Parenting

Mitos dan Kesalahan Dalam Merawat Bayi yang Sering Dilakukan

Menjadi orang tua memang tidak ada sekolah formalnya. Berguru pada yang berpengalaman adalah salah satu cara yang dilakukan pasangan suami-istri ketika baru menjadi orang tua. Tak ada salahnya merawat bayi dengan pengetahuan turun-temurun dari nenek moyang, tapi tentunya harus dipilih mana yang benar dan tidak.

Ilmu pengetahuan terus berkembang, hal-hal yang dulu tidak ada larangannya bisa jadi sekarang menjadi terlarang karena sudah ada penelitian dan ilmu barunya. Oleh karena itu, alangkah baiknya para calon orang tua belajar cara merawat bayi jauh-jauh hari sebelum si kecil lahir. Apalagi kini sumber ilmu sudah banyak, bisa belajar dari buku, dari para ahli misalnya dokter anak, dan dari artikel-artikel dari akun parenting yang terpercaya.

Beberapa mitos dan kesalahan dalam merawat bayi yang masih sering dilakukan hingga sekarang antara lain:

  1. Memakaikan gurita pada bayi

Masih banyak orang tua yang memakaikan gurita pada bayi agar bayi merasa hangat dan tidak kedinginan. Faktanya, dokter anak tidak merekomendasikan memakaikan gurita pada bayi. Memakai gurita dapat menekan perut bayi sehingga menyebabkan bayi kesulitan bernapas. Jika ingin bayi tidak kedinginan cukup pakaikan baju yang cukup menghangatkan.

  1. Memakaikan bedong dengan kencang hingga kaki bayi lurus

Selain memakai gurita, pengetahuan turun-temurun lainnya adalah memakaikan bedong pada bayi. Orang tua zaman dulu percaya bahwa jika tidak memakai bedong maka kaki bayi akan bengkok, sehingga harus memakai bedong dengan kencang sampai kaki bayi lurus. Padahal, kaki bayi memang normalnya berbentuk “O”. Coba saja ayah dan bunda baringkan si kecil, maka kakinya tidak lurus seperti orang dewasa bukan?

  1. Memberikan makanan sebelum usia bayi 6 bulan atau siap mendapat MPASI

Kepercayaan lainnya adalah jika bayi terus-menerus  menangis adalah pertanda masih lapar sehingga perlu diberi makanan. Banyak orang tua yang memberi pisang pada bayi sebelum usia 6 bulan.

Padahal, bayi baru boleh diberi makanan pendamping ASI pada usia 6 bulan. Kalaupun perlu pemberian MPASI dini, maka harus atas anjuran dokter anak. Memberi makanan pada bayi sebelum waktunya justru bisa mengganggu pencernaan bayi dan membahayakan. Jadi, jika si kecil terus menangis bukan berarti lapar ya.

  1. Menempelkan koin pada pusar agar tidak bodong

Menempelkan koin atau uang logam pada pusar bayi setelah puput agar tidak bodong masih menjadi kepercayaan hingga sekarang. Hal tersebut tidak ada hubungannya. Menempelkan koin pada pusar justru dapat menyebabkan infeksi pada pusar, apalagi jika koinnya tidak steril.

  1. Memberikan kopi agar tidak kejang

Apakah ayah dan bunda pernah mendapat saran untuk memberikan kopi pada si kecil agar tidak kejang? Jika ada yang menyarankan hal tersebut, maka jangan dilakukan ya. Kopi tidak dapat mencegah kejang. Kopi justru bisa membahayakan bayi karena mengandung kafein yang dapat membuat denyut jantung bertambah kencang. Jika si kecil mempunyai riwayat kejang, lebih baik segera konsultasikan ke dokter anak.

Menjadi orang tua membuat ayah dan bunda harus terus belajar. Jangan sampai percaya pada mitos yang justru dapat membahayakan si kecil ya.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Jika Orangtua Membentak dan Berteriak Kepada Anak

Sebagai orang tua tentunya ada masanya melihat anak bertingkah atau berbuat salah. Misalnya membuat rumah berantakan, tidak sengaja menjatuhkan HP, atau merusakkan benda di rumah. Lalu bagaimana respon ayah dan bunda ketika anak berbuat salah? Apakah akan membentak, berteriak, memberikan hukuman atau konsekuensi?

Merasa kesal dan marah ketika anak berbuat salah adalah hal yang wajar, tetapi hal tersebut  tidak membenarkan orang tua untuk berteriak atau membentak anak. Sering membentak dan berteriak kepada anak akan memberikan dampak yang buruk. Mungkin sikap anak akan berubah saat dibentak, tapi itu hanya sesaat. Bentakan dan teriakan dari orang tua akan membekas di hati si kecil, bahkan bisa mengganggu psikologis anak.

Tak hanya itu saja, riset juga menunjukan anak yang sering mendapat bentakan cenderung lebih agresif, baik secara fisik dan verbal. Apapun konteksnya, berteriak seringkali didefinisikan sebagai ekspresi kemarahan. Hal itu justru membuat anak-anak ketakutan dan merasa tidak aman. Sebaliknya, ketenangan justru membuat anak merasa dicintai dan diterima. 

Membentak anak, terutama bentakan yang disertai penolakan dan penghinaan verbal, bisa dianggap sebagai pelecehan emosional. Hal itu terbukti berdampak panjang pada psikologis anak untuk jangka panjang. Anak akan mudah mengalami kecemasan, memiliki rasa percaya diri yang rendah, dan menjadi pribadi yang agresif secara fisik dan mental. Atau bahkan menjadi anak yang pemarah, keras kepala, dan agresif sebagai bentuk perlawanan karena tidak ingin dimarahi.

Dilansir dari Hello Sehat, penelitian lain menunjukkan bahwa anak yang semasa kecil dibentak-bentak oleh orangtuanya lebih berisiko mengalami gangguan perilaku dan depresi akibat trauma masa kecil ini. Selain itu, berikut efek lain yang bisa terjadi ketika anak sering mendapatkan bentakan dari orangtuanya: 

  1. Anak menganggap berteriak adalah cara untuk menyampaikan pesan mereka satu sama lain. 
  2. Anak akan membalas dan berbalik meneriaki orangtua. Hubungan anak dan orangtua tidak stabil dan tidak dapat berkomunikasi dengan cara yang sehat. 
  3. Anak cenderung menarik diri dari orangtua dan mudah dipengaruhi teman-temannya.

Jadi, ketika ayah dan bunda sedang marah kepada anak, ambil jeda sebentar untuk menenangkan diri dan ajak anak bicara ketika emosi sudah stabil. Ketika emosi, kata-kata yang keluar sering tidak terkontrol dan dapat menyakiti anak. Dengan begitu anak akan sedih dan orang tua justru akan menyesal setelahnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Event

Tips Mengelola Emosi Orangtua Selama Pandemi

Coba ingat, selama pandemi sudah berapa kali Bunda tak bisa menahan emosi di rumah?

Demi menyesuaikan situasi, sekolah online memang masih dijadikan acuan untuk sistem pembelajaran anak di masa pandemi. Mendampingi anak belajar dirumah pun bukanlah hal yang mudah. Orang tua perlu menjaga kestabilan emosi ketika mendampingi anak belajar. Namun ketika anak mengalami fase bosan saat belajar, terkadang timbul emosi dari orang tua. Lalu bagaimana tipsnya bagi orang tua agar dapat mengelola emosi selama mendampingi anak belajar ketika pandemi ini?

Berusaha untuk memahami kegundahan yang selama ini Bunda rasakan, kali ini Sayangianak.com bekerja sama dengan KALCare. Ingin mengajak Bunda untuk sama-sama belajar untuk mengelola emosi di rumah selama pandemi.

Yuk temukan jawabannya di Kulwap KALCare : “Tips Mengelola Emosi Orang Tua Selama Pandemi.”

📅 : Rabu, 25 November 2020
⏰ : 13.00 WIB – 15.00 WIB

Pembicara:
1. Novia Dwi Rahmaningsih, M. Psi., Psikolog (Psikolog Kawan Bicara)
2. Maria Olga, S.Tr.Gz (Ahli Gizi KALCare)

Registration : FREE (Kuota Terbatas)

Registrasi di https://bit.ly/kaltipsmengelolaemosiorangtua dan dapatkan voucher Belanja di KALCare sebesar Rp.50.000,-. Kunjungi www.kalcare.com atau download aplikasi KALCare di iOs dan Android.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Mom Life

Bunda Tahu Tidak? Emosi Ibu Menular ke Anak

Seorang Ibu yang bahagia akan mendidik anak dengan bahagia, sehingga anak akan tumbuh dengan sehat juga ikut bahagia. Sebaliknya, jika ibu memendam amarah dan kesedihan, maka tidak akan maksimal dalam membersamai anak. Risiko buruknya, anal bisa saja jadi sasaran ibu dalam meluapkan amarah. Kemungkinan lainnya, bisa saja anak melihat kesedihan di mata ibu sehingga anak juga ikut sedih.

Dibalik ibu yang suka marah-marah, mungkin ada permasalahan atau konflik batin yang masih terpendam dan belum selesai. Oleh karena itu, ibu harus membersihkan konflik batin ibu terlebih dahulu. Misalnya dengan curhat ke pasangan atau ke teman lain yang sekiranya bisa membantunya.

Bunda perlu tahu, jika seorang perempuan, termasuk ibu butuh seorang pendengar yang baik untuk mengeluarkan perasaan dan unek-uneknya, karena setiap hari perempuan perlu mengeluarkan 20.000 kata setiap harinya. Dengan mengeluarkan apa yang ada di dalam hati dan tidak memendamnya sendiri mungkin akan membuat perasaan ibu lebih baik. Solusi lainnya, seorang Ibu dan pasangan bisa melakukan pillow talk setiap harinya sebelum tidur.

Hal lain yang perlu Bunda sampaikan kepada Ayah adalah, sering mengobrol bersama pasangan akan membantu Bunda dalam mengelola emosi. Dan kedekatan antara Bunda dan Pasangan akan semakin terjalin dan bisa saling mengungkapkan perasaan, jika bisa saling mengerti dan memahami. Nilai penting lain yang perlu Ayah ketahui, mempunyai suami yang mau menjadi pendengar yang baik dan teman ngobrol bisa membantu mengobati konflik batin ibu adalah sesuatu yang sangat penting. Ibu akan menjadi lebih bahagia menjalani aktivitasnya sehari-hari dan mendidik anak dengan bahagia.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Share

To Top