Mainan Anak

Rekomendasi Mainan untuk Bayi 0-3 Bulan

Bayi berusia 0-3 bulan mempunyai kemampuan motorik dan sensorik yang masih sangat terbatas. Selain itu, penglihatan pada bayi juga masih belum jelas. Setelah lahir, jarak pandang dan penglihatan matanya masih terbatas, sehingga harus diberikan stimulasi untuk perkembangan penglihatan si kecil.

Orang tua perlu memberikan mainan untuk menstimulasi kemampuan si kecil. Namun, tentu saja jenis mainan yang diberikan harus sesuai dengan usia si kecil dan tumbuh kembangnya. Oleh karena itu, ayah dan bunda perlu mengetahui rekomendasi mainan anak yang sesuai agar tidak sia-sia.

Rekomendasi mainan untuk bayi 0-3 bulan

Nah, jika ayah dan bunda mencari mainan untuk si kecil yang baru berusia 0-3 bulan, berikut beberapa rekomendasinya:

  1. Mainan pola high contrast

Mainan pola high contrast berfungsi untuk menstimulasi indra penglihatan si kecil. Pada masa awal kehidupan, kemampuan melihat dan jarak pandang bayi masih sangat terbatas sehingga perlu distimulasi. Mainan ini berbentuk gambar berbagai macam pola dengan kombinasi warna hitam, putih, dan merah. Sekarang sudah banyak yang menjual mainan ini. Ayah dan bunda juga bisa mencetaknya sendiri di kertas, tinggal cari polanya di internet lalu diprint.

  1. Soft book dengan berbagai tekstur

Memperkenalkan buku bisa dimulai sejak bayi. Namun, tentu dengan pilihan buku yang aman untuk bayi, yaitu soft book. Pilih buku dengan berbagai macam gambar dan warna atau soft book dengan berbagai tekstur. Dengan begitu, si kecil akan belajar berbagai macam tekstur, mulai dari halus hingga kasar. Mainan ini bisa menstimulasi kemampuan sensori si kecil.

  1. Mainan yang mengeluarkan berbagai bunyi

Mainan yang mengeluarkan bunyi seperti kotak musik, rattle atau kecrekan berfungsi untuk menstimulasi  indra pendengaran. Si kecil akan menoleh dan menccari sumber suara. Dengan begitu, orang tua  bisa tahu apakah indra pendengaran si kecil berfungsi atau tidak.

  1. Cermin

Ketika indra penglihatan anak semakin berkembang, dia akan suka bercermin melihat dirinya sendiri. Melihat bayangannya di cermin yang mengikuti gerak-geriknya cukup membuat si kecil senang. Selalu awasi anak ketika bermain dengan cermin ya.

Menyediakan mainan untuk anak tidak harus mahal. Dengan barang yang ada di rumah, atau mencoba membuat sendiri mainan anak akan lebih mennghemat pengeluaran.

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Gerakan Biskuat #GenerasiTiger Ajak Orangtua Dukung Pengembangan Kekuatan dari Dalam Anak

Bagi setiap orang tua, anak adalah kebanggaan mereka. Mereka senang untuk berbagi prestasi anak-anak mereka di depan orang lain. Tentunya setiap orang tua menginginkan yang terbaik untuk anaknya, termasuk mendorong anaknya dapat berprestasi agar sukses di masa depan. Namun di sisi lain, banyak orang tua mulai menyadari bahwa untuk menjadi sukses di masa depan setiap anak juga membutuhkan kekuatan dari dalam. Memahami hal tersebut, Biskuat, sebagai salah satu brand unggulan dari Mondelēz Indonesia, mempersembahkan Gerakan Inisiatif Biskuat #GenerasiTiger karena Biskuat percaya bahwa setiap anak memiliki potensi tak terbatas di luar apa yang terlihat.

Maggie Effendy selaku Head of Marketing Mondelez Indonesia menjelaskan, Biskuat #GenerasiTiger merupakan Gerakan yang diluncurkan oleh Biskuat untuk mendorong orang tua memberikan dukungan penuh terhadap pengembangan kekuatan dari dalam. “Melalui Gerakan Inisiatif Biskuat #GenerasiTiger, Biskuat mengajak para orang tua, guru, pemerintah, serta masyarakat Indonesia untuk bersama-sama menciptakan Generasi Tiger Indonesia yang tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik, nilai akademis, perolehan medali dalam kompetisi tetapi juga kekuatan dari dalam anak yang sesungguhnya”, jelas Maggie.

Salah satu tolak ukur keberhasilan anak-anak di masa depan adalah menumbukan kekuatan dari dalam yaitu kekuatan yang bukan hanya secara fisik atau akademis saja namun juga kuat secara mental yang tercermin dari kekuatan karakter, seperti berani, percaya diri, baik hati dan tangguh. Karakter inilah yang dapat membentuk kekuatan dan potensi anak yang sesungguhnya. Kekuatan tersebut terbentuk di masa pertumbuhannya dan para orang tua dan pendidik memiliki peran penting dalam masa-masa tersebut.

Kak Seto selaku Brand Ambassador Biskuat #GenerasiTiger, Psikolog Anak, serta Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) menerangkan bahwa orang tua memiliki peran yang sangat penting dalam perkembangan setiap anak. “Setiap anak memiliki kekuatan dari dalam serta potensi yang tak terbatas di luar apa yang terlihat. Agar dapat mengeluarkan kekuatan dari dalam dan potensi tersebut, anak-anak membutuhkan dukungan dari orang tuanya sehingga menjadi lebih optimal dan berguna bagi perkembangan anak-anak di masa depan,” terang Kak Seto.

Menanggapi pernyataan Kak Seto, Mona Ratuliu selaku Mom Influencer menjelaskan bahwa setiap anak yang berprestasi tentu akan menjadi kebanggaan orang tuanya. “Namun selain dari prestasi, sebagai orang tua saya percaya bahwa yang terpenting dalam masa pertumbuhan anak adalah menanamkan karakter, seperti berani, percaya diri, baik hati, dan tangguh. Penanaman karakter ini akan mendukung keberhasilan anak-anak karena kedepannya mereka dapat menggali kekuatan dari dalam untuk mengembangkan potensi diri masing-masing,” jelas Mona.

Lebih lanjut lagi, Prof. Dr. Ir. Richardus Eko Indrajit, M.Sc., MBA., Mphil., MA. selaku Salah satu Ketua Pengurus Besar PGRI dan Ketua PGRI Smart Learning and Character Center menjelaskan, kekuatan dari dalam telah diimplementasikan dengan baik di sekolah-sekolah di Indonesia. “Melalui Pendidikan Karakter yang dilakukan dalam ruang lingkup sekolah, para guru senantiasa mendorong anak didiknya untuk menjadi pribadi yang berkarakter. Hal ini diimplementasikan oleh para guru saat berinteraksi dengan anak didik sehingga mereka dapat terus menggali kekuatan dari dalam,” jelas Richardus Eko Indrajit. Hal ini senada dengan pernyataan Dra. Sri Wahyuningsih, M.Pd. selaku Direktur Sekolah Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang mengungkapkan bahwa peserta didik harus memiliki kekuatan dari dalam yang tercermin dari pribadi yang cerdas dan berkarakter, dimana cerdas dan berkarakter merupakan ciri dari pelajar Pancasila.

Sebagai wujud nyata untuk mendorong terciptanya Generasi Tiger Indonesia, Biskuat menghadirkan Komitmen Bersama Biskuat #GenerasiTiger yang dapat ditandatangani oleh para orang tua di Indonesia. Komitmen Bersama Biskuat #GenerasiTiger bertujuan untuk mengajak para orang tua bersama-sama memberikan dukungan serta menggali potensi anak lebih dalam sehingga setiap anak dapat memiliki kekuatan dan potensi yang sesungguhnya yang penting untuk perkembangan dan masa depannya.

Komitmen Bersama Biskuat #GenerasiTiger berlangsung dari 21 September 2021 hingga 13 November 2021 dan dapat diakses melalui www.generasitiger.com, lalu mengisi data diri di kolom yang tersedia, serta klik DUKUNG SEKARANG!.

Gerakan Inisiatif Biskuat #GenerasiTiger yang merupakan hasil kolaborasi dengan creative partner kami, Publicis Groupe Indonesia – Leo Burnett and SPARK Foundry, kami harapkan dapat diterima dengan baik oleh masyarakat Indonesia, khususnya para orang tua. Kami juga ingin mengajak para orang tua, guru, pemerintah, serta masyarakat Indonesia untuk menjadi bagian dari perubahan dalam mendukung dan menemukan potensi anak yang sesungguhnya, serta bersama-sama menciptakan Generasi Tiger Indonesia yang tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik, nilai akademis, perolehan medali dalam kompetisi tetapi juga kekuatan dari dalam yang sesungguhnya,” tutup Maggie.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Perkembangan Bayi Bicara dan 5 Tips Mengatasi Gangguan Speech delay?

Gangguan komunikasi dan bahasa pada anak yang biasa dikenal dengan istilah speech delay memang bisa dialami oleh sebagian anak. Dalam perkembangan bicara, anak mengalami tahapan pada fase usia tertentu. Sehingga orangtua bisa mengetahui apakah si kecil tergolong mengalami gangguan atau tidak. 

Tahapan Perkembangan Bicara dan Bahasa yang Normal

Melihat setiap perkembangan anak menjadi momen yang paling berharga, termasuk dalam hal berbicara. Hal ini sangat penting untuk mengetahui apakah anak Anda masih dalam tahap normal atau mengalami gangguan hingga membutuhkan bantuan ahli. Berikut ini tahapan yang perlu diketahui:

  1. Sebelum 12 Bulan

Saat si kecil usianya belum sampai 12 bulan, perkembangan yang akan dialaminya adalah mengoceh atau babbling sebagai tahap awal. Jika bayi sudah berusia sekitar 9 bulan, mereka biasanya sudah mulai menggunakan nada berbeda untuk berbicara seperti mengucapkan “mama” atau “dada”.

Meskipun belum paham sepenuhnya arti dari kata yang diucapkan, anak sudah mulai mengoceh dengan kombinasi vokal dan konsonan yang mudah diucapkan. Karena pada umumnya anak di usia sebelum 12 bulan sudah mulai tertarik pada suara. 

  1. Usia 12 – 15 Bulan

Saat memasuki usia 12 – 15 bulan, variasi babbling mereka setidaknya sudah semakin banyak dengan minimal 1 – 2 kata yang dimengerti. Anak di usia ini juga sudah bisa mengerti kata atau kalimat yang mengandung petunjuk seperti “Tolong berikan mainannya!” atau “Matanya mana?”

Mereka biasanya sudah bisa merespon kalimat instruksi tersebut meskipun belum mampu untuk mengucapkan dengan jelas dalam bentuk kata-kata. Ketika diminta untuk menunjukkan posisi mata, mereka pun bisa melakukannya dengan baik. 

  1. Usia 18 – 24 Bulan

Kosakata yang dikuasai anak pada saat memasuki usia 18 – 24 bulan semakin banyak sekitar 20 – 50 kata. Mereka pun harusnya sudah mulai belajar mengkombinasikan dua kata seperti “buku baru”. Di saat usia ini, Bunda juga sudah bisa memberikan kalimat perintah untuk meminta tolong sesuatu. 

  1. Usia 2 – 3 Tahun 

Seiring bertambahnya usia si kecil, koleksi kosakata yang dikuasai mereka pun semakin meningkat. Setidaknya anak sudah bisa mengkombinasikan tiga kata atau lebih menjadi sebuah kalimat, mampu mengidentifikasi warna, paham konsep deskriptif, dan mengerti berbagai kalimat perintah. 

Tips Mengatasi Gangguan Komunikasi dan Bahasa Pada Anak dan Solusinya

Jika saat memasuki usia tersebut di atas kemampuan bicara dan bahasa si kecil masih belum memenuhi tahapan perkembangan secara normal, bisa jadi anak tersebut mengalami gangguan. Cakupannya pun cukup luas baik dari segi bahasa, artikulasi, afasia, dan lain sebagainya. 

  1. Ajak Anak Komunikasi Dua Arah

Komunikasi dua arah dengan si kecil sangat diperlukan agar ada interaksi dan respon yang nantinya dilakukan oleh anak. Meskipun mereka belum bisa mengeluarkan kata-kata dan belum paham dengan apa yang dibicarakan, tetap ajak anak berbicara dan ngobrol. Biasanya akan merespon dengan tertawa.

Tetap gunakan bahasa yang baik dan santun saat mengajak anak berbicara karena bisa jadi kata-kata tersebut akan selalu direkam hingga mereka kelak bisa berbicara. Ucapkan bahasa yang jelas dan jangan dibuat-buat dengan bahasa bayi pelafalannya agar nanti anak bisa mengucapkan kata dengan baik.

  1. Mengulang-ulang Kata yang Anak Pelajari

Mengajarkan anak agar bisa berbicara dan mengucapkan kata memang butuh proses. Tidak apa-apa meskipun harus mengulang kata terus-menerus karena bisa jadi hal tersebut dapat mengatasi gangguan bahasa pada mereka. Cara ini juga dapat melatih anak mengucapkan kata dengan benar. 

Jika Bunda juga rajin mengulang kata yang telah anak pelajari, kosakata yang mereka kuasai pun akan semakin banyak. Anak juga akan merasa dihargai ketika orang tuanya mengatakan kembali bahasa yang baru saja mereka ucapkan dan akan terus termotivasi untuk belajar kosakata baru. 

  1. Menghafal Lirik Lagu dengan Bernyanyi

Menghafal kosa kata melalui lirik lagu saat bernyanyi biasanya lebih mudah dilakukan oleh si kecil. mereka juga cenderung lebih senang mendengarkan musik dan suara meskipun belum bisa berbicara. Bernyanyi juga menjadi cara yang menyenangkan saat mengajari anak bahasa dan kosakata baru. 

Mereka akan meresponnya dengan antusias dan tidak terpaksa saat melakukannya. Usahakan untuk mengajak anak menyanyikan lagu anak-anak. Bunda bisa mengajak anak bernyanyi di rumah dan menjadikan cara ini sebagai stimulan agar mereka terus semangat menghafal lirik/menambah kosakata. 

  1. Membacakan Dongeng atau Cerita

Biasakan untuk membacakan dongeng atau cerita sebelum mereka tidur. Bacakan buku yang memiliki gambar menarik dan kata-kata sederhana agar mereka lebih mudah memahaminya. Gambar yang lucu dan ilustrasi menarik cenderung lebih mereka sukai. 

Dengan semakin sering membacakan cerita untuk anak, mereka pun akan merekam kosakata baru yang didengar. Anak pun akan lebih mudah mengucapkan kata dengan jelas saat usianya sudah memasuki tahap perkembangan ini.  

  1. Terapi

Saat Bunda menyadari bahwa si kecil mengalami masalah atau gangguan dalam perkembangan bicara dan bahasanya, maka sudah saatnya untuk memberikan terapi yang tepat. Tidak perlu gengsi karena bisa jadi itu adalah cara yang memang dibutuhkan oleh anak. 

Semakin menunda terapi takutnya akan menimbulkan masalah yang semakin parah. Periksakan ke dokter dan jalani apa yang disarankan oleh ahli demi kebaikan si kecil. Gangguan komunikasi dan bahasa pada anak dan solusinya di atas bisa Bunda praktekkan untuk mengantisipasi dan mengatasi speech delay. Berikan yang terbaik untuk si kecil agar mereka bisa mengalami tumbuh kembang yang normal.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Anak Takut Pada Kerumunan? Jangan-jangan Kena Enochlophobia, Ini 7 Tips Mengatasinya!

Pernahkah Bunda melihat seorang anak mengalami ketakutan yang berlebihan atau tidak masuk akal ketika sedang berada di keramaian atau tempat umum? Jika iya, mungkin Si Kecil memiliki gejala enochlophobia. 

Kondisi seperti ini dikenal dengan istilah enochlophobia atau fobia keramaian. Bagi orangtua yang mengalami problem anak balita yang takut pada kerumunan, tentu membutuhkan solusi yang tepat untuk menanganinya. 

Memahami Apa Itu Enochlophobia

Kasus enochlophobia bisa terjadi pada sebagian balita yang merasa tidak nyaman berada di kerumunan dengan banyak orang. Tak heran jika anak-anak yang mengalami kondisi seperti ini akan lebih suka menyendiri di kamar dan hanya berhubungan dengan anggota keluarga yang sudah dipercaya. 

Anak mengalami kecemasan dan ketakutan yang berlebihan saat bertemu dengan orang banyak sehingga membuatnya tidak nyaman dan rewel. Penyebab pasti dari fobia ini memang belum benar-benar diketahui hingga saat ini. Beberapa ahli menduga ada keterkaitan dengan faktor psikologis. 

Faktor lain yang turut andil mempengaruhi perilaku anak hingga fobia pada keramaian seperti trauma masa lalu, gangguan kepribadian, atau faktor keturunan. Fobia seperti ini juga sering dialami oleh penderita yang mengalami serangan panik atau gangguan kecemasan seperti anxiety disorder. 

Problem Anak Balita yang Takut Pada Kerumunan dan Solusinya

Terkadang sebagian anak tiba-tiba merasa takut akan kerumunan tanpa alasan yang jelas. Namun, ada juga yang takut karena merasa panas, sumpek, dan tidak nyaman hingga akhirnya menimbulkan gangguan kecemasan. Setidaknya ada beberapa gejala dan tanda fobia kerumunan yang perlu orangtua ketahui :

  • Merasa cemas ketika berada di lingkungan yang menurut sang anak tidak aman
  • Enggan meninggalkan rumah atau mendatangi tempat yang asing
  • Percaya diri langsung hilang saat berada di kerumunan
  • Selalu menghindar ketika diajak pergi keluar rumah

Ketika anak berada di dalam situasi yang membuatnya stress, maka ia akan  menunjukkan gejala fisik seperti dada berdebar, jantung berdetak kencang, sesak nafas, hingga serasa ingin pingsan. Jika anak sudah menunjukkan gejala ini, sebaiknya segera diobati karena bisa mempengaruhi kualitas hidup mereka. 

Tips Mengatasi Anak Balita Takut Kerumunan

Orangtua tidak perlu terlalu cemas berlebihan karena jika dididik dan dibina dengan baik, fobia tersebut perlahan bisa hilang dan anak tumbuh dengan penuh percaya diri. Tinggal bagaimana orangtua membiasakan anak agar jangan sampai trauma dan takut lagi di kerumunan. 

  1. Mengajarkan Kepada Anak Untuk Mengenali Tanda-tanda Keramaian

Orangtua harus mulai mengajarkan kepada anak agar mereka mengenali tanda-tanda kerumunan yang stabil dan tidak stabil atau yang membahayakan dan tidak berbahaya. Kerumunan yang membahayakan pada umumnya jika berada di sekelompok orang yang rusuh hingga membuat kekacauan. 

Kita harus memberikan pemahaman secara perlahan bahwa tidak semua kerumunan berbahaya. Ajarkan kepada mereka untuk menghindari keramaian yang berbahaya saja dan beri tahu bahwa kebanyakan orang aman. Sehingga anak akan mulai mengurangi rasa takutnya ketika diajak bepergian. 

  1. Melatih Anak Agar Berpikir Positif Tentang Keramaian

Jika membicarakan tentang keramaian atau kerumunan orang, ceritakan tentang hal yang positif. Sehingga anak pun, akan mulai berkurang pikiran negatif terhadap ketakutan dan kecemasannya tersebut. Akhirnya lama-lama mereka sendiri yang akan memutuskan pemikiran negatifnya. 

Pelan-pelan orangtua bisa melatih agar anak terbiasa dengan keramaian melalui kegiatan yang bisa dilakukan di rumah. Seperti nonton film bareng, arisan, pengajian, atau kumpul bersama keluarga lainnya. setelah terbiasa dengan keluarga sendiri, nantinya anak tidak takut lagi jika diajak keluar.   

  1. Mengatur Waktu Pergi

Saat mengajak pergi anak, orangtua harus memahami kondisi dan mood-nya pada saat itu. Jangan terlalu memaksakan kehendak jika anak keberatan untuk diajak ke keramaian. Namun, sebagai orangtua bisa mengakalinya dengan memilih waktu yang tepat saat mengajak pergi sang anak. 

Pilih waktu di mana tidak banyak orang pada saat tersebut. Misalnya pergi ke supermarket pada saat malam hari atau menghindari hari saat ada diskon dan promo. Ingatkan selalu kepada anak untuk fokus jika merasa kewalahan dengan kecemasan yang dialaminya. Ajarkan mereka bagaimana menarik napas dalam-dalam. 

  1. Ajak Meditasi Pada Saat Senggang

Meditasi tidak hanya bermanfaat untuk orang dewasa saja, begitupun untuk anak kecil. Berlatih meditasi dapat mengajarkan anak untuk membangun toleransi agar tidak stress dan belajar bagaimana mengurangi pikiran yang penuh kecemasan atas prasangka negatif yang terlalu dipikirkannya. 

Lakukan meditasi di saat senggang bersama sang anak. Beritahu pelan-pelan apa saja manfaat meditasi dan bagaimana cara melakukannya. Dalam hal ini orangtua harus memberikan contoh terlebih dahulu sampai akhirnya si kecil merasa tenang dan bisa mengatasi kecemasannya. 

  1. Sibukkan Anak Dengan Kegiatan Bermanfaat

Memberi kesibukan kepada anak dengan kegiatan bermanfaat setidaknya akan membantu mereka untuk melupakan sejenak tentang kecemasan dan pikiran negatif yang dialaminya. Terlebih lagi jika terpaksa harus berada di tempat umum. orangtua bisa memberiny headphone atau ponsel. 

Biarkan anak sibuk mendengarkan lagu atau musik kesukaannya agar mereka tidak terlalu memikirkan hal-hal negatif saat berada di tempat ramai. Bisa juga dengan membawakan mereka mainan kesukaan agar si kecil merasa nyaman. 

  1. Tetap Tenang dan Jangan Ikut Panik

Ketika si kecil menghadapi situasi yang membuat mereka merasa cemas berlebihan, pastikan untuk membuat mereka tetap tenang menghadapinya. orangtua pun harus tenang dan jangan ikutan panik. Lakukan dengan perlahan-lahan dan coba kendalikan diri. 

Problem anak balita yang takut pada kerumunan dan solusinya di atas bisa orangtua coba untuk praktekkan terutama ketika membawa anak keluar rumah dan banyak kerumunan. Anak hanya merasa tidak nyaman dengan keramaian, namun lama-lama mereka akan terbiasa dengan sendirinya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Share

To Top