Kesehatan Ibu & Anak

Ini Pertanyaan dan Jawaban MPASI yang Harus Bunda Ketahui

WaktuMPASI

Setelah pemberian ASI ekskusif pada 6 bulan pertama usia bayi, selanjutnya adalah mengenalkan makanan pendamping ASI pada bayi. Ya MPASI, berikut ini pertanyaan-pertanyaan yang sering dan tanyakan terkait MPASI.
WaktuMPASI

Berikut  6 Pertanyaan Top Soal MPASI  kepada dr. Ayu Partiwi, SpA, MARS atau yang lebih akrab disapa dr. tiwi di webnya klinikdrtiwi.com

1. Bayi saya mendapat ASI eksklusif 6 bulan dan hingga usia satu tahun sekarang masih dapat ASI selain MPASI. Haruskah dia mengenal susu UHT atau susu formula?

Jawab:

Hal ini berpulang kembali kepada ibu dan bayi, apakah setelah usia bayi satu tahun akan dikenalkan susu atau tidak. Selama berat badannya ideal dan nafsu makan bayi bagus, dia tidak mengenal susu pun tidak apa-apa. Zat-zat gizi yang terdapat pada susu bisa tetap diperoleh anak dari sumber makanan lain secara memadai. Apalagi, bayi-bayi ASI seringkali kurang menyukai rasa susu formula.

Susu sebagai sumber kalsium, riboflavin (B2), dan mineral zinc bisa didapat dari sumber makanan lain. Carol Byrd-Bredbenner, PhD, RD dan Donna Beshgetoor, PhD., dalam bukunya Perspectives in Nutrition, menyebutkan bahwa daya serap (bioavailabilitas) kalsium oleh tubuh dari susu masih kalah dibanding brokoli, kol, kembang kol, dan bakcoy. Sementara vitamin B2 dapat juga diperoleh dari daging dan hati. Dan, mineral zinc terkandung juga dalam kacang-kacangan serta serealia.

Kalau pun ingin mengenalkan susu untuk anak di atas setahun dengan berat badan dan nafsu makan yang baik, ibu bebas menentukan pilihan. Silakan saja pilih yang diinginkan, susu UHT atau formula. Yang jelas, jangan mengencerkan susu formula hanya karena memaksakan diri memberi susu formula pada bayi padahal status gizi si bayi kurang baik. Lebih baik manfaatkan makanan lokal sumber kalsiun seperti ikan teri segar yang dimakan dengan tulangnya daripada memberi anak dengan status gizi kurang dengan susu formula encer atau tidak sesuai takaran yang dianjurkan.

Untuk bayi dengan berat badan kurang atau kurus, susu formula bisa menjadi pilihan, selain tetap terus disusui. Karena, dua tahun pertama adalah usia gizi anak. Maksudnya, bila di usia ini tubuh anak kecil, maka biasanya dia akan kecil terus. Gizi yang baik di usia 2 tahun pertama anak akan mengawal tumbuh kembang anak hingga usia 5 tahun, karena gizi berhubungan erat dengan sistem imun.

2. Bagaimana dengan penambahan gula dan garam pada MPASI, bolehkah?

WHO memang tidak menyatakan bahwa pemberian gula dan garam dilarang pada bayi. Masalahnya, bayi belum bisa melakukan perawatan gigi sendiri, sehingga cenderung mengalami karies bila mengonsumsi gula tanpa perawatan gigi yang benar. Anak yang sudah menggemari makanan bercita rasa manis biasanya juga jadi tidak suka makan sayur.

Bukan tidak boleh, tapi bila kita teliti lagi, makanan instan umumnya ada penambahan gula dan garam. Itu sebabnya, makanan lokal yang segar lebih disarankan untuk bayi. Selera makan bayi itu pada dasarnya bagus dan sehat. Dia suka dengan makananannya yang tanpa gula dan garam. Jadi sebaiknya jangan kita rusak selera makannya tersebut untuk menghindari kegemukan dan masalah kesehatan lain di kemudian hari.

3. Makanan apa yang tepat untuk anak yang diare? Amankah obat diare yang diberikan dokter?

Obat bukan tidak boleh diberikan pada anak. Anak boleh diberi obat asal dengan alasan yang rasional (RUM = rational use of medicines). Sebagai informasi, modal seorang dokter anak dalam bekerja adalah ibu percaya pada dokter. Karena, pengobatan pada anak saat sakit bersifat sangat individual, satu anak berbeda dengan anak lain. Dokter pasti punya alasan mengapa memberikan satu jenis obat pada anak yang sedang sakit. Apabila orang tua tidak setuju dengan pemberian obat tersebut, lebih baik dipelajari komponen yang ada pada obat tersebut, lalu diskusikan dengan dokter sampai orang tua paham alasan dokter. Jadi bila ditanya perlu obat atau tidak pada bayi diare, jawabannya tergantung diagnosis. Bila perlu lakukan tes laboratorium, seperti cek rotavirus yang sekarang banyak terjadi pada bayi diare.

Untuk anak diare, karena dia kehilangan cairan, maka hal utama yang harus diberikan padanya adalah cairan yang mengandung gula dan garam. Anak yang diare terus-menerus bisa mengalami kejang karena kekurangan cairan elektrolit. Anak yang diare sampai 10 kali dapat membuatnya demam.

Untuk bayi yang mengalami diare, WHO menyarankan pemberian suplemen zinc. Apalagi pada bayi-bayi ASI, yang biasanya makin kecil kandungan zinc dari ASI setelah usia 4 bulan. Sementara untuk makanan yang dianjurkan adalah buah yang mengandung kalium tinggi, yaitu pisang. Infus yang diberikan pada anak diare biasanya juga ada cairan kalium. Bisa juga diberi apel yang mengandung pektin, yang dapat membuat konsistensi feses bayi lebih padat. Hindari dulu pemberian buah yang kandungan vitamin C dan seratnya tinggi seperti jeruk dan pepaya.

4. Apakah bila ibu menyusui mengonsumsi makanan sumber zat besi akan disalurkan ke bayi melalui ASI?

Sayangnya, keluarnya zat besi melalui ASI –meski si ibu mengonsumsi makanan sumber zat besi– sedikit sekali. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merekomendasi agar bayi diberi suplementasi zat besi di usia 4-5 bulan. Memang tidak semua bayi perlu tambahan zat besi, dan banyak ibu menyusui yang menolak memberikan suplemen zat besi pada bayinya karena ingin memberikan ASI eksklusif. Untuk memastikan apakah bayi mengalami kekurangan zat besi atau tidak, sebaiknya dilakukan tes laboratorium. Apalagi bila sudah ada tanda-tanda bayi kekurangan zat besi, seperti malas menyusu dan berat badan tidak naik. Dari pengamatan di ruang praktik, hasil pemeriksaan zat besi pada bayi ASI usia 4-6 bulan rata-rata rendah, meski tidak anemia (kekurangan zat besi). Jadi, cadangan zat besi si anak rendah.

Bayi yang dilahirkan normal umumnya cadangan zat besinya lebih baik daripada bayi yang lahir melalui operasi Caesar. Diduga, hal ini karena pada persalinan bedah Caesa, pemotongan tali pusat lebih cepat dilakukan karena umumnya bayi kurang menangis, sehingga suplai darah dari ibu ke bayi berhentinya juga lebih cepat. Sedangkan bila lahir normal, biasanya tidak harus buru-buru memotong tali pusat (delay clamping) sehingga bayi mendapat bekal zat besi lebih baik hingga 6-12 bulan ke depan.

Beberapa bayi memang sensitif terhadap pemberian suplementasi zat besi, seperti sukar buang air besar. Untuk mengatasi hal ini, sebaiknya bayi yang sudah mengonsumsi MPASI segera diberi menu makanan kaya zat besi seperti hati ayam dan bayam.

6. Bolehkah bayi usia 8 bulan diberi potongan apel? Ibu saya melarangnya karena anak belum tumbuh gigi, sementara saya memperbolehkannya karena anak sudah kepingin.

Untuk mengunyah, bayi tidak harus pakai gigi. Gigi pertama bayi yang tumbuh adalah di depan, sementara untuk mengunyah diperlukan gigi belakang yang biasanya tumbuh di usia 2 tahun. Mengingat fase kritis bayi mengunyah terjadi di usia 6-9 bulan, maka jangan ditunggu giginya tumbuh dulu baru diberi makanan untuk dikunyah. Bayi bisa mengunyah MPASI yang dimulai dengan tekstur yang lembut lalu bertahap ke kasar.

Bayi mengunyah dengan gusinya, dan jangan samakan gusi bayi dengan gusi orang dewasa. Di dalam gusi bayi sebenarnya ada giginya, tapi belum muncul/tumbuh. Bila bayi tidak diberi stimulasi mengunyah makanan pada fase kritis maka akan lebih sulit bagi kita untuk mengajarinya kelak. Demikian pula dengan fase kritis perkembangan yang lain, seperti toilet training dan sikat gigi. Jadi, biarkan saja bayi makan potongan apel, apalagi dia sudah bisa pegang sendiri.

Perihal perbedaan pendapat dengan orang tua dalam pengasuhan anak, hendaknya kita tetap menghormati orang tua. Dengarkan omongannya, jangan membantah, karena bagaimana pun orang tua kita lebih berpengalaman, setidaknya telah membesarkan kita atau pasangan. Hanya saja, karena keterbatasan informasi jaman dulu, maka cara yang mereka lakukan mungkin dianggap tidak tepat lagi. Dalam menghadapi situasi seperti ini, lebih baik kita bangun pola komunikasi yang baik dengan orang tua kita. Dengarkan dulu apa pendapat orang tua kita, lalu saring mana yang benar dan bisa kita manfaatkan, serta mana yang kurang tepat. Komunikasikan baik-baik keberatan kita, bila perlu ajak bersama-sama belajar perihal tumbuh kembang anak.

Selanjutnya ini merupakan pertanyaan mendasar tentang MPASI yang harus Ayah Bunda ketahui seperti dikutif dari tabloid-nakita.com

MPASI, Mengapa Penting?

Pemberian makanan pertama yang disebut makanan pendamping ASI (MPASI) ini dibutuhkan sebab kebutuhan kalsium, kalori, protein perlu ditambah lewat lauk-pauk seperti daging, ikan, sayur-sayuran, buah, dan lainnya. Pemberian makanan tambahan ini diperlukan karena pertumbuhan bayi yang semakin cepat.

Setelah MPASI, ASI Ditinggalkan?

Jelas tidak. Namanya saja pendamping, maka ASI tetaplah yang utama. Mengapa MPASI diberikan di usia 6 bulan? Karena menurut saran dari para dokter anak, selama 6 bulan pertama asupan terbaik adalah ASI eksklusif (tidak tergantikan oleh makanan/minuman lain). Pemberian ASI eksklusif membuat bayi mempunyai daya tahan tubuh yang lebih baik.  MPASI baru diperkenalkan di atas usia 6 bulan untuk menunggu kesiapan sistem pencernaan dan organ lain seperti hati dan ginjal, kesiapan sistem saraf dan motorik bayi.

Apa Manfaat MPASI?

MPASI yang diberikan, nantinya membantu bayi melatih kemampuan oromotor (organ-organ di mulut) karena melalui MPASI bayi akan mengunyah, mengisap, serta menelan untuk belajar makan makanan yang berkontur. Itu sebabnya, pemberian MPASI dilakukan bertahap, dimulai makanan berbentuk cair (ASI), lunak, semipadat, hingga padat.

Bagaimana Bila MPASI Diberikan Terlambat?

Pemberian MPASI terlalu dini (kurang dari 6 bulan) tidak disarankan karena dapat meningkatkan risiko gangguan pencernaan, infeksi pencernaan, malnutrisi, obesitas dan alergi, termasuk eksim, asma dan alergi makanan.

Bagaimana Bila MPASI Diberikan Terlalu Cepat?

Pemberian MPASI pun jangan terlambat dilakukan. Risikonya, bayi akan kekurangan asupan nutrisi sehingga mengalami gangguan tumbuh kembang, energi berkurang, ke depannya ia bisa mengalami gangguan adaptasi terhadap makanan. Contohnya menjadi picky eater  atau memilih-milih makanan karena ia tidak terbiasa mengenal ragam rasa dan kontur sejak dini dari MPASI.

Bagaimana Tahapan Pemberian MPASI?

Sejatinya, memperkenalkan MPASI tak hanya mengenalkan pada nasi tim dan bubur susu. Mama bisa memberikan berbagai variasi makanan dan cita rasa. Selain untuk mendeteksi apakah si kecil alergi terhadap bahan makanan tertentu, dengan mengenalkan variasi makanan sedini mungkin, si kecil akan tumbuh jadi anak yang tidak pemilih dalam hal makanan (picky eater).

Secara umum, ciri-ciri MPASI yang baik di antaranya; kaya akan energi, protein, vitamin dan mineral, tidak ditambahkan garam dan bumbu, mudah dicerna bayi, mudah diperoleh, dan disukai bayi. Selain itu, karena kemampuan organ pencernaan bayi masih terbatas
sebaiknya pengolahan MPASI perlu di sesuaikan (diberikan secara bertahap).

MPASI Dilakukan Secara Bertahap, Seperti Apa?

Untuk tahap awal atau perkenalan, bayi diberikan makanan lumat. Makanan lumat adalah jenis makanan yang konsistensinya paling halus, biasanya makanan ini diberikan pertama kali pada bayi setelah ASI seperti bubur susu dan bubur saring,bubur sumsum, pisang saring atau kerok, pepaya saring dan tim saring. Umumnya diberikan mulai usia 6-7 bulan. Untuk tahapan berikutnya, bayi diberikan makanan lembik. Makanan lembik merupakan makanan peralihan antara makanan lumat ke makanan biasa yang konsistensinya lebih padat daripada makanan lumat. Seperti bubur beras (padat)atau nasi lembik. Pemberian makanan lembik sebaiknya lengkap dengan lauk pauk dan sayuran. Biasanya diberikan mulai umur 8-12bulan.

Secara urutan, di usia 6 bulan, Mama bisa memberikan bubur 1 kali sehari misalnya di pagi hari dan buah 1 kali sehari misalnya di siang hari. Di usia 7-8 bulan, pemberian bubur ASI bisa diselang-seling dengan nasi tim saring 1-2 kali sehari (di luar bubur ASI) dan buah 2 kali sehari. Di usia 9-12 bulan Mama bisa memberikan nasi tim agak kasar 3 kali sehari (pagi-siang-sore) kemudian berikan buah atau biskuit 2 kali sehari. Nah masuk usia 12 bulan ke atas Mama sudah bisa memberikan nasi lembek dengan lauk tempe, tahu atau daging/ayam cincang 3 kali sehari ditambah buah atau biskuit 2 kali sehari. Jika tahapan ini dilalui dengan baik, pada usia batita, anak-anak sudah dapat memakan makanan padat seperti yang Mama makan. Harap diperhatikan, Ma, di setiap tahapan, ASI tetap diberikan sesuai yang diinginkan bayi (on demand).

Lalu,  setiap memperkenalkan satu jenis makanan, amati apakah makanan barunya memunculkan reaksi alergi yang tampak pada kulit atau mungkin bermasalah pada pencernaannya. Jika tak terjadi gangguan, Mama bisa dengan mudahnya mengenalkan beragam variasi rasa pada berbagai bahan makanan. Pengenalan aneka rasa dan bahan pangan sejak dini sangat berpengaruh pada pola makan di kemudian hari.

adorable-book-boy-1250722 adorable-book-boy-1250722
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Kesehatan Ibu & Anak

Walau Sudah Diberi MPASI, Berat Badan si Kecil Tak Kunjung Naik, Kenapa ya?

baby-baby-eating-chair-973970 (2)

Berat badan bayi jadi salah satu hal yang jadi prioritas Bunda saat membesarkan dan memantau tumbuh kembang si kecil. Bila berat badan si kecil tak sesuai grafik atau standar bayi seusianya, orangtua sering merasa sangat khawatir. Di usia enam bulan biasanya berat badan bayi memang fluktuatif. Bunda sering khawatir saat berat badan si kecil stagnan padahal ia sudah mengonsumsi MPASI. Kira-kira apa penyebabnya ya Bun?

Mengutip dari Kumparan.com, ahli gizi dr Tan Shot Yen mengatakan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat Bunda memberikan MPASI, sebab kalau satu faktor saja terlewat, maka hal ini bisa jadi pemicu berat badan si kecil tak kunjung bertambah. Nah, hal apa saja? Berikut ini paparannya, Bun.

Pemberian MPASI Harus Pas dengan Umur si Kecil

Memberi MPASI tak boleh sembarangan ya Bun. Usia menjadi titik awal si kecil boleh atau tidak diberikan MPASI. Bunda dapat memberikan MPASI padanya bila si kecil makan ditandai dengan tanda-tanda berikut: bisa meraih makanan yang dimasukkan ke mulut, sebab koordinasi mata mulut dan tangan sudah ada, duduk dengan kepala yang dapat tersangga tubuh, tertarik pada makanan yang dilihatnya ketika orang lain sedang makan, dapat menelan makanan, sebab jika tidak, risiko tersedak atau dikeluarkan lagi.

Menu MPASI Sudahkah Memenuhi Kebutuhan Gizi Harian?

Bun, sudahkah Bunda memperhatikan dengan detail setiap menu MPASI yang akan diberikan pada si kecil? Bunda perlu tahu, MPASI yang baik untuknya adalah menu yang terdiri dari variasi bahan empat bintang meliputi karbohidrat, protein nabati, protein hewani, serta sayur dan buah.

Jadi, kalau si kecil berat badannya tak kunjung bertambah sekalipun ia sudah diberikan MPASI, mungkin ini saatnya Bunda memberikan varian menu MPASI yang lebih sehat.

Pastikan Tekstur Makanan dan Takarannya pun Tak Bunda Lewatkan Ya

Memberikan MPASI itu bertahap ya Bun. Pertama, mulailah dengan memberikan bubur saring. Kemudian kalau sudah beberapa waktu, gantilah menunya menjadi nasi tim cincang sampai akhirnya si kecil makan dengan menu yang sama dengan keluarga.

Selain tekstur, takaran pun juga perlu diperhatikan. Bunda perlu mengetahui, kebutuhan pangan si kecil tepat dengan kebutuhan makro dan mikronutrien. Jadi bukan hanya variasi 4 bintangnya, tapi jumlah bahan dan kualitas bahan yang dipilih mampu mencegah kekurangan zat besi dan mineral lainnya yang dibutuhkan saat tumbuh kembang.

Perhatikan Waktu atau Pola Pemberian MPASI-nya Juga

Bun, supaya si kecil tumbuh sehat dengan MPASI, maka pemberian MPASI bisa rutin hingga 3 kali sehari dengan selingan buah sementara ASI jalan terus. Selain itu, perhatikan kebersihan MPASI menjadi syarat mutlak, karena jangan sampai tujuan pemberian makan yang mestinya memastikan tumbuh kembang bayi, malah menjadi petaka karena diare.

Dari keempat hal tersebut, sudahkan Bunda memenuhi kebutuhan MPASI si kecil dengan baik? Kalau berat badannya tak kunjung naik, mungkin saja hal itu bisa menjadi pemicu alasan berat badan si kecil tidak naik sesuai grafik pertumbuhan. Bahkan bukan hanya berat badannya saja yang tidak naik, tinggi badan si kecil juga bisa berpengaruh.

Untuk membantu berat badan si kecil naik sesuai dengan grafik pertumbuhan, orangtua harus segera mencari tahu terlebih dahulu penyebabnya supaya tumbuh kembang si kecil tidak mengalami masalah yang serius ya Bun.

Selain itu, sebagai orangtua pun Bunda juga perlu lebih bijak dan tidak berbangga dengan kuantitas makanan yang dimakan oleh si kecil setiap harinya, tanpa memperhatikan kualitas dan kebersihannya. Sebab kata dia, kuantitas menjadi percuma bila kualitas dan kebersihan makanan yang diberikan kepada bayi buruk.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

adorable-book-boy-1250722 adorable-book-boy-1250722

Kesehatan Ibu & Anak

Terlalu Riskan Bila Memberi MPASI Sebelum Usia Bayi Genap 6 Bulan

baby-baby-eating-chair-973970 (3)

Bun, memberikan MPASI tentu ada tahapannya ya. Biasanya bayi dapat diberikan MPASI bila sudah memasukki usia 6 bulan. Namun ada juga beberapa orangtua yang memilih memberikan MPASI sekalipun si kecil masih berusia kurang dari 6 bulan.

Padahal di usia ini, si kecil belum dianjurkan untuk menerima makanan dengan bentuk atau tekstur lain selain ASI. Ini karena usia tersebut sangat berpengaruh pada kondisi perncernaan dan daya tahan tubuh bayi yang belum sempurna.

Sementara itu, menurut dr Reza Fahlevi seperti dikutip dari Liputan6.com, sejak usia 4-6 bulan, bayi sudah mampu mengontrol kepala dan memiliki koordinasi dengan mulut. Selain itu, gusi bayi mulai mengeras dan saluran pencernaan juga sudah mulai menghasilkan enzim-enzim pencernaan.

“Namun, pada usia 4-6 bulan, kemampuan makan bayi baru dalam tahap perkembangan, sehingga belum cukup sempurna untuk menerima makanan semi padat.” jelas dr. Reza. Bayi baru benar-benar siap untuk menerima makanan semi padat pada usia 6 bulan, sehingga berbagai organisasi kesehatan anak di dunia hingga saat ini menyarankan pemberian MPASI baru bisa dimulai setelah bayi berusia 6 bulan.

Kenali Bahaya Bila Terlalu Cepat Memberikan MPASI

Sementara itu, ahli gizi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Syarief Darmawan, juga mengatakan jika Bunda memberikan MPASI pada anak yang usianya kurang dari 6 bulan, justru memperbesar peluang si kecil mengalami inflamasi usus yang akan menyebabkan terganggunya penyerapan nutrisi, Bun.

Kalau dibiarkan, nantinya masalah ini akan jadi pemicu terhambatnya tumbuh kembang si kecil. Bila tumbuh kembang terhambat, tinggi badannya akan sukar bertambah. Bunda perlu tahu, tinggi badan adalah parameter pertumbuhan yang paling mudah dikenali orang tua.

Dampak lainnya, anak juga rentan mengalami gangguan kecerdasan, motorik, ataupun gangguan fungsi tubuh lain. Jadi, orang tua sebaiknya tidak buru-buru memberikan MPASI. Meski ada teman sesama ibu yang kerap “mengompori”, sebaiknya jangan dilakukan. Pemberian MPASI yang kaya tekstur sebelum usia anak 6 bulan juga berisiko menyumbat usus yang berujung pada gangguan pencernaan.

Caritahu Tahap Pemberian MPASI ya Bun

Pemberian MPASI sendiri mesti dilakukan secara bertahap. Misalnya, mulai dari tepung beras atau yang kental namun halus, baru kemudian yang lebih kaya tekstur. Meski orang tua tidak disarankan untuk memberikan MPASI terlalu dini, ahli kesehatan juga tidak membenarkan tindakan pemberian MPASI yang terlambat. Sebab, keterlambatan pemberian MPASI dapat berdampak pada gagal tumbuh dan malnutrisi pada bayi.

“Setelah usianya 6 bulan, ASI saja tidak mampu memenuhi kebutuhan nutrisi anak, sehingga jika pemberian MPASI tidak dimulai, anak akan kekurangan energi, berisiko kena gizi buruk, serta gangguan pertumbuhan.” dr. Reza menegaskan.

Selagi memberikan MPASI, ASI pun masih wajib diberikan hingga usia anak 2 tahun. Adapun beberapa hal yang perlu diperhatikan agar Anda tidak salah dalam memberikan gizi si Kecil, antara lain sebagai berikut:

Pada usia 6-8 bulan, sekitar ⅔ kebutuhan energi bayi masih diperoleh dari ASI dan ⅓ dari MPASI.Pada usia 9-11 bulan, sekitar ½ kebutuhan energi bayi diperoleh dari ASI dan ½ lagi dari MPASI. Pada usia 12 bulan hingga 2 tahun, ⅓ kebutuhan energi bayi diperoleh dari ASI dan ⅔ diperoleh dari MPASI. Penting bagi orang tua untuk memahami soal kapan waktu yang tepat dalam mencukupi kebutuhan gizi buah hatinya.

Jangan sampai, maksud hati ingin mendukung pertumbuhan anak dengan memberikan makanan semi padat sebelum waktunya, justru membuat si Kecil mengalami gangguan kesehatan. Pemberian nutrisi sebaiknya dilakukan secara bertahap, tetapi tidak terlambat. Sebab, memberikan MPASI terlalu cepat atau terlalu lambat sama-sama berisiko buruk terhadap kesehatan anak.

Karena Memberikan MPASI Sebelum Waktunya, Dapat Membuat Si Kecil Rentan Sakit

Tak hanya organ tubuh bayi yang berusia dibawah 6 bulan belum berfungsi optimal, tapi juga dengan sistem imunnya. Biasanya sistem imun bayi masih sangat lemah dalam melindungi tubuh terhadap kuman-kuman penyakit. Maka itu, ibu tidak boleh sembarangan memberikan asupan makanan.

Pemberian makanan yang kurang higenis untuk si kecil justru bisa membuatnya rentan sakit, sebab sistem kekebalan tidak bisa melawan dengan baik. Apabila kondisi ini dibiarkan saja dan tidak diatasi maka bayi bisa mengalami masalah pencernaan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

adorable-book-boy-1250722 adorable-book-boy-1250722

Kesehatan Ibu & Anak

Walaupun Sedang Ngidam, Hindari Terlalu Sering Makan Es Krim Saat Hamil ya Bun

blurred-background-close-up-cold-1459557

Bun, saat sedang hamil, tentu Bunda merasakan momen-momen ngidam saat usia kandungan masih tergolong muda. Normalnya, ibu hamil sering mengalami mengidam makanan manis, seperti permen, cokelat, dan es krim. Khususnya es krim, makanan beku yang satu ini memang tergolong produk olahan susu yang kemudian dibuat dengan beragam varian rasa. Namun sekalipun terbuat dari bahan dasar susu, sejatinya bolehkah ibu hamil mengonsumsi es krim?

Tenang, ibu hamil tetap dibolehkan mengonsumsi makanan yang satu ini asal Bunda memperhatikan kondisi badan serta mempertimbangkan faktor-faktor kebersihan, riwayat alergi, dan masalah medis seperti batuk, pilek, diabetes serta obesitas saat mengonsumsi makanan tersebut.

Es Krim Tergolong Makanan yang Menyehatkan Nih Bun

Pada es krim terdapat beberapa nutrisi esensial yang halus seperti kalsium, vitamin dan mineral. Bunda perlu tahu, setiap 100 gram es krim vanilla mengandung 47% lemak, 70% di antaranya adalah lemak jenuh, hampir 42% karbohidrat dan sekitar 6-7% protein serta membawa 207 kalori. Selain itu, es krim juga menyediakan vitamin seperti Vitamin A dan Vitamin B12 dalam jumlah sedang.

Dengan mengonsumsi es krim, tubuh mendapatkan 20 persen RDA fosfor dan 17 persen kalsium esensial. Nah, asupan ini cukup penting untuk kesehatan tulang, persendian, jaringan muskuloskeletal lainnya, dan berfungsinya jantung dengan baik.

Lantas Berapa Porsi Es Krim yang Dianjurkan untuk Ibu Hamil dalam Sehari?

Ibu hamil tak dianjurkan mengonsumsi terlalu banyak es krim. Sebaiknya kurang dari 50 gram sehari. Ini karena es krim tinggi lemak dan menurunkan suhu tubuh. Mengonsumsi es krim terlalu banyak dapat menghambat metabolisme tubuh dan mengganggu sistem pencernaan. Bahkan beberapa es krim dengan rasa populer seperti kopi atau teh hijau mengandung kafein lho Bun. Untuk itu Bunda harus menahan diri untuk tidak mengonsumsi terlalu banyak saat hamil.

Tapi Ada Pula Risiko Makan Es Krim saat Hamil

Jika terlalu banyak mengonsumsi es krim, ibu hamil dapat mengalami beberapa permasalahan, seperti innfeksi. Tahukah Bunda, bakteri ini dapat hidup pada suhu yang sangat rendah. Sementara infeksi bisa ditimbulkan dari bakteri pada mesin pembuat es krim dan susu juga dapat menimbulkan risiko.

Selain itu Bunda juga berisiko mengalami penambahan berat badan. Tingginya kandungan kalori dapat menyebabkan berat badan bertambah, Bun. Tak hanya itu, risiko diabetes pun juga mengancam kesehatan Bunda.

Bahkan di lain sisi, sistem kekebalan tubuh Bunda akan mudah terpengaruh selama hamil. Dengan mengonsumsi terlalu banyak es krim, hal tersebut akan meningkatkan risiko masalah sinus dan pernapasan.

Ibu Hamil Tetap Dapat Menikmati Es Krim Asal…

Es krim yang terbuat dari susu pasteurisasi benar-benar aman dan dapat dinikmati ibu hamil. Nah, Bunda disarankan membeli es krim tersebut dari merek-merek terkenal dan dari toko-toko terkenal yang memastikan kebersihan dan mengikuti tanggal kadaluwarsa. Di lain sisi, hindari mengonsumsi es krim yang dibeli di warung atau pameran karena faktor kebersihannya diragukan. Serta pilihlah produk es krim ‘rendah lemak’ atau ‘ringan’ yang tersedia saat ini, misalnya, yogurt beku.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

adorable-book-boy-1250722 adorable-book-boy-1250722

Most Share

To Top