Mom Life

Pernah Dengar Tes HSG? Berikut Ini Penjelasannya

care-check-checkup-905874 (2)

Bun, pernah dengar apa itu tes HSG? Ya, HSG atau histerosalpingografi adalah sebuah tes yang biasanya dilakukan oleh perempuan yang sedang memiliki kasus infertilitas, salah satunya saat menemui masalah dengan adanya sumbatan pada saluran tuba atau tuba fallopi. Bunda perlu tahu, bila saluran tuba bermasalah atau tersumbat, maka hal ini akan membuat sperma sukar bertemu sel telur. Maka dokter pun perlu turun tangan guna mendiagnosis masalah ini melalui tes HSG.

Apa itu Tes HSG?

HSG adalah adalah pemeriksaan untuk melihat rahim dan saluran tuba dengan menggunakan bentuk khusus sinar-x yaitu fluoroskopi dan pewarna kontras. Pewarna kontras tersebut akan larut dalam air dan akan disuntikkan sehingga membuat bentuk rahim dan saluran tuba terlihat.

Hal ini diikuti dengan sinar x-ray fluoroskopi untuk melihat kondisi saluran tuba terkait bagaimana struktur yang mengangkut telur dari ovarium ke rahim bergerak. Dokter pun dapat melihat apakah saluran tuba mengalami penyumbatan atau kelainan struktural lainnya di rahim Bunda.

Tak hanya mendeteksi adanya penyumbatan di area tuba fallopi, tes ini juga bertujuan menyelidiki kasus keguguran yang berulang serta kelainan rahim yang biasanya dipicu tumor dan fibroid rahim. Tes HSG juga dilakukan untuk memantau kembali saluran tuba pasca tindakan sterilisasi.

Lantas Apa Saja yang Diperlukan untuk Melakukan Tes HSG?

Jika Anda hendak melakukan tes HSG, ada hal-hal yang perlu Anda persiapkan terlebih dahulu. Persiapkanlah beberapa hal di bawah ini sebelum melakukan tes HSG. Informasi bermanfaat ini bisa membantu tes HSG Anda berjalan lancar.

Berikut ini beberapa persiapan sebelum melakukan tes HSG:

1. Berkonsultasi dengan dokter spesialis kesuburan

Ya Bun, persiapan pertama tentu berkonsultasi dengan dokter spesialis kesuburan. Bila Bunda hendak melakukan tes ini, sebaiknya carilah dokter dan tanyakan hal-hal yang ingin Bunda ketahui. Tes HSG biasanya dilakukan di ruang radiologi.

2. Ketahui siklus menstruasi Anda

Mengutip DokterSehat.com, tes ini tak dapat dilakukan saat sedang hamil. Karenanya, perlu seskali Bunda mengetahui siklus haid Bunda. Tes HSG biasanya dilakukan antara 5-10 hari setelah haid Anda berakhir karena pada waktu itu ovulasi belum terjadi.

Sementara bagi Bunda yang memiliki siklus haid tidak teratur maka dokter akan melakukan pengecekan dengan menggunakan tes kehamilan. Hal ini penting karena prosedur tes HSG bila dilakukan pada wanita hamil justru bisa membahayakan janin.

3. Buatlah Daftar Makanan Pemicu Alergi

Untuk Bunda yang rentan terhadap alergi bila mengonsumsi makanan atau obat-obatan tertentu, maka buatlah daftar yang lengkap supaya tak terjadi alergi. Meskipun jarang terjadi namun masih ada kemungkinan Bunda dengan risiko alergi akan memiliki reaksi alergi pada pewarna kontra.

Beritahukanlah kepada dokter Bunda apabila Bunda pernah memiliki alergi pada pewarna kontras sebelumnya. Informasi tersebut akan membantu dokter untuk memberikan solusi yakni dengan memakai bahan pewarna kontras alternatif yang lebih aman terhadap alergi.

4. Minum obat antiinflamasi dan antibiotik

Pada saat hari H, biasanya sebelum dilakukan tes HSG, dokter akan memberi obat antiinflamasi seperti Motrin. Obat antiinflamasi itu diminum satu jam sebelum prosedur berlangsung. Tujuan diberikannya obat tersebut adalah untuk membantu meminimalkan ketidaknyamana dan meredakan rasa sakit.

Selain antiinflamasi, terkadang pada beberapa kasus, dokter akan memberikan obat antibiotik kepada pasien sebelum tes HSG dilakukan. Hal ini bertujuan untuk mencegah kemungkinan infeksi. Jadi, tanyakanlah kepada dokter apakah Bunda perlu minum obat antiobiotik atau tidak saat prosedur HSG hendak dilakukan.

5. Jangan Lupa Bawa Pantiliner atau Pembalut ya Bun

Setelah tes HSG dilakukan, biasanya akan muncul bercak-bercak dari kemaluan Bunda. Tak usah takut ya Bun, bercak tersebut datang dari pewarna kontras yang perlahan turun dari rahim dan keluar. Karenanya, Bunda disarankan membawa pembalut atau pantiliner untuk mencegah kebocoran dan menjaga pakaian dalam Bunda tetap nyaman.

6. Siapkan Pakaian yang Nyaman

Setelah prosedur, Bunda akan mengalami sedikit ketidaknyamanan. Pakaian yang lembut, sedikit longgar bisa membantu Bunda untuk tetap nyaman.

7. Persiapkan siapa yang akan menemani pulang dan sebaiknya ambil cuti

Meskipun sebagian besar pasien bisa pulang sendiri setelah dilakukan tes HSG tetapi ada juga pasien yang perlu ditemani untuk pulang, lebih baik mintalah seseorang untuk menemani Bunda pulang karena bisa jadi kondisi tubuh Bunda jadi tidak baik.

Serta sesudahnya, ada baiknya Bunda mengambil waktu cuti. Tes HSG memang bukan sebuah tes berat tetapi mengambil bedrest setelah tes HSG adalah sebuah solusi yang baik untuk membuat tubuh Bunda kembali pulih.

adorable-book-boy-1250722 adorable-book-boy-1250722
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Mom Life

Jenis-Jenis Kontraksi Jelang Proses Bersalin yang Bunda Perlu Kenali

Tanda pasti hamil

Dalam proses kehamilan, salah satu tahapan yang tak mudah adalah Bunda harus mengalami proses kontraksi. Situasi ini datang biasanya ditandai dengan sakit perut yang melilit di area pinggang dan terjadi berulang setiap 5-8 menit.

Kendati terdengar menyakitkan, kontraksi memang membawa manfaat yakni menghasilkan hormon oksitosin yang memicu bayi keluar dari rahim. Sebab setiap perut berkontraksi, otot-otot rahim otomatis akan meregang dan melebar sehingga memberi jalan keluar untuk si kecil.

Namun tak jarang, ibu hamil bingung apakah gejala yang mereka alami sekadar kram perut biasa atau kontraksi yang sesungguhnya. Untuk itu, Bunda pun perlu mengenali apa itu kontraksi.

Kontraksi Braxton Hicks

Kontraksi yang satu ini memiliki sebuah gejala yang mirip dengan kontraksi persalinan, Bun. Bahkan tak jarang disebut kontraksi palsu karena bertujuan untuk menyiapkan mulut rahim untuk membesar dan meningkatkan aliran darah dalam plasenta, Bun.

Bun, biasanya kontraksi ini akan terjadi pada trimester kedua atau ketiga. Ada ciri-cirinya lho Bun, antara lain kontraksi yang tak teratur, bahkan sensasinya lebih ke arah tak nyaman, bukan yang menyakitkan. Umumnya kontraksi ini terjadi di sekitar pangkal paha atau di depan tubuh ibu hamil dan bisa diatasi dengan berjalan atau berbaring.

Kontraksi Persalinan Prodromal

Persalinan yang satu ini mengacu pada kontraksi kelahiran yang dialami beberapa minggu sampai beberapa jam sebelum melahirkan. Munculnya pun relatif teratur bahkan durasinya lebih lama dari kontraksi braxton-hicks. Tapi sekali lagi, kontraksi ini bukan pertanda kelahiran.

Menurut dokter, persalinan prodromal bisa membantu bayi berpidah dari posisi yang salah ke posisi yang benar, Bun. Ciri-cirinya antara lain seperti tidak ada perubahan serviks setelah 24-36 jam, berbaring tidak membantu kontraksi tersebut hilang, dan cenderung lebih kuat dan tidak sering terjadi.

Kontraksi Persalinan Prematur

Mengutip Kumparan.com, nama lain persalinan ini yaitu early labor, dimana ibu hamil berada di tahap mengalami kontraksi saat usia kandungan di bawah 37 minggu. Nah biasanya, kondisi serviks Bunda akan melebar sampai 6 sentimeter. Kontraksi ini biasanya terjadi karena kondisi kehamilan yang tidak normal, misalnya ibu mengalami suatu penyakit atau kelainan bentuk rahim, bahkan stress bisa jadi pemicunya nih Bun.

Bila Bunda mengalami ciri-ciri seperti merasakan sakit pada punggung, kesulitan bernapas saat kontraksi muncul, ada tekanan pada panggul, rasa sakit yang menjalar dari belakang hingga ke bagian depan, dan mengalami kram yang kuat, berarti Bunda wajib mengunjungi rumah sakit dan menghubungi bidan atau dokter.

Kontraksi Persalinan Aktif

Nah, bila kandungan memasuki usia 42 minggu, ibu hamil umumnya mulai mengalami kontraksi yang satu ini. Bunda perlu tahu, pada tahapan ini, serviks akan melebar bahkan mencapai 6 sentimeter yang artinya Bunda sudah siap melahirkan.

Gejala yang dialami adalah kontraksi terjadi setiap 5 menit sekali atau lebih sering, kontraksi berlangsung 60 detik atau lebih, rahim mulai tidak rileks, ada rasa sakit dan tekanan yang signifikan di punggung saat kepala bayi bergerak menuju jalan lahir. Selain itu, pada saat ini mungkin Anda akan merasa seolah-olah akan buang air besar dan merasa akan mendorong sesuatu keluar.

Tips untuk Bunda, cobalah catat beberapa kali kontraksi kelahiran terjadi dalam kurun waktu satu jam. Termasuk durasi dan intensitasnya. Kemudian cobalah untuk berbaring selama beberapa menit, apakah kontraksi membaik atau justru semakin sering. Selain soal durasi dan intensitas kontraksi, penting diingat bila air ketuban pecah disertai cairan berwarna hijau atau coklat, maka sudah saatnya Bunda ke rumah sakit.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

adorable-book-boy-1250722 adorable-book-boy-1250722

Kesehatan Ibu & Anak

Benarkah Bentuk Perut Ibu Hamil Tentukan Jenis Kelamin Bayi?

anticipation-belly-body-1376959 (1)

Sebagai seorang ibu, Bunda mungkin pernah mendengar beberapa mitos tentang bayi dalam kandungan. Mitos yang paling sering terdengar juga tentang jenis kelamin bayi yang bisa ditebak dari bentuk perut ibunya. Bunda sendiri apakah percaya dengan hal itu? Kendati sumber pastinya tak dapat dipastikan, kenyataannya banyak ibu yang percaya dengan mitos tersebut.

Misalnya, konon katanya bila perut bagian atas lebih besar maka bayi yang dikandung adalah perempuan. Sebaliknya, jika yang besar bagian bawah maka bayinya adalah laki-laki. Selain teori itu, ada juga yang mengatakan kalau perut ibu hamil melebar maka anaknya perempuan. Sementara, apabila perut ibu hamil lonjong ke depan maka ibu mengandung bayi laki-laki. Lantas, benar tidak ya anggapan tersebut?

Dikutip dari Kumparan.com, dalam bukunya yang berjudul Mitos Seputar Masalah Seksualitas & Kesehatan Reproduksi, dokter umum dr. Handrawan Nadesul dan dr. Kartono Mohamad menjelaskan bahwa kedua teori itu tidak benar. Sebab, bentuk dan tinggi perut ditentukan oleh otot perut, rahim dan bayi yang ada di dalamnya.

Sementara untuk perut yang besar di bagian bawah–dekat pelvis atau selangkangan, justru menandakan ibu hamil semakin dekat dengan waktu melahirkan. Bentuk perut yang lebar atau menonjol ke depan juga dipengaruhi oleh kandungan kemih dan posisi bayi di dalam perut.

Sementara mengenai tinggi atau rendahnya bentuk perut saat hamil lantaran dikarenakan bentuk tubuh serta riwayat kehamilan, Bunda perlu tahu lebih lanjut. Justru misalnya Bunda tengah mengandung anak kedua, otot perut sudah lebih kendur sehingga bentuk perut tampak lebih rendah. Dilansir BBC, sebuah penelitian menunjukkan rata-rata bayi laki-laki memang lebih berat daripada bayi perempuan saat lahir. Sehingga logikanya, perut ibu hamil cenderung lebih besar saat mengandung bayi laki-laki.

Jadi jika suatu waktu keluarga ataupun tetangga melihat bentuk perut Bunda dan mengomentari jenis bayi di dalam kandungan, jangan percaya sepenuhnya ya. Berikan saja senyuman padanya dan berterima kasih atas perhatian mereka.Kalaupun tebakan mereka benar, ya memang mungkin terjadi. Apalagi memang lantaran semua kehamilan punya peluang 50 persen bayi perempuan dan 50 persen bayi laki-laki.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

adorable-book-boy-1250722 adorable-book-boy-1250722

Mom Life

Waktu Tepat Melakukan Latihan Kontak Menyusui yang Bunda Perlu Tahu

adult-art-baby-235243 (6)

Setiap ibu yang baru saja melahirkan tentu mendambakan proses menyusui bisa berjalan dengan lancar supaya si kecil mendapatkan nutrisi yang cukup dan terbaik untuk tumbuh kembangnya. Menariknya, memikirkan urusan mengASIhi ternyata tidak dimulai ketika si kecil sudah lahir, melainkan dari jauh-jauh hari saat Bunda tengah mengandung atau yang disebut dengan proses kontak menyusui atau perlekatan.

Konselor laktasi yakni dr Ameetha Drupadi mengatakan, Bunda juga disarankan untuk sering-sering melakukan konseling. Lebih jauh lagi, Ameetha mengatakan, perlekatan adalah hal terpenting dalam menyusui agar bayi nyaman dan Bunda tidak merasakan sakit pada puting.

Nah, berikut ini ada tujuh opsi waktu yang disarankan agar Bunda dapat belajar perlekatan dengan benar dan proses menyusui dengan tepat Bun.

Saat Usia Kehamilan Menginjak 28 Minggu

Kontak pertama kali dilakukan saat trimester yang akan membahas hal dasar tentang menyusui seperti anatomi payudara, proses produksi ASI, dan cara menyusui. Sebagai calon ibu, mungkin ada kalanya Bunda masih bingung memilih ASI atau susu formula. Nah, inilah waktunya bertanya pada konselor laktasi, Bun.

Kelak Bunda juga akan dijelaskan seputar Inisiasi Menyusui Dini (IMD) dan mulai dikenalkan teori posisi dan perlekatan menyusui bayi. Cara merawat payudara saat hamil juga bisa Bunda ketahui dalam tahap ini, lho.

Di Usia Kehamilan Menginjak 36 Minggu

Bun, mendekati masa persalinan, Bunda pun harus tetap melakoni konseling. Biasanya, bahasan yang ditekankan pada tahap ini adalah soal IMD. Tak hanya berkonsultasi pada konselor laktasi, Bunda pun diarahkan untuk bertanya pada obgyn tentang apa yang perlu disiapkan guna kelancaran IMD. Pertemuan kedua ini diajarkan proses produksi ASI di tiga hari pertama pasca persalinan dan ada praktek menyusui menggunakan boneka.

Lakukan IMD ya Bun

Setelah bayi baru lahir sehat dan tidak membutuhkan penanganan khusus, Bunda bisa langsung melakukan Inisiasi Menyusui Dini (IMD). Caranya, bayi diletakan di atas dada atau perut Bunda dalam posisi tengkurap minimal selama 1 jam untuk menemukan puting Bunda. Skin to skin contact ini sangat baik lho Bun untuk menciptakan bonding antara ibu dan bayi dan yang terpenting akan menstimulasi keluarnya kolostrum.

Pastikan Bunda Melakukan Masa Perawatan 1-2 Hari Pasca Melahirkan

Saat dalam perawatan rumah sakit atau tempat bersalin, keberadaan konselor laktasi sangat diperlukan guna membimbing Bunda caranya memposisikan si kecil agar terjadi perlekatan yang benar saat ia sedang menyusu. Bunda juga akan diberi tahu mengenai perkembangan BB bayi ASI eksklusif, banyaknya produksi ASI yang bergantung dari frekuensi bayi menyusu, bonding dan kapasitas lambung bayi serta pentingnya mengASIhi.

Kemudian setelah Bunda dan si kecil keluar dari rumah sakit, pada hari yang ke-7 perkembangan bayi akan dicek lagi Bun. Bunda juga akan kembali konselor laktasi untuk mengkroscek cara menyusui selama sepekan. Bunda masih terus diajarkan cara menyusui yang benar agar bayi mendapatkan ASI dengan tepat.

Khusus untuk Working Mom, Dua Minggu Sebelum Kembali Bekerja, Penting Sekali Mengetahui Tahap Perlekatan Khusus

Di tahap ini, Bunda akan diajarkan cara pumping atau memerah ASI yang benar. Manajemen dan penyimpanan serta pemberian ASI perah juga dibahas tuntas di kontak ke 7 ini. Mama juga disarankan “menabung” ASI perah tidak kurang dan tidak lebih dari 1 bulan sebelum masuk kerja. Kuncinya, persiapkan diri dan jangan lupa mengikuti konseling ASI ya Bun, agar proses mengASIhi Bunda berjalan lancar dan si Kecil mendapatkan ASI yang cukup untuk kesehatan dan tumbuh kembangnya.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

adorable-book-boy-1250722 adorable-book-boy-1250722

Most Share

To Top