Kesehatan

Pentingnya Merawat Kulit Bayi Sejak Ia Baru Lahir

Tahukah Bunda, kondisi kulit bayi berbeda dengan kulit orang dewasa dalam hal struktur dan kematangannya. Tingkat sensitivitas kulit bayi pun jauh lebih rentan. Ini karena saat bayi keluar dari dalam kandungan, ia kemudian terpapar kondisi yang berbeda, mulai dari perubahan suhu, ancaman kuman, dan sebagainya. Untuk itu, banyak hal yang harus dipelajari Bunda dan bayinya.

Lebih lanjut lagi, kelenjar keringat kulit bayi pun belum bekerja secara efektif serta cepat kehilangan kelembaban lantaran jumlah melaninnya jauh lebih sedikit sehingga rentan dengan sinar ultraviolet.

“Bila kulit bayi tak terlindungi dengan baik, masalah yang muncul umumnya ruam popok, biang keringat, kerak kepala, eksim, hingga kulit sensitif. Karenanya, dibutuhkan produk-produk perawatan bayi yang dapat memenuhi kebutuhan bayi,” ujar dokter spesialis anak, Dr Caessar Pronocitro, Sp. A, M.Sc.

Mengetahui kebutuhan tersebut, Bambi Baby baru saja meluncurkan serangkaian produk terbaru mereka dalam acara Media Gathering ‘Mom & Baby’s Priority Care: The Golden First Year’, kemarin (23/7) di Jakarta.

Produk yang diluncurkan Bambi meliputi Mild Lotion, Telon Balm, Face Cream, Diaper Rash Cream, Hand Sanitizer, Hair Gel, dan Hair Lotion untuk bayi. Khusus ibu hamil, Bambi menghadirkan Mom’s Stretchmark Cram yang membantu merawat kulit ibu.

Keberadaan Bambi Baby juga mendapat dukungan dari aktris Shandy Aulia yang diketahui tengah mengandung 12 minggu.

“Karena merupakan kehamilan pertama, saya langsung browsing tentang produk perawatan bayi yang terpercaya dan pilihan saya jatuh ke Bambi Baby karena beragam keunggulannya,” ujar Shandy.

Kesehatan kulit berikut perawatan terhadap kulit bayi sejatinya memang sudah harus diperhatikan bahkan sejak si kecil belum lahir ya, Bun. Hal ini guna meningkatkan kesadaran orangtua tentang kondisi bayi di periode emas tahun pertamanya sehingga berdampak baik untuk tumbuh kembang si kecil.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Kesehatan

Kebiasaan Seperti Ini Bikin Gigi Anak Berlubang Lho

gigi-anak-berlubang

Ada yang bilang, “Lebih baik sakit gigi daripada sakit hati”. Hanya saja saat si kecil sakit gigi, dia bisa rewel dan bundanya pun pusing tujuh keliling. Ya, sakit gigi akibat gigi berlubang pada anak memang tidak bisa diremehkan.

Nah, ternyata ada berbagai kebiasaan sehari-hari yang menyumbang peningkatan peluang gigi berlubang pada anak. Simak pemarannya yuk, Bunda, sekaligus dicek apakah kebiasaan ini juga sering dilakukan si kecil.

6 Kebiasaan yang Bisa Bikin Gigi si Kecil Berlubang

Sesuatu yang serius bermula dari hal yang remeh temeh. Untuk itu, jangan abaikan kebiasaan buruk yang bisa membuat gigi anak berlubang ya, Bunda.

1. Di Rumah Saja Bikin Jarang Gosok Gigi

Di masa pandemi seperti sekarang ini mengharuskan siapa pun untuk lebih banyak di rumah jika tidak ada keperluan. Apabila keluar rumah pun memakai masker. Hal ini terkadang bikin anak dan kita sebagai orang tuanya lupa menggosok gigi secara teratur.

“Di rumah saja jangan sampai nggak sikat gigi. Gosok gigi dua kali dalam sehari itu minimal, dilakukan setelah sarapan dan sebelum tidur malam,” pesan Fiona Anjani Foebe, Head of Marketing Oral Care PT Unilever Indonesia, Tbk.

Hal itu disampaikan Fiona dalam virtual press conference “Kembalikan Senyum Bebas Gigi Sensitif dengan Kekuatan Mineral” sekaligus launching pasta gigi Sensitive Mineral Expert yang digelar pada Rabu (31/3/2021).

2. Menggosok Gigi dengan Cara yang Salah

Yuk, perhatikan cara menggosok gigi agar tidak mengakibatkan terkikisnya mineral gigi/ Foto: Alex dari Unsplash

Bunda, coba deh dicek apakah si kecil sudah menggosok gigi dengan cara yang benar. Terkadang kita bingung saat anak-anak sudah rajin menggosok gigi, tetapi giginya masih saja berlubang. Bisa jadi cara menggosok giginya salah.

Berikut ini cara menggosok gigi yang benar:

  • Menunggu 30 menit setelah makan atau minum sesuatu yang berasam agar tidak merusak email gigi.
  • Saat digunakan, sikat gigi berada di sudut 45 derajat dari gusi.
  • Gerakan menyikat gigi adalah maju dan mundur dengan gerakan pendek.
  • Saat menyikat permukaan dalam gigi depan, gunakan ujung sikat dengan gerakan keatas dan ke bawah.
  • Lidah juga perlu disikat dengan lembut agar terbebas dari bakteri

“Jika menyikat giginya dengan cara yang salah, maka sisa makanan tidak terangkat semua. Akibatnya sisa makanan menumpuk dan jadi mengeras, lalu jadi karang gigi. Terjadilah demineralisasi sehingga timbul masalah gigi sensitif,” jelas drg. Andy Wirahadikusumah, Sp.Pros. di acara yang sama.

drg. Andy Wirahadikusumah, Sp.Pros menjelaskan penyebab gigi sensitif.

3. Menggosok Gigi Terlalu Kuat

Siapa yang berpikir semakin kuat menggosok gigi, maka gigi akan semakin bersih? Duh, jangan sampai pemahaman ini diterapkan pada anak ya, Bunda. Menggosok gigi terlalu kuat justru bisa mengikis mineral pada gigi.

Dampak jangka panjang menyikat gigi terlalu kuat adalah tereksposnya tubulus dentin. Jika ini terjadi, pada anak gigi akan mudah berlubang. Sedangkan pada orang dewasa, gigi akan menjadi sensitif. Saat makan dan minum, gigi akan terasa ngilu.

4. Menggunakan Sikat Gigi Berbulu Kasar

Memilih sikat gigi penting banget dilakukan, lho, Bunda. Sikat gigi berbulu lembut dengan ukuran menyesuaikan mulut anak adalah yang terbaik. Sebaliknya, sikat gigi berbulu kasar dan keras bisa mempercepat terkikisnya mineral pada gigi. Akibatnya gigi anak akan lebih mudah berlubang.

5. Konsumsi Karbo, Manis, dan Asam Berlebihan

Menjaga kesehatan melalui makanan yang diasup adalah kegiatan positif yang perlu terus dilakukan. Biasanya makanan yang diasup adalah buah-buahan dengan rasa asam manis yang diolah menjadi salad dengan dressing-nya.

Meskipun salad buah menyehatkan, tetap saja jangan dikonsumsi secara berlebihan ya, Bunda. Ketika mulut dalam keadaan asam, demineralisasi bakal terjadi. Dampaknya gigi anak akan mudah berlubang. Cara terbaik menghindarinya adalah dengan menggosok gigi secara teratur, 30 menit setelah makan atau minum sesuatu yang asam.

Selain makanan asam, konsumsi karbohidrat dan makanan atau minuman manis berlebihan juga bisa bikin gigi berlubang. “Karbohidrat dan makanan manis yang dikonsumsi anak juga bisa bikin mulut menjadi asam, jangka panjangnya gigi bisa berlubang,” tutur drg. Ratu Mirah Afifah, GCClinDent, MDSc., Head of Sustainable Living Beauty & Home Care and Personal Care, Unilever Indonesia Foundation, di acara yang sama.

drg. Ratu Mirah Afifah, GCClinDent, MDSc.tengah memberikan pemaparan tentang gigi sensitif.

drg. Mirah menegaskan demineralisasi gigi anak bukanlah faktor keturunan. Semua itu terjadi karena kebiasaan tidak sehat yang masih sering dilakukan.

“Jadi gigi susu pada anak harus tetap dijaga karena menentukan gigi tetapnya baik atau tidak,” imbuhnya.

6. Membiarkan Karang Gigi

Coba perhatikan gigi si kecil, Bunda, apakah terdapat karang gigi? Karang gigi terbentuk dari sisa makanan yang mengeras. Saking kerasnya, tidak bisa hilang menggunakan sikat gigi. Butuh scaller untuk merontokkan karang gigi tersebut.

“Karang gigi ini merupakan kumpulan bakteri Streptococcus mutan yang menghasilkan asam. Asam ini menyebabkan demineralisasi, sehingga harus dibersihkan enam bulan sekali,” terang drg. Andy.

Ilustrasi gigi/ Foto: Juan Carlos Rivera dari Unsplash

Saat Gigi Menjadi Sensitif

Gigi sensitif akibat demineralisasi bisa terjadi saat anak berusia di atas 12 tahun. Sebenarnya terkikisnya mineral pada gigi ini tidak mudah, lantaran gigi merupakan organ tubuh yang paling keras. Bahkan kerasnya gigi mengalahkan tulang. Pola makan, faktor usia, dan cara sikat gigi yang salah adalah penyebab terkikisnya mineral di gigi.

Untuk gigi sensitif, sebaiknya jangan dibiarkan saja Bunda. Terkikisnya mineral pada gigi memang tidak bisa diperbaiki secara alami, melainkan perlu perawatan dari luar. Ikhtiar yang bisa dilakukan adalah menggunakan pasta gigi khusus gigi sensitif.

Narasumber di virtual press conference “Kembalikan Senyum Bebas Gigi Sensitif dengan Kekuatan Mineral”.

Bunda perlu tahu, 1 dari 5 orang mengalami gigi sensitif, tetapi hanya 7 persen yang memakai pasta gigi khusus. Tanpa perawatan memadai, rasa ngilu pada gigi bisa datang terus menerus.

Bagaimana cara kerja pasta gigi khusus gigi sensitif? drg. Mirah menjelaskan gigi sensitif yang telah terkikis mineralnya, dapat dikembalikan ke kristal hidroksiapatit (HA) melalui proses remineralisasi. Nah, kandungan active remin complex dalam pasta gigi khusus gigi sensitif membentuk kalsium dan fosfat untuk mengganti mineral yang terkikis.

Kata drg. Mirah, active remin complex mampu bekerja sempurna dalam tujuh hari sejak hari pertama pemakaian. Jadi di hari pertama pemakaian, tubulus dentin akan tertutup sekitar 75-80 persen. Selanjutnya di hari ke-3 tubulus dentin tertutup 100 persen. Nah, di hari ke-7, lapisan mineral stabil yang terbentuk akan memberikan penutupan sempurna pada tubulus dentin.

“Ini dapat efektif ketika melakukan penyikatan gigi setiap hari, sehingga lapisan mineral mengalami penebalan,” tutur drg. Mirah.

Itulah berbagai hal yang dianggap sepele namun bisa memicu munculnya gigi berlubang pada anak. Sekarang Bunda pun lebih paham bahwa pengikisian mineral gigi tak hanya mengakibatkan gigi berlubang, tapi juga gigi sensitif di kemudian hari. Dengan pencegahan dan penanganan tepat, gigi kita dan si kecil akan selalu terjaga kesehatan dan kekuatannya ya, Bunda.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Tanda Anak Mengalami Bullying, Orang Tua Harus Tahu

Bullying atau perundungan bisa terjadi kepada siapapun dan di manapun. Anak-anak juga bisa melakukan bully kepada temannya. Tindakan bullying akan menimbulkan banyak dampak buruk kepada korbannya, yaitu menyebabkan korban kehilangan percaya diri, merasakan sakit fisik, mengalami stress, depresi dan mempengaruhi kondisi psikologis korban.

Bentuk tindakan bullying bisa berupa tindakan fisik misalnya memukul, menampar, atau menjegal. Bisa juga berupa verbal atau dengan kata-kata seperti mengejek, mencemooh, dan mempermalukan. Jika anak sudah mempunyai media sosial, bullying juga bisa terjadi di dunia maya atau cyber bullying.

Tanda Anak Mengalami Bullying

Ayah dan bunda perlu mengetahui tanda-tanda anak menjadi korban bullying. Berikut beberapa tanda anak mengalami bullying oleh temannya:

  1. Anak Menjadi Tidak Mau Berinteraksi dengan Temannya

Jika teman-temannya suka membully, maka anak akan berusaha untuk menjauhi teman-temannya. Dengan begitu anak menjadi tidak mau berinteraksi dengan temannya. Jika bullying terjadi di  sekolah, anak menjadi malas pergi ke  sekolah. Jadi jika tiba-tiba anak menarik diri dari lingkungannya, ayah dan bunda perlu mendekati anak untuk mencari tahu penyebabnya.

  1. Anak Mengalami Sakit Fisik atau Ada Tanda Luka di Badan

Jika anak mengalami bullying berupa kekerasan fisik, maka anak akan merasakan sakit pada bagian tubuhnya. Orang tua perlu memeriksa apakah ada memar atua bekas luka di badan anak dan cari tahu penyebab sakitnya

  1. Anak Menjadi Murung, Mengurung Diri, dan Suka Menyendiri

Menjadi korban bully akan membuat anak sedih, kehilangan rasa percaya diri, dan stres. Oleh karena itu, anak menjadi murung, suka menyendiri, dan sering gelisah.

  1. Anak Merasa Cemas Ketika Melihat Gadget

Dengan lebih berkembangnya internet, interaksi di dunia maya juga lebih mudah. Namun, sayangnya media sosial juga bisa menjadi sarana bullying. Jika anak mengalami cyber bullying, anak akan menjauhi gadgetnya serta merasa cemas dan gelisah ketika melihat gadget. Oleh karena itu, sebaiknya orang tua  mengawasi penggunaan gadget anak.

Efek negatif mengalami bullying tidak bisa hilang dalam sekejap. Oleh karena itu, ayah dan bunda harus dekat dan mengerti kondisi anak agar bisa segera tahu jika anak mengalami perubahan dan menjadi korban bullying.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Tips Mengajarkan Anak Menabung Sejak Dini

Banyak orang tua yang mengeluhkan anaknya boros dan tidak bisa menabung ketika dewasa. Padahal, bisa  jadi hal tersebut karena anak tidak diajarkan menabung atau meniru kebiasaan di keluarganya. Kebiasaan menabung perlu diajarkan kepada anak sejak dini. Selain agar anak tidak boros, anak juga belajar tentang mengelola keuangan dengan baik.

Jika anak sudah terbiasa untuk tidak menghabiskan uang sakunya dan menyisihkannya untuk menabung, kelak ketika dewasa tidak akan kesulitan untuk mengatur keuangan dan berinvestasi. Sebelum mengajarkan menabung, orang tua perlu mengajarkan konsep uang kepada anak. Anak perlu paham bahwa uang adalah suatu alat tukar dan mempunyai nominal yang berbeda-beda. Jika ingin mendapatkan suatu barang atau makanan maka harus ditukar dengan uang.

Tips Mengajarkan Anak Menabung

Mengajarkan anak menabung bisa dilakukan dengan kegiatan yang menyenangkan. Berikut beberapa tips mengajarkan anak menabung  sejak dini:

1. Mulai dengan Menabung di Celengan

Cara yang paling mudah mengajarkan menabung adalah mulai dengan menabung di celengan. Pilih bentuk celengan yang disukai anak dan jelaskan kegunaan celengan. Beri tahu si kecil bahwa jika dia lebih sering menyisihkan uang dan menyimpannya di celengan maka lama-kelamaan akan terkumpul menjadi banyak. Dengan begitu anak bisa membeli barang yang dia inginkan.

2. Ajak Anak Main Jual Beli

Main jual beli bisa sebagai cara untuk mengajarkan anak tentang konsep uang. Anak akan tahu bahwa suatu barang punya harga yang berbeda-beda dan anak harus memutuskan apa yang perlu lebih dulu dibeli dengan uangnya.

Selain dengan main jual beli, anak juga bisa melihat ketika orang tua belanja. Ketika melihat ayah dan bunda belanja anak akan berpikir bahwa untuk membawa barang belanjaan pulang, orang tua harus membayarkan sejumlah uang.

3. Berikan Anak Kesempatan untuk Mengelola Uang Sakunya Sendiri

Jika anak sudah mempunyai uang saku, maka berikan anak kesempatan untuk mengaturnya sendiri. Sebelumnya, orang tua perlu menegaskan uang saku tersebut untuk berapa lama. Misalnya anak diberi uang saku mingguan, maka berikan ketegasan bahwa jika uangnya sudah habis sebelum waktunya maka tidak akan diberi uang tambahan. Dengan begitu anak akan belajar mengelola uangnya.

4. Berikan Teladan Kepada Anak

Bagiamanapun kita mengajarkan, anak akan tetap meniru orang tuanya. Jadi, jangan hanya mengajarkan anak menabung sementara orang tuanya boros dan suka menghamburkan uang untuk hal yang tidak penting. Anak akan mencontoh perilaku orang tuanya.

Itulah beberapa tips mengajarkan anak untuk menabung. Dengan begitu, anak akan lebih bisa mengontrol diri dan mengelola keuangannya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Share

To Top