Parenting

Hai Para Orangtua, Ini Nih 20 Kesalahan Orang Tua dalam Mendidik Anaknya

Setiap orangtua tentu ingin berusaha memberikan yang terbaik dalam mendidik sang buah hati. Sayangnya, keinginan tersebut sering tanpa disadari berubah menjadi hal yang bisa berdampak buruk. Tak jarang para orangtua, terutama orangtua baru, tidak menyadari bahwa pola asuh yang diterapkan dalam membesarkan anak sebenarnya keliru dan bisa berdampak negatif.

Nah, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan akibat kesalahan pola asuh anak, orangtua perlu tahu apa saja kesalahan yang sering dilakukan dalam mendidik anak. Maka untuk para orangtua di rumah, hindarilah 20 kesalahan dalam cara mendidik anak berikut ini.

Jangan Terlalu Mengatur, Karena Bisa Memperburuk Risiko Depresi Pada Anak.

Orangtua hanya mengatur apapun yang dilakukan anak, tanpa mendukung hobinya. Orangtua tidak memberikannya pilihan sehingga membuat anak merasa terkekang.

Sementara itu, anak yang tidak merasa diberikan kebebasan berekspresi, akan sulit bersosialisasi. Kemampuannya pun tidak berkembang dan berpendapat dapat merasa semakin “jauh” dari orangtuanya. Cara mendidik seperti ini dapat memicu atau memperburuk risiko depresi pada anak.

Anak Tetap Perlu Pengawasan

Memang perlu tidak terlalu mengatur, tapi anak tetap harus dalam pengawasan. Orangtua juga sangat penting mengawasi teman yang dimilkinya, bacaan dan tontonan anak. Apalagi sekarang era digital, dimana anak bebas memilih tontonan, untuk itu orang tua harus mengawasi. 

Harus dipastikan apa yang dibaca dan ditonton tersebut sesuai dengan usia anak serta tidak mengandung muatan kekerasan atau hal yang bersifat sadistis. Pada kondiisi ini, sangat penting untuk orangtua membangun hubungan atau komunikasi yang baik dengan anak.

Tidak Menunjukkan Kasih Sayang dan Dukungan

Orangtua tidak menunjukkan kasih sayang pada anak. Misalnya dengan tidak memberi pelukan. Hal tersebut akan membuat anak merasa tidak memiliki ikatan emosional yang kuat dengan orangtuanya..

Selain itu, jika orangtua tidak memberi dukungan ketika anak membutuhkannya, dan malah memilih mementingkan pekerjaan semata, anak bisa merasa depresi.

Biarkan Anak Belajar dari Kesalahannya

Membimbing anak agar mau belajar dari kesalahannya, kelak dapat membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang mampu mengakui kesalahan dan cepat memperbaiki diri. Selain itu, proses ini juga mampu membuat anak mau menerima kritik dan bangkit lebih cepat dari kegagalan. 

Menurut Billingham, orangtua seharusnya membiarkan anak melakukan kesalahan, biarkan anak bahkan belajar dari kesalahan agar tidak terulang kesalahan yang sama. Bantulah anak untuk mengatasi masalahnya sendiri, tetapi jangan mengambil keuntungan demi kepentingan orangtua.

Tidak Meluangkan Waktu Maupun Menghormati Perasaan Anak

Orangtua tidak meluangkan waktu untuk bermain atau berbicara dengan, untuk memahami perasaannya. Orangtua mengabaikan anak, dan malah sibuk dengan handphone atau pekerjaan.

Anak pun akan merasa sendirian dan tidak diperhatikan, hingga mencari perhatian selain dari orangtua, yang dapat menyebabkannya depresi. Dan membuatnya merasa tidak dicintai.

Bertengkar di Hadapan Anak

Menurut psikiater Sara B. Miller, Ph.D., perilaku yang paling berpengaruh merusak adalah “bertengkar” dihadapan anak. Saat orangtua bertengkar di depan anak mereka, khususnya anak lelaki, maka hasilnya adalah seorang calon pria dewasa yang tidak sensitif yang tidak dapat berhubungan dengan wanita secara sehat.

Orangtua seharusnya menghangatkan diskusi diantara mereka, tanpa anak-anak disekitar mereka. Wajar saja bila orangtua berbeda pendapat tetapi usahakan tanpa amarah. Jangan ciptakan perasaan tidak aman dan ketakutan pada anak.

Mendisiplinkan Anak di Depan Orang Lain

Orang tua mungkin kehilangan kesabaran, marah, berteriak dan bahkan memukul anak di depan orang lain. Hal tersebut justru akan berdampak serius pada kepercayaan diri anak. Anak akan merasa depresi karena malu, dan tidak berdaya. Cara seperti ini termasuk sebagai kesalahan yang patut dihindari orangtua dalam mendidik anak.

Terlalu Banyak Menonton

Menurut Neilsen Media Research, anak-anak Amerika yang berusia 2-11 tahun menonton 3 jam dan 22 menit siaran TV sehari. Menonton televisi akan membuat anak malas belajar. Orangtua cenderung membiarkan anak berlama-lama didepan TV dibanding mengganggu aktifitas orangtua. Orangtua sangat tidak mungkin dapat memfilter masuknya iklan negatif yang tidak mendidik. Maka hal yang seharusnya dilakukan adalah membatasi waktu menonton bagi anak. 

Segalanya Diukur dengan Materi

Banyak orangtua mengukur kebahagiaan dengan materi. Banyak orangtua selalu memberikan hadiah untuk anaknya. Bahkan, mainan dan barang mewah dianggap sebagai alat ukur kebahagiaan. Padahal nyatanya tidak. 

Tidaklah salah memanjakan anak dengan mainan dan liburan yang mewah. Tetapi yang seharusnya disadari adalah anak membutuhkan quality time bersama orangtua mereka. Mereka cenderung ingin didengarkan dibandingkan diberi sesuatu dan diam.

Menegur Secara Berlebihan

Jika anak melakukan kesalahan dan orangtua menegur atau memarahinya secara berlebihan, omelan itu dapat berdampak pada psikologi anak. Anak dapat merasa malu dan pesimis dalam melakukan berbagai hal karena takut salah, sehingga membuatnya depresi.

Orangtua Gagal Mendengarkan Anak 

Menurut psikolog Charles Fay, Ph.D. “ Banyak orang tua terlalu lelah memberikan perhatian – cenderung mengabaikan apa yang anak mereka ungkapkan.

Contohnya Ketika anak pulang dengan mata yang lembam, umumnya orangtua lantas langsung menanggapi hal tersebut secara berlebihan, menduga-duga si anak terkena bola, atau berkelahi dengan temannya. Faktanya, orang tua tidak tahu apa yang terjadi hingga anak sendirilah yang menceritakannya.

Sering Membandingkan Anak

Orangtua terus membandingkan si kecil dengan anak-anak lain, dan memintanya menjadi seperti mereka. Hal itu tentu dapat membuat anak merasa tidak berguna, dan menanamkan amarah dalam dirinya, hingga berujung pada depresi.

Terkadang Anak Perlu Merasa Bosan

Meskipun tidak menyenangkan, perasaan bosan nyatanya penting untuk dirasakan oleh anak lho. Para psikolog dan ahli lain yang meneliti hal ini menyatakan bahwa kebosanan konstruktif pada anak sangat penting untuk perkembangan mental dan emosional mereka. 

Si  kecil nantinya akan memiliki kecenderungan untuk mencari kegiatan yang lebih kreatif dan memuaskan diri mereka. Jadi, saat anak menunjukkan bahwa ia bosan, orang tua sebenarnya tak perlu merasa takut dan justru harus melihat situasi ini sebagai waktunya bagi anak untuk lebih mengenal dirinya sendiri.

Orangtua Terlalu Protektif

Orang tua terlalu melindungi anak dari berbagai hal hingga membuatnya banyak mengalami ketakutan. Selain itu, anak juga akan takut mengambil risiko apapun, menjalin pertemanan baru, atau bahkan mencoba kegiatan baru. Hanya karena takut menerima omelan dari orangtuanya. Akan tetapi, anak juga dapat menjadi lebih liar bila orangtua terlalu protektif.

Tidak Konsisten

Anak perlu merasa bahwa orangtua mereka berperan. Jangan biarkan mereka memohon dan merengek menjadi senjata yang ampuh untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Orangtua harus tegas dan berwibawa di hadapan anak.

Mengabaikan Anak 

Mungkin kebanyakan orangtua tidak menyadari bahwa mereka telah mengabaikan anak. Sebenarnya, mengabaikan anak tak hanya sekadar tidak memberi perhatian atau kasih sayang.

Ada banyak tanda yang dapat menunjukkan kemungkinan anak yang diabaikan atau kurang perhatian orangtua, seperti anak cenderung nakal atau berperilaku aneh dan tidak rasional atau sebaliknya sangat pendiam.

Tidak Menerapkan Peraturan

Anak-anak membutuhkan aturan, struktur, dan batasan untuk tumbuh dengan sehat, baik secara fisik maupun mental. Jika tidak tumbuh dengan disiplin atau tanpa aturan apapun, anak akan menjadi pribadi yang tak teratur dan dibenci orang lain di luar lingkungan rumah.

Bersikap Berat Sebelah

Beberapa orangtua kadang lebih mendukung anak dan bersikap memihak anak sambil menjelekkan pasangannya di depan anak. Mereka akan hilang persepsi dan cenderung terpola untuk bersikap berat sebelah. 

Luangkan waktu bersama anak minimal 10 menit disela kesibukan orangtua. Dan pastikan anak tahu saat bersama orang tua adalah waktu yang tidak dapat diinterupsi.

Tidak Bangga dengan Prestasinya

Orangtua tidak pernah memuji anak atas prestasinya, dan tidak menunjukkan kebanggaan pada kerja kerasnya. Hal tersebut dapat membuatnya merasa tidak diinginkan dan berpikir bahwa usahanya sia-sia. Hal ini dapat menyebabkan anak merasa depresi.

Menjadi Contoh yang Buruk

Anak akan memahami dan mencontoh semua kebiasaan, dan perilaku orangtua. Jika orangtua tidak memberi teladan yang baik, anak akan menirunya.Tentu anak akan dijauhi oleh teman-temannya jika memiliki perilaku yang buruk.

Cara mendidik yang buruk seperti itu memang dapat berpengaruh pada gejala depresi anak. Berdasarkan peran dan kehadirannya dalam kehidupan anak, orangtua memiliki peran yang sangat penting, baik secara langsung, maupun tidak langsung.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

8 Peran Orang Tua Dalam Kehidupan Anak

Setiap orang pasti memahami jika peran orang tua dalam kehidupan anak sangatlah penting. Bahkan, peran orang tua diperlukan sejak anak emas dalam kandungan hingga dewasa. Entah itu berperan untuk mengajari anak hingga memenuhi kebutuhannya. 

Pentingnya Peran Orang Tua

Orang tua menduduki peran yang sangat penting, karena menjadi sekolah pertama bagi anak-anak. Sekalipun anak sudah sekolah, peran orangtua masih diperlukan. Mengingat aktivitas anak akan paling banyak dilakukan di rumah.

Tentu jika orang tua tidak melakukan peranannya dengan baik, pasti akan berpengaruh terhadap pertumbuhan anak. Contoh sederhananya jika orang tua tidak menanamkan hal-hal positif dan memberikan contoh tidak baik, tentu anak akan menirunya.

Begitu juga sebaliknya, orang tua yang melakukan perannya dengan baik, maka akan berdampak pada karakternya. Intinya, orang tua mempunyai peranan penting dalam pembentukan karakter anak yang akan berguna untuk masa depan. 

Inilah 8 Peran Orang Tua Di Kehidupan Anak

Meskipun setiap orang memahami jika peran orang tua dalam kehidupan anak sangat penting, tapi tidak semua orang yang benar-benar memahami dan menerapkannya. Apalagi bagi Anda yang baru pertama kali mempunyai anak, penting mengetahui beberapa peranannya berikut ini. 

  1. Menjamin Kebutuhan Anak Tercukupi

Bukan menjadi hal yang asing lagi jika orang tua mempunyai peranan yang cukup penting terutama dalam memenuhi kebutuhan anak. Beberapa hal yang termasuk dalam kebutuhan Anda seperti pakaian yang layak, makanan bergizi, tempat tinggal dan lainnya.

Terutama dalam hal ini penting untuk memastikan kebutuhan anak dalam asupan bergizi sangat diperlukan. Hal ini disebabkan karena asupan yang bergizi sangat berperan penting dalam menunjang pertumbuhan dan perkembangan anak. 

  1. Memastikan Anak Berada Di Lingkungan yang Baik

Peran orang tua terhadap kehidupan anak selanjutnya yaitu memastikan berada di lingkungan yang baik. Tentunya jika anak berada di lingkungan yang tepat, maka akan berpengaruh juga terhadap tumbuh dan kembangnya.

Begitu juga sebaliknya, jika anak berada di lingkungan yang tidak baik maka akan mudah terpengaruh melakukan hal-hal yang negatif. Kenapa menjadi orangtua penting untuk melakukan pengawasan terhadap anak. 

  1. Menciptakan Keamanan dan Kenyamanan

Menciptakan keamanan atau rasa aman terhadap anak merupakan salah satu peran orang tua. Mengingat orang tua adalah tempat pulang, sehingga jika tidak terdapat rasa aman maka anda akan merasa tertekan.

Menciptakan keamanan dan rasa nyaman bisa dilakukan dengan berbagai hal Salah satunya memberikan kasih sayang. Selain itu, penting juga untuk memberi arahan mengenai apa yang seharusnya dilakukan dan tidak seharusnya.

  1. Menanamkan Nilai yang Baik

Peran lain yang harus dilakukan oleh orang tua terhadap anaknya yaitu menanamkan nilai-nilai baik. Mengingat orang tua menjadi guru pertama dalam pendidik anak, sehingga karakter anak dimulai dari orang tuanya. Ada beberapa hal yang harus ditanamkan sejak dini dan setiap orang tua wajib mengetahuinya.

Adapun beberapa hal yang dimaksudkan seperti bersikap jujur, tidak mengambil barang orang lain, saling tolong-menolong, tidak merendahkan orang lain dan lain sebagainya. Selain itu, penting juga untuk memberi pengertian kepada anak jika melakukan sesuatu yang buruk tidak diperbolehkan. 

  1. Mengajari Anak dalam Hal Baik

Mengajari dan mendidik anak juga menjadi salah satu peran orang tua yang wajib untuk dilakukan. Tentunya dalam hal ini harus mengajari anak dalam hal yang baik. Didikan yang diberikan oleh orang tua sejak dini bisa berpengaruh terhadap karakternya di masa depan. 

Semakin baik didikan dari orang tua sejak dini, maka anak akan lebih mudah untuk berbaur dengan masyarakat dengan cara yang baik. Misalnya saja mempunyai sopan santun, saling tolong-menolong, saling memaafkan dan lain sebagainya. 

  1. Memberikan Arahan

Peran orang tua selanjutnya yang yaitu memberikan arahan kepada anak dan juga bimbingan. Arahkan anak untuk selalu melakukan hal yang baik. Selain itu, jelaskan juga alasan kenapa tidak boleh melakukan hal yang buruk dan apa dampaknya kepada diri sendiri dan orang lain.

Sekalipun anak melakukan sebuah kesalahan, jangan langsung memarahinya. Langkah yang paling tepat untuk menanganinya yaitu menasehati dan memberi hukuman yang sekiranya bisa memberikan kesadaran kepada anak. Selain itu, penting juga untuk memberikan motivasi kepada anak. 

  1. Identitas Keagamaan

Identitas agama seorang anak berasal dari keluarganya, terutama orang tua. Tentunya peran orang tua dalam hal ini harus mengenalkan nilai-nilai agama dan keberadaan Sang Pencipta. Terutama untuk anak-anak, penyampaian tersebut harus dalam bahasa yang mudah dipahami. 

Tentunya untuk menyampaikan nilai-nilai tersebut akan lebih mudah jika dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, orang tua juga harus memberikan contoh yang baik agar anak lebih mudah untuk menirunya. 

  1. Mendisiplinkan Anak

Meskipun kasih sayang dari orang tua sangat diperlukan oleh anak, tapi tetap saja harus menerapkan disiplin. Justru dengan membiarkan anak melakukan apapun yang disukainya dapat berdampak menjadi manja dan tidak bisa bertanggung jawab atas setiap perbuatannya.

Semakin dini mengajarkan untuk disiplin, anak akan tumbuh menjadi orang yang bertanggungjawab. Contoh sederhananya mengajarkan anak untuk makan dan tidur tepat waktu. Bahkan, tidak ada salahnya juga untuk membuat jadwal harian anak. Demikian penjelasan mengenai peran orang tua yang dibutuhkan untuk kehidupan anak. Dari penjelasan ini bisa diambil kesimpulan jika karakter anak dibentuk dari didikan dan peran orang tua. Begitu juga sebaliknya, jika orang tua tidak melakukan perannya dengan baik, karakter yang terbentuk juga tidak baik.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Extra

Memahami Gigi Bayi dan Seluk Beluk Pertumbuhannya

Gigi merupakan bagian tubuh yang sangat penting. Selain berfungsi untuk mengunyah, keberadaan gigi juga bisa menambah estetika wajah. Karena itu, setiap fase perkembangannya—mulai dari gigi bayi sampai dewasa—harus diperhatikan dengan baik, terutama oleh para ibu.

Gigi bayi atau gigi susu bia

 

Artikel ini merupakan bagian Sayangi Anak Extra

Sayangi Anak Extra adalah mendalam dan premium dari Sayangianak.com yang membantu Bunda dalam mendidik dan membesarkan Anak. Yuk Bantu Sayangi Anak membuat konten – konten berkualitas..

Lebih Detail

Already a subscriber? Log in here.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Extra

Mengenal Bagaimana Perkembangan Mental Anak Usia 4 – 5 Tahun

Usia bawah lima tahun merupakan masa golden age di mana sebagai orang tua sangat penting untuk memperhatikan perkembangan anak di usia ini. Terlebih lagi terkait perkembangan mental anak usia 4 – 5 tahun yang biasanya mulai muncul pada fase ini terkadang membuat bingung banyak orang tua.

Fase Per

 

Artikel ini merupakan bagian Sayangi Anak Extra

Sayangi Anak Extra adalah mendalam dan premium dari Sayangianak.com yang membantu Bunda dalam mendidik dan membesarkan Anak. Yuk Bantu Sayangi Anak membuat konten – konten berkualitas..

Lebih Detail

Already a subscriber? Log in here.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Share

To Top