Mainan Anak

Habiskan Quality Time Keluarga dengan Susun LEGO Bersama

Tak ada yang lebih menyenangkan dibanding melihat keseriusan anggota keluarga saat menyusun keping-keping lego bersama. Keluarga kami sudah kehabisan ide ihwal quality time. Tak semua senang jalan-jalan di akhir pekan, sebab kemacetan jalanan hanya membuat stress dan lelah setibanya di rumah. Akhirnya, kami pun jadi lebih sering mengisi waktu dengan menonton televisi atau bercengkrama sebentar setelah makan bersama.

Tapi hari itu berbeda, kami memutuskan untuk membawa sekotak LEGO di tengah perbincangan keluarga. Sepertinya ini akan jadi cara yang menyenangkan sebagai alternatif mendapatkan waktu yang berkualitas bersama keluarga. Seru sekali membayangkan setiap anggota keluarga terlibat dan mau bekerjasama untuk menyusun LEGO sesuai desain yang sudah disepakati.

Semua setuju, akhirnya di ruang tengah, tempat kami biasa menonton televisi, aku pun menyiapkan sekotak LEGO. Adikku, Bagus Christian Prasojo yang berusia 11 tahun kelihatan tak sabar untuk memulai aktivitas ini.

Benar saja, Bagus yang paling antusias. Ia seolah-olah menjadi ‘kapten’ yang siap memberi instruksi kepada dua kakak dan dua orangtuanya dalam menyusun keping demi keping LEGO yang kami taruh di satu wadah besar. Aku sendiri yang jarang sekali mau melibatkan diri dalam menyusun LEGO, tetiba jadi antusias. Akankah hasilnya nanti sesuai dengan ekspetasi atau tidak.

Untung saja ada buku panduan yang sangat membantu pemula seperti anggota keluargaku lainnya kecuali Bagus. Kami yang merasa kebingungan saat hendak menyematkan keping tersebut supaya menjadi kerangka yang padu, bisa terbantu karena visualisasi yang ada di buku panduan sangatlah membantu.

Dengan aktivitas semacam ini, akhirnya canda dan tawa pun bergulir. Belum lagi keinginan kami agar LEGO cepat tersusun, tapi memang, permainan ini pun melatih kami sekeluarga untuk bekerjasama bahkan dalam hal menyusun rangkaian terkecil. Setidaknya kami menuntaskan tantangan bermain LEGO sekitar dua jam. Akhirnya tersusun sesuai gambar yang ditampilkan di halaman depan buku panduan. Ternyata semacam ada kepuasan tersendiri yang kami temukan sekeluarga. Di lain sisi, kami jadi tahu, Bagus ternyata sangat menyukai permainan semacam ini.

P1090225

Faktanya, LEGO memang salah satu permainan yang bisa membangun kreativitas dan mengembangkan kecerdasan buah hati. Tak cuma menawarkan sisi edukatifnya, berkat cara kerja permainan lego berupa susun menyusun, hal ini pun jadi meningkatkan kedekatan anak dan orangtua. Para Bunda sudah tahu manfaat ini?

Ratih Ibrahim, seorang psikolog anak pernah mengungkapkan, “Bermain LEGO, terutama bersama teman sebaya, membuat anak-anak didorong untuk mengeksplorasi dan mengembangkan seluruh aspek kecerdasannya tersebut,” katanya.

Saat Buah Hati Sedang Dalam Masa Tumbuh Kembang, LEGO Adalah Mainan Terbaik dibanding Mengenalkan Gawai padanya

zhen-hu-674293-unsplash

Untuk anak-anak yang sedang dalam usia tumbuh kembang, bermain LEGO adalah cara yang paling mudah untuk mengenalkan konsep dasar soal bentuk, warna, jumlah, jarak dan ruang. Setelahnya, permainan ini pun melatih imajinasi dan kreativitas anak yaitu dengan cara membuat bangunan, mengkombinasikan warna, dan sebagainya.

Sementara itu, soal logika pada anak, mereka pun akhirnya belajar membangun konsep dan strategi. Bermain LEGO pun mengajak si kecil memecahkan masalah saat menyusun mainan supaya bisa membentuk bangunan yang mereka inginkan. Saat menyusun, si kecil pun butuh konsentrasi penuh, hal ini juga merupakan latihan tersendiri untuknya.

kelly-sikkema-685119-unsplash

Seperti dikutip dari Okezone, Ratih melanjutkan, untuk kecerdasan psikomotor, lewat bermain LEGO anak-anak belajar koordinasi mata dan motorik. Motorik halusnya berkembang dan motorik kasarnya juga ikut bermain lewat gerakan meraih, menekan, mengambil warna LEGO yang sesuai, menarik, dan sebagainya.

Saat anak-anak ekspresif menyusun LEGO bahkan terlihat gembira, maka ini baik untuk emosinya. Sementara kalau menyusun lego bersama teman atau keluarga, maka hal ini akan melatihnya untuk interaksi, diskusi, kerjasama, sharing mainan, belajar memberi, mengalah, dan hal-hal lainnya yang didapatkan dengan bersosialisasi.

P1090073

Dan kepada orangtua, jangan lupa memberi apresiasi saat karya lego buah hati sudah tersusun rapi. Hal ini akan meningkatkan rasa percaya diri pada buah hati karena hasil karyanya diapresiasi. Kalau buah hati sudah terbiasa bermain LEGO, maka lama kelamaan si kecil pun akan bisa bereksplorasi lebih jauh lagi, bahkan bisa menyusun bentuk baru tanpa buku panduan.

Ini tandanya orangtua harus bangga, sebab buah hati semakin bisa bereksplorasi dengan imajinasinya. Tapi kalau si kecil masih berpaku pada buku panduan, Bunda tak usah kecewa padanya. Justru ini tanda kalau si kecil tipikal yang disiplin dan taat mengikuti aturan.

adorable-book-boy-1250722 adorable-book-boy-1250722
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Parenting

Supaya Si Kecil Mau Mengonsumsi Sayur, Bujuk dengan Cara-cara yang Menyenangkan

baby-baby-eating-chair-973970 (3)

Banyak sekali manfaat yang akan didapat bila si kecil terbiasa mengonsumsi sayur. Di masa tumbuh kembangnya, sayur merupakan makanan sumber energi yang mengandung vitami, antioksidan, serat, serta air. Anak yang gemar makan sayur, bisa membantu melindungi mereka dari berbagai penyakit di kemudian hari, seperti jantung, stroke hingga kanker.

Mengutip dari laman raisingchildren, menurut Australian Dietary Guidelines, berikut ini porsi sayur yang sebaiknya dikonsumsi anak-anak, Bun.

– Anak 1-2 tahun, 2-3 porsi sayuran setiap hari
– Anak 2-3 tahun, 2 ½ porsi sayuran setiap hari
– Anak 4-8 tahun, 4 ½ porsi sayuran setiap hari.

Namun memberikan makanan seperti sayur tak semudah yang kita bayangkan. Tak sedikit anak-anak yang mengaku tak suka makan sayur. Untuk itu, perlu cara kreatif untuk mengenalkan sayur pada si kecil. Ingat Bun, tak perlu memarahi atau pusing sendiri. Berikut ini cara-cara yang dapat Bunda aplikasikan.

Berikan Contoh yang Baik tentang Sayuran, Bun

Mendorong anak makan sayur bisa dilakukan dengan memberinya contoh, seperti membiarkan anak melihat orangtuanya makan sayuran. Cobalah cara ini saat sedang kumpul makan bersama keluarga. Lalu beritahukan anak untuk mengonsumsi makanan sehat diawali dengan makan sayur ya Bun. Dengan begitu, anak secara perlahan akan meniru kebiasaan Moms makan sayur.

Terus Mencoba Berikan Sayuran

Salah satu alasan anak tak suka sayur bisa jadi lantaran tekstur atau rasanya. Alasan ini normal lho Bun. Kendati begitu, teruslah berusaha untuk memberikan sayur sampai ia mau mencobanya suatu saat nanti. Beberapa anak biasanya perlu mencoba makanan baru sampai 10 kali sebelum mereka mengonsumsinya. Kemudian 10 kali lagi sebelum anak memutuskan untuk menyukai sayur.

Bunda Juga Bisa, Berikan Pujian Saat Si Kecil Mencoba Makan Sayur

Berikan pujian pada si kecil setiap mau makan sayur ya Bun. Dengan cara ini, si kecil tentu akan menyukainya. Yang perlu diingat, berikan pujian yang bijak ya Bun sehingga si kecil memang benar-benar menyukai sayur, bukan karena hanya ingin mendapatkan pujian dari Bunda saja.

Dan Cobalah Melibatkan Anak Memasak Sayur Bersama saat di Dapur Bun

Melibatkan anak memasak sayuran di dapur, lalu menyiapkan segalanya bersama dengan Bunda, bisa membantu anak untuk menyukai sayuran secara perlahan. Untuk anak yang sudah mulai besar, ajak ia untuk memotong sayuran. Atau sekali waktu, ajak si kecil berbebelanja sayuran sehingga ia dapat memilih sendiri sayur apa yang diinginkannya, Bun.

Jadikan Sayur Sebagai Pilihan Camilan untuknya

Jika si kecil tak suka sayur, Bunda bisa mencari alternatif lain dengan menjadikan sayur sebagai camilan sehat sehingga bila tak ada camilan di rumah, si kecil akan memilih mengonsumsi sayuran saat ia lapar.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

adorable-book-boy-1250722 adorable-book-boy-1250722

Kesehatan Ibu & Anak

Hindari Ucapan yang Bisa Membuat Percaya Diri Anak Menurun, Bun

baby-boy-child-1361766 (2)

Orangtua yang sedang emosi dengan perilaku si kecil mungkin sering lupa dengan ucapan yang terlontar dari mulutnya. Bahkan tanpa disadari, ucapan orangtua bisa saja menyakiti bahkan mempengaruhi harga diri si kecil, Bun.

Linda Bress Silbert, Ph.D dan Alvin J Silbert, Ed.D, yang merupakan founder STRONG Learning Centers, New York, mengatakan kendati ada keluarga dan teman sebaya, sejatinya ucapan orangtua tentu membawa pengaruh besar terhadap anak-anak.

Jadi, orang tualah yang membantu anak-anak merasa nyaman dengan dirinya sendiri. Lantas bagaimana caranya? Silbert mengatakan, cara pertama yang dapat dilakukan adalah dengan mendukung dan menerimanya sepenuh hati, Bun. Bukan justru merendahkannya.

Hindari ucapan bahwa dia tidak cukup kuat, tidak cukup tampan, atau tidak cukup pintar untuk melakukan sesuatu. Kata-kata dan tindakan Bunda bisa mencegah harga diri anak tumbuh. Karenanya, Silbert mengatakan sebaiknya orang tua membiarkan anak tahu kalau Bunda berpikir dia hebat.

“Anda mungkin tidak menyadari betapa pentingnya untuk menyadari bagaimana Anda berbicara dengan anak,” kata Silbert mengutip bukunya yang berjudul Why Bad Grades Happen to Good Kids; What Parents Need to Know, What Parents Need to Do.

Guna meningkatkan harga diri si kecil, sampaikan pesan dengan lebih hati-hati lagi, Bun. Termasuk saat mereka mengamati wajah dan suara ortu, juga bahasa tubuhnya saat berbicara.

“Anak bisa saja menangkap pesan yang berbeda,” ujar Silbert.

Menurut Silbert, apabila anak-anak percaya orang penting mereka yakni orang tuanya menghargai mereka, mereka pun merasa layak dihargai. Faktor ini sangat penting dalam perkembangan emosional dan keberhasilan sekolah anak-anak, Bun.

“Persepsi anak-anak didasarkan pada firasat, pendapat, gerak tubuh, dan hal-hal lembut lainnya. Anak-anak sangat subyektif dengan tindakan. Karena itu, kita perlu memastikan bahwa kita tidak sengaja mengirimi mereka pesan yang tidak diinginkan,” kata Silbert.

Brynn Burger, seorang ibu yang juga berprofesi sebagai guru pernah mengatakan orang tua yang membesarkan anak-anaknya dengan cara ekstrem hanya membuat masa dewasanya menuju ke jurang kehancuran, Bun. Sebab, yang diperlukan anak-anak adalah sikap positif dari orang tua dan sesuai untuk anak-anak.

“Ketika kita menjadi orang tua, kita tidak menerima instruksi manual atau penjelasan tentang apa yang diharapkan dari setiap anak. Setiap anak, bahkan di rumah yang sama, mungkin memerlukan hal-hal yang berbeda dari orang tua yang berbeda, dan ini bisa sulit diarahkan,” kata Brynn dilansir Addidutemag.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

adorable-book-boy-1250722 adorable-book-boy-1250722

Parenting

Pentingnya Kenalkan Puasa Arafah Sedari Dini pada Si Kecil

adult-baby-child-1776135 (1)

Sudahkah si kecil diajarkan berpuasa? Tentu jadi kabar baik bila buah hati Bunda sudah mau belajar untuk berpuasa. Namun jangan berkecil hati juga bagi para Bunda yang mungkin pada dua bulan lalu berhasil mengajak si kecil puasa Ramadhan, nah kali ini tak ada salahnya memperkenalkan puasa Arafah ke mereka.

Ya, sehari jelang perayaan Hari Raya Idul Adha, umat Muslim memang disarankan untuk menjalankan puasa Arafah, tepat pada tanggal 9 Zulhijah. Melansir laman NU Online, puasa Arafah ini memiliki keutamaan yang begitu besar.

Menurut hadis yang diriwayatkan HR Muslim, puasa ini masuk ke dalam sunah muakkad. Sedangkan menurut penjelasan Ustaz Adi Hidayat Lc, MA puasa memiliki keistimewaan tersendiri, Bun yakni dapat menggugurkan dosa setahun yang lalu plus menjaga untuk tak melakukan dosa setahun yang akan datang.

Lebih jauh lagi, sudah jadi tanggung jawab orangtua juga mengajari anak-anak agar tergugah untuk berpuasa. Pelan-pelan saja Bun.

Mengutip HaiBunda, Ustazah Aini Aryani, LC, yang menegaskan kalau orang tua harus menjadi contoh untuk anaknya.

“Cara mengajarkan anak berpuasa pastinya harus dicontohkan oleh orang tuanya. Kalau orang tua enggak ikut puasa pasti anak enggak akan puasa. Kenapa? Karena anak itu peniru ulung. Melihat orang tuanya daripada mendengarkan,” kata Aini kepada HaiBunda.

Ajarkan Puasa Sejak Mereka Masih Kecil, Bun

Mengajari anak puasa idealnya dimulai sejak mereka kecil, Bun. Jelaskan kepada mereka mengenai manfaat puasa dan ganjaran pahala yang akan diterima oleh orang-orang yang menunaikannya.

Pelan-pelan jelaskan pada anak jika hakikat puasa Arafah yaitu dapat menghapus dosa setahun yang lalu ya Bun. Serta menjaga mereka dari perbuatan dosa yang akan datang. Pada hakikatnya, puasa dapat menjaga seseorang untuk berbuat dosa. Seperti mencegah anak berbohong, nakal, dan tidak nurut pada orang tua.

Lebih jauh lagi, beritahukan juga pada si kecil jika ada amalan-amalan saleh yang dicintai Allah bila dikerjakan menjelang Idul Adha. Mengenalkan tentang hal ini pada si kecil akan membantu menanamkan keimanan pada anak-anak.

“Terakhir ajari anak bersyukur, ‘Kakak bisa bicara, lihat gara-gara Allah. Kalau Kakak mau bersyukur caranya bisa lewat ibadah, melakukan kewajiban yang diperintahkan Allah’,” tambah Aini.

Yang penting, jangan memaksa anak-anak untuk mau berpuasa ya Bun. Tumbuhkan kesadaran untuk melakukannya secara ikhlas dan semampunya sesuai dengan usia masing-masing anak.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

adorable-book-boy-1250722 adorable-book-boy-1250722

Most Share

To Top