Mom Life

Kegalauan yang Sering Dirasakan Ibu Bekerja

Menjadi ibu rumah tangga ataupun ibu bekerja adalah pilihan pribadi setiap keluarga. Masing-masing pilihan mempunyai kekurangan dan kelebihan yang tidak bisa dibandingkan. Tidak seharusnya kedua hal ini dibenturkan hingga menjadi mom war. Tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk selama bunda tetap menjalankan kewajiban sebagai ibu.

Tantangan menjadi ibu bekerja pastinya berbeda dari ibu rumah tangga. Bukan berarti ibu rumah tangga lebih enak, tetapi setiap pilihan memiliki konsekuensi yang berbeda. Ibu yang memilih berkarir setelah mempunyai anak pasti telah mempertimbangkannya dengan baik sebelum mengambil keputusan. Namun, tak jarang ibu bekerja masih mengalami kegalauan ketika harus meninggalkan buah hati untuk bekerja.

Berikut beberapa hal yang sering membuat ibu bekerja sering merasa bersalah:

1. Merasa kurang memberikan waktu bersama anak

Ibu yang bekerja tentu saja tidak bisa menemani anak 24 jam penuh. Ibu harus membagi waktu antara kantor dan rumah. Oleh karena itu, ibu bekerja sering merasa bersalah karena meninggalkan si kecil dan tidak bisa menyaksikan tumbuh kembangnya setiap saat.

2. Tidak tenang ketika menitipkan anak kepada orang lain

Seorang ibu pasti merasa tidak tenang ketika menitipkan anak kepada orang lain, entah itu pengasuh, daycare, atau saudara sendiri misal kakek-nenek. Khawatir dengan pola asuh yang mungkin saja berbeda serta keraguan apakah mereka benar-benar memperhatikan si kecil.

3. Komentar orang lain

Selain khawatir dengan si kecil, komentar orang lain juga menjadi penyebab kegalauan ibu bekerja. Komentar seperti, “ibu yang tidak bertanggung jawab” atau “lebih mementingkan karir dan gaji dari anak” sering didapatkan ibu bekerja. Padahal, apapun alasan ibu memutuskan untuk berkarir, setiap ibu pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya.

Kegalauan atau dilema di atas wajar terjadi. Namun, bunda harus menguatkan hati dan tekad agar bisa fokus menjalani peran. Bunda bisa mengganti waktu kebersamaan yang hilang selama bekerja dengan quality time setelah pulang.

Oleh karena itu, hindari membawa pekerjaan kantor ke rumah, agar bunda bisa fokus menikmati waktu dan momen berharga bersama si kecil.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Lifestyle

Selain Sulit Membagi Waktu, Ini Adalah Tantangan Ibu Freelance dalam Mengurus Rumah Tangga

Berdasarkan survei, ibu rumah tangga adalah yang paling banyak mencari pekerjaan freelance. Tentu tak bisa dipungkiri bahwa kewajiban utama mereka adalah mengurus rumah tangga. Namun, agar tetap memiliki penghasilan sendiri, beberapa ibu rela menghadapi tantangan ibu freelance dan meninggalkan karir tetap.

Beberapa Tantangan yang Biasa Dihadapi Ibu Freelance

Freelance merupakan jenis pekerjaan tidak tetap yang dilakukan ketika ada panggilan atau proyek tertentu. Sehingga tidak ada keterkaitan waktu dan tempat bagi mereka yang mengambil pekerjaan freelance. Namun, meski demikian faktanya ada tantangan tersendiri yang harus dihadapi oleh ibu freelance, di antaranya adalah :

1. Terkadang Sulit Membagi Waktu Antara Bekerja dan Mengurus Rumah Tangga

Membagi waktu antara mengurus rumah tangga dengan menyelesaikan pekerjaan adalah tantangan utama yang harus dihadapi oleh ibu freelance. Mereka harus pintar-pintar dalam menentukan prioritas mana dulu yang harus dikerjakan namun tetap bisa menghandle semua pekerjaan dengan baik. 

Tentu prioritas utama adalah anak dan rumah. Namun, ibu yang memiliki pekerjaan freelance tetap harus bisa membuat jadwal harian dan membagi waktu dengan sebaik-baiknya untuk kerjaan dan rumah. Terlebih lagi jika freelance kerjaan yang diambil harus dilakukan di luar rumah. 

2. Nominal Penghasilan yang Tidak Stabil di Setiap Bulan, Kadang Ada – Kadang Tak Ada

Tidak seperti karyawan tetap yang pada umumnya mendapatkan gaji yang stabil setiap bulannya, maka freelancer adalah tergantung dari seberapa banyak ia mengambil job. Semakin banyak proyek atau pekerjaan yang diambil, maka semakin banyak uang yang akan didapatkan. Begitu pun sebaliknya. 

Sehingga penghasilan ibu freelance tidak bisa ditentukan satu bulannya ada berapa. Kecuali jika ada proyek tetap yang diambil. Namun, pada umumnya pendapatan freelancer tidak stabil terkadang bisa banyak, terkadang sedikit, dan bahkan bisa tidak ada sama sekali. Tentu ini menjadi tantangan tersendiri.

3. Tidak Ada Cuti Khusus Untuk Ibu Hamil dan Melahirkan

Tidak seperti bekerja formal di bawah perusahaan atau instansi yang menetapkan cuti khusus baik untuk ibu hamil dan melahirkan, maka freelancer tidak bisa mendapatkan privilege tersebut. Namun, mereka tetap dapat mengambil libur secara fleksibel meskipun tidak mendapatkan gaji. 

Hal ini dikarenakan pekerja freelance tidak ada terikat pada perusahaan atau jam kantor sehingga tidak ada penetapan cuti khusus untuk melahirkan. Mereka mengambil cuti atau libur pekerjaan atas dasar keinginan sendiri dan tidak bisa mendapatkan gaji saat cuti sebagaimana karyawan tetap perusahaan.

4. Tidak Ada Jaminan Perlindungan Diri dari Perusahaan

Berdasarkan peraturan UU Ketenagakerjaan, maka perusahaan wajib memberikan perlindungan kesehatan hingga jaminan pensiun untuk karyawannya. Jaminan tersebut tidak akan didapatkan oleh ibu freelance yang mengambil pekerjaan secara fleksibel dan tidak dinaungi perusahaan atau instansi.

Mereka hanya bisa mengandalkan jaminan dari kantor suami jika suaminya bekerja di perusahaan atau instansi pemerintah. Namun, jika suaminya juga freelancer dan tidak memberikan jaminan perlindungan untuk istri, maka Bunda harus mencari secara mandiri dengan mendaftar di penyedia jasa asuransi. 

5. Jika Ingin Rutin Berpenghasilan, Harus Proaktif dalam Mencari Job

Ibu freelance akan mendapatkan gaji dari pekerjaan yang mereka selesaikan. Jika tidak ada pekerjaan maka tidak ada gaji. Itulah pentingnya untuk selalu proaktif dalam mencari job karena jika hanya diam dan tidak sibuk mencari pekerjaan, maka tidak akan ada pemasukan dan tentu ini sangat tidak diinginkan.

Bagi wanita yang sudah biasa bekerja, mencari uang sendiri adalah bentuk tanggung jawab karena ingin tetap berusaha mandiri meskipun sudah ada uang bulanan dari suami. Bunda bisa aktif mencari job dengan menghubungi rekan, partner, atau mencarinya di internet baik melalui situs website atau aplikasi. 

Keuntungan Bekerja Freelance Bagi Ibu Rumah Tangga

Meskipun memiliki tantangan tersendiri, bekerja freelance juga memiliki banyak keuntungan khususnya bagi ibu rumah tangga yang juga memiliki kewajiban lain untuk mengurus rumah. Itulah mengapa banyak ibu rumah tangga yang akhirnya memilih menjadi freelancer. Berikut ini beberapa di antaranya:

1. Bisa Dikerjakan dari Rumah/Remote Working atau Dari Mana Saja

Salah satu keunggulan bekerja secara freelance adalah Bunda bisa mengerjakannya di rumah sehingga tidak harus meninggalkan anak dan tetap bisa mengurus mereka secara full setiap hari. Mereka yang mengambil freelance remote working tidak harus menghadapi crowded-nya jalanan yang sering macet. 

Sambil bekerja dan berpenghasilan Bunda tetap bisa mengawasi anak dan mengikuti tumbuh kembangnya di masa golden age. Tentu ini menjadi keuntungan sendiri apalagi bekerja freelance tidak terikat tempat dan waktu. Semua bisa dikerjakan kapan saja asal sesuai deadline dan di mana saja. 

2. Waktu Bekerja yang Lebih Fleksibel, Bisa Dikerjakan Sesuai Waktu yang Kita Miliki

Tidak seperti bekerja di kantor atau pabrik yang ditetapkan jam kerjanya mulai dari pagi hingga sore. Bunda bisa dengan bebas menentukan waktu untuk bekerja secara fleksibel. Pekerjaan freelance bisa dikerjakan saat pagi hari, siang hari, atau malam hari sekalipun ketika anak sudah tidur. 

Ini akan memberikan keuntungan bagi ibu rumah tangga karena tetap dapat mengatur rumahnya dengan baik tanpa khawatir terbengkalai meskipun tetap bekerja. Apalagi jika tiba-tiba anak rewel, Anda tidak ada beban untuk mengurusnya karena waktu kerja ditentukan sendiri dan tidak terikat. 

3. Tidak Terikat Tempat dan Waktu Bekerja, Bebas Mau Dikerjakan Kapan dan Dimana

Menjadi freelance adalah  jenis pekerjaan yang sangat cocok bagi Bunda yang menyukai sistem kerja fleksibel. Tak ada kekangan waktu dan tempat kerja. Bekerja secara freelance artinya bebas dalam menentukan waktu dan tempat di mana akan mengerjakan job sehingga cocok bagi ibu rumah tangga. 

Enaknya lagi, Bunda juga bisa mengambil pekerjaan sesuai mood. Jika sedang ingin bekerja maka bisa ambil job, jika sedang ingin rebahan maka tinggal tidak mengambil job apapun. Freelancer juga tidak harus terikat harus bekerja mulai dari pukul 09.00 – 17.00 seperti orang yang bekerja di kantor pada umumnya. 

Tidak Ada Office Politic yang Harus Dihadapi

Permainan politik di kantor masih sering terjadi seperti praktek korupsi maupun nepotisme. Belum lagi persaingan yang tidak sehat antara rekan kerja yang satu dengan lainnya. Hal ini seringkali membuat suasana kerja menjadi tidak kondusif dan tidak nyaman hingga akhirnya semakin stress dan tertekan. 

Jika bekerja secara freelance, Bunda tidak menemukan adanya permainan politik. Entah bos yang pilih kasih atau rekan kerja yang bersaing dengan tidak sehat dan main sikut-sikutan. Semua pekerjaan bisa Bunda lakukan secara fleksibel sendiri tanpa harus ada office politic. Sehingga bekerja pun jadi lebih tenang dan rileks. 

Bisa Mencoba Berbagai Macam Jenis Pekerjaan

Berhubung tidak terikat waktu dan tempat kerja, maka freelancer bebas untuk mencoba berbagai jenis pekerjaan lain agar bisa menambah pengalaman. Misalnya Bunda memiliki banyak skill yang sayang jika tidak dikembangkan, maka bisa mencari pekerjaan yang relevan dengan keterampilan tersebut. 

Bunda juga tidak harus terpaku pada satu jenis pekerjaan saja jika memiliki banyak skill. Keterampilan yang dimiliki pun tidak hilang begitu saja karena tidak pernah di atas. Setiap ada kesempatan mendapatkan pekerjaan sesuai skill yang dikuasai, jangan ragu untuk mengambilnya. 

Bisa Menambah Networking yang Bunda Miliki

Ketika memutuskan untuk mengambil pekerjaan freelance, maka Bunda tidak hanya terpaku pada satu perusahaan saja. Freelancer bisa menambah banyak networking dan kenalan dari berbagai lini pekerjaan yang diambil. Ini menjadi keuntungan tersendiri karena siapa tahu bisa menjalin kerja sama. 

Bisa bertemu dengan banyak orang baru dengan berbagai jenis keahlian tidak hanya bisa menambah networking saja. Bunda juga bisa menambah ilmu dan wawasan dari hasil sharing bersama rekan, klien, atau orang-orang yang berkaitan dengan pekerjaan freelance. 

Jenis Pekerjaan Freelance yang Cocok Untuk Ibu Rumah Tangga

Bagi ibu rumah tangga yang sedang mencari pekerjaan freelance, beberapa rekomendasi jenis pekerjaan berikut ini bisa dicoba. Pilihlah pekerjaan yang sesuai dengan keterampilan dan fleksibilitas waktu yang dimiliki. Sehingga meskipun di rumah masih tetap bisa menghasilkan uang. 

1. Penulis Online Lepas

Bagi Bunda yang memiliki keterampilan menulis dan suka dunia tulis-menulis, maka pekerjaan ini sangat cocok untuk diambil. Saat ini banyak pemilik website yang membutuhkan jasa penulis untuk membuat konten di situsnya. Karena tidak mungkin membuat semua sendiri, mereka pun membutuhkan freelancer. 

Tidak hanya menulis untuk website atau blog, jika Bunda hobi menulis novel fiksi atau jenis tulisan lainnya, maka bisa mencoba mengekspresikan karyanya melalui aplikasi Wattpad. Di sini penulis bisa mendapatkan fee dari pembaca yang membayar fee atau penerbit yang tertarik dengan tulisan tersebut. 

2. Bisnis Microstock

Jenis pekerjaan freelance yang satu ini sangat cocok untuk Bunda yang hobi dengan kegiatan menggambar grafis menggunakan software tertentu. Baik Corel Draw, Adobe Illustrator, Photoshop, Inkscape, dan lainnya. Cara menjalani pekerjaan ini pun terbilang sangat mudah. 

Bunda bisa menjadi kontributor di agensi microstock seperti freepik, shutterstock, dreamsteam, dan lainnya. Jenis pekerjaan ini juga sangat cocok bagi pecinta fotografi yang memiliki keahlian memotret. Jika foto yang diupload menarik, maka bukan tidak mungkin ada yang tertarik untuk membayar mahal. 

3. Youtuber/Blogger

Youtuber/Blogger adalah profesi yang cukup menggiurkan apalagi sudah terbukti banyak orang yang telah sukses meraup banyak uang dari pekerjaan ini. Sebagai ibu rumah tangga yang paham betul tentang dunia perdapuran atau parenting, maka bisa mencoba peruntungan di jenis pekerjaan ini. 

Bunda bisa membuat konten yang berhubungan dengan alat-alat dapur, tips menyimpan makanan, resep-resep masakan, cara mendidik anak, permainan yang seru untuk anak, dan masih banyak lagi. Melalui platform Youtube atau blog ini ibu freelance tetap bisa berkarya dan berkreasi sesuai keterampilannya. 

4. Jualan Online

Adanya media sosial dan marketplace yang kini semakin banyak menjamur, membuat peluang bisnis online patut untuk dilirik. Apalagi saat ini sudah banyak tersedia sistem dropshipper atau marketer yang tidak mengharuskan Bunda untuk menyetok barang dengan modal yang tidak sedikit. 

Menariknya lagi, pihak produsen biasanya sudah memberikan katalog produk yang bisa Bunda sebarkan melalui media sosial atau marketplace. Sudah banyak bukti sukses ibu rumah tangga yang meraup untung banyak dengan berjualan online baik makanan, fashion, skincare, dan lain sebagainya. 

Tantangan ibu freelance memang tidak mudah, namun jenis pekerjaan ini sangat direkomendasikan untuk Bunda yang tidak ingin kehilangan momen melihat tumbuh kembang anak di masa golden age. Apalagi pekerjaan tersebut bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja. 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Ibu Bekerja di Kantor Tetap Bisa Mengurus dan Mendidik Anak, Ini Buktinya

Banyak yang bilang, ketika sudah mempunyai anak, seorang istri sebaiknya jadilah ibu full time yang merawat anak-anaknya seratus persen. Pendapat itu memang baik, tetapi sayangnya tidak semua wanita bisa melakukan hal demikian.

Masalahnya, karena berbagai faktor, seorang ibu masih harus tetap bekerja di kantor yang menyebabkan dia tidak bisa full time merawat anak-anaknya di rumah. Fenomena ini seringkali membuat ibu yang bekerja jadi cibiran tetangga atau orang-orang disekitarnya.

Tak perlu merasa bersalah, Anda juga masih bisa kok jadi ibu yang baik meski bekerja. Ini bukti Anda masih bisa mendidik anak dengan baik meski berperan ganda.

Ibu yang bekerja selama 8 jam di kantor mengerjakan arti kemandirian sekaligus tanggung jawab pada anak-anaknya

Ketika ibu bekerja di kantor, sementara anak-anak di rumah. Ini bukan berarti seorang ibu tidak bertanggung jawab karena tidak mengawasi anak-anak. Justru, dengan keadaan seperti ini menjadi kesempatan untuk mengajarkan anak-anak tentang kemandirian dan belajar bertanggung jawab selama ibu berada di kantor.

Selama ibu tidak ada, ajarkan mereka untuk mengurus perlengkapannya sendiri, membantu pekerjaan rumah yang ringan, dan bertanggung jawab akan tugas sekolahnya. Jika dibiasakan, anak-anak akan mengerti bahwa mereka bisa mandiri walau tidak ada ibu. Nanti, sepulangnya ibu di rumah. Ibu bisa mencurahkan seluruh kasih sayangnya pada sang anak yang telah bersedia bekerja keras selama di rumah.

Anak jadi tahu maksa kerja keras sehingga ia tumbuh menjadi anak yang tidak manja

Saat anak sudah terbiasa mengerjakan pekerjaan rumahnya sendiri dan membantu mengurus pekerjaan rumah tangga, ia akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak manja dan tidak egois. Meski masih anak-anak, setelah ia mengetahui dan mengerti kesibukaan orangtuanya, ia akan sungkan untuk bermanja-manja pada orangtuanya, karena ia tahu orangtuanya sedang berusaha keras demi dirinya.

Namun meski anak telah bisa mandiri, Anda sebagai ibu jangan melupakan haknya sebagai anak-anaj. Sesekali, Anda bisa memanjakan anakmu di rumah dengan membelikannya mainan yang ia suka atau mengajaknya ke taman bermain pada akhir pekan. Dengan begitu, ia tidak merasa menjadi anak yang dikucilkan karena kesibukan ibunya.

Ibu yang bekerja merupakan contoh pengatur waktu yang baik

Ibu yang bekerja sambil mengurus rumah tangganya adalah sosok pengatur waktu yang sangat baik. Bagaimana tidak? Sebagai seorang pribadi, waktu 24 jam tidak dibuangnya secara sia-sia. Waktu yang ada ia pakai untuk menyiapkan sarapan, menyiapkan peralatan sekolah si kecil, membangunkan anak-anak, membangunkan suami, bekerja di kantor, menyiapkan makan malam, menemani anak belajar di rumah, hingga akhirnya menemani anak tidur dan beristirahat.

Jika ia tidak bisa mengatur waktu dengan baik, ia tahu urusan rumah tangga akan kacau, mulai dari rumah yang berantakan, anak yang menangis, baju kotor dimana-mana, dan sebagainya.

Mengajak  suami dan anak berbagi tugas

Ibu yang berkarier tak hanya mengajarkan nilai kehidupan pada anak-anaknya, tapi juga suaminya. Saat Anda dan suamimu sama-sama bekerja, kalian bisa berbagi tugas mengurus rumah dan anak bersama-sama. Dengan berbagi tugas, suami jadi tahu tentang sulitnya mengatur rumah tangga sehingga ia tidak terlalu mengandalkan seluruh urusan rumah tangga kepadamu.

Berbagi tugas bersama juga dapat melatih sejauh mana kekompakan kalian dalam menjalani hubungan rumah tangga. Semakin baik kerjasamanya semakin bagus. Koordinasi dan komunikasi merupakan kunci dari keberhasilan pembagian tugas ini. Bila perlu, buat catatan harian di papan tulis yang berisi kewajiban masing-masing anggota keluarga.

Meski harus bekerja diluar rumah, Ibu masih bisa memberi kasih sayang dan selalu memerhatikan buah hatinya

Meskipun mempunyai kesibukan, ibu pekerja tetap melaungkan waktunya meski sebentar untuk memerhatikan anak tercintanya. Sebelum anak berangkat sekolah, ia bersedia bangun lebih pagi untuk menyiapkan keperluannya. Saat pulang ke rumah, ia rela tidak langsung istirahat dan lebih memilih becengkerama dengan anak-anaknya sambil menanyakan kabar mereka.

Ia akan melakukan yang terbaik agar keluarga kecilnya bisa hidup bahagia. Insting naluriahnya sebagai ibu tidak akan hilang meski ia sibuk bekerja.

Seperti Ibu yang bekerja di Rumah, Ibu pekerja adalah wanita yang hebat 

Terlepas dari semua komentar negatif yang ada, ibu pekerja juga manusia biasa yang ingin dihargai. Tidak sepantasnya ia dimaki hanya karena keputusannya tetap bekerja di perusahan dan tidak mengurus anak-anaknya selama seharian penuh. Sama dengan ibu rumah tangga, ibu pekerja pun akan mealkukan apapun demi anaknya agar bisa tumbuh dengan baik. Pekerjaan yang ditekuninya sekarang semata-mata bukanlah untuk kepentingan dirinya, tapi kepentingan keluarga.

Meski bekerja, ia tetap menjaga kestabilan rumah tangganya. Tidak lupa, ia pun selalu berkonsultasi pada suami sebelum mengambil keputusan. Ibu pekerja adalah wanita hebat yang patut dibanggakan seperti ibu lainnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Bagi Ibu Bekerja Menyeimbangkan Kehidupan Karier dan Keluarga Belum Tentu Mudah. 13 Hal ini Semoga Dapat Membantu Membagi Waktu Antara Keduanya Jauh Lebih Mudah

Mungkin ada Ibu yang ingin dirumah mengurus anak saja, tidak ingin bekerja. Akan tetapi ada juga yang harus bekerja karena kebutuhan. Bahkan ada pula yang harus bekerja karena memang ada yang tidak bisa jika tidak sibuk, tidak bisa jika harus seharian di rumah, harus bekerja.

Ibubekerja

Sumber gambar: http://www.slideshare.net/24hourparenting

Bagi Ibu Bekerja menyeimbangkan kehidupan karier dan keluarga belum tentu mudah. Menjadi seorang ibu yang baik pasti dicita-citakan setiap wanita. Untuk Ibu bekerja, mungkin hal-hal ini bisa membantu ibu tetap bekerja tetapi juga bisa mendidik anak.

Ibu Bekerja Harus Pintar Mencuri Waktu

Seperti dilansir she knows, menurut pakar komunikasi keluarga Priscilla J. Dunstan, ibu bekerja harus pintar mencuri waktu. Misalnya saja saat menjemput anak sekolah, tibalah 20 menit sebelum sekolah bubar. Waktu 20 menit itu bisa Anda pakai untuk ‘me time’ seperti membaca majalah. Jika masih ada urusan pekerjaan, waktu tersebut juga cukup untuk menyelesaikan tugas Anda.

Jika Memungkinkan, Carilah Tempat Kerja yang Ramah Keluarga

Maksudnya disini adalah mencari tempat kerja yang memikirkan keadaan keluarga, contohnya : jam kerja yang fleksibel bagi orang tua bekerja khususnya perempuan, memberikan cuti hamil yang ideal, adanya tempat penitipan anak di tempat kerja dan tidak banyak perjalanan bisnis keluar kota/negeri. Dengan fleksibilitas dan pengertian yang diberikan oleh perusahaan tempat kerja, kita bisa memanfaatkan waktu tersebut untuk keluarga.

Jadikan Waktu dengan Anak Sebagai Pertemuan yang Berkualitas

Sesingkat apapun kesempatan kita untuk berinteraksi dengan anak, berusahalah agar kesempatan tersebut tidak terbuang sia-sia. Yang bisa anda lakukan adalah menyapanya dengan hangat saat kita tiba di rumah, menanyakan kejadian atau pengalaman yang dialaminya selama kita tinggal, menjadi pendengar yang baik, berikan sentuhan fisik kepada anak seperti mengelus kepalanya, dan sisihkan juga waktu untuk membimbingnya belajar.

Jalin Komunikasi yang Baik dengan yang Mengurus Anak Kita

Saat bekerja, kita biasa menitipkan anak kita kepada pengasuh, entah itu baby sitter, nenek ataupun sanak keluarga lainnya. Komunikasi yang baik sangat berpengaruh terhadap pelayanan kasih sayang sang pengasuh terhadap anak, visi dan misi dalam mendidik anak pun setidaknya akan dapat diterjemahkan oleh pengasuh itu sendiri.

Selain Komunikasi dengan Pengasuh, Tetap Melakukan Pengawasan Anak itu Perlu!

Penelitian menunjukkan bahwa anak yang bermasalah mayoritas berasal dari keluarga yang kurang mengawasi anaknya. Sangat penting bagi orang tua untuk mengetahui dimana anaknya, sedang bersama siapa dan berbuat apa.

Karir Perlu, tapi Keluarga juga Penting. Jadi Tentukan Prioritas

Sebagai wanita karier, Anda seharusnya bisa dengan bijak memisahkan, mana pekerjaan paling penting untuk segera diselesaikan. Jangan buang waktu. Segera selesaikan, dan bila ada waktu sisa, maksimalkan untuk keluarga.

Belajar Berkata Tidak, Waktu Lebih untuk Keluarga itu Penting

Ajakan teman-teman di kantor biasanya sering sangat menggoda, ke mal, ke klub malam, atau ke restoran kesenangan. Cobalah berkata tidak, dan pilihlah waktu lebih untuk keluarga.

Walau Bekerja, Janganlah Menggunakan Uang Sebagai Pengganti Waktu ataupun Kasih Sayang kita

Sebagai orang tua, janganlah menggunakan uang sebagai pengganti waktu ataupun kasih sayang kita. Bekali anak dengan pemikiran sesuatu yang diperoleh melalui bekerja akan terasa lebih bernilai.

Sebelum Berangkat Kerja, Persiapkan Segala Sesuatunya

Ibu bekerja harus selalu siap untuk skenario buruk yang mungkin terjadi.  Misalnya saja saat sarapan, anak Anda tiba-tiba menumpahkan susu, padahal yang Anda punya untuk sarapan hanya sekotak sereal. Selalu persiapkan segala sesuatunya. Jadi jika kondisi tersebut terjadi, Anda masih punya makanan lainnya untuk jadi sarapan anak.

Lebih Menghemat Waktu Dalam Urusan Menyiapkan Makanan Untuk Keluarga

Selalu Siapkan 1 Makanan Untuk 2. Misalnya saja Anda membuat sayur cap cay, jangan hanya membuatnya untuk satu kali makan. Siapkan untuk dua kali makan, makanan yang belum dimakan, bekukan di kulkas. Dengan melakukan hal tersebut, Anda menjadi lebih menghemat waktu dalam urusan menyiapkan makanan untuk keluarga.

Mengajari Anak Mandiri, Sekaligus Membantu Orang tuanya

ini tergantung dari usia anak Anda. Anak bisa dimintai bantuannya saat dia mulai berusia sekolah. Ajaklah dia berpartisipasi saat Anda menyiapkan sarapan. Minta dia untuk menyiapkan bekal makanan untuk dirinya sendiri. Dengan cara ini, waktu Anda di pagi hari menjadi tidak terlalu sibuk.

Siapkan Baju Kerja yang Akan Dipakai Untuk Seminggu

Setiap Hari Minggu, pilih baju mana saja yang akan pakai selama seminggu ke depan. Untuk yang sudah memiliki anak, siapkan juga bajunya selama sepekan. Melakukan hal ini mengurangi pemborosan waktu yang biasanya Anda lakukan setiap hari saat berdiri di depan lemari dan memilih baju.

Kesehatan Merupakan Hal mutlak yang Perlu Dijaga. Jangan Lupa bersikap Rileks Juga

Sebagai wanita karier dan ibu di rumah tangga, pastilah banyak pekerjaan yang akan menyita waktu. Untuk itu, kesehatan merupakan hal mutlak yang perlu dijaga. Makan makanan bergizi dan olahraga sejenak
akan jadi solusi. Selain itu, bermeditasi atau santai sendirian sejenak, juga bisa melepas stres untuk meredam emosi.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Share

To Top