Dapatkan Artikel menarik dan mendalam langsung lewat SAYANGIANAK EXTRA di emailmu...

* indicates required
Parenting

Menghadapi Sibling Rivalry, Persaingan Antar Kakak-Adik

sibling rivalry

Sibling rivalry atau persaingan antara saudara kandung adalah hal yang sering terjadi di keluarga yang mempunyai beberapa anak. Sibling rivalry tidak hanya terjadi pada anak usia dini, tapi ketika anak sudah remaja pun masih bisa terjadi sibling rivalry. Sibling rivalry bisa disebabkan oleh berbagai macam hal, mulai dari berebut barang atau mainan, bersaing menjadi yang lebih baik, dan yang sering adalah berebut perhatian dari orang tua.

Sibling rivalry tidak  selalu berakibat buruk jika disikapi dengan benar. Dengan konflik yang terjadi, anak akan belajar untuk menyelesaikan masalah dan mendukung perkembangan sosial serta emosional anak. Perselisihan yang terjadi tergantung pada usia anak, kepribadian dan karakter anak, dan bagaimana orang tua menghadapi persaingan tersebut.

Cara menghadapi sibling rivalry

Agar perselisihan anak tidak berlanjut menjadi pertengkaran hebat, bahkan menjadi saling benci hingga dewasa, dibutuhkan peran orang tua untuk menghadapi persaingan tersebut dengan tepat. Agar tidak ada anak yang merasa kurang dicintai atau merasa orang tua pilih kasih. Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi sibling rivalry:

  1. Setiap anak mempunyia karakter berbeda, hargai perasaan setiap anak

Walaupun saudara kandung, karakter masing-masing anak bisa berbeda mempunyai keunikan masing-masing. Orang tua perlu melakukan pendekatan sesuai dengan karakter anak dan menghargai perasaan anak. Jangan membanding-bandingkan anak karena justru akan membuat  rasa bersaing semakin tinggi.

  1. Jangan meminta salah satu anak untuk mengalah atau membela salah satu anak

Budaya yang masih ada sampai sekarang adalah meminta kakak untuk mengalah. Hal tersebut justru membuat kakak merasa sedih dan tidak disayang. Apalagi jika kakak tidak bersalah. Selain itu, hindari membela salah satu anak. Jika permasalahan sudah jelas, lebih baik minta anak untuk menyelesaikannya dengan baik-baik.

  1. Ajari anak menyampaikan perasaan dengan baik

Agar ketika bertengkar anak tidak saling melukai, maka orang tua perlu mengajarkan anak untuk mengungkapkan perasaannya dengan benar. Hindari menyakiti, merusak barang, atau berkata kasar ketika marah.

  1. Berikan pujian ketika anak rukun

Ketika anak rukun, berikan pujian kepada anak-anak. Dengan begitu anak akan merasa senang bermain bersama tanpa bertengkar.

Jika sibling rivalry  diatasi dengan baik, maka perselisihan kakak-adik tidak akan terbawa hingga dewasa dan anak akan belajar cara menyelesaikan masalah dengan baik.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Ciri-ciri Orang Tua Toxic, Hindari Hal Ini ya Ayah dan Bunda

toxic

Mempunyai orang tua yang perhatian dan penuh kasih sayang merupakan anugerah untuk seorang anak. Namun, sayangnya tidak semua anak beruntung mendapatkan orang tua yang sangat perhatian dan mengerti anak. Ada sebagian anak yang mempunyai orang tua yang kasar, kurang mendukung anak, dan berperilaku buruk sehingga mempengaruhi perkembangan dan psikologis anak.

Tipe orang tua seperti  ini bisa disebut sebagai toxic parents. Jangan sampai ayah dan bunda menjadi toxic parents ya, berikut beberapa ciri-cirinya:

  1. Suka mengontrol anak

Orang tua toxic akan mengontrol anaknya sesuai dengan keinginan orang tua tanpa memperhitungkan keinginan anak. Apapun yang dilakukan anak, termasuk menentukan pilihan hidup harus sesuai dengan keinginan orang tua. Anak cenderung tidak diberi kebebasa dalam memilih jalan hidupnya.

  1. Suka menuntut dan menetapkan standar yang tinggi kepada anak

Setiap orang tua pasti ingin anaknya menjadi anak yang terbaik. Namun, dalam berharap tentu saja harus sesuai dengan realita. Orang tua toxic suka menuntut anak, misalnya menuntut anak untuk selalu menjadi juara satu apapun caranya. Dengan begitu anak bisa merasa tertekan.

  1. Tidak bisa mengelola emosi

Ketika anak berbuat salah atau tidak sesuai dengan keinginan orang tua, maka tipe orang tua yang toxic akan melampiaskan kemarahannya. Entah dengan hukuman fisik atau verbal. Terlalu sering mendapat hukuman bisa membuat anak trauma dan berpengaruh pada psikologisnya.

  1. Tidak mengapresiasi anak dan suka membicarakan keburukan atau kesalahan anak

Anak butuh diapresiasi dan dihargai untuk setiap usahanya apapun hasilnya. Namun, orang tua toxic tidak begitu. Mereka lebih suka membicarakan keburukan, kesalahan, atau kegagalan anak. Dengan begitu, anak menjadi kurang percaya diri.

  1. Suka mengungkit apa yang sudah diberikan kepada anak

Pasti banyak pengorbanan dan materi  yang sudah dikeluarkan orang tua untuk anaknya. Hal tersebut sebenarnya wajar sebagai bentuk tanggung jawab orang tua kepada anak. Namun, orang tua toxic akan mengungkit apa yang sudah diberikan kepada anak dan menuntut agar anak memberikan balasan yang sepadan.

Pola asuh orang tua kepada anak akan mempengaruhi perkembangan anak dan psikologis anak sampai dewasa. Mengalami trauma karena pola asuh orang tua bisa mempengaruhi kehidupan anak hingga dewasa.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Tahapan Mengajarkan Anak Membaca

teach-kids-to-read-201809

Usia yang tepat untuk mengajarkan anak membaca ada beberapa pendapat. Ada yang berpendapat bahwa sebaiknya anak diajarkan membaca ketika sudah berusia 6 tahun ke atas dan ada yang berpendapat bahwa anak bisa dikenalkan dengan aktivitas membaca sejak usia dini. Orang tua boleh menganut pendapat yang mana saja, tetapi harus memperhatikan kesiapan anak dan metode yang digunakan.

Oleh karena itu, ayah dan bunda harus peka terhadap periode sensitif anak, yaitu tanda bahwa anak sudah siap dan ingin mempelajari sesuatu. Jika anak mulai tertarik dengan huruf, bisa jadi itu adalah periode sensitif untuk mengenalkan abjad kepada anak.

Tahapan mengajarkan membaca pada anak

Membaca adalah keterampilan berbahasa dan merupakan aktivitas yang kompleks. Proses membaca terdiri dari mengenali huruf, kata, mengenali bunyi, dan belajar memahami makna serta membuat kesimpulan dari bacaan. Wah, ternyata sangat kompleks ya. Oleh karena itu, mengajarkan membaca untuk anak harus sesuai dengan tahapan dan dengan metode yang menyenangkan agar anak tidak pusing. Berikut cara yang bisa bunda coba untuk mengajarkan membaca kepada anak:

  1. Mengenalkan huruf

Yang pertama adalah mengenalkan abjad kepada anak. Bisa dimulai dari huruf kapital dulu atau huruf kecil terlebih dahulu. Ajak anak menghafal abjad dengan cara yang menyenangkan, misalnya dengan mewarnai, mencocokkan atau dengan lagu. Ajarkan secara bertahap, misal satu hari 2 huruf.

  1. Mengenalkan suku kata

Setelah anak hafal semua abjad, kenalkan anak dengan  suku kata dari ba,bi,bu,be,bo hingga za,zi,zu,ze,zo. Tentu saja juga harus dengan menyenangkan dan jangan memaksa ya, Bun.

  1. Membaca gabungan beberapa suku kata

Jika anak sudah mengenal semua suku kata, kini ajarkan anak membaca gabungan dua suku kata lalu tingkatkan lagi menjadi beberapa suku kata.

  1. Mengajarkan huruf mati, “ny”, dan “ng”

Setelah itu, ayah dan bunda bisa mengajarkan kata dengan akhiran huruf konsonan misalnya kata :bait” dan “makan”, serta mengajarkan bunyi “ny” dan “ng”.

  1. Membaca satu kata

Setelah anak memahami semua hal tersebut, kini ajarkan anak membaca satu kata utuh. Ajarkan dari yang mudah ya, Bun.

  1. Membaca satu kalimat utuh

Jika anak sudah lancar membaca berbagai  satu kata utuh, kini saatnya mengajarkan anak membaca satu kalimat. Jika sudah lancar, ajarkan anak membaca buku sendiri dan tanyakan makna yang terkadnung dalam buku.

Mengajarkan anak membaca membutuhkan proses yang panjang. Jangan menggegas anak ketika belum siap. Kemampuan anak membaca berbeda-beda, jadi jangan panik jika anak lain sudah bisa membaca tapi anak kita belum. Yang penting, berikan stimulasi yang menyenangkan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Anak-anak Rentan Stres Selama Pandemi, Ayah dan Bunda Perlu Mencegahnya

tantrum

Sudah beberapa bulan ini terjadi pandemi covid-19 yang mengubah banyak aspek dalam kehidupan. Masyarakat diimbau untuk tetap di rumah dan mengurangi aktivitas di luar. Bagi orang dewasa saja, hal ini rentan membuat stres, apalagi untuk anak-anak.

Anak-anak suka bermain dan mengeksplorasi banyak hal. Adanya wabah tentu membuat aktivitas anak menjadi terbatas. Sebelum ada wabah anak bisa belajar dan bertemu teman di  sekolah, bermain bersama di teman, menyalurkan energi dengan bermain di arena bermain, dan melakukan banyak aktivitas lain dengan menyenangkan. Sekarang kegiatan anak banyak dilakukan di rumah, sekolah secara online dan aktivitas di luar rumah sangat dibatasi.

Hal itu tentu saja bisa membuat anak merasa bingung, sedih, marah, bahkan stres karena merasa terkurung di rumah. Oleh karena itu, ayah dan bunda perlu mengambil langkah agar anak betah di rumah dan tidak terjadi stres pada anak.

Tips mencegah anak mengalami stres selama pandemi

Agar anak memahami kenapa harus di rumah saja dan membatasi aktivitas di luar, maka orang tua perlu memberi penjelasan terlebih dahulu tentang wabah covid-19 kepada anak. Jelaskan dengan cara yang mudah dipahami oleh anak, misalnya dengan mengggunakan buku bergambar atau video edukasi anak. Selain itu, berikut beberapa cara mencegah stres pada anak yang bisa dicoba:

  1. Dengarkan setiap keluhan dan ungkapan perasaan anak

Mungkin anak akan banyak mengeluh dan protes saat ini. Ayah dan bunda perlu mendengarkan dan menerima setiap perasaan anak. Jangan menyangkalnya karena justru membuat anak sedih dan marah.

  1. Ciptakan suasana yang nyaman di rumah

Suasana yang nyaman, hangat, dan penuh perhatian di antara anggota keluarga menjadi faktor pendukung agar anak betah di rumah.

  1. Berikan aktivitas dan permainan yang menyenangkan

Berbagai macam aktivitas dan permainan yang menyenangkan membuat anak tidak bosan di rumah. Ajak anak bermain permainan favoritnya. Jangan sampai anak kebanyakan tugas dari sekolah tanpa bermain.

  1. Beri kesempatan saling sapa dengan teman secara online

Anak mungkin akan rindu dengan temannya karena tidak bisa bertemu dan bermain bersama. Jadi tidak ada salahnya menjadwalkan video call dengan teman-teman si kecil.

  1. Orang tua harus dekat dengan anak

Ayah dan bunda harus dekat dengan anak agar bisa memahami perasaan dan kondisi anak. Berikan dukungan dan semangat ketika anak terlihat sedih.

Anak-anak rentan mengalami dampak  secara tidak langsung dari wabah covid-19. Ayah dan bunda harus lebih dekat dan menjaga anak.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Share

To Top