Parenting

Mengajak Si Kecil Umroh Tak Sesulit yang Bunda Loh

Melakukan ibadah bersama anggota keluarga tentu menjadi aktivitas yang menyenangkan bagi seluruh keluarga. Nah, hal inilah yang dirasakan penyanyi asal Negeri Jiran, Siti Nurhaliza belum lama ini.

Ya Bun, ia baru saja melakukan ibadah umroh dengan membawa serta anak pertamanya, Siti Aafiyah Khalid yang masih berusia satu tahun. Melalui akun Instagramnya @ctdk, penyanyi berusara emas ini bercerita kalau pengalamannya umrah bersama balita sangatlah berarti.

“Alhamdulillah diberi kesempatan sekali lagi untuk berada di Masjidil Haram pada bulan Ramadan yang mulia ini. Hari ini Aafiyah sempat ikut ibu tunaikan sunnah tawaf. Pengalaman yang sangat bermakna buat saya dan suami,” tulis Siti Nurhaliza sebagai keterangan foto.

Melakukan umroh bersama balita tentu saja bukan hal yang mudah untuk. Setidaknya, hal inilah yang dirasakan Siti Nurhaliza dan Asyraf Khalid. Selain mempersiapkan fisik diri sendiri, Siti juga harus memerhatikan kesehatan putrinya.

Namun, Siti pribadi mengaku sangat mudah membawa serta anaknya yang baru berusia 1 tahun itu. Sebab, si kecil Aafiyah sangat mudah dijaga sehingga merawat Aafiyah selama ibadah umroh tidaklah sulit.

“Alhamdullillah, pengalaman umrah hujung ramadhan pertama kali buat Aafiyah.. Pengalaman yang takkan saya lupakan sampai bila…. Aafiyah anak yang baik & mudah nak dijaga. Semoga Umrah ini bukan terakhir buatmu anakku. Teruskan menziarahi Masjidilharam, Masjidil Nabawi dan inshaaallah impian ibu kita ke Masjidil Aqsa pula nanti ye. 3 Masjid yang perlu kita usahakan untuk ziarah bila kita berkemampuan…” tulis Siti Nurhaliza lagi.

Di lain sisi, untuk Bunda yang punya rencana untuk melakukan umroh dengan buah hati, maka perhatikan dulu beberapa hal yang perlu dipenuhi agar si kecil tak mengalami masalah saat di perjalanan maupun saat tiba di Tanah Suci.

Pertama, Berikan Vaksin dan Jagalah Daya Tahan Tubuh si Kecil ya Bun

Ini penting, pastikan si kecil melakukan vaksin meningitis sebelum berangkat ya Bun. Sebab kendati vaksin meningitis tidak diwajibkan untuk anak berusia di bawah 2 tahun, tidak ada salahnya kalau si kecil tetap melakukan vaksin sebagai upaya pencegahan.

Apalagi daya tahan tubuh si kecil tentu berbeda dengan orang dewasa, karenanya siapkan kondisi baik obat-obatan, vitamin, ataupun suplemen yang memang diperlukan si kecil. Bila ia memiliki kondisi khusus, bawa sert obat-obatan untuk mengantisipasi penyakit kambuh.

Jangan Lupa, Bawakan Mainan Favorit untuk si Kecil

Di usianya yang masih kecil, tentu ia akan suka bila Bunda membawakan buku favorit atau buku kesukaan. Barang semacam ini akan menjadi kunci guna menghilangkan kebosanan si kecil, baik selama perjalanan di pesawat ataupun saat di tanah suci. Bawalah mainan yang paling disukainya, ataupun mainan yang bisa menghilangkan kejenuhannya. Tapi ingat, ya, pastikan mainan si kecil tidak sampai merepotkan bawaan utama Parents.

Agar Si Kecil Tetap Nyaman, Bunda Bisa Menyewa Kursi Roda

Tantangan saat beribadah baru muncul ketika pelaksanaan ibadah Thawaf dan Sa’i. Sebab proses ibadah ini memakan waktu cukup lama dan menguras tenaga. Pastinya akan sangat sulit untuk si kecil. Bagi anak balita di bawah dua tahun, Parents mungkin akan menggendong mereka sampai proses Thawaf ataupun Sa’i selesai. Tentu akan melelahkan bukan.

Nah, saat Bunda berada di situasi semacam ini, maka solusinya adalah Bunda dapat menyewa kursi roda sehingga hanya perlu mendorongnya. Kursi roda banyak disediakan di sekitar Masjidil Haram karena stroller hanya boleh dibawa sampai pintu masuk masjid.

Selain Mainan, Jangan Lupa Sediakan Camilan Juga untuk Si Kecil ya Bun

Tak ada salahnya untuk menyiapkan camilan atau makanan kesukaan di kecil. Misalnya, sereal atau biskuit kegemarannya. Bila ia suntuk dengan mainannya, maka biasanya si kecil akan mencari makanan yang disukainya. Rasa gurih atau manis dari camilan tersebut pasti membuat suasana hatinya pun berubah.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Kesehatan

Waspada! Ini Daftar Penyebab Anak Stunting Alias Gagal Tumbuh

penyebab anak stunting

Stunting alias gagal tumbuh menyebabkan anak-anak memiliki postur tubuh pendek. Selain itu juga diikuti kondisi kesehatan yang tidak baik, serta tumbuh kembangnya terhambat. Yuk, kenali penyebab anak stunting.

Bicara stunting, masalah ini masih jadi perhatian besar di Indonesia lho, Bunda. Jumlah kasus stunting di Indonesia pada tahun 2019 mencapai 27,67 persen. Sebenarnya angka ini lebih baik dari enam tahun sebelumnya, lantaran berhasil ditekan hingga 37,8 persen.

Kendati begitu, angka stunting di Indonesia masih lebih tinggi dibandingkan toleransi maksimal yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO). Toleransi maksimal angka stunting yang ditetapkan WHO yaitu kurang dari 20 persen.

“Bahkan hingga akhir tahun lalu, status Indonesia masih berada di urutan 4 dunia dan urutan ke-2 di Asia Tenggara terkait kasus balita stunting,” terang Direktur Bina Akses Pelayanan Keluarga Berencana BKKBN dr. Zamhir Setiawan, M.Epid.

Hal itu disampaikan dr. Zamhir dalam peluncuran “Smart Sharing: Program Kerja Sama Penurunan Angka Stunting di Indonesia” yang dihelat pada Rabu (4/5/2021).

Penyebab Anak Stunting

Penyebab anak stunting/ Foto: Canva

Stunting tidak bisa dibiarkan begitu saja. Jika berlarut-larut, stunting bisa menimbulkan persoalan serius dalam pembangunan sumber daya manusia di masa depan.

Nah, berikut ini beberapa penyebab anak stunting yang perlu Bunda ketahui.

1. Bayi Lahir dalam Keadaan Kurang Nutrisi

1.000 hari pertama atau sekitar tiga tahun kehidupan sejak dalam
kandungan adalah masa penting pembangunan ketahanan gizi. Jika hal ini diabaikan, risiko ibu melahirkan bayi stunting cukup besar.

Bayi yang lahir dalam keadaan kurang nutrisi biasanya dipicu ibunya yang juga kurang nutrisi pada saat hamil. Karena itu, sejak sebeluam hamil, nutrisi seorang ibu harus benar-benar optimal.

“Nutrisi memang mengambil peran penting yang perlu menjadi perhatian lebih bagi calon orang tua baik sejak masa perencanaan, kehamilan, hingga menyusui,” ujar Sinteisa Sunarjo, Group Business Unit Head Woman Nutrition KALBE Nutritionals di acara yang sama.

Perlu kita ingat ya, Bunda, kekurangan gizi kronis bisa menyebabkan abortus dan anemia pada bayi baru lahir. Selain itu, bisa mengakibatkan bayi lahir dengan berat badan rendah, cacat bawaan, bahkan bisa mengakibatkan kematian.

2. Anak Dibesarkan dalam Kondisi Kurang Gizi

Seorang anak bisa saja lahir dengan nutrisi cukup. Namun, apabila anak tersebut dibesarkan dengan nutrisi yang tidak memadai, bisa mengakibatkan kurang gizi.

Jadi, nutrisi optimal di 1.000 hari pertama memang tidak bisa diabaikan. Apabila kondisi kurang gizi terlewat hingga lebih dari 1.000 hari pertama, maka dampak buruknya akan sulit diobati.

Untuk itu, nutrisi yang diasup ibu harus terus diperhatikan. Bahkan, nutrisi yang dibutuhkan ibu menyusui jauh lebih besar ketimbang ibu hamil lho.

3. Masalah Kebersihan

Kebersihan lingkungan juga berpengaruh pada kasus stunting. Apabila seorang anak lahir dan tumbuh di lingkungan dengan fasilitas sanitasi buruk, minimnya akses air bersih, serta kurangnya kebersihan lingkungan, bisa meningkatkan risiko stunting.

Mengatasi Anak Stunting

Mengatasi anak stunting/ Foto: Canva

Di tahun 2024, Indonesia menargetkan kasus stunting bisa ditekan hingga di angka 14 persen. Di samping itu, angka kematian ibu juga diharapkan bisa ditekan hingga di bawah 183 kasus per 100.000 ibu melahirkan.

Untuk menyukseskan langkah ini, program “Smart Sharing” yang dimulai pada April 2021 diluncurkan. Smart Sharing meliputi edukasi secara online, edukasi secara offline, dan program intervensi gizi. Ini merupakan kolaborasi BKKBN, PRENAGEN, dan Klikdokter.

Aplikasi KlikKB turut digunakan untuk meminimalkan risiko stunting. Dengan aplikasi ini, para ibu bisa mengakses informasi terkait perencanaan kehamilan, hamil, tumbuh kembang anak, dan penggunaan kontrasepsi. Bahkan para ibu bisa konsultasi gratis dengan bidan-bidan secara online.

Dr. (HC), dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K), Kepala BKKBN di acara ini menegaskan stunting harus ditekan dari hulu ke hilir. Edukasi hingga intervensi gizi, menurutnya, memegang peranan penting.

“Program edukasi penting agar anak tidak salah gizi dan yang juga harus diperhatikan adalah pengamatan terhadap kondisi gizi anak,” kata dr. Hasto.

Peluncuran Smart Sharing sebagai alternatif mengatasi Stunting.

Untuk mengawal gizi anak, sebenarnya ada Posyandu yang memegang peran vital di masyarakat. Sayangnya, pandemi Covid-19 mengakibatkan kegiatan posyandu di banyak daerah terhenti. Karena itulah, Smart Sharing diharapkan bisa menjadi cara alternatif agar gizi dan kesehatan anak terpantau.

“Smart Sharing” juga merencanakan studi observasional dan program intervensi gizi terhadap ibu hamil, ibu menyusui, dan bayi. Penelitian mendalam bakal dilakukan terhadap tiga kelompok pengujian yaitu ibu hamil dengan usia kandungan 4-6 bulan, ibu menyusui bayi usia 0-3 bulan, dan bayi usia 6-9 bulan.

Studi observasional dan program intervensi gizi ini berlangsung sejak April 2021 hingga Januari 2022. Kabupaten Sleman dan Kota Madiun dipilih sebagai pilot projectnya.

“Studi observasional dan program intervensi gizi ini bertujuan membantu memberikan asupan bernutrisi kepada ibu yang sedang hamil, ibu menyusui, dan bayi usia 6-9 bulan dan mengukur seberapa efektif pengaruhnya terhadap kesehatan ibu dan perkembangan janinnya, serta tumbuh kembang bayi,” papar Sinteisa.

Semoga informasi ini semakin menambah wawasan Bunda tentang bahaya dan penyebab anak stunting. Tentunya kita tidak ingin generasi mendatang tumbuh dewasa dengan kemampuan kognitif yang lambat, mudah sakit, dan kurang produktif. Yuk, cegah stunting!

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Kesehatan

6 Asupan untuk Buka Puasa Ini Bisa Kembalikan Tenaga si Kecil

asupan-buka-puasa

Saat puasa, badan tentu lemas ya, Bunda. Itu pula yang dirasakan oleh si kecil. Nah, untuk mengembalikan tenaganya, kita bisa menyajikan aneka makanan tepat saat buka puasa.

Penasaran makanan seperti apa yang bisa mengembalikan tenaga si kecil? Simak yuk penjelasan dr. Diana Suganda, M. Kes, Sp.GK dalam Kulwap Milkuat bertajuk “Mengajarkan Si Kecil Kuat Puasa Seharian”.

1. Kurma

Kurma untuk buka puasa/ Foto: Canva

Anjuran agar berbuka dengan yang manis memang baik karena makanan manis bisa mengembalikan tenaga. Namun, perlu diingat jangan sampai memberi asupan yang terlalu manis saat buka puasa.

Bunda bisa menyajikan kurma sebagai makanan buka puasa untuk anak. Kurma merupakan makanan yang memiliki indeks glikemik tinggi. Ketika dikonsumsi saat buka puasa, bisa segera meningkatkan kadar gula darah yang turun saat berpuasa.

“Kandungan karbohidrat sederhana pada kurma cukup untuk menggantikan kebutuhan gula selama berpuasa. Selain itu, kurma juga kaya serat, sehingga dapat melancarkan sistem pencernaan,” terang dr. Diana.

2. Potongan Buah Segar

Buah potong untuk mengembalikan tenaga si kecil seusai puasa/ Foto: Canva

Setelah seharian menahan lapar dan dahaga, makan buah potong saat buka puasa tentu menyegarkan sekali. Tak hanya menyegarkan, buah potong juga bisa memenuhi kebutuhan vitamin dan mineral.

Lalu buah seperti apa yang cocok disajikan sebagai buah potong untuk sajian buka puasa? Kata dr. Diana, sebaiknya memilih buah dengan tekstur lembut dan tidak asam.

“Seperti pepaya, pisang, dan melon, agar mudah dicerna oleh usus. Bunda bisa juga memberikan buah yang tinggi kadar airnya seperti semangka, pepaya, dan buah naga,” sarannya.

3. Yoghurt

Yoghurt, sajian sehat untuk buka puasa/ Foto: Canva

Asupan lain yang bisa segera mengembalikan tenaga si kecil yang berpuasa adalah yoghurt. Di dalam produk olahan susu ini terkandung energi, protein, mineral, dan vitamin.

Tak hanya itu, yoghurt juga mengandung probiotik. Nah, probiotik ini bisa turut menjaga kesehatan sistem pencernaan anak.

Agar lebih seru, yoghurt bisa disajikan bersama buah potong. Dengan begitu akan lebih mengenyangkan dan menambah nutrisi di menu berbuka anak.

4. Puding

Puding dengan tekstur lembut, bersahabat untuk pencernaan/ Foto: Canva

Makanan yang ramah bagi usus sekaligus bisa mengembalikan tenaga si kecil di waktu berbuka puasa adalah puding. Teksturnya yang lembut dan rasanya yang enak tentu disukai si kecil.

Bunda bisa mencetak puding dalam berbagai bentuk lucu. Bisa pula menambahkan buah-buahan dalam puding untuk menambah nutrisinya.

5. Air Kelapa Murni

Air kelapa murni mengembalikan elektrolit setelah seharian berpuasa/ Foto: Canva

dr. Diana menjelaskan air kelapa kaya akan mineral yang diperlukan untuk mengganti cairan elektrolit yang hilang selama berpuasa. Dengan begitu, air kelapa bagus sekali untuk mengatasi badan anak yang lemas setelah seharian berpuasa.

Namun ingat ya, Bunda, berikan air kelapa murni yang belum dicampur dengan bahan apa pun. Ini penting agar manfaat sehatnya dapat segera dirasakan tubuh.

6. Salad Sayur

Salad sayur untuk berbuka puasa/ Foto: Canva

“Untuk mengganti kebutuhan nutrisi selama berpuasa, berikan si kecil sayur-mayur agar tubuhnya tetap sehat dan bugar meski telah berpuasa seharian,” ucap dr. Diana.

Salad sayur ini juga dapat dilengkapi potongan daging tanpa kulit dan keju. Hm tentu akan menjadi asupan nikmat nan bergizi di waktu berbuka puasa.

Sayur juga bisa dikombinasikan dengan buah, lantas dibuat smoothies. Caranya campur buah, sayur, susu atau yoghurt, lalu diblender. Agar lebih asyik menikmatinya, smoothies dapat disajikan di gelas dengan sedotan warna-warni.

Oh ya, saat buka puasa mungkin si kecil ingin minum minuman yang dingin. Lalu bagaimana, apakah boleh buka puasa dengan minum es? Saran dr. Diana, sebaiknya berbuka dengan minum air yang sesuai suhu tubuh atau suhu ruangan. Setelah itu, boleh-boleh saja jika ingin minum minuman dingin.

Itu dia daftar asupan untuk buka puasa yang bisa mengembalikan tenaga si kecil yang berpuasa. Semoga bermanfaat.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Kesehatan

3 Kebiasaan Sepele yang Bikin Gigi si Kecil Karies

gigi karies pada anak

Gigi karies atau berlubang, bisa mengganggu aktivitas dan tumbuh kembang anak. Sayangnya, masih banyak orang tua yang menganggap enteng masalah ini, sehingga merasa tidak perlu melakukan perawatan khusus. 

Lubang pada gigi bisa terjadi pada usia berapa pun jika kebersihan gigi dan mulut si kecil terabaikan. Umumnya, gigi karies pada anak disebabkan oleh kebiasaan yang sering dianggap sepele berikut ini: 

1. Ngedot 

Balita bisa sampai ketiduran sambil ngedot atau menyusu dari botol. Jika dibiarkan, sisa susu atau minuman manis lainnya seperti teh manis atau jus bisa menempel dan bersarang di gigi anak dalam waktu yang lama. 

Gula yang melekat di gigi akan menjadi makanan bagi bakteri untuk tumbuh dan berkembang. Lama kelamaan, bakteri membentuk plak dan menghasilkan asam yang mengikis lapisan terluar gigi. Kombinasi dari plak dan lapisan terluar gigi perlahan akan hilang dan mengakibatkan lubang. 

2. Ngemut 

Saat mulut tertutup karena mengemut makanan, produksi kelenjar ludah berkurang. Karbohidrat dari sisa makanan di rongga mulut akan difermentasikan oleh bakteri menjadi asam. Rasa asam inilah yang menimbulkan gigi berlubang. 

3. Malas Sikat Gigi 

Jelas, malas menyikat gigi pagi dan malam sebelum tidur, dan terutama setelah makan yang manis-manis, mengundang bakteri semakin betah bersarang di gigi anak. Malas menyikat gigi bisa mempercepat pembusukan gigi anak, membuatnya menghitam dan akhirnya berlubang. 

Cara Mencegah Gigi Anak Karies

Jika sudah tahu penyebabnya, terapkan cara mudah dan sederhana ini untuk mencegah gigi karies pada anak. 

1.Hindari Menyusu Sambil Tidur 

Kalau anak masih menyusu ASI atau susu botol, jangan biarkan ia tertidur dalam keadaan menyusu. Hal ini perlu dilakukan untuk mengurangi paparan asam pada gigi anak yang menimbulkan karies gigi. 

Usahakan anak tetap terjaga setidaknya 15 menit setelah selesai menyusu, dan mintalah ia membersihkan giginya terlebih dahulu sebelum tidur. Pada saat usianya menginjak 12 bulan, ajari anak untuk mulai minum susu dari gelas. Dengan cara ini, diharapkan pertumbuhan karies gigi pada anak dapat dicegah. 

2. Mengunyah Makanan dengan Benar 

Latih anak mengonsumi makanan padat sesuai tahap perkembangan usia. Dengan demikian, anak perlahan akan menghilangkan kebiasaan mengemut makanannya. 

Latihan ini juga berfungsi memperkenalkan si kecil pada berbagai tekstur makanan. Kegiatan ini juga merangsang proses pertumbuhan serta perkembangan rahang dan gigi. 

3. Jadi Contoh yang Baik untuk Anak 

Anak akan mencontoh perilaku orang tua. Maka, Bunda dan Ayah harus memperlihatkan kebiasaan rajin menyikat gigi. Supaya lebih menyenangkan, jadikan momen sikat gigi sebagai kegiatan rutin harian yang dilakukan secara bersama-sama dengan keluarga. 

Selain untuk mengawasi aktivitas menyikat gigi si kecil, cara ini juga tepat untuk membangun ikatan antara orang tua dan anak. Jika gigi susu anak belum tumbuh, Bunda atau Ayah bisa membersihkan gusi dan mulutnya dengan kain lap lembut yang sudah dibasahi air hangat. 

Masih banyak pertanyaan seputar karies gigi pada anak? Cari tahu jawabannya di kelas online Kelasin.com ‘Kebiasaan yang Bisa Sebabkan Gigi Anak Rusak’. Di sini, semua dibahas lengkap dan Bunda bisa curhat langsung sama ahlinya. Yuk, ikutan kelasnya. Gratis! 

Sumber: Tanyapepsodent.com  

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Share

To Top