Mom Life

Hadapi Si Kecil di Fase Terrible Two dengan Cara yang Tepat ya Bun

Bun, pernah dengar fase terrible two? Ya, fase ini terjadi saat di usia dua tahun, mulai terjadi perubahan dalam diri si kecil. Ia akan mulai sering berteriak, menangis lantaran marah, menendang, hingga bertengkar dengan saudaranya. Sabar Bun, tak usah marah, sebenarnya, apa yang dilakukan anak-anak di usia itu untuk mengekspresikan keinginannya akan kebebasan dan mengendalikan situasi.

Menurut National Institute for Health and Clinical Excellence, kemarahan, agresi, dan sikap membangkang adalah perilaku yang sangat normal pada fase terrible two, yang mengkhawatirkan adalah jika sikap itu bertahan hingga usia sekolah. Karena itu, orangtua perlu menghadapinya dengan cara yang tepat.

Tenang, masa-masa ini akan berlalu. Mengutip Kompas.com, salah satu hal yang bisa dilakukan di masa ini adalah, mulai mengajarkan anak untuk mengatakan, “Permisi, ini giliranku” atau “Maaf, bolehkah aku meminjamnya?”. Intinya adalah membiasakan mereka untuk menyampaikan keinginannya dengan kata-kata bukan dengan aksi pukulan.

Kunci menghadapi si kecil yang sedang masuk fase terrible two adalah penuh kesabaran tapi juga tetap tegas. Ketika anak-anak tantrum karena ada keinginannya yang tak kesampaian, ada baiknya Anda tetap tenang, tak terbawa emosi, dan konsisten.

Berikut 4 tips menghadapi fase terrible two:

1. Seburuk apapun kemarahan yang ditunjukkan si kecil, orangtua harus tetap tenang. Ambil napas dalam-dalam, tinggalkan si kecil sementara waktu, dan kembali saat Anda merasa bisa menghadapinya dengan tenang.

2. Bunda juga bisa membantu si kecil mengenali emosi yang ia rasakan dan memberinya waktu untuk menenangkan diri. “Adik kenapa menangis? Adik marah karena tidak boleh nonton handphone ya? Sekarang kan sudah waktunya mandi. Bunda tunggu sampai adik selesai menangis ya. Kalau sudah tenang, baru kita mandi.”

3. Hindari mengajak si kecil beraktivitas menjelang jam tidurnya. Pasalnya, saat mengantuk, anak-anak jadi lebih mudah rewel.

4. Jika si kecil terbiasa tidur siang 1-3 jam setiap har, maka usahakan untuk menjadwalkan waktu tidur siang jauh dari jam tidurnya di malam hari. Ini untuk mencegah kesulitan tidur di malam hari, yang bisa berujung pada kelelahan.

Pada beberapa anak bahkan bisa terbangun menjerit di malam hari dan tak berhenti menangis. Selain itu, jangan biasakan membuat si kecil duduk atau berdiam diri di satu tempat dalam waktu yang lama. Ini akan membuatnya bosan dan marah. Ajak ia bergerak atau bermain di luar ruangan ya Bun.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Kesehatan

Penyebab Payudara Terasa Nyeri, Saat Bunda Menyusui

Setelah si kecil lahir, aktivitas selanjutnya yang akan Bunda lakukan, tentu saja menyusuinya. Tapi, tak selalu berjalan lancar, beberapa Bunda mungkin mengalami beberapa kendali. Dan rasa nyeri pada payudara, bisa jadi salah satunya. 

Betul Bun, kondisi ini biasanya jadi salah satu yang mengganggu, hingga membuat Ibu menyusui enggan untuk memberikan ASI secara langsung pada bayinya. 

Nah, jika sudah sepert ini, proses menyusui Bunda dan si kecil pasti terganggu. Untuk itu, cobalah cari penyebab apa yang sebetulnya membuat Bunda merasa nyeri selama menyusui. 

Produksi ASI Bunda, Mungkin Terlalu Banyak

Beberapa saat setelah melahirkan, hal yang kerap dialami oleh para Ibu adalah meningkatnya produksi ASI. Dimana hal ini, bisa jadi salah satu penyebab nyeri yang terasa di payudara.

Tapi, jangan terlalu cemas ya Bun, rasa nyeri ini perlahan akan menghilang saat payudara Bunda sudah bisa menyesuaikan produksi ASI dengan kebutuhan asupan Si Kecil. Biasanya nyeri akan hilang dengan sendirinya dalam tiga bulan pertama menyusui.

Terdapat Luka atau Lecet pada Puting

Kondisi lain yang sering terjadi di awal proses menyusui hingga menyebabkan payudara nyeri adalah lecet. Hal ini disebabkan oleh pelekatan yang belum sempurna hingga kerap membuat puting Bunda rentan lecet atau terluka. Untuk menghindarinya, Bunda perlu memerhatikan posisi pelekatan, saat ingin menyusui apakah sudah tepat atau tidak. Upayakan untuk memegang bayi menghadap payudara, jika dirasa perlu Bunda bisa menggunakan bantal agar sanggahannya lain agar proses menyusuinya jadi lebih nyaman.

Adanya Sumbatan Pada Saluran ASI 

Situasi lain yang memungkinkan Bunda merasa nyeri pada Payudara adalah ketika saluran ASI tersumbat. Maka, yang perlu Bunda perhatikan adalah apakah ada benjolan di sekitar area payudara?, Terdapat tanda putih atau sumbatan pada puting, hingga kerap merasa tak nyaman saat menyusui atau memompa asi. 

Jika ternyata hal-hal tersebut sedang Bunda rasakan, kemungkinan besar nyeri yang Bunda rasa memang berasal dari sumbatan saluran ASI. Untuk mengatasinya, cobalah untuk senantiasa memperhatikan peletakan payudara, ketika ingin mengusui dan menghindari pemakaian baju yang terlalu ketat atau ngepas. 

Mastitis atau Infeksi Payudara 

Perlu Bunda ketahui, Mastitis adalah peradangan yang terjadi pada jaringan payudara, dan kondisi ini sering dialami oleh ibu menyusui. Efek yang ditimbulkan bisa membuat payudara nyeri, bengkak, dan kemerahan.

Terjadi pada satu bagian payudara saja, umumnya, kondisi ini memang akan terjadi kapan saja selama menyusui, atau paling tidak akan terjadi selama 6 minggu pertama menyusui. Selain nyeri, mastitis juga mungkin akan membuat Bunda demam, meriang, pembengkakan, payudara terasa nyeri, kemerahan, dan terasa hangat saat disentuh.

Dan Pemakaian Bra yang Kurang Tepat

Walau terkesan sepele, ini adalah bagian penting yang tak boleh Bunda abaikan ketika sedang dalam proses menyusui. Cobalah untuk mencari dan memilih Bra yang tepat. Mulai dari ukuran yang sesuai, dan bahan yang memang nyaman dipakai tanpa menimbulkan efek nyeri atau lecet pada payudara.  

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Si Kecil Penakut Bun? Yuk, Bantu Ia Kalahkan Rasa Takutnya dengan 5 Cara Ini!

Namanya juga anak-anak Bun, wajar jika pada beberapa kesempatan ia mungkin menunjukkan rasa takut terhadap beberapa hal. Sesuai dengan usianya, si kecil mungkin akan takut pada hal-hal yang asing baginya. Mulai dari ketinggian, makhluk yang tampak seram, gelap, atau wujud-wujud dari benda atau makhluk lain yang menurumnya seram. 

Situasi ini, barangkali datang dari imajinasi yang ia miliki. Dengan kenyataan lainnya, ia masih belum cukup mengerti apa yang sebenarnya membuatnya takut. Selama rasa takut yang ia miliki masih dalam batas wajar, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Itu adalah bagian dari proses tumbuh kembangnya. 

Tapi bukan berarti kita cuma diam saja ya Bun, sebagai orangtua kita juga harus membantu mereka. Mencari apa yang sebenarnya ia takuti dan memberinya solusi, bagaimana mengatasi rasa takut yang ia miliki. 

1. Ajarkan Ia untuk Tetap Tenang 

Setelah ia mengalami ketakutannya, si kecil akan berekspresi untuk menunjukkan ketakutannya. Entah itu menangis, berteriak atau berlari. Ini adalah respon dari imajinasi yang ia pikirkan, sehingga membuatnya bertindak demikian. Dan bukan tak mungkin juga jika ia akan panik mendadak. 

Tugas Bunda adalah membuatnya tetap tenang. Ajak si kecil untuk pelan-pelan menghadapi ketakutannya, melupakan semua hal negatif yang ia pikirkan, dan menumbuhkan keberanian untuk melawan. Walau tak akan mudah, setidaknya perlahan ia akan lupa tentang apa yang takutinya. 

2. Bantu Ia Mencari Penyebab Rasa Takut yang Ia Miliki 

Misanya, ia takut gelap karena berpikir ada setan di sana. Pada situasi ini, Bunda harus bertindak sebagai mediator yang membantunya memahami jika hantu itu tidak ada misalnya. Atau, kondisi gelap tak selamanya menandakan ada hantu, bisa jadi karena malam, atau listrik yang sedang padam.

Dengan demikian, ia akan mulai paham jika ada sebab lain yang harus ia mulai pahami. Bukan lagi berkutat pada jika gelap, berarti ada hantu. 

3. Berikan Alternatif untuk Mengalihkan Ketakutannya

Untuk bisa memberinya pilihan dan membantunya mengalihkan perhatian. Bunda harus memahami apa yang membuatnya takut sebagaimana hal yang tadi sudah dijelaskan diatas.

Selanjutnya, setiap kali ia berteriak atau menunjukkan ketakutan. Bunda punya alternatif yang bisa disarankan kepadanya. Misalnya, jika ia takut mencari sesuatu di kamar hanya karena gelap, mungkin Bunda bisa memberinya solusi untuk menggunakan senter agar ia bisa melihat dengan jelas benda yang dicarinya. 

4. Beri Ia Semangat Agar Bisa Mengalahkan Ketakutannya

Jangan pernah disepelakan ya Bun. Rasa takut pada anak memang bukanlah sesuatu yang aneh. Tapi bukan berarti juga layak untuk diabaikan. Mulailah peka, untuk memperhatikan apa yang bisa bunda gunakan untuk membantunya bersemangat dalam mengalahkan rasa takutnya. Dengarkan apa yang sedang ia rasakan, dan beri ia masukan tentang apa yang ia butuhkan untuk menghalau rasa takut yang sedangg ia rasakan. 

5. Dan Berusahalah untuk Membantunya Menumbuhkan Rasa Percaya Dirinya

Takut pada anak, kerap berhubungan dengan rasa malu atau minder yang juga ia miliki. Itulah sebabnya, ia menjadi tidak berani, apalagi ketika diminta untuk melakukan sesuatu seorang diri. Jika sudah tahu jika ia memang kurang percaya diri, Bunda bisa mulai membiasakannya memupuk rasa percaya dirinya dengan hal-hal sederhana. 

Dimulai dengan mengajarkannya bertanggung jawab atas sesuatu, berani dengan hal-hal yang ia percayai dan selalu memberinya pengertian jika apapun bisa ia lakukan, jika ia berhasil mengalahkan ketakutan yang ia rasakan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Bermain Menghancurkan Juga Bermanfaat untuk Anak, Lho

bermain merusak

Pernahkah Bunda bermain membuat sesuatu bersama anak, tetapi setelah jadi malah dihancurkan si kecil? Jangan buru-buru kesal atau khawatir ada perilaku merusak dalam diri anak ya, Bun. Permainan menghancurkan ada manfaatnya lho bagi tumbuh kembang mereka.

Destructive play atau bermain menghancurkan biasanya dilakukan di masa-masa awal usia kanak-kanak. Bagi anak-anak berusia muda, kegiatan menghancurkan sesuatu adalah permainan yang menarik dan menyenangkan. Jadi, tidak perlu bergegas melarang si kecil yang hendak menghancurkan bangunan yang telah dibuatnya ya, Bun.

Nah, berikut ini manfaat bermain menghancurkan bagi anak yang perlu kita pahami bersama.

  1. Meningkatkan Rasa Ingin Tahu

Ada banyak cara untuk belajar, tak terkecuali melalui bermain menghancurkan. Sering kali manusia dewasa pun merusak atau menghancurkan sesuatu untuk mencari tahu cara kerja suatu benda.

Anak-anak bisa jadi mencabuti tanaman bunga di kebun karena ingin tahu bagian tanaman seperti apa yang ada di dalam tanah. Bagi si kecil, kegiatan merusak juga bisa jadi sarana mengeksplorasi kemampuannya. Dengan mencabut tanaman, mereka jadi tahu kekuatan yang dibutuhkan untuk mencabut tanaman tertentu. Sementara itu beberapa tanaman lain sangat kuat, sehingga mereka tidak bisa mencabutnya.

Bahkan menyobek kertas, sekilas terlihat menyebalkan bukan? Namun, para bayi bersenang-senang dengan kegiatan itu. Wah, mereka jadi tahu bahwa tangannya tak hanya bisa digunakan untuk memegang, tetapi juga merobek.

Memahami bermain merusak yang dilakukan anak/ Foto: Canva
  1. Belajar Sebab Akibat

Melalui permainan merusak, anak-anak akan melihat suatu benda berubah bentuknya atau penampakannya. Dari kegiatan itu, mereka belajar tentang sebab akibat. Demikian disampaikan seorang edukator, Meghan Fitzgerald. Misalnya, menara balok akan hancur jika dilempar bola, dan sebaliknya tidak akan roboh bila dilepah sehelai tisu.

Ketika ada anak yang menumpahkan sabun mandi di ember, bisa jadi dia ingin tahu seberapa banyak sabun yang dibutuhkan untuk membuat gelembung. Pun ketika si kecil merobek kertas, mereka akan belajar cara efektif merobek kertas tertentu. Seperti kita tahu, tidak semua kerta bisa dirobek dengan mudah.

  1. Meningkatkan Kemampuan Motorik Halus

Di balik bermain menghancurkan yang terkadang bikin para ibu gemas dan kesal, ternyata justru bisa mengasah kemampuan motorik halus si kecil. Memegang, mengambil benda, merobek, menarik, dan mencabut adalah kegiatan-kegiatan yang bisa meningkatkan kemampuan motorik halus.

Kelak, kemampuan ini akan mendukung keterampilan lainnya, seperti menulis, menggunting, serta membuka botol. Hal-hal sederhana itu adalah caranya belajar untuk lebih mahir menjalani kehidupan di masa mendatang.

Hal-hal yang Perlu Dilakukan Saat Anak Bermain Menghancurkan

Memahami bermain merusak yang dilakukan anak/ Foto: Canva

Alih-alih berkata, “Kok dihancurkan sih? Kan Bunda sudah susah payah bikin menara baloknya,” lebih baik bilang, “Wah, kamu ingin tahu ya cara menjatuhkan menara balok? Ayo kita bikin lagi.”

Di atas kertas mudah ya, Bun. Nyatanya memang tidak semudah itu. Kadang kesal datang tanpa diharapkan. Jangan buru-buru marah, lebih baik tarik napas panjang, agar yang datang ke pikiran adalah hal-hal positif. Ingat, Bun, anak nggak bermaksud bikin kita kesal. Mereka hanya sedang belajar.

Ini dia beberapa hal yang perlu kita lakukan saat anak bermain menghancurkan:

  1. Membuat Area Aman

Untuk menghindari hal yang membahayakan, sebaiknya membuat area aman untuk bermain bagi anak. Dalam hal ini, termasuk benda-benda yang digunakan untuk bermain. Misal ya untuk anak usia muda, sebaiknya kita jauhkan benda-benda yang terbuat dari kaca karena bisa membahayakan saat dihancurkan.

  1. Tunjukkan Antusiasme

Saat anak bermain menghancurkan, jangan bereaksi negatif. Sebaliknya, yuk tunjukkan antusiasme kita atas tingkahnya. Jika anak merasa aman dalam mengeksplorasi lingkungan dan perasaannya, mereka akan lebih banyak belajar. Namun, jika kita merespons dengan amarah, anak akan mengasosiakan emosi negatif dengan hal yang tak diinginkannya.

  1. Ikut Bermain

Yuk ikut bersenang-senang bermain menghancurkan bersama anak. Ikuti saja yang dilakukan anak, hal itu cukup mendongkrak rasa percaya dirinya.

Kita bisa mengarahkan anak untuk mencoba hal-hal baru. Misalnya dengan menaruh lebih banyak kotak pada menara yang dibangun. Bisa juga dengan meletakkan alas di bawah menara kotak. Anak bisa diajak mengeksplorasi apa yang terjadi dengan perubahan-perubahan yang ada.

Perilaku merusak ini dilakukan di awal-awal masa kanak-kanak saja. Jika usia anak sudah lebih besar dan mampu berkomunikasi dengan baik, tetapi selalu merusak semua hal, ada baiknya berkonsultasi dengan pakar tumbuh kembang anak.

Nah, sekarang Bunda sudah lebih memahami bermain merusak yang dilakukan si kecil. Semoga informasi ini bermanfaat dan membuat Bunda semakin memahami perilaku anak.

Referensi:

Tinkergarten. Why the Power of Destruction Is Really Good For Kids. https://tinkergarten.com/blog/why-destroying-stuff-is-good-for-our-kids diakses pada 9 Juni 2021.

Playful Childhoods. How to deal with construction and destruction play. https://www.playfulchildhoods.wales/how-to-deal-with-construction-and-destruction-play diakses pada 9 Juni 2021.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Share

To Top