Kesehatan

Jika Anak Demam: Pertanda Anak Mau “Pintar” Atau Tanda Bahaya, Ya?

Banyak kaum ibu yang menyepelekan kondisi demam pada anak, namun ada pula kaum ibu yang justru memiliki reaksi berlebih menanggapinya. Bagaimana dengan Bunda sendiri?

“Ah, kalau demam mah pasti mau pintar. Nanti juga sembuh sendiri. Biasa, anak-anak.” Begitulah reaksi seorang ibu yang hampir memasuki usia paruh baya. Ungkapan seperti ini memang berseliweran di kalangan kaum ibu yang masih terbilang “kolot”, percaya akan mitos yang turun temurun, serta kurang sigap mencari informasi dari buku ataupun internet. 

Sebaliknya, ada pula kaum ibu yang akan bereaksi ketakutan saat suhu tubuh sang buah hati mendadak lebih tinggi dari biasanya. Mereka akan langsung membawanya ke dokter, tanpa melakukan penanganan sendiri terlebih dahulu di rumah. 

Sebenarnya, hal itu pun tak salah. Namun, apakah harus selalu tergantung pada dokter, meskipun suhu tubuh si kecil masih dalam rentang suhu normal? Lantas, bagaimanakah seharusnya sikap yang tepat saat menghadapi kondisi demam pada si kecil?

Kenali Fakta Seputar Demam Terlebih Dahulu

Salah satu hal yang sering membuat para orang tua salah kaprah adalah mengira bahwa demam adalah sebuah penyakit, bukan reaksi dari sebuah gangguan kesehatan. Pasalnya, disebutkan dalam salah satu artikel di Kompas.com, berdasarkan data yang dilansir dari Ikatan Dokter Anak Indonesia, terdapat sekitar 30% dari total kunjungan konsultasi dokter, memiliki keluhan demam. 

Padahal, demam itu sendiri sebenarnya merupakan reaksi tubuh saat menghadapi sebuah penyakit, yang biasanya adalah infeksi. Demam merupakan “sinyal”-nya, bukan penyakit utamanya. Selain itu, seorang anak tak bisa dikatakan demam hanya karena dahinya terasa panas ketika Bunda sentuh. Ingat, tangan bukanlah alat ukur yang pasti, ya!

Pastikan bahwa Bunda selalu menyiapkan termometer dalam kotak P3K Bunda di manapun Bunda berada. Faktanya, seorang anak bisa dikatakan demam bila suhu tubuhnya sudah mencapai lebih dari 37,5 derajat.

Jangan Panik, Lakukan Dulu Pertolongan Pertama Berikut Ini Bun!

Ketika suhu tubuhnya sudah mencapai angka tersebut, ada baiknya Bunda tetap tenang dan melakukan pertolongan pertama terlebih dahulu sebelum membawanya ke dokter. Apa saja tahapan-tahapan pertolongan pertama tersebut?

1. Pastikan Si Kecil Menjalani Bedrest Dulu

Salah satu hal yang harus dilakukan pada si kecil saat ia sedang demam adalah memastikannya untuk banyak beristirahat, tidak melakukan aktivitas yang terlalu banyak bergerak, dan bedrest. Istirahat yang cukup adalah salah satu obat mujarab untuk memperbaiki kondisi tubuhnya.

2. Kompres dengan Air Hangat di Lipatan Tubuh

Banyak orangtua salah kaprah saat mengompres si kecil, dengan mengikuti tradisi yang pernah mereka jalani saat masih kecil. Biasanya, sang ibu menaruh kain kompres di dahi sang anak, dan menggunakan air dingin agar suhunya cepat turun.

Padahal, penggunaan kompres air dingin bisa meningkatkan suhu tubuh dan membuat si kecil merasa menggigil dan kedinginan. 

Gunakan kompres air hangat di ketiak atau lipatan tubuh lainnya, mengingat dalam lipatan tubuh tersebut lah terdapat pembuluh darah besar, sehingga pori-pori kulit mudah terbuka dan terjadi penguapan suhu tubuh ke luar dari pori-pori.

3. Buat Suasana Sekelilingnya Nyaman Agar Ia Bisa Lebih Tenang

Dengan suasana nyaman di sekeliling si kecil—mulai dari selimut tipis, serta ruang sejuk yang tak akan meningkatkan suhu tubuhnya—ia akan bisa beristirahat dengan nyaman, dan pastikan agar ia tak sampai menggigil karena udara terlalu dingin, ya! Jangan lupa, Bunda juga bisa memeluk si kecil dengan hangat agar kasih sayang Bunda pun bisa menenangkan hatinya yang sedang gelisah.

Segera Bergegas Membawa si Kecil Ke Dokter Jika ….

Ada kalanya, demam tak lagi bisa dianggap sepele karena kondisi tertentu. Segeralah berobat ke dokter anak apabila hal-hal berikut terjadi pada anak Bunda, ya…

1. Ketika anak demam dengan suhu di atas 38 derajat, ia bisa mengalami gejala kejang-kejang. Gejala ini bisa ditandai dengan hilangnya kesadaran, berkeringat secara berlebih, serta otot dan tangan kaki kejang. Bahkan, kejang ini bisa membuat mulut berbusa dan mata terbalik. Segeralah membawanya ke dokter, Bunda!

2. Ketika demam tak kunjung turun setelah lebih dari 3 hari. Bisa jadi, hal ini merupakan pertanda penyakit yang lebih serius, lho.

3. Ketika terdapat perubahan pada kulit si kecil, mulai dari munculnya bintik-bintik—yang bisa berarti demam berdarah—ataupun timbulnya ruam merah yang bisa menandai gejala penyakit campak.

Dan yang paling terpenting, Bunda tetap berusaha tenang ketika si kecil demam, ya! Tetaplah berada di sampingnya agar ia pun bisa merasa nyaman.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Anak yang Suka Merebut Mainan Bisa Jadi Karena Cemburu, Cobalah Lakukan Ini untuk Merubah Sikap Buruk Itu

orangtua ingin si kecil bermain dengan aman dan damai, tidak suka anak yang suka merebut mainan. Namun, hal ini sering kali dilakukan oleh anak-anak membuat Bunda geleng-geleng kepala. Tapi sebagai orangtua, sudah menjadi tugas dan tanggung jaab kita untuk mendidiknya ke perubahan yang lebih baik. Hindari untuk berteriak, apalagi sampai marah-marah pada anak karena tindakannya, sebaliknya ketahui apa  alasan yang menjadi penyebabnya ia bersikap demikian. 

Beberapa Alasan Anak yang Suka Merebut Mainan yang Juga Mungkin Terjadi pada Si Kecil di Rumah Bunda

Sikap anak marah, menangis bahkan merebut mainan memiliki alasan masing-masing. Karena itu jangan langsung menyalahkan atau menghukumnya. orangtua harus mencari tahu penyebab terlebih dulu kemudian ajarkan anak untuk berperilaku yang baik. 

1. Tidak Tahu atau Belum Mengerti Pentingnya Rasa Empati Terhadap Orang Lain

Alasan pertama anak suka merebut mainan sebab belum tahu bahwa dalam bergaul perlu memiliki rasa empati. Orangtua harus mengajarkan kepada anak tentang empati dan kasih sayang kepada teman. Sehingga anak tahu rasanya kehilangan mainan sendiri akibat paksaan orang lain. 

Salah satu cara mudah melatih rasa empati melalui cerita dongeng. Biasanya di akhir cerita orangtua dapat menjelaskan pelajaran yang bisa diambil. Dekati anak secara persuasif agar si kecil mudah menerima nasihat orang tua.

2. Pemikiran Anak Masih Egois dan Merasa Dialah Satu-satunya yang Berhak

Anak kecil hampir semuanya memiliki perilaku ego salah satunya pada mainan. Hanya ingin mainan tersebut menjadi miliknya sendiri. Semua barang yang ada di depan mata dapat digunakan sesuai keinginan tanpa memperdulikan orang lain.

Pemikiran seperti ini harus diluruskan untuk mengurangi risiko dijauhi teman-temannya. Selain itu, juga tidak baik untuk masa depannya jika sampai dewasa masih suka egois. Sebab, semakin bertambahnya umur anak bertemu banyak orang, mau tidak mau harus menghargai dan menghormati orang lain.

3. Ada Kecemburuan atau Iri yang Barangkali Anak Rasakan, Itulah Sebabnya Ia Tak Suka Berbagi dan Berebut Mainan

Penyebab anak suka merebut mainan juga karena iri ketika sang kakak atau adik memiliki barang baru. Cemburu saat teman-teman punya mainan yang diri sendiri tak memilikinya. Ajarkan anak untuk menghargai barang orang lain.

Tidak hanya itu, anak juga bisa cemburu dengan perhatian orangtuapada saudaranya. Anak ingin diperlakukan sama, tetapi tidak tahu cara mengatakannya. Anak belum paham cara mengekspresikan emosinya sehingga diluapkan dengan merebut mainan orang lain. 

4. Belum Memahami Konsep Kepemilikan atas Tiap-tiap Mainan atau Barang

Anak-anak biasanya belum paham tentang konsep kepemilikan. Sehingga semua barang orang lain yang menarik perhatiannya, dianggap adalah miliknya sendiri. Karena itu, orangtua perlu menjelaskan anak agar paham tidak semua barang di sekitarnya bisa dengan mudahnya diambil. 

Barang kakak dengan adik tidak sama, begitu juga antara Ibu dan Ayah. Pahamkan konsep ini pada si kecil untuk mengurangi perilaku merebut mainan. Boleh meminjam tetapi harus dikembalikan tepat waktu. 

5. Ingin Menikmati Mainan Sendirian dan Tak Suka Berbagi

Alasan lainnya anak ingin menikmati mainan sendirian tanpa ada campur tangan orang lain. Sehingga saat ada kakak atau teman datang, ia akan menghindarkan mainan dari sentuhan orang. Memang perilaku ini tidak sepenuhnya baik.

Ajarkan anak suka bermain dan berbagi mainan dengan orang lain. Jika tidak, si kecil ke depannya sulit mendapat teman dan merugikan diri sendiri. 

Lalu, Apa Hal yang Harus Dilakukan Supaya Anak Tidak Suka Merebut Mainan? 

Tanamkan sifat berbagi pada anak yang suka merebut mainan. Sampaikan bahwa bermain bersama lebih menyenangkan. orangtua juga bisa menerapkan beberapa langkah berikut agar lebih mudah mengatasi anak.

1. Jangan Diam, Lakukan Sesuatu untuk Menghentikannya Merebut Mainan

Ketika orangtua melihat anak merebut mainan, jangan diam saja. Segera turun tangan agar proses perebutan tidak terus memanjang hingga berkelahi. Karena biasanya hanya disebabkan mainan anak bisa bermusuhan dengan temannya. 

Bersikap sigap jangan tunggu anak menangis, baru turun tangan. Sampaikan kepada anak bahwa memaksa orang lain memberikan mainannya bukan hal yang bagus. Bahkan dapat menyakiti perasaan pemiliknya. 

2. Ajarkan Anak Minta Maaf, Atas Apa yang Sudah Dilakukannya

Anak saat melakukan kesalahan wajib meminta maaf. Bertujuan untuk menjaga hubungan pertemanan dan menghindari dendam. Setelah memaksa hak orang lain bahkan sampai temannya menangis, pastikan anak segera minta maaf. 

Jangan hanya menghentikan perebutan kemudian melupakan begitu saja. Latih anak memiliki sikap tanggung jawab atas keributan yang sudah diperbuat. Supaya anak dapat belajar dan tidak mengulangi hal yang sama ke depannya. 

3. Tanamkan Sifat Berbagi Sedari Dini, Agar Ia Tak Lagi Suka Merebut Mainan Orang Lain atau Tak Mau Berbagi

Anak yang memiliki prinsip berbagi dalam hidupnya tidak akan merebut mainan orang lain. Karena itu, di rumah penting sekali diajarkan apa itu berbagi dan keuntungannya untuk diri. orangtua juga perlu mempraktikkannya agar mudah diikuti oleh si kecil. 

Tidak sulit melatih sikap ini sebab bisa dimulai dari hal kecil. Misalnya saat anak punya biskuit, Bunda dapat meminta si kecil membagi sedikit. Mengajari berbagi penting sekali agar anak peka pada kondisi orang sekitarnya. 

4. Berikan Contoh Nyata Tentang Berbagi Maianan yang Bisa Ia Lihat dan Tiru

Anak merupakan peniru ulung sehingga semua yang dilakukan orang terdekat akan diikuti. Karena itu, wajib sekali memberikan contoh positif supaya anak mengikuti tindakan positif juga. Jika terkadang melakukan kesalahan, sampaikan pada anak alasannya. 

Tunjukkan bagaimana cara berbagi, mengakui kesalahan dan minta maaf. Tanpa diperintah, si kecil akan mempraktekkan sendiri dalam hidupnya. Hubungan pertemanan anak pun tidak rusak hanya karena mainannya berbeda dengan orang lain.

5. Tanamkan Sikap Berusaha 

Saat anak menginginkan sesuatu, harus berusaha terlebih dulu. Bukan bekerja mencari uang sebab tubuhnya yang kecil belum sanggup melakukannya. Usaha ringan yang dapat dilakukan adalah meminta izin pada orang tua. Jika ingin menggunakan mainan orang lain maka anak harus mendapat izin dari pemiliknya. Itulah 5 alasan dan hal yang harus dilakukan orangtua menghadapi anak suka merebut mainan. Ingat jangan berkata kasar pada anak, tetapi berikan contoh yang baik.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Jangan Sampai Si Kecil Tak Disenangi, Lakukan Hal Ini untuk Menghadapi Anak yang Suka Bertengkar dengan Teman

Semakin bertambah umur, anak mengenal lebih banyak orang dengan berbagai karakter. Salah satunya anak yang suka bertengkar dengan teman, mungkin akibat salah pengasuhan di keluarga. Perilaku ini tidak bagus untuk masa depan pergaulan anak. Karena akan memberikan citra yang negatif atas dirinya, ini juga bisa membuatnya dijauhi oleh orang sekitarnya. 

Maka, sebagai orangtua, inilah yang seharusnya kita pahami!

Kesalahan Orangtua yang Seharusnya Kita Hindari Saat Anak yang Suka Bertengkar dengan Teman

Pertemanan memang tidak selalu mulus, ada kalanya muncul kesalahpahaman yang berakhir dengan bertengkar atau berkelahi. Banyak hal kecil menjadi besar karena anak mementingkan ego atau tidak tahu cara menyelesaikan masalah. Sebagian orangtuaterlalu ikut campur sehingga melakukan beberapa kesalahan berikut.

1. Mencoba Menyelesaikan Masalah Anak dengan Pemikiran Orang Dewasa

Masalah anak dengan temannya terkadang tampak ringan atau kecil di mata orangtua. Memang masalah cepat selesai jika orangtua langsung turun tangan. Namun, hal ini membuat anak bergantung pada orangtua jika ada masalah lain ke depannya. 

orangtua yang selalu membantu menyebabkan si kecil tidak dapat berkembang dengan baik. Boleh memberikan solusi atau langkah penyelesaian masalahnya. Selanjutnya, cara tersebut diterapkan sendiri oleh anak bukan orangtua. 

2. Berpikir dan Menganggap Anak sebagai Korban dari Temannya yang Lain

orangtua yang menganggap anak sebagai korban akan menyalahkan orang lain atas masalah yang menimpa si kecil. Padahal bisa jadi itu disebabkan oleh si kecil sendiri ataupun hanya salah paham saja. Berbagai pikiran buruk tentang teman dari si kecil terus mengganggu pikiran orangtua. 

Makanya, jangan menganggap anak sebagai korban. Memang tidak menyenangkan saat anak dipukul atau diejek oleh teman-temannya. Jangan langsung menyalahkan teman sebayanya, tetapi dengarkan dulu penjelasan si kecil. 

3. Memaksa Anak Berbaikan dan Tetap Berteman 

Ketika anak ada masalah dengan temannya, jangan paksa anak tetap berteman. Sebab si kecil membutuhkan waktu mempertimbangkan untuk meneruskan atau tidak lagi hubungan pertemanannya. Ajaklah anak diskusi bukan memaksakan keinginan orangtua pada anak. 

Rasa khawatir pasti muncul saat orang tuatahu anaknya bertengkar. Tetapi, usahakan berpikir positif supaya tidak menambah menyakiti perasaan si kecil. Karena memaksa berteman, anak merasa orang tuanya lebih berpihak pada teman dibandingkan dirinya.

4. Menganggap Masalah Anak Sepele, Sehingga Mengabaikan Perasaan Sedih yang Dialami Oleh Anak 

Sebagian anak saat ada masalah dengan teman langsung bercerita pada orang tuanya. Mendapat ejekan, olokan dan perlakuan tidak baik lainnya membuat si kecil merasa tidak nyaman. orangtua juga jangan menganggap sepele. 

Meskipun olokan bukan masalah besar, tetap saja orangtua tidak boleh meremehkan perasaan anak. Tetapi, pahami perasaannya dengan memeluk anak atau menghiburnya. Jadi, orangtua sebaiknya tidak mengabaikan komentar menyakitkan yang dialami anak.

5. Tak Melakukan Apa-apa dan Membiarkan Terjadinya Bullying

Jika anak mendapat bullying atau malah membully teman-temannya, tentu saja ini berbahaya. orangtua jangan diam saja apalagi menyepelekan. Ajak anak berbicara lebih lanjut tentang dampak bullying pada diri sendiri dan orang lain. 

Bangun rasa empati pada anak, jangan malah menyuruhnya membalas perbuatan jahat. Sebab masalah tidak akan selesai menggunakan kekerasan. orangtua dapat meminta anak untuk menghindar atau menjaga jarak dengan teman yang membullynya. 

Sebaliknya, Inilah Hal yang Harus Dilakukan Orangtua Menghadapi Anak yang Suka Bertengkar dengan Teman

Semua orangtua tidak tega melihat anak tersakiti termasuk ketika bertengkar. Bunda tentu ingin membela si kecil tetapi hal ini tidak baik untuk kemandirian anak. Sebaiknya terapkan tips berikut menghadapi kondisi ini. 

1. Latih Anak Selesaikan Masalah Sendiri dengan Mencari Tahu Asal Permulaan Pertengkarannya Terjadi

Latih anak agar bisa menyelesaikan masalah sendiri tanpa selalu bergantung pada orang tua. Meskipun sebagai Ibu merasa kasihan atau tidak tega, urungkan niat untuk membantu. Biarkan anak belajar mandiri menghadapi kesulitan dalam hidupnya. 

Sebenarnya pertengkaran melatih kecerdasan sosial anak karena dapat belajar menghadapi masalah. Wajar saja anak-anak mudah terpancing emosinya karena umurnya masih kecil dan labil. Anak juga belum paham apa itu toleransi dan menjaga hubungan baik dengan orang lain.

2. Hindari untuk Menegur Anak di Depan Orang Banyak, Karena Bisa Membuatnya Berkecil Hati

Anak juga bisa merasa malu sehingga sangat disarankan menegur di depan orang banyak. Memarahi anak di depan teman-temannya meskipun dia sendiri yang salah juga tidak dianjurkan. Sebab hal ini dapat memberikan dampak buruk terhadap psikologi anak. 

Sementara itu, membela anak di depan orang banyak membuat anak besar kepala. Sedangkan teman si kecil yang ditegur merasa malu bahkan bisa memicu dendam dalam hatinya. Oleh karena itu, orangtua sebaiknya membahas masalah pertengkaran ini di rumah. 

3. Jangan Membenci Orangtua dari Teman Si Kecil, Hanya Kedua Anak Terlibat Pertengkaran

Sebagian orangtua saat melihat si kecil bertengkar akan ikut saling membenci. Padahal Bunda belum tahu masalah yang sebenarnya dan tidak ada di lokasi saat anak bertengkar. Sebaiknya tidak saling membenci antara orang tua masing-masing. 

Banyak kasus retaknya hubungan dengan tetangga hanya karena anak bermusuhan. Pertengkaran anak dengan teman sebayanya sebisa mungkin diambil sisi positifnya. Tugas orangtua memang melindungi tetapi bukan membebaskan anak dari masalah.

4. Ajari Anak untuk Berbaikan, Karena Salah Paham dan Bertengkar Bisa Saja Terjadi Pada Setiap Orang

Setelah anak bercerita tentang pertengkarannya, sampaikan hal positif. Supaya anak tidak memendam kebencian kepada temannya. Ajarkan anak meminta maaf sambil berjabat tangan dengan teman. 

orangtua jangan menambah bumbu agar anak semakin membenci temannya. Saling benci tidak baik untuk pergaulan dan masa depan anak. Jika orangtua menganggap sepele tentang kebencian maka anak juga berpikir hal ini boleh dilakukan. Itulah beberapa poin penting harus diterapkan saat menghadapi anak yang suka bertengkar dengan teman. Bertengkar jika sekali saja memang hal wajar, namun jika sudah keseringan membawa dampak negatif bagi psikologis anak.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Anak yang Teratur Jadi Salah Satu Calon Orang Sukses, Begilah Cara Orangtua Membentuk Perilaku Teraturnya

Semua orangtua pasti ingin anak yang teratur dan disiplin dalam segala hal. Namun, namanya anak-anak tidak mudah untuk membiasakan hal ini. Sebelum mulai melatih si kecil, orangtua dapat memberi contoh terlebih dulu. Bagaimana sikap teratur yang kita harapkan ada pada dirinya. 

Karena, sosok anak yang teratur berkesempatan jadi salah satu orang sukses. Sebab ia akan terbiasa disiplin dan melakukan segala hal dengan tertata. Termaksud, mewujudkan keinginan dan hal-hal yang ia harapkan dalam hidupnya. 

Jadi Jangan Sampai Melakukan Kesalahan Orangtua Saat Melatih Anak untuk Menjadi Pribadi Teratur 

Agar anak mudah diatur, patuh dan disiplin orangtua perlu mengajarkannya. Meskipun tidak mudah, bukan berarti tidak bisa. Agar proses melatih anak berjalan dengan tepat dan lancar, orangtua harus menghindari beberapa kesalahan berikut. 

1. Langsung Memarahi Anak Ketika Ia Melakukan Sebuah Kesalahan 

Semua anak kecil pasti pernah bertingkah atau melakukan sesuatu yang tidak disukai orangtua. Berlarian di dalam rumah atau membuat lemari berantakan, orangtua jangan langsung berteriak marah kepada anak. 

Kadangkala anak bertingkah menjengkelkan ingin belajar keterampilan baru atau mengeksplor lingkungan. Jika anak dimarahi begitu saja, ke depannya tidak berani belajar hal baru. Selain itu, ada juga karakter anak yang saat orang tuanya marah, maka dia akan semakin bertingkah. 

2. Jadi Orangtua yang Plin-Plan, Tidak Tegas dalam Membuat Aturan Pada Anak

Peraturan dan hal-hal selama melatih si kecil harus konsisten. Jika orangtua plin plan, anak tidak mau lagi mematuhi. Tetaplah untuk mematuhi, peraturan yang sudah disepakati bersama, beri hukuman saat anak melanggarnya, dengan jenis konsekuensi yang ringan-ringan saja. 

Konsistensi penting sekali agar anak mematuhi semua yang disampaikan. Saat orangtua plin plan, anak akan berpikir menjadi teratur dan disiplin itu bukan sesuatu yang harus dimiliki dalam hidup. Karena itu, berikan arahan yang jelas, sederhana dan realistis dengan tingkah laku yang diharapkan orangtua. 

3. Melakukan Tindakan yang Tidak Sesuai dengan Apa yang Dikatakan

Jika orangtua melatih anak buang sampah pada tempatnya, maka harus mempraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Jangan hanya menyuruh anak melakukan kebaikan, tetapi orangtua masih suka buang sampah sembarangan. 

Anak akan melihat semua perilaku orangtua dan mengikutinya. Jika karena kondisi tertentu terpaksa melanggar, sampaikan dengan baik alasannya kepada si kecil. Supaya anak tidak berpikir, “Bunda saja melanggar, mengapa aku harus patuh.”

4. Jadi Orangtua yang Berpikir dan Berperilaku Negatif 

Berperilakulah dan berpikir positif di depan anak. Jangan langsung marah dan memaki saat menemukan sesuatu tidak sesuai keinginan. Ubah perilaku buruk menjadi baik secara pelan-pelan agar anak mudah mengikutinya. 

Jika orangtua berteriak kasar saat kondisi tak diinginkan, anak pun bisa mengikutinya. Sebagai orangtua pasti tidak ingin hal ini terjadi. Maka, sebelum bertindak pikirkan atau pertimbangkan dulu apa dampaknya bagi si kecil.

5. Membuat Ekspektasi Berlebihan Terhadap Anak, Sehingga Jika Gagal Ia Akan Merasa Disalahkan

Saat melatih anak, jangan tumpukan ekspektasi berlebihan agar tidak kecewa ketika yang terjadi bukan sesuai harapan. Apalagi anak-anak belum bisa mengontrol emosi sepenuhnya. Peran orangtua di sini layaknya seorang guru. 

Fokus memperlihatkan pada anak cara ia bertindak seperti yang orangtua inginkan. Jelaskan padanya yang sebaiknya dilakukan dan alasannya. Sehingga saat tidak bersama orangtua, anak mengingat alasan tersebut dan tidak melakukan sesuatu yang menyimpang. 

Dan Beginilah Cara Orangtua Menjadikan Anak yang Teratur 

Banyak cara yang bisa dilakukan melatih si kecil menjadi anak yang teratur. Hal ini diterapkan sejak kecil agar ketika dewasa bisa langsung menerapkannya tanpa perlu aba-aba dari orangtua. Berikut ada 5 cara yang dapat dipraktikkan. 

1. Buat Jadwal Aktivitas yang Bisa Ia Ikuti Sehari-hari

Ajak si kecil mengatur jadwal kegiatan agar waktu 24 jam bisa dipergunakan dengan baik. Cara ini sangat tidak mudah, sebab tidak semua anak langsung setuju pada ajakan orangtua. Gunakan alat tulis yang diinginkan untuk menarik perhatiannya. 

Pagi hari dimulai dengan bangun pagi, kemudian teruskan kegiatan lain yang harus dilakukan. Buatlah keterangan jam agar si kecil mudah memahami waktu jeda dan memulai aktivitas berikutnya. Tempelkan jadwal di ruang tidur si kecil atau area lain yang mudah dilihat. 

2. Sampaikan Tentang Apa yang Sebaiknya Dilakukan oleh Anak 

Sampaikan apa seharusnya dan sebaiknya dilakukan anak tanpa menjelaskan panjang lebar. Karena, anak akan fokus pada intinya bukan keseluruhan kalimat dalam pembicaran. Latih anak untuk membuat tanda centang pada kegiatan yang sudah diselesaikan.

Hal ini memudahkan si kecil mengetahui kegiatan apa saja yang harus segera dilakukan. Jika kedapatan melanggar jadwal, jangan langsung marah tetapi nasehati dulu. Jika hari berikutnya masih melanggar boleh diberi punishment. 

3. Tapi Jangan Membuat Aturan yang Terlalu Ketat

Hukuman diberikan yang disanggupi anak, jangan terlalu berat. Melatih anak tidak perlu sangat ketat agar ia tidak takut mencoba hal baru. Jika semuanya dilarang, anak berpikir banyak kali sebelum mengeksplorasi lingkungannya. 

Berikan larangan pada sesuatu yang benar-benar penting. Anak tetap diberi kebebasan namun juga ada batasnya supaya proses pengontrolan diri berjalan lancar. Jika anak lelah atau sedang bad mood, biarkan istirahat sebentar. 

4. Hindari untuk Berceramah Terlalu Banyak 

Memberi ceramah panjang lebar pada anak merupakan cara yang dipilih orangtua dalam mendisiplinkan si kecil. Tetapi, kenyataannya langkah ini tidak sepenuhnya efektif. Karena si kecil bosan mendengarkan banyak kalimat dan tuntutan dalam satu waktu. 

Sebaiknya orangtua sampaikan apa yang diinginkan pada diri anak dengan jelas dan singkat. Perilaku mana yang harus dimiliki dan dibuang atau dihilangkan. Jadi, anak lebih mudah mengingatnya dan hal penting tersampaikan dengan baik. 

5. Jadilah Sosok Orangtua yang Selalu Menyediakan Waktu Luang untuk Anak 

orangtua perlu menyediakan waktu luang untuk si kecil. Jangan hanya mengajarkan ini dan itu hingga si kecil muak. Kebersamaan dan interaksi satu sama lain membuat anak merasa hidup. Berikan waktu luang agar si kecil dapat melakukan kegiatan favoritnya. Itulah beberapa cara memudahkan orangtua membentuk pribadi anak yang teratur. Karakter disiplin dan teratur merupakan hal positif yang sangat penting dimiliki dalam hidup sehingga harus diajarkan sejak dini pada anak.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Share

To Top