Parenting

Langkah yang Seharusnya Dilakukan Orangtua untuk Membantu Anak Menghadapi Bullying

Bullying menjadi fenomena yang masih kerap terjadi hingga sekarang baik secara verbal, tulisan, maupun fisik. Aksi bully yang melibatkan orang-orang di lingkungan sekitarnya bisa menimbulkan trauma mendalam bagi sang anak. Bagaimana peran orang tua dalam membantu anak menghadapi bullying?

Memahami Apa Pengertian Bullying Dan Hal-hal yang Termaksud di Dalamnya

Bullying sering dikenal juga dengan istilah perundungan yang memiliki pengertian kegiatan penyalahgunaan kekuatan atau kekuasaan dari seseorang kepada orang lain. Aktivitas ini dilakukan dengan menyakiti orang lain baik dalam bentuk psikis, perkataan, hingga fisik.

Korban yang mengalami bullying bisa terkena dampak traumatis mendalam hingga kelak mereka dewasa. Tak jarang ada yang akhirnya merasa depresi, sakit, dan terjebak dalam keputusasaan. Pelaku bullying sendiri biasanya dilakukan oleh senior atau orang yang memiliki kekuasaan lebih.

Sudah seharusnya aksi bullying ini segera ditindak tegas baik melalui hukuman pidana maupun sanksi sosial agar tidak ada lagi korban. Terlebih lagi ada yang sampai rela bunuh diri karena tidak kuat dengan bullying yang dilakukan oleh orang-orang sekitarnya. Tentu hal seperti ini sangat mengkhawatirkan.

Apa Saja Dampak Jika Anak Menjadi Korban Bullying?

Kasus bullying tidak hanya berdampak bagi korban saja, namun juga pelaku dan anak yang menyaksikannya. Perundungan ini masih sering terjadi di kalangan remaja dan anak-anak baik di lingkungan sekolah maupun rumahnya.

Masalah serius biasanya akan dialami oleh anak yang menjadi korban bullying. Baik dari segi fisik, kesehatan, emosional, sosial, mental, hingga akademik. Fatalnya mereka bisa melakukan tindakan yang menghabisi nyawa. Berikut ini dampak buruk yang terjadi pada korban bullying, di antaranya:

Mengalami Masalah Kesehatan Karena Dibully

Bagi yang mengalami perundungan fisik tentu akan berdampak pada masalah kesehatannya. Seperti goresan luka pada bagian tubuhnya yang akan terus membekas selamanya dan tidak bisa hilang. Bisa juga dengan rusaknya rambut karena kena jambakan, memar, dan lain sebagainya.

Bullying secara psikis juga otomatis akan berdampak bagi kesehatan sang anak. Hal ini dikarenakan ada perlakukan kasar dan ucapan yang membuat korban akhirnya merasa depresi. Kemudian berdampak pada mental hingga kesehatan karena susah makan dan sulit bahagia.

Prestasi Akademik di Sekolah Menurun Karena Fokusnya Terganggu

Anak-anak yang mengalami bullying di sekolah biasanya akan berdampak pada prestasi akademiknya yang menurun. Mereka cenderung ketakutan dan bahkan sampai ada yang tidak mau ke sekolah karena takut dibully oleh teman-temannya. Ketakutan tersebut memunculkan kecemasan setiap saat.

Terlebih lagi jika pelaku bullying tersebut masih dalam satu kelas atau satu sekolah. Anak yang menjadi korban bisa saja rela membolos jika tidak kuat dengan perlakuan teman-temannya. Korban menjadi tidak semangat lagi dalam belajar dan fokusnya untuk meraih prestasi menjadi terganggu.

Mengalami Depresi dan Kecemasan yang Berlebihan

Gangguan depresi dan kecemasan kerap dialami oleh korban bullying. Hal ini dikarenakan mereka merasa tertekan dengan perlakuan kasar dan ucapan verbal yang menyakiti hati. Perasaan sedih, cemas, dan kesepian pun semakin meningkat dalam dirinya. Apalagi jika tidak ada yang membela sama sekali.

Pola tidur akan menjadi berubah karena terus gelisah dan cemas. Selera makan menjadi berkurang karena stress dan tertekan. Mereka juga bisa kehilangan minat akan kegiatan yang sebelumnya mereka sukai. Permasalahan ini juga bisa meninggalkan traumatik mendalam hingga mereka dewasa.

Sedangkan Dampak Pada Anak Jika Menjadi Pelaku Bullying

Tidak hanya korban bullying saja yang mendapatkan dampak buruk dari aksi perundungan ini. Para pelakunya pun juga akan mendapatkan akibatnya. Karena orang yang terbiasa melakukan bullying cenderung akan melakukannya hingga mereka dewasa kelak.

Berpotensi Menjadi Kriminal

Salah satu hal yang paling dikhawatirkan terhadap anak yang melakukan bullying adalah munculnya bibit-bibit kriminal yang baru. Kebiasaan yang mereka lakukan sejak kecil akan selalu tertanam di dalam dirinya hingga kelak mereka dewasa kecuali jika bertaubat dari perbuatannya tersebut.

Sifat dan karakter kasar, ingin menguasai, dan suka menyakiti orang lain adalah karakter yang berpotensi menjadi seorang kriminal di masa depan. Jika tidak mendapatkan bimbingan atau pengawasan dari pihak terkait, tentu akan sangat berbahaya bagi masa depan sang anak kelak.

Berpotensi Menyalahgunakan Narkotika dan Alkohol

Orang yang melakukan aksi bullying biasanya didasari karena perasaan bahwa mereka memiliki kekuasaan. Dalam hal ini mereka sudah tidak peduli lagi hal baik dan hal buruk yang dilakukannya karena mereka hanya memikirkan kesenangan saat berhasil membuat korban menderita ketika dibully.

Para pelaku bullying jika terjerumus ke dalam lingkungan yang salah maka besar kemungkinannya untuk terjun ke hal-hal buruk lainnya seperti penyalahgunaan narkotika dan alkohol. Pelaku melakukan bullying bisa didasari karena faktor latar belakang keluarga hingga kurangnya rasa percaya diri dalam dirinya.

Masa Depannya Terancam

Pelaku bullying bisa dikenali dengan mudah oleh korban maupun orang-orang yang menyaksikannya. Jika ada yang sampai berani melaporkannya ke pihak tertentu apalagi media, tentu saja hal tersebut akan berpengaruh pada nama baiknya. Bukan tidak mungkin mereka akan di-blacklist di mana-mana.

Baik di dunia pendidikan maupun pekerjaan sekalipun. Sehingga kedepannya mereka akan kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan atau sekolah yang mau menerimanya. Otomatis hal tersebut akan berdampak pada masa depan anak pelaku bullying yang bakal terancam.

Cara Membantu Anak Menghadapi Bullying

Orang-orang yang menyaksikan bullying juga bisa terkena dampak dari aksi perundungan yang dilakukan oleh orang lain. Ada dua kemungkinan yang bakal dialami oleh mereka yaitu berpotensi meniru pelaku bullying atau ikut merasa depresi seperti yang dirasakan oleh korban.

Jika orang yang menyaksikan bullying tersebut merasa superior, bukan tidak mungkin suatu saat ia akan menyalahguankan kekuasaan dan kekuatannya untuk merundung orang lain. Namun, di lain sisi bisa juga mereka menjadi ikut depresi, tertekan, dan mengalami ketakutan yang sama seperti korban.

Korban bullying yang semakin marak terjadi tentu menimbulkan kekhawatiran tersendiri khususnya bagi orang tua. Mereka tentu tidak menginginkan hal tersebut terjadi. Namun, bagaimana jika anak sudah mengalami perundungan di lingkungannya? 

Berikut ini tips untuk membantu anak menghadapinya:

Mendengarkan Cerita Anak Secara Lengkap

Peran orang tua saat anak memasuki usia sekolah atau remaja juga sudah seharusnya menjadi teman yang baik dengan menjadi pendengar semua cerita anak-anaknya. Biarkan anak menyelesaikan ceritanya ketika mereka sedang bercerita dan jangan memotong kata-katanya.

Saat mengalami bullying, sang anak sudah mengalami ketakutan menghadapi pelaku. Jangan sampai mereka masih harus menghadapi ketakutan lagi saat bertemu orang tuanya karena takut diintimidasi atau disalahkan. Tenangkan mereka jika masih belum siap bercerita dan jangan terlalu dipaksa.

Tidak Perlu Beraksi Secara Berlebihan

Sebaiknya jangan terlalu bereaksi secara berlebihan ketika mendapati kabar bahwa sang anak menjadi korban bullying. Apalagi jika langsung menelepon pihak sekolah atau pihak membully, karena hal tersebut justru akan membuat anak menjadi semakin panik dan takut.

Prioritaskan ketenangan mereka dengan cara memeluk dan mengatakan bahwa Anda juga ikut merasakan apa yang sang anak alami. Beri pengertian pelan-pelan agar anak mau bercerita sampai menemukan solusi terbaik melalui mediasi atau mendatangi pelaku bullying secara langsung.

Bantu Cari Jalan Keluar Atas Masalah yang Dihadapi Anak

Ketika anak sudah tenang dan bisa bercerita dengan lancar, maka sudah saatnya Anda untuk membantu mencari jalan keluar atas permasalahan yang mereka alami. Ajak anak untuk berpikir dan mencari solusi bagaimana cara menghadapi pelaku bullying yang telah melakukan perundungan.

Jangan selalu mendiktekan dan mengambil keputusan sendiri karena hal tersebut justru akan membuat anak semakin merasa ketergantungan kepada orang tuanya. Beri ruang untuk diskusi agar ia bisa menyampaikan pendapatnya sampai akhirnya menemukan jalan tengah terbaik untuk dilakukan.

Bicarakan Kepada Pihak Sekolah

Jika aksi bullying tersebut terjadi di sekolah dan sudah berkali-kali terjadi, maka sebaiknya bicarakan dengan pihak guru di sekolah atau orang tua pelaku secara langsung. Hal ini untuk mencegah terjadinya bullying baik dengan korban yang sama maupun korban baru lainnya.

Bagaimanapun juga anak tidak akan bisa menghadapi pelaku bullying sendiri karena mereka sudah ketakutan. Sehingga anak harus dibantu oleh orang tuanya untuk bisa menyelesaikan masalah perundungan yang dialaminya. Cari solusi dengan pihak-pihak terkait agar aksi tersebut tidak terjadi lagi.

Mengajak Anak Konsultasi ke Psikologi

Korban bullying kerapkali mengalami depresi dan tekanan setelah dirundung oleh teman atau lingkungan sekitarnya. Jika Anda sudah tidak bisa membantu mengatasi sendiri dan anak masih terus merasa ketakutan, maka sudah saatnya untuk konsultasi ke psikologi.

Perlu disadari bahwa aksi bullying bisa menimbulkan traumatik mendalam hingga mereka dewasa kelak. Sebelum hal tersebut berpengaruh terhadap masa depannya, sebaiknya segera cari solusi dengan berkonsultasi ke psikologi untuk mendapatkan penanangan terbaik terhadap sang anak.

Membatasi Penggunaan Media Sosial

Aksi bullying dewasa ini tidak hanya terjadi di lingkungan secara langsung melalui perlakuan kasar pada fisik maupun ucapan. Namun, aksi perundungan ini bisa terjadi di media sosial. Malah pelakunya bisa lebih banyak karena mereka memiliki kemudahan untuk bisa bersembunyi di balik fake account.

Oleh karena itu, sebaiknya batasi penggunaan media sosial untuk anak dan nasehati mereka agar tidak bermudah-mudahan dalam memposting sesuatu. Karena khawatir hal tersebut akan menjadi bahan bully baru di kalangan netizen. Biarkan anak fokus pada prestasi dan kurangi bermain media sosial.

Bekali Rasa Berani Dalam Diri Anak

Sebagai orang tua, Anda juga bisa membekali anak dengan mengajari mereka agar berani melawan jika disakiti. Melawan dalam hal ini bukan berarti dengan melakukan aksi bullying yang sama. Namun, berani melawan yang dimaksudkan di sini adalah untuk membela diri agar tidak ada orang yang semena-mena.

Ketika anak berani membela dirinya sendiri, maka pelaku bullying pun akan segan untuk merundung anak tersebut. Ajarkan anak agar mereka percaya diri dan berani untuk melawan segala tindakan yang tidak baik. Jika mereka sudah bisa mengatasinya sendiri, tentu mental anak akan terbentuk dengan kuat.

Aksi perundungan memang cukup mengkhawatirkan dan sering menyebabkan korban mengalami depresi. Cara membantu anak menghadapi bullying di atas bisa Anda coba agar tidak meninggalkan traumatik mendalam pada diri sang anak yang dapat membekas hingga kelak mereka dewasa. 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Anak Jadi Korban Bullying, Ini Cara Menghadapinya

mengatasi-bullying

Orang tua manapun akan sakit hati jika mengetahui anaknya menjadi korban bullying atau perundungan. Sedih, marah, bingung, campur aduk rasanya. Namun, sebagai orang tua, Kelasiana harus menguatkan anak.   

“Korban bullying tak hanya menderita secara fisik tetapi juga mengalami gangguan psikologis yang bisa mengakibatkan pengalaman traumatis,” kata Irma Gustiana A, M.Psi, Founder Ruang Tumbuh Pusat Konsultasi Psikologi, Terapi dan Pengembangan Diri. 

Disebutkannya, akibat yang ditimbulkan bisa berdampak anak menjadi menarik diri, minder, merasa dikucilkan, kehilangan selera makan, kehilangan motivasi, depresi, sampai ingin bunuh diri.  Lantas, harus bagaimana orang tua ketika anak menjadi korban bullying?

Irma menyebutkan sejumlah langkah yang harus dilakukan orang tua, sebagai berikut: 

1. Ajarkan anak untuk asertif atau berani membela dirinya. Misalnya dengan mengatakan: “Stop jangan ganggu saya.” 

2. Ajarkan anak segera berteriak ketika ia diancam, agar bisa dibantu oleh orang lain yang ada disekitarnya. 

3. Ajarkan anak untuk tidak peduli jika ia diejek dan segera pergi dari tempat tersebut. 

4. Pada anak-anak balita dan usia sekolah, kegiatan bercerita dengan cara mendongeng dapat dijadikan media edukasi bagi anak.

Sementara untuk anak remaja sampai dengan mahasiswa, kegiatan diskusi antara orang tua dan anak dapat dilakukan untuk memberikan informasi mengenai bullying. 

5. Ajari anak teknik bela diri untuk mempertahankan haknya. Namun, berikan pemahaman pada anak, bahwa apa yang mereka pelajari hanya digunakan dalam keadaan mendesak, yakni ketika mereka terancam keselamatannya.   

Hindari mengajari anak balas dendam, karena dengan demikian, secara tidak langsung orang tua malah mengajari anak untuk menjadi pelaku bullying.  

6. Lakukan pendekatan personal kepada anak, agar mereka selalu bersikap terbuka pada orang tua. 

Dengan cara-cara tersebut, Kelasiana memastikan anak-anak aman dari lingkungan yang melakukan bullying. Selain itu, juga memberi tahu anak apa yang harus dilakukan bila mendapat perlakuan tidak menyenangkan.  

 “Selalu hadir untuk anak saat dibutuhkan dan berikan banyak cinta yang bisa membuatnya selalu percaya diri menghadapi hari-harinya,” pesan Irma.  

Jika Kelasiana punya banyak pertanyaan seputar bullying, ada kelas online di Kelasin.com dengan tema ‘Mencegah  agar Anak Tidak Menjadi Korban Bullying’.   

Di sini, semua dibahas lengkap dan Kelasiana bisa curhat langsung sama ahlinya. Yuk, ikutan kelasnya. Gratis!

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Share

To Top