Parenting

Parental Burnout, Kondisi yang Bikin Tak Bahagia Mengasuh Anak

parental burnout
Parental burnout/ Foto: Sydney Sims dari Unsplash

Orang tua yang bahagia, akan memiliki anak yang bahagia pula. Namun, bagaimana jika saat mengasuh anak sulit sekali untuk bahagia? Mungkin parental burnout tengah melanda.

Apa itu parental burnout? Saskhya Aulia Prima, psikolog anak dan co-founder TigaGenerasi menjelaskan parental burnout merupakan kondisi kelelahan yang sangat intens dalam menjalankan pengasuhan. Nah, dalam kondisi ini, orang tua dapat merasa jauh secara emosional dengan anak. Hal ini melahirkan sikap meragukan kemampuan diri dalam menjalani peran sebagai orang tua.

“Mengasuh anak itu pekerjaan yang kita nggak bisa cuti. Somehow, punya anak di satu sisi bikin kita berarti, namun di sisi lain bisa bikin jenuh dan stres,” terang Saskhya dalam LazBaby Media Briefing beberapa waktu lalu.

Apalagi di masa pandemi seperti saat ini. Kendati orang tua dan anak sama-sama menghabiskan lebih banyak waktu di rumah, terkadang malah melelahkan. Utamanya bagi bunda bekerja yang kerap jugling work antara pekerjaan rumah dan pekerjaan lainnya.

Sebenarnya di rumah saja juga bikin anak jenuh dan stres. Hanya saja kadar tekanan yang dialami lebih rendah ketimbang yang dialami bunda. Bahkan, tekanan yang dialami bunda bisa jadi lebih berat ketimbang ayah. Penyebabnya bunda secara alami gemar memikirkan orang lain. Alhasil bunda pun lebih sering cemas dan tertekan.

“Efek parental burnout itu jadi gak percaya diri jalani peran sebagai orang tua. Mungkin kita excel di area kerjaan, tapi punya beban dalam pengasuhan anak,” sambung Saskhya.

Apa yang disampaikan Saskhya sejalan dengan survei yang dilakukan oleh Lazada dan Babyologist kepada lebih dari 400 ibu di Indonesia. Hasil survei menunjukkan 84 persen ibu merasakan kelelahan mental dan fisik selama masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Selain itu, 87 persen mengaku menjadi lebih sensitif, serta pernah merasa tidak percaya diri maupun gagal dalam mengasuh si kecil.

Tanda Parental Burnout

Ada beberapa tanda-tanda yang mengindikasikan seseorang mengalami parental burnout. Yuk, dicek bersama-sama.

  1. Capek secara mental.
  2. Capek dan lemas secara fisik.
  3. Sulit menemukan kebahagiaan mengasuh anak, susah mengelola perasaan bahagia.
  4. Meningkatkan interaksi yang tidak positif bersama anak.
  5. Terus merasa bersalah.
  6. Menjauhkan diri secara emosional dari anak.

Tanpa parental burnout, bunda akan melihat betapa pintar dan lucunya si kecil yang sedang bereksplorasi. Namun, ketika parental burnout melanda, tingkah si kecil tak terlihat lucu sama sekali.

Terkadang parental burnout dianggap rasa lelah biasa. Padahal jika terjadi berlarut-larut akan sangat merugikan. Untuk itu, jika merasakan hal ini, jangan dibiarkan ya, Bunda. Apalagi pada akhirnya parental burnout bisa berdampak pada relasi ke anak dan keluarga.

Cara Mengatasi Parental Burnout

Para bunda lebih rentan mengalami parental burnout ketimbang ayah. Ada penjelasan di balik hal ini.

Jadi begini, seorang perempuan akan memiliki empati yang semakin meningkat saat dirinya hamil. Ia akan lebih mendahulukan kepentingan anak dan keluarga. Kata Saskhya, ini wajar. Meski begitu, hal itu kerap mengakibatkan seorang ibu over thinking dalam menghadapi sesuatu.

“Jadi naturalnya ibu itu mikirin orang, tapi suka lupa sama dirinya sendiri,” terang Saskhya.

Jika mengalami parental burnout, berikut beberapa cara dari Saskhya yang bisa dilakukan untuk mengatasinya.

1. Makan Makanan Sehat

90 persen hormon kecemasan datang dari usus. Untuk itu, Bunda bisa mengasup makanan sehat. Selain menyehatkan pencernaan, juga menyehatkan otak dan mental.

2. Latihan Menyadari Emosi

Emosi itu bukan hanya marah, lho. Ada khawatir, gugup, sedih, senang, dan lalin-lain. Terkadang kita mengekspresikan emosi negatif melalui amarah, padahal emosi yang dirasakan adalah khawatir atau gugup.

Untuk itu, Bunda perlu latihan menyadari emosi untuk mengenal perasaan yang sedang dirasakan. Jika perasaan tidak nyaman sedang dirasakan, ada baiknya ambil jeda sebentar.

“Kalau nggak terlatih menyadari emosi, bingung mau ngapain. Sedangkan kalau sudah sadar emosi, akan lebih tahu mau ngapain. Bisa diam dulu, ibadah dulu, kalau sudah tenang baru melakukan interaksi dengan anak atau orang lain,” papar Saskhya.

3. Minta Bantuan

Sering kali semua keperluan dan kebutuhan keluarga dipenuhi dengan baik. Namun, kita lupa bahwa diri ini belum makan atau belum mandi. Meski ada meme yang bilang, “Di balik anak-anak yang menawan dan wangi, ada ibu-ibu yang nggak mandi seharian”, tetapi jangan jadi pembenar.

Apabila diri sudah benar-benar lelah, saatnya Bunda minta bantuan. Bisa minta bantuan kepada pasangan, teman, keluarga, atau pengasuh. Nah, kalau susah sekali bertindak positif, jangan ragu meminta bantuan profesional seperti psikolog.

“Ask for help bukan berarti kita lemah, tapi ini justru solutif. Semua orang punya masalah, pasti kita punya masalah juga. Justru logis kalau kita minta bantuan, bukan abnormal,” lanjut Saskhya.

4. Me Time

Me time adalah hal penting untuk tetap menjaga kewarasan bunda. Saat me time, bukan berarti seorang bunda egois.

Me time itu bukan berarti yang berjam-jam nonton. Bisa dengan pijit kecil, bubble bath, belanja online,” saran Saskhya.

Me time yang tepat, lanjut Saskhya, adalah yang mampu mengeksplorasi indra. Bisa indra penglihatan, pendengaran, pengecap, peraba, atau penciuman.

5. Refleksi Sebelum Tidur

Daram rangka menghindari parental burnout, ada baiknya Bunda membiasakan berefleksi sebelum tidur. Bunda bisa melihat kembali apa saja hal-hal yang bikin nyaman, lalu tuliskanlah semua.

Memikirkan dan merasakan hal-hal baik sebelum tidur berpengaruh positif pada pikiran kita. Yuk, dicoba, Bun.

Dukungan Lazada pada Ibu

Untuk memberikan dukungan pada ibu, seperti tahun sebelumnya, Lazada menggelar Baby & Kids Festival di bulan Maret ini. Lia Kurtz, VP FMCG Lazada Indonesia, menjelaskan dalam event ini ada berbagai macam acara yang digelar seperti seminar edukasi dan berbagai promo menarik.

Ada pula Lazada Baby Flagship Store. Di sini, 40 brand tepercaya favorit ibu hadir untuk memberi pengalaman belanja online yang mudah, nyaman serta produk berkualitas dengan jaminan 100 persen original.

Melalui kegiatan ini, Lazada berharap dapat menjadi teman terbaik orang tua dalam menjalani berbagai momen. Dengan demikian orang orang tua bisa mendampingi perjalanan sang anak dengan maksimal.

Nah, itulah paparan tentang parental burnout, termasuk tanda hingga cara mengatasinya. Semoga informasi ini membantu Bunda untuk lebih mengenal diri sendiri dan lebih bahagia menjalani hari. Semangat!

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Dear Para Suami, Yuk Jadi Ayah ASI dengan Lakukan 10 Hal Ini

ayah ASI

Setiap orang tua pasti ingin memberikan yang terbaik bagi anaknya, termasuk dalam memberikan ASI eksklusif. Namun, menyusui bukanlah hal mudah.

Saat ini, masih banyak orang yang beranggapan bahwa menyusui adalah tanggung jawab penuh sang ibu. Padahal, peran suami sangat dibutuhkan demi menyukseskan ASI eksklusif.

Dokter anak sekaligus Ketua Sentra Laktasi Indonesia, dr. Utami Roesli mengatakan menurut penelitian, dari sekitar 115 ribu orang suami yang tidak memberikan dukungan pemberian ASI tingkat keberhasilan istrinya menyusui hanya sebesar 26,9 persen. 

Sedangka suami yang mendukung pemberian ASI, tingkat keberhasilannya bisa mencapai 98,1 persen. Bahkan sebuah riset yang dipublikasikan UNICEF menyebutkan ketika dukungan selama masa menyusui diberikan, durasi dan kualitas ibu memberikan ASI eksklusif pada bayi akan terus meningkat.

Wahai para Suami, dukungan yang dimaksud bukan sekadar kata semangat semata, ya. Harus ada keterlibatan nyata. Lalu, bagaimana caranya agar bisa sukses menjadi ayah ASI? Simak tips berikut yuk.

Ayah ASI bisa mendukung kesuksesan pemberian ASI eksklusif/ Foto: Canva

  1. Selalu menyemangati istri dan membuat hatinya bahagia 

Sebagai ayah ASI, para suami jangan pernah bosan menyemangati istri untuk menyusui. Buatlah hati istri bahagia dengan melakukan hal-hal sederhana tapi berkesan.

Misalnya, membelikan istri makanan kesukaan. Ketika istri merasa senang, maka hormon prolaktin dan oksitosin dalam tubuhnya bisa melancarkan produksi ASI. 

  2. Perbayak ilmu mengenai ASI dan menyusui 

Ayah ASI yang handal juga perlu membekali diri dengan ilmu mengenai ASI dan menyusui. Sering-seringlah browsing di internet, namun pastikan sumbernya tepercaya ya.

Selain itu, jangan malu untuk bertanya ke orang-orang yang memahami soal menyusui. Bergabung dengan komunitas atau kelompok yang mendukung ASI bisa dilakukan juga.

Apabila istri bekerja, suami bisa berbicara dengan atasannya untuk meminta waktu agar istrinya bisa memompa ASI ketika berada di kantor. 

  3. Mengatur stok asip untuk bayi dan temani istri ketika sedang memompa ASI

Bantulah istri dalam mengatur stok ASI perahan (ASIP) untuk bayi. Labeli setiap botol atau kantong ASIP dengan tanggal, hasil, dan jam perahan ASI.

Jangan lupa untuk selalu mengingatkan istri untuk memompas ASI. Temani istri selama memompa ASI. Bantu istri ketika butuh kompres air hangat untuk payudaranya. 

Ayah ASI yang selalu siaga/ Foto: Canva

  4. Melakukan tugas domestik dan mengurus kebutuhan rumah tangga 

Ayah ASI juga tidak malu dan tidak segan melakukan tugas domestik. Menyapu dan mencuci pakaian bukan perkara besar baginya.

Suami juga harus bisa mengurus keperluan sehari-hari. Selain itu, suami terampil membantu istri untuk memandikan, mengganti popok, dan megajak bayi berjemur. 

  5. Menyediakan sarana hiburan agar istri tidak bosan ketika sedang menyusui 

Suami menyediakan sarana hiburan untuk menemani istri ketika sedang menyusui bayi. Misalnya, membelikan CD film atau musik kesukaan istri. Suami juga menemani dan mengajak ngobrol istri ketika sedang menyusui di malam hari agar tidak merasa kesepian. 

  6. Menjaga anak dan hewan peliharaan agar tidak menganggu proses menyusui 

Ayah ASI akan menjaga si sulung ketika istri sedang menyusui si bayi. Jangan sampai bayi terbangun dan menangis karena mendengar suara kakaknya.

Selain itu, suami juga bisa menenangkan hewan peliharaan agar tidak mengganggu istri ketika sedang menyusui. Dengan begitu, istri akan merasa tenang menyusui tanpa adanya gangguan. 

Menyusui bukan hanya tanggung jawab istri semata, tapi juga sang suami/ Foto: Canva

  7. Sering-seringlah memuji istri agar ia bisa lebih semangat menyusui 

Ayah ASI juga tidak gengsi memuji istri. Ucapkan pujian yang sederhana tapi tetap berkesan, seperti “Istriku setelah melahirkan makin cantik. Semangat ya sayang menyusuinya”.

Mendengar pujian dari suami, maka istri pun akan senang dan lebih bersemangat untuk menyusui. 

  8. Selalu penuhi semua kebutuhan istri 

Suami harus sering bertanya pada istri, apa saja yang dibutuhkannya. Namun, jangan sekadar tanya saja, melainka segera penuhi kebutuhan istri.

Terkadang, yang dibutuhkan istri bukan barang lho. Sering kali dia hanya perlu perhatian suami. Maka, luangkan waktu untuk mengobrol sebentar dengan istri. 

Ayah ASI yang siaga jadi harapan para istri/ Foto: Canva

  9. Memijat tubuh istri yang pegal dan kaku karena menyusui 

Tubuh istri pasti pegal dan kaku karena harus menyusui bayi hingga berjam-jam. Paras uami bisa memijat tubuh istrinya agar relaks. Pijatan lembut juga bisa memacu hormon yang melancarkan ASI. 

  10. Jangan merasa terbebani karena memberikan dukungan pada istri adalah kewajiban dan tanggung jawab suami 

Memberikan dukungan sepenuhnya agar istri bisa memberikan ASI eksklusif untuk anak adalah salah satu bentuk tanggung jawab dan kewajiban seorang suami. Jadi, janganlah merasa terbebani dengan tugas itu.

Sebagai seorang suami, maka harus selalu bisa mendampingi istri dalam situasi terburuk sekalipun. Semangat ya wahai para suami untuk menjadi ayah ASI yang selalu siaga.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Mengatasi Anak yang Tidak Mau Makan Sayur

anak-tidak-suka-sayur

Si kecil tidak mau makan sayur? Duh, padahal sayur mengandung banyak nutrisi yang baik untuk kesehatan. Apalagi saat puasa seperti ini. Tenang, Bunda, selalu ada cara kok untuk mengatasi anak yang tidak mau makan sayur.

Bicara anak yang tidak mau makan sayur, sebenarnya hal ini dikeluhkan banyak orang tua. Jadi ini hal yang wajar. Meski demikian, anak-anak perlu tetap dibiasakan makan sayur-sayuran.

Simak yuk, beberapa cara yang bisa dicoba untuk mengatasi anak yang picky eater sehingga menghindari sayuran.

Tips untuk Bunda yang Anaknya Tidak Mau Makan Sayur

Umumnya anak tidak suka makan sayur karena rasanya dianggap tidak enak. Yuk langsung saja disimak aneka tips yang bisa dicoba untuk mengatasi anak yang tidak mau makan sayur.

1. Libatkan Anak dalam Memilih Sayuran

Ajak anak memilih sayuran agar mau makan sayur/ Foto: Canva

Anak suka lho, Bunda, jika dilibatkan dalam pekerjaan yang biasa dilakukan orang dewasa. Hal ini membuat mereka merasa sudah besar dan dipercaya. Untuk mendorong anak mau makan sayur, sebaiknya mereka dilibatkan dalam memilih sayuran.

Bunda bisa mulai dengan menanam benih sayuran bersama anak. Jadi anak diminta untuk menentukan benih sayuran apa yang akan ditanam. Selanjutnya anak diajak memelihara tanaman sayur hingga waktu panen tiba.

Jika tidak sempat memanam sayur, bisa juga dengan mengajak anak ke pasar atau supermarket. Kita bisa mengenalkan aneka bentuk sayur pada anak dan meminta mereka untuk memilih sayur untuk dimasak bersama. Kegiatan memasak bersama menimbulkan “rasa memiliki” sehingga anak lebih antusias dan sukarela makan sayuran.

2. Masak Sayur Harus Enak

Rasa yang enak akan membuat anak suka makan sayur/ Foto: Canva

‘Beberapa sayuran memang memiliki rasa sedikit pahit. Apalagi jika tidak dimasak dengan tepat, bisa-bisa rasa pahit atau aroma yang kurang mengundang selera semakin membuat anak tidak mau makan sayur.

Sayuran yang dikukus atau direbus mungkin lebih sehat. Namun, perlu diingat bahwa metode memasak sayuran seperti ini kurang bersahabat bagi anak yang tidak mau makan sayur.

Kesan pertama haruslah menggoda. Bunda bisa menumis sayuran menggunakan mentega dan bawang putih. Tidak apa-apa pula menambahkan sedikit gula, garam, kecap, ataupun saus tomat. Tambahan bumbu itu akan membuat rasa sayuran lebih bisa diterima oleh lidah anak.

Kelak, jika anak sudah terbiasa makan sayur, tambahan gula, garam, dan lemak perlahan bisa dikurangi.

Nutrisionis Mochammad Rizal, S.Gz menegaskan ada banyak cara enak menyantap sayuran. Misalnya dengan menumis, cah, ataupun dibuat menjadi sup bening dan kuah asem.

“Tetap perhatikan untuk tidak memasak sayur terlalu lama atau over cooked, ya. Terkecuali untuk tomat, bisa dimasak hingga matang untuk mengeluarkan kandungan likopennya,” pesan Rizal dalam keterangan tertulis Lazada tentang Memilih Makanan Sehat ala Lazada yang diterima pada Jumat (16/4/2021).

3. Sayur-sayur Lucu

Bentuk yang lucu bisa memotivasi anak makan sayur/ Foto: Canva

Anak-anak suka dengan tampilan visual yang menarik. Untuk itu, yuk sajikan sayuran dalam bentuk yang menarik, Bunda. Misalnya nih, kita bisa membuat tema kebun bunga di piring anak. Wortel, brokoli, maupun asparagus bisa dipotong dan ditata sedemikian rupa dengan makanan lain, sehingga menyerupai kebun bunga.

Bunda juga bisa menggunakan cookie cutters untuk membentuk aneka sayuran agar bentuknya lucu. Kemudian ajak anak untuk memakan isi piringnya dengan cara yang seru. Misalnya dengan mengatakan, “Sekarang raksasa akan makan dinosaurus timun. Nyam!”

4. Cerdik Mencampur Sayur

Mencampur sayur di makanan lain agar anak bersemangat makan sayur/ Foto: Canva

Untuk anak yang tidak suka makan sayur, kita sebagai orang tua harus terus mencari cara yang kreatif dan cerdik. Misalnya dengan mencampurkan sayur di makanan favorit anak.

Ketika masak pasta atau salad kentang, Bunda bisa menambahkan beberapa kuntum kecil brokoli. Saat memasak spageti, Bunda dapat mencampurkan bayam cincang di sausnya.

5. Aktivitas Bertema Sayur untuk Anak

Aktivitas menyenangkan bertema sayur/ Foto: Canva

Agar anak semakin mengenal sayur dan mau mencoba memakannya, Bunda bisa mengajaknya melakukan aktivitas bertema sayur. Aktivitas seru ini cocok sekali dilakukan sambil menunggu waktu berbuka puasa tiba.

1. Dongeng Sayur

Bunda bisa mendongeng dengan tokoh sayuran. Untuk alat peraga, bisa dibuat boneka kertas yang ditempelkan di stik es krim. Ajak anak untuk menggunting dan mewarnai boneka kertas tersebut sebelum mendengarkan dongeng.

Dalam dongeng, Bunda dapat menceritakan tokoh wortel yang memiliki warna oranye. Rupanya warna oranye itu merupakan tanda bahwa wortel mengandung antioksidan beta karoten yang baik untuk kesehatan mata.

Beralih ke tokoh si tomat merah. Berikan informasi pada si kecil tentang arti warna merah pada tomat.

“Warna merah pada tomat mengandung likopen dan memberikan manfaat yang berbeda lagi, yaitu mencegah kanker prostat dan kanker payudara. Jadi semakin bervariasi warna sayuran di piring, akan semakin beragam juga vitamin dan manfaat yang bisa didapatkan,” tutur Rizal.

2. Wawancara Sayur

Bermain pura-pura atau pretend play adalah kegiatan super seru untuk anak. Bunda bisa mengajak anak pura-pura menjadi wartawan. Nah, narasumber yang didatangkan adalah para sayuran, seperti brokoli, kangkung, dan buncis.

Selanjutnya Bunda bisa menjadi pengisi suara tokoh sayuran untuk menjawab pertanyaan anak. Di akhir sesi wawancara, ajak anak untuk memasak sayur-sayur tersebut dan pura-pura sedang syuting acara memasak. Setelah masakan matang, ajak anak mencicipi dan memberikan review seperti food vlogger. Gimana, seru, bukan?

Nah, itu dia aneka ide yang bisa Bunda coba untuk mengatasi anak yang tidak suka makan sayur. Setelah terbiasa makan sayur, anak bisa mengkonsumsi 2-3 varian jenis sayur dalam satu kali makan dengan warna yang berbeda-beda. Semoga sukses menanamkan kebiasaan sehat ini ya, Bunda.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

5 Cara Cerdas Hadapi Anak yang Penasaran Tentang Seks

menghadapi anak penasaran seks

“Ibu, dedek bayi asalnya dari mana sih?” Sudah pernah mendapat pertanyaan seperti itu dari si kecil? Duh, bingung ya jawabnya.   

Bunda, saat mendapat pertanyaan seperti ini, jangan menghindar, apalagi memarahi anak.  Seiring pertumbuhan nalarnya, anak pasti akan terdorong menanyakan hal-hal sensitif dan membingungkan orang tua. Salah satu pertanyaan yang bikin kening orang tua berkerut adalah terkait hubungan seks. Lalu bagaimana menghadapinya?   

Pertama, tenang. Meski Bunda sudah tahu bahwa suatu saat anak akan bertanya seperti itu, tetap saja akan mengagetkan ketika tiba waktunya. Nah, saat anak penasaran tentang seks, maka diskusikan saja ya. Jangan dianggap tabu. 

Perlu diketahui, rasa penasaran mengenai seks adalah langkah alami pertumbuhan anak untuk belajar tentang tubuhnya. Maka, pendidikan seks membantu anak untuk lebih memahami tubuhnya dan membantu mencintai tubuh mereka sendiri.   

Centers for Disease Control and Prevention Amerika Serika menyebut berbagai studi menunjukkan, anak-anak yang mendapatkan pendidikan seks dari orang tuanya, cenderung tidak terlibat perilaku seksual berisiko.  Sayangnya, hingga kini pendidikan seks di sekolah masih ditolak banyak pihak. Alasannya, pendidikan seks dicurigai sebagai kegiatan kontraproduktif dan mengarah pada pornografi.  

Padahal, justru minimnya akses formal terhadap pendidikan seks di Indonesia membuat anak dan remaja cenderung memuaskan rasa ingin tahunya melalui saluran lain. Internet, film porno, dan teman sebaya adalah saluran yang umum jadi pilihan saat anak ingin tahu tentang seks. Sayangnya, hal-hal tersebut kerap memberikan informasi tidak tepat dan bisa jadi berbahaya.   

Menurut advocatesforyouth.org, pendidikan seks yang komprehensif dan program pencegahan HIV/AIDS yang efektif, menunjukkan pengaruh terhadap perubahan perilaku dan berdampak positif pada kesehatan. Hal ini termasuk menunda melakukan seks pertama, penurunan kejadian seks tidak aman, peningkatan penggunaan kondom dan kontrasepsi, serta tingkat kehamilan dan angka kejadian infeksi menular seksual (IMS) yang jauh lebih rendah.   

Nah, di sinilah peran orang tua dibutuhkan sebagai pendidik utama anak. Anak-anak perlu dilibatkan dalam diskusi seksualitas dan kesehatan reproduksi. 

Memulai Pendidikan Seks di Rumah dengan 5 Cara Cerdas

Menghadapi anak yang penasaran seks/ Foto: Canva

Memang gampang-gampang susah menjelaskan seks pada anak-anak. Setidaknya, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Nah, ini dia cara yang bisa dilakukan saat memberikan pendidikan seks pada anak.

1. Diskusi Sesuai Umur Anak   

Berikan pemahaman sedikit demi sedikit dan disesuaikan umur anak. Bunda tidak perlu langsung memberikan ‘kuliah’ dengan berbagai topik dalam satu waktu sekaligus.   

Anak-anak cenderung menunjukkan rasa penasaran terhadap kehamilan dan bagaimana bayi “dibuat”, dibanding mekanisme berhubungan seks.

2. Hindari Penamaan Ambigu   

Sejak kecil, anak sudah harus bisa mengetahui dan membedakan bagian tubuh, termasuk genitalia. Hindari penamaan ambigu seperti ‘anu’ yang merujuk pada alat kelamin atau ‘susu’ yang merujuk pada payudara. Ini penting agar anak belajar memahami tubuhnya sendiri.  

Hal ini juga diperlukan agar anak bisa mengidentifikasi masalah dengan tepat saat orang tua mencurigai adanya kekerasan seksual yang terjadi pada mereka.   Jadi, gunakan istilah yang benar sejak awal seperti menyebut payudara, dada, puting, penis, vulva, vagina, testis, dan lain-lain. 

3. Apresiasi dan Gunakan Bahasa Sederhana 

Jika anak balita bertanya dari mana bayi berasal, Bunda bisa terlebih dahulu memujinya dengan mengatakan misalnya, “Wah, pertanyaan yang bagus sekali.” Dengan demikian, anak akan merasa pertanyaannya bukan sesuatu yang aneh. Ke depannya dia akan nyaman untuk bertanya apa saja.   

Kemudian, kita bisa memancingnya dengan bertanya balik, “Hm menurut kamu gimana?” Cara ini untuk mengetahui seberapa baik pemahamannya.  

Bunda bisa menjelaskan dengan bahasa sederhana, seperti, “Bayi hidup di rahim bunda. Saat bayi sudah besar, ia keluar dari jalur lahir, namanya vagina.”

Cara menghadapi anak yang sedang penasaran dengan seks/ Foto: Canva

4. Kenalkan Konsep Pubertas   

Hal penting lainnya adalah mengenalkan pada anak seputar konsep pubertas. Perlu dijelaskan pula bagaimana fisik tubuh berubah akibat pubertas.   

Misalnya, “Dek, coba liat si kakak. Sekarang dia jenggotan (atau memiliki payudara) dan suaranya besar, kan? Nanti kamu kalau sudah besar juga akan seperti itu. Rambut juga akan tumbuh di penis (atau vagina) kamu, dan di ketiak kamu.” 

5. Jangan Dimarahi   

Jika anak remaja kedapatan menonton film porno, jangan panik, jangan pula memarahinya. Gunakan kesempatan ini sebagai pembuka diskusi mengenai apa saja yang telah dia lihat.  Sampaikan padanya bahwa penasaran tentang seks itu adalah hal yang lumrah.

Sebagai orang tua, Bunda wajib menggunakan kesempatan ini untuk meluruskan ‘fantasi’ dan risiko di dunia nyata yang mungkin terjadi dari film-film porno. Perlu pula diberikan pemahaman bahwa hubungan seks adalah hal personal dan privat bagi orang dewasa.   

Jelaskan juga bahwa tidak ada seorang pun yang harus merasa diwajibkan untuk berhubungan seks atas dasar paksaan atau ketakutan.  Segala macam hubungan seks atas dasar paksaan adalah bentuk pemerkosaan, tidak peduli pelaku adalah orang asing maupun yang dikenal baik.   

Selalu tekankan pada anak bahwa tidak adalah tidak, dan pengaruh alkohol maupun obat-obatan akan merusak kemampuannya dalam mengambil keputusan soal seks. Selain itu juga bisa berujung pada kekerasan seksual.   

Nah, dengan cara tersebut, kita berupaya menjadi sumber pertama anak mengenai seks dan seksualitas.  Ketika Bunda sebagai orang tua berbicara tentang seksualitas dengan anak, maka bisa memastikan bahwa informasi yang mereka dapatkan adalah informasi yang tepat.   

Oh ya, khusus untuk anak yang memasuki fase remaja, ada trik tersendiri untuk berkomunikasi dengan mereka. Bunda bisa ikutan kelas online tentang mendampingi anak usia remaja di Kelasin.com.   

Di kelas ini, Bunda akan punya bekal memahami dasar-dasar pendampingan untuk remaja, keterampilan berdialog hangat dengan remaja, serta bagaimana pola interaksi yang perlu dikembangkan anak dan remaja. Yuk ikutan dengan klik langsung link kelas ‘Mendampingi Anak Memasuki Usia Remaja’.   

Sumber:

cdc.gov

advocatesforyouth.org

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Share

To Top