News

Kehangatan Keluarga Adalah Hak Setiap Anak

WhatsApp Image 2019-05-26 at 7.24.13 AM(2)

Lebih dari setengah populasi warga yang tinggal di kota-kota besar akan kembali ke keluarga saat mudik lebaran untuk bisa kembali kepada keluarga mereka. Setidaknya 9 dari 10 anak yang tinggal di Panti Asuhan juga memiliki harapan yang sama untuk bisa kembali tinggal di keluarga. Hal ini dikarenakan lebih dari 90% anak yang berada di panti asuhan setidaknya masih memiliki salah satu orang tua. Adanya gerakan Save the Children pun guna mendukung harapan anak-anak untuk bisa kembali pada keluarganya.

“Save the Children percaya bahwa keluarga merupakan tempat terbaik bagi anak untuk tumbuh dan berkembang, hal ini dibuktikan dari beberapa penelitian kami bahwa anak-anak yang berada di dalam pengasuhan keluarga meskipun berada di dalam keluarga yang mengalami kondisi kesulitan ekonomi bisa mendapatkan kasih sayang, perlindungan dan perhatian yang tidak bisa tergantikan dibandingkan lembaga pengasuhan yang terbaik sekalipun”, ujar Didiek Eko Yuana, Central Area Senior Manager Save the Children saat ditemui dalam Kegiatan Kampanye “Kembali Pulang, Kembali ke Keluarga” di Gedung Da’wah Muhamadiyah.

Save the Children sendiri merupakan bagian dari gerakan global internasional yang berfokus pada anak-anak dan beroperasi di lebih dari 120 negara di dunia. Di Indonesia dan di seluruh dunia, organisasi ini memastikan kesehatan anak-anak sejak dini, kesempatan untuk belajar, dan perlindungan terhadap bahaya.

Dalam kesempatan yang sama, Peri Sopian, Kepala Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Kuncup Harapan mengungkapkan anak-anak yang berada di panti asuhan karena harapan dari orangtua mereka untuk bisa mendapatkan pendidikan, ada harapan besar untuk kehidupan anak yang lebih baik dari orang tua ketika menitipkan anak-anak di panti asuhan, walaupun memisahkan anak dengan keluarga untuk mendapatkan pendidikan ataupun kehidupan yang lebih baik seharusnya merupakan sebuah pilihan yang tidak perlu dilakukan.

Semua anak memiliki hak untuk diasuh oleh orang tuanya. Bersama dengan orang tua, anak akan mendapatkan pengasuhan yang penuh dengan kasih sayang dan perlindungan.

“Tidak bisa dipungkiri, sebaik apapun LKSA, kasih sayang dari orang tua adalah hal yang paling utama. Anak-anak seharusnya tumbuh dalam lingkungan keluarga yang aman bagi mereka,” ujar Peri.

Nur (bukan nama sebenarnya), saat ini ia berusa 16 tahun, ia sudah tinggal di LKSA lebih dari 3 tahun. Bagi Nur dengan tinggal di Panti Asuhan ia bisa mendapatkan pendidikan yang layak, tetapi Nur juga mengungkapkan “Mungkin akan lebih baik jika tinggal bersama dengan keluarga, karena tidak ada anak yang tidak ingin tinggal dengan keluarganya”.

Keterpisahan anak dengan keluarganya dirasakan berat tidak hanya oleh anak tetapi juga oleh pihak keluarga. Hal ini dialami oleh SA (35), yang juga merasakan manfaat dari reuniikasi atau kembalinya anak pada keluarga dengan mengungkapkan,

“Mohon maaf sekali kepada anak saya, dulu kami terpaksa menitipkan dia ke Panti, tetapi sejak dia sudah bisa kembali tinggal ke rumah, kami begitu bahagia, dan saya begitu semangat untuk menjaga stabilitas keluarga, agar kami tidak perlu terpisah karena hal-hal yang tidak perlu.”

adorable-book-boy-1250722 adorable-book-boy-1250722
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Tips Ajarkan Dua Bahasa pada Anak

adorable-book-boy-1250722

Selain bahasa ibu alias bahasa Indonesia, kini banyak orangtua yang mengutamakan buah hatinya agar memiliki kemampuan berbahasa asing misalnya saja bahasa Inggris. Orangtua berpikir, dengan memiliki kemampuan tersebut, maka akan memudahkan buah hatinya meniti karier di masa depan. Namun kapan sebaiknya mengajari si kecil berbahasa asing? Sejatinya belajar bahasa asing pada anak-anak bisa dilakukan sedini mungkin. Hal ini supaya mereka lebih mudah menyerap kosa kata dan pola bahasa yang dipelajari.

Sebagai contoh, Bun, anak kecil saja bila menonton kartun berbahasa inggris lambat laun tak akan asing bahkan mulai berani berbicara dalam bahasa Inggris. Nah, mengutip Very Well Family, sekitar 12 persen anak di atas usai 5 tahun merupakan bilingual atau bisa berbicara dalam dua bahasa.

Sebuah penelitian menunjukkan, mengajarkan anak dalam dua bahasa jauh lebih mudah jika dilakukan sejak dini. American Speech-Language-Hearing Association menjelaskan ada beberapa keuntungan mengajarkan dua bahasa kepada anak. Mulai dari bisa belajar kata-kata baru dengan cepat, meningkatkan kemampuan mempelajari informasi baru, lebih mudah menyelesaikan masalah, serta punya keterampilan mendengarkan lebih baik.

Sebagai panduannya, berikut ini cara yang tepat yang dapat Bunda lakukan untuk mengajarkan dua bahasa pada anak.

Perdengarkan Suara-suara yang Unik ya Bun

Pada usia dua atau tiga tahun, anak biasanya sedang dalam proses mengenali pola bicara, Bun. Untuk itu cobalah untuk mengajarkan dua bahasa padanya dengan suara-suara yang unik. Di usia tersebut, mereka dengan mudah lebih mengenali suara. Selain itu, menurut Francois Thibaut, Director of the Language Workshop for Children, di New York City, Anda bisa mengajarkan mereka dengan cara memperdengarkan musik lho.

Usahakan Bunda Menciptakan Lingkungan Belajar yang Santai Untuknya

Thibaut mengatakan, cara terbaik untuk mengajarkan bahasa baru pada anak adalah dengan membiarkannya mendengarkan percakapan seseorang yang sudah lancar berbahasa tersebut. Kelak secara alami ia akan mencoba untuk bicara juga. Apalagi anak yang berusia 2 atau 3 tahun juga suka meniru apa yang mereka dengar.

Namun pastikan Bunda dan pasangan pun juga sudah fasih berbicara dengan bahasa yang ingin diajarkan pada anak ya Bun. Hal itu untuk memudahkan si kecil memahami arti dari kata-kata dan frasa yang pendek yang Bunda ucapkan.

Ajarkan Kata Demi Kata

Jika tidak ingin melakukan pelajaran formal kepada anak, Bunda bisa memperkenalkan dasar-dasar bahasa tersebut dengan menunjukkan suatu benda memiliki dua bahasa. Manfaatkan kartu-kartu permainan yang punya dua bahasa dilengkapi dengan gambar. Selain itu, Bunda juga bisa menggunakan video-video tutorial untuk mengajarkan dua bahasa pada anak di YouTube. Jangan lupa untuk terus mengulang pelajaran tersebut sesering mungkin, agar anak cepat memahami.

Meski begitu, ada beberapa hal yang perlu Anda pertimbangkan sebelum mengajarkan si kecil lebih dari satu bahasa. Kunci terpenting, Bunda dapat mengajarkan si kecil belajar bahasa asing sebagai bahasa kedua setelah ia menguasai banyak kosakata dari bahasa ibu, ya Bun. Dengan begitu anak tidak kesulitan membedakan kosakata dari bahasa ibu dengan kosakata dari bahasa asing.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

adorable-book-boy-1250722 adorable-book-boy-1250722

Parenting

Cerita Donna Agnesia Urus Tiga Buah Hati yang Beranjak Remaja

donna

Bun, sebagai seorang ibu, tentu kita punya tantangan masing-masing dalam menjalankan peran ya. Nah, hal ini juga yang dirasakan oleh Donna Agnesia. Perempuan yang menikah dengan Darius Sinathrya ini dikaruniai tiga orang anak yaitu Lionel Nathan Sinathrya Kartoprawiro, Diego Andres Sinathrya dan Quinesha Sabrina Sinathrya.

Sebagai wanita karier sekaligus ibu dengan tiga anak, Donna pun dituntut untuk dapat membagi waktu. Bagi Donna, salah satu hal penting yang harus diperhatikan oleh ibu bekerja adalah memastikan kebutuhan anak-anaknya terpenuhi, meskipun tak bisa mendampingi selama 24 jam.

“Saya pergi keluar rumah, saya pastikan anak-anak di rumah kebutuhannya terpenuhi. Dia tidak pernah kehilangan kasih sayang, walaupun papa mamanya sibuk bekerja,” kata Donna Agnesia seperti dikutip dari Kumparan, Selasa (25/6).

Donna mengatakan seorang ibu harus bisa menguasai banyak hal. Bukan hanya pintar mengatur keuangan dan anak, tapi juga bisa melihat bakat dan masa depan anak-anaknya.

“Aku juga masih belajar terus jadi ibu yang sempurna, paling enggak buat anak-anak saya dan oh ya, happy mom, happy life. Happy mom, happy kids,” tuturnya.

Ia juga mengatakan, sosok seorang ibu pun harus mampu menjadi teman, kakak, bahkan menjadi sosok ayah untuk anak-anaknya. Ia pernah merasakan peran sebagai ayah ketika Darius meninggalkan rumah untuk bekerja dalam waktu yang lama.

Kendati demikian, tanggung jawab untuk mengurus buah hati bukan hanya ada di tangan ibu saja. Kehadiran ayah juga penting untuk tumbuh kembang anak-anaknya.

“Saya bilang ke Darius, ‘kita punya dua anak laki-laki, tapi di rumah isinya perempuan semua, butuh figur laki-laki. Jadi, kalau kamu lagi punya waktu di rumah manfaatkanlah itu untuk quality time sama anak-anak’,” ujar Donna.

Darius pun selalu menanamkan cara menjadi laki-laki yang baik kepada anak-anaknya ketika mereka sedang berkumpul bersama.

“Supaya anak bisa jadi laki-laki yang baik dan membangun keluarga, enggak bisa salah satu. Anak-anak bahagia itu, kalau melihat orang tuanya akur, rukun, gitu kan anak-anak jadi rasakan di keluarga,” tutup Donna Agnesia.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

adorable-book-boy-1250722 adorable-book-boy-1250722

Parenting

Film Toy Story 4, Ajarkan Empat Nilai Hidup Pada Anak

toystory

Petualangan Woody, si boneka kayu bersama teman-temannya akhirnya kembali lagi ke layar lebar dalam film Toy Story 4. Film besutan Disney dan Pixar ini juga menghadirkan beberapa karakter baru yang tak kalah seru.

Sutradara Josh Cooley menjelaskan, pada sekuel lanjutan kali ini akan mengungkap kehidupan Woody bersama teman-teman mainannya dan pemilik barunya, Bonnie. Bila Bunda masih ingat, di akhir film sebelumnya, pemilik Woody, Andy, memberikan semua mainan bonekanya ke Bonnie. Di awal kehidupan Woody bersama Bonnie baik-baik saja. Tapi ketika sang pemilik menemukan mainan baru, Woody pun dilupakan.

Kehidupan Woody sejak awal film Toy Story memang diceritakan tak mudah dan penuh tantangan. Menariknya, film ini selalu menawarkan jalan cerita yang begitu detail dengan unsur komedi yang menghibur hampir di setiap adegan. Selain itu, banyak juga nilai moral yang bisa Bunda ajarkan ke si kecil.

Mengajarkan Si Kecil untuk Menghargai Diri Sendiri

Bila Bunda menonton trailernya, maka Bunda akan melihat ada karakter mainan baru yang muncul dan dibuat oleh Bonnie dari garpu bekas bernama Forky. Forky selalu merasa dirinya ‘sampah’ dan bukan mainan. Saat itulah Woody berusaha menunjukkan pada Forky bagaimana dia harus menghargai dirinya sebagai mainan. Woody coba menunjukkan kasih sayang Bonnie pada Forky sebagai mainan barunya.

Berbicara tentang menghargai diri sendiri, konsultan kesehatan mental, Mary Ann Benson, M.S.W.,L.S.W mengatakan menghargai diri sendiri adalah salah satu komponen yang bisa dipelajari anak sejak kecil. Cara terbaiknya, orang tua menjadi role model anak.

“Jelaskan pada mereka bahwa dirinya itu adalah individu yang penting. Jangan hanya fokus tentang apa yang menjadi pikiran orang, tapi apa yang kita rasakan,” kata Benson, dikutip dari Educate Empower Kids.

Mengajarkan Si Kecil Untuk Berani Ambil Risiko

Sepintar dan selincah apapun Woody, ia termasuk sosok yang takut mengambil risiko untuk dirinya sendiri. Baginya dia cuma punya tugas untuk membuat pemiliknya bahagia. Di akhir cerita, keberanian Woody diuji untuk mengambil risiko terbesar dalam hidupnya.

Mengutip dari Scary Mommy, penulis When Mommy Has Our Baby, Rachel Cedar, MSW mengatakan jika sebagai orang tua kita tidak boleh ragu saat anak mencoba mengambil risiko. Jika tidak didukung, anak bisa takut, selalu khawatir dan berpikir dirinya lemah.

Tentunya Mengajarkan Nilai Tentang Persahabatan

Sejak film pertamanya, Toy Story selalu menghadirkan kisah kesetiakawanan dan persahabatan. Bedanya, kali ini Woody dibantu teman lamanya Bo Peep dan teman-teman barunya Giggle McDimples, Duke Caboom, serta sepasang boneka lucu Bunny dan Ducky untuk menyelamatkan Forky dan melawan boneka bernama Gabby.

Dari film ini kita belajar bahwa teman itu begitu penting, Bun. Kata penulis buku Nobody Likes Me, Everybody Hates Me, Michele Borda, teman bisa membuat kita nyaman di lingkungan baru.

“Teman bisa buat anak nyaman dengan lingkungan baru seperti di taman kanak-kanak. Mereka bisa fokus dengan tugas belajarnya ketimbang dengan siapa mereka main,” ujar Borda dilansir Parents.

Dan Melatih si Kecil untuk Berpikir Lebih Terbuka

Adanya tokoh baru yaitu Bo Peep akan mengajarkan hal baru pada Woody. Bo Peep selama ini hidup bebas karena tidak ada pemiliknya, Bun. Selain berpetualang, Bo Peep juga membuka pikiran Woody untuk melihat dunia luar. Bahwa tanpa pemilik pun, mereka tetap bisa menghibur anak-anak lainnya.

Mengutip dari Motherly, mengajarkan anak untuk berpikir terbuka dimulai dari orang tua. Artinya kita harus mencontohkan juga ke anak. Cara Bunda melatihnya adalah sering ajukan pertanyaan, ajak mereka bereksplorasi dan ajari mereka jadi pendengar yang baik ya Bun.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

adorable-book-boy-1250722 adorable-book-boy-1250722

Most Share

To Top