Parenting

Punya Anak Berbakti Adalah Harapan Semua Orangtua, Inilah 8 Cara Membentuk Pribadi Anak Berbakti pada Orang Tuanya

Tak ada yang lebih membahagiakan bagi orangtua, dibanding melihat anaknya tumbuh besar dan jadi sosok yang baik serta berbakti. Namun, mendidik yang berbakti tentu butuh proses. Ada banyak hal yang perlu kita ajarkan sedari dini, agar ia bisa memahaminya. 

Bukan berarti kita ingin jadi orangtua yang perhitungan dengan berharap bakti dari anak. Akan tetapi, bebakti jadi salah satu hal yang dianjurkan oleh agama, untuk itulah kita perlu mengajarkan pada anak. Bagaimana seorang anak berbakti pada orangtua. 

Mulailah dengan Mengajarkan Anak Tentang Nilai Penting dari Berbakti pada Orangtua 

Sadar atau tidak, saat ini banyak sekali anak yang tidak menghormati dan menghargai orangtua. Membentak, berkata kasar, sering kali dilakukan terutama saat keinginannya tidak dituruti. Jika perilaku berbakti tidak ajarkan sejak dini, saat dewasa anak akan menjadi pembangkang.

Orangtua  memiliki peran penting dalam mendidik anak berbakti. Karena si kecil masih belum tahu apa itu berbakti dan tujuannya untuk apa. orangtua  dapat menjelaskan kata-kata yang mudah dimengerti pada anak. Berikan contohnya agar semakin mudah dipahami. 

Anak tidak berbakti juga dapat disebabkan oleh pergaulan. Karena itu, harus mengetahui siapa teman-teman si kecil serta perilakunya. Katakan pada anak untuk menjaga jarak dengan teman yang membawa perilaku negatif. 

Lanjutnya dengan Mengajarkan Hal-hal yang Harus Dilakukan Agar Anak Berbakti Pada Orangtua  

Tanpa didikan orangtua, anak kecil tentu tidak tahu pentingnya berbakti pada Ayah dan Ibu. Definisinya saja tidak dipahami apalagi praktiknya. Sementara itu, Bunda ingin anak berbakti sehingga dapat menyejukkan hati orangtua. 

1. Penting Sekali untuk Mengajari Anak Bersikap yang Sopan dan Santun

Salah satu perilaku berbakti adalah bersikap sopan santun pada orangtua. Hal ini diajarkan sejak dini terutama saat si kecil sudah aktif berbicara dan bergerak. Penggunaan kata dan perilaku sopan mengurangi risiko menyakiti perasaan orangtua . 

Saat anak diajarkan sopan santun, sebenarnya penerapannya bukan di rumah saja namun juga di lingkungan luar. Termasuk di sekolah saat bertemu guru dan teman. Karena sopan santun merupakan sikap dianjurkan kepada setiap manusia.

2. Didiklah si Kecil Agar Tak Mudah Mengeluh Tentang Hal yang Dihadapinya 

Saat orangtua  membutuhkan pertolongan dan memanggil si kecil. Anak sedang bermain mungkin akan mengeluh untuk bangun mendekat kepada Bunda. Jika melihat hal ini, sampaikan padanya berperilaku baik terhadap orangtua  dengan tidak mengeluh. 

Meskipun anak sedang asyik menonton, main game dan aktivitas lain. Ajarkan anak untuk segera menghampiri orangtua  saat memanggilnya. Terutama jika orangtua  kurang sehat atau sakit, anak kecil diajarkan perilaku lemah lembut.

3. Ajarkan Anak untuk Mendengarkan Apa yang Dikatakan Orangtuanya, Bukan Malah Marah dan Memberontak 

Anak sering kali memberontak saat orangtua  memintanya melakukan sesuatu. Padahal, untuk kebaikannya sendiri seperti segera tidur di jam 22.00. Jika anak asyik main HP pasti marah karena keseruannya terganggu. 

Tetapi, anak yang berbakti akan menuruti perkataan orangtua. Ini juga diberikan pemahaman pada anak bahwa permintaan atau suruhan orangtua  untuk kebaikan dirinya sendiri. Sikap yang sebaiknya ditunjukkan anak adalah patuh, bukan marah.

4. Biasakan Anak untuk Minta Maaf  dan Memaafkan Jika Melakukan Kesalahan

Anak maupun orangtua  tidak lepas dari kesalahan. Oleh karena itu, tumbuhkan sikap berani mengakui kesalahan dan meminta maaf. Ajari anak agar tidak perlu gengsi minta maaf, malahan perilaku ini sangat dianjurkan dalam kehidupan. 

Minta maaf dan memaafkan membuat hati bersih dari dendam. Tidak ada musuh dan meminimalisir kesalahpahaman antara orangtua  dengan anak. Jangan memarahi si kecil ketika mengakui kesalahan agar ke depannya semakin berani.

5. Ajarkan si Kecil untuk Selalu Sigap Mendengar Perintah Orangtuanya, Tidak Menunggu Dua Kali Baru Melakukan Suruhan

Orangtua  pasti pernah menyuruh atau meminta anak melakukan sesuatu. Sebagai anak sudah seharusnya menurut dan melakukan permintaan tersebut. Meskipun sedang ada kegiatan lain, tetap harus bangun dan mulai bergerak.

Jangan diam menunggu dipanggil atau disuruh dua kali. Ini menandakan anak tidak patuh pada orangtua nya. Selain itu, orangtua  menyuruh mungkin karena kesulitan melakukan sendiri. Tidak ada salahnya si kecil membantu. 

6. Biasakan Anak untuk Mengucapkan Terima Kasih Atas Apa yang Diterimanya

Ajarkan si kecil mengucapkan terima kasih saat Ibu sudah menyiapkan sarapan. orangtua  harus mengingatkan si kecil bahwa berterima kasih saat mendapatkan sesuatu. Begitu juga, latih si kecil berterima kasih saat menemukan seragam sekolah sudah disetrika rapi.

Mengucapkan terima kasih pada orangtua  menghilangkan rasa lelah dan semakin semangat mengurus anak. Selain itu, sebagai bentuk menghargai dan mengapresiasi usaha orangtua . Anak kecil harus diberi pemahaman tentang ini. 

7. Didik Si Kecil Berperilaku Bertanggung Jawab dalam Sikap dan Aktivitasnya Sehari-hari

Tanggung jawab merupakan perilaku mutlak yang harus diajarkan pada anak. Sebab, tanpa didikan ini si kecil akan tumbuh menjadi pribadi manja dan tidak bertanggung jawab. Jangan hanya istimewakan anak dengan fasilitas yang ada sampai lupa perilaku bertanggung jawab. 

Perilaku ini memiliki peran penting bagi kesuksesan anak di masa mendatang. Tidak hanya untuk diri sendiri, anak juga bertanggung jawab untuk orangtua nya saat dewasa. Bayangkan saja jika hal ini tidak dipahami sejak dini, anak akan kesulitan menerapkannya saat dia sudah besar. 

8. Dan Jangan Menghukum Anak dengan Kekerasan Fisik yang Akan Membuatnya Trauma dan Bisa Jadi Menyimpan Dendam 

Mendidik anak tidak boleh pakai kekerasan terutama anak laki-laki. Sebab dari kecil sudah mendapat perlakuan kasar, anak akan tumbuh menjadi pribadi kasar juga. Saat ada hal tidak sesuai keinginannya, langsung memberontak bahkan memukul orangtua. 

Anda tentu tidak ingin hal ini terjadi pada anak. Maka didik anak memiliki sikap peduli, kasih sayang dan memberi perhatian pada orang lain termasuk orangtua. Karena sebagai manusia, orangtua  juga sangat senang saat anak menyayanginya. Itulah 8 hal dapat praktikkan agar memiliki anak berbakti pada orangtua. Tanpa peran orangtua, tentu anak tidak tahu bagaimana perilaku berbakti itu. Karena itu, penting sekali mendidik anak sejak kecil sikap menghargai dan menghormati orangtua .

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Ketahui Apa Saja Hal yang Membuat Si Kecil Tidak Aman

Rumah adalah tempat di mana si kecil bernaung dan melakukan segala aktivitasnya. Sebagai orang tua tentu sangat penting untuk memperhatikan hal yang membuat si kecil tidak aman. Sehingga hal tersebut dapat diantisipasi untuk memberikan perlindungan maksimal kepada sang anak.

Beberapa Solusi Menghindari Hal yang Membuat Si Kecil Tidak Aman

Dengan keamanan yang terjamin di dalam rumah, maka tidak hanya anak saja yang bisa bermain dengan nyaman, orang tua pun akan lebih tenang. Terlebih lagi usia balita adalah masa di mana anak sedang senang-senangnya mengeksplor segala sesuatu dan benda yang ada di sekitarnya.

Memilih Kasur yang Terlalu Empuk

Pada kenyataannya, kasur yang terlalu empuk malah justru bisa membahayakan keselamatan bayi. Berdasarkan informasi dari Family Doctor, menidurkan anak di kasur yang empuk bisa menyebabkan SIDS (Sudden Infant Death Syndrom) atau kematian mendadak pada anak sehingga sangat membahayakan.

Hal ini dikarenakan bayi bisa saja terjepit di antara kasur dan pinggir boks bayi. Selain itu, bayi juga beresiko tenggelam jika menggunakan kasur yang terlalu empuk karena berat badan. Pastikan untuk memilih kasur yang pas dengan boks dan tidak ada ruang lebih dari dua dari antara boks bayi dan kasur.

Tidak Menutup Area Colokan Listrik

Colokan listrik merupakan area yang paling berbahaya bagi sang anak karena bisa menyebabkan mereka kesetrum. Apalagi si kecil belum bisa memahami apakah benda tersebut berbahaya atau tidak. Sehingga demi keamanan mereka, maka tutup colokan listrik yang tidak terpakai dengan penutup khusus.

Cara tersebut untuk mencegah agar anak tidak menancapkan mainan atau jarinya ke lubang colokan listrik. Selain itu, Anda juga bisa menghalangi akses anak ke arah kabel listrik dengan membuat benteng khusus untuk tempat bermain anak sehingga mereka tidak berjalan ke arah kabel atau colokan.

Menyimpan Kursi Makan Bayi di Dekat Meja

Proporsi kepala bayi cenderung lebih besar jika dibandingkan dengan tubuhnya. Sehingga hal tersebut membuat si kecil kesulitan untuk menjaga keseimbangan tubuh terutama ketika sedang duduk. Oleh karena itu, sangat disarankan agar menggunakan tempat duduk yang khusus dirancang untuk bayi.

Jangan lupa untuk memasang meja dan sabuk pengaman dengan benar agar bayi tidak jatuh ketika sedang aktif bergerak. Jangan meletakkan kursi bayi di dekat meja karena hal tersebut beresio membuat si kecil mendorong meja hingga kursi bisa terjungkir. Berikan jarak seperlunya antara meja dan kursi.

Kamar Mandi Tidak Diperhatikan

Kamar mandi menjadi bagian penting lainnya yang harus diperhatikan oleh orang tua agar anak tetap aman dan terlindungi selama bermain. Usahakan untuk tidak meninggalkan anak sendirian di dalam kamar mandi baik di dalam ember maupun bak mandi sekalipun. Karena hal tersebut sangat berbahaya.

Jumlah air sedikit pun bisa beresiko membuat anak terpeleset dan tenggelam. Sehingga sebaiknya selalu dampingi anak ketika mereka sedang mandi atau bermain air di dalam ember. Selain itu, jangan biarkan si kecil yang masih belajar berjalan ke kamar mandi sendiri karena khawatir terpeleset di lantai licin.

Jendela Lebih Rendah dari Tubuh Anak

Fungsi utama jendela pada dasarnya adalah sebagai tempat sirkulasi udara dari luar rumah ke dalam rumah atau sebaliknya agar udara yang ada di dalam ruangan tetap sehat. Namun, Anda juga harus memperhatikan pemasangan jendela yang tepat agar tidak membahayakan anak dan mereka tetap aman.

Salah satu syarat keamanan rumah bagi si kecil adalah dengan tidak memasang jendela yang lebih tinggi dari tubuh anak. Terlebih lagi untuk jendela kamar anak. Karena hal tersebut bisa beresiko anak akan memanjat jendela dan menybabkan jatuh ke luar. Namun, jika terlanjur maka bisa memasang pengaman.

Menyimpan Plastik di Lantai

Sebaiknya hindari untuk menyimpan mainan atau pakaian di dalam kantong plastik dan membiarkannya tergeletak di sekitar rumah. Karena hal tersebut bisa menyebabkan siapa saja terpeleset tak terkecuali si kecil. Belum lagi resiko menimbulkan luka ketika menginjak mainan di dalam plastik.

Lebih baik simpan kantong plastik tersebut di tempat yang aman dan tidak mudah dijangkau oleh anak. Karena seringkali mereka juga bisa memsukkan apa saja ke dalam mulutnya termasuk plastik. Bereskan segera mainan ketika sudah selesai digunakan oleh si kecil agar tidak mengganggu keamanan.

Perabotan yang Ujungnya Lancip

Beberapa furnitur di dalam rumah pasti memiliki ujung yang lancip seperti meja, kursi, dan lainnya. Perabotan tersebut bisa membahayakan keselamatan anak karena bisa membuat mereka terluka ketika terjatuh dan menyentuh ujung dari furnitur tersebut. Sehingga lebih baik pindahkan perabotannya.

Namun, jika tidak memungkinkan maka Anda bisa memasang bantalan pelindung pada bagian sudut yang tajam tersebut. Sehingga anak-anak akan tetap aman terlindungi meskipun aktif bergerak, merangkak, berjalan, dan berlari-larian ke semua sudut rumah tanpa khawatir resiko luka lagi.

Memasang Karpet Licin

Saat anak mulai belajar merangkak dan berjalan, mereka akan mengeksplor semua empat di rumahnya termasuk anak tangga. Sebaiknya tutupi anak tangga dengan karpet anti licin agar mereka tidak mudah tergelincir. Pastikan agar karpet terpasang dengan baik hingga bagian tepi tangga secara full.

Selain itu, pasang pembatas pada bagian atas maupun bawah tangga agar anak tidak jatuh ketika mereka sedang aktif bergerak kesana kemari. Sebaiknya hindari menggunakan pembatas yang desainnya memanjang vertikal ke bawah karena bisa beresiko melukai leher atau lengan bayi.

Tempat Obat Dekat dengan Anak-anak

Jika di rumah Anda terdapat kotak P3K yang berisi obat-obatan, maka sebaiknya jauhkan dari jangkauan anak-anak. Hal ini dikarenakan mereka bisa saja meniru kebiasaan orang tuanya saat mengonsumsi obat-obatan dan ingin melakukan hal yang sama. Usahakan untuk tidak ketahuan saat minum obat.

Pil yang biasanya memiliki warna-warni yang menarik juga bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi anak. Mereka bisa saja dengan sengaja mengambil pil tersebut entah untuk dibuat mainan atau malah dikonsumsi langsung. Tentu ini akan membahayakan apalagi jika obat tersebut memiliki efek samping.

Ada Benda-benda yang Mudah Dipanjat oleh Anak

Saat anak sudah mulai belajar merangkak dan berjalan, jiwa petualan dalam diri mereka akan tumbuh. Hal ini tentu menjadi pertumbuhan yang sangat dinanti-nantikan oleh orang tua. Namun, di satu sisi timbul kekhawatiran tersendiri jika anak terlalu berani untuk mengeksplor lingkungan rumahnya.

Apalagi jika mereka sudah mulai memanjat-manjat benda-benda tertentu yang bisa dipanjat dengan mudah. Sehingga penting bagi orang tua untuk memastikan agar perabotan di dalam rumah tidak mudah terjatuh, stabil, dan sulit dijangkau oleh anak-anak untuk dibuat pijakan memanjat.

Keamanan pada Semua Tangga Kurang

Jika ada tangga di dalam rumah, tentu ini menjadi bagian yang cukup membahayakan bagi anak-anak. Apalagi jika mereka sudah mulai bisa merangkak, berpegangan, dan belajar berdiri. Oleh karena itu, pasang keamanan pada bagian tangga salah satunya dengan menggunakan pagar.

Jika perlu pasang pagar dan pintu pada semua ujung bai bagian bawah maupun atas anak tangga agar si kecil tidak mudah jatuh. Pastikan kunci pintu terpasang dengan aman agar anak tidak mudah membua pintu tersebut. Karena jika tidak cukup kuat maka pintu akan mudah terdorong dan terbuka.

Menyimpan Benda yang Tajam dan Panas di Dekat Anak

Benda-benda yang tajam dan panas merupakan jenis benda berbahaya untuk anak. Sehingga sebisa mungkin jauhkan benda tersebut dari jangkauan mereka. Contohnya seperti setrika, pisau, gunting, kompor, segelas air panas, semangkok mie panas, dan lain sebagainya.

Bahkan taplak meja yang menggantung pun juga bisa jadi benda berbahaya bagi si kecil jika mereka tengah bermain kemudian menarik taplak tersebut. Benda-benda di atasnya bisa jatuh mengenai si kecil dan resikonya sangat berbahaya tergantung dari benda yang ada di atas taplak tersebut.

Tips Bermain Dengan Aman Bersama Si Kecil

Selain memastikan bahwa rumah dalam keadaan aman dan terhindar dari benda-benda berbahaya seperti disebutkan di atas, ada beberapa hal lain yang tak kalah penting untuk diperhatikan. Berikut ini tips bermain dengan aman bersama si kecil, yaitu:

Pilih Permainan yang Sesuai

Memilih permainan yang tepat dan sesuai dengan kondisi si kecil adalah hal yang tidak kalah penting lainnya untuk diperhatikan. Pilihlah jenis permainan yang sesuai dengan usia anak termasuk dalam memilih bahan mainan tersebut.

Usahakan untuk memilih mainan yang tidak tajam dan beresiko menyebabkan luka. Contohnya seperti boneka, lego, kertas bergambar, busy book, dan masih banyak lagi. Mainan tersebut terbuat dari bahan-bahan yang tidak tajam sehingga tidak berpotensi melukai si kecil ketika memainkannya.

Awasi Anak Ketika Bermain

Pergerakan anak saat mereka memasuki usia belajar merangkak dan berjalan terbilang sangat cepat. Sehingga Anda harus memberikan pengawasan penuh agar bisa terus mengontrol pergerakan mereka setiap saat. Terlebih lagi untuk anak-anak yang terlalu aktif dan tidak mau diam.

Luangkan waktu untuk bermain bersama anak setiap hari. Tidak apa-apa jika harus mengorbankan karir dan aktivitas lainnya. Karena keselamatan dan keamanan anak adalah hal yang paling utama. Anda bisa melakukan aktivitas seperti me time setelah anak tertidur agar bisa lebih tenang.

Buat Ruangan Khusus Untuk Bermain

Agar anak bisa bermain dengan aman dan Anda bisa melakukan aktivitas lainnya dengan tenang, maka bisa dengan membuat ruangan khusus untuk bermain. Sehingga ruangan tersebut tidak bercampur dengan benda-benda tajam dan berbahaya yang bisa dijangkau dengan mudah oleh anak.

Jika tidak memiliki ruangan khusus karena rumahnya sempit atau kecil, maka bisa membuat benteng dari guling atau benda-benda lainnya yang aman dengan bentuk kotak atau lingkaran. Dengan memberi batas ruang seperti itu maka anak-anak akan tetap bermain di dalam benteng dan tidak keluar-keluar.

Anak adalah harga paling berharga yang harus dijaga dan dirawat dengan baik. Hal yang membuat si kecil tidak aman sebaiknya diantisipasi agar tidak beresiko menimbulkan cedera atau luka yang kelak berakibat fatal. Sebagai orang tua tentu Anda harus mengawasi mereka dengan baik. 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Memilih Permainan yang Pas Untuk Bayi Usia 0 – 12 Bulan

Banyak yang mengira bahwa memberikan mainan pada bayi yang baru lahir sebenarnya tidak dibutuhkan. Padahal memberikan mainan membantu tumbuh kembang anak meskipun baru lahir. Karena bermain adalah proses belajar yang bisa dilakukan anak di kehidupan awal mereka. Apa saja permainan yang pas untuk bayi?

Ide Mainan Untuk Bayi

Ada banyak sekali jenis mainan yang bisa Anda berikan kepada bayi mulai dari lahir hingga umur 12 bulan. Tentu saja mainan tersebut harus menyesuaikan dengan fase perkembangan anak. Seiring dengan kemampuannya semakin bertambah, maka macam-macam mainan yang diberikan pun bisa lebih bervariasi dan menantang.

Gambar Hitam Putih

Gambar hitam putih merupakan mainan yang sangat tepat untuk diberikan kepada bayi yang baru lahir dengan usia 0 sampai 1 bulan. Hal ini dikarenakan fungsi mata bayi belum bisa berfungsi dengan sempurna sehingga ia hanya dapat melihat warna hitam putih saja dengan jarak pandang yang dekat yakni 10 sampai 25 cm.

Cara pandang bayi akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Anda bisa memperlihatkan gambar yang berwarna hitam dengan putih kontras. Meskipun hanya warna tersebut, biasanya bayi akan memperhatikan dan menunjukkan ketertarikannya.

Mainan yang Digantung

Bayi berusia 0 sampai 1 bulan biasanya menyukai mainan yang digantung. Anda bisa menggeser perlahan mainan tersebut apakah mata bayi akan mengikuti gerakan dari mainan itu atau tidak. Mainan yang digantung ini sangat menarik dan dapat membantu merangsang perkembangan motorik mata.

Anda bisa membeli mainan yang memang khusus untuk digantung atau bisa juga dengan menggantung benda-benda yang ada di rumah. Contohnya seperti kain, plastik, dan lain sebagainya. Lebih menarik lagi jika permainan itu bisa diputar-putar dan digerakkan secara otomatis dan ada bunyi-bunyian yang mengiringinya.

Boneka Laba-laba

Boneka laba-laba menjadi permainan yang bisa menarik perhatian bayi dan cenderung akan mereka sukai. Mainan gantung seperti boneka laba-laba ini sangat bagus untuk merangsang Indra anak yang berusia 1 sampai 4 bulan. Bagian bawa boneka biasanya berpola hitam putih / disenangi bayi baru lahir.

Jika bayi sudah lebih besar dan sudah bisa melihat beragam warna, maka ia akan lebih tertarik dengan gantungan pada setiap kaki laba-laba. Bentuknya yang menarik dan unik juga bisa membuat bayi senang ketika mendapatkan mainan ini. Apalagi jika boneka tersebut bisa diremas dan ada bunyinya.

Mainan Dengan Cermin

Mainan dengan cermin juga bisa menjadi pilihan yang menarik untuk bayi berusia 3 sampai 4 bulan yang mana fungsi matanya sudah lebih baik. Pada fase usia ini bayi sudah bisa melihat warna dengan jarak pandang lebih jauh dan jenis warna yang lebih bervariasi tidak hanya hitam dan putih.

Mereka sudah bisa mulai menggapai mainan yang digantung meskipun koordinasi tangannya masih kurang sempurna. Bahkan terkadang mereka bisa menangis ketika ingin memegang namun tetap tidak bisa. Pada usia ini mereka senang melihat refleksi diri pada cermin. Anda bisa mengajaknya bermain sambil bercanda di depan cermin.

Mainan Lunak (Soft Toys)

Boneka lunak atau soft toys bisa menjadi pilihan permainan yang menarik pada bayi berusia 4 bulan. Boneka seperti ini biasanya sama mereka gemari karena anak-anak mulai belajar dan gemar menggigit-gigit. Sehingga untuk menstimulasi giginya akan tumbuh dan kekuatan gusi maka gunakan mainan ini.

Namun, Anda harus berhati-hati dalam memilih mainan berupa boneka lunak atau teether ini dan pastikan bahannya aman. Karena mainan tersebut biasanya akan digigit oleh anak sehingga jangan sampai bahan berbahaya masuk ke tubuh mereka. Selain itu, pilih mainan yang bisa digenggam oleh tangan bayi.

Buku Bayi

Buku bayi menjadi pilihan yang bagus untuk mainan anak usia 5 bulan. Memasuki fase usia ini, anak-anak sudah senang menggosok-gosokkan tangannya ke berbagai permukaan benda. Untuk merangsang indra peraba dan perasanya, Anda bisa memberikan buku yang memiliki tekstur. Perkenalkan buku yang terbuat dari kain.

Karena buku-buku yang terbuat dari kertas biasanya memiliki ketajaman pada bagian sudutnya sehingga bisa membahayakan bayi. Buku tersebut juga bisa menjadi sarana untuk memberikan dongeng kepada anak setiap hari sebelum tidur sehingga budaya membaca sudah diajarkan sejak dini. Pilih cerita singkat yang tidak terlalu panjang.

Bola

Mainan bola sangat cocok diberikan untuk anak yang sudah memasuki usia sekitar 7 bulan ketika mereka sudah mulai belajar merangkak serta kemampuan menggenggamnya sudah semakin baik. Ajak anak-anak untuk belajar mengejar bola dengan menggelindingkannya. Dengan demikian mereka akan belajar merangkak lebih jauh.

Berikan bola yang bertekstur untuk melatih kemampuan sensori bayi. Pilih mainan yang bisa berbunyi jika dipencet sehingga dapat melatih logika sebab akibat pada anak. Berikan bola dengan berbagai ukuran dan warna agar mereka juga bisa mengenal ragam bentuk dan ragam warna untuk melatih kecerdasan otak.

Baby Playnat dan Playgym

Baby playmat dan playgym merupakan karpet arena untuk bermain bayi. Playmat ini bisa Anda lengkapi dengna mainan gantung untuk mendorong bayi mengeksplorasi lingkungan sekitarnya melalui suara, sentuhan, dan penglihatan.

Bayi akan belajar melihat berbagai warna yang digantung di atasnya, mendengar suara kerincing dari mainan yang disentuhnya, serta menyentuh dan merasakan tekstur karpet. Bayi juga akan terdorong untuk tengkurap dan melatih kekuatan tangan serta kaki karena alas playmat memiliki warna cerah.

Tips Memilih Mainan Untuk Bayi

Mainan memiliki manfaat yang sangat banyak untuk melatih kecerdasan otak, kemampuan motorik, dan kemampuan fisiknya. Beberapa mainan di atas merupakan jenis mainan yang sangat cocok untuk diberikan pada bayi yang mana kemampuannya masih sangat terbatas. Berikut ini tips memilih mainan:

Berikan Mainan Sesuai Fase Perkembangannya

Mainan bayi dirancang sesuai dengan tumbuh kembang dan kemampuan bayi yang disesuaikan dengan umurnya. Tentu saja Anda tidak akan bisa memberikan mainan untuk anak berusia 1 tahun ke atas kepada bayi yang baru berusia 3 bulan karena yang ada mereka tidak akan tertarik.

Sangat penting untuk mengetahui bagaimana tahap dan fase perkembangan anak untuk setiap usianya agar bisa memilih jenis mainan yang tepat. Pilihlah mainan yang dapat merangsang kemampuan motorik, fisik, dan otak anak sesuai dengan usianya yang tepat.

Bahannya Aman Untuk Bayi

Ketika bayi masih berusia di bawah tiga bulan, mereka sedang senang-senangnya memasukkan mainan ke dalam mulut. Sehingga agar keamanan bayi tetap terjaga dengan baik, Anda harus memastikan bahwa mainan tersebut terbuat dari bahan yang aman dan tidak membahayakan.

Jika mainan tersebut merupakan mainan plastik, maka pastikan bahan plastik yang digunakan aman untuk bayi dan tidak mengandung bahan kimia berbahaya. Cara untuk memastikannya sangat mudah yakni cukup melihat apakah mainan tersebut memiliki tanda daur ulang nomor 3 atau tidak.

Pilih Mainan yang Memiliki Tekstur dengan Beragam Bentuk, Ukuran, dan Warna

Masa-masa bayi adalah saat yang tepat untuk mengajarkan kepada anak kemampuan dasar yang nantinya akan terbawa hingga dewasa kelak. Karena daya ingat anak pada usia golden age ini sangat bagus sehingga Anda harus memperhatikan betul mainan yang tepat untuk mereka.

Pilihlah mainan yang bertekstur serta memiliki beragam warna, ukuran, bentuk, dan suara untuk memberikan stimulasi pada sentuhan, pendengaran, dan penglihatan bayi. Semakin banyak variasi tesebut, maka bayi akan mengenali semakin banyak benda yang dapat merangsang kecerdasan otaknya.

Pilih Mainan yang Dapat Mendorong Interaksi

Stimulasi atau rangsangan yang diberikan kepada bayi akan lebih optimal jika terjadi interaksi positif saat orang tua bermain dengan anaknya. Pilihlah mainan yang dapat mendorong interaksi antara anak dengan orang tua serta menumbuhkan respon pada anak.

Contoh mainan yang dapat mendorong interaksi adalah buku cerita atau buku dongeng. Anda bisa memilih buku cerita singkat yang banyak gambarnya. Ceritakan dongeng atau kisah untuk anak setiap hari sebelum mereka tidur sambil menunjukkan gambar dan tulisan pada buku tersebut.

Mainan yang Empuk dan Lembut

Selain senang memasukkan berbagai benda ke dalam mulutnya, bayi pada usia di bawah tiga bulan juga cenderung senang mengeksplorasi kemampuan melempar. Sehingga sangat penting untuk memilih mainan yang empuk dan lembut agar aman untuk bayi.

Karena mainan yang kasar dan berat tentu akan membuat bayi kesusahan saat memainkannya. Belum lagi jika ada sudut yang tajam tentu akan membahayakan keamanan mereka. Oleh karena itu, perhatikan betul tekstur dan jenis bahan pada mainan yang akan diberikan pada bayi.

Jangan Memilih Mainan yang Mudah Lepas dan Berukuran Kecil

Hindari mainan yang berukuran kecil karena khawatir akan ditelan oleh bayi. Bagian-bagian kecil pada mainan seperti manik-manik, kancing baju boneka, mata boneka, dan lainnya terpasang dengan baik serta tidak mudah lepas. Karena pada usia 3 bulan mereka bisa menarik-narik bagian tersebut.

Jika khawatir bayi bisa menarik bagian kecil mainan hingga terlepas, maka sebaiknya pilih mainan yang tidak memiliki banyak aksesoris kecil seperti manik-manik. Ukurannya pun jangan terlalu kecil agar tidak ditelan bayi karena mereka belum bisa membedakan mana yang boleh ditelan dan mana yang tidak.

Pilih Mainan yang Mudah Dibersihkan

Mainan menjadi salah satu sumber dan sarang bakteri yang sangat berbahaya jika tidak mudah dibersihkan. Mainan bayi harus dibersihkan secara rutin demi menjaga kesehatan si kecil. Pilihlah mainan yang terbuat dari plastik atau karet yang mudah dibersihkan dan tidak mudah kotor.

Jangan memilih mainan yang terlalu banyak celah kecil untuk masuk debu dan kotoran hingga sulit untuk dibersihkan. Setiap mainan yang diberikan pada bayi pastikan dibersihkan dengan tepat dengan cara mencucinya menggunakan air panas untuk membunuh bakteri dan kuman.

Memilih mainan yang tepat sangatlah penting untuk merangsang dan menstimulus tumbuh kembang si kecil. Apalagi ketika masih bayi mereka belum memiliki banyak kemampuan untuk melakukan berbagai hal. Sehingga pilihlah mainan yang tepat dan sesuai tips di atas.

Beragam permainan yang pas untuk bayi di atas bisa menjadi rekomendasi pilihan untuk Anda yang ingin memberikan mainan terbaik untuk anaknya demi merangsang tumbuh kembang mereka. 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Perkembangan Mental Anak Usia 4 – 5 Tahun yang Harus Dipahami Setiap Orangtua

Usia bawah lima tahun merupakan masa golden age di mana sebagai orang tua sangat penting untuk memperhatikan perkembangan anak di usia ini. Terlebih lagi terkait perkembangan mental anak usia 4 – 5 tahun yang biasanya mulai muncul pada fase ini terkadang membuat bingung banyak orang tua.

Fase Perkembangan Mental Anak Usia 4 – 5 Tahun

Fase perkembangan anak usia 4 – 5 tahun merupakan fase yang sangat penting karena saat usia tersebut anak-anak mulai mudah meniru apa yang mereka lihat di lingkungan sekitarnya. Perkembangan emosional anak pada usia ini juga lebih sulit ditangani daripada usia di bawahnya.

Anak-anak sudah mulai memasuki fase initiative vs guilt. Pada fase ini mereka mulai menunjukkan rasa ingin mandiri dan lepas dari ikatan orang tua mereka. Anak-anak memiliki keinginan untuk bergerak dengan bebas dan berinteraksi dengan teman-teman maupun lingkungan sekitarnya.

Keinginan tersebut muncul karena adanya rasa inisiatif yang tumbuh dalam diri mereka. Namun, di satu sisi anak-anak juga akan lebih mudah merasa sedih atau marah jika apa yang terjadi tidak sesuai dengan keinginan. Hal tersebut dikarenakan sudah muncul rasa bersalah atau guilt dalam diri mereka.

Tahap Perkembangan Emosi Anak Usia 4 – 5 Tahun

Memahami bagaimana perkembangan anak khususnya saat masih usia balita tentu sangat penting bagi orang tua agar mereka bisa memberikan treatment yang tepat saat mendidik. Usia balita merupakan usia di mana anak-anak sedang senang-senangnya bermain sebagaj kegiatan primer mereka.

Di usia ini anak-anak juga akan mulai melakukan inisiatif dan belajar tentang arti diabaikan dan ditanggapi dengan baik. Mereka akan mulai paham dan merasakan apa itu arti diterima dan ditolak. Jika tanggapannya baik maka anak pun akan belajar banyak hal seperti bagaimana bekerja sama dengan teman.

Selain itu, mereka juga akan belajar tentang bagaimana menjadi seorang pemimpin dalam permainan sehingga jiwa leadership pun akan tumbuh. Namun, jika tanggapan yang diberikan berupa penolakan maka anak-anak akan merasa takut dan bersalah. Sehingga akan muncul ketergantungan pada kelompok.

Cara Menstimulasi Anak Agar Berekspresi

Mengungkapkan ekspresi sangatlah penting untuk dilakukan baik itu ekspresi bahagia, sedih, ataupun marah. Jangan sampai apa yang dirasakan oleh sang anak tidak bisa diekspresikan dan terpendam karena bisa menimbulkan tekanan dalam diri mereka. Stimulus bisa dilakukan dengan berbagai cara.

Mulai dari mengenalkan anak-anak pada huruf dan angka sambil bermain, membiarkan mereka bermain dengan temannya selama masih tetap bisa diawasi, buang air sendiri, dan lain sebagainya. Selera humor anak pada usia ini juga akan mulai terlihat dan bahkan mereka cenderung ingin menarik perhatian.

Pada usia ini mereka bahkan bisa tertawa atau membuat tingkah laku yang lucu agar orang-orang di sekitarnya tertarik. Di sinilah anak-anak mulai belajar bagaimana mengeluarkan ekspresinya seperti orang dewasa. Sehingga mereka mulai memahami apa itu emosi dan mental yang dirasakan dari dalam hati.

Cara Untuk Membantu Perkembangan Emosional Agar Berjalan Baik

Anak-anak sudah bisa diajarkan bagaimana cara memecahkan masalah sejak usia 2 sampai 3 tahun. Usia 4 – 5 tahun pun sangat penting untuk melatih mereka bagaimana menyelesaikan suatu masalah. Seperti ketika mereka berebut mainan dengan teman, berkelahi, dan masalah lainnya.

Ajarkan kepada mereka untuk menyelesaikan masalah dengan baik tanpa harus saling berkelahi. Berikan ruang kepada mereka untuk mengungkapkan emosinya melalui ekspresi. Perlu disadari bahwa bagaimanapun juga anak adalah peniru ulung orang tua dan lingkungan sekitarnya.

Mereka akan dengan mudah mengikuti setiap perilaku, kebiasaan, perkataan, dan sikap orang lain. Oleh karena itu, Anda bisa mulai mengajak anak-anak untuk berbagi cerita tentang aktivitas apa saja yang mereka lakukan seharian. Berikan waktu agar mereka bisa mengobrol dengan santai dan lebih rileks.

Mengetahui Perkembangan Anak Usia 4 – 5 Tahun

Mengikuti setiap perkembangan anak dari usia ke usia adalah hal yang paling berharga bagi orang tua. Tak terasa waktu begitu cepat hingga anak-anak sudah bisa melakukan banyak hal sesuai dengan usianya. Apa saja kemampuan dan perkembangan yang biasanya sudah dimiliki oleh anak-anak di usia tersebut?

Kemampuan Motorik Kasar

Saat memasuki usia 4 tahun anak-anak biasanya sudah bisa melakukan kemampuan motorik kasar seperti daftar berikut ini:

  1. Kemampuan bagaimana menyeimbangkan tubuh dengan mengangkat satu kaki selama 1 sampai 5 detik
  2. Berjalan sambil melompat kesana-kemari atau melompat di tempat
  3. Berjalan menaiki anak tangga sendiri tanpa bantuan orang dewasa
  4. Menaiki sepeda dengan menggunakan roda tiga
  5. Berlari-larian
  6. Memahami wilayah nyaman mereka
  7. Kemampuan berimajinasi yang tinggi seperti saat mengejar bola mereka akan berimajinasi seolah seperti pemain bola sungguhan yang sedang bertanding di lapangan

Kemampuan Motorik Halus

Saat anak berusia 4 sampai 5 tahun motorik halus mereka juga sudah mengalami perkembangan. Mereka memiliki kemampuan dengan baik dan mata dengan tangan bisa berkoordinasi semakin tajam. Kemampuan yang bisa dilakukan seperti mengambil benda yang kecil dan mewarnai tanpa keluar garis.

Selain itu, mereka juga bisa menyelesaikan puzzle sederhana. Kemampuan menggambar dan meniru apa yang dibuat oleh orang lain juga sudah bisa mereka melakukan seperti bentuk dasar kotak, lingkaran, segitiga, dan lainnya. Di sini kreatifitas dan imajinasi anak akan semakin terlatih.

Kemampuan Sosial dan Emosional

Anak akan semakin mandiri dan matang saat memasuki usia 4 sampai 5 tahun. Bahkan mereka akan berusaha untuk melakukan beberapa hal sendiri tanpa bantuan orang dewasa. Anda tidak perlu khawatir dalam hal ini karena fase perkembangan ini merupakan hal yang normal dan wajar.

Mereka mulai belajar untuk mengendalikan emosi dalam diri dan belajar menjadi mandiri. Dalam hal ini Anda bisa mengajarkan beberapa hal seperti bagaimana mencuci tangan sendiri, menyikat gigi, menyiapkan sarapan, memakai baju, dan lainnya. Anak-anak sudah mulai paham bagaimana mengerti perasaan orang lain.

Kemampuan Komunikasi dan Bahasa

Di usia 4 – 5 tahun anak-anak semakin lancar berbicara meskipun terkadang tidak jelas namun sudah tidak menggunakan bahasa bayi lagi. Mereka sudah bisa menggunakan kata-kata yang bisa terdengar dengan jelas, bercerita, menyebutkan nama, alamat, dan lain sebagainya.

Bahkan di usia ini anak-anak juga sudah bisa mengungkapkan pendapat mereka terhadap sesuatu. Anda pun bisa mengajak mereka untuk ngobrol atau berdiskusi ringan. Fase usia ini mereka juga akan mulai senang bernyanyi lagu kesukaan. Maka ajarkanlah hal-hal dan kata-kata yang baik.

Mandiri dan Ingin Mencoba Melakukan Banyak Hal

Saat memasuki fase usia 4 – 5 tahun mungkin Anda akan mulai mendengar anak-anak sering berkata “aku bisa sendiri”. Itu artinya mereka sudah mulai muncul inisiatif untuk belajar mandiri tanpa bantuan orang. Seperti hal sepele menggosok gigi sendiri, mengemas tas sendiri, memilih baju sendiri, dan lainnya.

Meskipun terkadang mungkin baju yang mereka pilih gak matching motifnya dan terkadang bisa menguji kesabaran. Namun, Anda tidak harus langsung membantunya dan jangan terburu-buru untuk melakukan koreksi. Karena jika demikian maka anak akan merasa tidak dihargai dan menjadi marah.

Jika mereka mulai marah dan kesal maka hal tersebut bisa menjadikannya malas untuk melakukan hal-hal dasar yang justru ketika dewasa nanti mereka malah tidak bisa mandiri dan bergantung pada orang. Di sini peran orang tua adalah sebagai pendamping anak-anak untuk melakukan apa yang mereka inginkan.ndamping

Cara Mendidik Anak Usia 4 – 5 tahun

Cara mendidik anak harus disesuaikan dengan rentang usianya. Karena setiap fase usia biasanya memiliki perkembangan yang berbeda-beda. Sebagai orangtua tentu menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter kuat dan baik.

Mengembangkan Kecerdasan Spiritual

Kecerdasan spiritual sangat dibutuhkan dan diajarkan sejak dini pada anak-anak. Ketika anak sudah memasuki usia 4 – 5 tahun maka perlu mulai diajarkan tentang sang pencipta dan ajaran agama. Sehingga sedari dini mereka memiliki hubungan spiritual yang baik dan akan dibawa hingga dewasa.

Anda bisa mulai mengajarkannya dengan cara membuka wawasan dan pikiran mereka tentang sosok sang pencipta. Masukkan anak-anak lembaga pengajaran seperti kalau dalam agama Islam dikenal dengan TPQ. Di sini anak-anak akan mulai belajar untuk mendalami agamanya dari dasar.

Menumbuhkan Rasa Cinta Kasih Sayang

Emosi anak pada usia 4 sampai 5 tahun sudah mulai terbentuk sehingga penting sekali untuk mulai mengajarkannya bagaimana menyayangi dan mencintai orang lain khususnya keluarga. Lakukan hal-hal sederhana seperti memberikan pelukan hangat dan mengungkapkan rasa sayang secara terbuka.

Mulailah ajarkan kepada anak-anak untuk peduli kepada orang lain, menumbuhkan rasa empati, berbagi, dan lain sebagainya. Dengan demikian kepekaan anak akan mulai terasa sejak dini dan mereka pun akan terbentuk menjadi pribadi yang peduli dengan sesama.

Mengajarkan Anak Untuk Jujur

Jujur adalah karakter utama yang harus dimiliki oleh anak dan perlu ditanamkan sejak dini. Karena sikap jujur ini yang akan membawa bagaimana anak-anak nanti tumbuh ketika remaja maupun dewasa. Anda bisa mulai mengajarkannya untuk dengan mengingatkan agar mereka selalu jujur / mengakui kesalahan.

Di fase usia 4 – 5 tahun terkadang anak-anak masih memiliki sifat malu untuk mengakui kesalahan sehingga Anda harus mengajarinya bahwa jujur itu penting. Dengan pondasi sifat jujur yang dimiliki maka akan ada banyak dampak positif bagi anak-anak. Mereka akan menjadi pribadi yang berlapang dada.

Mengasah Kemampuan Kognitif Anak

Kemampuan kognitif anak bisa dilatih dengan cara-cara sederhana terlebih dahulu seperti belajar membaca sambil bermain. Jangan terlalu memaksakan kehendak anak-anak karena di fase ini mereka sedang senang-senangnya bermain sehingga harus diajari secara perlahan.

Anda bisa mengajarinya secara pelan-pelan dan mencari waktu yang tepat. Beri pemahaman kepada anak-anak bahwa sudah waktunya mereka belajar karena sebentar lagi akan masuk sekolah. Sehingga mereka pun menjadi semangat untuk belajar agar cepat bisa memahami huruf dan angka.

Perkembangan mental anak usia 4 – 5 tahun memang perlu diketahui bagaimana pertumbuhannya apakah sudah sesuai dengan usianya atau belum. Ketika sudah muncul rasa inisiatif dan ingin mandiri dalam diri anak maka tugas orang tua adalah mendampingi dan membimbing perkembangan mereka. 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Share

To Top