Dapatkan Artikel menarik dan mendalam langsung lewat SAYANGIANAK EXTRA di emailmu...

* indicates required
Kesehatan

Hari Lupus Sedunia, Kenali Gejala Penyakit ini Pada Anak ya Bunda

bed-blanket-blur-1243364

Mungkin belum banyak yang tahu jika setiap tanggal 10 Mei kita memperingati Hari Lupus Sedunia. Bun, tentu pernah dengar soal lupus, kan? Tapi tahukah Bunda apa itu penyakit lupus? Secara singkat, lupus adalah suatu penyakit autoimun lantaran tubuh memproduksi antibodi yang berlebihan dan menyerang jaringan tubuh snediri di berbagai organ. Efeknya, organ di dalam tubuh pun rusak dan menyebabkan berbagai keluhan dan gejala. Nama ‘lupus’ sendiri merupakan kependekan dari systemic lupus erythematous.

Diketahui, penyakit ini lebih banyak diidap oleh anak perempuan. Banhkan angka kejadiannya meningkat seiring bertambahnya usia. Penderita lupus sebagian besar adalah golongan usia 9-15 tahun. Penyebab terjadinya lupus itu bisa disebabkan beragam faktor. Penelitian yang ada menunjukkan jika beberapa hal seperti genetik, hormon, dan lingkungan seperti terpapar sinar matahari dan obat-obatan pun bisa memicu terjadinya lupus.

Sebagai orang dewasa, Bunda perlu mencurigai seorang anak mengalami lupus bila menunjukkan beragam gejala meliputi:

Demam Tinggi dan Lama Tanpa Penyebab yang Jelas

Seringkali pasien lupus datang ke rumah sakit lantaran keluhan demam ringan namun hilang dan timbul. Alias, sudah reda kemudian demam lagi. Atau mengalami demam yang tak kunjung reda dalam waktu yang lama, bisa berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan tanpa diketahui penyebabnya.

Si Kecil Tampak Pucat dan Memiliki Riwayat Transfusi Berulang Kali, bBun

Mengutip dari situs Ikatan Dokter Anak Indonesia, bila si kecil tampak pucat, bahkan mudah lelah dan lesu serta memiliki riwayat transfusi darah berulang kali, maka Bunda perlu curiga si kecil mengalami lupus. Juga dengan anak yang memiliki riwayat penyakit anemia hemolitik autoimun ya Bun. Biasanya anak yang aktif namun tetiba jadi malas beraktivitas pun perlu dicurigai.

Munculnya Ruam Pada Kulit

Bun, pernah dengar istilah bercak melar? Ruam seperti ini biasanya muncul di wajah dan berbentuk seperti sayap kupu-kupu. Umumnya disebut dengan butterfly rush. Ruam semacam ini sejatinya beraneka ragam. Ada juga yang bentuknya bulat dan dapat muncul di bagian tubuh yang lain seperti di area leher, badan, bahkan di tungkai yang disebut bercak diskoid. Selain itu, umumnya penderita lupus mudah mengalami bercak kemerhana bila terkena sinar matahari.

Pasien Lupus Biasanya Alami Nyeri dan Bengkak di Area Sendi dan Kelopak Mata

Bila si kecil sering mengeluh nyeri dan bengkak pada persendian, terutama di sendi-sendi besar seperti siku dan lutut, maka dikhawatirkan ia menderita lupus. Selain itu, salah satu gejala yang dapat timbul yakni bengkak pada kelopak mata dan tungkai bawah, disertai buang air kecil yang lebih sedikit dari biasanya. Bila ada keluhan ini, segeralah periksa si kecil ke dokter guna mewaspadai kelainan ginjal akibat lupus ya Bun.

Rambut Rontok dan Sesak Napas pun Bisa Jadi Gejala

Bila rambut anak rontok lebih dari 100 helai per hari, maka Bunda perlu waspada sebab adanya kemungkinan penyakit lupus. Gejala ini muncul karena penyakit ini dapat menyerang organ paru-paru dan jantung, sehingga anak mungkin mengeluhkan adanya nyeri di daerah dada dan sesak napas.

Lantas Apa yang Perlu Dilakukan Orangtua?

Yang paling utama tentu segera memeriksakan kondisi si kecil ke dokter spesialis anak ya Bun. Biarkan dokter melakukan pemeriksaan penunjang meliputi pemeriksaan darah, urin, foto Rontgen dada, dan pemeriksaan jantung (ekokardiografi) untuk menemukan diagnosa yang lebih jelas. Bila si kecil memang positif mengalami lupus, maka dokter akan memberikan obat untuk mengendalikan peradangan yang timbul untuk mencegah dan meredakan kerusakan organ.

Nah, yang harus dilakukan oleh pasien lupus adalah:

  • Minum obat dan kontrol secara rutin ke dokter sampai penyakitnya dinyatakan remisi (dalam kondisi perbaikan). Minum obat dapat berlangsung cukup lama, sampai bertahun-tahun tergantung derajat keparahan penyakit lupus.
  • Anak dengan lupus harus menghindari paparan sinar matahari langsung (memakai tabir surya, payung, baju lengan panjang)
  • Mengendalikan stress psikis
  • Membatasi konsumsi makanan berkadar garam tinggi
  • Minum suplemen kalsium dan vitamin D3 (untuk mencegah osteoporosis akibat efek samping obat)

Bun, penyakit lupus adalah salah satu penyakit yang hanya dapat dikontrol agar gejalanya tidak kambuh. Kondisi anak dapat membaik (remisi) atau memburuk (kambuh, namun tidak dikatakan sembuh. Untuk itu, dibutuhkan kerjasama antara orangtua dan dokter spesialis anak guna menjaga kondisi anak tetap optimal sehingga penyakit ini tetap dapat terkontrol ya Bun.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Khawatir Bayi Umur Setahun Belum Tumbuh Gigi ?

gigibayi

Pertumbuhan gigi menjadi salah satu milestone pada bayi yang ditunggu-tunggu oleh orang tua. Tumbuh kembang tiap bayi memang bervariasi, pun soal kapan gigi pertamanya muncul. Ada yang cepat, ada juga yang lambat. Bahkan pada beberapa bayi, gigi belum juga muncul hingga lewat ulang tahunnya yang pertama. Normalkah?

Rata-rata gigi bayi akan mulai tumbuh di usia 5 hingga 12 bulan. Dua gigi depan bawah (gigi seri tengah bawah) biasanya yang pertama muncul, diikuti oleh dua gigi depan atas (gigi seri tengah atas).

Bila sudah lewat dari 13 bulan si gigi belum juga muncul, maka pertumbuhannya bisa dikatakan terlambat. Pada kebanyakan kasus, pertumbuhan gigi yang terlambat tak perlu dikhawatirkan. Namun ada banyak faktor penentu pertumbuhan gigi yang terlambat.

Apa sih yang jadi penyebab gigi tumbuh terlambat?

1. Faktor keturunan, pertumbuhan gigi yang terlambat bila salah satu atau kedua orang tuanya juga

Telat tumbuh gigi bisa menurun di dalam keluarga. Anak akan memiliki kecenderungan genetik untuk mengalami pertumbuhan gigi yang terlambat bila salah satu atau kedua orang tuanya juga mengalami hal yang serupa.

2. Kurang gizi juga bisa membuat pertumbuhan gigi terlambat

Pertumbuhan gigi yang terlambat juga bisa disebabkan karena kekurangan gizi. Pada kasus ini, telat tumbuh gigi menjadi salah satu dari banyaknya gejala malnutrisi pada bayi. Bayi yang telat tumbuh gigi karena malnutrisi biasanya juga menampakkan gejala lain, seperti lemas, berat badan rendah, dan tinggi badan kurang.

Hal ini dapat terjadi karena pemberian ASI (air susu ibu) yang tidak memadai dan suplementasi yang rendah dari susu formula bayi. Bayi membutuhkan vitamin A, C, dan D serta kalsium dan fosfor. Kekurangan vitamin atau mineral, terutama vitamin D dan kalsium, dapat menyebabkan pertumbuhan gigi terlambat.

3. Hipotiroidisme

Tumbuh gigi yang terlambat juga dapat terjadi akibat hipotiroidisme. Hipotiroidisme merupakan suatu kondisi di mana kelenjar tiroid tidak menghasilkan cukup hormon tiroid.

Bayi dengan kelenjar tiroid yang kurang aktif akan mengalami sejumlah masalah perkembangan. Tanda-tanda hipotiroidisme antara lain kelelahan, lemas, sakit kepala, dan kekakuan pada sendi. Khususnya pada bayi, hipotiroidisme dapat memunculkan gejala lain seperti keterlambatan berjalan, keterlambatan bicara, kelebihan berat badan dan terlambat tumbuh gigi.

Kapan orang tua harus khawatir?

Jika bayi berusia 13 bulan masih belum menampakkan gigi pertamanya dan Bunda telah memastikan bahwa telat tumbuh gigi tidak ada dalam riwayat keluarga, sebaiknya berkonsultasilah dokter anak. Dokter anak dapat menentukan apakah masalah tumbuh gigi disebabkan oleh gizi buruk, hipotiroidisme atau penyebab lainnya.

Bunda akan mendapatkan rujukan ke dokter gigi anak jika bayi Bunda masih tak memiliki gigi hingga ia berusia 18 bulan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Mom Life

Bahaya Menaruh Si Kecil Berlama-lama di Car Seat

baby-child-close-up-1132688

Keberadaan car-seat memudahkan para balita untuk merasa nyaman saat berada di dalam mobil ya Bun. Tapi tahukah Bunda, bila si kecil dibiarkan tertidur terlalu lama di car seat, ternyata hal tersebut berbahaya lho Bun. Hal ini diungkapkan berdasarkan penelitian yang dipublikasikan oleh Pediatrics pada Juli 2019.

Para peneliti menyelidiki tentang kematian bayi yang berhubungan langsung dengan kebiasaan tidur di perangkat duduk — car seat, stroller, ayunan— menemukan bahwa lebih dari 90 persen kematian di car seat. Car seat tidak digunakan sesuai petunjuk, artinya bayi itu tidak diikat ke car seat berukuran tepat. Lebih dari setengah kematian di car seat terjadi di rumah dan yang menjadi korban justru bukan bayi yang kondisinya lemah.

Ketika bayi tidur dalam posisi duduk, kondisi kepala mereka akan jatuh ke depan, Bun. Hal ini yang akhirnya membatasi saluran udara dan menyebabkan mereka berhenti bernapas. Fenomena yang dikenal sebagai sesak napas posisional ditemukan sebagai penyebab 48 persen kematian di kursi mobil dalam sebuah studi yang diterbitkan dalam The Journal of Pediatrics. 52 persen sisanya karena tercekik oleh tali yang tidak diamankan dengan baik.

Di lain sisi, kendati orangtua mengira aman bagi bayi untuk tetap tidur siang di car seat dalam waktu singkat saat Bunda berkendara, menurut Canadian Pediatric Society, bayi tidak boleh dibiarkan terus tertidur di car seat ketika sudah sampai tujuan ya Bun. Bahkan ketika car seat tersebut dikeluarkan dari mobil, orangtua biasanya akan melonggarkan tali pengikat atau melepas ikatan karena merasa keadaan sudah aman dan nyaman bagi bayi.

Namun ini sangat berbahaya, bayi akan merosot di mana dagunya menyentuh dada. Car seat juga memungkinan bayi menggeliat dan bergerak-gerak sehingga posisi mereka menjadi miring atau terbalik. Ini membuat bayi menjadi terjebak di car seat dan membahayakan jalan napasnya. Lamanya waktu bayi berada di car seat adalah faktor dalam banyak kematian dalam penelitian ini.

Lantas, apa yang Dapat Dilakukan oleh Orangtua?

Bunda dapat membatasi waktu perjalanan atau beristirahat guna memeriksa bayi dan mengeluarkan mereka dari kursi mobil ya Bun. Jika saat tiba di tempat tujuan sementara bayi masih tertidur, maka hal yang paling aman dilakukan adalah membangunkan si kecil dengan lembut dan diam-diam mengeluarkan bayi dari car seat dan meletakannya di tempat tidur. Hal terakhir yang ingin dilakukan orangtua adalah adalah membangunkan bayi yang sedang tidur, tetapi ini adalah hal yang tepat untuk dilakukan.]

Agar bayi dapat dipindahkan ke tempat tidur dengan lancar, Sukkie Sandhu, spesialis tidur bayi dan anak dan pemilik HappyBaby Sleep Solutions di Victoria, BC, menyarankan untuk membawa car seat ke kamar dan memastikan ruangan gelap dan sunyi. Baru kemudian Bunda mengangkatnya dari car seat dan pindahkan ia ke tempat tidur. Tapi jika bayi terbangun saat Bunda berusaha memindahkannya, buat ia kembali mengantuk dengan membacakan buku, atau menyanyiak lagu pengantar tidur ya Bun.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Kesehatan

Menjemur Bayi Tanpa Dipakaikan Baju Ternyata Efeknya Bahaya

adorable-baby-blanket-1973270 (1)

Seringkali kita menjumapi pemandangan dimana ibu-ibu sedang menjemur bayinya dalam keadaan tidak dipakaikan baju. Tahukah Bunda, hal ini ternyata tak diperbolehkan karena dapat membuat bayi jadi dehidrasi, Bun.

Menjemur bayi memang diketahui memiliki beragam manfaat seperti bayi yang akan mendapat vitamin D, mencegah penyakit kuning, meningkatkan kadar serotonin, mempercepat pembekuan darah, menyehatkan sistem saraf dan meningkatkan imunitas, serta membuat bayi lebih nyenyak tidur. Tapi dengan syarat, menjemur bayi harus dilakukan dengan cara yang benar.

Mengutip dari Viva.co.id, faktanya bayi saat ini mudah sekali terkena sunburn lho Bun. Pemicunya lantaran melanin saat terkena matahari belum berfungsi baik seperti pada orang dewasa. Karenanya, jangan sekali-kali menjemur bayi dalam keadaan telanjang, hal ini sangat tidak direkomendasikan.

Namun bila terjadi kondisi lain seperti bayi mengalami penyakit kuning, baru boleh ditelanjangi, Bun.

Selain itu, Bunda perlu tahu, guna mendapatkan vitamin D, maka menjemur bayi cukup dilakukan pada 10 menit sebelum jam 9 pagi. Dan yang terpenting adalah dipakaikan baju, jangan ditelanjangi. Hal penting lainnya, jangan sampai meninggalkan bayi sendiri selama ia dijemur di bawah sinar matahari. Jadi, aturannya adalah jemur bayi cukup 10 menit. Digendong saja sambil diajak berjalan-jalan.

Sedangkan untuk memproteksi bayi dari sinar matahari, bayi bisa dipakaikan baju lengan panjang, dipakaikan topi atau payung. Karena bayi baru boleh dipakaikan sunscreen saat usianya sudah menginjak 6 bulan, di bawah itu masih belum boleh dipakaikan tabir surya ya Bun.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Share

To Top