Kesehatan

Panduan untuk Memahami Rangkaian Gangguan Terlambat Bicara dan Cara Mengatasinya

Setiap anak memiliki tahapan perkembangan masing-masing termasuk dalam berbicara. Gangguan terlambat bicara bisa dialami oleh si kecil karena beberapa faktor. Problem ini pun termasuk keterlambatan perkembangan yang sebenarnya paling umum terjadi. 

Kondisi ini kerap membuat para orang tua khawatir dan membandingkan anak mereka dengan anak lain seusianya. Padahal, perkembangan berbicara tiap anak bisa berbeda-beda. Simak penjelasannya berikut. 

Tahapan Perkembangan Bicara Pada Anak yang Harus Bunda Pahami

Anak yang terlambat bicara bisa jadi sifatnya hanya sementara dan memang karena belum saja. Namun, dalam beberapa kasus gangguan tersebut juga bisa menjadi suatu tanda bahwa ada gangguan pendengaran dalam perkembangan si kecil. Bagaimana tahapan perkembangan bicara anak?

  1. Usia 3 Bulan

Saat usia 3 bulan, kemampuan anak berbicara memang masih sebatas mengeluarkan suara dalam bahasa bayi yang tidak bisa diartikan. Saat usia ini anak-anak juga lebih banyak berkomunikasi dengan menggunakan ekspresi seperti tersenyum atau tertawa saat melihat orang yang mengajaknya berbicara. 

  1. Usia 6 Bulan

Bayi biasanya sudah mulai mengeluarkan kata-kata yang suku katanya lebih jelas terdengar saat memasuki usia 6 bulan. Mereka sudah bisa mengucapkan kata-kata seperti ba-ba, pa-pa, ma-ma, da-da, dan lain sebagainya. Saat akhir usia 6 bulan mereka juga sudah bisa mengekspresikan emosi dengan suara. 

  1. Usia 12 Bulan

Perkembanan bicara pada anak usia 12 bulan biasanya sudah bisa mengucapkan kata seperti “ayah”, “ibu”, atau kata-kata lainnya yang sering si kecil dengar. Anak juga sudah bisa memahami kalimat dan instruksi perintah seperti, “kemari”, “ayo”, “ambil”, “lempar”, dan lainnya. 

  1. Usia 18 Bulan

Anak pada usia 18 bulan pada umumnya sudah bisa mengucapkan 10 – 20 kata dasar mesipun beberapa kata masih belum jelas pengucapannya. Si kecil juga sudah mampu mengenali bena, danam orang, dan beberapa bagian tubuh. Mereka juga sudah mampu mengikuti petunjuk dan gerakan orang. 

  1. Usia 24 Bulan

Saat memasuki usia 24 bulan, si kecil biasanya sudah mampu mengucapkan paling tidak sebanyak 50 kata. Mereka juga sudah mampu mengucapkan dua suku kata secara runut seperti “mau makan”, “buku baru”, dan lain sebagainya. Beberapa pertanyaan sederhana juga sudah bisa dipahami dengan baik. 

  1. Usia 3 – 5 Tahun

Kosakata yang bisa diucapkan si kecil sudah semakin banyak saat berusia 3 – 5 tahun dan bisa dibilang perkembangannya cukup pesat. Mereka bahkan sudah mampu menangkap sekitar 300 perbendaharaan kata baru. Kata-kata yang diucapkan sudah sangat mudah dipahami oleh orang dewasa. 

Tips Mengatasi Gangguan Terlambat Bicara dan Cara Mengatasinya

Sebagian orang mungkin masih ada yang beranggapan bahwa anak nantinya akan bisa berbicara sendiri tanpa distimulasi. Namun, peran aktif orang tua dalam memberi dorongan anak agar berbicara dan berkomunikasi dengan baik sangatlah penting. Berikut ini tips mengatasinya:

  1. Cobalah untuk Berbicara Sambil Bergerak Suatu Objek

Saat masih bayi, anak biasanya akan lebih senang dengan suara dan gerakan yang ekspresif dari orang yang mengajaknya berbicara. Bunda bisa melakukan hal-hal seperti menggoyang-goyangkan botol susu saat mengajak si kecil minum atau mengelus boneka untuk mengajarkan menyayangi benda.

Bunda juga bisa mulai mengenalkan anggota tubuh pada si kecil sambil menunjuk dan membuat gerakan ekspresif. Dengan cara seperti ini anak akan terdorong untuk berbicara dan berkomunikasi meskipun kata-katanya masih belum bisa dipahami oleh orang dewasa karena menggunakan bahasa bayi. 

  1. Ulang Semua yang Ia Katakan dengan Mengikuti Semua Ucapan Anak

Ketika si kecil sudah bisa mengucapkan suara-suara tertentu meskipun kosakatanya belum jelas, ikuti saja suara yang ditangkap dengan kata yang lebih jelas. Meskipun Bunda tidak memahami maksud dari suara-suara yang mereka ucapkan, tetap ikuti saja dan ajak si kecil berbicara. 

Anak akan merasa seperti mereka sedang berbicara dengan orang lain dan lambat laun akan membiasakan untuk meniru kata-kata yang Bunda ucapkan. Ajak anak mengobrol sebanyak mungkin dan tetap bersabar dalam mendampingi perkembangan si kecil. 

  1. Perbanyak Waktu Bermain Bersama untuk Melatihnya

Saat mengajak anak bermain bersama, orang tua terkadang perlu berakting layaknya seperti anak kecil. Ajak mereka untuk bermain permainan yang dapat meningkatkan kemampuan verbalnya. Contohnya seperti bermain peran atau berimajinasi pura-pura menelepon. 

Anak akan belajar banyak kosakata baru dan merasa senang karena diajari dengan cara yang menyenangkan. Mereka akan lebih banyak mengeksplor perbendaharaan kata dan jika saat memainkan peran tersebut tidak tahu kata yang harus diucapkan, anak akan belajar inisiatif bertanya. 

  1. Biasakan untuk Melatih Si Kecil Untuk Membuat Narasi

Anak memang belum bisa berbicara layaknya orang dewasa dengan struktur kalimat yang runut, namun Bunda masih bisa mengajarinya dengan membuat percakapan sehari-hari lebih deskriptif. Ajarkan anak untuk membuat kalimat yang urut dan detail. 

Contohnya seperti, “Besok kita pergi ke taman di dekat rumah yang ada pohon mangganya, pakai baju motif bunga-bunga yang ini ya!” Ucapkan kalimat tersebut sambil memperlihatkan baju. Anak juga akan belajar memahami benda atau objek tertentu dengan kata-kata yang Bunda ucapkan. 

  1. Berikan Kaimat Pujian untuk Perkembangan Si Kecil

Anak yang mendapat pujian dan apresiasi biasanya akan lebih semangat lagi, termasuk dalam belajar berbicara. Berikan senyuman, pujian, dan pelukan setiap si kecil berhasil mengeluarkan suara dan kosakata yang baru dengan lancar dan benar. Anak adalah peniru yang ulung dan akan belajar dari reaksi. 

Rangsang perkembangan dengan terus mengajak si kecil untuk berkomunikasi dua arah. Pastikan untuk memberikan respon positif dan jangan mudah memarahi ketika Anda tidak bisa memahami kata-kata-kata yang diucapkan oleh mereka. 

Gangguan terlambat bicara memang menimbulkan kekhawatiran tersendiri apalagi jika teman sebayanya sudah melewati fase itu. Jangan menyerah dan terus berusaha untuk menstimulasi si kecil dengan tips dan cara-cara di atas. 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Anak yang Teratur Jadi Salah Satu Calon Orang Sukses, Begilah Cara Orangtua Membentuk Perilaku Teraturnya

Semua orangtua pasti ingin anak yang teratur dan disiplin dalam segala hal. Namun, namanya anak-anak tidak mudah untuk membiasakan hal ini. Sebelum mulai melatih si kecil, orangtua dapat memberi contoh terlebih dulu. Bagaimana sikap teratur yang kita harapkan ada pada dirinya. 

Karena, sosok anak yang teratur berkesempatan jadi salah satu orang sukses. Sebab ia akan terbiasa disiplin dan melakukan segala hal dengan tertata. Termaksud, mewujudkan keinginan dan hal-hal yang ia harapkan dalam hidupnya. 

Jadi Jangan Sampai Melakukan Kesalahan Orangtua Saat Melatih Anak untuk Menjadi Pribadi Teratur 

Agar anak mudah diatur, patuh dan disiplin orangtua perlu mengajarkannya. Meskipun tidak mudah, bukan berarti tidak bisa. Agar proses melatih anak berjalan dengan tepat dan lancar, orangtua harus menghindari beberapa kesalahan berikut. 

1. Langsung Memarahi Anak Ketika Ia Melakukan Sebuah Kesalahan 

Semua anak kecil pasti pernah bertingkah atau melakukan sesuatu yang tidak disukai orangtua. Berlarian di dalam rumah atau membuat lemari berantakan, orangtua jangan langsung berteriak marah kepada anak. 

Kadangkala anak bertingkah menjengkelkan ingin belajar keterampilan baru atau mengeksplor lingkungan. Jika anak dimarahi begitu saja, ke depannya tidak berani belajar hal baru. Selain itu, ada juga karakter anak yang saat orang tuanya marah, maka dia akan semakin bertingkah. 

2. Jadi Orangtua yang Plin-Plan, Tidak Tegas dalam Membuat Aturan Pada Anak

Peraturan dan hal-hal selama melatih si kecil harus konsisten. Jika orangtua plin plan, anak tidak mau lagi mematuhi. Tetaplah untuk mematuhi, peraturan yang sudah disepakati bersama, beri hukuman saat anak melanggarnya, dengan jenis konsekuensi yang ringan-ringan saja. 

Konsistensi penting sekali agar anak mematuhi semua yang disampaikan. Saat orangtua plin plan, anak akan berpikir menjadi teratur dan disiplin itu bukan sesuatu yang harus dimiliki dalam hidup. Karena itu, berikan arahan yang jelas, sederhana dan realistis dengan tingkah laku yang diharapkan orangtua. 

3. Melakukan Tindakan yang Tidak Sesuai dengan Apa yang Dikatakan

Jika orangtua melatih anak buang sampah pada tempatnya, maka harus mempraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Jangan hanya menyuruh anak melakukan kebaikan, tetapi orangtua masih suka buang sampah sembarangan. 

Anak akan melihat semua perilaku orangtua dan mengikutinya. Jika karena kondisi tertentu terpaksa melanggar, sampaikan dengan baik alasannya kepada si kecil. Supaya anak tidak berpikir, “Bunda saja melanggar, mengapa aku harus patuh.”

4. Jadi Orangtua yang Berpikir dan Berperilaku Negatif 

Berperilakulah dan berpikir positif di depan anak. Jangan langsung marah dan memaki saat menemukan sesuatu tidak sesuai keinginan. Ubah perilaku buruk menjadi baik secara pelan-pelan agar anak mudah mengikutinya. 

Jika orangtua berteriak kasar saat kondisi tak diinginkan, anak pun bisa mengikutinya. Sebagai orangtua pasti tidak ingin hal ini terjadi. Maka, sebelum bertindak pikirkan atau pertimbangkan dulu apa dampaknya bagi si kecil.

5. Membuat Ekspektasi Berlebihan Terhadap Anak, Sehingga Jika Gagal Ia Akan Merasa Disalahkan

Saat melatih anak, jangan tumpukan ekspektasi berlebihan agar tidak kecewa ketika yang terjadi bukan sesuai harapan. Apalagi anak-anak belum bisa mengontrol emosi sepenuhnya. Peran orangtua di sini layaknya seorang guru. 

Fokus memperlihatkan pada anak cara ia bertindak seperti yang orangtua inginkan. Jelaskan padanya yang sebaiknya dilakukan dan alasannya. Sehingga saat tidak bersama orangtua, anak mengingat alasan tersebut dan tidak melakukan sesuatu yang menyimpang. 

Dan Beginilah Cara Orangtua Menjadikan Anak yang Teratur 

Banyak cara yang bisa dilakukan melatih si kecil menjadi anak yang teratur. Hal ini diterapkan sejak kecil agar ketika dewasa bisa langsung menerapkannya tanpa perlu aba-aba dari orangtua. Berikut ada 5 cara yang dapat dipraktikkan. 

1. Buat Jadwal Aktivitas yang Bisa Ia Ikuti Sehari-hari

Ajak si kecil mengatur jadwal kegiatan agar waktu 24 jam bisa dipergunakan dengan baik. Cara ini sangat tidak mudah, sebab tidak semua anak langsung setuju pada ajakan orangtua. Gunakan alat tulis yang diinginkan untuk menarik perhatiannya. 

Pagi hari dimulai dengan bangun pagi, kemudian teruskan kegiatan lain yang harus dilakukan. Buatlah keterangan jam agar si kecil mudah memahami waktu jeda dan memulai aktivitas berikutnya. Tempelkan jadwal di ruang tidur si kecil atau area lain yang mudah dilihat. 

2. Sampaikan Tentang Apa yang Sebaiknya Dilakukan oleh Anak 

Sampaikan apa seharusnya dan sebaiknya dilakukan anak tanpa menjelaskan panjang lebar. Karena, anak akan fokus pada intinya bukan keseluruhan kalimat dalam pembicaran. Latih anak untuk membuat tanda centang pada kegiatan yang sudah diselesaikan.

Hal ini memudahkan si kecil mengetahui kegiatan apa saja yang harus segera dilakukan. Jika kedapatan melanggar jadwal, jangan langsung marah tetapi nasehati dulu. Jika hari berikutnya masih melanggar boleh diberi punishment. 

3. Tapi Jangan Membuat Aturan yang Terlalu Ketat

Hukuman diberikan yang disanggupi anak, jangan terlalu berat. Melatih anak tidak perlu sangat ketat agar ia tidak takut mencoba hal baru. Jika semuanya dilarang, anak berpikir banyak kali sebelum mengeksplorasi lingkungannya. 

Berikan larangan pada sesuatu yang benar-benar penting. Anak tetap diberi kebebasan namun juga ada batasnya supaya proses pengontrolan diri berjalan lancar. Jika anak lelah atau sedang bad mood, biarkan istirahat sebentar. 

4. Hindari untuk Berceramah Terlalu Banyak 

Memberi ceramah panjang lebar pada anak merupakan cara yang dipilih orangtua dalam mendisiplinkan si kecil. Tetapi, kenyataannya langkah ini tidak sepenuhnya efektif. Karena si kecil bosan mendengarkan banyak kalimat dan tuntutan dalam satu waktu. 

Sebaiknya orangtua sampaikan apa yang diinginkan pada diri anak dengan jelas dan singkat. Perilaku mana yang harus dimiliki dan dibuang atau dihilangkan. Jadi, anak lebih mudah mengingatnya dan hal penting tersampaikan dengan baik. 

5. Jadilah Sosok Orangtua yang Selalu Menyediakan Waktu Luang untuk Anak 

orangtua perlu menyediakan waktu luang untuk si kecil. Jangan hanya mengajarkan ini dan itu hingga si kecil muak. Kebersamaan dan interaksi satu sama lain membuat anak merasa hidup. Berikan waktu luang agar si kecil dapat melakukan kegiatan favoritnya. Itulah beberapa cara memudahkan orangtua membentuk pribadi anak yang teratur. Karakter disiplin dan teratur merupakan hal positif yang sangat penting dimiliki dalam hidup sehingga harus diajarkan sejak dini pada anak.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Anak Hiperaktif Sering Buat Kewalahan, Begini Trik Menghadapi Anak Hiperaktif yang Bisa Bunda Terapkan

Anak Hiperaktiv

Anak yang berada dalam periode emas yaitu berada dalam rentang usia 1 hingga 5 tahun maka memulai sebuah hal yang tidak mampu disalahkan orang tua, yaitu pertumbuhan dan perkembangan mereka. Ada anak yang selalu diam, ada juga yang tidak bisa berhenti beraktifitas. Serba bingung dan harus penuh untuk fokus dalam perkembangan dan pertumbuhannya.

Anak yang hiperaktif memang terkenal lebih jarang sakit, namun juga lebih mampu mengenal hal yang baru. Biasanya memang menjadi hal yang tidak mudah bagi orangtua dalam menghadapi anak yang sedang hiperaktif seperti itu. jadi, bukan hal yang mudah untuk memenuhi kebutuhan anak hiperaktif, dan inilah beberapa cara tepat dalam menghadapi anak yang hiperaktif:

1. Buat si Kecil Bahagia dengan Kemampuan Bunda Menghadapinya Bukan Dengan Bentakan atau Amarah

Masalah yang utama untuk mengatasi anak hiperaktif adalah orangtua itu sendiri. Karena, yang kebanyakan ada justru orangtua kurang mampu membimbing anak hingga anak merasa sedih. Tingkah anak yang terlalu hiperaktif maka akan menghasilkan amarah orang tua. Dari bentakan, cubitan, hingga omelan, nyatanya mampu membuat anak semakin urung untuk mendengar orangtuanya. 

Karena rasa sibuknya dengan tingkah-polah dan hiperaktif, sehingga banyak anak yang justru merasa bahwa hiperaktifnya membuat mereka nyaman.Sedangkan bila orangtua mampu menekan egonya dan amarah, maka anak akan semakin mampu menelaah tentang rasa marah dari orangtua. Karena dapat dibedakan antara rasa sayang serta amarah. Anak akan semakin mengenal dan mengerti tentang hiperaktifnya begitu pula mengenai sikap orangtua yang akan ia dapatkan.

2. Berikan Ia Fasilitas Yang Membangun untuk Menuangkan Energinya

Anak hiperaktif bukan sebuah masalah hebat sebenarnya, asalkan tingkat hiperaktif anak masih dalam batas normal. Artinya, tingkah aktifnya masih beriringan langsung dengan usianya. Nah, justru anak yang hiperaktif, orangtua tinggal memaksimalkan fasilitas yang akan banyak membantunya dalam berkembang dan tumbuh. 

Karena dengan cara yang tepat mampu membuat anak semakin pesat dalam perkembangannya. Terlebih lagi jika anak Anda berada pada masa emas, akan sangat mempengaruhi kinerja otak dan perkembangan dirinya untuk mengolah rasa, karsa, hingga alunan jiwa yang penting bagi tahapan pertumbuhan diri anak.

3. Jangan Lupa untuk Memenuhi Asupan Nutrisi yang Memadai

Jangan lupakan hal yang teramat penting satu ini, yaitu mengenai asupan nutrisi untuk anak. Karena dengan asupan tepat, anak hiperaktif juga akan tepat dalam mengolah kontrol diri karena pertumbuhan dan perkembangannya terpenuhi. Maka dari itulah nutrisi sehat dan seimbang menjadi asupan khusus dalam memenuhi tenaga untuk anak. Karena nutrisi akan membuat anak jauh lebih sehat, karena energy anak mampu seimbang dengan daya nutrisinya.

4. Beri Anak Pengertian dan Pemahaman Tentang Sikap yang Seharusnya Dilakukan  

Anak hiperakti juga harus diperkenalkan dengan rasa moral yang akan mampu membawa mereka ke sebuah tanggung jawab yang sangat tepat. Dengan pengertian yang Bunda berikan untuk anak hiperaktif, secara dini mengenai sikap moral akan mampu membawa anak lebih faham tentang teman, dan tidak boleh menjadikan lawan. Melalui pengertian moral ini, anak akan bersikap mengerti tentang apa yang boleh ia lakukan dan tidak baik untuk ia perbuat. Meskipun hal yang terlihat dan terkesan sepele, namun ini begitu penting demi masa dan perkembangan pola pikir dari anak.

Itulah tadi beberapa hal tentang cara mengatasi anak hiperaktif yang tidak terlalu mengharuskan orang tua menggunakan sesuatu yang akan membahayakan diri maupun mental anak. Jadi, akan sangat penting adanya sebuah keseimbangan untuk mendapatkan hal yang tepat dalam memberikan pengertian hingga rasa untuk anak. Semoga bermanfaat.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Ketika Anak Suka Membantah: Hadapi dengan Cara Ini, Agar Ia Tak Jadi Nakal?

Semua orangtua pasti menantikan setiap pertumbuhan dan perkembangan sang anak, termasuk saat anak mulai bisa berbicara. Pertama kali mendengar si kecil bisa memanggil “ayah”, dan “bunda” pasti rasanya menyenangkan. Harapan agar anak segera bisa diajak ngobrol pun tumbuh. Namun, seiring dengan bertambahnya kemampuan berbahasa, maka anak juga mulai bisa membantah lho, Bun. Sebagai orangtua pasti ingin anaknya menjadi seorang anak yang penurut dan mematuhi nasihat orangtua. Tapi kenyataannya tidak selalu begitu, ada kalanya anak akan membantah dan terus berargumen untuk mendapatkan keinginannya.

Meski perlu kita akui juga, seorang anak yang suka membantah merupakan hal yang normal dalam perkembangannya. Hal itu bisa menjadi salah satu cara anak untuk menyampaikan keinginannya, dan ingin mengetahui alasan kenapa mereka harus melakukan suatu hal. Misalnya, seorang anak yang berusia 4-5 tahun akan sering bertanya kenapa mereka harus tidur siang, kenapa harus makan sayur, dan lainnya. 

Oleh karena itu, tak jarang orangtua dan anak berdebat hanya karena hal kecil. Nah, jika anak mulai suka membantah maka orangtua harus menyikapinya dengan benar. Berikut beberapa tips untuk menghadapi anak yang suka membantah:

1. Biarkan Anak Bicara, Dengarkan Baik-baik Perkataannya dan Hargailah Perasaannya

Saat anak mulai membantah perkataan orangtua, jangan langsung balik membantahnya. Hal itu justru akan membuat perdebatan tidak kunjung selesai dan makin emosi. Sebaiknya Bunda dengarkan dulu setiap argumen dari anak dengan sabar dan penuh perhatian. Tunjukkan sikap bahwa Bunda menghargai perasaan anak. Jika Bunda menunjukkan sikap yang baik maka anak juga akan menjaga sikapnya. Berbeda jika bunda menunjukkan ekspresi marah dan tidak suka, maka akan juga akan semakin melawan.

2. Jelaskan Alasan dari Setiap Perintah dari Orangtua

Saat meminta atau menyuruh suatu hal kepada anak, sebaiknya jelaskan alasannya dengan Bahasa yang mudah dipahami oleh anak. Misalnya saat menyuruh anak untuk mandi, Bunda bisa mengatakan, “Yuk mandi, biar badannya bersih dan wangi”.  

Dengan begitu anak akan paham alasan orangtua menyuruhnya mandi. Terkadang orangtua hanya menyuruh anak melakukan sesuatu tanpa penjelasan karena menganggap orangtua pasti tahu yang terbaik untuk anak. Hal itu akan membuat anak tidak mengerti apa pentingnya menuruti perintah orangtua. 

3. Jangan Terlalu Didikte, Memberinya Beberapa Pilihan Bagus untuk Kemampuannya Menentukan Sikap 

Tak jarang seorang anak tidak langsung menuruti perintah orangtua. Misalnya saat diminta berhenti bermain dan tidur siang, ada saja alasan anak agar bisa lanjut bermain. Jika begitu, bunda bisa memberikan beberapa pilihan, misalnya berikan pilihan untuk tambahan waktu beberapa menit atau satu kali permainan lagi lalu berhenti, daripada memaksanya untuk berhenti saat itu juga. Dengan memberikan beberapa pilihan kepada anak, maka anak akan merasa dilibatkan dalam mengambil keputusan dan dihargai.

4. Buat dan Tetapkan Aturan yang Jelas untuk Ditaati Olehnya

Langkah terakhir adalah memberikan peraturan yang jelas tentang apa yang boleh dan tidak boleh serta konsekuensinya jika dilanggar. Saat membuat aturan, libatkan anak untuk mendiskusikan poin-poinnya. Sesuaikan aturan yang dibuat dengan usia anak agar anak memahaminya. 

Misalnya peraturan tentang berapa lama boleh bermain, kapan harus pulang untuk makan dan mandi, dan lainnya. Tawarkan juga tentang konsekuensi jika melanggar aturan, misalnya dengan mengurangi jam bermain. Jangan memberikan hukuman fisik jika anak melanggar peraturan. Selain hukuman, berikan juga hadiah jika anak mematuhi peraturannya. 

Bunda bisa memberikan hadiahnya sebagai kejutan agar anak tidak hanya termotivasi karena hadiah untuk mematuhi aturan. Itulah beberapa cara menghadapi anak yang suka membantah. Semoga bermanfaat ya, Bun.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Share

To Top