Parenting

Kakek – Nenek Lebih Sayang Cucu Daripada Anak Sendiri, Mengapa demikian?

polasuhkakeknenek

Nenek dan kakek terkadang terlihat lebih sayang pada cucu dibanding anaknya sendiri. Itulah sebabnya anak-anak betah berada di rumah nenek dan kakeknya.

Nenek dan kakek cenderung memanjakan anak yang terkadang menurut kita terlalu berlebihan. Padahal beliau tidak begitu saat mengasuh kita ketika kecil. Apa ya, alasannya?

Mereka tidak terlibat langsung dalam pengasuhan

Kakek dan nenek biasanya tidak menghadapi anak rewel yang membuatnya emosi dan anak-anak juga tidak merasakan kemarahan dari mereka. Itulah sebabnya hubungan nenek-kakek dan cucu terlihat sangat manis.

Kesempatan untuk melakukan hal yang lebih yang mereka tidak bisa berikan pada anak dulu

Di usia tuanya, mereka mengingat cara asuh mereka yang kurang menunjukkan kasih sayang pada kita di masa lalu, ia ingin memperbaiki kegagalan itu.

Itulah sebabnya mereka menjadi lebih perhatian, lebih cinta, dan lebih peduli kepada anak dari anaknya. Mereka merasa harus memberikan hal yang lebih yang mereka tidak bisa berikan pada anak-anaknya sendiri di masa lalu melalui cucunya.

Cucu mewarisi lebih banyak gen nenek ketimbang kakek

Salah satu teori genetika meyakini bahwa keterikatan nenek dengan cucu yang lebih besar daripada keterikatan kakek dengan cucu disebabkan oleh kromosom X.

Sebanyak 25% kromosom X di DNA cucu laki-laki maupun perempuan berasal dari nenek. Sementara kromosom X nenek dari pihak ayah hanya menurun kepada cucu perempuan dan tidak kepada cucu laki-laki.

Teori lain yang dinamai “paternal uncertainty” menyebut bahwa hubungan DNA itu menyebabkan nenek dari pihak ibu punya perasaan lebih kuat kepada cucu mereka. Dampaknya, nenek menjadi lebih intens berperan dalam pengasuhan anak hingga dewasa dibanding kakek atau ayah–sebab kakek dan ayah tidak punya ikatan yang lahir dari proses melahirkan anak.

Jika Anda percaya teori tersebut, inilah yang menjelaskan mengapa ikatan matrilineal (garis keturunan ibu) sangat kuat bergenerasi-generasi.

Dibanding Kakek dan nenek, siapa yang banyak menghabiskan waktu dengan cucunya?

Menurut studi genetika, seorang nenek mewariskan seperempat DNA mereka kepada cucunya. Kita mewarisi gen kakek-nenek kita, tapi, menurut ilmuwan, gen nenek dari pihak ibu lebih banyak memengaruhi.

Nenek dari pihak ibu memiliki ikatan yang lebih kuat dengan cucu dibanding antara kakek dan cucu karena nenek melahirkan ibu, dan ibu melahirkan kita. Di banyak keluarga, nenek dari pihak ibu punya bawaan untuk merasa lebih bertanggung jawab atas cucu mereka.

Itulah alasan mengapa banyak nenek dari pihak ibu banyak menghabiskan waktu dengan cucunya. Ini bukan semata alasan psikologis, melainkan juga genetis. Gen nenek dari pihak ibu ada lebih banyak di dalam tubuh kita ketimbang gen dari kakek.

adorable-book-boy-1250722 adorable-book-boy-1250722
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Tumbuh Kembang Setiap Anak Berbeda, Stop Membandingkan Dengan Anak Lain

membandingkananak

Sebagai orangtua tentunya kita menginginkan tumbuh kembang yang optimal untuk anak. Namun, terkadang orangtua mengukur tumbuh kembang anak dengan membandingkan dengan anak lain. Hal itu justru akan membuat orangtua khawatir dan merasa insecure jika tumbuh kembang anaknya tidak sama dengan anak lain.

Hal yang sering dibandingkan orangtua misalnya berat badan anak, kapan anak bisa merangkak, berjalan, dan berbicara. Momen saat berkumpul bersama sesama ibu biasanya menjadi waktu di mana bunda sering membandingkan anak dengan anak lain, atau justru ada orang lain yang membandingkan anaknya dengan anak bunda.

Diawali dari obrolan ringan seputar anak berujung dengan membandingkan, misalnya saat ada yang bertanya, “Anakmu sudah bisa apa?” lalu berlanjut dengan membandingkan, “Wah, anakku umur segitu sudah bisa jalan.”

Obrolan-obrolan kecil seperti itu bisa membuat bunda merasa tertekan karena merasa gagal mengasuh anak, lho. Padahal, kecepatan tumbuh kembang setiap anak pasti berbeda-beda. Bunda tidak perlu membandingkan anak bunda dengan anak lainnya, cukup membandingkan dengan kurva pertumbuhan dan perkembangan dari dokter.

Efek Buruk Membandingkan Anak Bagi Ibu

Sering membandingkan anak sendiri dengan anak orang lain mempunyai efek buruk untuk bunda, lho. Hal itu bisa menjadi penyakit yang tidak terlihat. Bunda bisa merasa iri, malu, tidak percaya diri, hingga merasa tertekan dan gagal dalam mengasuh anak. Jika rasa tertekan tersebut terjadi berlarut-larut bunda bisa stres dan depresi.
Oleh karena itu, saat bunda melihat anak lain lebih montok, lebih cepat merangkak, jalan, berbicara, dan lainnya, bunda jangan langsung mengambil kesimpulan bahwa anak bunda kalah atau pertumbuhannya terlambat.

Yang harus bunda lakukan adalah mengukur setiap pertumbuhan dan perkembangannya lalu sesuaikan dengan milestone dan kurva pertumbuhan. Jika bunda merasa ada aspek tumbuh kembang yang terlambat, sebaiknya bunda berkonsultasi langsung kepada dokter agar mendapatkan penjelasan dari ahlinya.

Efek Psikologis Anak yang Sering Dibandingkan

Selain mempunyai efek buruk bagi ibu, sering membandingkan anak juga mempunyai efek negatif bagi anak. Terkadang orangtua berniat memotivasi anak dengan membandingkannya dengan teman sebayanya.

Namun, hal itu bukanlah cara yang tepat untuk memotivasi lho. Setiap anak mempunyai karakter dan talenta yang berbeda-beda, sehingga tidak seharusnya dibanding-bandingkan.

Membadingkan anak membuatnya mengalami stres, rendah diri, kurang percaya diri, dan menarik diri dari lingkungan sosial

Dilansir dari laman beingtheparent.com, sering membandingkan anak mempunyai efek psikologis untuk anak. Anak bisa mengalami stres, rendah diri, kurang percaya diri, dan menarik diri dari lingkungan sosial.

Anak juga akan menjauh dari orangtua jika orangtua terus-terusan membandingkannya dengan orang lain sehingga merasa dirinya tidak berharga di mata orangtuanya.

Oleh karena itu, yuk bunda, kita stop membandingkan anak kita dengan anak lain. Daripada membandingkan, lebih baik bunda fokus untuk menstimulasi setiap aspek tumbuh kembang si kecil, memberikan nutrisi yang terbaik, dan mendukung setiap aktivitas anak.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

adorable-book-boy-1250722 adorable-book-boy-1250722

Parenting

Jika Anak Suka Membantah, Orangtua Harus Menyikapinya dengan Benar, Ini Tips untuk Menghadapi Anak yang Suka Membantah

Kidsargue

Semua orangtua pasti menantikan setiap pertumbuhan dan perkembangan sang anak, termasuk saat anak mulai bisa berbicara. Pertama kali mendengar si kecil bisa memanggil “ayah”, dan “bunda” pasti rasanya menyenangkan.

Harapan agar anak segera bisa diajak ngobrol pun tumbuh. Namun, seiring dengan bertambahnya kemampuan berbahasa, maka anak juga mulai bisa membantah lho, Bun.

Anak yang suka membantah merupakan hal yang normal dalam perkembangannya.

Sebagai orangtua pasti ingin anaknya menjadi seorang anak yang penurut dan mematuhi nasihat orangtua. Tapi kenyataannya tidak selalu begitu, ada kalanya anak akan membantah dan terus berargumen untuk mendapatkan keinginannya.

Sejatinya, seorang anak yang suka membantah merupakan hal yang normal dalam perkembangannya. Hal itu bisa menjadi salah satu cara anak untuk menyampaikan keinginannya, dan ingin mengetahui alasan kenapa mereka harus melakukan suatu hal. Misalnya, seorang anak yang berusia 4-5 tahun akan sering bertanya kenapa mereka harus tidur siang, kenapa harus makan sayur, dan lainnya.

Oleh karena itu, tak jarang orangtua dan anak berdebat hanya karena hal kecil. Nah, jika anak mulai suka membantah maka orangtua harus menyikapinya dengan benar. Berikut beberapa tips untuk menghadapi anak yang suka membantah:

1. Dengarkan baik-baik perkataan anak dan hargai perasaannya

Saat anak mulai membantah perkataan orangtua, jangan langsung balik membantahnya. Hal itu justru akan membuat perdebatan tidak kunjung selesai dan emosi meningkat.

Sebaiknya bunda dengarkan dulu setiap argumen dari anak dengan sabar dan penuh perhatian. Tunjukkan sikap bahwa bunda menghargai perasaan anak. Jika bunda menunjukkan sikap yang baik maka anak juga akan menjaga sikapnya. Berbeda jika bunda menunjukkan eskpresi marah dan tidak suka, maka akan juga akan semakin melawan.

2. Jelaskan alasan setiap perintah orangtua

Saat meminta atau menyuruh suatu hal kepada anak, sebaiknya jelaskan alasannya dengan Bahasa yang mudah dipahami oleh anak. Misalnya saat menyuruh anak untuk mandi, bunda bisa mengatakan, “Yuk mandi, biar badannya bersih dan wangi.”

Dengan begitu anak akan paham alasan orangtua menyuruhnya mandi. Terkadang orangtua hanya menyuruh anak melakukan sesuatu tanpa penjelasan karena menganggap orangtua pasti tahu yang terbaik untuk anak. Hal itu akan membuat anak tidak mengerti apa pentingnya menuruti perintah orangtua.

3. Berikan beberapa pilihan kepada anak

Tak jarang seorang anak tidak langsung menuruti perintah orangtua. Misalnya saat diminta berhenti bermain dan tidur siang, ada saja alasan anak agar bisa lanjut bermain.

Jika begitu, bunda bisa memberikan beberapa pilihan, misalnya berikan pilihan untuk tambahan waktu beberapa menit atau satu kali permainan lagi lalu berhenti, daripada memaksanya untuk berhenti saat itu juga. Dengan memberikan beberapa pilihan kepada anak, maka anak akan merasa dilibatkan dalam mengambil keputusan dan dihargai.

4. Buat aturan yang jelas

Langkah terakhir adalah memberikan peraturan yang jelas tentang apa yang boleh dan tidak boleh serta konsekuensinya jika dilanggar. Saat membuat aturan, libatkan anak untuk mendiskusikan poin-poinnya. Sesuaikan aturan yang dibuat dengan usia anak agar anak memahaminya.

Misalnya peraturan tentang berapa lama boleh bermain, kapan harus pulang untuk makan dan mandi, dan lainnya. Tawarkan juga tentang konsekuensi jika melanggar aturan, misalnya dengan mengurangi jam bermain.

Jangan memberikan hukuman fisik jika anak melanggar peraturan. Selain hukuman, berikan juga hadiah jika anak mematuhi peraturannya. Bunda bisa memberikan hadiahnya sebagai kejutan agar anak tidak hanya termotivasi karena hadiah untuk mematuhi aturan.

Itulah beberapa cara menghadapi anak yang suka membantah. Semoga bermanfaat ya, Bun.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

adorable-book-boy-1250722 adorable-book-boy-1250722

Parenting

Hati – hati Sering Puji Anak Cantik, Itu Tak Selalu Bawa Dampak yang Baik Loh

bracelets-candy-child-2781197

Sebagai orangtua, tentu kita ingin memberikan apapun yang terbaik untuk si kecil serta tak ingin menyakiti hatinya. Berbagai perlakuan manis rela ditunjukkan orangtua termasuk dengan senantiasa memuji anak kita terutama si anak perempuan dengan mengatakan ia cantik.

Si Kecil Menganggap Wajah cantik adalah segalanya dan aset paling berharga

Sejatinya tak ada salahnya memuji anak sendiri, bukan? Namun bila terlalu sering, ternyata efeknya tak baik lho Bun. Mengutip laman Practical Parenting, memberi pujian cantik pada anak akan membuat si kecil mengganggap bahwa wajah cantik adalah segalanya dan aset paling berharga, Bun. Karenanya, secara tak langsung, hal ini akan membuat Bunda mengajarkan si kecil untuk menaruh fokus pada apa yang terlihat, bukan yang ada di dalam.

Bahkan menurut laporan Forbes, terdapat penelitian yang menunjukkan bahwa pujian cantik dapat berdampak buruk lho Bun. Ini karena ketika anak diberitahu bila dirinya cantik, maka si kecil akan mempertahankan identitas tersebut. Efeknya, ia akan menghindari permainan atau aktivitas yang menurutnya bisa menghapus identitasnya sebagai anak yang cantik.

Bagaimanapun, pujian ini membawa pengaruh untuk psikologis mereka. Apalagi ditambah dengan survei BBC pada 2011, menemukan 6 dari 8 anak berusia 8 hingga 12 tahun, merasa lebih baik jika memiliki tubuh yang kurus. Penelitian yang dilakukan oleh Girl Guiding UK ini juga menemukan bahwa para anak perempuan sering menghubungkan kebahagiaan dengan bentuk tubuh.

Jadi Bun, memuji cantik itu tak masalah, karena pujian pun sebagai bentuk apresiasi, namun sebaiknya dilakukan dengan cara yang wajar dan tidak berlebihan ya Bun.

“Yang jauh lebih penting adalah apa yang ada di dalam anak saya yakni pikirannya, hatinya, dan jiwanya,” tulis Kerri Sackville, penulis Out There – A Survival Guide for Dating in Midlife, seperti dikutip dari Practical Parenting. Dibanding memperbanyak intensitas pujian secara fisik, justru Bunda disarankan untuk memuji si kecil yang mau melakukan ketrampilan atau pekerjaan rumah sehingga membuat kemampuan atau pengetahuannya bertambah.

“Penelitian menunjukan saat anak-anak tidak memiliki masalah kepercayaan diri pada tubuhnya ketika berada di sekolah, mereka cenderung sering mengajukan pertanyaan. Sementara dalam kasus-kasus ekstrem, ada anak yang menderita dysmorphia atau gangguan kejiwaan yang mungkin tidak merasa senang pergi ke sekolah,” tambah Swinson.

Sementara itu, Dr Sandra Wheatley, psikolog dan penulis Helping New Mothers To Help Yourself memberi saran dalam hal memuji anak, yaitu dengan menambahkan aspek karakternya. Sehingga kecantikan bukanlah yang utama dan si kecil tidak akan berpaku pada penampilan saja.

“Wajar untuk mendandani anak perempuan dengan cara yang feminin dan tidak ada yang salah dengan itu, selama kecantikan (dari luar) bukan yang difokuskan,” tutup Wheatley.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

adorable-book-boy-1250722 adorable-book-boy-1250722

Most Share

To Top