Parenting

Parental Burnout, Kondisi yang Bikin Tak Bahagia Mengasuh Anak

parental burnout
Parental burnout/ Foto: Sydney Sims dari Unsplash

Orang tua yang bahagia, akan memiliki anak yang bahagia pula. Namun, bagaimana jika saat mengasuh anak sulit sekali untuk bahagia? Mungkin parental burnout tengah melanda.

Apa itu parental burnout? Saskhya Aulia Prima, psikolog anak dan co-founder TigaGenerasi menjelaskan parental burnout merupakan kondisi kelelahan yang sangat intens dalam menjalankan pengasuhan. Nah, dalam kondisi ini, orang tua dapat merasa jauh secara emosional dengan anak. Hal ini melahirkan sikap meragukan kemampuan diri dalam menjalani peran sebagai orang tua.

“Mengasuh anak itu pekerjaan yang kita nggak bisa cuti. Somehow, punya anak di satu sisi bikin kita berarti, namun di sisi lain bisa bikin jenuh dan stres,” terang Saskhya dalam LazBaby Media Briefing beberapa waktu lalu.

Apalagi di masa pandemi seperti saat ini. Kendati orang tua dan anak sama-sama menghabiskan lebih banyak waktu di rumah, terkadang malah melelahkan. Utamanya bagi bunda bekerja yang kerap jugling work antara pekerjaan rumah dan pekerjaan lainnya.

Sebenarnya di rumah saja juga bikin anak jenuh dan stres. Hanya saja kadar tekanan yang dialami lebih rendah ketimbang yang dialami bunda. Bahkan, tekanan yang dialami bunda bisa jadi lebih berat ketimbang ayah. Penyebabnya bunda secara alami gemar memikirkan orang lain. Alhasil bunda pun lebih sering cemas dan tertekan.

“Efek parental burnout itu jadi gak percaya diri jalani peran sebagai orang tua. Mungkin kita excel di area kerjaan, tapi punya beban dalam pengasuhan anak,” sambung Saskhya.

Apa yang disampaikan Saskhya sejalan dengan survei yang dilakukan oleh Lazada dan Babyologist kepada lebih dari 400 ibu di Indonesia. Hasil survei menunjukkan 84 persen ibu merasakan kelelahan mental dan fisik selama masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Selain itu, 87 persen mengaku menjadi lebih sensitif, serta pernah merasa tidak percaya diri maupun gagal dalam mengasuh si kecil.

Tanda Parental Burnout

Ada beberapa tanda-tanda yang mengindikasikan seseorang mengalami parental burnout. Yuk, dicek bersama-sama.

  1. Capek secara mental.
  2. Capek dan lemas secara fisik.
  3. Sulit menemukan kebahagiaan mengasuh anak, susah mengelola perasaan bahagia.
  4. Meningkatkan interaksi yang tidak positif bersama anak.
  5. Terus merasa bersalah.
  6. Menjauhkan diri secara emosional dari anak.

Tanpa parental burnout, bunda akan melihat betapa pintar dan lucunya si kecil yang sedang bereksplorasi. Namun, ketika parental burnout melanda, tingkah si kecil tak terlihat lucu sama sekali.

Terkadang parental burnout dianggap rasa lelah biasa. Padahal jika terjadi berlarut-larut akan sangat merugikan. Untuk itu, jika merasakan hal ini, jangan dibiarkan ya, Bunda. Apalagi pada akhirnya parental burnout bisa berdampak pada relasi ke anak dan keluarga.

Cara Mengatasi Parental Burnout

Para bunda lebih rentan mengalami parental burnout ketimbang ayah. Ada penjelasan di balik hal ini.

Jadi begini, seorang perempuan akan memiliki empati yang semakin meningkat saat dirinya hamil. Ia akan lebih mendahulukan kepentingan anak dan keluarga. Kata Saskhya, ini wajar. Meski begitu, hal itu kerap mengakibatkan seorang ibu over thinking dalam menghadapi sesuatu.

“Jadi naturalnya ibu itu mikirin orang, tapi suka lupa sama dirinya sendiri,” terang Saskhya.

Jika mengalami parental burnout, berikut beberapa cara dari Saskhya yang bisa dilakukan untuk mengatasinya.

1. Makan Makanan Sehat

90 persen hormon kecemasan datang dari usus. Untuk itu, Bunda bisa mengasup makanan sehat. Selain menyehatkan pencernaan, juga menyehatkan otak dan mental.

2. Latihan Menyadari Emosi

Emosi itu bukan hanya marah, lho. Ada khawatir, gugup, sedih, senang, dan lalin-lain. Terkadang kita mengekspresikan emosi negatif melalui amarah, padahal emosi yang dirasakan adalah khawatir atau gugup.

Untuk itu, Bunda perlu latihan menyadari emosi untuk mengenal perasaan yang sedang dirasakan. Jika perasaan tidak nyaman sedang dirasakan, ada baiknya ambil jeda sebentar.

“Kalau nggak terlatih menyadari emosi, bingung mau ngapain. Sedangkan kalau sudah sadar emosi, akan lebih tahu mau ngapain. Bisa diam dulu, ibadah dulu, kalau sudah tenang baru melakukan interaksi dengan anak atau orang lain,” papar Saskhya.

3. Minta Bantuan

Sering kali semua keperluan dan kebutuhan keluarga dipenuhi dengan baik. Namun, kita lupa bahwa diri ini belum makan atau belum mandi. Meski ada meme yang bilang, “Di balik anak-anak yang menawan dan wangi, ada ibu-ibu yang nggak mandi seharian”, tetapi jangan jadi pembenar.

Apabila diri sudah benar-benar lelah, saatnya Bunda minta bantuan. Bisa minta bantuan kepada pasangan, teman, keluarga, atau pengasuh. Nah, kalau susah sekali bertindak positif, jangan ragu meminta bantuan profesional seperti psikolog.

“Ask for help bukan berarti kita lemah, tapi ini justru solutif. Semua orang punya masalah, pasti kita punya masalah juga. Justru logis kalau kita minta bantuan, bukan abnormal,” lanjut Saskhya.

4. Me Time

Me time adalah hal penting untuk tetap menjaga kewarasan bunda. Saat me time, bukan berarti seorang bunda egois.

Me time itu bukan berarti yang berjam-jam nonton. Bisa dengan pijit kecil, bubble bath, belanja online,” saran Saskhya.

Me time yang tepat, lanjut Saskhya, adalah yang mampu mengeksplorasi indra. Bisa indra penglihatan, pendengaran, pengecap, peraba, atau penciuman.

5. Refleksi Sebelum Tidur

Daram rangka menghindari parental burnout, ada baiknya Bunda membiasakan berefleksi sebelum tidur. Bunda bisa melihat kembali apa saja hal-hal yang bikin nyaman, lalu tuliskanlah semua.

Memikirkan dan merasakan hal-hal baik sebelum tidur berpengaruh positif pada pikiran kita. Yuk, dicoba, Bun.

Dukungan Lazada pada Ibu

Untuk memberikan dukungan pada ibu, seperti tahun sebelumnya, Lazada menggelar Baby & Kids Festival di bulan Maret ini. Lia Kurtz, VP FMCG Lazada Indonesia, menjelaskan dalam event ini ada berbagai macam acara yang digelar seperti seminar edukasi dan berbagai promo menarik.

Ada pula Lazada Baby Flagship Store. Di sini, 40 brand tepercaya favorit ibu hadir untuk memberi pengalaman belanja online yang mudah, nyaman serta produk berkualitas dengan jaminan 100 persen original.

Melalui kegiatan ini, Lazada berharap dapat menjadi teman terbaik orang tua dalam menjalani berbagai momen. Dengan demikian orang orang tua bisa mendampingi perjalanan sang anak dengan maksimal.

Nah, itulah paparan tentang parental burnout, termasuk tanda hingga cara mengatasinya. Semoga informasi ini membantu Bunda untuk lebih mengenal diri sendiri dan lebih bahagia menjalani hari. Semangat!

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Si Kecil Penakut Bun? Yuk, Bantu Ia Kalahkan Rasa Takutnya dengan 5 Cara Ini!

Namanya juga anak-anak Bun, wajar jika pada beberapa kesempatan ia mungkin menunjukkan rasa takut terhadap beberapa hal. Sesuai dengan usianya, si kecil mungkin akan takut pada hal-hal yang asing baginya. Mulai dari ketinggian, makhluk yang tampak seram, gelap, atau wujud-wujud dari benda atau makhluk lain yang menurumnya seram. 

Situasi ini, barangkali datang dari imajinasi yang ia miliki. Dengan kenyataan lainnya, ia masih belum cukup mengerti apa yang sebenarnya membuatnya takut. Selama rasa takut yang ia miliki masih dalam batas wajar, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Itu adalah bagian dari proses tumbuh kembangnya. 

Tapi bukan berarti kita cuma diam saja ya Bun, sebagai orangtua kita juga harus membantu mereka. Mencari apa yang sebenarnya ia takuti dan memberinya solusi, bagaimana mengatasi rasa takut yang ia miliki. 

1. Ajarkan Ia untuk Tetap Tenang 

Setelah ia mengalami ketakutannya, si kecil akan berekspresi untuk menunjukkan ketakutannya. Entah itu menangis, berteriak atau berlari. Ini adalah respon dari imajinasi yang ia pikirkan, sehingga membuatnya bertindak demikian. Dan bukan tak mungkin juga jika ia akan panik mendadak. 

Tugas Bunda adalah membuatnya tetap tenang. Ajak si kecil untuk pelan-pelan menghadapi ketakutannya, melupakan semua hal negatif yang ia pikirkan, dan menumbuhkan keberanian untuk melawan. Walau tak akan mudah, setidaknya perlahan ia akan lupa tentang apa yang takutinya. 

2. Bantu Ia Mencari Penyebab Rasa Takut yang Ia Miliki 

Misanya, ia takut gelap karena berpikir ada setan di sana. Pada situasi ini, Bunda harus bertindak sebagai mediator yang membantunya memahami jika hantu itu tidak ada misalnya. Atau, kondisi gelap tak selamanya menandakan ada hantu, bisa jadi karena malam, atau listrik yang sedang padam.

Dengan demikian, ia akan mulai paham jika ada sebab lain yang harus ia mulai pahami. Bukan lagi berkutat pada jika gelap, berarti ada hantu. 

3. Berikan Alternatif untuk Mengalihkan Ketakutannya

Untuk bisa memberinya pilihan dan membantunya mengalihkan perhatian. Bunda harus memahami apa yang membuatnya takut sebagaimana hal yang tadi sudah dijelaskan diatas.

Selanjutnya, setiap kali ia berteriak atau menunjukkan ketakutan. Bunda punya alternatif yang bisa disarankan kepadanya. Misalnya, jika ia takut mencari sesuatu di kamar hanya karena gelap, mungkin Bunda bisa memberinya solusi untuk menggunakan senter agar ia bisa melihat dengan jelas benda yang dicarinya. 

4. Beri Ia Semangat Agar Bisa Mengalahkan Ketakutannya

Jangan pernah disepelakan ya Bun. Rasa takut pada anak memang bukanlah sesuatu yang aneh. Tapi bukan berarti juga layak untuk diabaikan. Mulailah peka, untuk memperhatikan apa yang bisa bunda gunakan untuk membantunya bersemangat dalam mengalahkan rasa takutnya. Dengarkan apa yang sedang ia rasakan, dan beri ia masukan tentang apa yang ia butuhkan untuk menghalau rasa takut yang sedangg ia rasakan. 

5. Dan Berusahalah untuk Membantunya Menumbuhkan Rasa Percaya Dirinya

Takut pada anak, kerap berhubungan dengan rasa malu atau minder yang juga ia miliki. Itulah sebabnya, ia menjadi tidak berani, apalagi ketika diminta untuk melakukan sesuatu seorang diri. Jika sudah tahu jika ia memang kurang percaya diri, Bunda bisa mulai membiasakannya memupuk rasa percaya dirinya dengan hal-hal sederhana. 

Dimulai dengan mengajarkannya bertanggung jawab atas sesuatu, berani dengan hal-hal yang ia percayai dan selalu memberinya pengertian jika apapun bisa ia lakukan, jika ia berhasil mengalahkan ketakutan yang ia rasakan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Bermain Menghancurkan Juga Bermanfaat untuk Anak, Lho

bermain merusak

Pernahkah Bunda bermain membuat sesuatu bersama anak, tetapi setelah jadi malah dihancurkan si kecil? Jangan buru-buru kesal atau khawatir ada perilaku merusak dalam diri anak ya, Bun. Permainan menghancurkan ada manfaatnya lho bagi tumbuh kembang mereka.

Destructive play atau bermain menghancurkan biasanya dilakukan di masa-masa awal usia kanak-kanak. Bagi anak-anak berusia muda, kegiatan menghancurkan sesuatu adalah permainan yang menarik dan menyenangkan. Jadi, tidak perlu bergegas melarang si kecil yang hendak menghancurkan bangunan yang telah dibuatnya ya, Bun.

Nah, berikut ini manfaat bermain menghancurkan bagi anak yang perlu kita pahami bersama.

  1. Meningkatkan Rasa Ingin Tahu

Ada banyak cara untuk belajar, tak terkecuali melalui bermain menghancurkan. Sering kali manusia dewasa pun merusak atau menghancurkan sesuatu untuk mencari tahu cara kerja suatu benda.

Anak-anak bisa jadi mencabuti tanaman bunga di kebun karena ingin tahu bagian tanaman seperti apa yang ada di dalam tanah. Bagi si kecil, kegiatan merusak juga bisa jadi sarana mengeksplorasi kemampuannya. Dengan mencabut tanaman, mereka jadi tahu kekuatan yang dibutuhkan untuk mencabut tanaman tertentu. Sementara itu beberapa tanaman lain sangat kuat, sehingga mereka tidak bisa mencabutnya.

Bahkan menyobek kertas, sekilas terlihat menyebalkan bukan? Namun, para bayi bersenang-senang dengan kegiatan itu. Wah, mereka jadi tahu bahwa tangannya tak hanya bisa digunakan untuk memegang, tetapi juga merobek.

Memahami bermain merusak yang dilakukan anak/ Foto: Canva
  1. Belajar Sebab Akibat

Melalui permainan merusak, anak-anak akan melihat suatu benda berubah bentuknya atau penampakannya. Dari kegiatan itu, mereka belajar tentang sebab akibat. Demikian disampaikan seorang edukator, Meghan Fitzgerald. Misalnya, menara balok akan hancur jika dilempar bola, dan sebaliknya tidak akan roboh bila dilepah sehelai tisu.

Ketika ada anak yang menumpahkan sabun mandi di ember, bisa jadi dia ingin tahu seberapa banyak sabun yang dibutuhkan untuk membuat gelembung. Pun ketika si kecil merobek kertas, mereka akan belajar cara efektif merobek kertas tertentu. Seperti kita tahu, tidak semua kerta bisa dirobek dengan mudah.

  1. Meningkatkan Kemampuan Motorik Halus

Di balik bermain menghancurkan yang terkadang bikin para ibu gemas dan kesal, ternyata justru bisa mengasah kemampuan motorik halus si kecil. Memegang, mengambil benda, merobek, menarik, dan mencabut adalah kegiatan-kegiatan yang bisa meningkatkan kemampuan motorik halus.

Kelak, kemampuan ini akan mendukung keterampilan lainnya, seperti menulis, menggunting, serta membuka botol. Hal-hal sederhana itu adalah caranya belajar untuk lebih mahir menjalani kehidupan di masa mendatang.

Hal-hal yang Perlu Dilakukan Saat Anak Bermain Menghancurkan

Memahami bermain merusak yang dilakukan anak/ Foto: Canva

Alih-alih berkata, “Kok dihancurkan sih? Kan Bunda sudah susah payah bikin menara baloknya,” lebih baik bilang, “Wah, kamu ingin tahu ya cara menjatuhkan menara balok? Ayo kita bikin lagi.”

Di atas kertas mudah ya, Bun. Nyatanya memang tidak semudah itu. Kadang kesal datang tanpa diharapkan. Jangan buru-buru marah, lebih baik tarik napas panjang, agar yang datang ke pikiran adalah hal-hal positif. Ingat, Bun, anak nggak bermaksud bikin kita kesal. Mereka hanya sedang belajar.

Ini dia beberapa hal yang perlu kita lakukan saat anak bermain menghancurkan:

  1. Membuat Area Aman

Untuk menghindari hal yang membahayakan, sebaiknya membuat area aman untuk bermain bagi anak. Dalam hal ini, termasuk benda-benda yang digunakan untuk bermain. Misal ya untuk anak usia muda, sebaiknya kita jauhkan benda-benda yang terbuat dari kaca karena bisa membahayakan saat dihancurkan.

  1. Tunjukkan Antusiasme

Saat anak bermain menghancurkan, jangan bereaksi negatif. Sebaliknya, yuk tunjukkan antusiasme kita atas tingkahnya. Jika anak merasa aman dalam mengeksplorasi lingkungan dan perasaannya, mereka akan lebih banyak belajar. Namun, jika kita merespons dengan amarah, anak akan mengasosiakan emosi negatif dengan hal yang tak diinginkannya.

  1. Ikut Bermain

Yuk ikut bersenang-senang bermain menghancurkan bersama anak. Ikuti saja yang dilakukan anak, hal itu cukup mendongkrak rasa percaya dirinya.

Kita bisa mengarahkan anak untuk mencoba hal-hal baru. Misalnya dengan menaruh lebih banyak kotak pada menara yang dibangun. Bisa juga dengan meletakkan alas di bawah menara kotak. Anak bisa diajak mengeksplorasi apa yang terjadi dengan perubahan-perubahan yang ada.

Perilaku merusak ini dilakukan di awal-awal masa kanak-kanak saja. Jika usia anak sudah lebih besar dan mampu berkomunikasi dengan baik, tetapi selalu merusak semua hal, ada baiknya berkonsultasi dengan pakar tumbuh kembang anak.

Nah, sekarang Bunda sudah lebih memahami bermain merusak yang dilakukan si kecil. Semoga informasi ini bermanfaat dan membuat Bunda semakin memahami perilaku anak.

Referensi:

Tinkergarten. Why the Power of Destruction Is Really Good For Kids. https://tinkergarten.com/blog/why-destroying-stuff-is-good-for-our-kids diakses pada 9 Juni 2021.

Playful Childhoods. How to deal with construction and destruction play. https://www.playfulchildhoods.wales/how-to-deal-with-construction-and-destruction-play diakses pada 9 Juni 2021.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Jangan Mudah Membentak Anak, Dampaknya Tidak Main-Main Lho

membentak anak

Bentakan adalah salah satu cara yang diyakini bisa mendisiplinkan anak. Namun, benarkah demikian? Jika kita sering membentak anak, yuk coba perhatikan, apakah perilaku anak semakin baik setelah dibentak atau justru sebaliknya. Meski tujuan membentak dianggap baik, tapi dampaknya justru tidak baik.

Membentak termasuk dalam pelecehan secara verbal. Sering kali bentakan tak hanya melibatkan volume suara yang keras, tetapi juga nada suara yang melengking. Hal itu biasanya diikuti mata melotot, ekspresi wajah kesal yang membuat anak merasa dibenci, serta tercetusnya kata-kata umpatan seperti “dasar anak manja” atau “anak menyebalkan”.

Sering pula bentakan pada anak saat orang tua marah ini berlangsung lama. Orang tua mengomel dengan suara tinggi selama berjam-jam. Alhasil orang tua terlihat berubah seperti orang lain bagi anak. Orang lain yang tak memiliki rasa sayang padanya. Nah, satu hal terburuk yang kerap mengikuti bentakan adalah pengabaian pada anak. Amit-amit ya, Bunda, jangan sampai kita melakukannya.

Ketika amarah menyelimuti diri dan ingin membentak anak sesering mungkin, yuk coba tahan diri dulu, Bun. Jika anak sering dibentak, lebih banyak dampak buruk yang muncul, lho. Berikut ini beberapa dampak yang bisa terjadi.

1. Meningkatkan Hormon Stres Anak

Dampak buruk membentak anak/ Foto: Canva

Sering mendapat teriakan atau bentakan akan membuat pikiran, otak, dan tubuh berubah dalam berbagai cara. Salah satunya adalah meningkatkan hormon stres dalam aliran darah.

Hormon stres bisa menurunkan imunitas tubuh. Alhasil anak jadi lebih rentan sakit. Tak cuma itu, stres juga mengaktifkan tingkat kortisol tinggi. Kondisi ini berhubungan dengan kerusakan hipokampus dan daerah otak lainnya. Dampaknya bisa menyebabkan gangguan kognitif.

2. Meningkatkan Kecemasan

Dampak buruk membentak anak/ Foto: Canva

Studi tahun 2014 di The Journal of Child Development menunjukkan bahwa teriakan menghasilkan kondisi yang mirip dengan hukuman fisik pada anak-anak. Tingkat kecemasan anak meningkat, bahkan bisa diikuti peningkatan masalah perilaku.

Sebenarnya teriakan atau bentakan bukanlah strategi untuk mendisiplinkan anak, melainkan release atau pelepasan emosi. Alih-alih membuat berwibawa, membentak atau berteriak justru menunjukkan sisi diri seseorang yang tidak terkendali. Sering kali berteriak merupakan respons seseorang yang tidak tahu harus berbuat apa lagi.

Mengutip artikel National Alliances on Mental Illness (NAMI) anak cenderung melakukan sesuatu lebih baik saat kondisinya tenang, bukan saat cemas. Semakin tenang dan terhubung dengan pengasuh, maka perilaku anak pun semakin baik. Anak-anak pun merasa dirinya aman dan terlindungi.

3. Anak Semakin Tidak Menurut

Dampak buruk membentak anak/ Foto: Canva

“Setiap hari dibentak kok anak ini nggak juga menurut ya.” Mungkin kalimat itu kerap terlintas di benak orang tua yang sering mendisiplinkan anaknya dengan bentakan.

Hal ini tidak mengherankan lho, Bunda. Kata psikiater anak, dr. Steven G. Dickstein, saat orang tua berteriak sepanjang waktu, maka bagi anak hal itu bukan hal baru. Karena terbiasa dengan bentakan dan teriakan, anak menganggap hal itu biasa saja. Dengan begitu, bentakan justru gagal mendisiplinkan anak.

4. Harga Diri Rendah pada Anak

Dampak buruk membentak anak/ Foto: Canva

Membentak dan berkata kasar dapat mengakibatkan harga diri yang rendah pada anak. Kondisi ini bisa berpengaruh pada kegiatan belajarnya di sekolah.

Bentakan dan kata-kata kasar orang tua membuat seorang anak merasa dirinya tidak dicintai. Mereka berpikir orang tuanya terus mengkritik karena tidak menyukainya.

5. Anak Menjadi Agresif

Dampak buruk membentak anak/ Foto: Canva

Terbiasa dibentak dan diteriaki oleh orang tua berisiko membuat anak memiliki perilaku agresif atau mengganggu orang di sekitarnya. Bahkan di kemudian hari, akibat menginternalisasi interaksi negatif dengan orang tua, anak pun bisa berperilaku agresif pada orang tua.

Duh, sayang sekali ya, Bunda, akibat bentakan yang terus meneris, jadi gagal membentuk ikatan dengan anak yang positif dan penuh kasih sayang.

Terkadang kita mungkin pernah kelepasan membentak atau meneriaki anak. Namun, jangan jadikan hal ini sebagai kebiasaan ya, Bunda. Sebelum membentak, yuk coba regulasi emosi terlebih dahulu. Jangan sampai niat mendisiplinkan anak malah jadi kontraproduktif akibat emosi yang tak teregulasi.

Referensi:

Sroykham, W., & Wongsawat, Y. (2019). Effects of brain activity, morning salivary cortisol, and emotion regulation on cognitive impairment in elderly people. Medicine, 98(26), e16114. https://doi.org/10.1097/MD.0000000000016114 diakses pada 3 Juni 2021.

NAMI. Thw Problem With Yelling. https://www.nami.org/Blogs/NAMI-Blog/February-2018/The-Problem-with-Yelling diakses pada 3 Juni 2021.

Child Mind. Calm Voices Calmer Kids. https://childmind.org/article/calm-voices-calmer-kids/ diakses pada 3 Juni 2021.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Share

To Top