Kesehatan

Mengenal Gejala dan Cara Mengatasi Parental Burnout, Stres pada Orang Tua

Rasa lelah, jenuh, penat, tertekan hingga stres sering dirasakan para orang tua dalam mengasuh dan merawat anak. Banyak faktor yang menyebabkan orang tua menjadi stres dalam mengasuh anak hingga mengalami parental burnout atau parenting stres.

Mungkin banyak orang tua yang tidak sadar sedang mengalami parental burnout dan menganggap hanya kelelahan biasa. Jika stres ini sering terjadi dan berlangsung dalam waktu yang lama, maka bisa mengganggu kesehatan. Oleh karena itu, ayah dan bunda perlu mengetahui gejala parental burnout ini dan segera mencari penanganan jika mengalaminya.

Gejala Parental Burnout

Parental burnout adalah hal yang cukup sering terjadi, tetapi mungkin ayah dan bunda tidak menyadari ketika mengalaminya. Berikut beberapa gejala parental burnout:

  1. Merasa gagal atau tidak pantas menjadi orang tua, dan berpikir bahwa lebih baik jika anak mempunyai orang tua lain.
  2. Sering merasa sangat kelelahan dan kehilangan semangat beraktivitas
  3. Emosi menjadi tidak stabil, mudah marah, tidak sabar, dan sedih
  4. Muncul rasa kesal dan marah kepada anak, bahkan ingin menjauh dari anak
  5. Muncul keinginan untuk melarikan diri dari rumah dan meninggalkan tugas sebagai orang tua
  6. Sering melampiaskan emosi kepada anak atau pasangan

Gejala yang terjadi bisa beragam, tetapi menunjukkan tanda stres dalam mengasuh anak dan menjadi orang tua.

Cara mengatasi parental burnout

Jika  ayah dan bunda mengalami beberapa gejala di atas, maka bisa jadi sedang mengalami stres pengasuhan atau parental burnout. Segera cari cara untuk mengatasi stres tersebut agar tidak berlarut-larut. Berikut beberapa cara yang bisa dicoba:

  1. Selalu luangkan waktu untuk beristirahat, merawat diri sendiri, dan melakukan hal-hal yang disukai atau hobi.
  2. Saling berbagi cerita dan perasaan yang sedang dialami kepada pasangan. Diskusikan tentang anak dan pola pengasuhan yang perlu diterapkan. Jika ada masalah dengan anak, diskusikan bersama untuk mencari jalan keluarnya, jangan menanggung beban pengasuhan sendiri.
  3. Jangan menetapkan standar yang terlalu tinggi atau terlalu perfeksionis. Di dunia ini tidak ada yang sempurna. Setiap orang tua pasti pernah melakukan kesalahan. Yang terpenting adalah tetap belajar untuk memperbaiki diri.
  4. Jalin kedekatan dengan anak dan terima anak apa adanya. Setiap anak mempunyai keunikannya masing-masing. Orang tua perlu menyadari hal itu dan menerima anak apa adanya tanpa tuntutan berlebihan apalagi membandingkan dengan anak lain. Jalin hubungan yang dekat dengan anak agar dapat memahami karakter anak dan merasa senang ketika bersama dengan anak sehingga mengurangi risiko mengalami stres.

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Jika Orangtua Membentak dan Berteriak Kepada Anak

Sebagai orang tua tentunya ada masanya melihat anak bertingkah atau berbuat salah. Misalnya membuat rumah berantakan, tidak sengaja menjatuhkan HP, atau merusakkan benda di rumah. Lalu bagaimana respon ayah dan bunda ketika anak berbuat salah? Apakah akan membentak, berteriak, memberikan hukuman atau konsekuensi?

Merasa kesal dan marah ketika anak berbuat salah adalah hal yang wajar, tetapi hal tersebut  tidak membenarkan orang tua untuk berteriak atau membentak anak. Sering membentak dan berteriak kepada anak akan memberikan dampak yang buruk. Mungkin sikap anak akan berubah saat dibentak, tapi itu hanya sesaat. Bentakan dan teriakan dari orang tua akan membekas di hati si kecil, bahkan bisa mengganggu psikologis anak.

Tak hanya itu saja, riset juga menunjukan anak yang sering mendapat bentakan cenderung lebih agresif, baik secara fisik dan verbal. Apapun konteksnya, berteriak seringkali didefinisikan sebagai ekspresi kemarahan. Hal itu justru membuat anak-anak ketakutan dan merasa tidak aman. Sebaliknya, ketenangan justru membuat anak merasa dicintai dan diterima. 

Membentak anak, terutama bentakan yang disertai penolakan dan penghinaan verbal, bisa dianggap sebagai pelecehan emosional. Hal itu terbukti berdampak panjang pada psikologis anak untuk jangka panjang. Anak akan mudah mengalami kecemasan, memiliki rasa percaya diri yang rendah, dan menjadi pribadi yang agresif secara fisik dan mental. Atau bahkan menjadi anak yang pemarah, keras kepala, dan agresif sebagai bentuk perlawanan karena tidak ingin dimarahi.

Dilansir dari Hello Sehat, penelitian lain menunjukkan bahwa anak yang semasa kecil dibentak-bentak oleh orangtuanya lebih berisiko mengalami gangguan perilaku dan depresi akibat trauma masa kecil ini. Selain itu, berikut efek lain yang bisa terjadi ketika anak sering mendapatkan bentakan dari orangtuanya: 

  1. Anak menganggap berteriak adalah cara untuk menyampaikan pesan mereka satu sama lain. 
  2. Anak akan membalas dan berbalik meneriaki orangtua. Hubungan anak dan orangtua tidak stabil dan tidak dapat berkomunikasi dengan cara yang sehat. 
  3. Anak cenderung menarik diri dari orangtua dan mudah dipengaruhi teman-temannya.

Jadi, ketika ayah dan bunda sedang marah kepada anak, ambil jeda sebentar untuk menenangkan diri dan ajak anak bicara ketika emosi sudah stabil. Ketika emosi, kata-kata yang keluar sering tidak terkontrol dan dapat menyakiti anak. Dengan begitu anak akan sedih dan orang tua justru akan menyesal setelahnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Event

Tips Mengelola Emosi Orangtua Selama Pandemi

Coba ingat, selama pandemi sudah berapa kali Bunda tak bisa menahan emosi di rumah?

Demi menyesuaikan situasi, sekolah online memang masih dijadikan acuan untuk sistem pembelajaran anak di masa pandemi. Mendampingi anak belajar dirumah pun bukanlah hal yang mudah. Orang tua perlu menjaga kestabilan emosi ketika mendampingi anak belajar. Namun ketika anak mengalami fase bosan saat belajar, terkadang timbul emosi dari orang tua. Lalu bagaimana tipsnya bagi orang tua agar dapat mengelola emosi selama mendampingi anak belajar ketika pandemi ini?

Berusaha untuk memahami kegundahan yang selama ini Bunda rasakan, kali ini Sayangianak.com bekerja sama dengan KALCare. Ingin mengajak Bunda untuk sama-sama belajar untuk mengelola emosi di rumah selama pandemi.

Yuk temukan jawabannya di Kulwap KALCare : “Tips Mengelola Emosi Orang Tua Selama Pandemi.”

📅 : Rabu, 25 November 2020
⏰ : 13.00 WIB – 15.00 WIB

Pembicara:
1. Novia Dwi Rahmaningsih, M. Psi., Psikolog (Psikolog Kawan Bicara)
2. Maria Olga, S.Tr.Gz (Ahli Gizi KALCare)

Registration : FREE (Kuota Terbatas)

Registrasi di https://bit.ly/kaltipsmengelolaemosiorangtua dan dapatkan voucher Belanja di KALCare sebesar Rp.50.000,-. Kunjungi www.kalcare.com atau download aplikasi KALCare di iOs dan Android.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Mom Life

Bunda Tahu Tidak? Emosi Ibu Menular ke Anak

Seorang Ibu yang bahagia akan mendidik anak dengan bahagia, sehingga anak akan tumbuh dengan sehat juga ikut bahagia. Sebaliknya, jika ibu memendam amarah dan kesedihan, maka tidak akan maksimal dalam membersamai anak. Risiko buruknya, anal bisa saja jadi sasaran ibu dalam meluapkan amarah. Kemungkinan lainnya, bisa saja anak melihat kesedihan di mata ibu sehingga anak juga ikut sedih.

Dibalik ibu yang suka marah-marah, mungkin ada permasalahan atau konflik batin yang masih terpendam dan belum selesai. Oleh karena itu, ibu harus membersihkan konflik batin ibu terlebih dahulu. Misalnya dengan curhat ke pasangan atau ke teman lain yang sekiranya bisa membantunya.

Bunda perlu tahu, jika seorang perempuan, termasuk ibu butuh seorang pendengar yang baik untuk mengeluarkan perasaan dan unek-uneknya, karena setiap hari perempuan perlu mengeluarkan 20.000 kata setiap harinya. Dengan mengeluarkan apa yang ada di dalam hati dan tidak memendamnya sendiri mungkin akan membuat perasaan ibu lebih baik. Solusi lainnya, seorang Ibu dan pasangan bisa melakukan pillow talk setiap harinya sebelum tidur.

Hal lain yang perlu Bunda sampaikan kepada Ayah adalah, sering mengobrol bersama pasangan akan membantu Bunda dalam mengelola emosi. Dan kedekatan antara Bunda dan Pasangan akan semakin terjalin dan bisa saling mengungkapkan perasaan, jika bisa saling mengerti dan memahami. Nilai penting lain yang perlu Ayah ketahui, mempunyai suami yang mau menjadi pendengar yang baik dan teman ngobrol bisa membantu mengobati konflik batin ibu adalah sesuatu yang sangat penting. Ibu akan menjadi lebih bahagia menjalani aktivitasnya sehari-hari dan mendidik anak dengan bahagia.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Share

To Top