakan struktur kalimat dengan tepat. Mereka juga kesulitan untuk mendeskripsikan sesuatu secara rinci dan detail.

  1. Ketidaktertarikan Pada Aktivitas Fisik Tertentu yang Lazim Dilakukan Anak Seusianya

Anak usia 3 – 4 tahun harusnya sudah bisa belajar dengan mandiri dan melakukan beberapa hal sendiri. Namun, anak yang mengalami gangguan biasanya tidak mau mencoba untuk belajar hal-hal seperti memakai dan melepas baju, atau belajar menggunakan sendok dan garpu.

Mereka juga enggan belajar untuk menggosok gigi, membantu orang tua di rumah, menggunakan toilet, makan sendiri, atau menyiapkan makanan dan minumannya sendiri. Beberapa gangguan perkembangan balita pada usia 3 – 4 tahun tersebut memang bisa dialami oleh siapa saja. Oleh karena itu, sebagai orang tua jangan sampai lengah untuk mengawasi tumbuh kembang si kecil agar bisa mendidik dan mengajari dengan cara yang tepat.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Kesehatan

Tahapan Tumbuh Kembang dan Cara Mengatasi Jenis-jenis Gangguan Perkembangan Balita Pada Usia 25 – 36 Bulan

Keterlambatan perkembangan pada anak dapat mencakup berbagai area keterampilan termasuk bahasa, motorik, sosial atau kemampuan berpikir. Namun, sebagai orangtua, kita juga harus mengerti jika tahapan perkembangan antara anak yang satu dengan yang lainnya tidak bisa disamaratakan. Ada anak yang cepat pada beberapa aspek, namun ada juga yang lambat. Itulah sebabnya, penting sekali untuk mengenali gangguan perkembangan balita pada usia 25 – 36 bulan. 

Tahapan Perkembangan yang Akan Anak Usia 25 – 36 Bulan Alami

Nah, untuk mengetahui apakah anak, mengalami tanda-tanda gangguan perkembangan pada usia 25 – 36 bulan, Bunda perlu memahami terlebih dahulu tahapan yang pada umumnya dilalui di usia tersebut. Sehingga, jadi informasi ini kita bisa memiliki tolok ukur untuk memeriksa tumbuh kembang si kecil. Berikut ini beberapa acuan tahapan perkembangan si kecil yang perlu diketahui, di antaranya:

1. Perkembangan Sosial dan Emosional

Saat anak memasuki usia 25 – 36 bulan mereka mulai mengenal teman-temannya dan senang jika bermain bersama. Bagi anak yang aktif interaksi saat bertemu dengan teman menjadi hal yang menyenangkan untuk mereka. Namun, tetap saja sebagai orang tua harus terus mengawasinya. 

Meskipun kemampuan berkomunikasi dengan temannya sudah baik, namun di fase ini mereka masih belum stabil emosinya. Terkadang masih harus ada penengah untuk melerai pertengkaran. Maka inilah saat yang tepat untuk mengajarkan kepada mereka tentang empati, negosiasi, kompromi, tahu batasan, dan lainnya. 

2. Perkembangan Motorik

Fisik dan keterampilan si kecil saat memasuki usia 25 – 36 bulan sudah semakin sempurna dan ahli. Mereka juga senang dan mulai mahir mengayuh sepeda, bermain dengan berbagai jenis permainan di taman, dan lainnya. Buatlah jadwal yang rutin setiap minggunya agar si kecil senang dengan aktivitasnya. 

Saat usia ini mereka sedang senang-senangnya bermain bersama teman-teman. Fisiknya juga sudah terlatih dengan sangat baik dan kemampuan berjalan atau berlari sudah begitu lancar. Dari segi fisik harusnya anak di usia tersebut sudah bisa menggerakan tangan dan kaki dengan sempurna. 

3. Perkembangan Bicara dan Bahasa

Pada umumnya, anak-anak yang berusia 25 – 36 bulan sudah memiliki kemampuan bahasa yang meningkat pesat. Mereka juga sudah bisa memahami instruksi atau kalimat perintah yang kompleks. Bahkan anak-anak juga sudah bisa menggambarkan aktivitas dan apapun yang dilihatnya dengan baik. 

Contohnya seperti menggambarkan kegiatan selama di sekolah, mendeskripsikan apa yang dilihat dengan runut dan jelas baik kata kerja maupun kata sifatnya. Kosakata yang dikuasai juga semakin banyak bahkan hingga 900 kata atau lebih tergantung bagaimana orang tua mengajarinya.. 

Dan Berikut Adalah Jenis Gangguan Perkembangan Balita Pada Usia 25 – 36 Bulan yang Harus Dihindari

Gangguan perkembangan anak bisa dialami oleh siapa saja, sehingga kita sebagai orangtua patut mengantisipasi dan mengatasinya dengan baik. Namun, bukan berarti setiap gangguan yang menyebabkan keterlambatan tersebut bisa dianggap cacat. Bisa jadi masih berada di batas normal, yang perlu kita lakukan adalah mengidentifikasi apa yang ia alami dan tahu bagaimana cara mengatasinya.

1. Gangguan Attention-Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)

ADHD merupakan salah satu jenis gangguan yang sifatnya kronis dan biasanya dalam jangka panjang. Penyebabnya adalah karena ada masalah yang terjadi di sel saraf otak sehingga tidak bisa bekerja sebagaimana mestinya. Gejalanya muncul saat kanak-kanak namun bisa bertahan hingga mereka dewasa. 

Saat usia tiga tahun, gejala ini sudah bisa mulai muncul baik yang kondisinya ringan maupun berat. Tanda-tanda anak yang mengalami ADHD seperti terlalu banyak bicara, sulit fokus, sulit mengatur aktivitas, sering melamun, suka lupa melakukan sesuatu, tidak sabar, lebih suka menyendiri, dan lainnya. 

2. Gangguan Kecemasan

Gangguan kecemasan atau yang biasa dikenal dengan istilah anxiety disorder ternyata tidak hanya dialami oleh orang dewasa. Anak pun bisa mengalami gangguan kecemasan dengan rasa takut yang berlebihan. Ketika mengalami gangguan ini, mereka cenderung selalu merasa tertekan dan cemas. 

Bahkan mereka bisa mengalami gangguan kecemasan yang begitu dahsyat dan bisa muncul kapan saja tanpa peringatan. Contoh gangguan jenis ini yang terjadi pada anak adalah obsesif-kompulsif saat si kecil terus mengalami perilaku dan pemikiran yang seolah terobsesi sehingga mereka tidak dapat berhenti. 

3. Bipolar

Bipolar dikenal juga dengan istilah mania-depresi atau kelainan otak yang menyebabkan mood berubah dengan sangat tidak wajar pada tingkat energi dan aktivitas tertentu. Anak-anak yang mengalami penyakit ini bisa tiba-tiba memiliki banyak energi dan menjadi lebih aktif dari biasanya. 

Namun, di satu sisi saat mereka mengalami episode depresi, maka anak akan merasa sangat terpuruk dan bahkan tidak bisa aktif sama sekali. Resiko gangguan bipolar bisa semakin meningkat jika ada faktor yang mempengaruhinya yakni kelainan genetik, struktur otak, hingga riwayat kesehatan keluarga. 

4. Cerebral Palsy

Anak yang memasuki usia 25 – 36 bulan harusnya sudah bisa berjalan dan berbicara dengan normal. Gangguan cerebral palsy menyebabkan anak mengalami keterlambatan dalam perkembangan motoriknya untuk bergerak maupun mempertahankan keseimbangan tubuh. 

Anak-anak yang mengalami cerebral palsy biasanya memiliki kekakuan pada otot, kekurangan koordinasi otot, gerakan yang lambat, sulit berjalan, sulit makan, kejang, hingga sulit berbicara. 

5. Gangguan Spektrum Autisme

Gangguan ini berdampak pada kemampuan interaksi dan komunikasi pada anak. Biasanya muncul di awal masa tumbuh kembang mereka di mana penderita seolah punya dunia sendiri. Bahkan mereka tidak memiliki kemampuan untuk mengembangkan hubungan sosial-emosional dengan orang sekitarnya. 

Gangguan spektrum autisme pun ada beberapa jenis mulai dari aspek komunikasi dan bahasa, interaksi sosial, perilaku, hingga panca indra. Penderita autisme biasanya memiliki panca indra yang tergolong sensitif sehingga sering tidak kuat mendengar kebisingan atau melihat yang terlalu silau. Gangguan perkembangan balita pada usia 25 – 36 bulan di atas perlu Bunda ketahui tanda-tandanya agar bisa mengetahui apa si kecil ada indikasi ke arah gangguan tersebut atau tidak.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Kesehatan

Mengenal Gangguan Kesulitan dalam Perkembangan Motorik Anak dan Solusinya

Gangguan kesulitan dalam perkembangan motorik anak membuat mereka memiliki keterbatasan dalam melakukan aktivitas seperti berbicara, berjalan, bahkan bernapas. Hal ini dikarenakan adanya masalah pada saraf motorik anak yang berfungsi untuk mengirim sinyal dari otak ke sumsum tulang belakang. 

Penyebab Gangguan Kesulitan Dalam Perkembangan Motorik Anak dan Solusinya

Penyebab utama dari adanya gangguan ini adalah karena masalah di saraf motorik atas pada bagian otak dan motorik bawah di sumsum tulang belakang. Sinyal yang seharusnya berfungsi mengirim pesan dari otak ke sumsum tulang belakang terganggu sehingga penderita mengalami kesulitan untuk bergerak. 

  1. PLS (Primary Lateral Sclerosis)

PLS merupakan jenis penyakit yang menyerang saraf motorik atas tepatnya di bagian otak. Penyebabnya bisa jadi karena adanya mutasi gen ALS2 yang merupakan gen penghasil protein. Gen ini dibutuhkan oleh tubuh untuk membantu fungsi saraf motorik atas sehingga bisa bekerja dengan baik. 

  1. ALS (Amyotrophic Lateral Sclerosis)

ALS merupakan jenis penyakit yang menyerang saraf motorik atas dan bawah. Penyebabnya masih belum diketahui pasti namun dugaan utamanya berkaitan erat dengan faktor lingkungan, genetik, dan keturunan. Gejala penyakit ini biasanya lebih berat karena yang bermasalah adalah kedua bagian saraf.

  1. SMA (Spinal Muscular Atrophy)

SMA merupakan jenis penyakit yang menyerang saraf motorik bawah. Penyebab penyakit ini adalah karena adanya kelainan pada gen SMN1 atau gen penghasil protein yang memiliki peran krusial untuk kelangsungan hidup sel saraf motorik. 

  1. Sindrom Pascapolio

Sindrom ini bisa menimpa anak-anak dan membuat sel saraf menjadi lemah dikarenakan penyakit polio. Sel saraf akhirnya menjadi rusak karena penyakit maupun proses penuaan. Itulah mengapa penting sekali untuk melakukan imunisasi polio sejak dini pada anak. 

  1. Kennedy

Penyakit ini menyerang saraf motorik bawah yang terletak di sumsum tulang belakang. Penyebab penyakit ini adalah karena adanya mutasi gen AR di kromosom X yang biasanya berasal dari keturunan atau genetik orang tua. 

  1. PBP (Progressive Bulbar Palsy)

PBP merupakan jenis penyakit yang menyerang saraf motorik bawah di mana sel tersebut terhubung dengan batang otak. Penyebab pasti dari PBP pada anak ibasanya dikarenakan adanya mutasi gen SLC52A. Gen ini memberikan instruksi pada tubuh agar menghasilkan protein yang dibutuhkan saraf motorik bawah. 

Tips Mengatasi Gangguan Kesulitan Dalam Perkembangan Motorik Anak

Melihat anak kesulitan dalam melakukan gerakan dan tidak tumbuh seperti anak normal lainnya tentu membuat sedih. Anak yang mengalami gangguan motorik sering disebut dengan istilah dispraksia. Untuk mengantisipasi dan menangani anak dengan gangguan tersebut, Anda bisa mengikuti tips berikut ini: 

  1. Terapi Okupasi

Terapi okupasi merupakan jenis terapi yang dilakukan untuk melihat bagaimana fungsi anak dalam kehidupan baik di rumah, sekolah, maupun lingkungan sekitarnya. Dengan metode ini, maka anak akan lebih fokus untuk melakukan kegiatan sehari-hari seperti layaknya anak normal lainnya. 

Dengan metode terapi okupasi ini, maka anak-anak akan belajar mengerjakan tugas-tugas tertentu yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sehingga keterampilan motoriknya pun akan semakin terasah. Kemampuan yang bisa diajarkan seperti menulis, berpakaian, atau mengikat sepatu. 

  1. Bermain Aktif

Mengajak anak bermain secara aktif dengan melibatkan fisik tentu sangat diperlukan untuk menstimulasi tumbuh kembang mereka. Ajak mereka bermain secara aktif baik di dalam rumah maupun di luar ruangan untuk membantu meningkatkan koordinasi dan kemampuan motorik anak. 

Bermain aktif seperti ini seperti mengajak anak jalan-jalan ke kompleks perumahan, bermain ayunan, prosotan, dan lain sebagainya. Jika memilih beraktivitas di rumah maka bisa dengan melakukan kegiatan seperti bermain lego, busy book, masak-masakan, dan lainnya yang dapat menstimulasi motorik halus maupun kasar. 

  1. Terapi Wicara

Terapi ini diperlukan untuk menangani anak yang mengalami keterlambatan bicara. Kelainan yang terjadi pada saraf motorik juga dapat mempengaruhi koordinasi otot yang berfungsi untuk mengucapkan kata atau berbicara. Sehingga terapi wicara sangat diperlukan untuk menangani masalah tersebut. 

Terapi wicara akan membantu anak untuk pelan-pelan belajar mengucapkan kata dengan lancar. Terapis biasanya akan mengajak si kecil untuk berkomunikasi dua arah sehingga kemampuan anak dalam berbicara pun bisa semakin ditingkatkan. 

  1. CBT (Cognitive Behavioural Therapy)

Terapi perilaku kognitif merupakan salah satu bagian dari psikoterapi yang dapat membantu anak untuk bertindak dan berpikir kognitif. Metode ini juga bisa membantu mengurangi tekanan psikologis yang dialami anak akibat adanya gangguan pada sel saraf motoriknya. 

Biasakan anak untuk melakukan kegiatan positif dan jauhkan dari hal-hal negatif yang dapat mempengaruhi pikirannya. Karena stress dan frustasi pada anak juga bisa membuat gejala gangguan perkembangan motorik menjadi semakin parah. Awasi terus perilaku anak setiap waktu. 

  1. Pelatihan Motorik Perseptual

Pelatihan motorik perseptual sangat bagus untuk diterapkan karena berhubungan dengan peningkatan kemampuan visual, bahasa, pendengaran anak, dan gerakan. Metode ini akan memberikan serangkaian tugas pada anak secara bertahap agar mereka merasa terangsang untuk aktif bergerak. 

Pelatihan motorik ini harus dilakukan secara bertahap agar anak tidak merasa frustasi atau stress dengan beban kerja yang diberikan. Sehingga mereka tetap bisa enjoy dalam belajar dan beraktivitas demi membantu perkembangan motorik anak agar dapat berfungsi dengan baik sebagaimana mestinya. Mengetahui perkembangan anak yang tumbuh dengan baik adalah harapan setiap orang tua. Namun, dalam beberapa kasus tidak semua anak beruntung dan ada yang mengalami gangguan kesulitan dalam perkembangan motorik ini. Tips di atas bisa menjadi solusi terbaik untuk penanganan yang tepat.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Share

To Top