Parenting

Perkembangan Mental Anak Usia 4 – 5 Tahun yang Harus Dipahami Setiap Orangtua

Usia bawah lima tahun merupakan masa golden age di mana sebagai orang tua sangat penting untuk memperhatikan perkembangan anak di usia ini. Terlebih lagi terkait perkembangan mental anak usia 4 – 5 tahun yang biasanya mulai muncul pada fase ini terkadang membuat bingung banyak orang tua.

Fase Perkembangan Mental Anak Usia 4 – 5 Tahun

Fase perkembangan anak usia 4 – 5 tahun merupakan fase yang sangat penting karena saat usia tersebut anak-anak mulai mudah meniru apa yang mereka lihat di lingkungan sekitarnya. Perkembangan emosional anak pada usia ini juga lebih sulit ditangani daripada usia di bawahnya.

Anak-anak sudah mulai memasuki fase initiative vs guilt. Pada fase ini mereka mulai menunjukkan rasa ingin mandiri dan lepas dari ikatan orang tua mereka. Anak-anak memiliki keinginan untuk bergerak dengan bebas dan berinteraksi dengan teman-teman maupun lingkungan sekitarnya.

Keinginan tersebut muncul karena adanya rasa inisiatif yang tumbuh dalam diri mereka. Namun, di satu sisi anak-anak juga akan lebih mudah merasa sedih atau marah jika apa yang terjadi tidak sesuai dengan keinginan. Hal tersebut dikarenakan sudah muncul rasa bersalah atau guilt dalam diri mereka.

Tahap Perkembangan Emosi Anak Usia 4 – 5 Tahun

Memahami bagaimana perkembangan anak khususnya saat masih usia balita tentu sangat penting bagi orang tua agar mereka bisa memberikan treatment yang tepat saat mendidik. Usia balita merupakan usia di mana anak-anak sedang senang-senangnya bermain sebagaj kegiatan primer mereka.

Di usia ini anak-anak juga akan mulai melakukan inisiatif dan belajar tentang arti diabaikan dan ditanggapi dengan baik. Mereka akan mulai paham dan merasakan apa itu arti diterima dan ditolak. Jika tanggapannya baik maka anak pun akan belajar banyak hal seperti bagaimana bekerja sama dengan teman.

Selain itu, mereka juga akan belajar tentang bagaimana menjadi seorang pemimpin dalam permainan sehingga jiwa leadership pun akan tumbuh. Namun, jika tanggapan yang diberikan berupa penolakan maka anak-anak akan merasa takut dan bersalah. Sehingga akan muncul ketergantungan pada kelompok.

Cara Menstimulasi Anak Agar Berekspresi

Mengungkapkan ekspresi sangatlah penting untuk dilakukan baik itu ekspresi bahagia, sedih, ataupun marah. Jangan sampai apa yang dirasakan oleh sang anak tidak bisa diekspresikan dan terpendam karena bisa menimbulkan tekanan dalam diri mereka. Stimulus bisa dilakukan dengan berbagai cara.

Mulai dari mengenalkan anak-anak pada huruf dan angka sambil bermain, membiarkan mereka bermain dengan temannya selama masih tetap bisa diawasi, buang air sendiri, dan lain sebagainya. Selera humor anak pada usia ini juga akan mulai terlihat dan bahkan mereka cenderung ingin menarik perhatian.

Pada usia ini mereka bahkan bisa tertawa atau membuat tingkah laku yang lucu agar orang-orang di sekitarnya tertarik. Di sinilah anak-anak mulai belajar bagaimana mengeluarkan ekspresinya seperti orang dewasa. Sehingga mereka mulai memahami apa itu emosi dan mental yang dirasakan dari dalam hati.

Cara Untuk Membantu Perkembangan Emosional Agar Berjalan Baik

Anak-anak sudah bisa diajarkan bagaimana cara memecahkan masalah sejak usia 2 sampai 3 tahun. Usia 4 – 5 tahun pun sangat penting untuk melatih mereka bagaimana menyelesaikan suatu masalah. Seperti ketika mereka berebut mainan dengan teman, berkelahi, dan masalah lainnya.

Ajarkan kepada mereka untuk menyelesaikan masalah dengan baik tanpa harus saling berkelahi. Berikan ruang kepada mereka untuk mengungkapkan emosinya melalui ekspresi. Perlu disadari bahwa bagaimanapun juga anak adalah peniru ulung orang tua dan lingkungan sekitarnya.

Mereka akan dengan mudah mengikuti setiap perilaku, kebiasaan, perkataan, dan sikap orang lain. Oleh karena itu, Anda bisa mulai mengajak anak-anak untuk berbagi cerita tentang aktivitas apa saja yang mereka lakukan seharian. Berikan waktu agar mereka bisa mengobrol dengan santai dan lebih rileks.

Mengetahui Perkembangan Anak Usia 4 – 5 Tahun

Mengikuti setiap perkembangan anak dari usia ke usia adalah hal yang paling berharga bagi orang tua. Tak terasa waktu begitu cepat hingga anak-anak sudah bisa melakukan banyak hal sesuai dengan usianya. Apa saja kemampuan dan perkembangan yang biasanya sudah dimiliki oleh anak-anak di usia tersebut?

Kemampuan Motorik Kasar

Saat memasuki usia 4 tahun anak-anak biasanya sudah bisa melakukan kemampuan motorik kasar seperti daftar berikut ini:

  1. Kemampuan bagaimana menyeimbangkan tubuh dengan mengangkat satu kaki selama 1 sampai 5 detik
  2. Berjalan sambil melompat kesana-kemari atau melompat di tempat
  3. Berjalan menaiki anak tangga sendiri tanpa bantuan orang dewasa
  4. Menaiki sepeda dengan menggunakan roda tiga
  5. Berlari-larian
  6. Memahami wilayah nyaman mereka
  7. Kemampuan berimajinasi yang tinggi seperti saat mengejar bola mereka akan berimajinasi seolah seperti pemain bola sungguhan yang sedang bertanding di lapangan

Kemampuan Motorik Halus

Saat anak berusia 4 sampai 5 tahun motorik halus mereka juga sudah mengalami perkembangan. Mereka memiliki kemampuan dengan baik dan mata dengan tangan bisa berkoordinasi semakin tajam. Kemampuan yang bisa dilakukan seperti mengambil benda yang kecil dan mewarnai tanpa keluar garis.

Selain itu, mereka juga bisa menyelesaikan puzzle sederhana. Kemampuan menggambar dan meniru apa yang dibuat oleh orang lain juga sudah bisa mereka melakukan seperti bentuk dasar kotak, lingkaran, segitiga, dan lainnya. Di sini kreatifitas dan imajinasi anak akan semakin terlatih.

Kemampuan Sosial dan Emosional

Anak akan semakin mandiri dan matang saat memasuki usia 4 sampai 5 tahun. Bahkan mereka akan berusaha untuk melakukan beberapa hal sendiri tanpa bantuan orang dewasa. Anda tidak perlu khawatir dalam hal ini karena fase perkembangan ini merupakan hal yang normal dan wajar.

Mereka mulai belajar untuk mengendalikan emosi dalam diri dan belajar menjadi mandiri. Dalam hal ini Anda bisa mengajarkan beberapa hal seperti bagaimana mencuci tangan sendiri, menyikat gigi, menyiapkan sarapan, memakai baju, dan lainnya. Anak-anak sudah mulai paham bagaimana mengerti perasaan orang lain.

Kemampuan Komunikasi dan Bahasa

Di usia 4 – 5 tahun anak-anak semakin lancar berbicara meskipun terkadang tidak jelas namun sudah tidak menggunakan bahasa bayi lagi. Mereka sudah bisa menggunakan kata-kata yang bisa terdengar dengan jelas, bercerita, menyebutkan nama, alamat, dan lain sebagainya.

Bahkan di usia ini anak-anak juga sudah bisa mengungkapkan pendapat mereka terhadap sesuatu. Anda pun bisa mengajak mereka untuk ngobrol atau berdiskusi ringan. Fase usia ini mereka juga akan mulai senang bernyanyi lagu kesukaan. Maka ajarkanlah hal-hal dan kata-kata yang baik.

Mandiri dan Ingin Mencoba Melakukan Banyak Hal

Saat memasuki fase usia 4 – 5 tahun mungkin Anda akan mulai mendengar anak-anak sering berkata “aku bisa sendiri”. Itu artinya mereka sudah mulai muncul inisiatif untuk belajar mandiri tanpa bantuan orang. Seperti hal sepele menggosok gigi sendiri, mengemas tas sendiri, memilih baju sendiri, dan lainnya.

Meskipun terkadang mungkin baju yang mereka pilih gak matching motifnya dan terkadang bisa menguji kesabaran. Namun, Anda tidak harus langsung membantunya dan jangan terburu-buru untuk melakukan koreksi. Karena jika demikian maka anak akan merasa tidak dihargai dan menjadi marah.

Jika mereka mulai marah dan kesal maka hal tersebut bisa menjadikannya malas untuk melakukan hal-hal dasar yang justru ketika dewasa nanti mereka malah tidak bisa mandiri dan bergantung pada orang. Di sini peran orang tua adalah sebagai pendamping anak-anak untuk melakukan apa yang mereka inginkan.ndamping

Cara Mendidik Anak Usia 4 – 5 tahun

Cara mendidik anak harus disesuaikan dengan rentang usianya. Karena setiap fase usia biasanya memiliki perkembangan yang berbeda-beda. Sebagai orangtua tentu menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter kuat dan baik.

Mengembangkan Kecerdasan Spiritual

Kecerdasan spiritual sangat dibutuhkan dan diajarkan sejak dini pada anak-anak. Ketika anak sudah memasuki usia 4 – 5 tahun maka perlu mulai diajarkan tentang sang pencipta dan ajaran agama. Sehingga sedari dini mereka memiliki hubungan spiritual yang baik dan akan dibawa hingga dewasa.

Anda bisa mulai mengajarkannya dengan cara membuka wawasan dan pikiran mereka tentang sosok sang pencipta. Masukkan anak-anak lembaga pengajaran seperti kalau dalam agama Islam dikenal dengan TPQ. Di sini anak-anak akan mulai belajar untuk mendalami agamanya dari dasar.

Menumbuhkan Rasa Cinta Kasih Sayang

Emosi anak pada usia 4 sampai 5 tahun sudah mulai terbentuk sehingga penting sekali untuk mulai mengajarkannya bagaimana menyayangi dan mencintai orang lain khususnya keluarga. Lakukan hal-hal sederhana seperti memberikan pelukan hangat dan mengungkapkan rasa sayang secara terbuka.

Mulailah ajarkan kepada anak-anak untuk peduli kepada orang lain, menumbuhkan rasa empati, berbagi, dan lain sebagainya. Dengan demikian kepekaan anak akan mulai terasa sejak dini dan mereka pun akan terbentuk menjadi pribadi yang peduli dengan sesama.

Mengajarkan Anak Untuk Jujur

Jujur adalah karakter utama yang harus dimiliki oleh anak dan perlu ditanamkan sejak dini. Karena sikap jujur ini yang akan membawa bagaimana anak-anak nanti tumbuh ketika remaja maupun dewasa. Anda bisa mulai mengajarkannya untuk dengan mengingatkan agar mereka selalu jujur / mengakui kesalahan.

Di fase usia 4 – 5 tahun terkadang anak-anak masih memiliki sifat malu untuk mengakui kesalahan sehingga Anda harus mengajarinya bahwa jujur itu penting. Dengan pondasi sifat jujur yang dimiliki maka akan ada banyak dampak positif bagi anak-anak. Mereka akan menjadi pribadi yang berlapang dada.

Mengasah Kemampuan Kognitif Anak

Kemampuan kognitif anak bisa dilatih dengan cara-cara sederhana terlebih dahulu seperti belajar membaca sambil bermain. Jangan terlalu memaksakan kehendak anak-anak karena di fase ini mereka sedang senang-senangnya bermain sehingga harus diajari secara perlahan.

Anda bisa mengajarinya secara pelan-pelan dan mencari waktu yang tepat. Beri pemahaman kepada anak-anak bahwa sudah waktunya mereka belajar karena sebentar lagi akan masuk sekolah. Sehingga mereka pun menjadi semangat untuk belajar agar cepat bisa memahami huruf dan angka.

Perkembangan mental anak usia 4 – 5 tahun memang perlu diketahui bagaimana pertumbuhannya apakah sudah sesuai dengan usianya atau belum. Ketika sudah muncul rasa inisiatif dan ingin mandiri dalam diri anak maka tugas orang tua adalah mendampingi dan membimbing perkembangan mereka. 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Beberapa Hal yang Ditakutkan Orang Tua Saat Anak Remaja

Menginjak usia remaja, anak-anak mulai mencari jati dirinya. Tak jarang mereka lebih sering bergaul dengan teman-temannya daripada menghabiskan waktu di rumah bersama orang tua. Ada banyak hal yang ditakutkan orang tua saat anak remaja, terutama terkait masa depannya karena masa ini krusial.

Bunda Perlu Memahami Apa itu Masa Remaja?

Masa remaja merupakan masa yang cukup krusial karena di fase ini anak-anak mengalami perubahan dari anak-anak menuju dewasa sehingga posisinya berada di tengah-tengah. Sudah tidak bisa disebut anak-anak, namun belum layak juga disebut dewasa. Pada fase ini anak-anak sering labil.

Mereka cenderung kesulitan untuk mengambil keputusan. Tak jarang banyak juga yang akhirnya salah dalam mengambil keputusan karena galau dan labil. Mereka masih belum sepenuhnya memahami mana yang benar dan mana yang salah karena masih dalam masa pencarian jati diri.

Pada fase ini Anda jangan kaget jika anak tiba-tiba tidak mudah bercerita dan cenderung lebih senang curhat kepada teman-temannya. Namun, ketakutan orang tua terhadap anak remaja semua akan bisa dengan mudah teratasi jika mereka sudah diberi bekal yang cukup agar tidak salah langkah.

Beberapa Hal yang Ditakutkan Orang Tua Saat Anak Remaja

Mendidik anak remaja memang cenderung tidak mudah karena mereka mulai memiliki pendirian masing-masing. Tak jarang banyak yang akhirnya berani membangkang ketika merasa tidak sependapat dengan orang tua mereka. Berikut ini beberapa hal yang ditakutkan orang tua untuk anak remaja:

Ketakutan, Jika Anak Akan Salah Pergaulan

Saat anak menginjak usia remaja, lingkungan pergaulan mereka akan banyak mempengaruhi bagaimana karakter dan perilaku yang terbentuk. Jika lingkungannya baik, maka karakternya juga akan baik. Begitupun sebaliknya, jika lingkungan buruk, maka karakternya pun akan terpengaruh.

Salah satu ketakutan terbesar orang tua ketika anak memasuki fase remaja adalah takut jika anaknya salah pergaulan. Takut jika anak-anaknya bergaul dengan orang yang salah, nakal, dan bandel. Terlebih lagi jika lingkungan sekitarnya mayoritas terdiri dari orang-orang yang nakal.

Ketakutan, Jika Anak Perempuan Hamil di Luar Nikah Atau Anak Laki-laki Menghamili Anak Perempuan di Luar Nikah

Fase remaja adalah masa di mana anak-anak menginjak baligh dan mereka sudah mengalami perubahan dari segi reproduksi. Bagi anak perempuan mereka akan mengalami menstruasi. Sedangkan anak laki-laki akan mengalami mimpi basah. Perubahan ini juga mempengaruhi emosi.

Pengaruh hormon yang ada di dalam tubuh akhirnya mulai membentuk emosi pada anak remaja yang sering tidak labil. Selain itu, pada fase ini mereka akan mengalami jatuh cinta dengan lawan jenis. Tak heran banyak orang tua yang takut jika anaknya salah langkah hingga hamil di luar nikah.

Ketakutan Akan Bagaimana Masa Depan Anak

Setiap orang tua tentu memiliki harapan agar masa depan anaknya cerah dan terjamin. Sehingga mereka melakukan berbagai cara seperti memberikan fasilitas pendidikan yang terbaik yang mendukung kegiatan belajar mengajarnya. Namun, di fase ini anak sudah mulai menentukan masa depan.

Sebagian dari mereka sudah ada yang menemukan ingin jadi apa di masa depan nanti. Terkadang apa yang mereka inginkan tidak seperti ekspektasi orang tuanya. Sehingga hal tersebut membuat orang tua was-was dan takut anaknya salah mengambil langkah, jurusan, atau cita-cita yang kurang menjamin.

Tips Mendidik Anak Remaja

Cara mendidik anak remaja tentu tidak bisa disamakan dengan anak balita atau yang masih di bawah umur belasan. Pada fase ini mereka sudah mulai memiliki pola pikir dan prinsip sendiri. Sehingga sebagai orang tua harus mampu memahami anaknya yang menginjak remaja dengan baik.

Menghormati Privasi Anak

Sebesar apapun seorang anak tetaplah anak kecil di mata orang tuanya. Sehingga acapkali banyak orang tua yang masih menganggap semua urusan anaknya adalah urusannya juga. Sudah seharusnya sebagai orang tua menyadari bahwa tidak seharusnya mereka mencapuri semua privasi anaknya.

Anda harus mulai paham bahwa anak yang menginjak remaja sudah mulai memiliki privasi sendiri yang harus dihormati dan dijaga sebagaimana orang dewasa. Berikan mereka ruang untuk meletakkan privasinya di kamar maupun telpon genggam tanpa merasa takut akan adanya ancaman orang tua.

Menjadi Teman dan Pendengar yang Baik

Salah satu hal yang paling dibutuhkan saat anak menginjak usia remaja adalah teman atau sahabat. Karena saat memasuki usia ini mulai muncul berbagai gejolak di dalam dirinya lantaran sudah pubertas. Masalah yang sering dihadapi seperti percintaan atau hubungan pertemanan di lingkungna pergaulannya.

Tak jarang anak remaja juga akan membutuhkan orang tuanya sebagai tempat curhat untuk mengutarakan kecemasan, kegelisahan, atau pertanyaan yang muncul di pikirannya. Sehingga sebagai orang tua sebaiknya posisikan diri sebagai pendengar dan tempat curhat yang nyaman.

Menjadi Teladan yang Baik

Jika Anda sebagai orang tua menginginkan hal terbaik untuk anak-anaknya baik dari segi perilaku, ibadah, kesuksesan, dan lainnya, maka berikan teladan atau contoh pada mereka. Berikan contoh konkret seperti bagaimana belajar dengan giat, peduli dan suka menolong orang, serta masih banyak lagi.

Karena saat usia remaja anak akan cenderung menjadi pemberontok dan mulai memiliki pendirian sendiri. Terkadang dikasih tahu pun akan sulit mereka terima. Sehingga cara terbaik adalah dengan memberikannya secra contoh. Tak hanya mengajarkan secera teori namun juga praktek langsung.

Membuat Kesepakatan Aturan Tertentu

Jangan terlalu mengekang ketika anak sudah memasuki usia remaja, karena yang ada mereka akan semakin memberontak dan menjadi tidak nyaman. Lebih baik ajarkan dan nasehati dengan baik melalui kesepakatan aturan-aturan penting bersama. Ini sangat penting untuk disepakati bersama dengan anak.

Terkadang anak-anak remaja lebih senang menghabiskan waktu di luar bersama teman-temannya dibandingkan di rumah bersama orang tua. Demi menjaga keamanan anak, maka berikan pengertian dengan menerapkan aturan seperti jam pulang malam, larangan merokok, dan lainnya.

Beri Tahu Cara Mengelola Stress

Ketika anak sudah memasuki usia remaja, banyak perubahan yang akan mereka alami baik dari segi fisik maupun psikis. Tak jarang hal tersebut membuat mereka mengalami depresi dan stress terlebih lagi jika ada masalah yang terjadi seperti dalam hubungan asmara maupun percintaan.

Oleh karena itu, penting sekali bagi Anda sebagai orang tua untuk membekalinya dengan berbagai cara dan tips mengelola stres dengan baik. Jangan mudah memarahi anak ketika mereka sedang sedih atau melakukan kesalahan. Bicarakan baik-baik heart to heart agar mereka nyaman untuk bercerita.

Beri Motivasi dan Semangat Untuk Meraih Cita-cita

Masa muda adalah masa yang paling berapi-api di mana anak-anak memiliki cita-cita yang tinggi dan keinginan kuat untuk menggapainya. Dorong dan motivasi mereka agar terus berkembang dan mau mengeksplorasi semua kemampuan yang dimilikinya sebagai salah satu cara mendidik anak remaja.

Anda bisa memberikan aktivitas tertentu yang menarik untuk mereka dan sesuai dengan minatnya. Fasilitasi dengan baik agar anak senang dan mau mengembankan bakatnya. Dukung apapun cita-citanya tanpa menghakimi atau memandang rendah apa yang menjadi pilihan sang anak.

Beri Informasi Tentang Bagaimana Cara Bergaul

Usia remaja adalah masa di mana anak-anak sedang senang-senangnya bermain dan mencari teman yang sefrekuensi dengan mereka. Tak jarang ada yang sudah mulai membuat geng seperti yang mereka inginkan. Maka berikan informasi tentang bagaimana cara bergaul agar mereka tidak salah memilih.

Karena sekali salah dalam memilih pergaulan, maka akan berdampak besar pada masa depannya. Belum lagi di usia remaja mereka sedang labil-labilnya dan seringkali mudah terpengaruh oleh lingkungannya karena masih dalam pencarian jati diri. Bimbing dan dampingi dalam memilih teman.

Bekal Kemampuan Dasar untuk Anak Remaja

Sebagaimana anak di usianya saat masih balita, anak remaja juga membutuhkan bekal agar bisa survive dan beradaptasi di lingkungannya yang baru. Oleh karena itu, penting sekali bagi orang tua untuk memberikan kemampuan dasar sebagai bekal mereka dengan menanamkan nilai-nilai tertentu.

Bertanggung Jawab Atas Dirinya Sendiri

Mulai ajarkan anak untuk bertanggung jawab atas dirinya sendiri maupun barang-barang yang mereka miliki. Contohnya seperti bertanggung jawab agar tidak mudah disentuh lawan jenis, keberishan kamar, sepatu, tas, dan barang lainnya. Ajarkan untuk membersihkan sendiri tanpa mengandalkan orang.

Cara mendidik dengan memberikan tanggung jawab ini juga akan mengajarkan anak kemandirian. Sehingga ketika mereka harus hidup sendiri di kost, kontrakan, atau berumah tangga, mereka sudah bisa mengatasi dan menyelesaikan semua tanggung jawabnya sendiri tanpa mengandalkan orang tua.

Menyiapkan Makanan Sendiri

Penting sekali bagi orang tua untuk mulai mengajarkan anak-anaknya memasak dan menyiapkan makanan sendiri khususnya bagi anak perempuan yang kelak akan mengurus rumah tangga. Ajari anak tentang dasar-dasar memasak seperti menumis sayur, memasak nasi, menggoreng telur, dan lainnya.

Dengan memberikan kesempatan seperti ini, maka mereka akan belajar mandiri dan tidak akan mengalami kesulitan saat nanti hidup jauh dari orang tuanya entah karena pendidikan atau pekerjaan. Selain itu, ketika orang tua sedang sakit maka anak tidak perlu panik karena sudah diajari sebelumnya.

Menggunakan Transportasi Umum atau Membawa Kendaraan Pribadi

Anak remaja harus sudah mulai diajari untuk pergi dengan menggunakan transportasi umum sendiri maupun dengan membawa kendaraan pribadi. Sehingga mereka akan paham ketika butuh untuk pergi ke suatu tempat maka tidak bingung lagi saat naik transportasi umum.

Jelaskan bagaimana menggunakan transportasi umum seperti bis, kereta, pesawat, dan lainnya. Anak remaja juga sudah saatnya untuk diajari mengendarai kendaraan pribadi sendiri seperti motor atau mobil. Namun, jika belum memiliki SIM jangan biarkan mengendarai di jalanan.

Mengatur Keuangan Sendiri

Anak remaja sudah seharusnya diajari bagaimana cara mengatur keuangannya sendiri. Terlebih lagi mereka seringkali masih dalam keadaan emosi yang labil sehingga terkadang belum bisa untuk menentukan prioritas dalam mengelola uang dan cenderung boros membeli sesukanya tanpa pikir panjang.

Salah satu cara mendidik anak dalam mengatur keuangan sendiri adalah dengan mengajaknya berbelanja. Anda bisa menjelaskan bagaimana menentukan budget sesuai kebutuhan yang akan dibeli. Jangan lupa untuk memberikan pemahaman tentang pentingnya menabung sejak dini.

Hal yang ditakutkan orang tua saat anak remaja merupakan sesuatu yang wajar. Namun, tak perlu terlalu paranoid karena asal Anda sudah memberikan bekal dan mendidiknya dengan benar maka ketakutan tersebut tidak akan pernah terjadi. 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Memilih Permainan yang Pas Untuk Bayi Usia 0 – 12 Bulan

Banyak yang mengira bahwa memberikan mainan pada bayi yang baru lahir sebenarnya tidak dibutuhkan. Padahal memberikan mainan membantu tumbuh kembang anak meskipun baru lahir. Karena bermain adalah proses belajar yang bisa dilakukan anak di kehidupan awal mereka. Apa saja permainan yang pas untuk bayi?

Ide Mainan Untuk Bayi

Ada banyak sekali jenis mainan yang bisa Anda berikan kepada bayi mulai dari lahir hingga umur 12 bulan. Tentu saja mainan tersebut harus menyesuaikan dengan fase perkembangan anak. Seiring dengan kemampuannya semakin bertambah, maka macam-macam mainan yang diberikan pun bisa lebih bervariasi dan menantang.

Gambar Hitam Putih

Gambar hitam putih merupakan mainan yang sangat tepat untuk diberikan kepada bayi yang baru lahir dengan usia 0 sampai 1 bulan. Hal ini dikarenakan fungsi mata bayi belum bisa berfungsi dengan sempurna sehingga ia hanya dapat melihat warna hitam putih saja dengan jarak pandang yang dekat yakni 10 sampai 25 cm.

Cara pandang bayi akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Anda bisa memperlihatkan gambar yang berwarna hitam dengan putih kontras. Meskipun hanya warna tersebut, biasanya bayi akan memperhatikan dan menunjukkan ketertarikannya.

Mainan yang Digantung

Bayi berusia 0 sampai 1 bulan biasanya menyukai mainan yang digantung. Anda bisa menggeser perlahan mainan tersebut apakah mata bayi akan mengikuti gerakan dari mainan itu atau tidak. Mainan yang digantung ini sangat menarik dan dapat membantu merangsang perkembangan motorik mata.

Anda bisa membeli mainan yang memang khusus untuk digantung atau bisa juga dengan menggantung benda-benda yang ada di rumah. Contohnya seperti kain, plastik, dan lain sebagainya. Lebih menarik lagi jika permainan itu bisa diputar-putar dan digerakkan secara otomatis dan ada bunyi-bunyian yang mengiringinya.

Boneka Laba-laba

Boneka laba-laba menjadi permainan yang bisa menarik perhatian bayi dan cenderung akan mereka sukai. Mainan gantung seperti boneka laba-laba ini sangat bagus untuk merangsang Indra anak yang berusia 1 sampai 4 bulan. Bagian bawa boneka biasanya berpola hitam putih / disenangi bayi baru lahir.

Jika bayi sudah lebih besar dan sudah bisa melihat beragam warna, maka ia akan lebih tertarik dengan gantungan pada setiap kaki laba-laba. Bentuknya yang menarik dan unik juga bisa membuat bayi senang ketika mendapatkan mainan ini. Apalagi jika boneka tersebut bisa diremas dan ada bunyinya.

Mainan Dengan Cermin

Mainan dengan cermin juga bisa menjadi pilihan yang menarik untuk bayi berusia 3 sampai 4 bulan yang mana fungsi matanya sudah lebih baik. Pada fase usia ini bayi sudah bisa melihat warna dengan jarak pandang lebih jauh dan jenis warna yang lebih bervariasi tidak hanya hitam dan putih.

Mereka sudah bisa mulai menggapai mainan yang digantung meskipun koordinasi tangannya masih kurang sempurna. Bahkan terkadang mereka bisa menangis ketika ingin memegang namun tetap tidak bisa. Pada usia ini mereka senang melihat refleksi diri pada cermin. Anda bisa mengajaknya bermain sambil bercanda di depan cermin.

Mainan Lunak (Soft Toys)

Boneka lunak atau soft toys bisa menjadi pilihan permainan yang menarik pada bayi berusia 4 bulan. Boneka seperti ini biasanya sama mereka gemari karena anak-anak mulai belajar dan gemar menggigit-gigit. Sehingga untuk menstimulasi giginya akan tumbuh dan kekuatan gusi maka gunakan mainan ini.

Namun, Anda harus berhati-hati dalam memilih mainan berupa boneka lunak atau teether ini dan pastikan bahannya aman. Karena mainan tersebut biasanya akan digigit oleh anak sehingga jangan sampai bahan berbahaya masuk ke tubuh mereka. Selain itu, pilih mainan yang bisa digenggam oleh tangan bayi.

Buku Bayi

Buku bayi menjadi pilihan yang bagus untuk mainan anak usia 5 bulan. Memasuki fase usia ini, anak-anak sudah senang menggosok-gosokkan tangannya ke berbagai permukaan benda. Untuk merangsang indra peraba dan perasanya, Anda bisa memberikan buku yang memiliki tekstur. Perkenalkan buku yang terbuat dari kain.

Karena buku-buku yang terbuat dari kertas biasanya memiliki ketajaman pada bagian sudutnya sehingga bisa membahayakan bayi. Buku tersebut juga bisa menjadi sarana untuk memberikan dongeng kepada anak setiap hari sebelum tidur sehingga budaya membaca sudah diajarkan sejak dini. Pilih cerita singkat yang tidak terlalu panjang.

Bola

Mainan bola sangat cocok diberikan untuk anak yang sudah memasuki usia sekitar 7 bulan ketika mereka sudah mulai belajar merangkak serta kemampuan menggenggamnya sudah semakin baik. Ajak anak-anak untuk belajar mengejar bola dengan menggelindingkannya. Dengan demikian mereka akan belajar merangkak lebih jauh.

Berikan bola yang bertekstur untuk melatih kemampuan sensori bayi. Pilih mainan yang bisa berbunyi jika dipencet sehingga dapat melatih logika sebab akibat pada anak. Berikan bola dengan berbagai ukuran dan warna agar mereka juga bisa mengenal ragam bentuk dan ragam warna untuk melatih kecerdasan otak.

Baby Playnat dan Playgym

Baby playmat dan playgym merupakan karpet arena untuk bermain bayi. Playmat ini bisa Anda lengkapi dengna mainan gantung untuk mendorong bayi mengeksplorasi lingkungan sekitarnya melalui suara, sentuhan, dan penglihatan.

Bayi akan belajar melihat berbagai warna yang digantung di atasnya, mendengar suara kerincing dari mainan yang disentuhnya, serta menyentuh dan merasakan tekstur karpet. Bayi juga akan terdorong untuk tengkurap dan melatih kekuatan tangan serta kaki karena alas playmat memiliki warna cerah.

Tips Memilih Mainan Untuk Bayi

Mainan memiliki manfaat yang sangat banyak untuk melatih kecerdasan otak, kemampuan motorik, dan kemampuan fisiknya. Beberapa mainan di atas merupakan jenis mainan yang sangat cocok untuk diberikan pada bayi yang mana kemampuannya masih sangat terbatas. Berikut ini tips memilih mainan:

Berikan Mainan Sesuai Fase Perkembangannya

Mainan bayi dirancang sesuai dengan tumbuh kembang dan kemampuan bayi yang disesuaikan dengan umurnya. Tentu saja Anda tidak akan bisa memberikan mainan untuk anak berusia 1 tahun ke atas kepada bayi yang baru berusia 3 bulan karena yang ada mereka tidak akan tertarik.

Sangat penting untuk mengetahui bagaimana tahap dan fase perkembangan anak untuk setiap usianya agar bisa memilih jenis mainan yang tepat. Pilihlah mainan yang dapat merangsang kemampuan motorik, fisik, dan otak anak sesuai dengan usianya yang tepat.

Bahannya Aman Untuk Bayi

Ketika bayi masih berusia di bawah tiga bulan, mereka sedang senang-senangnya memasukkan mainan ke dalam mulut. Sehingga agar keamanan bayi tetap terjaga dengan baik, Anda harus memastikan bahwa mainan tersebut terbuat dari bahan yang aman dan tidak membahayakan.

Jika mainan tersebut merupakan mainan plastik, maka pastikan bahan plastik yang digunakan aman untuk bayi dan tidak mengandung bahan kimia berbahaya. Cara untuk memastikannya sangat mudah yakni cukup melihat apakah mainan tersebut memiliki tanda daur ulang nomor 3 atau tidak.

Pilih Mainan yang Memiliki Tekstur dengan Beragam Bentuk, Ukuran, dan Warna

Masa-masa bayi adalah saat yang tepat untuk mengajarkan kepada anak kemampuan dasar yang nantinya akan terbawa hingga dewasa kelak. Karena daya ingat anak pada usia golden age ini sangat bagus sehingga Anda harus memperhatikan betul mainan yang tepat untuk mereka.

Pilihlah mainan yang bertekstur serta memiliki beragam warna, ukuran, bentuk, dan suara untuk memberikan stimulasi pada sentuhan, pendengaran, dan penglihatan bayi. Semakin banyak variasi tesebut, maka bayi akan mengenali semakin banyak benda yang dapat merangsang kecerdasan otaknya.

Pilih Mainan yang Dapat Mendorong Interaksi

Stimulasi atau rangsangan yang diberikan kepada bayi akan lebih optimal jika terjadi interaksi positif saat orang tua bermain dengan anaknya. Pilihlah mainan yang dapat mendorong interaksi antara anak dengan orang tua serta menumbuhkan respon pada anak.

Contoh mainan yang dapat mendorong interaksi adalah buku cerita atau buku dongeng. Anda bisa memilih buku cerita singkat yang banyak gambarnya. Ceritakan dongeng atau kisah untuk anak setiap hari sebelum mereka tidur sambil menunjukkan gambar dan tulisan pada buku tersebut.

Mainan yang Empuk dan Lembut

Selain senang memasukkan berbagai benda ke dalam mulutnya, bayi pada usia di bawah tiga bulan juga cenderung senang mengeksplorasi kemampuan melempar. Sehingga sangat penting untuk memilih mainan yang empuk dan lembut agar aman untuk bayi.

Karena mainan yang kasar dan berat tentu akan membuat bayi kesusahan saat memainkannya. Belum lagi jika ada sudut yang tajam tentu akan membahayakan keamanan mereka. Oleh karena itu, perhatikan betul tekstur dan jenis bahan pada mainan yang akan diberikan pada bayi.

Jangan Memilih Mainan yang Mudah Lepas dan Berukuran Kecil

Hindari mainan yang berukuran kecil karena khawatir akan ditelan oleh bayi. Bagian-bagian kecil pada mainan seperti manik-manik, kancing baju boneka, mata boneka, dan lainnya terpasang dengan baik serta tidak mudah lepas. Karena pada usia 3 bulan mereka bisa menarik-narik bagian tersebut.

Jika khawatir bayi bisa menarik bagian kecil mainan hingga terlepas, maka sebaiknya pilih mainan yang tidak memiliki banyak aksesoris kecil seperti manik-manik. Ukurannya pun jangan terlalu kecil agar tidak ditelan bayi karena mereka belum bisa membedakan mana yang boleh ditelan dan mana yang tidak.

Pilih Mainan yang Mudah Dibersihkan

Mainan menjadi salah satu sumber dan sarang bakteri yang sangat berbahaya jika tidak mudah dibersihkan. Mainan bayi harus dibersihkan secara rutin demi menjaga kesehatan si kecil. Pilihlah mainan yang terbuat dari plastik atau karet yang mudah dibersihkan dan tidak mudah kotor.

Jangan memilih mainan yang terlalu banyak celah kecil untuk masuk debu dan kotoran hingga sulit untuk dibersihkan. Setiap mainan yang diberikan pada bayi pastikan dibersihkan dengan tepat dengan cara mencucinya menggunakan air panas untuk membunuh bakteri dan kuman.

Memilih mainan yang tepat sangatlah penting untuk merangsang dan menstimulus tumbuh kembang si kecil. Apalagi ketika masih bayi mereka belum memiliki banyak kemampuan untuk melakukan berbagai hal. Sehingga pilihlah mainan yang tepat dan sesuai tips di atas.

Beragam permainan yang pas untuk bayi di atas bisa menjadi rekomendasi pilihan untuk Anda yang ingin memberikan mainan terbaik untuk anaknya demi merangsang tumbuh kembang mereka. 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Solusi Terbaik Ketika Orang Tua Berekspektasi Terlalu Tinggi Pada Anak

Setiap orang tentu memiliki harapan untuk anak-anaknya. Namun, bagaimana ketika orang tua berekspektasi terlalu tinggi pada anak? Padahal perlu disadari bahwa setiap orang memiliki bakat masing-masing sejak lahir sehingga tidak dianjurkan untuk terlalu menekan anak dengan push parenting.

Apa Itu Push Parenting?

Push parenting merupakan salah satu gaya pengasuhan yang terlalu menuntut dan memaksa anak. Sebagian dari mereka memiliki rasa takut dan khawatir yang berlebihan akan masa depan anaknya, sehingga terpaksa melakukan pola pengasuhan seperti ini dengan memberi bekal sejak kecil.

Orang tua yang menerapkan pola pengasuhan ini karena memiliki harapan dan keinginan agar anak-anaknya tidak bernasib sama seperti saat mereka kecil. Sehingga dengan sekuat tenaga dan melalui berbagai cara mereka berusaha menyekolahkan anaknya di sekolah terbaik dan unggulan.

Pengaruh push parenting juga tidak hanya berasal dari dalam diri orang tua saja. Namun, pengaruh media yang sering menggembor-gemborkan dan menampilkan anak berprestasi juga menjadi faktor penyebab lainnya. Sehingga banyak orang tua yang akhirnya terlalu menuntut anak sesuai keinginan mereka.

Dampak Ketika Orang Tua Berekspektasi Terlalu Tinggi Pada Anak

Baik orang tua maupun anak sebenarnya masing-masing juga memiliki ekspektasi. Hanya saja harapan dan ekspektasi mereka tidak mencapai titik temu terutama bagi orang tua yang memberikan standar terlalu tinggi. Padahal orang tua juga harus paham bahwa hal tersebut bisa berpengaruh pada perilaku anak.

Anak Akan Semakin Stress dan Tertekan, Jika Mereka Merasa Tidak Sanggup

Ekspektasi yang terlalu tinggi dari orang tua untuk anaknya akan membuat anak-anak semakin bertambah stres dan tertekan. Terlebih lagi saat mereka tidak bisa memenuhi standar yang telah ditetapkan orang tua. Mereka akan selalu dibayangi oleh kegagalan yang telah terjadi

Pikirannya akan dipenuhi rasa takut karena gagal membanggakan orang tua. Bukan tidak mungkin anak-anak akan menjadi berpikir bahwa kegagalannya tersebut bisa membuat kasih sayang dari orang tua menjadi berkurang. Hati dan pikirannya akan dipenuhi ketakutan setiap menghadap orang tuanya.

Ekspektasi Orang Tua yang Terlalu Tinggi Membuat Anak Merasa Terbebani

Orang tua yang terlalu berekspektasi tinggi terhadap anaknya sebenarnya sangat membebani pikiran dan hati anak mereka. Meskipun bakat sang anak sudah terlihat begitu cemerlang dalam suatu bidang, bukan berarti mereka tidak merasa terbebani sekalipun sanggup memenuhi keinginan orang tuanya.

Di dalam hati sang anak pasti akan dipenuhi rasa takut dan cemas jika nanti berujung gagal dan mengecewakan orang tuanya. Dengan harapan orang tua yang terlalu tinggi, anak-anak menjadi merasa sanga tidak nyaman dan terbebani. Hingga akhirnya anak-anak pun merasa serba salah dan dilema.

Anak Akan Sibuk Membandingkan Diri dengan Orang Lain dan Merasa Rendah Diri

Jika orang tua terlalu berekspektasi tinggi kepada anak akan suatu pencapaian, maka sang anak pun akan terbiasa membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain. Rasa percaya dirinya perlahan hilang dan merasa rendah diri jika orang lain lebih baik dari dirinya meskipun sudah mendapat dukungan.

Ketika sibuk membandingkan diri dengan orang lain, mungkin saja mereka merasa cemas dan khawatir terlalu berlebihan hingga merasa tidak mampu untuk mendapatkan suatu pencapaian seperti yang diekspektasikan oleh orang tuanya. Padahal sebenarnya anak itu mampu untuk berkembang sesuai bakat.

Minat dan Bakan Anak Akan Semakin Terpendam

Setiap anak yang lahir ke dunia pasti memiliki bakat dan minat masing-masing yang tentu saja antara anak satu dengan anak lainnya berbeda. Bahkan meskipun memiliki bakat yang sama dengan orang tuanya, belum tentu sang anak berminat untuk mengembankan bakat dan potensi tersebut.

Ekspektasi yang terlalu tinggi dari orang tua justru hanya akan membuat bakat dan minat anak akan semakin terpendam. Anak bisa semakin stress dan malah justru semakin tidak berminat terhadap apa yang diekspektasikan orang tuanya tersebut. Mereka melakukannya karena beban bukan karena happy.

Masa Kecil Sang Anak Tidak Dapat Dinikmati Dengan Baik

Masa kecil anak adalah masa yang paling membahagiakan karena mereka hanya tahu bagaimana bermain dan bersenang-senang tanpa harus terbebani akan suatu hal. Namun, masa-masa indah tersebut justru akan berubah drastis ketika orang tua terlalu berekspektasi tinggi terhadap anaknya.

Tidak salah jika orang tua ingin fokus mengembangkan bakat dan kemampuan anaknya demi masa depan mereka. Namun, jangan sampai keinginan tersebut justru membuat anak kehilangan masa kecilnya yang berharga. Sebaiknya keduanya harus berjalan dengan seimbang antara bermain dan belajar.

Tips Menjadi Orang Tua yang Lebih Rileks dan Tidak Otoriter

Orang tua terlalu memaksakan kehendaknya agar anak memenuhi apa yang diekspektasikan termasuk egois karena mereka tidak memikirkan perasaan anak-anaknya. Oleh karena itu, tidak perlu terlalu menaruh harapan tinggi demi mendapat sanjungan atau mengatasnamakan masa depan anak.

Berikan Kasih Sayang yang Tulus

Masa kecil anak harusnya dipenuhi dengan rasa kasih sayang / tulus dari orang tuanya tanpa ada beban yang harus mereka rasakan. Dengan demikian, anak-anak pun bisa menjalani hari-hari mereka dengan penuh kebahagiaan tanpa rasa stress dan tertekan karena ekspektasi berlebih dari orang tua.

Jika orang tua benar-benar sayang kepada anaknya, maka mereka akan membiarkan sang anak melakukan apa yang menjadi minatnya tanpa melupakan bakat. Keinginan anak untuk belajar dan mengembangkan bakat nantinya juga akan tumbuh sendiri jika terus dipupuk dan ditanamkan sejak dini.

Berikan Penghargaan Kepada Anak

Tidak ada salahnya mengajak anak untuk mencoba berbagai jenis aktivitas ketika mereka masih kecil. Namun, jangan terlalu berekspektasi tinggi bahwa mereka harus menang dan menyabet juara. Biarkan mereka menjalaninya tanpa ambisi dan tetap berikan penghargaan kepada anak sebagai bentuk apresiasi.

Meskipun pada kenyataannya anak tersebut sedang kalah atau tidak mencapai apa yang Anda ekspektasikan. Jangan lupa bahwa anak-anak telah berjuang sebaik mungkin sebisa mereka. Sehingga jika kalah pun sudah selayaknya Anda memberikan apresiasi atas kerja kerasnya.

Jangan Mudah Marah dan Gantikan Dengan Cinta

Orang tua juga manusia normal yang bisa marah ketika apa yang terjadi tidak sesuai dengan ekspektasi. Namun, jangan sampai emosi tersebut terluapkan kepada sang anak. Ketika Anda marah, sebaiknya langsung peluk anak dan hindari mengeluarkan kata-kata kemarahan atau tindakan seperti memukul.

Gantikan emosi kemarahan menggebu-gebu tersebut dengan rasa cinta dan kasih sayang yang tulus. Apa yang Anda lakukan sekaligus untuk mengajari anak bagaimana cara merespon emosi negatif seperti marah. Sehingga mereka pun suatu saat akan meniru cara tersebut ketika menghadapi masalah.

Tidak Perlu Terlalu Berekspektasi Tinggi

Biarkan anak-anak bahagia dengan cara dan keinginannya tanpa ada intimidasi dari orang tua. Tugas Anda adalah mendidik dan merawat mereka dengan baik. Sebagian orang tua mungkin sangat berharap anak-anaknya bisa berprestasi dalam bidang akademik, padahal sang anak tidak mampu.

Belum lagi orang tua yang menginginkan anaknya agar menjadi tipe anak seperti mereka inginkan dan selalu positif. Seperti anak yang rajin, periang, pekerja keras, dan lain sebagainya. Padahal belum tentu hal tersebut sesuai dengan sifat, karakter, dan keinginan anak sehingga jangan terlalu memaksakan.

Biarkan Anak Bereksplorasi dan Berkreativitas Dalam Bermain

Sebagian anak ada yang bakatnya sudah jelas terlihat sejak mereka kecil. Namun, ada juga yang harus mengasahnya dan mengeksplor lebih dalam terlebih dahulu. Sebaiknya Anda jangan terlalu over protektif terhadap anak dan biarkan mereka menjadi anak yang bahagia apa adanya tanpa beban.

Izinkan anak untuk melakukan eksplorasi terhadap apa yang mereka senangi tanpa harus mengikuti tuntutan orang tuanya. Seperti membiarkan mereka untuk bermain, berlari, eksplor alam, main sepeda, dan lain sebagainya. Namun, tetap dampingi dan beritahu tentang resiko bahaya yang akan dihadapi.

Jangan Terlalu Banyak Berkata “Tidak” dan Perbanyak Kata “Iya”

Sebagian besar orang tua mungkin akan lebih sering berkata “tidak” dibandingkan kata “iya” jika mengikuti instingnya saat sedang bersama anaknya. Hal tersebut kurang bagus karena justru dalam pemahaman anak kata “tidak” tersebut akan dianggap bahwa Anda terlalu mengontrol mereka.

Sehingga, sangat disarankan untuk tidak terlalu sering berkata “tidak” kepada sang anak”. Namun, hal tersebut bukan berarti Anda harus selalu mengikuti kemauan sang anak karena khawatir justru mereka akan menjadi anak yang manja dan tidak mandiri. Solusinya membolehkan tapi beri anak syarat.

Jangan Mengajari Anak Terlalu Berlebihan

Semua orang tua pasti menginginkan anaknya tumbuh menjadi anak yang cerdas dalam berbagai bidang. Sehingga tak jarang banyak orang tua yang akhirnya menjejali anak-anaknya dengan berbagai ilmu pengetahuan dan skill. Padahal anak bisa belajar sendiri secara alamiah tanpa disuruh.

Memaksa anak untuk belajar sesuatu yang tidak mereka senangi justru akan membuat mereka merasa terbebani dan lambat laun menjad stress. Biarkan mereka bereksplorasi sendiri dan mencari tahu apa yang diingnkan. Buat mereka antusias dan senang terhadap sesuatu dan cukup dampingi ketika belajar.

Kenali Bakat dan Minat Anak

Setiap anak sebenarnya memiliki bakat tanpa terkecuali. Itulah mengapa penting sekali bagi orang tua untuk mengenali bakat dan minat anak-anak mereka sehingga bisa mengarahkan dengan lebih baik tanpa terlalu berekspetasi tinggi. Anda bisa mencoba menggali bakat dengan berbagai cara.

Coba ajak anak-anak untuk melakukan suatu kegiatan dan lihat bagaimana antusias mereka terhadap kegiatan tersebut. Jika mereka senang, maka lanjutkan. Jika tidak menyenangi aktivitas yang telah disodorkan, maka tidak perlu memaksakan kehendak dan coba beri anak aktivitas yang lain.

Jangan Mengeksploitasi Anak

Anak adalah aset berharga bagi orang tuanya. Namun, tak jarang ada orang tua yang mengeksploitasi anak terlalu berlebihan demi mendapatkan apa yang diinginkan baik dalam hal materi atau pujian. Tentu ini sangat tidak bagus bagi perkembangan emosi anak karena mereka tidak bahagia menjalaninya.

Meskipun Anda sudah menemukan apa yang menjadi bakat mereka, tetap saja jangan sampai hal tersebut menodai kebahagiaan mereka dengan mengeksploitasnya berlebihan. Beri ruang dan waktu agar anak melakukan bakatnya sesuai dengan keinginan mereka.

Ketika orang tua berekspektasi terlalu tinggi pada anak tentu akan memberikan dampak pada si kecil. Sehingga diskusikan segala sesuatu dengna anak untuk menemukan titik temu yang terbaik. 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Share

To Top