Parenting

Jangan Sampai Salah Didik, Begini Pola Asuh yang Benar Agar Anak Ceria dan Bahagia

Melihat Si Kecil tertawa terbahak-bahak menjadi momen yang paling membahagiakan bagi Ayah dan Bunda. Itulah sebabnya para orangtua rela melakukan apa saja demi membuat anaknya senang. Mulai dari membelikan mainan kesukaannya, bermain bersamanya, atau mengajaknya bercanda. 

Dilihat dari perkembangannya, salah satu ciri tumbuh kembang anak berjalan dengan baik adalah ia terlihat ceria, aktif dan punya respon yang baik. Jika bunda mendapati si kecil sering murung dan berdiam diri maka harus gunakan cara agar anak ceria kembali. Namun, bagaimana caranya membuat anak tumbuh menjadi orang yang ceria? Yuk, cari tahu penjelasannya di bawah ini. 

Lantas Bagaimana Cara Agar Anak Ceria yang Dapat Dilakukan Orangtua?

Karena stress juga bisa terjadi pada anak-anak, dan salah satu pertandanya adalah murung dan terlihat tidak bersemangat untuk membuatnya kembali ceria Bnda bisa lakukan beberapa cara berikut ini.

1. Meski Terdapat Berbuat Salah, Jangan Langsung Beri Label Negatif Pada Anak

Seringkali orangtua secara tidak sar sudah menerapkan pola asuh yang salah kepada si kecil. Mereka langsung memberi anak label negatif atas apa yang sudah diperbuatnya. Misalkan saja ketika ia sedang murung tidak ingin bertemu siapa-siapa. Jangan langsung memberi panggilan  “anak kuper”

Bunda bisa mencari tahu dulu penyebabnya. Mengapa anak berlaku demikian, apakah ada yang salah dengan lingkungan bermainnya, keluarga besar atau justru dari dalam dirinya sendiri. Tanyakan kepada anak secara perlahan agar ia mau menceritakan pikirannya secara terbuka dan jujur pada orang tua.

2. Bantu dan Ajari Anak untuk Menemukan Solusi dari Setiap Masalah yang Sedang Dialaminya

Selanjutnya adalah mengajarkan kepada anak bagaimana caranya menemukan penyelesaian di setiap masalah yang datang. Biasanya anak kecil cenderung akan menangis bila dihadapkan dengan suatu masalah, sebaiknya jangan dibiasakan seperti itu. Bunda dapat membantunya si kecil jadi ceria kembali,

Caranya adalah dengan mengajak mereka untuk berpikir positif terhadap segala sesuatu yang sedang dihadapinya. Jelaskan kepada mereka bahwa tidak perlu khawatir atau takut lagi terhadap segala sesuatu yang tengah dihadapinya. Sebab bagaimanapun masalah tersebut tetap bisa terlewati.

3. Jadilah Orangtua yang Mampu Memberikan Anak Rasa Aman

Salah satu indikasi mengapa anak menjadi pribadi yang pemurung adalah karena merasa terancam terhadap suatu hal yang biasa ia temui. Orangtua baik Ayah atau Bunda tentu harus peka dengan hal ini, jangan sampai anak melawan ketakutannya sendiri. Rasa trauma akan membekas sampai ia besar nanti.

Ketika Ayah atau Bunda mengetahui dan sadar akan hal ini sebaiknya langsung tanyakan kepada anak. Ajak si kecil untuk bercerita secara jujur apa yang sedang jadi ketakutannya. Peluk dia, beri rasa aman juga nyaman secara terus menerus. Perlahan ia bisa keluar dari ketakutan berlebihannya tersebut.

4. Berikan Dorong anak Untuk Mendukung Anak Melakukan Hobinya

Saat si kecil merasa sedang gundah dan tidak ceria biasanya ia hanya berdiam diri saja di rumah. Jika hanya berdiam diri saja di rumah justru akan membuatnya semakin memikirkan hal tersebut. Tidak ada penyaluran rasa kecewa atau sakit yang sedang dirasakan. Emosionalnya tetap negatif sepanjang waktu. 

Agar emosionalnya terlampiaskan dengan positif bunda bisa memintanya melakukan hobinya. Misalnya mengikuti kegiatan tambahan di sekolah atau di luar lingkungan sekolah. Ikut kursus atau kegiatan lain yang menuntut pergerakan dari fisiknya. Hal ini bisa membantu tumbuh kembang semakin optimal.

5. Jangan Membebani Anak dengan Memiliki Ekspektasi Berlebihan Terhadapnya

Setiap orang tua pasti punya ekspektasi atau bayangan masa depan untuk anaknya. Hal itu sebenarnya boleh-boleh saja, asalkan masih sesuai dengan kemampuan si anak. Jangan sampai terlalu ambisius sehingga membuat beban berlebih pada anak. Hal tersebut justru menimbulkan stress mendalam.

Dorongan untuk melakukan segala sesuatu yang positif sebenarnya baik. Namun jika dilakukan dengan berlebihan tentu juga kurang bagus. Bukannya merasa semakin ceria justru meninggalkan beban pada anak dan membuatnya tidak leluasa dalam menunjukkan kemampuan yang dimilikinya.

6. Ajak dan Bantu Anak Mulai untuk Mulai Mengatur Time Manajemen

Si kecil juga tetaplah seorang anak-anak yang masih dalam tahap tumbuh kembang. Jam bermainnya harus disesuaikan dengan porsi belajarnya, Jadwal terlalu padat bisa membuat mereka stress dan jadi pemurung. Sebaiknya orang tua membantu si kecil untuk mulai terbiasa dengan time manajemen.

Melatih si kecil agar bisa menentukan sendiri time manajemen yang bagus dari kegiatan sehari-harinya. Misalnya ada waktu untuk bermain ponsel, kemudian waktu tidur, dan dilanjut dengan kursus atau les tertentu. Biasanya dengan begitu anak-anak lebih santai dan tidak mudah stress.

7. Bangun dan Jalin Komunikasi Dua Arah yang Baik dengan Anak

Tidak semua anak punya hubungan yang baik dengan orangtuanya. Jarak yang tercipta inilah yang membuat komunikasi antara orang tua dan anak jadi semakin renggang. Tidak ada lagi keharmonisan atau waktu bersama berharga yang digunakan untuk saling berkeluh kesah satu sama lain.

Jangan sampai hal ini terjadi pada Bunda dan si kecil. Sebisa mungkin dari kecil terus jaga keintiman hubungan antara ibu dan anak. Ajak mereka agar mau selalu berkomunikasi dan terbuka dengan Ayah Bundanya. Dengan begitu ia sudah memiliki pendengar baik yang setia setiap saat,

8. Dan Selalu Ingat untuk Meluangkan Waktu untuk Quality Time Bersama Anak

Peran keluarga khususnya orangtua memang sangat penting dalam menjaga mental anak. Ketika si kecil sedang dirundung masalah tentu hanya Ayah atau Bunda saja yang bisa menenangkannya. Membuatnya merasa aman dan nyaman.

Sebisa mungkin selalu luangkan waktu sejenak untuk quality time tanpa adanya pengaruh teknologi seperti handphone. Ajak anak-anak bercerita bagaimana hari-hari mereka, apakah perasan mereka bahagia, apa ada cerita yang harus didengarkan agar membuat hati terasa lega.

Punya anak dengan pribadi yang ceria memang sangat menyenangkan. Namun perlu pola asuh yang baik juga konsisten agar bisa mendapatkan hasil maksimal. Konsistensi juga kesabaran tinggi perlu dimiliki oleh ayah ataupun bunda dalam menjalankan prosesnya. 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Kesehatan

Waspadai Beberapa Gangguan Perkembangan Balita Pada Usia 3 – 4 Tahun yang Sering Terjadi

Tumbuh kembang si kecil, jadi sesuatu yang wajib diperhatikan dengan sungguh-sungguh. Karena jika telat mendapat perhatian, bisa jadi fatal karena tak segera ditangani. Meski gangguan perkembangan balita pada usia 3 – 4 tahun kadang sulit didetiksi. Sebagai orangtua, kita wajib untuk mengetahui tahap perkembangan anak mulai dari lahir hingga dewasa. Tujuannya tidak lain untuk mengetahui apakah si kecil mengalami tanda-tanda gangguan atau tidak.

Tahap Perkembangan Anak Usia 3 – 4 Tahun yang Patut Dijadikan Ajuan oleh Orangtua

Usia 3 – 4 tahun termasuk dalam kategori masa golden age bagi si kecil. Pertumbuhan di masa ini sangat penting untuk membangun karakternya nanti ketika mereka dewasa kelak. Oleh karena itu, penting sekali untuk terus mendampingi mereka saat masih di masa keemasan. Apa saja tahap perkembangannya?

  1. Kemampuan Gerak Tubuh untuk Melakukan Sesuatu yang Ia Inginkan

Dari segi fisik, anak yang sudah memasuki usia 3 sampai 4 tahun biasanya sedang sangat aktif bergerak. Mereka sedang menikmati masa-masa mengeksplor banyak hal dan mulai muncul banyak pertanyaan kritis. Anak-anak sudah bisa melakukan gerak tubuh seperti berjalan dan berlari.

Di usia ini mereka juga sudah bisa naik turun tangga dengan kaki secara bergantian. Menendang bola, melempar, dan menangkapnya juga menjadi keahlian lain yang sudah harus dimiliki si kecil pada usia 3 sampai 4 tahun. Mereka juga sudah bisa memanjat, melompat, hingga menggunakan / melepas pakaian.

  1. Kemampuan Berbahasa Sebagai Caranya Berkomunikasi dengan Orangtua dan Orang lain di Sekitar

Kosakata yang dikuasai anak usia 3-4 tahun sudah semakin banyak sehingga biasanya mereka akan banyak berbicara. Banyak hal yang berhubungan dengan bahasa dan komunikasi yang seharusnya sudah bisa dilakukan oleh anak dalam usia tersebut. Contohnya seperti menyebutkan nama dan usia.

Biasanya mereka sudah mampu mengucapkan hingga ratusan kosakata dengan lebih jelas. Anak-anak juga sudah mampu menjawab pertanyaan sederhana yang diajukan kepada mereka. Si kecil juga sudah bisa menyusun kalimat dengan runtut dan bicaranya sudah bisa dipahami dengan sangat jelas.

  1. Kemampuan Tangan dan Jari untuk Melakukan Sesuatu dan Beraktivitas

Kemampuan tangan dan jari sekecil di usia 3 sampai 4 tahun juga sudah semakin membaik. Mereka sudah bisa melakukan banyak hal seperti memegang benda kecil, membuka halaman buku, menggunting menggunakan gunting mainan, menggambar kotak dan lingkaran, hingga mewarnai.

Kemampuan memegang alat tulis bisa dikuasai dengan baik oleh anak usia 3-4 tahun. Mereka bahkan mampu menulis beberapa huruf kapital dan menggambar beberapa bentuk gambar yang ada di lingkungan sekitarnya. Hal sederhana seperti memutar gagang pintu, membuka toples juga sudah bisa dilakukan. 

Dan Ada Pula Gangguan Perkembangan Balita Pada Usia 3 – 4 Tahun yang Wajib Bunda Waspadai

Anak usia 3 – 4 tahun juga bisa mengalami gangguan perkembangan tertentu. Anda harus waspada dan terus mengawasi bagaimana tumbuh kembang si kecil setiap harinya. Berikut ini beberapa jenis gangguan perkembangan yang mungkin bisa dialami dan patut diwaspadai, di antaranya:

  1. Kesulitan Berbicara untuk Mengutarakan Isi Hati dan Perasaanya

Jika anak usia 3 – 4 tahun belum bisa diajak berkomunikasi karena kosakata yang diucapkan belum jelas, maka Anda patut waspada. Bisa jadi mereka mengalami keterlambatan bicara atau gangguan pendengaran sehingga sulit untuk mengucapkan kata yang mudah dipahami oleh orang dewasa.

Dalam berkomunikasi, anak-anak juga tidak tertarik untuk mengekspresikan perasaannya. Mereka cenderung diam dan enggan untuk berbicara. Oleh karena itu, penting untuk menstimulasi kemampuan anak berbicara sejak mereka lahir untuk mengantisipasi terjadinya keterlambatan seperti ini.

  1. Sering Berhenti Sejenak Saat Berbicara, Karena Kesulitan Menemukan Kosakata yang Ingin Disampaikan

Anak usia 3 – 4 tahun yang tiba-tiba berhenti sejenak saat berbicara, mungkin bisa menjadi pertanda bahwa ia mengalami kesulitan untuk mengucapkan kata-kata dari mulutnya. Jika mereka malas untuk belajar, maka hal tersebut akan terbawa terus-menerus hingga mereka dewasa. Tentu Anda tidak ingin itu terjadi. 

Ketika anak mengalami kesulitan saat berbicara dan mengeluarkan kosakata tertentu dari mulutnya, biasanya mereka akan mudah menyerah dan mengatakan “tidak jadi”. Jika mereka sering mengucapkan kata tersebut maka patut waspada dan coba uji beberapa kata pada anak untuk diucapkan.

  1. Tidak Bisa Memahami Instruksi atau Kalimat Perintah yang Diterimanya

Saat memasuki usia 3 – 4 tahun, seharusnya anak-anak sudah bisa memahami kalimat perintah dengan baik. Sehingga mereka bisa dimintai tolong untuk melakukan atau mengambil sesuatu. Namun, ada anak yang mungkin mengalami gangguan sehingga mereka tidak bisa memahami instruksi sederhana. 

Saat diminta untuk melakukan sesuatu, mereka cenderung memilih diam dan tidak melakukannya karena tidak paham apa yang diinginkan oleh orang yang memberikan instruksi tersebut. Bicaranya juga masih tidak jelas dan sulit untuk dipahami oleh orang dewasa.

  1. Kesulitan Menggunakan Struktur Kalimat yang Tepat Ketika Sedang Berbicara atau Mengutarakan Maksudnya

Anak usia 3 – 4 tahun bisa dianggap mengalami keterlambatan perkembangan ketika mereka masih belum bisa menggunakan kata aku dan kamu dengan cara yang tepat. Mereka juga masih kesulitan untuk menceritakan kembali cerita atau kisah favorit yang pernah diperdengarkan untuk si kecil.

Bicaranya masih cenderung belum jelas dan belum bisa menggunakan struktur kalimat dengan tepat. Mereka juga kesulitan untuk mendeskripsikan sesuatu secara rinci dan detail.

  1. Ketidaktertarikan Pada Aktivitas Fisik Tertentu yang Lazim Dilakukan Anak Seusianya

Anak usia 3 – 4 tahun harusnya sudah bisa belajar dengan mandiri dan melakukan beberapa hal sendiri. Namun, anak yang mengalami gangguan biasanya tidak mau mencoba untuk belajar hal-hal seperti memakai dan melepas baju, atau belajar menggunakan sendok dan garpu.

Mereka juga enggan belajar untuk menggosok gigi, membantu orang tua di rumah, menggunakan toilet, makan sendiri, atau menyiapkan makanan dan minumannya sendiri. Beberapa gangguan perkembangan balita pada usia 3 – 4 tahun tersebut memang bisa dialami oleh siapa saja. Oleh karena itu, sebagai orang tua jangan sampai lengah untuk mengawasi tumbuh kembang si kecil agar bisa mendidik dan mengajari dengan cara yang tepat.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Biarkan Anak Memilih Buku yang Ia Suka, Maka Begini Cara Agar Anak Mau Membaca dan Berlatih Setiap Hari

Memiliki kebiasaan rajin membaca nyatanya dapat menambah ilmu dan juga wawasan seseorang. Tidak hanya bermanfaat untuk orang dewasa,  sebagai orangtua, Kita juga perlu menumbuhkan kebiasaan rajin membaca sejak dini pada anak-anak. 

Adapun membaca bagian anak adalah menjadikannya sosok yang kreatif, serta dapat meningkatkan hubungan emosional antara ibu dan anak. Untuk itu, bagaimana cara agar anak mau membaca adalah sesuatu yang harus dipikirkan baik-baik oleh Ayah dan Bunda. 

Lantas, Bagaimana Tips Edukasi Cara Agar Anak Mau Membaca yang Tepat?

Anak adalah cerminan orangtua, istilah tersebut tentu saja benar adanya. Mereka akan tumbuh jadi pribadi yang sesuai dengan metode pengajaran dari orangtuanya. Jadi jika ingin anak mau belajar membaca dari kecil, beberapa tips dibawah ini bisa membantu Bunda dalam mewujudkannya.

1. Mulailah dengan Menjadi Panutan untuk ANak dengan Memberikan Contoh Baik Pada Anak

Jika ingin punya anak yang gemar membaca, tentu saja Ayah dan Bunda juga harus memberikan contoh serupa. Misalnya sering-sering baca buku saat sedang menjaga anak, atau bisa juga dengan membacakannya cerita dongeng ketika hendak tidur. Hal itu bisa merangsang rasa penasaran anak.

Secara tidak langsung Ayah dan Bunda juga sudah mengenalkan buku kepada anak. Dari rasa penasaran tersebut nantinya anak akan tertarik untuk bergabung bersama Bunda atau Ayahnya untuk membaca buku. Lalu tinggal perlahan mengenalkan berbagai macam huruf-huruf saja kepada si kecil.

2. Berikan Anak Kebebasan dengan Membiarkan Ia Membaca Buku Kesukaannya

Agar anak punya kemauan sendiri untuk melatih bacaannya, tidak ada salahnya untuk membiarkannya membaca buku pilihannya sendiri. Jika mereka senang dengan buku penuh gambar maka berikan saja kepadanya. Hal tersebut menjadi tanda jika si kecil merupakan pribadi pandai berimajinasi dan kreatif.

Namun jika si kecil lebih nyaman membaca buku yang hanya ada tulisan saja juga tidak masalah. Intinya biarkan mereka memperbanyak kosa kata melalui buku-buku favoritnya dulu. Jangan minta anak untuk selalu membaca buku-buku pelajaran yang tebal dan justru membuat mereka bosan.

3. Identifikasi Karakter Anak dan Berikan Buku yang Sesuai dengan Mereka

Biasanya anak akan suka dengan buku-buku seusia mereka. Misalnya saja dibawah 3 tahun akan lebih tertarik dengan buku banyak gambar dibandingkan hanya berisi tulisan saja. Untuk tahap pengenalan tentu saja hal tersebut tidak masalah. Justru bisa melatih daya imajinatif mereka.

Belikan beberapa buku bergambar untuk anak, bacakan setiap hari. Bisa sambil bermain atau menjelang tidur. Sambil perlahan-lahan ayah atau bunda juga memperkenalkan jenis buku lainnya yang bisa menjadi kesukaan berikutnya. Namun tidak perlu buru-buru, lakukan dengan perlahan saja.

4. Dukung Aktivitas Membacanya dengan Menciptakan Suasana Nyaman Ketika Anak Membaca

Selanjutnya adalah membuat anak betah atau gemar membaca dengan menciptakan suasana juga ruangan bersih, harum yang nyaman. Suasana seperti ini bisa membuatnya fokus pada buku tersebut, tidak terbagi ke mainan, suara bising motor atau lantai yang kotor karena sisa makanannya.

Suasana yang nyaman juga bisa meningkatkan fokus si kecil untuk membaca buku tersebut, meningkatkan ketertarikannya untuk lebih lagi dalam intensitas membaca. Kebiasaan seperti ini tentu saja sangat bagus untuk masa tumbuh kembang anak yang usianya dibawah lima tahun.

5. Ajak Anak Memilih dengan Pergi ke Toko Buku Bersama

Tips selanjutnya untuk membuat anak jadi semakin cinta membaca adalah dengan mengajaknya pergi ke toko buku bersama. Selain mengenalkan anak pada dunia luar yang asyik dan menyenangkan, kegiatan ini tentu bisa juga mempererat hubungan antara ibu dan anak agar bisa semakin akrab dan intim.

Ajak si kecil untuk berkeliling ke berbagai genre buku khusus anak-anak. Perkenalkan kepada mereka tentang macam-macam genre seperti komik, novel, cerita dongeng, buku bergambar, dan lainnya. Bangun intensitas si kecil sejak dini melalui langkah seperti ini memang dinilai sangat tepat.

6. Buat dan Ciptakanlah Waktu Khusus untuk Anak Membaca

Dalam satu hari usahakan ada waktu khusus bagi si kecil hanya untuk belajar membaca. Usahakan pilih waktu dimana ia berada dalam keadaan happy, mood baik dan daya fokusnya juga baik. Misalnya saja pagi hari setelah sarapan. Tidak perlu terlalu lama, cukup 30 menit saja waktu terlamanya.

Waktu terbaik lainnya adalah ketika menjelang waktu tidur. Disini bunda bisa membacakan cerita ke anak sebelum tidur. Quality time seperti ini bisa sangat berkualitas jika bunda dan si kecil bisa sama-sama aktif di dalamnya. Tidak perlu biaya mahal atau syarat khusus untuk bisa mendapatkannya.

7. Agar Jadi Sebuah Kebiasaan Cobalah Lakukan Secara Konsisten Setiap Hari

Hasil dari metode pembelajaran ini tentu tidak akan nampak dalam waktu cepat. Butuh konsistensi tinggi dari semua pihak, baik orang tua maupun pihak anak. Semua usaha tersebut juga harus dilakukan setiap hari. Semakin anak terbiasa maka Bunda juga bisa meningkatkan intensitasnya.

Dengan konsistensi tinggi dari semua pihak tentu saja hasil akhirnya juga akan memuaskan. Jadi bagi Bunda yang sekarang sedang berusaha memperkenalkan si kecil dengan huruf ataupun angka pantang untuk menyerah. Memang perlu proses panjang dan disiplin tinggi dari Ayah dan Bunda.

8. Dan Jangan Lupa untuk Memberi Apresiasi Setiap Kali Ia Menyelesaikan Satu Buku Bacaannya

Terakhir jangan lupa juga untuk memberikan apresiasi kepada si kecil. Setiap pencapaiannya tentu kemajuan yang sangat berharga. Misalnya saja hari ini anak sudah bisa menghafal dari A sampai G. Walaupun belum sempurna tetap harus diapresiasi.

Bentuk apresiasi yang diberikan juga tidak perlu mahal-mahal. Bisa saja hanya dengan hal-hal kecil seperti membuatkan makanan kesukaan, membelikan makanan pesan antar, atau hanya melalui ucapan saja seperti “kakak hebat sekali hari “

Pujian seperti itu ada kalanya memang sangat berpengaruh ke mental dan psikis anak. Intinya saat ini adalah jangan hanya mengekang anak untuk melakukan hal yang diinginkan orang tua tanpa tahu apa anak tersebut nyaman atau tidak. 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Salah Satu Ilmu Parenting yang Penting, Yaitu Cara agar Anak Berbakti Orangtua

Si kecil yang sedang mengeksplorasi diri serta lebih percaya dengan instingnya, kadang terkesan membangkang. Misalnya saja saat anak menolak makan di jam makan, sulit tidur, ingin terus bermain atau screen time. Semua itu memang menunjukkan kesan bahwa mereka tidak menurut dengan perintah orangtua. Namun jika ditelusuri lebih dalam, mereka memang sedang berada di fase eksplorasi. Bukan berarti tidak patuh.

Nah, Karena memiliki anak yang patuh, berbakti dan hormat kepada orang lebih tua tentu butuh proses edukasi yang panjang. Ada berbagai cara agar anak berbakti, tumbuh menjadi pribadi yang santun dan sayang dengan orang di sekitarnya. Berikut ini ada beberapa tips yang bisa digunakan oleh para orangtua di rumah. 

Metode Pembelajaran Parenting Tentang Cara agar Anak Berbakti

Untuk membuat anak jadi pribadi yang berbakti dan patuh terhadap orangtua, sebenarnya ada cara atau tipsnya. Semua edukasi ini tentunya harus diterapkan dari kecil, dijalankan dengan konsisten agar dapat membuahkan hasil yang maksimal. Berikut adalah tips edukasi yang bisa dicoba hanya dari rumah. 

1. Anak Mudah Mengingat, Hindari untuk Berteriak dan Bersikap Kasar Pada Anak

Sebenarnya, memori si kecil dalam masa pertumbuhannya berkembang dengan sangat pesat. Alih-alih mengajarkan sesuatu yang salah, sebaiknya gunakan kesempatan ini untuk memberikan edukasi yang positif dan bagus kepada mereka. Misalnya saja dengan memberikan cerita-cerita orang teladan. 

Sebisa mungkin hindari berteriak atau mengeluarkan kata paksaan kepada anak. Hal ini justru akan membuatnya semakin tram dan malas untuk berinteraksi dengan orang tuanya sendiri. Kalau sudah begini jangan harap anak-anak bisa tumbuh akrab dengan Ayah atau Bundanya. 

2. Cobalah untuk Memahami Situasi, Jangan Berikan Perintah Saat Anak Tantrum 

Tantrum merupakan suatu kondisi dimana anak fokus untuk mengeluarkan atau mengungkapkan ekspresinya. Oleh karenanya dia tidak akan mendengar ataupun merespon perkataan orang lain yang memberikan nasehat untuk diam, bahkan oleh ibunya sendiri. Fokusnya hanya ke diri sendiri. 

Jangan beri pesan atau nasehat apapun ketika anak sedang tantrum. Tunggulah jeda beberapa saat atau waktu saja. Tunggu sampai si kecil sudah selesai dengan masa tantrumnya. Biarkan ia mengungkapkan ekspresi kekecewaan atau marahnya, cukup perhatikan dan awasi saja jika tindakannya masih wajar.

3. Jadilah Orangtua yang Mengerti dengan Berusaha Mendengarkan Perkataan Si Kecil 

Ingin anak berbakti kepada Anda sebagai orang tuanya? Maka mulailah jadikan ia pendengar yang baik semasa kecil. Setiap si kecil sedang berbicara jangan menyelanya, dengarkan dan berikan waktu sampai perkataan atau ceritanya sudah selesai. Lakukan hal tersebut secara terus menerus sepanjang waktu. 

Secara tidak langsung anak juga akan mengerti jika ada orang yang sedang bercerita maka ia harus mau mendengarkannya dengan baik. Jika ingin diperlakukan manis, maka harus manis pula terhadap orang lain. Tanamkan prinsip tersebut kepada si kecil sejak dini agar saat besar nanti sudah mengerti.

4. Panggil Nama si Kecil dengan Benar, Karena Itu Membuatnya Merasa Dihargai

Si kecil juga bisa menjadi orang yang penurut jika ibu memanggilnya dengan nama anak yang baik dan bagus. Lakukan hal tersebut setiap mengajaknya bicara, tujuannya adalah supaya si kecil menjadi penurut. Memanggilnya dengan sebutan yang baik membuatnya akan merasa dihargai. 

Setelah ia merespon panggilan yang diberikan tadi Anda juga harus mengatakan suatu hal tersebut dengan pelan dan lemah lembut. Cara ini biasanya akan membuat anak jadi merasa bersimpati dan otomatis membentuknya jadi pribadi yang patuh, hormat dan sayang kepada kedua orang tuanya.

5. Koordinasi dengan Pasangan, Satukan Visi dan Misi dalam Hal Mendidik Anak 

Sebenarnya memang tidak mudah memberikan edukasi kepada anak sejak dini. Butuh konsistensi dan perjuangan yang panjang. Namun semua itu bisa menjadi ringan jika Bunda kompak dan satu suara dengan pasangan. Punya visi juga misi sama dengan suami adalah hal yang menguntungkan. 

Biasanya ketika punya visi misi yang sama dengan pasangan, edukasi anak di rumah juga semakin mudah. Masing-masing sudah memiliki porsinya dalam memberikan perhatian dan dukungan penuh pada satu sama lain untuk parenting yang bagus kepada si kecil. Hal ini sangat membantu sekali. 

6. Jangan Lupa Untuk Memberikan Anak Apresiasi Atas Sikap Manisnya 

Selanjutnya adalah jangan lupa untuk memberikan anak apresiasi. Biasanya bunda atau ayah sering lupa pada hal kecil yang bisa membuat si kecil bahagia. Jangan hanya menekannya saja, namun berikan juga penghargaan atau reward ketika anak sudah berhasil melakukan suatu pencapaian dalam hidupnya. 

Misalkan saja si kecil sudah mau menuruti perkataan Ayah dan Bundanya untuk selalu merapikan tempat tidur di pagi hari. Agar lebih membuatnya konsisten dan semangat ayah atau bunda bisa memberinya kejutan kecil yang sederhana. Bisa dengan membuatkan makanan kesukaan atau diajak jalan-jalan.

7. Lakukan Semua  Pola Didik yang Bunda Inginkan dengan Konsisten 

Tidak mudah untuk memberikan edukasi atau materi parenting ke anak setiap hari berturut-turut, terkadang orang tua juga akan bosan dan lelah. Perasaan tersebut sebenarnya sangat manusiawi, hanya saja sebaiknya jangan dibiasakan. Jika hanya sekali dua kali saja boleh, seterusnya jangan. 

Jika Ayah atau Bunda tidak bisa konsisten nantinya memori si kecil justru jadi rancau atau kacau. Hasil akhirnya tidak akan maksimal sesuai apa yang diharapkan. Oleh karena itu sebaiknya sedari awal tanamkan niat yang bulat kepada diri sendiri. Usahakan jangan mudah goyah dan malas melakukannya. 

8. Jangan Lupa untuk Menciptakan Lingkungan yang Mendukung Juga 

Terakhir adalah menciptakan lingkungan yang positif dan sesuai dengan pengajaran yang dilakukan. Lingkungan tentu memiliki peran besar untuk perkembangan anak baik dalam segi mental, motorik maupun kepribadiannya.

Inilah pentingnya memilih dengan baik lingkungan tempat tinggal yang tepat. Kehadiran para tetangga atau keluarga besar yang juga punya visi misi sama tentu akan sangat membantu anak bisa mencapai hasil akhir sesuai keinginan. 

Anak bisa patuh kepada orang tua karena sedari kecil sudah dididik untuk seperti itu. Oleh karenanya jangan sampai melewatkan masa tumbuh kembangnya dengan sia-sia. Dalam artian tidak memberikannya stimulasi positif yang sesuai.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Share

To Top