Parenting

Memaksa Anak Meminta Maaf Justru Tidak Membuat anak paham dari efek perbuatannya. Orangtua Sebaiknya Melakukan 8 Hal ini Agar Anak meminta Maaf karena Kesadaran Sendiri

Ada orangtua yang sampai memaksa menyuruh anaknya minta maaf saat berbuat kesalahan. Pemaksaan ini sebenarnya tidak akan membuat anak benar-benar paham dari efek perbuatannya sehingga dia perlu mengucap maaf.

Jadi bagaimana seharusnya orangtua mengajarkan anak meminta maaf atas kesalahannya? Berikut orangtua mengajarkan anak meminta maaf atas kesalahannya :

Memintamaaf

Keluarga adalah Pilar Pertama, berikanlah contoh dan membiasakan meminta maaf dalam keluarga

Bila anda telah bertindak salah, anda harus berani mengakuinya apalagi berada di lingkungan anak anda tumbuh. Hal ini untuk mengajarkannya secara langsung sikap yang harus dilakukannya ketika anak anda salah. Anda juga meminta maaf ketika anda bereaksi berlebihan, gunakan kata-kata yang bisa dicontohnya. Berkata, maaf  kepada anak anda bukanlah tanda kelemahan, melainkan kekuatan untuk membentuk pribadinya. Dengan contoh nyata, maka anak anda akan lebih terbiasa dengan spontan untuk meminta maaf ketika kesalahan dilakukannya.

Mendidik anak untuk belajar minta maaf sebaiknya dilakukan sejak dini untuk menjadikannya kebiasaan baik

Kenalkan pada usia balita sehingga ketika anak anda berinteraksi dengan teman sebayanya sudah dapat mengimplementasi kebiasaan meminta maaf ketika melakukan kesalahannya.
Ketika anak anda melakukan kesalahan seperti mengambil mainan teman sebayanya dan menyebabkan temannya menangis, anda dapat mengajari dengan menjelaskan terlebih dahulu lalu menyuruh anak anda untuk meminta maaf dengan cara menyalami tangan rekannya.

Hindari memberikan nasihat panjang lebar yang cenderung tidak akan didengarkannya

Saat anak berperilaku tidak baik atau melakukan kesalahan, sebaiknya hindari memberikan nasihat panjang lebar yang cenderung tidak akan didengarkannya.

Ganti nasihat tersebut dengan pertanyaan yang bisa membantu anak memahami efek dari tindakan yang dilakukannya

Misalnya saja: bagaimana perasaan kamu kalau Andi menyobek buku sekolahmu? Pertanyaan tersebut bisa membantu anak belajar bahwa mereka harus bertanggungjawab atas perasaan sedih yang dirasakan temannya atau orang yang dia kecewakan.

Anak bisa memahami bahwa marah atau sedih atau bahkan frustasi sebenarnya boleh saja, asalkan tidak merugikan orang lain

Anak juga bisa memahami bahwa marah atau sedih atau bahkan frustasi sebenarnya boleh saja, asalkan tidak merugikan orang lain, seperti menyobek buku temannya itu. Dia dapat mengerti bahwa perasaan dan tindakannya ini bisa berdampak pada orang lain.

Daripada memberikan hukuman, cobalah untuk menunjukkan penyesalan dengan cara lain. membantu anak menemukan solusi atas dampak dari tindakannya

Anda bisa bertanya pada anak: apa ya yang bisa kita lakukan supaya dia (temannya yang bukunya disobek) tidak sedih? Kemudian Anda bisa menyarankan untuk mengucapkan kata maaf sebagai langkah awal. Namun karena anak-anak lebih senang belajar melalui tindakan, langkah selanjutnya yang dapat dilakukan adalah dengan membantu memperbaiki buku yang telah disobek itu. Misalnya dengan merekatkan dengan lem atau selotip.

Jelaskan dengan meminta maaf akan mendekatkan hubungan perteman dengan siapapun, termasuk dengan teman-teman sebayanya

Bila anak anda kesulitan untuk meminta maaf terhadap kesalahan yang telah diperbuatnya, anda dapat menjelaskan dengan meminta maaf akan mendekatkan hubungan perteman dengan siapapun, termasuk dengan teman-teman sebayanya. Memiliki banyak teman mempunyai salah satu ukuran bahwa anak anda diterima dengan baik di dalam lingkungannya. Dengan demikian anak anda menyadari keberadaan teman sangat diperlukan dalam lingkungan anak anda.

Untuk Memperbaiki kesalahannya dimasa depan, Anda bisa mengajak anak bermain peran

Saat anak sudah menjalani ‘tugasnya’, memperbaiki kesalahannya, Anda bisa mengajak anak bermain peran. Tanyakah padanya: jika kamu bisa mengulang yang sudah terjadi tadi, hal berbeda apa yang akan kamu lakukan pada Andi? Berikan anak waktu untuk berpikir, kemudian bantu dia untuk menangani emosinya. Dengan cara ini anak bisa lebih memahami untuk melakukan tindakan yang positif.

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Share

To Top