Kesehatan Ibu & Anak

Ini Obat Batuk Pilek Anak dari Bahan Alami yang Bunda Bisa Buat Sendiri Di Rumah

Ini Obat Batuk Pilek Anak dari Bahan Alami

Saat anak didera batuk dan pilek, bukan saja didera rasa khawatir, Bunda pasti repot sekali mencari cara guna mengembalikan tubuh sehat si kecil. Rasanya seperti patah hati melihat si kecil tak berdaya karena batuk dan pilek yang menyerang tubuhnya. Bahkan seringkali disertai kondisi susah tidur dan makan juga ya Bun. Jalan yang paling baik tentu membawanya ke dokter, namun selain itu, Bunda juga dapat membuatkan beberapa obat rumahan yang aman untuk dikonsumsi. Nah, berikut ini tim SayangiAnak merangkum beberapa bahan alami yang dapat digunakan sebagai obat batuk pilek anak.

1. Yang Paling Mudah, Cobalah Minta Si Kecil untuk Berkumur dengan Air Garam

Cara pertama adalah mencampurkan garam halus dan air hangat, Bun. Kemudian ajarkan si kecil untuk berkumur dengan air tersebut. Cara ini dianggap ampun demi mengatasi gejala batuk dan pilek.

2. Campuran Kacang Almond dan Susu

Bun, campuran pasta kacang almond dan susu hangat dapat menjadi racikan yang baik untuk meredakan batuk dan pilek si kecil. Berikan campuran ini sebanyak 3 hingga 4 kali sehari. Campuran almond dan susu bisa membantu mengurangi gejala batuk pilek yang dialami anak.

3. Susu Campur Kunyit

Bun, susu yang dicampur dengan bubuk kunyit dapat mengobati tenggorokan kering, hidung meler, atau sakit tenggorokan pada anak ketika dia mengalami batuk pilek. Selain itu, kunyit juga memiliki kandungan antiseptik yang membantu mengobati infeksi virus. Cukup siapkan segelas susu hangat, kemudian tambahkan setengah sendok bubuk kunyit, dan aduk rata. Baru kemudian minumkan pada si anak setiap malam sebelum tidur ya Bun.

4. Madu

Bun, madu adalah salah satu obat alami yang cukup ampuh guna meredakan gejala batuk dan flu. Kandungan anti mikrobanya dapat membantu melawan virus penyebab flu, rasa manis dari madu dapat membantu tubuh memproduksi saliva yang bisa mengencerkan lendir sehingga mudah dikeluarkan. Cara mengonsumsi madu pun banyak alternatifnya, Bun. Bunda bisa mencampurnya dengan perasan jeruk lemon, atau campuran madu dengan air jahe. Semuanya sama-sama efektif meredakan gejala batuk dan pilek pada anak.

5. Lemon

Selain madu, lemon juga dapat dimanfaatkan sebagai obat lantaran memiliki kandungan senyawa yang meningkatkan sistem kekebalan tubuh dalam melawan sakit dan radikal bebas di dalam tubuh. Bunda dapat memanfaatkan perasan jeruk lemon dengan madu adalah obat batuk pilek anak yang cukup efektif. Atau bila si kecil suka dengan rasanya, Bunda bisa memberinya potongan jeruk lemon untuk dihisap.

6. Jahe

Jahe memiliki kandungan antivirus yang ampuh melawan batuk dan pilek pada anak. Karena rasa dan aromanya yang cukup kuat, campurkan saja jahe dengan madu atau teh hangat memberikannya pada anak. Bunda juga bisa membuatkan wedang jahe hangat, yang akan menghangatkan tenggorokan si kecil dan tubuhnya juga terasa lebih hangat.

Cara membuat:
Satu ruas jahe dicuci bersih, lalu bakar hingga aromanya keluar
Geprek jahe bakar, lalu rebus dengan 200 ml air hingga mendidih
Tambahkan gula merah atau madu sesuai selera.
Diminum selagi hangat.

7. Sup Ayam

Para peneliti telah menemukan manfaat anti-peradangan pada semangkuk sup ayam. Sup ayam juga membantu meredakan gejala pilek, batuk, serta radang tenggorokan. Jangan lupa sajikan sup ayam hangat untuk anak ketika dia sakit, bumbu rempah yang ada di dalamnya bermanfaat sebagai obat herbal alami dalam melawan virus penyebab batuk pilek.

8. Bawang Putih

Bun, bahkan bawang putih yang selama ini dikenal sebagai bumbu dapur pun punya manfaat efektif guna menyembuhkan pilek si kecil. Namun biasanya lantaran baunya yang terlalu kuat, mungkin si kecil tidak menyukainya. Bunda dapat mengakalinya dengan membuat campuran jus madu dan bawang putih untuk membuat rasanya lebih enak untuk si buah hati. Selain itu, Bunda juga dapat membuat ramuan bawang putih bakar dan minyak yang digunakan untuk memijat leher dan dada anak. Cara ini diyakini bisa meredakan batuk pada anak.

9. Cuka Apel

Cuka jenis ini memiliki kandunngan anti bakteri yang dapat membunuh patogen jahat di dalam tubuh lho Bun serta dapat membunuh kuman penyebab infeksi dan sakit tenggorokan. Satu sendok makan cuka apel dicampur dengan parutan jahe dan madu bisa menjadi obat batuk alami yang ampuh untuk meredakan keluhan anak.

10. Bunga Lawang

Mungkin Bunda sering memanfaatkan bahan yang satu ini sebagai bumbu masakan tradisional. Selain sebagai bumbu dapur, rempah yang satu ini punya manfaat membersihkan lendir di saluran pernapasan. Efeknya, si kecil jadi lebih mudah mengeluarkan dahak sehingga lebih cepat sembuh. Cara meracik bunga lawang cukup sederhana, yaitu satu sendok bunga lawang yang sudah dihancurkan dimasukkan ke dua gelas air mendidih, lalu aduk hingga hingga hanya tersisa 1 gelas air. Guna menambahkan rasa, cukup tambahkan dua cangkir madu dan dinginkan.

adorable-book-boy-1250722 adorable-book-boy-1250722
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Pemberian Buah pada Masa MPASI Sebaiknya Jangan Awal, Buah Justru Berada di Urutan Paling Akhir

Alat mpasi

Beberapa orangtua, khususnya ibu, mungkin pernah mengalami kebingungan ketika anak memasuki masa MPASI. Salah satu yang sering membuat dilema adalah menu makan apa yang seharusnya diberikan kepada anak di hari pertama mereka makan.

Pemberian Pisang dan buah kurang tepat, mengapa?

Tak bisa dipungkiri, sekarang ini masih banyak orangtua memberikan anaknya pisang, alpukat atau buah dan sayuran lainnya ketika anak mulai belajar makan. Kebiasaan ini terjadi turun-menurun seolah sudah menjadi warisan nenek moyang.

Ternyata itu kurang tepat. Kenapa? Menurut dr. Tiwi, seperti, sebaiknya bayi berusia 6 bulan tidak diberikan buah semacam pisang sebagai pengenalan MPASI tahap awal. “Kebanyakan orang memberikan buah sebagai MPASI. Padahal, yang pertama penting dikenalkan itu adalah karbohidrat,” kata dr. Tiwi.

Urutan Pemberian MPASI: karbohidrat, protein hewani, protein nabati, sayur, dan barulah buah.

Orang dewasa perlu banyak makan serat, baik dari sayur maupun buah, agar pencernaannya lancar. Berbeda dengan orang dewasa, untuk bayi, buah dan sayuran justru urutan terakhir. Mengapa? karena pencernaan bayi masih susah untuk menerima serat. Ingat, sistem pencernaan orang dewasa tidak sama dengan sistem pencernaan bayi, khususnya yang di bawah 12 bulan.

Jadi buah justru berada di urutan paling akhir untuk dikenalkan kepada bayi. Jadi, urutan asupan yang sebaiknya diperkenalkan pada bayi dalam tahapan MPASI pada masa-masa awal adalah karbohidrat, protein hewani, protein nabati, sayur, dan barulah buah.

Mengapa buah sebaiknya tidak diberikan kepada bayi

Dalam bukunya berjudul Sehat lezat Olah Saji, dr. Tiwi, juga menjelaskan bahwa buah sebaiknya tidak diberikan kepada bayi karena buah tidak mengandung nutrisi yang dibutuhkan bayi pada awal pemberian MPASI.

Selain itu, buah juga umumnya memiliki rasa manis. Jika bayi sudah lebih dulu dikenalkan pada rasa manis, ia seringkali akan enggan menerima makanan lain yang rasanya tawar atau bahkan amis seperti ikan.

Sebagai solusinya, Bunda bisa berikan sereal dengan mencampurkan pada buah

Bunda bisa memberikan buah pada Si Kecil jika ia sudah mencoba berbagai jenis karbohidrat, seperti beras, kentang, ubi, dan labu kuning, namun tetap menolak. Sebagai solusinya, Bunda bisa berikan sereal dengan mencampurkan pada buah untuk menambah sedikit rasa manis pada karbohidrat yang biasanya berasa tawar.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

adorable-book-boy-1250722 adorable-book-boy-1250722

Kesehatan Ibu & Anak

Bunda Jangan sampai Terlambat Kenali Autistik pada Anak

Little boy sitting beside yellow sofa at home. Child autism.

Dian Sastro mengakui Putranya penah mengidap autistik. Tapi Dian beruntung, dapat mengetahui tanda – tanda autistik itu dan membawa putranya ke ahli tumbuh kembang untuk penanganan lebih lanjut.

Bayangkan itu terjadi pada orang tua yang tidak mengetahui tanda – tandanya? apa yang harus dilakukan?

Agar tidak terjadi pada diri dan lingkungan sekitar Bunda, perlu mengetahui apa itu autistik, tanda – tanda autis / autistik dan penyebabnya autis / autistik

Yang orang tua perlu pahama tentang pengertian autistik

Secara awam, penyandang gangguan autistik adalah mereka yang mengalami gangguan atau keterlambatan pada aspek-aspek kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi dan interaksi sosial.

autistik atau autism spectrum disorder (ASD) sendiri merupakan serangkaian gangguan perkembangan saraf yang sebagian besar ditandai dengan gangguan fungsi sosial, gangguan komunikasi yang berhubungan dengan orang lain.

Ini faktor yang diduga kuat mencetuskan autistik?

Mungkin Bunda penasaran, Apa sih Penyebab autistik? Apa saja sih yang menjadi faktor yang diduga kuat mencetuskan autistik?

1. Keluarga yang memiliki satu anak autistik memiliki peluang 1-20 kali lebih besar

Menurut National Institute of Health, keluarga yang memiliki satu anak autistik memiliki peluang 1-20 kali lebih besar untuk melahirkan anak yang juga autistik.

Penelitian pada anak kembar menemukan, jika salah satu anak autistik, kembarannya kemungkinan besar memiliki gangguan yang sama.

Secara umum para ahli mengidentifikasi 20 gen yang menyebabkan gangguan spektrum autistikme. Gen tersebut berperan penting dalam perkembangan otak, pertumbuhan otak, dan cara sel-sel otak berkomunikasi.

2. Perhatikan perkembangan otak

Area tertentu di otak, termasuk serebal korteks dan cerebellum yang bertanggung jawab pada konsentrasi, pergerakan dan pengaturan _mood_, berkaitan dengan autistik. Ketidakseimbangan neurotransmiter, seperti dopamin dan serotonin, di otak juga dihubungkan dengan autistik.

3. Semakin tua memiliki anak, semakin berisiko

Makin tua usia orangtua saat memiliki anak, makin tinggi risiko si anak menderita autistik. Penelitian yang dipublikasikan tahun 2010 menemukan, perempuan usia 40 tahun memiliki risiko 50 persen memiliki anak autistik dibandingkan dengan perempuan berusia 20-29 tahun.

Tanda umum autistik pada balita yang harus diwaspadai

Berikut beberapa tanda umum autistik pada balita yang harus diwaspadai:

1. Anak tidak berinteraksi dengan anak-anak lain

Anak-anak dengan autistik kemungkinan tidak berinteraksi dengan anak-anak lain atau berbagi pengalaman dengan mereka.

Jika mereka dalam kesulitan atau bertahan dari sesuatu, mereka akan menyimpannya sendiri ketimbang mencari bantuan.

2. Anak harus lebih berjuang untuk berkomunikasi

Anak-anak dengan gangguan spektrum autistik menunjukkan variasi suara, kata, dan gerakan yang berkurang secara signifikan ketika mereka mencoba berkomunikasi.

Ketika mereka ‘berjuang’ dari sesuatu, mereka tidak akan meminta bantuan seperti yang cenderung dilakukan oleh balita lainnya.

Balita dengan autistik tidak bermain dengan orang lain atau menunjukkan minat atau kesenangan pada apa yang mereka lakukan.

Jika balita secara konsisten tidak melakukan interaksi sosial dengan orangtuanya atau anak-anak lain, mungkin ada baiknya segera berdiskusi dengan dokter.

3. Anak cendrung menunjukkan perilaku berulang

Balita dengan gangguan spektrum autistik cenderung mengulangi tindakan atau gerakan yang sama berulang-ulang, yang mana menurut para peneliti hal itu membantu menenangkan mereka.

Ini bisa termasuk bertepuk tangan, menggoyang-goyang tubuh atau berputar-putar. Mereka mungkin obsesif dengan perilaku tersebut.

4. Tidak mau menunjuk atau menggerakkan tubuh

Anak-anak pada umumnya akan menunjuk benda atau membuat gerakan lain untuk menunjukkan ketertarikan mereka apda sesuatu.

Tapi, seorang anak dengan gangguan spektrum autistik cenderung tidak akan menunjuk sesuatu yang menarik perhatian mereka atau juga tak akan menunjukkan ketertarikan pada benda-benda yang ditunjukkan pada mereka.

Semakin dini autistik dapat dideteksi, semakin baik, karena otak yang lebih muda lebih mudah beradaptasi, dan terapi intensif sejak dini dapat berdampak pada tumbuh kembangnya.

Yang perlu menjadi catatan adalah, tidak setiap anak akan menunjukkan gejala yang sama. Jadi sebaiknya segera temui profesional jika Anda berpikir anak Anda mungkin memiliki gangguan spektrum autistik.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

adorable-book-boy-1250722 adorable-book-boy-1250722

Kesehatan Ibu & Anak

Ini 3 Kebiasaan Sepele yang Kalau Dibiarkan Bikin Gigi Si Kecil Karies

gigi-anak-rusak

Gigi karies atau berlubang, bisa mengganggu aktivitas dan tumbuh kembang anak. Sayangnya, masih banyak orang tua yang menganggap enteng masalah ini, sehingga merasa tidak perlu melakukan perawatan khusus.

Lubang pada gigi bisa terjadi pada usia berapa pun, dan disebabkan karena orang tua lalai menjaga kebersihan gigi dan mulut si kecil.
Umumnya, gigi karies pada anak disebabkan oleh kebiasaan yang sering dianggap sepele berikut ini:

1. Ngedot

Balita bisa sampai ketiduran sambil ngedot atau menyusu dari botol. Jika dibiarkan, sisa susu atau minuman manis lainnya seperti teh manis atau jus bisa menempel dan bersarang di gigi anak dalam waktu yang lama.

Gula yang melekat di gigi akan menjadi makanan bagi bakteri untuk tumbuh dan berkembang. Lama kelamaan, bakteri membentuk plak dan menghasilkan asam yang mengikis lapisan terluar gigi. Kombinasi dari plak dan lapisan terluar gigi perlahan akan hilang dan mengakibatkan lubang.

2. Ngemut

Saat mulut tertutup karena mengemut makanan, produksi kelenjar ludah berkurang. Karbohidrat dari sisa makanan di rongga mulut akan difermentasikan oleh bakteri menjadi asam. Rasa asam inilah yang menimbulkan gigi berlubang.

3. Malas Sikat Gigi

Jelas, malas menyikat gigi pagi dan malam sebelum tidur, dan terutama setelah makan yang manis-manis, mengundang bakteri semakin betah bersarang di gigi anak.

Malas menyikat gigi bisa mempercepat pembusukan gigi anak, membuatnya menghitam dan akhirnya berlubang.

Jika sudah tahu penyebabnya, terapkan cara mudah dan sederhana ini untuk mencegah gigi karies pada anak.

1.Hindari Menyusu Sambil Tidur

Kalau anak masih menyusu ASI atau susu botol, jangan biarkan ia tertidur dalam keadaan menyusu. Hal ini perlu dilakukan untuk mengurangi paparan asam pada gigi anak yang menimbulkan karies gigi.

Usahakan anak tetap terjaga setidaknya 15 menit setelah selesai menyusu, dan mintalah ia membersihkan giginya terlebih dahulu sebelum tidur.

Pada saat usianya menginjak 12 bulan, ajari anak untuk mulai minum susu dari gelas. Dengan cara ini, diharapkan pertumbuhan karies gigi pada anak dapat dicegah.

2. Mengunyah Makanan dengan Benar

Latih anak mengonsumi makanan padat sesuai tahap perkembangan usia. Dengan demikian, anak perlahan akan menghilangkan kebiasaan mengemut makanannya.

Latihan ini juga berfungsi memperkenalkan si kecil pada berbagai tekstur makanan sekaligus merangsang proses pertumbuhan, perkembangan rahang maupun gigi.

3. Jadi Contoh yang Baik untuk Anak

Anak akan mencontoh perilaku orang tua. Maka, ibu dan ayah harus memperlihatkan kebiasaan rajin menyikat gigi.

Supaya lebih menyenangkan, jadikan momen sikat gigi sebagai rutinitas harian yang dilakukan secara bersama-sama dengan keluarga.

Selain untuk mengawasi aktivitas menyikat gigi si kecil, cara ini juga tepat untuk membangun ikatan antara orang tua dan anak.

Jika gigi susu anak belum tumbuh, ibu atau ayah bisa membersihkan gusi dan mulutnya dengan kain lap lembut yang sudah dibasahi air hangat.

Masih banyak pertanyaan seputar karies gigi pada anak? Cari tahu jawabannya di kelas online Kelasin.com Kebiasaan yang Bisa Sebabkan Gigi Anak Rusak’. Di sini, semua dibahas lengkap dan kamu bisa curhat langsung sama ahlinya. Yuk, ikutan kelasnya. Gratis!

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

adorable-book-boy-1250722 adorable-book-boy-1250722

Most Share

To Top