Parenting

Pola Asuh yang Benar Dapat Membuat Anak Bahagia dan Sukses, Jangan Jadi 15 Tipe Orang Tua yang Bisa Merusak Masa Depan Anak

Pola asuh yang benar dapat berdampak baik pada kebahagiaan dan kesuksesan anak nantinya. Namun, jika sampai salah, orang tua malah bisa menyakiti –bahkan merusak masa depannya. Apa saja tipe orang tua yang bisa merusak masa depan anak? Simak penjelesannya berikut!

1. Suka Membanding-bandingkan Anak dengan Anak Lain

Sederhananya, tak ada yang suka dibanding-bandingkan dengan orang lain, tak terkecuali anak. Sayangnya, tak jarang orang tua membandingkan hal-hal positif dari orang lain kepada anaknya, dengan harapan anak juga memiliki nilai positif tersebut. Padahal ini bisa membuatnya berkecil hati. Berpikir bahwa dirinya memang seperti apa yang orangtuanya katanya, yakni tidak lebih baik dari anak lain. 

2. Bertengkar dengan Pasangan di Depan Anak

Konflik dengan pasangan sering kali tak terhindarkan dan sulit menyembunyikannya dari anak. Mungkin karena emosi yang meluap, pertengkaran bisa terjadi di depan anak.

Namun, Bunda harus tahu jika studi ilmiah menunjukkan bahwa anak yang tumbuh di lingkungan yang sering terjadi konflik, jadi cenderung lebih sulit untuk beradaptasi, sulit bekerja sama dengan orang lain, dan rentan mengalami depresi.

Bukan hanya masalah emosi, kesehatan fisik anak pun dapat terganggu dan menyebabkan keluhan berupa badan lemas yang frekuensinya sering dan gampang sakit.

3. Menjadi orang tua yang Tidak Jujur dengan Suka Berbohong

Sering berbohong kepada anak akan membuat anak kehilangan rasa percaya terhadap orang tuanya sendiri. Bahkan berdasarkan penelitian dari Universitas Princeton, Amerika Serikat, setidaknya 40 persen anak-anak takut dan kehilangan rasa percaya akan orang tuanya.

Penyebabnya, misalnya orang tua sering mengucapkan, ”jangan menangis, ya, nanti digigit harimau”, ”Ibu pergi 5 menit ya, kamu main dulu sama Mbak” (padahal perginya berjam-jam), ”jangan bandel, nanti ditangkap polisi, lo!”, dan sebagainya.

Kesannya sepele saat kebohongan itu keluar dari mulut. Namun, bila tak jujur kepada si Kecil, lama-lama itu memberikan efek buruk di kemudian hari.

4. Menjadi Orangtua yang Kompetitif Demi Kepuasan Pribadi

Orangtua kerap memacu anak untuk selalu juara satu, selalu aktif dalam sebuah kompetisi atau aktivitas di mana kemenangan adalah tujuan akhir. Ini berbahaya lantaran anak bisa tumbuh menjadi sosok yang tidak mau mengalah, sering kecewa kalau tidak mendapatkan yang ia mau dan cenderung akan banyak musuh dan susah punya teman.Sebagai orangtua, kita seharusnya sadar jika setiap anak memiliki kemampuan dan keahliannya masing-masing.

5. Memberikan Ekspektasi yang Berlebihan pada Anak

Tipe lain orangtua yang bisa merusak masa depan anak adalah yang memiliki ekspektasi terlalu tinggi pada anak. Misalnya orangtua ingin anak selalu menjadi juara kelas, masuk perguruan tinggi ternama, meraih beasiswa, dan sebagainya.

Namun, kebanyakan yang terjadi adalah, ketika pencapaian anak sesuai dengan ekspektasi orang tua, orang tua justru tidak memberikan apresiasi karena menganggap bahwa itu memang sudah seharusnya tugas anak.

Ekspektasi tinggi orang tua yang tidak dibarengi timbal balik berupa motivasi maupun apresiasi bisa membuat anak kehilangan semangat berjuang (demotivasi), karena menganggap jerih payahnya tidak dihargai.

6. Sering Membicarakan Hal Buruk tentang Orang Lain di Hadapan Anak

Sebisa mungkin, hindari bergunjing atau membicarakan kejelekan orang lain di hadapan anak. Anak mungkin tampak tak mengerti, tapi mereka tetap memperhatikan orangtuanya.

Saat orangtuanya berbicara negatif tentang orang lain, misalnya: “tetangga depan rumah itu orangnya galak!”, “temanmu itu badannya bau banget”, dan sebagainya. Omongan seperti itu bisa menciptakan persepsi negatif dalam pikiran anak

7. Terlalu Sering Memuji Anak Secara Berlebihan

Memberi pujian atas keberhasilan atau prestasi merupakan tindakan baik sebagai bentuk penghargaan. Namun, memberikan pujian yang berlebihan bisa menjadi kesalahan dalam mendidik anak.

Dikhawatirkan, anak hanya akan fokus pada tujuan untuk mendapatkan pujian, sehingga ia akan melakukan berbagai cara untuk memastikan dirinya berhasil.

Selain itu, orang tua yang memuji anak secara berlebihan juga membuatnya percaya diri dan yakin bahwa dirinya sesuai dengan pujian yang diterimanya. Misalnya, “kamu anak yang paling cantik”, ”tidak ada yang lebih pintar dari kamu”, dan lain-lain.

Percaya diri memang baik. Namun, jika anak terbiasa dengan sanjungan dan suatu hari ia mendapatkan kritikan, yang didapat malah perasaan kecewa.

8. Menilai Kemampuan Anak Berdasarkan Nilai yang Diperolehnya

Nilai pelajaran sering menjadi patokan tingkat kecerdasan anak. Padahal, kecerdasan tak hanya dinilai dari angka saja. Kecerdasan anak bisa dilihat dari berbagai macam aspek, seperti linguistik, logika, visual-spasial, kinestetik, musik, interpersonal, dan intrapersonal.

Menjadikan nilai sebagai patokan kecerdasan anak bukanlah pola asuh anak yang bijak. Lebih baik bantu anak dalam proses belajar tanpa membuatnya merasa tertekan.

9. Melindungi Anak dari Segala Kesalahan yang Diperbuatnya 

Siapa, sih, orang tua yang tak mau anaknya hidup bahagia dan aman? Namun, bukan berarti ini jadi alasan orang tua untuk terus melindungi anaknya dari kegagalan maupun kesalahan. Kegagalan dan kesalahan yang dialami atau dilakukan bisa jadi pelajaran bagi anak untuk bangkit, kembali berjuang, dan memperbaiki diri.

Jika orang tua terus-menerus ikut campur atau menangani masalah yang dihadapi anak, kebiasaan tersebut akan terbawa hingga ia dewasa nanti. Akibatnya, anak tak mampu mandiri, menghadapi tekanan, dan menyelesaikan masalah.

10. Terlalu Membebaskan Anak dan Tak Memberi Batasan Sesuai Usia

Penggunaan ponsel pintar, media sosial, kini tak mengenal usia, Bun. Tapi ingat, otak anak-anak masih berkembang dan mereka belum bisa membuat keputusan yang matang ketika dihadapkan sesuatu hal. Terlampau cepat mengetahui hal-hal yang tak seharusnya ia tahu, bisa merusak pikiran yang ia miliki. Jadi perlu untuk Bunda mengawasi aktivitas anak dengan memberinya batasan. 

11. Orangtua Terlalu Over Protektif dengan Apa Saja yang Dilakukan Anak

Orangtua memberikan banyak mendapatkan perhatian. Orangtua juga terlalu sering memantau gerak gerik anak. Anak biasanya juga tidak diperbolehkan melakukan sesuatu atau mencoba sesuatu yang dianggap berbahaya. Ke depannya, sang anak berpotensi tumbuh menjadi sosok yang penakut, mudah alergi, perfeksionis dan selalu merasa tidak aman

12. Terlalu Egois dan Kerap Membuat Anak Merasa Bersalah

Misalnya saja, ketika anak ingin pergi main, tapi orangtua kesepian. Orangtua mengatakan ke anak boleh saja si kecil pergi. Tapi juga bilang kalau anak-anak butuh,orangtua akan selalu di rumah untuk mereka. Perkataan ini bisa bikin anak merasa bersalah lho.

Lantas apa yang bisa Bunda lakukan? Pertama, minta maaf ke anak. Jika anak-anak sudah cukup dewasa untuk memahami kalau bunda terbiasa melakukan hal-hal seperti ini dengan mereka, cobalah mengatakan penyesalan. 

13. Marah-marah Kepada Anak di Depan Khalayak Ramai yang Membuatnya Berkecil Hati

Anak juga memiliki perasaan. Mengomeli mereka di depan banyak orang akan meninggalkan bekas luka seumur hidupnya. Anak-anak pada usia berapapun juga paham, marah-marah bukan perbuatan yang pantas. Kita sebagai orang tua juga sering mengingatkan anak-anak untuk tidak melakukan hal yang sama ke temannya.

14.  Orangtua yang Mencoba Meminta Anak untuk Menyimpan Rahasia

Anak tidak bisa untuk menyimpan rahasia orangtua, apalagi ketika anak masih kecil. Anak-anak kita bukan teman kita. Orangtua tidak dapat bersahabat dengan anak-anak. Ini akan merusak mental salah satunya atau kedua pihak.

Sebagai orangtua, kita bisa menjadi orang kepercayaan anak-anak. Tapi anak-anak belum bisa mencerna informasi kita. tak peduli berapapun usia anak, mereka tidak perlu mendengar rahasia orang tuanya. 

15.  Selalu Mengeluh Tentang Segala Hal di Hadapan Anak

Mengeluh memang wajar. Namun, kalau terus-menerus mengeluh apalagi terhadap perkara kecil, itu bisa berdampak buruk pada anak. Kebiasaan menggerutu dan mengucapkan kalimat negatif dapat menyebabkan anak mengalami stres dan kecemasan.

Anak pun akan cenderung takut untuk mengeksplorasi diri karena khawatir orang tua akan marah atau mengeluhkan tingkah lakunya. Akibatnya, anak akan merasa takut untuk mencoba hal-hal baru.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Beberapa Tips untuk Meningkatkan Kecintaan Anak Usia 5 Tahun Membaca Buku

Karena perkembangan teknologi yang semakin canggih, saat ini anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu dengan penggunaan smartphone. Belum lagi situasi yang memang membuat mereka kerap lebih banyak menikmati kegiatan yang berbentuk visual. Sehingga, ketika kita mulai mengarahkan anak untuk membaca buku, mereka tentu tidak akan langsung menyukainya.

Untuk itulah, sebagai orangtua kita perlu memberitahu anak, jika aktivitas membaca juga adalah kegiatan yang menyenangkan. Karena selain membantunya mengurangi kegiatan dengan gadget, ada banyak sekali manfaat pentingnya bukiu bagi anak usia 5 tahun. Dan berikut adalah beberapa manfaatnya:

1. Membantu Anak Meningkatkan Kreativitas dalam Dirinya

Pentingnya buku bagi anak usia 5 tahun yaitu dapat meningkatkan kreativitasnya. Dan perlu diketahui jika kreativitas ini mempunyai peranan yang sangat penting agar anak dapat mengembangkan ide atau minatnya. Selain itu buku juga sangat bermanfaat untuk meningkatkan imajinasi anak. Tentunya jika anak mempunyai kemampuan tersebut kedepannya bisa lebih mudah dalam mengelola emosi. Terutama nantinya Saat berinteraksi dengan orang lain. 

2. Mampu Meningkatkan Fungsi Otaknya dalam Berpikir

Manfaat lain buku bagi anak usia 5 tahun yaitu dapat meningkatkan fungsi otaknya. Dengan kata lain, fungsi otak anak akan semakin aktif jika sering membaca buku. Bahkan, sudah dibuktikan oleh sebuah penelitian di mana anak yang sering membaca buku dapat meningkatkan pemahaman dan kemampuan berbahasa. Apalagi jika sejak kecil sudah di bacakan buku oleh orang tuanya, kemungkinan terbesarnya saat sudah berusia 5 tahun atau lebih akan lebih mudah untuk belajar membaca. Inilah kenapa penting untuk membiasakan membaca buku. 

3. Dengan Membaca Kemampuan Kognitif Anak Juga Ikut Meningkat

Kemampuan kognitif yang meningkat juga menjadi salah satu dampak dari terbiasanya anak membaca buku. Kemampuan kognitif yang dimaksudkan bisa berupa ingatan, pemecahan masalah, perhatian dan penggunaan kata-kata. Tentu jika kemampuan kognitif tersebut semakin meningkat, maka kedepannya anak akan lebih mudah untuk berinteraksi dan bersosialisasi dengan orang lain. Selain itu, hal tersebut juga sangat bermanfaat agar anak mudah beradaptasi.

Lalu Bagaimana Tips untuk Meningkatkan Kecintaan Anak Terhadap Buku? Ini Jawabannya

Dari penjelasan sebelumnya bisa diambil kesimpulan jika buku mempunyai peranan yang sangat penting pada anak usia 5 tahun. Lalu, bagaimana tips meningkatkan kecintaan anak usia 5 tahun terhadap buku? Berikut ini penjelasannya. 

1. Sebagai Orangtua Kita Harus Bisa Menciptakan Lingkungan yang Kaya Aksara

Tips pertama yang bisa diterapkan dalam meningkatkan kecintaan anak terhadap buku yaitu menciptakan lingkungan kaya akan aksara. Dengan kata lain, sediakan tempat bermain dengan berbagai media seperti gambar dan teks. Tentu dengan media-media tersebut, anak akan lebih mudah untuk memahami dan memperkaya pengetahuannya. Contoh sederhananya permainan yang berhubungan dengan menyusun huruf, suara hewan, tebak gambar dan permainan lainnya.

2. Jadilah Sosok yang Bisa Dicontoh Anak dalam Hal Membaca

Orang tua memang menjadi role model atau contoh bagi anak. Jadi, apapun yang dilakukan oleh orang tuanya akan mudah ditiru oleh anak-anaknya. Tentunya untuk meningkatkan kecintaan anak terhadap buku, pastikan jika orang tuanya juga gemar membaca buku. Melihat orang tuanya yang sering membaca buku, anak juga akan tertarik untuk melakukan hal sama. Bahkan, Jika memungkinkan mengajak anak untuk membaca buku bersama-sama atau sekedar menemaninya membaca. 

3. Ajak Anak Membaca Buku dengan Ekspresi

Tips selanjutnya yang bisa diterapkan untuk meningkatkan kecintaan anak usia 5 tahun terhadap buku yaitu membacakan buku cerita dengan intonasi dan ekspresi yang tepat. Membaca buku dengan cara yang seperti ini bisa menarik minat anak untuk mengetahui isi buku tersebut. Selain itu, tips ini juga sangat berguna agar anak bisa mempersepsi jika pada buku tersebut banyak hal yang menarik dan selalu ingin untuk menggalinya. Berawal dari tips sederhana ini diharapkan anak bisa tertarik untuk membaca buku. 

4. Beli dan Sediakan Buku Menarik dan Sesuai dengan Minat Anak

Menyediakan buku yang menarik juga menjadi salah satu cara agar kecintaan anak terhadap pukul bisa meningkat. Sebagai langkah awal, pastikan jika orang tua menyediakan buku yang penuh dengan gambar dan warna. Hal ini penting dilakukan dengan tujuan agar anak tidak merasa bosan saat melihat buku tersebut. Buku yang seperti ini juga akan mengenalkan warna dan bentuk gambar pada buku tersebut, sehingga kemampuan anak akan mengalami peningkatan.

5. Sering-seringlah Ajak Anak Ke Toko Buku dan Perpustakaan

Tips selanjutnya bisa mengajak anak ke perpustakaan. Cara ini bisa meningkatkan minat anak dalam membaca buku dan pengalaman baru. Hal ini disebabkan karena di tempat tersebut akan menjumpai banyak orang yang membaca buku, sehingga bisa meningkatkan minat anak. Selain itu, dengan mengajak anak ke perpustakaan atau toko buku juga bisa meningkatkan kemampuannya dalam berinteraksi dengan orang lain yang ada disekitarnya. Tentu tips ini bisa memberikan dua manfaat sekaligus. 

6. Dan Berikan Kesempatan Anak Memilih Buku yang Disukainya

Selanjutnya tips meningkatkan kecintaan anak usia 5 tahun terhadap buku bisa dilakukan dengan cara memberikan kesempatan dalam memilih buku. Dengan kata lain, kesempatan tersebut dapat meningkatkan minat anak untuk membaca buku sesuai dengan keinginannya.

Begitu juga sebaliknya, jika anak dipaksa membaca buku yang diberikan oleh orang tua, justru akan merasa tertekan. Bahkan, parahnya lagi tidak berminat untuk membaca buku. Tentunya setiap orang tua pasti tidak menginginkan hal tersebut.

Demikian penjelasan mengenai beberapa tips yang bisa diterapkan dalam meningkatkan kecintaan anak terhadap buku. Dengan tersedianya berbagai tips tersebut, bisa diterapkan secara bergantian agar anak tidak bosan dan justru tertarik untuk membaca buku terus menerus.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Jangan Jadi Orangtua yang Sekedar Status Saja, Inilah Peran Kita Bagi Pertumbuhan Anak

Setiap anak pasti mempunyai tahapan pertumbuhan yang tentunya harus dipantau oleh orangtuanya. Dengan kata lain, peran orang tua bagi pertumbuhan anak sangatlah penting untuk mendeteksi gangguan sejak dini. Begitu juga penting untuk melakukan penanganan dengan cepat. Karena kelalaian kita dalam menyikapi tumbuh kembang anak, bisa jadi berakibat fatal bagi mereka. Nah, sebelum membahas lebih lanjut, yuk pahami dulu apa itu perkembangan anak.

Sekilas Pemahaman Tentang Apa yang Dimaksud dengan Pertumbuhan Anak

Orangtua perlu mengetahu terlebih dahulu, apa itu pertumbuhan anak. Secara singkatnya pertumbuhan merupakan proses perubahan yang terjadi pada anak dan ditandai dengan bentuk tubuh dan ukuran Fisik yang bertambah.

Selain itu, pertumbuhan juga bisa diartikan sebagai perubahan yang terjadi pada anak dalam aspek fisik maupun jasmaniah dan bersifat terbatas serta kuantitatif. Proses pertumbuhan ini merupakan proses pematangan setiap individu. 

Dengan kata lain, untuk mengetahui pertumbuhan anak bisa dilakukan dengan boleh bang berat badan maupun mengukur tinggi badan. Sedangkan untuk mengetahui pengukuran bisa dikatakan Normal atau tidak dapat disesuaikan dengan standar yang tersedia.

Orangtua Berperan Memastikan Kebutuhan Nutrisi yang Dibutuhkan Oleh Anak

Orangtua mempunyai peranan yang cukup penting terhadap pertumbuhan anak, Salah satunya yaitu menjamin kebutuhan nutrisi tercukupi. Dengan kata lain, nutrisi yang tercukupi pada tubuh anak sangat berperan penting pada pertumbuhannya. Lebih jelasnya berikut ini beberapa asupan nutrisi yang harus didapatkan anak dalam memastikan pertumbuhannya lebih optimal, seperti:

  • Menyediakan makanan yang kaya akan nutrisi seperti vitamin, karbohidrat, mineral, protein dan lemak baik. Beberapa nutrisi tersebut berperan penting agar proses pertumbuhan anak bisa lebih optimal.
  • Beberapa nutrisi tersebut, anak juga membutuhkan kandungan omega 3 dan omega 6. Nutrisi tersebut bisa didapatkan pada produk susu atau makanan tertentu. Mengingat kandungan tersebut merupakan lemak baik yang berperan penting untuk pertumbuhan anak. 
  • Orang tua juga harus memastikan kebutuhan nutrisi penting lain seperti DHA, EPA dan ALA. Kandungan tersebut bisa didapatkan pada beberapa jenis makanan seperti ikan salmon maupun sarden.

Orangtua Berperan Memastikan Kebiasaan Makan yang Baik

Peran penting orang tua bagi pertumbuhan anak tidak hanya terfokus pada kebutuhan nutrisi. Namun, coba berperan penting untuk memastikan agar anak mempunyai kebiasaan makan yang baik. Selengkapnya berikut adalah beberapa kebiasaan makan yang baik dan harus diterapkan pada tumbuh kembang anak.

1. Tidak Melewatkan Sarapan Bersama

Cara pertama agar menciptakan kebiasaan makan yang baik yaitu dengan tidak melewatkan sarapan bersama. Setidaknya pada saat sarapan akan terjadi obrolan yang bisa memacu semangat untuk melakukan aktivitas. 

Selain itu, sarapan juga menjadi waktu yang paling tepat untuk menyetok sumber tenaga tubuh dan terutama otak dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Bahkan, dasarkan penelitian yang telah dilakukan jika sarapan dapat meminimalisir terjadinya resiko obesitas. 

2. Menyediakan Cemilan Berupa Buah-buahan

Selain membiasakan sarapan bersama, kebiasaan baik yang yang selanjutnya yaitu menyediakan buah-buahan sebagai camilan. Seperti yang diketahui jika buah-buahan mempunyai peranan yang sangat penting untuk kesehatan dan pertumbuhan anak.

Salah satu cara untuk meningkatkan minat anak mengkonsumsi buah-buahan yaitu menyediakannya sebagai camilan dan setiap harinya berbeda jenis. Tentu camilan buah-buahan ini lebih sehat dibandingkan dengan camilan kemasan yang kaya akan MSG. 

3. Membiasakan Makan Bersama Anak

Salah satu cara untuk memastikan kebiasaan makan yang baik agar pertumbuhan lebih maksimal yaitu membiasakan makan bersama. Terutama saat di malam hari, pastikan meluangkan waktu untuk makan bersama bersama anak dan anggota keluarga lainnya.

Selain membiasakan makan yang lebih sehat, makan bersama juga bisa meningkatkan hubungan yang baik antara anggota keluarga yang satu dengan yang lainnya. Bahkan, bisa menciptakan keluarga yang lebih hangat. 

Untuk Itu, Ada Beberapa Cara Mengoptimalkan Tahapan Pertumbuhan Anak yang Juga Perlu Diketahui Orangtua

Mengetahui peran penting orang tua bagi pertumbuhan anak rasanya kurang lengkap jika tidak mengetahui cara mengoptimalkannya. Dengan kata lain cara pengoptimalan ini diperlukan agar pertumbuhan anak bisa lebih optimal yang bisa berpengaruh terhadap perkembangannya.

1. Membiasakan Anak Makan Makanan Sehat

Cara pertama yang bisa dilakukan untuk mengoptimalkan tahapan pertumbuhan anak yaitu membiasakannya mengkonsumsi makanan sehat. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya ada banyak makanan sehat yang dapat dipilih dan dikonsumsi anak. 

Beberapa makanan sehat yang dimaksudkan seperti sayuran, buah-buahan, daging, kacang-kacangan dan lainnya. Intinya pastikan makanan tersebut kaya lemak baik, protein dan nutrisi lainnya. 

2. Terapkan Pola Hidup Sehat

Selain memastikan anak biasa mengkonsumsi makanan sehat, cara selanjutnya yang bisa dilakukan untuk mengoptimalkan pertumbuhan yaitu Menerapkan pola hidup yang sehat, seperti halnya menjaga kebersihan. Upaya ini dilakukan dengan tujuan agar anak terbebas dari penyakit infeksi atau bakteri lain yang dapat membahayakan kesehatannya. Tentunya jika kesehatan terjaga akan berpengaruh terhadap pertumbuhan anak dan begitu juga dengan perkembangannya.

3. Membiasakan Tidur Cukup

Cara selanjutnya yang bisa diterapkan untuk mengoptimalkan tahapan pertumbuhan anak yaitu membiasakan tidur cukup. Pada umumnya waktu tidur yang ideal bagi balita, setiap harinya sekitar 11 sampai 14 jam.

Sedangkan untuk anak yang berusia antara 3 sampai 5 tahun, waktu ideal tidur setiap harinya sekitar 10 sampai 13 jam. Baik itu waktu tidur di siang hari maupun malam hari, pastikan dilakukan secara rutin setiap harinya. Anak yang mendapatkan Tidur yang cukup, pertumbuhannya bisa lebih optimal.

Demikian penjelasan mengenai peran penting orang tua bagi pertumbuhan anak. Tentu dengan mengetahui peran ini, diharapkan pertumbuhan anak bisa lebih optimal. Mengingat pertumbuhan anak juga sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak hingga dewasa. 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Jenis Sensori Motorik dalam Tahapan Perkembangan Kognitif Anak Usia 0-2 Tahun

Pada usia 0-2 tahun anak akan mulai membangun pengetahuannya berdasarkan apa yang ditangkap melalui pancaindera (aktivitas sensor) dan motorik anak.  Anak menggunakan sistem sensorik dan motorik bawaan seperti menggenggam dan aktivitas mototik kasar untuk membangun pengetahuan mereka. Nah, sebelum menemani anak pada usia tersebut, ada beberapa hal yang perlu kita ketahui sebagai orangtua. Hal tersebut meliputi beberapa tahapan sensorik motorik pada anak.

6 Tahapan Sensori Motorik Pada Anak

Seperti yang telah disinggung sebelumnya jika pada tahapan sensori motorik ini anak sudah bisa menggenggam dan menghisap. Tentunya tak heran jika sering memasukkan benda ke dalam mulutnya. Lalu, apa saja tahapan sensori motorik? Berikut penjelasan lengkapnya. 

1. Tahapan Tindakan Reflek

Pada tahapan ini dimulai saat bayi baru lahir hingga berusia 1 bulan. Pada umumnya anak di tahapan ini akan sering menggenggam sesuatu maupun menghisapnya. Sebagai salah satu tindakan Raflek, tentu bayi di usia ini belum bisa memilih mana benda yang tepat.

Melalui tahapan ini, anak akan mulai membangun pengetahuan dasarnya dan berinteraksi dengan dunia. Sedangkan seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia, tindakan refleksi tersebut akan berkoordinasi dengan mengulurkan tangan, tatapan dan meraih objek. 

2. Tahapan Reaksi Sikuler Sekunder

Tahapan reaksi sikuler sekunder terjadi pada usia 4-8 bulan. Pada tahapan ini anak akan mulai melakukan tindakan berulang-ulang agar bisa mendapatkan respon dari objek. Contoh sederhananya anak bercoba untuk memukul mainan untuk mendapatkan bunyi yang sama. 

tahapan tersebut disebut sebagai sirkulasi sekunder karena merupakan reaksi dari luar tubuh. Jadi di usia ini anak akan memulai lebih aktif untuk mencari hal-hal baru yang dirasa sangat dan belum pernah didengarkan. 

3. Tahapan Koordinasi Skema Sekunder

Pada tahapan ini terjadi pada anak di usia 8-12 bulan. Perlu diketahui jika di usia ini anak akan mulai menggunakan berbagai cara demi apa yang diinginkan dapat terwujud. Bahkan, bisa dikatakan Pada tahapan ini anak mulai berfikir.

Contoh sederhananya menggerakkan berbagai mainan yang dimiliki untuk mengetahui mana benda yang dapat berbunyi atau tidak. Bahkan, saat mencapai tujuan tersebut anak di tahapan ini akan merasa sangat senang. 

4. Tahap Reaksi Sirkuler Tersier

Tahapan ini terjadi pada anak di usia 12-18 bulan. Lebih tepatnya tahapan ini juga sering disebut sebagai eksperimentasi. Dengan kata lain, Pada tahapan ini anak akan mulai melakukan berbagai eksperimen untuk mengetahui apa yang terjadi.

Eksperimen yang dilakukan juga berulang-ulang untuk memahami hubungan antara sebab akibat. Tentunya tak heran jika di usia ini anak akan cenderung lebih aktif untuk meraih benda-benda yang ada di sekitarnya. Jadi, orang tua harus menghindarkan benda-benda yang mudah pecah.

5. Tahap Kecerdasan Representasional

Tahapan perkembangan kognitif anak usia 0-2 tahun pada sensori motorik selanjutnya yaitu tahap Kecerdasan Representasional. Perlu diketahui jika Pada tahapan ini terjadi pada usia 18-24 bulan. Lebih tepatnya tahapan ini merupakan masa transisi sensori motorik ke representasi simbolik.

Sedangkan perkembangan anak di tahapan ini bisa dilihat dari kemampuannya dalam mengingat atau mengulang sesuatu. Bahkan, anak juga mulai berhalusinasi dengan menghadirkan gambar layaknya di dunia nyata seperti halnya membangun rumah dari balok-balok.

Cara Tepat Menstimulasi Tahapan Sensorik

Setelah mengetahui apa saja tahapan perkembangan sensori motorik anak, penting untuk mengetahui cara menstimulasi tahapan sensorik. Selengkapnya berikut ini beberapa cara yang bisa diterapkan dalam menstimulasinya. 

  • Cara pertama yang bisa diterapkan dalam stimulasi tahapan sensori motorik yaitu dengan menyediakan mainan interaktif. Tentunya mainan ini sangat bermanfaat untuk mengaktifkan panca indera anak-anak. Misalnya saja permainan berhubungan dengan makna dan suara. 
  • Memastikan anak berada di lingkungan yang tepat agar bisa bereksplorasi dengan leluasa. Entah itu untuk merangkak, berjalan dan berlari.
  • Cara selanjutnya yang bisa dilakukan yaitu mengajak anak bermain agar bisa lebih aktif. Hanya saja bermain menemukan benda atau petak umpet. 
  • Menciptakan lingkungan yang kaya akan bahasa. Misalnya saja orang tua selalu aktif mengajak anak bermain atau memberitahu nama benda yang ada di sekitarnya. 

Hal Lain yang Perlu Diketahui, Ada 3 Penyebab Gangguan Kognitif

Perkembangan kognitif anak memang penting untuk diperhatikan. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar mengetahui kemungkinan terjadinya gangguan kognitif. Tahukah Anda apa saja penyebabnya? Berikut ini 3 penyebabnya.

1. Cedera Otak

Salah satu penyebab terjadinya gangguan pada perkembangan kognitif yaitu cedera otak. Sesuai dengan namanya ini menyerang pada bagian otak sehingga dapat mempengaruhi seseorang. Baik itu mempengaruhi dalam hal emosional, sikap dan fisik.

Cedera otak pada anak bisa disebabkan karena beberapa hal dan bisa juga terjadi secara tiba-tiba. Pada umumnya cedera otak dapat menyebabkan anak sulit untuk mengingat informasi atau apapun yang sudah terjadi. Bahkan, parahnya lagi bisa kehilangan sebagian memori. 

2. Efek Samping Obat

Penggunaan obat secara berlebihan juga menjadi salah satu penyebab terjadinya gangguan kognitif. Biasanya hal ini bisa terjadi pada anak yang sedang melakukan pengobatan jangka panjang seperti radiasi atau kemoterapi. 

Pada umumnya efek samping dari penggunaan obat secara berlebihan seperti menurunnya perhatian dan menurunnya kemampuan mengingat. Bahkan, anak juga bisa berkurang kemampuan konsentrasinya. 

3. Penyebab Tersembunyi

Maksud dari poin ini yaitu terjadinya gangguan kognitif disebabkan karena beberapa hal yang memang tidak diketahui. Bahkan, sampai saat ini belum ada penelitian yang menjawab mengenai hal tersebut. 

Misalnya saja anak yang terserang menyakit alzheimer, banyak peneliti yang mengemukakan jika hal tersebut disebabkan karena penumpukan deposit plak. Namun, sampai saat ini belum ada penelitian yang menjelaskan mengenai kenapa plak dapat berkembang pada tubuh anak. Itulah penjelasan mengenai sensori motorik pada tahapan perkembangan kognitif anak usia 0-2 tahun. Dari sini bisa disimpulkan jika perkembangan kognitif sangat penting, karena bisa membangun kemampuan dan pengetahuan anak.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Share

To Top