Mainan Anak

Habiskan Quality Time Keluarga dengan Susun LEGO Bersama

Tak ada yang lebih menyenangkan dibanding melihat keseriusan anggota keluarga saat menyusun keping-keping lego bersama. Keluarga kami sudah kehabisan ide ihwal quality time. Tak semua senang jalan-jalan di akhir pekan, sebab kemacetan jalanan hanya membuat stress dan lelah setibanya di rumah. Akhirnya, kami pun jadi lebih sering mengisi waktu dengan menonton televisi atau bercengkrama sebentar setelah makan bersama.

Tapi hari itu berbeda, kami memutuskan untuk membawa sekotak LEGO di tengah perbincangan keluarga. Sepertinya ini akan jadi cara yang menyenangkan sebagai alternatif mendapatkan waktu yang berkualitas bersama keluarga. Seru sekali membayangkan setiap anggota keluarga terlibat dan mau bekerjasama untuk menyusun LEGO sesuai desain yang sudah disepakati.

Semua setuju, akhirnya di ruang tengah, tempat kami biasa menonton televisi, aku pun menyiapkan sekotak LEGO. Adikku, Bagus Christian Prasojo yang berusia 11 tahun kelihatan tak sabar untuk memulai aktivitas ini.

Benar saja, Bagus yang paling antusias. Ia seolah-olah menjadi ‘kapten’ yang siap memberi instruksi kepada dua kakak dan dua orangtuanya dalam menyusun keping demi keping LEGO yang kami taruh di satu wadah besar. Aku sendiri yang jarang sekali mau melibatkan diri dalam menyusun LEGO, tetiba jadi antusias. Akankah hasilnya nanti sesuai dengan ekspetasi atau tidak.

Untung saja ada buku panduan yang sangat membantu pemula seperti anggota keluargaku lainnya kecuali Bagus. Kami yang merasa kebingungan saat hendak menyematkan keping tersebut supaya menjadi kerangka yang padu, bisa terbantu karena visualisasi yang ada di buku panduan sangatlah membantu.

Dengan aktivitas semacam ini, akhirnya canda dan tawa pun bergulir. Belum lagi keinginan kami agar LEGO cepat tersusun, tapi memang, permainan ini pun melatih kami sekeluarga untuk bekerjasama bahkan dalam hal menyusun rangkaian terkecil. Setidaknya kami menuntaskan tantangan bermain LEGO sekitar dua jam. Akhirnya tersusun sesuai gambar yang ditampilkan di halaman depan buku panduan. Ternyata semacam ada kepuasan tersendiri yang kami temukan sekeluarga. Di lain sisi, kami jadi tahu, Bagus ternyata sangat menyukai permainan semacam ini.

P1090225

Faktanya, LEGO memang salah satu permainan yang bisa membangun kreativitas dan mengembangkan kecerdasan buah hati. Tak cuma menawarkan sisi edukatifnya, berkat cara kerja permainan lego berupa susun menyusun, hal ini pun jadi meningkatkan kedekatan anak dan orangtua. Para Bunda sudah tahu manfaat ini?

Ratih Ibrahim, seorang psikolog anak pernah mengungkapkan, “Bermain LEGO, terutama bersama teman sebaya, membuat anak-anak didorong untuk mengeksplorasi dan mengembangkan seluruh aspek kecerdasannya tersebut,” katanya.

Saat Buah Hati Sedang Dalam Masa Tumbuh Kembang, LEGO Adalah Mainan Terbaik dibanding Mengenalkan Gawai padanya

zhen-hu-674293-unsplash

Untuk anak-anak yang sedang dalam usia tumbuh kembang, bermain LEGO adalah cara yang paling mudah untuk mengenalkan konsep dasar soal bentuk, warna, jumlah, jarak dan ruang. Setelahnya, permainan ini pun melatih imajinasi dan kreativitas anak yaitu dengan cara membuat bangunan, mengkombinasikan warna, dan sebagainya.

Sementara itu, soal logika pada anak, mereka pun akhirnya belajar membangun konsep dan strategi. Bermain LEGO pun mengajak si kecil memecahkan masalah saat menyusun mainan supaya bisa membentuk bangunan yang mereka inginkan. Saat menyusun, si kecil pun butuh konsentrasi penuh, hal ini juga merupakan latihan tersendiri untuknya.

kelly-sikkema-685119-unsplash

Seperti dikutip dari Okezone, Ratih melanjutkan, untuk kecerdasan psikomotor, lewat bermain LEGO anak-anak belajar koordinasi mata dan motorik. Motorik halusnya berkembang dan motorik kasarnya juga ikut bermain lewat gerakan meraih, menekan, mengambil warna LEGO yang sesuai, menarik, dan sebagainya.

Saat anak-anak ekspresif menyusun LEGO bahkan terlihat gembira, maka ini baik untuk emosinya. Sementara kalau menyusun lego bersama teman atau keluarga, maka hal ini akan melatihnya untuk interaksi, diskusi, kerjasama, sharing mainan, belajar memberi, mengalah, dan hal-hal lainnya yang didapatkan dengan bersosialisasi.

P1090073

Dan kepada orangtua, jangan lupa memberi apresiasi saat karya lego buah hati sudah tersusun rapi. Hal ini akan meningkatkan rasa percaya diri pada buah hati karena hasil karyanya diapresiasi. Kalau buah hati sudah terbiasa bermain LEGO, maka lama kelamaan si kecil pun akan bisa bereksplorasi lebih jauh lagi, bahkan bisa menyusun bentuk baru tanpa buku panduan.

Ini tandanya orangtua harus bangga, sebab buah hati semakin bisa bereksplorasi dengan imajinasinya. Tapi kalau si kecil masih berpaku pada buku panduan, Bunda tak usah kecewa padanya. Justru ini tanda kalau si kecil tipikal yang disiplin dan taat mengikuti aturan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

8 Peran Orang Tua Dalam Kehidupan Anak

Setiap orang pasti memahami jika peran orang tua dalam kehidupan anak sangatlah penting. Bahkan, peran orang tua diperlukan sejak anak emas dalam kandungan hingga dewasa. Entah itu berperan untuk mengajari anak hingga memenuhi kebutuhannya. 

Pentingnya Peran Orang Tua

Orang tua menduduki peran yang sangat penting, karena menjadi sekolah pertama bagi anak-anak. Sekalipun anak sudah sekolah, peran orangtua masih diperlukan. Mengingat aktivitas anak akan paling banyak dilakukan di rumah.

Tentu jika orang tua tidak melakukan peranannya dengan baik, pasti akan berpengaruh terhadap pertumbuhan anak. Contoh sederhananya jika orang tua tidak menanamkan hal-hal positif dan memberikan contoh tidak baik, tentu anak akan menirunya.

Begitu juga sebaliknya, orang tua yang melakukan perannya dengan baik, maka akan berdampak pada karakternya. Intinya, orang tua mempunyai peranan penting dalam pembentukan karakter anak yang akan berguna untuk masa depan. 

Inilah 8 Peran Orang Tua Di Kehidupan Anak

Meskipun setiap orang memahami jika peran orang tua dalam kehidupan anak sangat penting, tapi tidak semua orang yang benar-benar memahami dan menerapkannya. Apalagi bagi Anda yang baru pertama kali mempunyai anak, penting mengetahui beberapa peranannya berikut ini. 

  1. Menjamin Kebutuhan Anak Tercukupi

Bukan menjadi hal yang asing lagi jika orang tua mempunyai peranan yang cukup penting terutama dalam memenuhi kebutuhan anak. Beberapa hal yang termasuk dalam kebutuhan Anda seperti pakaian yang layak, makanan bergizi, tempat tinggal dan lainnya.

Terutama dalam hal ini penting untuk memastikan kebutuhan anak dalam asupan bergizi sangat diperlukan. Hal ini disebabkan karena asupan yang bergizi sangat berperan penting dalam menunjang pertumbuhan dan perkembangan anak. 

  1. Memastikan Anak Berada Di Lingkungan yang Baik

Peran orang tua terhadap kehidupan anak selanjutnya yaitu memastikan berada di lingkungan yang baik. Tentunya jika anak berada di lingkungan yang tepat, maka akan berpengaruh juga terhadap tumbuh dan kembangnya.

Begitu juga sebaliknya, jika anak berada di lingkungan yang tidak baik maka akan mudah terpengaruh melakukan hal-hal yang negatif. Kenapa menjadi orangtua penting untuk melakukan pengawasan terhadap anak. 

  1. Menciptakan Keamanan dan Kenyamanan

Menciptakan keamanan atau rasa aman terhadap anak merupakan salah satu peran orang tua. Mengingat orang tua adalah tempat pulang, sehingga jika tidak terdapat rasa aman maka anda akan merasa tertekan.

Menciptakan keamanan dan rasa nyaman bisa dilakukan dengan berbagai hal Salah satunya memberikan kasih sayang. Selain itu, penting juga untuk memberi arahan mengenai apa yang seharusnya dilakukan dan tidak seharusnya.

  1. Menanamkan Nilai yang Baik

Peran lain yang harus dilakukan oleh orang tua terhadap anaknya yaitu menanamkan nilai-nilai baik. Mengingat orang tua menjadi guru pertama dalam pendidik anak, sehingga karakter anak dimulai dari orang tuanya. Ada beberapa hal yang harus ditanamkan sejak dini dan setiap orang tua wajib mengetahuinya.

Adapun beberapa hal yang dimaksudkan seperti bersikap jujur, tidak mengambil barang orang lain, saling tolong-menolong, tidak merendahkan orang lain dan lain sebagainya. Selain itu, penting juga untuk memberi pengertian kepada anak jika melakukan sesuatu yang buruk tidak diperbolehkan. 

  1. Mengajari Anak dalam Hal Baik

Mengajari dan mendidik anak juga menjadi salah satu peran orang tua yang wajib untuk dilakukan. Tentunya dalam hal ini harus mengajari anak dalam hal yang baik. Didikan yang diberikan oleh orang tua sejak dini bisa berpengaruh terhadap karakternya di masa depan. 

Semakin baik didikan dari orang tua sejak dini, maka anak akan lebih mudah untuk berbaur dengan masyarakat dengan cara yang baik. Misalnya saja mempunyai sopan santun, saling tolong-menolong, saling memaafkan dan lain sebagainya. 

  1. Memberikan Arahan

Peran orang tua selanjutnya yang yaitu memberikan arahan kepada anak dan juga bimbingan. Arahkan anak untuk selalu melakukan hal yang baik. Selain itu, jelaskan juga alasan kenapa tidak boleh melakukan hal yang buruk dan apa dampaknya kepada diri sendiri dan orang lain.

Sekalipun anak melakukan sebuah kesalahan, jangan langsung memarahinya. Langkah yang paling tepat untuk menanganinya yaitu menasehati dan memberi hukuman yang sekiranya bisa memberikan kesadaran kepada anak. Selain itu, penting juga untuk memberikan motivasi kepada anak. 

  1. Identitas Keagamaan

Identitas agama seorang anak berasal dari keluarganya, terutama orang tua. Tentunya peran orang tua dalam hal ini harus mengenalkan nilai-nilai agama dan keberadaan Sang Pencipta. Terutama untuk anak-anak, penyampaian tersebut harus dalam bahasa yang mudah dipahami. 

Tentunya untuk menyampaikan nilai-nilai tersebut akan lebih mudah jika dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, orang tua juga harus memberikan contoh yang baik agar anak lebih mudah untuk menirunya. 

  1. Mendisiplinkan Anak

Meskipun kasih sayang dari orang tua sangat diperlukan oleh anak, tapi tetap saja harus menerapkan disiplin. Justru dengan membiarkan anak melakukan apapun yang disukainya dapat berdampak menjadi manja dan tidak bisa bertanggung jawab atas setiap perbuatannya.

Semakin dini mengajarkan untuk disiplin, anak akan tumbuh menjadi orang yang bertanggungjawab. Contoh sederhananya mengajarkan anak untuk makan dan tidur tepat waktu. Bahkan, tidak ada salahnya juga untuk membuat jadwal harian anak. Demikian penjelasan mengenai peran orang tua yang dibutuhkan untuk kehidupan anak. Dari penjelasan ini bisa diambil kesimpulan jika karakter anak dibentuk dari didikan dan peran orang tua. Begitu juga sebaliknya, jika orang tua tidak melakukan perannya dengan baik, karakter yang terbentuk juga tidak baik.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Kesehatan

Memahami Gigi Bayi dan Seluk Beluk Pertumbuhannya

Gigi merupakan bagian tubuh yang sangat penting. Selain berfungsi untuk mengunyah, keberadaan gigi juga bisa menambah estetika wajah. Karena itu, setiap fase perkembangannya—mulai dari gigi bayi sampai dewasa—harus diperhatikan dengan baik, terutama oleh para ibu.

Gigi bayi atau gigi susu bia

 

Please Subscribe

Bantu Kami memberikan artikel berkualitas dengan berlangganan konten premium Kami.

Lebih Detail

Already a subscriber? Log in here.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Apa Sajakah Tantangan Mendidik Anak 1 – 3 Tahun itu?

Setiap fase pertumbuhan anak mengalami tantangan tersendiri mulai dari ketika si kecil lahir ke dunia hingga tumbuh dewasa, menikah, dan bisa mandiri sendiri. Bagaimana tantangan mendidik anak 1 – 3 tahun? Fase ini termasuk dalam golden age yang sangat penting untuk diperhatikan perkembangannya.

Beberapa Tantangan Mendidik Anak 1 – 3 Tahun itu

Menghadapi anak umur 1 – 3 tahun cenderung tidak mudah karena kita harus senantiasa mendampingi mereka sampai bisa mandiri dan melakukan beberapa hal sendiri. Tingkah anak-anak di usia ini seringkali sangat menguji kesabaran. Selain itu, masih banyak lagi tantangan lainnya, di antaranya:

Tantrum

Tantrum menjadi hal pertama yang bakal sering dialami oleh anak usia batita 1 – 3 tahun. Mereka biasanya sudah memiliki keinginan sendiri dan sudah bisa merasakan emosi meskipun terkadang masih sulit untuk dikontrol. Emosi yang keluar pun terkadang bisa berlebihan hingga tantrum.

Sehingga Anda jangan kaget jika tiba-tiba sang anak menangis meledak-ledak sampai berteriak dan guling-guling hanya karena apa yang diinginkan tidak terpenuhi. Namun, jangan menyerah saat anak tantrum. Sebagai ibu harus tegas dan berusaha mengalihkan perhatian sang anak lalu peluk dengan tulus.

Menyapih

Menyapih menjadi tantangan selanjutnya yang bakal dihadapi orang tua ketika anaknya berusia 1 – 3 tahun. Terlebih lagi bagi yang full ASI hingga 2 tahun sesuai anjuran karena sudah bisa dikatakan cukup umur. Banyak hal yang harus disiapkan dalam fase ini mulai dari mental dan kesiapan diri.

Menyapih tidak seharusnya menjadi beban bagi si kecil sehingga mereka harus diberi pengertian dengan baik. Bangun bonding dan ajak diskusi sang anak agar nantinya mereka lebih ikhlas saat melepas masa-masa menyusui. Fase ini tidak hanya berat bagi anak namun juga sang ibu.

GTM (Gerakan Tutup Mulut)

Gerakan Tutup Mulut atau yang biasa dikenal dengan istilah GTM kebanyakan dialami oleh anak usia batita sekitar 1 – 3 tahun. Hal ini dikarenakan pada fase ini anak-anak sedang ingin mengeksplor berbagai macam rasa, mulai memperhatikan tampilan makanan, dan ingin meniru orang lain.

Mereka ingin mencoba makan sendiri tanpa disuapi oleh orang tua. Terkadang mereka juga merasa bosan dengan rutinitas yang dilakukannya hingga akhirnya berujung GTM. Fase ini seringkali membuat sang ibu stress karena biasanya mereka rewel dan susah makan. Tentu berat jika anak sampai tidak makan.

Toilet Training

Pada fase ini anak sudah harus mulai diajarkan untuk menggunakan toilet sendiri bahkan sejak usia 1 tahun. Tidak ada salahnya untuk mengajarkan toilet training sedari dini meskipun sebenarnya hal seperti ini lebih maksimal jika diajarkan saat mereka sudah bisa berbicara dengan lebih jelas.

Tanda anak sudah siap diajari toilet training adalah ketika mereka sudah bisa memberikan kode kepada orang tuanya atau sedikit berbicara. Meskipun terkadang banyak kegagalan karena di awal-awal mereka pasti akan banyak poop atau pipis di luar toilet. Sehingga Anda harus banyak bersabar.

Anak Belajar Berjalan

Pada usia 1 tahun anak sudah mulai bisa berjalan sehingga mereka akan sangat aktif dan harus selalu dalam pengawasan agar tidak berjalan terlalu jauh. Mereka sedang senang-senangnya mengeksplor dunianya dengan cara yang berbeda sehingga Anda harus lebih waspada lagi.

Pada fase usia 1 – 3 tahun gerakan mereka biasanya lebih lincah sehingga terkadang cukup mengkhawatirkan terkait keselamatan si kecil. Anda harus mewaspadai tempat-tempat yang cukup membahayakan seperti laci, sudut meja, cipratan air lantai, hingga benda tajam dan berbahaya.

Sering Bertanya Hal yang Sama Berkali-kali

Anda akan dihadapkan pada si kecil yang mulai aktif bertanya banyak hal. Namun, seringkali mereka akan menanyakan hal yang sama berkali-kali meskipun pertanyaan tersebut sudah dijawab sebelumnya. Setelah melewati momen si kecil mengucap kata pertama kali, maka setelahnya lebih menantang.

Ketika mereka sudah mulai lancar berbicara, maka otak akan terus mendorong untuk mengungkapkan semua yang ada di pikiran sang anak. Rasa ingin tahu mereka biasanya sangat besar sehingga Anda harus banyak-banyak bersabar jika terkadang anak menanyakan hal sepele dan pertanyaan sama.

Anak Suka Menjatuhkan, Melempar, dan Merusak Barang

Ketika anak sudah bisa mulai berjalan dan berbicara, mereka sedang senang-senangnya mengeksplor banyak benda-benda baru. Terkadang mereka juga cenderung melakukan tindakan yang hanya ingin menarik perhatian orang tua atau orang lain di sekitarnya seperti menjatuhkan atau melempar barang.

Mereka biasanya melakukan hal tersebut secara sengaja demi bisa mendapatkan perhatian. Jika Anda terus merespon dengan marah, teriak, atau kecewa, malah justru mereka semakin penasaran dan akan melakukan lagi. Selain itu, mereka melakukan itu bisa jadi karena masih belum mampu mengontrol tenaga.

Cara Mendidik Anak 1 – 3 Tahun itu

Setiap orang tua tentu ingin agar anaknya tumbuh menjadi anak yang cerdas dan baik. Maka masa-masa saat mereka masih golden age adalah salah satu masa paling penting untuk untuk memperhatikan tumbuh kembangnya. 

Berikut ini cara mendidik anak usia 1 – 3 tahun, yaitu:

Beri Apresiasi dan Pujian

Usia 1 – 3 tahun merupakan fase di mana anak sedang aktif-aktifnya mengeksplor banyak hal sehingga mereka tak akan ragu untuk mencoba sesuatu hal yang baru. Saat mereka berhasil melakukan sesuatu atau mengikuti instruksi Anda dengan baik, maka beri mereka pujian atau apresiasi sebagai reward.

Anak yang mendapatkan apresiasi biasanya akan lebih termotivasi dan bersemangat untuk belajar dan melakukan hal-hal menarik lainnya. Namun, jangan terlalu berlebihan dalam memberi pujian karena khawatir anak akan tumbuh menjadi sombong dan terlalu berbangga akan dirinya sendiri.

Konsisten

Anak akan merasa lebih aman dan nyaman ketika pola asuh yang Anda terapkan dilakukan secara rutin dan konsisten. Mereka akan paham apa yang diingkan oleh orang tua sehingga bisa nurut dan lebih tenang saat diberi instruksi atau perintah. Dengan rutinitas yang konsisten mereka akan terbiasa.

Contoh didikan kepada si kecil seperti melarang anak untuk tidak menghabiskan makanannya. Lakukan berulang sehingga anak-anak akan terbiasa untuk selalu menghabiskan makanan setiap hari. Karena jika tidak konsisten maka mereka akan cenderung bingung. Anda juga harus memberi contoh dalam hal ini.

Mengenali Pemicu Emosi Sang Anak

Sebagai orang tua, Anda harus mengetahui kapan dan apa penyebab sang anak merasa marah dan kesal atau sesuatu. Jika ingin menegur atau menasehati, maka usahakan untuk tidak dilakukan pada saat-saat tersebut karena hal tersebut akan membuat anak-anak semakin merasa tidak nyaman.

Berikan waktu sebentar dan biarkan mereka lebih tenang sampai bisa menjelaskan alasan apa yang menyebabkan anak-anak menjadi marah. Setelah mereka sudah merasa tenang dan nyaman, barulah Anda bisa memberi nasehat, perintah, atau mengajarkan sesuatu kepada anak-anak.

Tumbuhkan Kebiasaan Untuk Mendengarkan

Anak yang baik perlu diajarkan dan dibiasakan untuk mendengarkan. Cara membangun kebiasaan untuk mendengarkan ini bisa dimulai dengan memberikan contoh bahwa orang tua juga selalu mendengarkan apapun yang dikatakan oleh anak-anaknya. Jangan menjadi egois dengan hanya ingin didengar.

Meskipun orang tua adalah sosok yang memberi perintah dan instruksi dalam mengajarkan sesuatu, Anda juga harus menjadi pendengar yang baik bagi sang anak. Karena bisa jadi ketika mereka lelah bermain, maka yang dibutuhkan hanyalah tempat yang nyaman untuk berbagi cerita.

Berikan Contoh yang Baik

Anak adalah peniru yang ulung dan mereka akan dengan mudah memperhatikan apa yang ada di sekitarnya dan mengikutinya. Maka dari itu sebagai orang tua Anda harus memberikan dan menunjukkan contoh yang baik kepada mereka agar apa yang diikuti adalah hal-hal yang baik saja.

Beri contoh bagaimana bertutur kata yang baik, sopan, dan lemah lembut di depan anak. Jika sedang merasa emosi dan ingin marah, maka sebisa mungkin jangan di depan anak dan lakukan di belakang mereka agar anak-anak tidak sampai melihatnya. Karena peran orang tua adalah sebagai teladan.

Buat Jadwal Kegiatan Untuk Anak

Melatih kedisiplinan sangat penting untuk dilakukan sejak dini sehingga anak-anak akan terlatih dan terbiasa ketika mereka dewasa kelak. Anda bisa mengajarkan anak disiplin dengan cara membuatkan jadwal kegiatan belajar sehingga mereka bisa belajar mengatur waktu dengan baik.

Saat membuat jadwal kegiatan untuk anak, ajak mereka diskusi sehingga si kecil tidak terlalu bergantung dan terkekang dengan apa yang menjadi keinginan orang tuanya. Dengan membuat jadwal, maka anak-anak akan lebih terarah dalam menjalani kegiatan sehari-hari dari pagi hingga malam.

Hindari Menggunakan Kekerasan

Child abush atau kekerasan pada anak sangat tidak disarankan karena hal ini hanya akan menyisakan luka yang akan terus berbekas hingga mereka dewasa kelak. Sebandel apapun mereka, maka jangan jadikan kekerasan dan kemarahan sebagai solusi untuk memberikan hukuman kepada anak.

Karena selain bisa meninggalkan bekas luka yang menyakiti hati, anak-anak juga bisa berpotensi mengikuti tindakan kekerasan tersebut ketika mereka dewasa. Karena bagaimanapun juga anak-anak adalah seorang peniru dan yang akan mereka tiru adalah orang terdekat termasuk orang tua.

Luangkan Waktu Untuk Mengobrol dan Berdiskusi

Anak-anak akan mudah mengingat apa yang diajarkan dan dibiasakan padanya ketika usia 1 – 3 tahun. Sehingga penting sekali untuk mendampingi mereka setiap hari demi bisa melihat tumbuh kembangnya. Luangkan waktu untuk mengajak mereka ngobrol dan berdiskusi tentang sesuatu.

Ajak mereka berdiskusi saat sedang bersantai dan biarkan mereka mengungkapkan perasaannya atau menceritakan kegiatan apa saja yang sudah dilakukan pada hari itu. Di saat mengobrol inilah Anda bisa mengajarkan sesuatu kepada mereka termasuk memberi nasehat atau instruksi.

Saat anak memasuki usia 1- 3 tahun, maka Anda harus lebih banyak mendengarkan dan mendampingi. Tetaplah bersabar ketika mereka bertingkah yang terkadang memicu emosi. Terlebih lagi ketika sudah capek dengan semua urusan pekerjaan di kantor maupun di rumah. Jangan lupa untuk cari waktu me time.

Tantangan mendidik anak 1 – 3 tahun memang tidak mudah dan terkadang sangat menguji kesabaran orang tua. Namun, masa-masa golden age ini adalah masa yang penting sehingga jangan sampai menyesal karena tidak bisa mengajarkan hal yang baik dan mendampingi sang anak dengan utuh. 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Most Share

To Top