Dapatkan Artikel menarik dan mendalam langsung lewat SAYANGIANAK EXTRA di emailmu...

* indicates required
Parenting

Hadapi Buah Hati yang Susah Makan dengan Cara-cara Ini Yuk Bun

kids no eat

Menghadapi balita dengan segala tingkah lakunya kuncinya memang harus banyak-banyak sabar ya Bun. Termasuk kalau si kecil mulai punya alasan ini itu saat diminta melahap makanan yang disediakan orangtuanya. Dalam beberapa kondisi, ada anak yang tetiba berubah jadi picky eater alias suka pilih-pilih makanan.

Alih-alih segera melahap habis, ia selalu punya cara untuk menolak menu yang sudah disajikan. Dan bukan tanpa alasan, sejatinya ada banyak faktor kenapa si kecil bisa jadi begitu selektif. Sebagai orangtua, Bunda pun harus mencari tahu penyebab dan jalan keluarnya. Jangan sampai kebiasaan ini justru jadi membuat proses tumbuh kembang si kecil jadi tergganggu.

Saat Anak Gemar Pilih-pilih Makanan, Bunda Harus Apa?

Perilaku balita yang tetiba suka pilah pilih makanan sejatinya normal untuk anak seusianya. Ada kemungkinan si kecil pada satu waktu suka dengan satu jenis makanan saja dan enggan mengonsumsi makanan yang lain. Untuk itu, kenalkan beragam makanan bernutrisi sejak dini supaya ia mau memilih apa yang ia makan ya Bun.

Di lain sisi, menurut dokter anak dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr Kurniawan Taufiq Kadafi, pada saat memberi makan buah hati, sebaiknya berikan ketika saat anak merasa lapar.

“Hindari memaksakan memberikan makan kepada anak ketika anak menolak, karena justru akan menimbulkan penolakan yang lebih hebat bila diberikan makan selanjutnya,” kata dr Dafi kepada tim SayangiAnak.com.

Biasakan Si Kecil untuk Makan di Meja Makan

Lanjut dr Dafi, proses makan adalah proses serius, jadi ketika anak sudah mulai belajar makan sebaiknya dibiasakan makan dengan menghindari beberapa gangguan, misalnya makan sambil menonton tv, memberikan mainan serta buku. Bunda perlu tahu, posisi nyaman ketika makan adalah posisi meja sejajar perut anak. Dengan begini, anak sebaiknya makan dengan posisi duduk di kursi dengan meja makannya yang ideal atau nyaman.

Di lain sisi, keluarga sebaiknya mendukung proses makan anak dengan membiasakan makan bersama ya Bun. Makan bersama dengan anggota keluarga yang lain akan menumbuhkan interaksi dan ikatan orang tua dan anak. Makan bersama dengan anggota keluarga lain akan mengajarkan anak kebiasaan makan yang sehat, baik, sopan dan santun di meja makan.

Supaya Si Kecil Tak Kelaparan, Pastikan Bunda Tetap Tenang dan Hindari Pertengkaran dengannya

Bun, hindari memulai pertengkaran dengan buah hati saat waktunya makan. Memang, rasanya kesal sekali saat si kecil menolak makanan, tapi tetaplah coba untuk bersabar ya Bun. Tak usah memaksanya menyantap makanan yang memang tak ia suka. Kalau Bunda justru membiarkan adanya pertengkaran dan tetap memaksanya untuk mau makan, bisa jadi dampaknya akan lebih buruk untuk psikologisnya.

Cara Lain Menyiasatinya yaitu Siapkan Snack atau Camilan yang Tinggi Kalori Agar Ia Tak Mudah Lapar

Demi memastikan si kecil tetap dapat asupan energi sepanjang hari, sekalipun ia tak makan di waktu makannya. Bunda perlu menyediakan snack atau camilan yang tinggi kalori yang bisa ia konsumsi kapanpun ia mau ya Bun. Yang terpenting, hindari menjanjikan hadiah camilan manis bila anak mau makan, oleh karena anak akan cenderung berorientasi kepada hadiah dibandingkan kepada proses makannya.

Dari sekian banyak menu, Bunda bisa memilih makanan seperti selai kacang, keju, camilan dengan kacang-kacangan lainnya. Tak apa lho Bun si kecil terbilang susah saat diminta mengonsumsi nasi. Atau selain kacang, menyiapkan menu seperti buah-buahan segar yang disukai si kecil juga dianjurkan lho. Yang penting asupan kalorinya tercukupi lewat camilan sehat yang Bunda sediakan.

Pastikan Bunda Membuat Daftar Mengenai Makanan Apa Saja yang Ia Sukai

Saat Bunda menyadari kalau si kecil mulai selektif pilih pilih makanan, maka lebih pekalah memperhatikan menu makanan yang ia konsumsi ya Bu. Termasuk urusan cemilan. Kalau Bunda proaktif melakukan hal ini, maka Bunda akan mendapatkan data apa saja yang biasanya diasup buah hati dalam satu hari. Di lain sisi, Bunda pun jadi tak perlu pusing memikirkan varian makanan yang harus disiapkan agar si kecil mau makan.

Coba Turuti Dulu Apa Kemauannya

Mengutip dari Healthy Children, menghadapi anak yang susah makan, sejatinya tak bisa dengan paksaan lho. Sekalipun Bunda tahu bahwa buah hati butuh nutrisi untuk makan seimbang, tetap cari cara yang lebih ramah ya Bun. Salah satu cara yang bisa Bunda coba yaitu turuti kemauan buah hati.

Mungkin ia meminta makanan tertentu di sekali waktu, maka cobalah berikan makanan tersebut selagi aman dan tak membuatnya kelaparan. Yang penting Bunda mengawasi kandungan nutrisi yang diasupnya. Akan lebih baik pakai cara yang demikian kan Bun? Dibanding memaksanya makan tapi akhirnya terbuang karena ia tak mau makan.

Jangan Membandingkan Si Kecil dengan Anak yang Lain ya Bun

Bun, tak usah merasa sedih bila melihat anak lain yang seusianya makan dengan lahap, atau jika ada orang yang berkomentar kenapa si kecil kelihatan kurus. Intinya, jangan sampai si kecil merasa dia memiliki masalah dengan pola makan karena menghadapi komentar tersebut. Yang penting Bunda yakin jika si kecil sehat dan tumbuh kembangnya aman, maka abaikan saja komentar tersebut ya Bun.

Sebagai Orangtua, Berikan Contoh Padanya untuk Makan Apapun yang Sudah Tersaji

Kalau Bunda mendambakan si kecil mau mengonsumsi sayur atau makanan lainnya, maka berikan contoh yang dapat mereka teladani ya Bun. Mulailah dari orangtuanya dulu. Misalnya Bunda ingin dia mau melahap brokoli, maka Bunda dan ayah harus membiasakan diri mengonsumsi brokoli dalam sajian sehari-hari. Dengan begini, ia pun kelak meniru kebiasaan orangtuanya.

Selain itu, jangan lupa mendorong anak makan secara mandiri, tanpa mempedulikan makanan akan tercecer. Orang tua menjadikan proses makan secara menyenangkan. Misalnya menyajikan makanan dengan potongan yang menarik dan bervariasi.

Selain itu, Bunda juga bisa mencoba saran di bawah ini demi memudahkan si kecil mengatur pola makannya dan belajar disiplin dengan jam makan supaya ia tak kelaparan:

  1. Beri tahu anak Anda 5 – 10 menit sebelum jam makan, bahwa sebentar lagi ia harus makan. Anak-anak mungkin akan kelelahan setelah beraktivitas, akibatnya mereka akan malas makan dan lebih memilih untuk istirahat. Dengan pemberitahuan menjelang waktu makan, ini akan memberikan waktu padanya untuk menenangkan diri sebelum makan.
  2. Kenalkan buah hati dengan rutinitas. Anak akan merasa lebih nyaman dengan rutinitas dan jadwal yang bisa ia prediksi, jadi tentukan waktu makan yang teratur.
  3. Pastikan waktu makan dihabiskan untuk makan dan bercengkerama dengan sesama anggota keluarga. Jangan biarkan si kecil bermain saat makan. Begitu pula dengan membaca buku atau menonton tv. Bunda bisa pelan-pelan menjelaskan kenapa Bunda dan ayah melarang aktivitas tersebut dan apa pentingnya menghabiskan waktu bersama keluarga di meja makan sampai semua orang selesai dengan makanannya.
  4. Jadikan waktu makan sebagai momen menyenangkan. Jika waktu yang dihabiskan saat makan terasa menyenangkan, anak tentu akan menantikan waktu makan bersama keluarga. Hindari pertengkaran di meja makan ya Bun.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Ini Cara Mengembangkan Potensi Anak Sesuai Dengan Kepribadiannya, Setiap Orang Tua Perlu Tahu

megembangkanpotensianak

Setiap anak terlahir unik dan memiliki karakter yang berbeda-beda. Bahkan antar saudara kandung pun bisa memiliki karakter yang berbeda.

Bisa saja sang kakak yang pendiam dan pemalu mempunyai adik yang lebih berani dan selalu ingin tampil. Selain itu, setiap anak juga memiliki minat dan bakatnya masing-masing.

Oleh karena itu, bunda perlu mengenali masing-masing kepribadian anak saat akan mengembangkan potensinya.

Orangtua bertugas mengembangkan potensi anak dengan memberikan stimulasi yang tepat. Namun, mungkin bunda sering kebingungan, stimulasi apa lagi yang harus diberikan agar potensi anak berkembang?

Nah, agar bunda tidak kebingungan maka bunda perlu mengetahui kepribadian serta minat dan bakat anak.

Mengetahui Kepribadian Anak Adalah Langkah Awal Dalam Mengembangkan Potensi

Sebelum mencoba untuk mengembangkan potensi anak, bunda perlu mengetahui tipe kepribadian anak. Apakah anak bunda cenderung pendiam dan pemalu, aktif, supel, atau mudah bergaul.

Bunda juga bisa mempelajari tipe kepribadian melankolis, sanguinis, koleris, dan plegmatis. Amati perilaku anak sehari-hari agar bunda mengenali kepribadian anak.

Amati pula setiap kegiatan anak, lihat hal-hal yang membuat anak berbinar-bianr saat mengerjakannya. Dengan begitu bunda bisa mengetahui kepribadian dan hal yang disukai anak.

Ketahui Kepribadian pada Manusia yang harus kita ketahui:

Berikut penjelasan keempat kepribadian tersebut yang dirangkum dari Psichologia:

1. Sanguinis

Orang dengan tipe kepribadian sanguinis cenderung hidup, optimis, ringan, dan riang. Tipe ini juga menyukai petualangan dan memiliki toleransi tinggi akan risiko.

Selain itu, tipe sanguin biasanya lemah dalam menoleransi kebosanan, serta akan mencari variasi dan hiburan. Secara alami, sifat ini kadang-kadang negatif dalam memengaruhi hubungan percintaan dan lainnya.

Karena kepribadian ini berperilaku mencari kesenangan, banyak orang dengan kepribadian sanguinis cenderung berjuang dengan kecanduan (ingin suatu hal dengan terus-menerus).
2. Plegmatis

Seseorang dengan kepribadian plegmatis biasanya adalah orang-orang yang cinta damai. Tipe ini biasanya mencari keharmonisan antar-pribadi dan hubungan dekat yang membuat orang-orang plegmatis menjadi pasangan yang setia dan orang tua yang penuh kasih.

Orang-orang plegmatis suka menjaga hubungan dengan teman-teman lama, anggota keluarga yang jauh, dan tetangga. Dalam hal kepribadian, tipe plegmatis cenderung menghindari konflik dan selalu berusaha menengahi orang lain untuk memulihkan perdamaian dan harmoni.

3. Koleris

Seseorang dengan kepribadian koleris biasanya orang yang sangat berorientasi pada tujuan. Orang yang koleris terkenal sangat cerdas, analitis, dan logis, sangat praktis dan langsung, tetapi tipe ini tidak harus menjadi teman baik atau orang yang ramah.

Seorang koleris tidak menyukai pembicaraan singkat dan menikmati percakapan yang mendalam dan bermakna. Mereka lebih suka sendirian daripada di perusahaan dengan orang berkepribadian lemah.

4. Melankolis

Orang-orang dengan kepribadian melankolis menyukai tradisi. Misalnya wanita memasak untuk laki-laki, laki-laki membuka pintu bagi wanita.

Tipe melankolis rata-rata mencintai keluarga dan teman-temannya, tidak seperti orang-orang sanguinis. Melankolis tidak suka mencari hal-hal baru dan petualangan dan bahkan cenderung akan sangat menghindarinya.

Orang yang melankolis juga dikenal sangat sosial dan berupaya berkontribusi pada komunitas, sangat teliti dan akurat. Tipe ini adalah manajer yang fantastis dengan kepribadian yang baik.

Tips yang dapat dilakukan untuk mengembangkan potensi anak dari kecil.

Setelah bunda mengetahui kepribadian, minat dan bakat anak, maka selanjutnya bunda perlu mengembangkan Potensinya. Berikut ini adalah beberapa tips yang dapat dilakukan untuk mengembangkan potensi anak dari kecil.
~ Kenali Anak Sebagai Teman

Sepertinya terlalu klise, tapi memang benar. Dengan mengenali anak sebagai teman, anak akan lebih mudah untuk diajak berkompromi, anak lebih mudah diarahkan misalnya untuk mencoba hal-hal baru yang bertujuan untuk membuatnya pintar dan mengembangkan potensinya.

~ Bebaskan anak menjadi diri sendiri

Karakter yang baik dapat dibangun dan diajarkan pada anak tanpa menghilangkan karakteristik pribadinya. Bebaskan anak untuk menjadi diri sendiri namun tetap arahkan kearah kebaikan.

~ Berikan Stimulasi yang Tepat Sesuai Usianya

Setiap orangtua pasti ingin anaknya pintar, ingin anaknya bisa melakukan ini dan itu. Tapi jangan lupa, bahwa si Kecil juga punya bakat dan minat yang berbeda, dan kemampuan dasar yang berbeda sesuai dengan usianya. Jadi berikanlah stimulasi yang tepat sesuai dengan usianya.

Stimulasi yang tepat dan dilakukan secara konsisten, akan dapat merangsang kekuatan hubungan antar sel otak, yang akan membuat anak lebih pintar dalam berbagai hal.

~ Pendidikan agama sejak dini

Apabila sejak kecil ia sudah diajarkan ilmu dan norma-norma agama, maka hal tersebut akan melekat dalam perilaku sehari-hari. Dengan mengenal Tuhan maka anak akan mencerminkan perilaku yang baik dan menghindari perbuatan yang tidak terpuji.

~ Mengenalkan Nilai-nilai Positif Sejak Dini

Penting sekali mengenalkan hal-hal kecil tapi positif kepada anak sejak dini, sejak usia berapapun, baik dia sudah mengerti ataupun belum. Karena nilai-nilai itulah yang akan tertanam di dalam alam bawah sadarnya hingga anak dewasa nanti, dan mempengaruhi perkembangan potensi dalam dirinya.

~ Buat Daftar Permainan Edukatif

Di era di mana informasi digital semakin pesat, tidak susah untuk mencari informasi atau ide-ide mengenai berbagai permainan edukatif yang bisa dikenalkan pada si Kecil. Agar tidak lupa dan tidak bingung saat tiba-tiba harus bermain bersama si Kecil, bisa membuat daftarnya, lalu menyimpannya di handphone agar dapat diakses sewaktu-waktu, dan juga bisa menambahkan daftarnya jika terpikir ide permainan edukatif yang lain.

~ Menjadi contoh bagi si Kecil
Tidak hanya anak, orang dewasa termasuk Bunda pun memiliki tipe karakter sendiri. Bunda dapat mengidentifikasi mana karakter dasar Mama.

Untuk mengajarkan dan membangun sifat positif dalam diri si Kecil tentunya harus dibarengi oleh contoh nyata. Mama harus dapat menjadi contoh yang baik bagi anak sebagai standar acuannya dalam bersikap dan merespon segala hal dalam kehidupannya.

~ Memahami perasaan anak

Sebagai orangtua, sudah seharusnya memiliki kedekatan batin dengan buah hati. Bunda harus dapat menyentuh dan memahami perasaan anak.Dengan kasih sayang tulus dan keinginan untuk memahami apa yang anak rasakan maka akan lebih mudah dalam mendidik dan mengarahkan si Kecil.

Jika anak terlihat sedih sepulang bermain dengan temannya, tanyakan apa yang membuatnya demikian. Apabila ada permasalahan antara anak dan temannya, berilah nasehat apa yang harus dilakukan untuk berdamai dan saling memaafkan. Dengan begitu anak akan merasa bahwa Mama perhatian dengannya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Anak Tidak Percaya Diri? Ini 10 Penyebab yang Perlu Bunda Waspadai

Little boy playing superhero at the playground

Kepercayaan diri adalah salah satu faktor penting dalam perkembangan anak. Rasa percaya diri yang tinggi akan mendorong keberanian anak untuk mengeskplorasi sesuatu yang ingin dia tahu dan berani mencoba hal baru.

Anak yang kurang memiliki rasa percaya diri akan menarik diri dari keramaian, tidak berani mencoba hal baru, dan membuatnya menjadi anak yang pemalu hingga tidak punya banyak teman. Bunda pasti ingin mempunyai anak yang memiliki rasa percaya diri kan? Oleh karena itu bunda perlu mengetahui hal-hal yang dapat membuat rasa percaya diri anak menurun.

Bahkan bisa jadi penyebabnya adalah pola asuh yang salah, lho. Agar si kecil tidak kehilangan rasa percaya dirinya, bunda perlu mengetahui penyebabnya. Berikut beberapa hal yang bisa membuat percaya diri anak menurun.

1. Anak sering dibandingkan dengan saudaranya atau temannya

Setiap anak mempunyai karakter yang berbeda dan tentunya mempunyai keistimewaan masing-masing. Oleh karena itu, seharusnya seorang anak tidak perlu dibandingkan dengan teman sebayanya atau bahkan saudara kandungnya sendiri.

Beberapa orangtua bahkan membandingkan anaknya dengan teman atau saudaranya agar sang anak termotivasi dengan berkata, “Lihatlah kakakmu, sudah rajin bantu ibu, juara kelas pula. Seharusnya kamu mencontoh kakak!” atau kalimat lainnya yang sejenis. Namun, dengan membandingkan anak justru bisa membuat anak merasa tidak berharga hingga kehilangan rasa percaya dirinya.

2. Orangtua kurang memberikan dorongan dan meremehkan anak

Seorang anak awalnya mungkin akan merasa malu, tidak berani mencoba hal baru atau berkenalan dengan teman baru. Jika begitu, maka bunda perlu memberikan dorongan dan motivasi. Jika si kecil merasa tidak yakin bisa melakukan sesuatu, bunda perlu meyakinkan si kecil. Berikan dorongan pada si kecil agar setidaknya mau mencoba melakukan hal yang baru.

Orangtua yang kurang memberikan dorongan dan motivasi kepada anak akan membuat anak terus merasa ragu dan tidak berani mencoba hal baru. Apalagi jika orangtua justru meremehkan si kecil. Misalnya meremehkan hobi atau meremehkan pencapaian anak.

3. Orangtua yang over protective

Setiap orangtua pasti ingin melindungi anaknya dan memastikan bahwa anaknya baik-baik saja. Namun, orangtua yang over protective memiliki kekhawatiran berlebih terhadap anaknya sehingga cenderung melarang anak melakukan banyak hal karena berbagai alasan, misalnya khawatir anak terluka, gagal, atau kecewa.

Orangtua tipe ini akan mengatur setiap hal yang dilakukan oleh anak. Dengan begitu anak tidak akan belajar untuk mandiri dan tidak percaya diri untuk melakukan hal yang disukainya atau mengambil keputusan.

Itulah beberapa penyebab anak tidak percaya diri yang perlu bunda ketahui. Agar kepercayaan diri si kecil tumbuh, maka selalu berikan dorongan dan motivasi kepada anak ya.

4. Anak-anak yang kurang kasih sayang pun diketahui dapat memiliki kepercayaan diri yang rendah

Hal ini berkaitan karena anak-anak merasa dirinya tidak disayang. Anak yang merasa tidak disayang menganggap dirinya tidak memiliki kemampuan apapun.

Belum lagi ketika anak merasa dirinya tidak berarti bagi orang tuanya, karena orang tua lebih sering menghabiskan waktu di luar rumah dibandingkan dengan di rumah.

Oleh sebab itu, anak-anak penting untuk selalu ditemani dan diberikan kasih sayang orang tuanya. Mungkin orang tua merasa waktu-waktu kerja di mana mereka meninggalkan anak merupakan waktu yang wajar. Padahal ada banyak alasan mengapa orang tua kemudian akan kehilangan banyak informasi mengenai anaknya.

5. Trauma Akibat Pernah Gagal Sebelumnya

Anak-anak yang mengalami kegagalan seringkali mengalami trauma yang menyebabkan dirinya selanjutnya sulit sekali untuk mempercayai kemampuan dirinya. Hal inilah yang kemudian memerlukan peranan orang tua untuk kembali meningkatkan kepercayaan diri anak.

Anak-anak yang mengalami kegagalan kemudian diharapkan dapat memiliki orang tua yang selalu berada di sisinya dan menjelaskan bahwa satu kegagalan tidak berarti anak tersebut tidak mampu. Melainkan dibutuhkan waktu lebih untuk belajar lebih baik lagi.

6. Pengaruh Orang Tua yang Kurang Percaya Diri

Orang tua yang kurang percaya diri dapat menjadi alasan anak-anak pun menjadi tidak percaya diri. Hal ini berkaitan dengan bagaimana orang tua dapat menjadi contoh untuk anak-anaknya.

Seorang anak yang memiliki orang tua yang tidak percaya diri, kemudian dapat meniru sifat-sifat orang tuanya tersebut. Itulah kemudian yang menjadi alasan mengapa seorang anak harus melihat contoh orang tua yang percaya diri untuk dapat menjadi percaya diri.

7. Anak Memiliki Sifat Introvert

Selanjutnya, anak-anak yang introvet pun diketahui dapat memiliki kepercayaan diri yang rendah. Hal ini berkaitan karena anak-anak merasa dirinya tidak dianggap. Anak yang merasa tidak dianggap menganggap dirinya tidak memiliki kebutuhan untuk berhubungan dengan orang lain.

Belum lagi ketika anak merasa dirinya tidak berarti bagi teman di sekitarnya, karena teman-temannya tidak menyukai menghabiskan waktu dengan dia yang pendiam. Oleh sebab itu, anak-anak penting untuk selalu ditemani dan diberikan kasih sayang oleh orang tuanya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Tumbuh Kembang Setiap Anak Berbeda, Stop Membandingkan Dengan Anak Lain

membandingkananak

Sebagai orangtua tentunya kita menginginkan tumbuh kembang yang optimal untuk anak. Namun, terkadang orangtua mengukur tumbuh kembang anak dengan membandingkan dengan anak lain. Hal itu justru akan membuat orangtua khawatir dan merasa insecure jika tumbuh kembang anaknya tidak sama dengan anak lain.

Hal yang sering dibandingkan orangtua misalnya berat badan anak, kapan anak bisa merangkak, berjalan, dan berbicara. Momen saat berkumpul bersama sesama ibu biasanya menjadi waktu di mana bunda sering membandingkan anak dengan anak lain, atau justru ada orang lain yang membandingkan anaknya dengan anak bunda.

Diawali dari obrolan ringan seputar anak berujung dengan membandingkan, misalnya saat ada yang bertanya, “Anakmu sudah bisa apa?” lalu berlanjut dengan membandingkan, “Wah, anakku umur segitu sudah bisa jalan.”

Obrolan-obrolan kecil seperti itu bisa membuat bunda merasa tertekan karena merasa gagal mengasuh anak, lho. Padahal, kecepatan tumbuh kembang setiap anak pasti berbeda-beda. Bunda tidak perlu membandingkan anak bunda dengan anak lainnya, cukup membandingkan dengan kurva pertumbuhan dan perkembangan dari dokter.

Efek Buruk Membandingkan Anak Bagi Ibu

Sering membandingkan anak sendiri dengan anak orang lain mempunyai efek buruk untuk bunda, lho. Hal itu bisa menjadi penyakit yang tidak terlihat. Bunda bisa merasa iri, malu, tidak percaya diri, hingga merasa tertekan dan gagal dalam mengasuh anak. Jika rasa tertekan tersebut terjadi berlarut-larut bunda bisa stres dan depresi.
Oleh karena itu, saat bunda melihat anak lain lebih montok, lebih cepat merangkak, jalan, berbicara, dan lainnya, bunda jangan langsung mengambil kesimpulan bahwa anak bunda kalah atau pertumbuhannya terlambat.

Yang harus bunda lakukan adalah mengukur setiap pertumbuhan dan perkembangannya lalu sesuaikan dengan milestone dan kurva pertumbuhan. Jika bunda merasa ada aspek tumbuh kembang yang terlambat, sebaiknya bunda berkonsultasi langsung kepada dokter agar mendapatkan penjelasan dari ahlinya.

Efek Psikologis Anak yang Sering Dibandingkan

Selain mempunyai efek buruk bagi ibu, sering membandingkan anak juga mempunyai efek negatif bagi anak. Terkadang orangtua berniat memotivasi anak dengan membandingkannya dengan teman sebayanya.

Namun, hal itu bukanlah cara yang tepat untuk memotivasi lho. Setiap anak mempunyai karakter dan talenta yang berbeda-beda, sehingga tidak seharusnya dibanding-bandingkan.

Membadingkan anak membuatnya mengalami stres, rendah diri, kurang percaya diri, dan menarik diri dari lingkungan sosial

Dilansir dari laman beingtheparent.com, sering membandingkan anak mempunyai efek psikologis untuk anak. Anak bisa mengalami stres, rendah diri, kurang percaya diri, dan menarik diri dari lingkungan sosial.

Anak juga akan menjauh dari orangtua jika orangtua terus-terusan membandingkannya dengan orang lain sehingga merasa dirinya tidak berharga di mata orangtuanya.

Oleh karena itu, yuk bunda, kita stop membandingkan anak kita dengan anak lain. Daripada membandingkan, lebih baik bunda fokus untuk menstimulasi setiap aspek tumbuh kembang si kecil, memberikan nutrisi yang terbaik, dan mendukung setiap aktivitas anak.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Share

To Top