Kesehatan Ibu & Anak

Ini Manfaat ASI dan Aturan Pemberiannya

Asi, manfaat asi

Bayi minum susu ternyata ada aturannya. Berikut penjelasannya:

• Hingga usia 1 tahun, susu (ASI atau Air Susu Ibu) merupakan makanan utama bayi. Hanya saja, diatas usia 6 bulan, susu tidak lagi bisa memenuhi kebutuhan nutrisinya. Jadi, mau tidak mau harus dilengkapi dengan MPASI (Makanan Pendamping ASI).

• Agar kebutuhan susu bayi Anda tidak berkurang seiring dengan dimulainya pemberian MPASI, buat saja menu makanan yang dicampur dengan ASI atau susu. Di usia 7 bulan, tekstur makanan harus lembut.

• Pilih bahan dasar bubur, yakni beras, kentang, labu kuning, ubi cilembu, oatmeal, kukus apel atau pir, mangga, alpukat, jagung, brokoli, kacang hijau, dan lainnya. Setelah dilembutkan, masukkan ASI atau susu. Meski sudah mengonsumsi MPASI, asupan susunya harus tetap terjaga.

• Sebenarnya, tidak ada patokan baku berapa banyak susu yang dibutuhkanu. Sekitar 700 – 800cc (termasuk yang dimasukkan ke makanan, dengan asumsi makan 2 – 3 kali sehari) sudah cukup. Atau, Anda bisa menyiasatinya dengan cara memberinya minuman, berupa ASI atau susu, ketika anak makan. Agar asupan ASI tetap mencukupi kebutuhan bayi, pastikan MPASI tidak terlalu banyak dan sering.

 

Berikut manfaat ASI

 

Asi, manfaat asi

adorable-book-boy-1250722 adorable-book-boy-1250722
2 Comments

2 Comments

  1. Pingback: Alasan Ketika Ibu Tak Menyusui Bayi | Sayangi Anak

  2. Pingback: Mengoptimalkan Tumbuh Kembang Anak | SayangiAnak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Begini Cara Simpan ASI Perah Saat Mati Listrik, Bun

adult-art-baby-235243 (5)

Ibu mana yang tak sedih bila melihat ASI perah beku di freezer kemudian mencair karena mati listrik? Bagaimanapun, ASI perah dalam botol-botol plastik itu memang tak ternilai harganya, Bun. Bahkan mengumpulkan ASI perah pun tak mudah. Tapi beginilah kondisi yang dihadapi banyak ibu seiring situasi blackout atau pemadaman listrik di area Jabodetabek, Banten, sebagian Jawa Barat dan Jawa Tengah kemarin.

Bahkan tak sedikit wilayah yang masih mengalami pemadaman, Bun. Lantas apa yang sebaiknya dilakukan? Haruskah ASI perah beku yang mencair akibat mati listrik itu dibuang, Bun? Berikut ini hal yang dapat Bunda lakukan. Mengutip Kumparan, berikut ini hal-hal yang perlu Bunda lakukan.

Jangan sering-sering membuka pintu freezer, Bun

Tahukah Bunda, setiap kali Bunda membuka pintu freezer, suhu di dalam freezer akan berubah dan dapat mempengaruhi ASI. Bila tidak dibuka, selama listrik mati freezer akan tetap dingin untuk sementara waktu. Jadi jangan sering-sering dibuka ya, Bun.

Isi Celah dengan Es batu

Cari penjual es batu, dan segera isi celah yang kosong dengan bongkahan atau kantong-kantong es batu, ice gel atau blue ice. Isi freezer akan lebih tahan beku dengan kondisi yang padat-rapat.

Gunakan termometer

Ukur suhu freezer dengan termometer. Termometer akan membantu Bunda memantau suhu freezer selama listrik mati. Suhu yang diharapkan adalah kurang dari 4 derajat celsius. Bila listrik mati terjadi cukup lama hingga suhu di freezer mencapai 4 derajat, Bunda perlu memindahkan segera ASI perah di dalamnya.

Pindahkan segera

Bila terpaksa memindahkan atau membawa ASIP beku ke tempat lain, lakukanlah sesegera mungkin. Caranya, isilah cooler bag atau cooler box sepenuh mungkin dengan es batu, ice gel atau blue ice yang bisa berfungsi sebagai penahan panas.

Kemudian, bungkus cooler bag atau cooler box dengan handuk atau selimut. Bunda juga perlu memiliki rencana rumah teman atau kerabat yang mana yang paling dekat dari rumah Bunda dan dapat dititipi ASIP bila ada kondisi seperti ini. Misalnya rumah teman atau kerabat yang memiliki genset.

Jangan langsung dibuang

Jika ASIP telanjur mencair, jangan buru-buru dibuang, Moms! ASIP beku yang sudah mencair sempurna bisa tahan 24 jam. Prioritaskan untuk meminumkan bayi ASIP yang mencair terlebih dahulu. Selagi tidak menyusui langsung, Anda bisa kembali memerah ASI. Yang juga penting untuk diketahui, ASIP yang sudah cair sempurna tidak boleh dibekukan kembali karena akan merusak kandungan nutrisi dalam ASIP.

Tetap ada ASI yang akhirnya terbuang? Relakan saja, Bun. Merelakannya akan membuat Bunda terhindar dari stres. Sementara bila Bunda, produksi ASI justru akan terpengaruh. Sayang, kan?

2 Comments

2 Comments

  1. Pingback: Alasan Ketika Ibu Tak Menyusui Bayi | Sayangi Anak

  2. Pingback: Mengoptimalkan Tumbuh Kembang Anak | SayangiAnak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

adorable-book-boy-1250722 adorable-book-boy-1250722

Kesehatan Ibu & Anak

Terlalu Riskan Bila Memberi MPASI Sebelum Usia Bayi Genap 6 Bulan

baby-baby-eating-chair-973970 (3)

Bun, memberikan MPASI tentu ada tahapannya ya. Biasanya bayi dapat diberikan MPASI bila sudah memasukki usia 6 bulan. Namun ada juga beberapa orangtua yang memilih memberikan MPASI sekalipun si kecil masih berusia kurang dari 6 bulan.

Padahal di usia ini, si kecil belum dianjurkan untuk menerima makanan dengan bentuk atau tekstur lain selain ASI. Ini karena usia tersebut sangat berpengaruh pada kondisi perncernaan dan daya tahan tubuh bayi yang belum sempurna.

Sementara itu, menurut dr Reza Fahlevi seperti dikutip dari Liputan6.com, sejak usia 4-6 bulan, bayi sudah mampu mengontrol kepala dan memiliki koordinasi dengan mulut. Selain itu, gusi bayi mulai mengeras dan saluran pencernaan juga sudah mulai menghasilkan enzim-enzim pencernaan.

“Namun, pada usia 4-6 bulan, kemampuan makan bayi baru dalam tahap perkembangan, sehingga belum cukup sempurna untuk menerima makanan semi padat.” jelas dr. Reza. Bayi baru benar-benar siap untuk menerima makanan semi padat pada usia 6 bulan, sehingga berbagai organisasi kesehatan anak di dunia hingga saat ini menyarankan pemberian MPASI baru bisa dimulai setelah bayi berusia 6 bulan.

Kenali Bahaya Bila Terlalu Cepat Memberikan MPASI

Sementara itu, ahli gizi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Syarief Darmawan, juga mengatakan jika Bunda memberikan MPASI pada anak yang usianya kurang dari 6 bulan, justru memperbesar peluang si kecil mengalami inflamasi usus yang akan menyebabkan terganggunya penyerapan nutrisi, Bun.

Kalau dibiarkan, nantinya masalah ini akan jadi pemicu terhambatnya tumbuh kembang si kecil. Bila tumbuh kembang terhambat, tinggi badannya akan sukar bertambah. Bunda perlu tahu, tinggi badan adalah parameter pertumbuhan yang paling mudah dikenali orang tua.

Dampak lainnya, anak juga rentan mengalami gangguan kecerdasan, motorik, ataupun gangguan fungsi tubuh lain. Jadi, orang tua sebaiknya tidak buru-buru memberikan MPASI. Meski ada teman sesama ibu yang kerap “mengompori”, sebaiknya jangan dilakukan. Pemberian MPASI yang kaya tekstur sebelum usia anak 6 bulan juga berisiko menyumbat usus yang berujung pada gangguan pencernaan.

Caritahu Tahap Pemberian MPASI ya Bun

Pemberian MPASI sendiri mesti dilakukan secara bertahap. Misalnya, mulai dari tepung beras atau yang kental namun halus, baru kemudian yang lebih kaya tekstur. Meski orang tua tidak disarankan untuk memberikan MPASI terlalu dini, ahli kesehatan juga tidak membenarkan tindakan pemberian MPASI yang terlambat. Sebab, keterlambatan pemberian MPASI dapat berdampak pada gagal tumbuh dan malnutrisi pada bayi.

“Setelah usianya 6 bulan, ASI saja tidak mampu memenuhi kebutuhan nutrisi anak, sehingga jika pemberian MPASI tidak dimulai, anak akan kekurangan energi, berisiko kena gizi buruk, serta gangguan pertumbuhan.” dr. Reza menegaskan.

Selagi memberikan MPASI, ASI pun masih wajib diberikan hingga usia anak 2 tahun. Adapun beberapa hal yang perlu diperhatikan agar Anda tidak salah dalam memberikan gizi si Kecil, antara lain sebagai berikut:

Pada usia 6-8 bulan, sekitar ⅔ kebutuhan energi bayi masih diperoleh dari ASI dan ⅓ dari MPASI.Pada usia 9-11 bulan, sekitar ½ kebutuhan energi bayi diperoleh dari ASI dan ½ lagi dari MPASI. Pada usia 12 bulan hingga 2 tahun, ⅓ kebutuhan energi bayi diperoleh dari ASI dan ⅔ diperoleh dari MPASI. Penting bagi orang tua untuk memahami soal kapan waktu yang tepat dalam mencukupi kebutuhan gizi buah hatinya.

Jangan sampai, maksud hati ingin mendukung pertumbuhan anak dengan memberikan makanan semi padat sebelum waktunya, justru membuat si Kecil mengalami gangguan kesehatan. Pemberian nutrisi sebaiknya dilakukan secara bertahap, tetapi tidak terlambat. Sebab, memberikan MPASI terlalu cepat atau terlalu lambat sama-sama berisiko buruk terhadap kesehatan anak.

Karena Memberikan MPASI Sebelum Waktunya, Dapat Membuat Si Kecil Rentan Sakit

Tak hanya organ tubuh bayi yang berusia dibawah 6 bulan belum berfungsi optimal, tapi juga dengan sistem imunnya. Biasanya sistem imun bayi masih sangat lemah dalam melindungi tubuh terhadap kuman-kuman penyakit. Maka itu, ibu tidak boleh sembarangan memberikan asupan makanan.

Pemberian makanan yang kurang higenis untuk si kecil justru bisa membuatnya rentan sakit, sebab sistem kekebalan tidak bisa melawan dengan baik. Apabila kondisi ini dibiarkan saja dan tidak diatasi maka bayi bisa mengalami masalah pencernaan.

2 Comments

2 Comments

  1. Pingback: Alasan Ketika Ibu Tak Menyusui Bayi | Sayangi Anak

  2. Pingback: Mengoptimalkan Tumbuh Kembang Anak | SayangiAnak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

adorable-book-boy-1250722 adorable-book-boy-1250722

Kesehatan Ibu & Anak

Ibu Menyusui Boleh Lho Mengonsumsi Masakan Lebaran

adult-bar-beautiful-1537635

Bun, lebaran rasanya tak lengkap tanpa kehadiran beragam hidangan khas seperti ketupat, opor, atau bahkan rendang. Hidangan dengan kuah santan, penuh lemak, sampai bercita rasa pedas mudah ditemukan saat lebaran. Menu-menu tertentu seperti gulai dan sambal goreng mungkin tak pernah absen di meja makan Bunda setiap tahunnya.

Namun bagaimana bila Bunda tengah menyusui. Pasti Bunda turut memikirkan, adakah efek yang akan dirasakan dengan mengonsumsi makanan-makanan saat lebaran?

Tenang Bun, pahami dulu tentang ASI. Pertama, Bunda harus mengetahui kalau rasa dan aroma ASI memang dapat berubah bila dipengaruhi makanan yang Bunda makan. Karenanya, bayi yang minum ASI biasanya sudah terlatih mengembangkan banyak rasa dari beragam makanan yang Bunda makan, termasuk makanan bersantan dan rasa pedas.

Kendati begitu, perubahan rasa pada ASI tak langsung menimbulkan risiko pada bayi secara langsung atau membuat si kecil mencret atau diare. Justru mengkonsumsi makanan pedas berlebihan sesungguhnya hanya berisiko pada diri Bunda sendiri, karena dapat memicu timbulnya diare atau gangguan pencernaan lainnya.

Berdasarkan informasi dari laman Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI), ibu menyusui sebenarnya bebas memilih jenis makanan yang disukai. Tapi ingat, harus tetap memperhatikan kandungan gizi dari makanan tersebut ya, Bun. Asalkan tidak berlebihan, mengkonsumsi makanan bersantan dan berbumbu pedas, seperti rendang atau sambal goreng kentang sebenarnya aman-aman saja bagi ibu menyusui.

Dan perlu dicatat, menjaga kesehatan di masa-masa menyusui itu penting. Untuk itu, sah-sah saja mengonsumsi banyak menu di saat lebaran asal porsinya tak berlebihan. Sebab menu saat lebaran terutama yang pedas tentu rentan membuat Bunda mengalami diare atau gangguan pencernaan. Kondisi ini dapat menyebabkan Bunda akhirnya mengalami dehidrasi sehingga menurunkan kualitas ASI.

2 Comments

2 Comments

  1. Pingback: Alasan Ketika Ibu Tak Menyusui Bayi | Sayangi Anak

  2. Pingback: Mengoptimalkan Tumbuh Kembang Anak | SayangiAnak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

adorable-book-boy-1250722 adorable-book-boy-1250722

Most Share

To Top